TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sindrom Dry Eye pada Pengguna
Visual Display Terminal (VDT)
Nendyah Roestijawati
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, Jakarta, Indonesia
Penggunaan komputer dewasa ini telah demikian luas di
segala bidang, baik di perkantoran maupun bagian dari
kehidupan pribadi seseorang. Hampir semua petugas
administrasi menggunakan komputer dalam pekerjaan sehari-
hari. Penggunaan komputer tidak terlepas dari hal-hal yang
dapat mengganggu kesehatan.
Gangguan kesehatan pada pengguna komputer antara lain
kelelahan mata karena terus menerus memandang monitor atau
video display terminal (VDT). Kumpulan gejala kelelahan pada
mata ini disebut Computer Vision Syndrome (CVS). Gejala-
gejala yang termasuk dalam CVS ini antara lain penglihatan
kabur, dry eye, nyeri kepala, sakit pada leher, bahu dan
punggung. Sedangkan sindrom dry eye adalah gangguan
defisiensi air mata baik kuantitas maupun kualitas.
Selain penggunaan VDT, faktor risiko sindrom dry eye
pada pekerja adalah faktor pekerja dan lingkungan kerja.
Faktor pekerja meliputi usia, jenis kelamin, kebiasaan
membaca dan kelainan refraksi, sedangkan faktor lingkungan
kerja meliputi suhu, kelembaban, penerangan, tinggi meja,
tinggi kursi dan jarak mata ke monitor.
SINDROM DRY EYE
Keadaan mata yang kering atau disebut juga dengan
sindrom mata kering (sindrom dry eye) merupakan gangguan
akibat kurangnya produksi air mata atau penguapan air mata
yang berlebihan.
1
Keluhan yang sering timbul pada sindrom dry eye adalah
adanya sensasi gatal atau rasa mata berpasir (sensasi benda
asing). Gejala umum lain adalah mata sakit, merah, sensasi
terbakar, sekresi mukus berlebihan, tidak mampu menghasilkan
air mata, fotosensitif, dan sulit menggerakkan palpebra.
2,3
Klasifikasi sindrom dry eye menurut American Academy of
Ophthalmology dibedakan menurut penyebabnya yakni (1)
defisiensi komponen akuos dan (2) penguapan yang berlebihan.
Dry eye dengan defisiensi komponen akuos adalah bentuk yang
sering ditemukan. Defisiensi komponen akuos dapat
disebabkan oleh kelainan kongenital atau didapat. Kelainan
kongenital yang dapat menyebabkan defisiensi komponen
akuos antara lain Riley-Day syndrome, alakrimia, tidak adanya
glandula lakrimalis, displasia ektodermal anhidrotik, Adie
syndrome dan Shy-Drager syndrome. Penyebab defisiensi
komponen akuos yang didapat antara lain penggunaan lensa
kontak, inflamasi kelenjar lakrimal, trauma, pemakaian obat-
obatan dan hiposekresi neuroparalitik.
1,4
Sindrom dry eye dapat terjadi secara idiopatik maupun
pada penyakit lupus erythematosus, pemphigus, Stevens-
Johnson syndrome,
Sjogren syndrome, skleroderma,
poliarteritis nodosa, sarkoidosis, Mickulicz's syndrome.
5
Ciri histopatologik pada sindrom dry eye termasuk
timbulnya bintik-bintik kering pada kornea dan epitel
konjungtiva, pembentukan filamen, hilangnya sel goblet
konjungtiva, pembesaran abnormal sel epitel non goblet,
peningkatan stratifikasi sel dan penambahan keratinisasi.
4
Ciri paling khas pada pemeriksaan slitlamp adalah
terputusnya meniskus air mata di tepian palpebra inferior.
Benang-benang mukus kental kekuning-kuningan kadang-
kadang terlihat dalam forniks konjungtiva inferior. Pada
konjungtiva bulbi tidak tampak kilauan yang normal dan
mungkin menebal, edema dan hiperemik. Epitel kornea terlihat
bertitik halus pada fissura interpalpebra. Sel-sel epitel
konjungtiva dan kornea yang rusak terpulas dengan Rose
Bengal 1%, dan defek epitel kornea terpulas dengan
fluorescein. Pada tahap lanjut akan terlihat satu ujung pada
setiap filamen melekat pada epitel kornea dan ujung lain
bergerak bebas.
