background image
ABSTRAK
VAKSINASI BCG MENGURANGI
RISIKO INFEKSI TBC
Penelitian dilakukan di Istanbul,
Turki untuk menilai risiko infeksi tbc
paru pada anak-anak dengan kontak
positif. Infeksi dideteksi melalui
pemeriksaan ELISpot (T-cell based
enzyme-linked immunospot assay).
Sejumlah 979 anak berusia sampai
16 tahun (median 7, IQR 3-11) kontak
dengan 414 dewasa penderita tbc paru
sputum positif, 770 (79%) di antaranya
mempunyai scar BCG.
Ternyata intensitas paparan dalam
rumah dan usia (petanda paparan
tuberkulosis di luar rumah) berhu-
bungan kuat dengan risiko infeksi
seperti diukur melalui TST (tuberculin
skin test) dan ELISpot. ELISpot juga
menemukan bahwa tidak adanya scar
BCG merupakan faktor risiko infeksi
independen di kalangan anak-anak
yang terpapar; odds ratio infeksi
tuberkulosis anak-anak yang
divaksinasi BCG 0.60 (95%CI 0.43-
0.83, p=0.003) dibandingkan dengan
anak-anak yang tidak divaksinasi.
Mereka menyimpulkan bahwa
vaksinasi BCG melindungi anak-anak
tidak hanya dari penyakit tbc tetapi
juga dari infeksi tbc.
Lancet 2005;366:1443-51
brw
BUNUH DIRI MENGGUNAKAN
INSEKTISIDA
Efek insektisida organofosfat pada
manusia seperti terlihat pada usaha
bunuh diri ternyata tidak seragam,
meskipun mereka berasal dari satu
golongan (organofosfat).
Penelitian dilakukan di tiga
rumahsakit di Srilanka selama kurun
waktu yang berbeda, antara 31 Maret
2002 sampai 25 Mei 2004. Selama
jangka waktu tersebut tercatat 802
pasien usaha bunuh diri menggunakan
tiga jenis insektisida organofosfat ­
chlorpyrifos, dimethoate dan fenthion.
Dibandingkan dengan kematian
akibat penggunaan chlorpyrifos (35
dari 439, 8.0%), kematian tertinggi
berasal dari penggunaan dimethoate
(61/264, 23.1%, OR 3.5, 95%CI 2.2-
5.4) atau fenthion (16 dari 99, 16.2%,
OR 2.2, 1.2 ­ 4.2); demikian juga
dengan keperluan intubasi
endotrakheal (66 dari 439 pengguna
chlorpyrifos ­ 15.0%, 93 dari 264
pengguna dimethoate ­ 35.2%, OR 3.1,
2.1-4.4; 31 dari 99 pengguna fnethion,
31.3%, 2.6, 1.6-4.2).
Pasien keracunan dimethoate
meninggal lebih cepat, sering
disebabkan oleh syok hipotensif.
Keracunan fenthion gejala awalnya
ringan tetapi banyak di antaranya yang
akhirnya memerlukan intubasi.
Asetilkholinesterase yang dihambat
oleh fenthion atau dimethoate kurang
responsif terhadap pralidoxime
dibandingkan dengan yang dihambat
oleh chlorpyrifos.
Hasil ini tidak sesuai dengan
percobaan binatang yang menunjukkan
bahwa chorpyrifos paling beracun
untuk tikus, tetapi ternyata kurang
beracun untuk manusia.
Lancet 2005;366:1452-59
brw
POLA INFEKSI HPV DI BERBA-
GAI NEGARA
Proporsi perempuan yang
terinfeksi HPV (human papilloma
virus) sangat bervariasi di kalangan
dan lokasi demografik yang berbeda.
Suatu survai dilakukan atas
populasi umum 15 613 perempuan
berusia 15 ­ 74 tahun tanpa kelainan
sitologik berasal dari 13 area di 11
negara dengan protokol standar
menggunakan uji PCR based EIA.
