background image
Artikel
IKHTISAR
Manajemen Keselamatan
dan Kesehatan Kerja di Laboratorium
Sri Sugihati Slamet
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi dan Obat Tradisional
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Dalam pekerjaan sehari-hari petugas laboratorium selalu
dihadapkan pada bahaya-bahaya tertentu, misalnya bahaya
infeksius, reagensia yang toksik , peralatan listrik maupun gelas
yang digunakan secara rutin.
Secara garis besar bahaya yang dihadapi dalam
laboratorium dapat digolongkan dalam :
1. bahaya kebakaran dan ledakan dari zat/bahan yang mudah
terbakar atau meledak.
2. bahan beracun, korosif dan kaustik
3. bahaya
radiasi
4. luka
bakar
5. syok akibat aliran listrik
6. luka sayat akibat alat gelas yang pecah dan benda tajam
7. bahaya infeksi dari kuman, virus atau parasit.
Pada umumnya bahaya tersebut dapat dihindari dengan
usaha-usaha pengamanan, antara lain dengan penjelasan,
peraturan serta penerapan disiplin kerja.
Pada kesempatan ini akan dikemukakan manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.
MANAJEMEN KESELAMATAN DAN KESEHATAN
KERJA DI LABORATORIUM
Manajemen adalah pencapaian tujuan yang sudah
ditentukan sebelumnya, dengan mempergunakan bantuan orang
lain (G.Terry). Untuk mencapai tujuan tersebut, dia membagi
kegiatan atau fungsi manajemen menjadi :
A. Planning (perencanaan)
B. Organizing (organisasi)
C. Actuating (pelaksanaan)
D. Controlling (pengawasan)
A. Planning (Perencanaan)
Fungsi perencanaan adalah suatu usaha menentukan
kegiatan yang akan dilakukan di masa mendatang guna
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam hal ini adalah
keselamatan dan kesehatan kerja di laboratorium.
Dalam perencanaan, kegiatan yang ditentukan meliputi :
a. apa yang dikerjakan
b. bagaimana mengerjakannya
c. mengapa
mengerjakan
d. siapa yang mengerjakan
e. kapan
harus
dikerjakan
f. di mana kegiatan itu harus dikerjakan
Kegiatan laboratorium sekarang tidak lagi hanya di bidang
pelayanan, tetapi sudah mencakup kegiatan-kegiatan di bidang
pendidikan dan penelitian, juga metoda-metoda yang dipakai
makin banyak ragamnya; semuanya menyebabkan risiko
bahaya yang dapat terjadi dalam laboratorium makin besar.
Oleh karena itu usaha-usaha pengamanan kerja di
laboratorium harus ditangani secara serius oleh organisasi
keselamatan kerja laboratorium.
B. Organizing (Organisasi)
Organisasi keselamatan dan kesehatan kerja laboratorium
dapat dibentuk dalam beberapa jenjang, mulai dari tingkat
laboratorium daerah (wilayah) sampai ke tingkat pusat atau
nasional.
Keterlibatan pemerintah dalam organisasi ini baik secara
langsung atau tidak langsung sangat diperlukan. Pemerintah
dapat menempatkan pejabat yang terkait dalam organisasi ini di
tingkat pusat (nasional) dan tingkat daerah (wilayah), di
samping memberlakukan Undang-Undang Keselamatan Kerja.
Di tingkat daerah (wilayah) dan tingkat pusat (nasional) perlu
dibentuk Komisi Keamanan Kerja Laboratorium yang tugas
dan wewenangnya dapat berupa :
1. menyusun garis besar pedoman keamanan kerja
laboratorium
2. memberikan bimbingan, penyuluhan, pelatihan pelaksana-
an keamanan kerja laboratorium
3. memantau pelaksanaan pedoman keamanan kerja
laboratorium
4. memberikan rekomendasi untuk bahan pertimbangan
penerbitan izin laboratorium
5. mengatasi dan mencegah meluasnya bahaya yang timbul
dari suatu laboratorium
6. dan
lain-lain.
Perlu juga dipikirkan kedudukan dan peran organisasi
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007 5
background image
Manajemen keselamatan kerja
profesi (PDS-Patklin) ataupun organisasi seminat (Patelki,
HKKI) dalam kiprah organisasi keselamatan dan kesehatan
kerja laboratorium ini.
Anggota organisasi profesi atau seminat yang terkait
dengan kegiatan laboratorium dapat diangkat menjadi anggota
komisi di tingkat daerah (wilayah) maupun tingkat pusat
(nasional).
Selain itu organisasi-organisasi profesi atau seminat
tersebut dapat juga membentuk badan independen yang
berfungsi sebagai lembaga penasehat atau Panitia Pembina
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Laboratorium.
C. Actuating (Pelaksanaan)
Fungsi pelaksanaan atau penggerakan adalah kegiatan
mendorong semangat kerja bawahan, mengerahkan aktivitas
bawahan, mengkoordinasikan berbagai aktivitas bawahan
menjadi aktivitas yang kompak (sinkron), sehingga semua
aktivitas bawahan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya.