4
Diagnosis sindrom dry eye dapat diperoleh dengan
memakai cara diagnostik berikut:
4
A. Tes
Schirmer
Tes ini dilakukan dengan mengeringkan lapisan air mata
dan memasukkan strip Schirmer (kertas saring Whartman
No. 41) ke dalam cul de sac konjungtiva inferior pada
batas sepertiga tengah dan temporal dari palpebra inferior.
Bagian basah yang terpapar diukur lima menit setelah
dimasukkan. Panjang bagian basah kurang dari 10 mm
tanpa anestesi dianggap abnormal.
B. Tes
Break-up Time
Tes ini berguna untuk menilai stabilitas air mata dan
komponen lipid dalam cairan air mata; diukur dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 29
Sindrom Dry Eye
meletakkan secarik kertas berfluorescein di konjungtiva
bulbi dan meminta penderita untuk berkedip. Lapisan air
mata kemudian diperiksa dengan bantuan filter cobalt pada
slitlamp, sementara penderita diminta tidak berkedip.
Selang waktu sampai munculnya titik-titik kering yang
pertama dalam lapis fluorescein kornea adalah break-up
time. Biasanya lebih dari 15 detik. Selang waktu akan
memendek pada mata dengan defisiensi lipid pada air
mata.
C. Tes Ferning Mata
Sebuah tes sederhana dan murah untuk meneliti komponen
musin air mata ; dilakukan dengan mengeringkan kerokan
lapisan air mata di atas kaca obyek bersih.
D. Sitologi
Impresi
Adalah cara menghitung densitas sel Goblet pada
permukaan konjungtiva. Pada orang normal, populasi sel
Goblet paling tinggi di kuadran infra nasal.
E. Pemulasan
Fluorescein
Dilakukan dengan secarik kertas kering fluorescein untuk
melihat derajat basahnya air mata dan melihat meniskus air
mata. Fluorescein akan memulas daerah yang tidak
tertutup oleh epitel selain defek mikroskopik pada epitel
kornea.
F. Pemulasan Rose Bengal
Rose Bengal lebih sensitif daripada fluorescein. Pewarna
ini akan memulas semua sel epitel yang tidak tertutup oleh
lapisan musin yang mengering dari kornea dan
konjungtiva.
G. Pengujian kadar lisozim air mata
Air mata ditampung pada kertas Schirmer dan diuji
kadarnya dengan cara spektrofotometri.
H. Osmolalitas air mata
Hiperosmolalitas air mata telah dilaporkan pada
keratokonjungtivitis sicca dan pemakai lensa kontak;
diduga sebagai akibat berkurangnya sensitifitas kornea.
Laporan-laporan penelitian menyebutkan bahwa
hiperosmolalitas adalah tes yang paling spesifik bagi
keratokonjungtivitis sicca, karena dapat ditemukan pada
pasien dengan tes Schirmer normal dan pemulasan Rose
Bengal normal.
I. Laktoferin
Laktoferin dalam cairan air mata akan rendah pada pasien
dengan hiposekresi kelenjar lakrimal.
Untuk mengukur kuantitas komponen akuos dalam air
mata dapat dilakukan tes Schirmer. Tes Schirmer merupakan
indikator tidak langsung untuk menilai produksi air mata.
4,6
Berkurangnya komponen akuos dalam air mata mengakibatkan
air mata tidak stabil. Ketidakstabilan air mata pada dry eye
disebabkan kerusakan epitel permukaan bola mata sehingga
mukus yang dihasilkan tidak normal yang berakibat pada
proses penguapan air mata. Salah satu pemeriksaan untuk
menilai stabilitas lapisan air mata adalah dengan pemeriksaan
break up time (BUT).
4.6.7
Tujuan utama dari pengobatan sindrom dry eye adalah
penggantian cairan. Terapi yang saat ini dianut adalah air mata
buatan sedangkan salep berguna sebagai pelumas jangka
panjang terutama saat tidur. Terapi tambahan dapat dilakukan
dengan memakai pelembab, kacamata pelembab atau kacamata
berenang.
4
KOMPOSISI AIR MATA
Air mata merupakan salah satu proteksi mata atau daya
pertahanan mata di samping tulang rongga mata, alis dan bulu
mata, kelopak mata, refleks mengedip dan adanya sel-sel pada
permukaan kornea dan konjungtiva.