Prevalensi age-standardized HPV
sangat bervariasi di lokasi penelitian,
berkisar dari 1.4% (95%CI 0.5 ­ 2.2)
di Spanyol sampai 25.6% (22.4 ­ 28.8)
di Nigeria.
Prevalensi umum HPV dan HPV
16 tertinggi di Afrika Subsahara ; tetapi
perempuan HPV positif di Eropa lebih
berisiko terinfeksi HPV16 daripada
mereka di Subsahara (OR 2.64,
p=0.0002) dan lebih sedikit terinfeksi
HPV risiko tinggi selain HPV 16 (OR
0.57, p=0.004) dan /atau tipe HPV
risiko rendah (OR 0.44, p=0.0002).
Pola distribusi tipe HPV di
Amerika Selatan berada di antara pola
Subsahara dan pola Eropa, sedangkan
pola di Asia sangat heterogen.
Heterogenitas pola distribusi tipe
HPV ini hendaknya diperhatikan dalam
pengembangan tes penyaring dan
meramalkan efek vaksinasi terhadap
kejadian infeksi.
Lancet 2005;366: 991-98
brw
TERAPI METILFENIDAT
Dilakukan studi longitudinal atas
populasi semua anak yang tinggal di
Clalit, Israel yang diliput oleh asuransi
kesehatan untuk menilai penggunaan
metilfenidat selama tahun 1998-2004.
Prevalensi 1 tahun penggunaan
metilfenidat di kalangan anak usia 0-18
tahun meningkat dari 0.7% di tahun
1998 menjadi 2.5% di tahun 2004;
suatu peningkatan sebesar 3.54 (95%CI
3.31-3.79). Di tahun 1998 penggunaan
metilfenidat berkisar dari 0.20% di
kalangan perempuan usia sekolah
sampai 1.2% di kalangan anak laki-
laki; perbedaan sex mengecil menjadi
3.45. Kecuali di kalangan perempuan
taman kanak-kanak, penggunaan
metilfenidat meningkat di semua usia
dari taman kanak-kanak sampai
sekolah lanjutan, baik di kalangan laki-
laki maupun perempuan.
Clin.Drug Invest.2006;26(3):161-7
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
50
background image
ABSTRAK
RISIKO THALLIUM TEST
Seorang pilot pesawat komersial
mengaktifkan detektor radiasi saat
melewati pemeriksaan di bandara.
Pilot tersebut 2 hari sebelumnya
menjalani thallium-201 myocardial
perfusion scintigram. Empat hari
kemudian saat pilot tersebut kembali
melewati pemeriksaan yang sama,
alarm masih berbunyi.
Laporan ini menguatkan laporan
sebelumnya bahwa 2 orang pernah
ditahan oleh petugas Gedung Putih
karena mengaktifkan detektor
beberapa hari setelah mereka
menjalani thallium test; satu pasien
lainnya mendapat kesulitan karena
mengaktifkan detektor di sebuah bank.
Thallium 201 mempunyai waktu paruh
73 jam dengan dosis rata-rata saat tes
80 MBq, sehingga dapat mengaktifkan
detektor radioaktif sampai dua minggu
setelah pemeriksaan. Isotop lain yang
sering digunakan pada penelitian
me d i s a d a l a h I - 1 3 1 d a p a t
mengaktifkan detektor sampai 100 hari
setelah pemeriksaan; I-123 hanya
beberapa hari, sama seperti Tc-99m
dan F-18. Sedangkan Indium - 111
dan Gallium - 67 antara 20-30 hari.
Laporan ini patut diperhatikan
bagi orang-orang yang akan bepergian
beberapa saat setelah menjalani tes
yang menggunakan bahan tersebut.
Lancet 2005; 366 : 342
brw
ANGKA KELAHIRAN BAYI
PEREMPUAN DI INDIA
Analisis data kelahiran tahun
1997 di India menunjukkan bahwa
angka kelahiran bayi laki-laki lebih
besar daripada angka kelahiran bayi
perempuan, terutama jika anak
pertamanya perempuan.