Pelaksanaan program kesehatan dan keselamatan kerja
laboratorium sasarannya ialah tempat kerja yang aman dan
sehat. Untuk itu setiap individu yang bekerja dalam
laboratorium wajib mengetahui dan memahami semua hal yang
diperkirakan akan dapat menjadi sumber kecelakaan kerja
dalam laboratorium, serta memiliki kemampuan dan
pengetahuan yang cukup untuk melaksanakan pencegahan dan
penanggulangan kecelakaan kerja tersebut. Kemudian
mematuhi berbagai peraturan atau ketentuan dalam menangani
berbagai spesimen reagensia dan alat-alat.
Jika dalam pelaksanaan fungsi penggerakan ini timbul
permasalahan, keragu-raguan atau pertentangan, maka menjadi
tugas manajer untuk mengambil keputusan penyelesaiannya.
D. Controlling (Pengawasan)
Fungsi pengawasan adalah aktivitas yang mengusahakan
agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana
yang ditetapkan atau hasil yang dikehendaki.
Untuk dapat menjalankan pengawasan, perlu diperhatikan 2
prinsip pokok, yaitu :
a. adanya
rencana
b. adanya instruksi-instruksi dan pemberian wewenang
kepada bawahan.
Dalam fungsi pengawasan tidak kalah pentingnya adalah
sosialisasi tentang perlunya disiplin, mematuhi segala peraturan
demi keselamatan kerja bersama di laboratorium. Sosialisasi
perlu dilakukan terus menerus, karena usaha pencegahan
bahaya yang bagaimanapun baiknya akan sia-sia bila peraturan
diabaikan.
Dalam laboratorium perlu dibentuk pengawasan labora-
torium yang tugasnya antara lain :
1. memantau dan mengarahkan secara berkala praktek-
praktek laboratorium yang baik, benar dan aman
2. memastikan semua petugas laboratorium memahami cara-
cara menghindari risiko bahaya dalam laboratorium
3. melakukan penyelidikan / pengusutan segala peristiwa
berbahaya atau kecelakaan.
4. mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan tentang
keamanan kerja laboratorium
5. melakukan tindakan darurat untuk mengatasi peristiwa
berbahaya dan mencegah meluasnya bahaya tersebut
6. dan
lain-lain.
PENUTUP
Proses manajemen keselamatan dan kesehatan kerja
laboratorium seperti proses manajemen umumnya adalah
penerapan berbagai fungsi manajemen, yaitu perencanaan,
organisasi, pelaksanaan dan pengawasan.
Fungsi perencanaan meliputi perkiraan / peramalan, dilanjutkan
dengan penetapan tujuan dan sasaran yang akan dicapai,
menganalisa data, fakta dan informasi, merumuskan masalah
serta menyusun program.
Fungsi berikutnya adalah fungsi pelaksanaan yang mencakup
pengorganisasian penempatan staf, pendanaan serta implemen-
tasi program.
Fungsi terakhir ialah fungsi pengawasan yang meliputi
penataan dan evaluasi hasil kegiatan serta pengendalian.
Walaupun secara teoritis perencanaan, pelaksanaan dan
pengawasan dipisah-pisahkan, tetapi sebenarnya ketiga hal
tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan dan saling
terkait.
Keputusan
Analisis
Dari siklus seperti tampak dalam diagram, kelihatan suatu
proses manajemen merupakan siklus yang berkelanjutan.
Bila menemui permasalahan, maka manajer yang
bersangkutan akan menganalisis untuk mencari penyebab dan
mencari cara pemecahan yang tepat. Kemudian dia membuat
keputusan pemecahan permasalahan untuk dilaksanakan.
Selanjutnya dilakukan pemantauan dan evaluasi hasil yang
dicapai. Hasil evaluasi ini dibandingkan dengan perencanaan.
Kalau ada penyimpangan, maka dilakukan perbaikan
seperlunya.
KEPUSTAKAAN
1. Dalima DAW. Keselamatan Kerja di Laboratorium dan Lingkungan,
Penataran Analis RS Pertamina, Jakarta, 1-14 Maret 1991.
2.
Soemanto Imamkhasani. Keselamatan Kerja dalam Laboratorium Kimia,
Penerbit PT. Gramedia, Jakarta, 1990.
3. Juli Soemarsono. Pengamanan Kerja dalam Laboratorium Klinik,
Musyawarah Nasional I, Ikatan Laboratorium Kesehatan Indonesia,
Jakarta, April 1997.
4. Syukri Sahab MS. Program Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam
Teknik Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Penerbit PT.
Sumber Daya Manusia, Jakarta 1997.
Pelaksanaan
Masalah
Evaluasi
Diagram : Siklus Manajemen
Cermin Dunia Kedokteran No. 154, 2007
6

Document Outline