Sebagai salah satu alat proteksi, air mata berfungsi (1)
mempertahankan integritas kornea dan konjungtiva dengan
meniadakan ketidakteraturan pada sel epitel permukaan guna
mempertahankan permukaan kornea agar tetap licin dan rata.
Fungsi ini memperbaiki tajam penglihatan terutama pada saat
setelah mengedip; (2) membasahi dan melindungi permukaan
epitel kornea dan konjungtiva yang lembut atau lubrikasi agar
gerakan bola mata serta mengedip terasa nyaman dan
membersihkan kotoran yang masuk mata; (3) menghambat
pertumbuhan mikroorganisme dan mencegah kemungkinan
infeksi karena mengandung anti bakteri termasuk laktoferin,
immunoglobulin, lisozim dan ß-lysin; dan (4) memberi kornea
substansi nutrien dan sebagai media transport produk
mikroorganisme ke dan dari sel-sel epitel kornea dan
konjungtiva terutama oksigen dan karbondioksida.
1,4
Lapisan air mata terdiri atas tiga lapisan. Lapisan
superfisial adalah lapisan lipid monomolekuler dengan
ketebalan kurang lebih 0.1 µm yang berasal dari kelenjar
Meibom dan Zeis. Lapisan ini berfungi menghambat
penguapan air dan merupakan sawar kedap bila palpebra
ditutup. Disfungsi kelenjar Meibom dan Zeis dapat
menyebabkan lapisan air mata tidak stabil dan berakibat terjadi
gangguan permukaan kornea dan konjungtiva.
1,4
Lapisan tengah adalah lapisan akuos dengan ketebalan
kurang lebih 7 µm yang dihasilkan oleh kelenjar lakrima mayor
dan minor yaitu kelenjar Krause dan Wolfring. Lapisan ini
mengandung substansi yang larut air (garam dan protein).
Defisiensi lapisan akuos merupakan penyebab paling banyak
sindrom dry eye.
1,4
Lapisan paling dalam adalah lapisan musin dengan
ketebalan 20-50 nm yang dihasilkan oleh sel Goblet
konjungtiva dan sel epitel permukaan. Lapisan ini terdiri atas
glikoprotein yang melapisi sel-sel epitel kornea dan
konjungtiva. Membran sel epitel terdiri atas lipoprotein
sehingga relatif hidrofobik. Permukaan yang demikian tidak
dapat dibasahi dengan larutan berair saja. Musin diadsorbsi
sebagian pada membran sel epitel kornea dan tertambat oleh
mikrofili sel-sel epitel permukaan. Ini menyebabkan
permukaan menjadi hidrofilik agar air mata menyebar ke
bagian yang dibasahinya dengan menurunkan tegangan
permukaan.
1,4
Volume air mata normal diperkirakan 7+2 µL pada setiap
mata. Air mata diproduksi dengan kecepatan 1,2 µL per menit.
Albumin merupakan 60% dari protein total dalam air mata.
Globulin dan lisozim berjumlah sama banyak pada bagian
sisanya. Terdapat immunoglobulin IgA, IgG dan IgE; paling
banyak adalah IgA yang diproduksi oleh sel-sel plasma di
dalam kelenjar lakrimal. Lisozim air mata merupakan 21-25%
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
30
Sindrom Dry Eye
dari protein total dan merupakan mekanisme pertahanan
penting terhadap infeksi.
1,4
Ion K
+
, Na
+
dan Cl
-
terdapat dalam konsentrasi lebih tinggi
dalam air mata daripada dalam plasma. Air mata juga
mengandung sedikit glukosa (5mg/dL) dan urea (0,04 mg/dL);
perubahan konsentrasi glukosa dan urea dalam darah akan
diikuti perubahan konsentrasi glukosa dan urea dalam air mata.
pH rata-rata air mata adalah 7,53, dengan variasi normal yang
besar (5,20-8,35). Dalam keadaan normal, cairan air mata
adalah isotonik. Osmolalitas lapisan air mata bervariasi dari
195 sampai 309 mosm/L.
