TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Antioksidan dalam Diet
dan Karsinogenesis
Jansen Silalahi
Jurusan Farmasi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara, Medan, Indonesia
ABSTRAK
Pada keadaan normal pergantian dan peremajaan sel akan terjadi sesuai kebutuhan melalui
proliferasi sel dan apoptosis (kematian sel terprogram) di bawah pengaruh proto-onkogen dan gen
supresor tumor. Perubahan DNA yang terjadi di dalam proto-onkogen dan gen supresor tumor
akan mengubah kecepatan proliferasi dan apoptosis. Keadaan demikian dapat menyebabkan
proliferasi tanpa terkendali dan berakhir menjadi kanker. Kerusakan oksidatif pada DNA akibat
radiasi, radikal bebas dan senyawa oksigen reaktif yang bersifat oksidatif merupakan penyebab
penting kanker. Radikal bebas yang dibentuk di dalam tubuh akan menginduksi proses apoptosis
yang menyebabkan kematian sel termasuk sel tumor dan berarti menghambat karsinogenesis.
Antioksidan adalah peredam radikal bebas, dan secara epidemiologis antioksidan dalam makanan
terutama sayur dan buah bersifat protektif terhadap kanker. Akan tetapi hasil penelitian
eksperimental tentang hubungan antara antioksidan dan karsinogenesis tidak konsisten. Pendapat
yang menyatakan bahwa antioksidan bersifat antikanker masih memerlukan penelitian yang lebih
rinci. Fakta yang telah ada menunjukkan bahwa konsumsi suplemen antioksidan tunggal dosis
tinggi secara sembarangan perlu dihindari.
PENDAHULUAN
Berdasarkan data epidemiologis, ada hubungan antara
meningkatnya konsumsi antioksidan dalam diet dan
menurunnya insidensi kanker. Data ini didukung oleh
percobaan eksperimental pada sel kultur dan hewan. Dalam hal
ini ditemukan bahwa karsinogenesis erat kaitannya dengan
kerusakan oksidatif DNA
(1)
. Oleh karena itu adalah rasional
jika ada anjuran mengkonsumsi suplemen antioksidan dalam
diet untuk mencegah kanker. Walaupun penelitian tentang
peran antioksidan pada pencegahan penyakit degeneratif
terutama kanker belum tuntas, dan masih terus berlangsung,
dewasa ini banyak ditawarkan produk suplemen antioksidan
untuk mencegah proses penuaan dan kanker. Survai
menunjukkan bahwa konsumsi suplemen antioksidan oleh
masyarakat Amerika meningkat tajam; hampir 50%
menggunakannya dengan komponen utama vitamin C, vitamin
E dan karotenoida. Pada umumnya yang mengkonsumsi
suplemen antioksidan adalah individu yang memiliki
kepedulian terhadap kesehatan khususnya mereka yang telah
didiagnosis menderita kanker
(1,2)
. Oleh karena itu perlu
ditelusuri peran antioksidan terhadap kesehatan khususnya
kanker. Lagipula hasil penelitian eksperimental mengenai sifat
protektif antioksidan pada insidensi kanker tidak konsisten.
Berikut ini diuraikan peran antioksidan dalam karsinogenesis
berdasarkan informasi dan hasil penelitian .
MUTASI GEN DAN KANKER
Kanker dianggap suatu kelompok penyakit seluler dan
genetik karena dimulai dari satu sel yang telah mengalami
mutasi DNA sebagai komponen dasar gen. Sel-sel yang
mengalami kerusakan genetik tidak peka lagi terhadap
mekanisme regulasi siklus sel normal sehingga akan terus
melakukan proliferasi tanpa kontrol. Mutasi yang terjadi pada
DNA di dalam gen yang meregulasi siklus sel (pertumbuhan,
kematian dan pemeliharaan sel) akan menyebabkan
penyimpangan siklus sel, dan salah satu akibatnya adalah
pembentukan kanker atau karsinogenesis. Ada tiga cara atau
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
39
faktor penting dalam proses terjadinya mutasi gen yaitu; (1)
faktor lingkungan yang meliputi nutrisi, agen infektor, gaya
hidup; (2) faktor kebetulan, dan (3) faktor keturunan atau
bawaan
(3,4)
.
Faktor lingkungan seperti gaya hidup dan pola makan
berkorelasi dengan insiden kanker; misalnya paparan sinar
ultraviolet dengan kanker kulit, merokok dengan kanker paru-
paru. Tetapi tidak semua perokok akan mengidap kanker paru-
paru atau berjemur akan selalu menderita kanker kulit; berarti
ada faktor lain di luar faktor lingkungan yakni kesalahan
replikasi DNA dan bawaan
(3,5,6,7)
.