Dari 133 738 kelahiran yang
dianalisis, jika anak pertamanya
perempuan, adjusted sex ratio untuk
anak ke dua ialah 759 perempuan
untuk setiap 1000 laki-laki (99%CI
731-787), sedangkan untuk anak ke
tiga jika dua anak sebelumnya
perempuan ialah 719 (675-762).
Sebaliknya jika anak sebelumnya
laki-laki, maka angka tersebut masing-
masing 1102 untuk kelahiran ke dua
dan 1176 untuk kelahiran ke tiga.
Ibu yang berpendidikan tinggi
mempunyai perbandingan yang lebih
rendah (683, 610-756) dibandingkan
dengan ibu yang buta huruf (869, 820-
917). Sebaliknya data lahir mati dan
kematian neonatal lebih banyak
mengenai bayi laki-laki - total lahir
mati perempuan adalah 809 (689-929)
untuk setiap 1000 lahir mati laki-laki.
Para peneliti menduga aborsi bayi
perempuan merupakan penyebab
distorsi ini, terutama pada ibu yang
sebelumnya melahirkan satu atau dua
anak perempuan; dan ini menyebabkan
'hilang'nya kira-kira 0.5 juta bayi
perempuan tiap tahun.
Lancet 2006; 367: 211-18
brw
TERAPI NEURALGIA PASCA
HERPES ZOSTER
Sampai saat ini terapi neuralgia
pasca herpes zoster masih belum
memuaskan; oleh karena itu
sekelompok peneliti di Belanda
mencoba tambahan pemberian satu
kali injeksi 80 mg. metilprednisolon +
10 mg. bupivakain epidural saat akut,
di samping pengobatan antiviral oral
dan analgetik biasa pada 598 pasien
herpes zoster fase akut (< 7 hari) di
bawah dermatom C7.
Setelah 1 bulan, 137 (48%) pasien
epidural melaporkan nyeri, dibanding-
kan dengan 164 (58%) di kelompok
kontrol (RR 0.83; 95%CI 0.75-0.97;
p=0.02); setelah 3 bulan 58 (21%) di
kelompok epidural dan 63 (24%) di
kelompok kontrol melaporkan nyeri
(0.89, 0.65-1.21, p=0.47) dan setelah 6
bulan frekuensinya menjadi 39 (15%)
dan 44 (17%) di masing-masing
kelompok.
Tidak dijumpai efek samping
yang berarti. Mereka menyimpulkan
bahwa injeksi steroid + anestetika
lokal saat akut tidak efektif untuk
mencegah nyeri pasca herpes zoster
dalam jangka panjang.
Lancet 2006: 367: 219-24
brw
NSAID DAN KANKER MULUT
Anti inflamasi non steroid diduga
mencegah beberapa jenis kanker, tetapi
meningkatkan risiko kardiovaskuler.
Analisis case-control dilakukan
atas data population based di
Norwegia, dari penderita kanker oral
yang dideteksi di antara 9241 orang
berisiko tinggi kanker oral karena
perokok berat (> 15 pack-years)
dibandingkan dengan kontrol dari
kelompok yang sama.
Penggunaan NSAID (tetapi bukan
parasetamol) dikaitkan dengan
penurunan risiko kanker oral (termasuk
di kalangan perokok aktif) - hazard
ratio 0.47., 95%CI 0.37-0.60, p<
0.0001). Berhenti merokok juga me-
nurunkan risiko kanker oral (0.41,
0.32-0.52, p < 0.0001).
Selain itu penggunaan NSAID
jangka panjang (tetapi bukan
parasetamol) juga dikaitkan dengan
peningkatan risiko kematian kardio-
vaskular (2.06, 1.34 ­ 3.18, p=0.001).
NSAID tidak menurunkan mortalitas
keseluruhan (p=0.17).
Lancet 2005;366: 1359-66
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006 51

Document Outline