4
Gambar 1. Lapisan air mata
8
SISTEM SEKRESI AIR MATA
Sistem lakrimalis meliputi struktur-struktur yang terlibat
dalam produksi dan drainase air mata. Komponen sekresi
terdiri atas kelenjar yang menghasilkan berbagai unsur
pembentuk cairan air mata. Volume terbesar air mata
dihasilkan oleh kelenjar air mata utama yang terletak di fossa
lakrimalis di kuadran temporal atas orbita. Selain kelenjar air
mata utama terdapat kelenjar lakrimal tambahan. Meskipun
hanya sepersepuluh dari massa utama, namun mempunyai
peran yang penting.
9
Komponen lipid air mata disekresi oleh kelenjar Meibom
dan Zeis di tepian palpebra. Sekresi lipid ini dipengaruhi oleh
serabut saraf kolinergik yang berisi kolinesterase dan agonis
kolinergik seperti pilokarpin. Selain itu sekresi kelenjar
dipengaruhi oleh hormon androgen seperti testosteron yang
dapat meningkatkan sekresi, sementara hormon antiandrogen
dan estrogen akan menekan sekresi kelenjar lipid. Refleks
mengedip juga memegang peran penting dalam sekresi oleh
kelenjar Meibom dan Zeis. Mengedip menyebabkan lipid
mengalir ke lapisan air mata.
1,9
Komponen akuos air mata disekresi oleh kelenjar utama,
kelenjar Krause dan Wolfring. Kelenjar Krause dan Wolfring
identik dengan kelenjar utama namun tidak mempunyai sistem
saluran. Mekanisme sekresi akuos dipersarafi oleh saraf kranial
V. Stimulasi reseptor saraf V yang terdapat di kornea dan
mukosa nasal memacu sekresi air mata oleh kelenjar lakrima.
Kurangnya sekresi air mata oleh kelenjar lakrima dan sindrom
dry eye dapat disebabkan oleh penyakit maupun obat-obatan
yang berefek pada sistem otonom.
1,9
Komponen musin lapisan air mata disekresi oleh sel
Goblet konjungtiva dan sel epitel permukaan. Mekanisme
pengaturan sekresi musin oleh sel ini tidak diketahui.
Hilangnya sel Goblet berakibat mengeringnya kornea meskipun
banyak air mata dari kelenjar lakrimal.
1,9
SISTEM EKSKRESI AIR MATA
Selain sistem sekresi, kelenjar air mata juga terdiri dari
komponen ekskresi. Komponen ekskresi terdiri atas punkta,
kanalikuli, sakus lakrimalis dan duktus lakrimalis. Setiap
berkedip, palpebra menutup mirip risleting mulai dari lateral,
menyebarkan air mata secara merata di atas kornea dan
menyalurkannya ke dalam sistem ekskresi di sisi medial
palpebra. Dalam keadaan normal, air mata dihasilkan dengan
kecepatan yang sesuai dengan jumlah yang diuapkan. Oleh
sebab itu hanya sedikit yang sampai ke sistem ekskresi.
9
Gambar 2. Sistem ekskresi air mata
10
HUBUNGAN SINDROM DRY EYE DENGAN FAKTOR
PEKERJA VDT
Menurut American Academy of Ophthalmology sindrom
dry eye terbanyak ditemukan pada perempuan dengan usia rata-
rata antara 50 sampai 70 tahun. Teori yang sering diajukan
adalah teori hormonal. Defisiensi hormon androgen merupakan
salah satu faktor risiko dalam patogenesis dry eye.
7,11
Pada kelompok usia 40-50 tahun keluhan dry eye
meningkat. Hal ini karena pada kelompok usia tersebut terjadi
perubahan kemampuan akomodasi mata.
12,13
Selain usia dan jenis kelamin, sindrom dry eye dapat
disebabkan oleh kelainan refraksi dan kebiasaan membaca.
Pada saat membaca frekuensi mengedip akan berkurang
sehingga terjadi penguapan air mata yang berlebihan yang
mengakibatkan mata menjadi kering.
1,14,15
Kelainan refraksi
dapat menyebabkan kelelahan pada mata dengan salah satu
gejalanya yaitu sindrom dry eye. Kelelahan pada mata dengan
kelainan refraksi terjadi karena akomodasi mata untuk dapat
melihat subyek lebih jelas.