Adanya faktor kebetulan dapat diterangkan sebagai berikut.
Tubuh mengadakan replikasi DNA secara akurat, tetapi masih
terjadi kesalahan satu kali dari 10 juta pasangan basa.
Kemudian 99,9% dari yang salah dalam replikasi, dikoreksi
dan diperbaiki, berarti replikasi DNA yang salah masih ada
tersisa. Di samping itu, proses metabolisme normal dalam
tubuh menghasilkan radikal bebas yang reaktif dan
menimbulkan kerusakan oksidatif terhadap DNA secara terus-
menerus. Kanker dapat terjadi akibat akumulasi DNA termutasi
dalam gen terutama yang mengatur proses siklus dan
pertumbuhan sel. Mekanisme ke tiga cara terjadinya mutasi
DNA adalah melalui faktor keturunan atau bawaan, yang
menyebabkan 5-10% kanker. Mutasi yang terjadi pada DNA di
dalam gen yang meregulasi siklus sel akan mengakibatkan
penyimpangan, dan salah satu dampak negatifnya adalah
pembentukan kanker atau karsinogenesis
(3,4)
.
Ada tiga kelompok utama gen yang terlibat dalam regulasi
pertumbuhan sel yaitu proto-onkogen, gen penekan tumor
(tumor suppresor gene = TSG) dan gen gatekeeper. Proto-
onkogen menstimulasi dan meregulasi pertumbuhan dan
pembelahan sel. Gen penekan tumor biasanya menghambat
pertumbuhan sel atau menginduksi apoptosis (kematian sel
terprogram). Kelompok gen ini dikenal sebagai anti-onkogen,
karena berfungsi melakukan kontrol negatif (penekanan) pada
pertumbuhan sel. Gen p53 merupakan salah satu dari TSG yang
menyandi protein dengan berat molekul 53 kDa. Gen p53 juga
berfungsi mendeteksi kerusakan DNA, menginduksi reparasi
DNA. Gen gatekeeper berfungsi mempertahankan integritas
genomik dengan mendeteksi kesalahan pada genom dan
memperbaikinya. Mutasi pada gen-gen ini karena berbagai
faktor membuka peluang terbentuknya kanker
(3,4)
.
Pada keadaan normal, pertumbuhan sel akan terjadi sesuai
dengan kebutuhan melalui siklus sel normal yang dikendalikan
secara terpadu oleh fungsi ketiga gen: proto-onkogen, gen
tumor supressor dan gen gatekeeper secara seimbang. Jika
terjadi ketidakseimbangan fungsi ketiga gen ini, atau salah satu
tidak berfungsi dengan baik karena mutasi, maka keadaan ini
akan menyebabkan penyimpangan siklus sel. Pertumbuhan sel
tidak normal pada proses terbentuknya kanker dapat terjadi
melalui tiga mekanisme, yaitu perpendekan waktu siklus sel,
sehingga akan menghasilkan lebih banyak sel dalam satuan
waktu, penurunan jumlah kematian sel akibat gangguan proses
apoptosis, dan masuknya kembali populasi sel yang tidak aktif
berproliferasi ke dalam siklus proliferasi. Misalnya, pada
kondisi TSG kurang aktif atau proto-onkogen terlalu aktif.
Gabungan mutasi dari ketiga kelompok gen ini akan
menyebabkan kelainan siklus sel, yang sering terjadi adalah
mutasi gen yang berperan dalam mekanisme kontrol sehingga
tidak berfungsi baik, akibatnya sel akan berkembang tanpa
kontrol (yang sering terjadi pada manusia adalah mutasi gen
p53). Akhirnya akan terjadi pertumbuhan sel yang tidak
diperlukan, tanpa kendali dan karsinogenesis dimulai
(3,4,8)
.
Karsinogenesis berlangsung lama dan dibagi tiga tahap
yakni inisiasi, promosi dan perkembangan.
Pada tahap inisiasi sudah terjadi perubahan permanen di
dalam genom sel akibat kerusakan DNA yang berakhir pada
mutagenesis. Sel yang telah berubah ini tumbuh lebih cepat
dibandingkan dengan sel normal di sekitarnya. Pada tahap ini
proses mutasi akan mengaktivasi atau menghambat proto-
onkogen
(9)
. Yang mengubah fungsi proto-onkogen dan tumor
suppressor gene antara lain adalah karsinogen yang mengubah
struktur DNA, radiasi yang memicu pembentukan spesies
kimia reaktif dan radikal bebas, dan virus. Tahap inisiasi
berlangsung dalam satu sampai beberapa hari.
