TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Stres dan Sistem Imun Tubuh:
Suatu Pendekatan
Psikoneuroimunologi
Bambang Gunawan*, Sumadiono**
Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Sub Bagian Alergi Imunologi, Bagian Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
Kondisi sehat dapat dipertahankan karena individu mempunyai ketahanan tubuh yang baik.
Stres terjadi karena tidak adekuatnya kebutuhan dasar manusia yang akan dapat bermanifes pada
perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan perilaku. Paradigma yang banyak dianut pada saat
ini adalah memfokuskan pada hubungan antara perilaku, sistem saraf pusat (SSP), fungsi endokrin
dan imunitas. Responsivitas sistem imun terhadap stres menjadi konsep dasar psikoneuro-
imunologi. Mekanisme hubungan tersebut diperantarai oleh mediator kimiawi seperti
glukokortikoid, zat golongan amin dan berbagai polipeptida melalui aksis limbik hipotalamus-
hipofisis-adrenal yang dapat menurunkan respon imun seperti aktifitas sel natural killer (NK),
interleukin (IL-2R mRNA), TNF-
dan produksi interferon gama (IFN).
Kata kunci: Psikoneuroimmunologi stres stresor - sistem imun - glukokortikoid
PENDAHULUAN
Stres merupakan sebuah terminologi yang sangat populer
dalam percakapan sehari-hari. Stres adalah salah satu dampak
perubahan sosial dan akibat dari suatu proses modernisasi
yang biasanya diikuti oleh proliferasi teknologi, perubahan
tatanan hidup serta kompetisi antar individu yang makin
berat
(1,2)
. Pada awal tahun 1950-an para ahli perilaku
mempelajari hubungan perilaku dengan sistem kekebalan tubuh
yang sangat kompleks dan salah satu isu menarik adalah
hubungan antara stres dengan sistem kekebalan tubuh. Akhir-
akhir ini berkembang penelitian tentang hubungan antara
perilaku, kerja saraf, fungsi endokrin dan imunitas. Penelitian-
penelitian tersebut telah mendorong munculnya konsep baru
yaitu psikoneuroimunologi
(5,6,9)
.
STRES DAN STRESOR
Dalam ilmu psikologi stres diartikan sebagai suatu kondisi
kebutuhan tidak terpenuhi secara adekuat, sehingga
menimbulkan adanya ketidakseimbangan. Taylor (1995)
mendeskripsikan stres sebagai pengalaman emosional negatif
disertai perubahan reaksi biokimiawi, fisiologis, kognitif dan
perilaku yang bertujuan untuk mengubah atau menyesuaikan
diri terhadap situasi yang menyebabkan stres.
(1,2,5,10,12)
Teori stres bermula dari penelitian Cannon (1929) yang
kemudian diadopsi oleh Meyer (1951) yang melatih para dokter
untuk menggunakan riwayat hidup penderita sebagai sarana
diagnostik karena banyak dijumpai kejadian traumatik pada
penderita yang menjadi penyebab penyakitnya
(11)
.
Hans Selye (1956) dalam penelitiannya menggunakan
stimulus untuk menimbulkan reaksi fisiologik yang ia sebut
GAS (General Adaptation Syndrome).
Menurut teorinya stresor fisik maupun psikologik akan
mengakibatkan 3 tingkatan gejala adaptasi umum; tahap reaksi
alarm (alarm reaction), resistensi (resistance) dan tahap
kehabisan tenaga (exhaustion).
(1,11)
.
Faktor-faktor yang dapat menimbulkan stres disebut stresor.
Stresor dibedakan atas 3 golongan yaitu :
a.
Stresor fisikbiologik : dingin, panas, infeksi, rasa nyeri,
pukulan dan lain-lain.
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 13
Stres dan Sistem Imun Tubuh
b.
Stresor psikologis : takut, khawatir, cemas, marah,
kekecewaan, kesepian, jatuh cinta dan lain-lain.
c.