3
Smith dkk melaporkan perempuan dengan Premature
Ovarian Failure (POF) akan lebih banyak menderita tanda-
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2007 31
Sindrom Dry Eye
tanda keratokonjungtivitis sikka dan gejala dry eye dibanding
dengan kontrol. Secara normal penurunan fungsi ovarium
terjadi pada usia di atas 40 tahun, sedangkan pada POF terjadi
sebelum 40 tahun.
16
Hasil penelitian kohort selama lima tahun menemukan
insidensi dry eye mulai usia 48 sampai 91 tahun dengan rata-
rata usia 63+10 tahun. Faktor yang berhubungan dengan dry
eye adalah penggunaan obat-obatan seperti antihistamin,
diuretik, steroid, dan obat-obat lain yang dapat menyebabkan
dry eye.
17
Menurut penelitian Lee dkk yang merupakan faktor
risiko dominan dry eye adalah pterygium.
12
Penelitian Toda dkk mendapatkan hubungan kuat antara
kelelahan mata dengan dry eye. Di kelompok dengan keluhan
kelelahan mata 51,4% menderita dry eye; sedangkan di
kelompok dry eye 71,3% mengeluh kelelahan pada mata.
18
Penelitian Sommer dkk untuk mengetahui mekanisme
adaptasi air mata pada iklim kerja mendapatkan prevalensi dry
eye meningkat hingga 48% dan terjadi penurunan BUT 17,5%
pada pekerja dengan masa kerja 2-4 tahun dibanding pekerja
dengan masa kerja di bawah dua tahun dan di atas empat
tahun.
19
Hal ini menunjukkan adanya hubungan antara faktor
lama kerja di lingkungan yang sama dengan dry eye dan hasil
pemeriksaan BUT.
HUBUNGAN SINDROM DRY EYE DENGAN
LINGKUNGAN KERJA PENGGUNA VDT
Pada pekerja VDT, penyebab sindrom dry eye adalah
penguapan air mata yang berlebihan karena kurangnya
frekuensi mengedip. Frekuensi mengedip tergantung pada
kondisi penerangan. Di lingkungan kerja yang lebih tinggi
tingkat iluminasinya frekuensi mengedip lebih rendah daripada
di kondisi penerangan yang lebih rendah iluminasinya.
20,21,22
Faktor lain yang dapat menyebabkan sindrom dry eye adalah
faktor lingkungan kerja seperti air conditioning (AC) dan
pemanas sentral dengan kelembaban yang terlalu rendah
berefek meningkatkan penguapan air mata.
23
Penguapan air mata terjadi karena proses difusi, efek
thermal dan konveksi. Proses tersebut tergantung pada uap air
di sekitar mata. Pada suhu ruangan 22
°C dengan kelembaban
50% terjadi penguapan air mata sebanyak 230 mg/mata/16 jam
dari 600 mg/mata/16 jam air mata yang dihasilkan.
12
Sindrom dry eye pada pengguna VDT terjadi karena mata
terbuka lebar menatap layar monitor terus menerus. Keadaan
tersebut akan mengakibatkan frekuensi mengedip berkurang
sehingga terjadi penguapan air mata yang berlebihan.
Penguapan air mata yang berlebihan ini yang akan
mengakibatkan mata menjadi kering. Pada pekerja VDT refleks
mengedip berkurang 66% yaitu sekitar 3,6 kali/menit dibanding
saat tidak menggunakan VDT. Pada keadaan normal mata
berkedip 15-20 kali/menit.
11,14,15,
Penelitian Tsubota et al pada
reporter televisi di Jepang menunjukkan adanya penurunan
frekuensi mengedip pada reporter televisi karena aktivitas
membaca. Pola mengedip pada reporter ini juga dipengaruhi
oleh keadaan studio yang terang dan kering.
25
Selain itu penguapan air mata lebih banyak terjadi pada
keadaan mata melihat lurus ke depan dibanding dengan
keadaan melihat ke bawah. Hal ini disebabkan permukaan mata
lebih luas pada saat melihat ke depan. Pengguna VDT lebih
banyak menggunakan mata untuk melihat ke depan ke layar
monitor sehingga lebih banyak terjadi penguapan air mata.
24
Hasil penelitian Tsubota dkk pada karyawan yang sebagian
besar menggunakan VDT rata-rata lebih dari tiga jam sehari
mendapatkan adanya penurunan refleks mengedip pada
karyawan pengguna VDT. Rata-rata mengedip pada kondisi
santai 22 + 9 kali per menit, saat membaca buku 10 + 6 kali per
menit dan 7 + 7 kali per menit saat bekerja menggunakan VDT.