Tahap promosi berlangsung lama bisa lebih dari sepuluh
tahun. Suatu proses panjang yang disebabkan oleh kerusakan
yang melekat dalam materi genetik di dalam sel. Melalui
mekanisme epigenetik akan terjadi ekspansi sel-sel rusak
membentuk premalignansi dari populasi multiseluler tumor
yang melakukan proliferasi
(10)
. Senyawa-senyawa yang
merangsang pembelahan sel disebut promotor atau epigenetik
karsinogen.
Pada tahap perkembangan (progression), terjadi insta-
bilitas genetik yang menyebabkan perubahan-perubahan
mutagenik dan epigenetik. Proses ini akan menghasilkan klon
baru sel-sel tumor yang memiliki aktivitas proliferasi, bersifat
invasif (menyerang) dan potensi metastatiknya meningkat.
Selama tahapan ini, sel-sel maligna berkembang biak menyerbu
jaringan sekitar, menyebar ke tempat lain. Jika tidak ada yang
menghalangi pertumbuhannya, akan terbentuk dalam jumlah
yang cukup besar untuk mempengaruhi fungsi tubuh, dan
gejala-gejala kanker muncul. Tahap terakhir ini berlangsung
selama lebih dari satu tahun, sehingga seluruh karsinogenesis
dapat berlangsung selama dua puluh tahun
(3,9-12)
.
Insiden kanker pada orang yang lebih tua lebih tinggi
daripada orang muda, karena perubahan DNA akibat paparan
lingkungan berisiko dan kesempatan akumulasi yang lebih
besar seiring dengan bertambahnya usia, oleh karena itu jika
timbul kanker pada usia muda patut diselidiki adanya faktor
keturunan. Pengenalan lebih dini risiko kanker pada satu
keluarga sangat penting untuk manajemen pencegahan dan
terapi
(11)
. Kemajuan di bidang genetik tidak hanya
meningkatkan pemahaman tentang keterkaitan gen dengan
penyakit tetapi juga membuka kesempatan yang lebih luas
untuk meneliti kerentanan genetik. Tes genetik meliputi
analisis DNA, RNA, kromosom, protein, dan metabolit dapat
meramalkan atau mendeteksi penyakit. Tes ini biasanya
dilakukan terhadap DNA dan kromosom yang diisolasi dari
sampel darah atau sel tumor
(13)
. Tes ini biasanya bermanfaat
untuk meramalkan kerentanan terhadap suatu penyakit; juga
sangat bermanfaat dalam mengevaluasi risiko penyakit di
kalangan keluarga yang salah satu anggotanya mengalami
kelainan genetik sehingga jika mungkin dapat diambil langkah-
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
40
langkah preventif. Tes genetik juga bermanfaat untuk
mengetahui respon seseorang terhadap proses terapi
farmakogenetik dan nutrien di dalam makanan sehari-hari.
Nutrien yang berinteraksi di dalam makanan dan interaksi
nutrien dengan gen dapat menyebabkan perubahan gen dan
selanjutnya menyebabkan perubahan ekspresi gen sehingga
respon terhadap nutrien juga dapat berubah
(8,13)
.
FAKTOR DIET SEBAGAI PEMICU KANKER
Kanker disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi dari aspek
lingkungan ada tiga penyebab utama karsinogenesis pada
manusia yakni makanan, merokok, dan infeksi. Diet
menyebabkan 35% kanker pada manusia dan makanan adalah
penyebab utama kematian akibat kanker di Amerika
(10,14)
.
Faktor makanan sebagai penyebab kanker dikelompokkan
menjadi dua golongan. Golongan pertama adalah
mikrokomponen genotoksik yang menyebabkan kerusakan
DNA, dalam golongan ini termasuk senyawa amin heterosiklik
yang terbentuk selama memanggang dan menggoreng daging.
Paparan nitrosamin dalam daging yang diolah menggunakan
natrium nitrit meningkatkan insidensi kanker kolorektal.
Kontaminasi Aflatoksin B dalam makanan dapat menimbulkan
kanker termasuk kanker hati
(7,10,15)
.
Golongan ke dua adalah makrokomponen yang jika
dikonsumsi dalam jumlah berlebihan akan memicu promosi
karsinogenesis. Konsumsi lemak di atas 30% total kebutuhan
kalori dapat memicu kanker, sedangkan asupan 20 % justru
akan mengurangi risiko kanker. Perbandingan antara asam
lemak jenuh dengan lemak tak jenuh juga berperan dalam
karsinogenesis; terlalu banyak lemak jenuh atau terlalu banyak
lemak tak jenuh ganda (polyunsaturated fats) dapat memicu
karsinogenesis
(10)
. Walaupun masih memerlukan penelitian
yang lebih rinci, kesimpulan sementara berdasarkan review atas
sejumlah penelitian eksperimental dan beberapa penelitian
klinis mengindikasikan bahwa konsumsi suplemen asam lemak
omega-3 khususnya eicosapentaenoic acid (EPA) dan
docosahexaenoic acid (DHA) bermanfaat selama terapi kanker.