Stresor sosial budaya : menganggur, perceraian,
perselisihan dan lain-lain.
Stres dapat mengenai semua orang dan semua usia
(1,10,11)
.
Wheaton (1983) membedakan stres akut dan kronik sedangkan
Holmes dan Rahe (1967) menekankan pembagian pada jumlah
stres (total amount of change) yang dialami individu yang
sangat berpengaruh terhadap efek psikologiknya. Ross dan
Viowsky (1979) dalam penelitiannya berpendapat, bahwa
bukan jumlah stres maupun beratnya stres yang mempunyai
efek psikologik menonjol akan tetapi apakah stres tersebut
diinginkan atau tidak diinginkan (undesirable) yang
mempunyai potensi besar dalam menimbulkan efek
psikologik
(10,11,13)
. Stres baik ringan, sedang maupun berat dapat
menimbulkan perubahan fungsi fisiologis, kognitif, emosi dan
perilaku
(1,5,14)
.
SISTEM KEKEBALAN TUBUH
Keutuhan tubuh dipertahankan oleh sistem kekebalan
tubuh yang terdiri atas sistem imun nonspesifik (natural
/innate/ native) dan spesifik (adaptive / acquired)
(7,8)
.
Sistem imun nonspesifik
Sistem imun nonspesifik dapat memberikan respon
langsung terhadap antigen, sistem ini disebut nonspesifik
karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu.
Komponen sistem imun nonspesifik terdiri atas pertahanan
fisik dan mekanik, biokimiawi, humoral dan seluler
(8)
.
Dalam sistem pertahanan fisik dan mekanik kulit, mukosa,
silia saluran nafas, batuk dan bersin akan mencegah masuknya
berbagai kuman patogen ke dalam tubuh. Adapun bahan yang
disekresi mukosa saluran nafas, kelenjar sebaseus kulit, telinga,
spermin dalam semen mengandung bahan yang berperan dalam
pertahanan tubuh secara biokimiawi
(15)
. Pertahanan non spesifik
humoral terdiri dari berbagai bahan seperti komplemen,
interferon, fagosit (makrofag, neutrofil), tumor necrosis factor
(TNF) dan C-Reactive protein (CRP)
(7)
.
Komplemen berperan meningkatkan fagositosis (opsonisasi)
dan mempermudah destruksi bakteri dan parasit. Interferon
menyebabkan sel jaringan yang belum terinfeksi menjadi tahan
virus. Di samping itu interferon dapat meningkatkan aktifitas
sitotoksik Natural Killer Cell (sel NK). Sel yang terinfeksi
virus atau menjadi ganas akan menunjukkan perubahan di
permukaannya sehingga dikenali oleh sel NK yang kemudian
membunuhnya
(7,8)
.
Natural Killer Cell (sel NK), adalah sel limfoid yang
ditemukan dalam sirkulasi dan tidak mempunyai ciri sel
limfoid dari sistem imun spesifik, sehingga disebut sel non B
non T (sel NBNT) atau sel populasi ke tiga. Sel NK dapat
menghancurkan sel yang mengandung virus atau sel neoplasma
(7,8,15)
.
Fagosit atau makrofag dan sel NK berperanan dalam sistem
imun nonspesifik seluler. Dalam kerjanya sel fagosit juga
berinteraksi dengan komplemen dan sistem imun spesifik.
Penghancuran kuman terjadi dalam beberapa tingkat, yaitu
kemotaksis, menangkap, memakan (fagositosis), membunuh
dan mencerna
(15)
.
Sistem imun spesifik
Sistem imun spesifik terdiri dari sistem imun spesifik
humoral dan selular. Yang berperan dalam sistem imun spesifik
humoral adalah limfosit B atau sel B yang jika dirangsang oleh
benda asing akan berproliferasi menjadi sel plasma yang dapat
membentuk antibodi (imunoglobulin). Selain itu juga berfungsi
sebagai Antigen Presenting Cells (APC)
( 7,8,15)
.