Permukaan okuler bertambah luas saat menggunakan VDT
yaitu 2.3 + 0.5 cm
2
, saat membaca 1.2 + 0.4 cm
2
dan 2.2 + 0.4
cm
2
saat santai. Bertambahnya luasnya permukaan okuler ini
menyebabkan bertambahnya penguapan air mata.
24
Penelitian
Schlote dkk mendapatkan rata-rata frekuensi mengedip adalah
16,8 kali/menit saat melakukan percakapan dan secara
signifikan menurun saat menggunakan VDT yaitu 6,6
kali/menit dan terus menurun pada pengukuran setelah 30
menit menggunakan VDT yaitu 5,9 kali/menit.
26
Hasil
penelitian Hsu mendapatkan lebih banyak keluhan pada mata
termasuk gejala dry eye (66 %) pada pekerja VDT full-time
seperti perekam data dan programmer dibanding pekerja VDT
part-time.
13
Menurut Occupational Safety and Health Administration
(OSHA) di Amerika dilaporkan dari 40 juta pengguna VDT
80% menderita CVS. Efek jangka pendek pada CVS biasanya
dry eye, pandangan kabur, nyeri kepala, kelelahan mata,
pandangan dobel, dan lain sebagainya. Untuk efek jangka
panjang berupa fotosensitif, fotofobia, blood-shot eye, dan lain-
lain.
26
Lingkungan kerja pengguna VDT harus memenuhi syarat-
syarat sebagai berikut :
1. Untuk jenis pekerjaan yang melibatkan penglihatan dengan
kontras tinggi dan ukuran subyek besar seperti membaca
hasil cetakan (buku, hasil ketikan, dll), tulisan tangan
menggunakan tinta diperlukan tingkat iluminasi 250-500
lux atau lebih dari 19-46 fc.
28
2. Menurut
American Society of Heating, Refrigeration and
Air conditioning, kelembaban relatif lingkungan kerja yang
dianjurkan adalah 40-60%.
22
Di Indonesia suhu dan
kelembaban yang nyaman untuk iklim Indonesia adalah
24-26
° C dengan kelembaban relatif 65-80%.
29
Untuk mencegah sindrom dry eye pada pengguna VDT
diperlukan rancangan tempat kerja dan lingkungan kerja yang
baik, tetapi belum ada kesepakatan ukuran-ukuran yang paling
baik untuk rancangan tempat kerja VDT. Ada tidaknya
gangguan tajam penglihatan pengguna VDT tergantung kontras
antara subyek dan latar belakangnya, jarak mata dengan subyek
dan ukuran subyek. Jarak mata ke monitor yang dianjurkan
minimal 60 cm.
30
Seghers dkk mendapatkan penurunan tinggi monitor mulai
15 cm dari batas atas monitor akan meningkatkan sudut
penglihatan.
19
Burgess-Limerick dkk mendapatkan perubahan
sudut inklinasi kepala sebesar 18
° akan diikuti perubahan sudut
penglihatan sebesar 9
°.
31
Hal ini menunjukkan adanya
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
32
Sindrom Dry Eye
hubungan tinggi monitor yang ditentukan oleh tinggi meja dan
tinggi duduk yang ditentukan oleh tinggi kursi dengan sudut
penglihatan yang berpengaruh pada sudut mata dan permukaan
okuler mata. Makin luas permukaan okuler mata makin banyak
penguapan air mata yang dapat menjadi penyebab dry eye.