Minuman beralkohol juga dapat memicu terjadinya kanker
saluran cerna terutama kanker kolorektal
(7,16)
.
ANTIOKSIDAN DAN KANKER
Masyarakat yang mengkonsumsi banyak sayur dan buah
lebih sehat dengan risiko penyakit degeneratif termasuk kanker
yang rendah. Sifat protektif ini diyakini karena kandungan
berbagai jenis antioksidan yang terdapat di dalam sayur dan
buah
(10,17)
. Fakta ini sesuai dengan hasil penelitian pada kultur
dan hewan percobaan yang menunjukkan bahwa kerusakan
oksidatif DNA merupakan bagian dari karsinogenesis. Oleh
karena itu adalah logis jika dianjurkan untuk mengkonsumsi
antioksidan dalam diet sebagai bagian dari pencegahan kanker.
Akan tetapi, sebaliknya di dalam tubuh, diproduksi senyawa
oksigen reaktif termasuk radikal bebas (komponen oksidan atau
pengoksidasi) untuk menginduksi apoptosis (kematian sel
terprogram) yang juga bertujuan terutama untuk membunuh
sel-sel kanker. Proses apoptosis ini adalah faktor kritis dalam
mekanisme pengobatan kemoterapi dan radiasi. Barangkali,
sebelum pasien kanker mengkonsumsi suplemen antioksidan,
hambatan atau inhibisi terhadap apoptosis oleh antioksidan
perlu diperhitungkan
(1,2)
.
Apoptosis terjadi jika monitor internal mendeteksi adanya
kerusakan atau disfungsi dan memberi signal untuk memulai
serangkaian proses (cascade) yang akhirnya mengaktifkan
caspases dan endonucleases untuk membunuh sel kanker.
Regulasi apoptosis adalah untuk mempertahankan homeostasis
normal, menjaga keseimbangan proliferasi dan kematian sel di
dalam organ multiseluler. Salah satu fungsi apoptosis adalah
mencegah kanker dengan cara mengeliminasi sel-sel
preneoplastik dan neoplastik (pertambahan baru yang tak
normal)
(1,10)
. Pada hampir semua proses kematian sel, signal
cascade terjadi melalui bantuan senyawa oksigen reaktif
sebagai molekul pembawa isyarat atau berita (messenger).
Antioksidan bersifat meredam atau menetralkan radikal bebas
dan senyawa oksigen reaktif, dengan demikian antioksidan
bersifat menghambat apoptosis. Antioksidan seperti -tokoferol
yang terdapat di dalam kompartemen lipida sel, atau N-
asetilsistein, suatu peredam radikal bebas yang berada di dalam
fase air sitosol, dapat memperlambat atau menghambat
apoptosis, akibatnya akan memicu pertumbuhan kanker.
Sebaliknya diperkirakan dengan meniadakan antioksidan dalam
makanan mungkin akan menginduksi apoptosis, dengan
demikian secara logis akan menekan pertumbuhan kanker
(1,18)
.
Hasil penelitian Zeisel (2004)
(1)
menunjukkan bahwa
pemberian diet tanpa antioksidan mengurangi ukuran dan
jumlah tumor otak pada tikus karena adanya peningkatan
apoptosis di dalam tumor. Dengan menggunakan model tikus
transgenik yang mengalami karsinogenesis payudara, juga
diperoleh kesan bahwa diet tanpa antioksidan menghambat
pertumbuhan tumor dan mengurangi metastasis. Dibandingkan
dengan tikus kontrol yang diberikan diet standar, tikus dengan
diet tanpa antioksidan menunjukkan peningkatan apoptosis
lima kali lipat, dan persentase sel-sel tumor yang mengalami
mitosis menurun dua kali lipat.