Sedangkan yang berperan dalam sistem imun spesifik
selular adalah limfosit T atau sel T yang berfungsi sebagai
regulator dan efektor. Fungsi regulasi terutama dilakukan oleh
sel T helper (sel TH, CD4
+
) yang memproduksi sitokin seperti
interleukin-4 (IL-4 dan IL-5) yang membantu sel B
memproduksi antibodi, IL-2 yang mengaktivasi sel-sel CD4,
CD8 dan IFN
yang mengaktifkan makrofag. Fungsi efektor
terutama dilakukan oleh sel T sitotoksik (CD8) untuk
membunuh sel-sel yang terinfeksi virus, sel-sel tumor, dan
allograft. Fungsi efektor CD4
+
adalah menjadi mediator reaksi
hipersensitifitas tipe lambat pada organisme intraseluler seperti
Mycobacterium tuberculosis
(7,8,9,15)
.
Pada keadaan tidak homeostasis, bangkitnya respon imun
ini dapat merugikan kesehatan, misal pada reaksi autoimun
atau reaksi hipersensitifitas (alergi). Beberapa penyakit seperti
diabetes melitus, sklerosis multipel, lupus, artritis rematoid
termasuk contoh penyakit autoimun. Kondisi ini terjadi jika
sistem imun disensitisasi oleh protein yang ada dalam tubuh
kemudian menyerang jaringan yang mengandung protein
tersebut. Mekanisme terjadinya masih belum jelas
(8,9,15)
.
PSIKONEUROIMUNOLOGI
Martin (1938) mengemukakan ide dasar konsep
psikoneuroimunologi yaitu (1). status emosi menentukan fungsi
sistem kekebalan, dan (2). stres dapat meningkatkan kerentanan
tubuh terhadap infeksi dan karsinoma. Dikatakan lebih lanjut
bahwa karakter, perilaku, pola coping dan status emosi
berperan pada modulasi sistem imun
(16)
.
Holden (1980) dan Ader (1981) mengenalkan istilah
psikoneuroimunologi; yaitu kajian yang melibatkan berbagai
segi keilmuan, neurologi, psikiatri, patobiologi dan imunologi.
Selanjutnya konsep ini banyak digunakan pada penelitian dan
banyak temuan memperkuat keterkaitan stres terhadap berbagai
patogenesis penyakit termasuk infeksi dan neoplasma
(5,6,16)
.
Interaksi antara stres dengan sistem Imun
Stresor pertama kali ditampung oleh pancaindera dan
diteruskan ke pusat emosi yang terletak di sistem saraf pusat.
Dari sini, stres akan dialirkan ke organ tubuh melalui saraf
otonom. Organ yang antara lain dialiri stres adalah kelenjar
hormon dan terjadilah perubahan keseimbangan hormon, yang
selanjutnya akan menimbulkan perubahan fungsional berbagai
organ target. Beberapa peneliti membuktikan stres telah
menyebabkan perubahan neurotransmitter neurohormonal
melalui berbagai aksis seperti HPA (Hypothalamic-Pituitary
Adrenal Axis), HPT (Hypothalamic-Pituitary-Thyroid Axis) dan
HPO (Hypothalamic-Pituitary-Ovarial Axis). HPA merupakan
teori mekanisme yang paling banyak diteliti
(5,16,17)
.
Aksis
limbic-hypothalamo-pitutary-adrenal
(LHPA)
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
14
Stres dan Sistem Imun Tubuh
menerima berbagai input, termasuk stresor yang akan
mempengaruhi neuron bagian medial parvocellular nucleus
paraventricular hypothalamus (mpPVN). Neuron tersebut akan
mensintesis corticotropin releasing hormone (CRH) dan
arginine vasopressin (AVP), yang akan melewati sistem portal
untuk dibawa ke hipofisis anterior. Reseptor CRH dan AVP
akan menstimulasi hipofisis anterior untuk mensintesis
adrenocorticotropin hormon (ACTH) dari prekursornya,
POMC (propiomelanocortin) serta mengsekresikannya.