Seperti halnya jenis pekerjaan lain, pekerjaan
menggunakan VDT yang dilakukan dengan posisi duduk harus
memenuhi sikap tubuh yang ergonomik. Ukuran-ukuran baku
tentang tempat duduk dan meja kerja berpedoman pada
ukuran-ukuran antropometris orang Indonesia. Ukuran
antropometris orang Indonesia berdasarkan hasil pengukuran
atropometri tenaga kerja Indonesia pria dan wanita yang
dilakukan di lima wilayah yaitu Padang, Bandung, Samarinda,
Bali dan Maluku untuk pekerjaan dengan posisi duduk adalah
sebagai berikut :
32
Tabel 1. Data antropometri tenaga kerja Indonesia
Pria (cm)
Wanita (cm)
No. Variabel
Cara
Mean SD Mean SD
1. Tinggi
duduk
Diukur dari bagian
kepala paling atas
sampai alas duduk
dalam posisi duduk
84,61 4,43 80,04 3,78
2. Tinggi
siku
duduk
Diukur dari siku
sampai alas duduk
dalam posisi sikap
duduk tegak
22,61 3,25 22,19 2,86
3. Tinggi
pinggul
duduk
Diukur dari tulang
pinggul yang paling
atas sampai alas
duduk
18,73 2,33 19,08 2,11
4. Tinggi
lutut
duduk
Diukur dari lutut
sampai alas kaki
dalam posisi sikap
duduk tegak
46,52 2,37 46,52 2,37
5. Panjang
tungkai
atas
Diukur dari lutut
sampai garis vertikal
yang melalui
punggung dan
pinggang pada
posisi sikap tegak
56,06 6,70 56,06 6,70
6. Panjang
tungkai
bawah
Diukur dari lipat
lutut belakang
sampai alas kaki
dalam sikap duduk
dengan betis pada
kedudukan vertikal
38,82 3,07 38,82 3,07
Berdasarkan data antropometri tersebut maka rancangan
tempat kerja komputer yang baik adalah sebagai berikut:
33
1. Tinggi tempat duduk (diukur dari lantai sampai ke
permukaan atas bagian depan alas duduk) harus sedikit
lebih pendek dari panjang lekuk lutut sampai telapak kaki.
Ukuran yang dianjurkan adalah 400-480 mm.
2. Tinggi meja kerja (diukur dari permukaan daun meja
sampai ke lantai) harus memenuhi syarat tinggi permukaan
atas meja kerja dibuat setinggi siku dan disesuaikan
dengan sikap tubuh pada saat bekerja. Untuk posisi duduk,
tinggi meja yang dianjurkan adalah 680-740 mm.
Gambar 3. Rancangan tempat kerja bagi pengguna VDT
34
KEPUSTAKAAN
1.
American Academy of Ophthalmology Staff. Normal physiology of the
ocular surface. External disease and cornea. San Fransisco: AAO; 2001;
p. 53-6
2. Lee AJ, Lee J, Saw SM, Gazzard G. Prevalence and risk factors
associated with dry eye symptoms : A population based study in
Indonesia. Br J Ophthalmol 2002; 86 : 1347-51
3. Sukirman, Marsetio M, Sitompul R. Perbandingan efek pemberian
elektrolit, serum otologus 20% dan 40% pada penderita dry eye dengan
defisiensi komponen akuos. Ophthalmol. Indon. 2003:30:439-45
4. Wjitcher JP. Tears. In: Vaughan D, Asbury T, Riordan EP: General
Ophthalmology. 14
th
ed. Connecticut: Appleton & Lange; 1995 : 49-53
5. American Academy of Ophthalmology Staff. Diagnostic approach to
ocular surface disease. External disease and cornea. USA: AAO; 2001; p.
79-88
6.
Fingeret M. Tear breakup time determination. Atlas of primary eyecare
procedures. Connecticut: Appleton & Lange; 1990; p. 42-5
7. Fingeret M. Schirmer tear test. Atlas of primary eyecare procedures.
Connecticut: Appleton & Lange; 1990; p. 108-11
8. Breakthroughs in dry eye treatment and ocular surface research. :
9.
Sullivan JH. The Lacrimal Apparatus. In: Vaughan D, Asbury T, Riordan
EP: General Ophthalmology. 14
th
ed. Connecticut: Appleton & Lange;
1995 : 45-6
April 2004
11. Janosik E, Grzesik J. Influence of different lighting levels at workstations
with video display terminals on operators' work efficiency. Med Pr
2003;54(2):123-32
12. Herold W. Role of evaporation of tearfilm in the compared with physical
mode. Klin Monatsbl Auggenheilhd 1987; Mar190(3):176-9
13. McCarthy CA, Bansal AK, Livingston PM, Stannislavsky YL, Taylor
HR. The epidemiology of dry eye in Melbourne, Australia.
Ophthalmology 1998; Jun 105(6): 1114-9
14. Sommer HJ, Johnen J, Achonge P, Stolze HH. Adaptation of tearfilm to
work in air-conditioned rooms (office-eye syndrome). Ger J Ophthalmol
1994, Nov 3(6):406-8
15. Villanueva MB, Sotoyama M, Jonai H, Takeuchi Y, Saito S. Adjustments
of posture and viewing parameters of the eye to changes in the screen
height of the visual display terminal. Ergonomics 1996; Jul 39(7):933-45
16. Working on the computer for hours can damage your eye sight?:
www.tcs.tifr.res.in/-mesfin/publication/cvs.ps. 6 Desember 2002
17. Moss SE, Klein R, Klein BEK. Incidence of dry eye in an older
population. Arch Ophthalmol 2004; 122:369-73
18. Schlote T, Kadner G, Freudenthaler N. Marked reduction and distinct
patterns of eye blinking in patients with moderately dry eyes during video
display terminal use. Graefes Arch Clin Exp Ophthalmol. 2004
Apr;242(4):306-12
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2007 33
Sindrom Dry Eye
19. Seghers J, Jochem A, Spaepen A. Posture, Muscle activity and muscle
fatigue in prolonged VDT work at different screen height settings.
Ergonomics 2003 Jun 10;46(7):714-30
20. Wong KKW, Wan WY, Kaye SB. Blinking and operating : Cognition
versus vision. Br J Ophthalmol 2002;86:479
21. Cahyaningsih E. Efek vitamin A dan karboksi metilsellulosa sodium
0.5% topikal terhadap epitel permukaan mata dan stabilitas lapisan air
mata. Tesis Ilmu Penyakit Mata FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Jakarta 2002
22. Widyastuti. Efek suplemen lutein terhadap uji pembebanan cahaya yang
dimodifikasi pada pengguna komputer. Tesis Ilmu Penyakit Mata FKUI-
RSUPN Cipto Mangunkusumo. Jakarta 2003
23. White OD. Optics and refraction. In: Vaughan D, Asbury T, Riordan EP:
General Ophthalmology. 14
th
ed. Connecticut: Appleton & Lange; 1995 :
263-4
24. Tsubota K, Kaido M, Yagi Y, Fujihara T, Shimmura S. Diseases
associated with ocular surface abnormalities: The importance of reflex
tearing. Br J Ophthalmol 1999; 83:89-91
25. Tsubota, Egami, Ohtsuki, Shintani. Abnormal blinking of newscasters.
Lancet 1999; 354: 308
26. Schirra F, Ruprecht KW. Dry eye. An update on epidemiology, diagnose,
therapy and new concept. Ophthalmol. 2004; Jan 101(1):10-8
27. Danjo Y. Diagnostic usefulness and cutoff value of Schirmer's I test in
the Japanese diagnostic criteria of dry eye. Graefes Arch Clin Exp
Ophtalmol 1997; Dec 235(12): 761-6
28. Dickerson OB, Baker WE. Practical ergonomics and work with video
display terminals. In: Zenz C, Dickerson OB, Horvarth EP (eds):
Occupational Medicine. 3
rd
ed. Mosby year book, Inc; 1994:435-7
29. Suma'mur. Higene perusahaan dan kesehatan kerja. Cetakan 13. Gunung
Agung. Jakarta. 1996
30. Rey P, Meyer J. Ocular and visual problems. In: Stellman JM (ed):
Encyclopaedia of Occupational Health and Safety. 4
th
ed. International
Labour Office. Geneva; 1998; 52.10
31. Burgess-Limerick R, Plooy A, Ankrum DR. The effect of imposed and
self-selected computer monitor height on posture and gaze angle. Clin
Biomech 1998 Dec; 13(8):584-592
32. Triyono A. Hasil penelitian antropometri statis (A) tenaga kerja Indonesia
di 5 wilayah. Majalah Hiperkes dan Keselamatan Kerja 2004: 37:44-56
33. Suma'mur. Norma-norma penerapan ergonomi yang disepakati (the
recomemmended ergonomic norms). Jakarta: Pusat Hiperkes Tenaga
Kerja;1985.
34. Thompson DA. Ergonomics and the prevention of occupational injuries.
In: La Dou (ed): Occupational Medicine. Appleton & Lange; 1990:43
A spark negelected makes a mighty fire (Herrick)
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
34
Document Outline