Kemudian ACTH mengaktifkan proses biosintesis dan
melepaskan glukokortikoid dari korteks adrenal kortison pada
roden dan kortisol pada primata. Steroid tersebut memiliki
banyak fungsi yang diperantarai reseptor penting yang
mempengaruhi ekspresi gen dan regulasi tubuh secara umum
serta menyiapkan energi dan perubahan metabolik yang
diperlukan organisme untuk proses coping terhadap
stresor
(3,6,18,19)
.
Pada kondisi stres, aksis LHPA meningkat dan
glukokortikoid disekresikan walaupun kemudian kadarnya
kembali normal melalui mekanisme umpan balik negatif.
Peningkatan glukokortikoid umumnya disertai penurunan kadar
androgen dan estrogen. Karena glukokortikoid dan steroid
gonadal melawan efek fungsi imun, stres pertama akan
menyebabkan baik imunodepresi (melalui peningkatan kadar
glukokortikoid) maupun imunostimulasi (dengan menurunkan
kadar steoid gonadal)
(3,6)
. Karena rasio estrogen androgen
berubah maka stres menyebabkan efek yang berbeda pada
wanita dibanding pria. Pada penelitian binatang percobaan,
stres menstimulasi respon imun pada betina tetapi justru
menghambat respon tersebut pada jantan.
19
Suatu penelitian
menggunakan 63 tikus menunjukkan kadar testosteron serum
meningkat bermakna dan berahi betina terhadap pejantan
menurun
(20)
.
Selain kenaikan kadar ACTH, beta endorfin, enkefalin dan
katekolamin di peredaran darah juga terjadi penekanan aktifitas
sel NK saat stres. Blalock (1981) melaporkan bahwa limfosit
yang mengalami infeksi virus dapat menghasilkan hormon
imunoreaktif (ir), antara lain irACTH, ir endorfin, irTSH dan
limfokin yang sangat mirip dengan hormon sejenis yang
dihasilkan di luar limfosit. Limfosit B dan limfosit T yang
merupakan sel efektor respon imun diketahui mempunyai
reseptor opioid yang berbeda, sehingga pengaturan kualitas
maupun kuantitas opioid ini dapat mengatur respon imun.
Pengaruh stres terhadap sistem imun adalah akibat pelepasan
neuropeptida dan adanya reseptor neuropeptida pada limfosit B
dan limfosit T. Kecocokan neuropeptida dan reseptornya akan
menyebabkan stres dapat mempengaruhi kualitas sistem imun
seseorang
(5,9)
.
Beberapa penelitian imunologis menunjukkan stres
menyebabkan penurunan respon limfoproliferatif terhadap
mitogen (PHA, Con-A), aktifitas sel natural killer (NK) turun
dan produksi interferon gama (IFN-
) turun
(4,5,19,22)
. Glaser et
al melaporkan adanya penurunan aktifitas Natural Killer Cell
(sel NK) dan produksi Interferon Gamma (IFN-
) pada
mahasiswa kedokteran yang sedang menjalani ujian.
Dilaporkan juga bahwa pada mahasiswa yang mengalami stres
pada saat menjalani ujian terjadi penurunan IL-2R mRNA
(1992); sehingga dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
stres akibat masalah akademis dapat memodulasi interaksi sel
imunokompeten
(4,5,16,25)
.
Penelitian Uchakin dkk. (2003) pada 15 pelari maraton pria
menunjukkan peningkatan signifikan granulosit, sel MID, dan
limfopenia beberapa saat setelah maraton. Sekresi IL-2 dan
interferon
turun pada 0 dan 1 jam setelah lari sedangkan
sekresi TNF-
turun pada 0 jam dan tetap rendah setelah 5 hari.
Sekresi IL-6 turun pada 24 dan 48 jam dan konsentrasi ACTH,
kortisol,
endorfin dan GH mencapai puncak pada 0 dan 1
jam
(23)
.
Lebih menarik lagi adalah pengaruh stres (eksperimental)
terhadap organ atau jaringan tubuh tertentu. Contohnya
pemberian syok elektris (electric footshock) intensitas rendah
akan meningkatkan produksi antibodi saluran pernafasan tikus.
Mekanismenya adalah melalui proses hambatan makrofag
alveolar yang bersifat supresif
(21)
.
Pada kondisi stres, aksis
LHPA meningkat
Stres kronik dengan tingginya kadar glukokortikoid
biasanya akan menurunkan berat badan tikus, tetapi
kebalikannya, stres kronik pada manusia dapat meningkatkan
nafsu makan dan berat badan. Orang depresi yang banyak
makan mengalami penurunan kadar CRF serebrospinal,
konsentrasi katekolamin dan aktivitas sistem hipotalamo-
pituitari-adrenal. Efek glukokortikoid (GCs) sebagai hasil
sekresi adrenokortikotropin sangatlah kompleks; secara akut
(dalam beberapa jam), glukokortikoid langsung akan
menghambat aktifitas aksis hipothalamo-pituitari-adrenal,
tetapi pada yang kronik (setelah beberapa hari) steroid di otak
secara langsung akan terpacu
(21)
.
Salah satu faktor yang tampaknya penting adalah
kemampuan individu untuk dapat mengendalikan stres.
Persepsi pengendalian memperantarai pengaruh stres pada
sistem imun manusia. Dalam satu penelitian tentang efek
perceraian, pasangan yang memiliki kendali lebih besar
terhadap masalah ini memiliki kesehatan yang lebih baik dan
menunjukkan fungsi sistem imun yang lebih baik. Demikian
pula, penelitian terhadap wanita dengan kanker payudara
menemukan bahwa pasien yang pesimistik memiliki
kemungkinan lebih besar mengalami tumor baru dalam periode
lima tahun, bahkan setelah keparahan fisik penyakit mereka
diperhitungkan
(1,5)
. Karena konsep onkogen sudah diterima
secara luas, dan sudah digunakan sebagai indikator diagnosis,
maka konsep psikoneuroimunologi ini akan menjadi ladang
baru yang menarik bagi para peneliti kanker khususnya dan
berbagai penyakit pada umumnya.
KESIMPULAN
Telah diuraikan bukti-bukti yang mendukung adanya
interaksi dan hubungan antara saraf dan sistem imun. Beberapa
fenomena menunjukkan bahwa sistem saraf mengontrol sistem
imun, dan sebaliknya. Sensitivitas sistem imun terhadap stres
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 15
Stres dan Sistem Imun Tubuh
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
16
merupakan konsekuensi tidak langsung dari proses pengaturan
interaksi saraf pusat dengan sistem imun. Sistem imun
menerima sinyal dari otak dan sistem neuroendokrin melalui
sistem saraf autonom dan hormon, sebaliknya mengirim
informasi ke otak lewat sitokin. Bukti yang sudah jelas di
antaranya adalah penurunan respon limfoproliferatif terhadap
mitogen (PHA, Con-A), aktifitas sel natural killer (NK),
Interleukin (IL-2R mRNA), TNF-
dan produksi interferon
gama (IFN-
). Pendekatan psikoneuroimunologi akan sangat
bermanfat untuk mengungkap patogenesis, dan memperbaiki
prognosis suatu penyakit.
11. Prawirohusodo S. Stres dan Kecemasan dalam : Kumpulan Makalah
Simposium Stres dan Kecemasan. Bagian Kedokteran Jiwa Fakultas
Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. 1988.
12. Soewadi. Simptomatologi dalam Psikiatri, Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa,
Fakultas Kedokteran UGM, Yogyakarta. 1997.
13. Charney DS, Manji HK 2004, Life stress, genes, and depression:
multiple pathways lead to increased risk and new opportunities for
intervention. Sci STKE. 2004;225. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/
entrez/query.fcgi?cmd=Link&db=PubMed&dbFrom=PubMed&from_ui
d=12706957 (2 Mei 2004)
15. Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. Cellular and Molecular
Immunology, Massachusetts: W.B. Saunders Co. 1999.
16. Notosoedirdjo M. Psychobiological Basis of Psychoneuroimmunology,
Folia Medika Indonesiana 1999:35;5-6
17. Dhabar FS. Stress response, adrenal steroid receptor levels and
corticosteroid-binding globulin levels- a comparison between Sprague-
Dawley, Fisher 344 and Lewis rats. Brain Research 1993; 616: 89-98.
KEPUSTAKAAN
18. Spencer RL,McEwen BS.Adaptation of the hypothalamic pituitary-
adrenal axis to chronic ethanol stress. Neuroendocrinol. 1990: 52 ;481-
89.
1.
Atkinson RL. Pengantar Psikologi jilid 2,, edisi 11, Penerbit Interaksara,
Batam Centre. 1998.
19. Grossman CJ. Immunoendocrinology, dalam : Basic and Clinical
Endocrinology, Third ed. Lange Medical Book. 1991.
2.
Wheaton B. Stress, personal coping resources and psychiatric symptoms.
J. Health and Social Behavior 1983;24 : 208-29
20. Yoon H. Effects of stress on female rat sexual function, Internat.J.
Impotence Research. advance online publ [18 March 2004]
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/entrez/query.
fcgi?dopt=DocSum&cmd=Search&db=PubMed&orig_db=PubMed&te...
(3 Mei 2004)
3.
Hoshi K, Zhou XP. Stress and Immunity. Asian Med.J 1998; 41(9): 429-
33
4.
Daeng H. Psychobiology of Stress, Folia Medika Indonesiana 1999;35:
7-9
5.
Rabin BS. Stress, Immune Function and Health, the connection., Wiley-
Liss, A John Wiley & Sons,Inc, Publ. USA, 1999.
21. Perssons J. Stress and pulmonary immune functions in the rat
(dissertation). Free University, Amsterdam. 1995.
6.
Baldwin A. Physiological basis of Psychoneuroimmunology [Lecture
XXXX]. 2004 http://www.physiol.arizona.edu/PSIO430530/ slides/
Exercise_Baldwin_42_3.pdf (2 Mei 2004)
22. Zeier H, Brauchli P. Effects of work demand on immunoglobulin A and
cortison in air traffic controllers. Biol Psychol 1996;42:413-23
23. Uchakin PN. Immune and Neuroendocrine Alterations in Marathon
Runners. J. Appl. Res. 2003;3(4);483-94 http://www. jrnlappliedre
search.com/articles/ Vol3Iss4/Uchakin.pdf
7.
Janeway CA, Travers P, Walport M, Capra JD. Immunobiology: The
Immune System in Health and Disease. 4
th
ed. Churchill Livingstone,
1999.
24. Dallman, Mary F et al. Chronic stress and obesity : A new view of
"comfort food", Proc Natl Acad Sci U S A. 2003; 100(20):11696-701.
8.
Chapel H, Haeney M, Misbah H, Snowden N. Essentials of Clinical
Immunology. 4
th
ed. Blackwell Science Ltd. 1999.
9. Putra ST. Stres dan Immune Surveillance, Suatu Pendekatan
Psikoneuroimunologi, Jurnal Berkala Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin
1991;3 (3): 177-81
10. Darmono. Stres : Tinjauan dari Segi Fisik, Kejiwaan dan Sosio Budaya,
Medika 1985;11:1096-9
25. Padgett DA, Glaser R, How stress influences immune response. Trends
in immunology. 2003:24 (8):444-8 http:// medicine.osu.edu/ mindbody/
pdf/how_stress_influences_immun.pdf (3 Mei 2004)
All promise outruns performance (Emerson)
Document Outline