Antioksidan, dengan mencegah kerusakan oksidatif oleh
pengaruh oksidan terhadap target (DNA, RNA, protein dan
lipida), akan bersifat protektif pada individu yang tidak
memiliki sel kanker; akan tetapi dengan menghambat apoptosis,
antioksidan akan bersifat memicu terjadinya kanker pada
pasien atau seseorang yang menderita kanker karena kerusakan
atau perubahan DNA. Inhibisi apoptosis oleh antioksidan dapat
menjelaskan mengapa sebagian penelitian yang dilakukan pada
perokok berat, antioksidan vitamin E dan -karoten justru
memicu karsinogenesis di paru-paru (diduga sudah terjadi
proses awal karsinogenesis akibat merokok sebelum pemberian
antioksidan), tetapi menurunkan karsinogenesis di prostat
(diduga belum terjadi tumor sebelum diberi antioksidan). Oleh
karena itu, walaupun pemberian lebih awal antioksidan
mungkin mencegah inisiasi dan perkembangan kanker dengan
meredam aktivitas sifat mutagenik radikal bebas, mungkin juga
akan meredam radikal bebas yang berperan penting pada
peningkatan apoptosis. Ketidakseimbangan ini memungkinkan
kecepatan proliferasi dalam tumor melebihi kemampuan untuk
apoptosis yang berakhir dengan karsinogenesis
(1,10)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
41
KESIMPULAN
3.
McKelvey KD, Evans JP. Cancer Genetics in Primary Care. J. Nutr. 2003;
133 (11S-I): 3767S-3772S.
Peranan ganda antioksidan pada proses karsinogenesis
belum diketahui dengan jelas. Walaupun penelitian
eksperimental tentang hubungan antara suplemen antioksidan
tunggal dosis tinggi dan karsinogenesis menunjukkan hasil
yang tidak konsisten, data epidemiologis masih
memperlihatkan manfaat makanan sehari-hari khususnya sayur
dan buah yang kaya antioksidan dalam mengurangi risiko
kanker. Hasil ini mungkin disebabkan efek kombinasi dari
berbagai jenis antioksidan dalam sayur dan buah dengan dosis
rendah tanpa efek samping dari masing-masing antioksidan
dibandingkan dengan antioksidan tunggal dosis tinggi.
Tampaknya sangat beralasan untuk mempertimbangkan potensi
risiko atau manfaat antioksidan dosis tinggi secara kasus per
kasus, dan konsumsi sembarangan suplemen antioksidan
tunggal dosis tinggi harus dihindari.
4. Gondhowiarjo S. Proliferasi Sel dan Keganasan. Maj. Kedokt. Indon.
2004; 54(7): 289-299.
5.
Milner JA. Molecular Targets for Bioactive Food Components. J Nutr.
2004. 134(9): 2492S-2498S.
6.
Go VW, Butrum RR, Wong DA. Diet, Nutrition, and Cancer Prevention:
The Postgenomic Era. J. Nutr. 2003. 133 (11S-I): 3830S-3836S.
7.
Nowell SA, Ahn J, Ambrosone CB. Gene-Nutrient Interaction in Cancer
Etiology. Nutr. Rev. 2004; 62 (11): 427-434.
8.
Walker WA, Blackburn G. Symposium Introduction: Nutrition and Gene
Regulaton. J. Nutr. 2004; 134(9): 2434S-2436S.
9.
McKee T, McKee JR. Biochemistry. The Moleculer Basis of Life. 3
rd
ed.
Singapore: .McGrawHill. 2003: 656-657.
10. Lee KW, Lee HJ, Lee CY. Vitamins, Phytochemicals, Diets and Their
Implementation in Cancer Chemoprevention. Crit. Rev. Food Sci. Nutr.
2004; 44: 437-447.
11. Wardlaw GM, Kessel MW. Perspective in Nutrition. 5
th
ed. Singapore:
McGrawHill. 2002: 412-415.
12. Silalahi J, Tambunan ML. Zat Bersifat Antikanker di Dalam Makanan.
Medika; 2003; 39 (7): 440-446.
13. Keku TO, Burris TR, Millikan R. Gene Testing: What the Health
Professional Needs to Know. J. Nutr. 2003; 133 (11S-I): 3754S-3757S.
14. Kritchevsky D. Diet and Cancer: What's Next? J. Nutr. 2003; 133 (11S):
3827S-3829S.
15. Cassens RG. Use of Sodium Nitrite in Cured Meats Today. Food Technol.
1995. July: 72-80.
KEPUSTAKAAN
16. Hardman WE. (n-3) Fatty Acids and Cancer Therapy. J. Nutr. 2004; 134
(12S): 3427S-3430S.
1. Zeisel SH. Antioxidants Suppress Apoptosis. J Nutr. 2004;134(11):
3179S-3180S.
17. Wargovich MJ, Cunningham JE. Diet, Individual Responsiveness and
Cancer Prevention. J. Nutr. 2003; 133 (7S): 2400S-2403S.
2. Rock CL, Newman VA., Nuehouser,ML, Major J, Barnett MJ.
Antioxidant Supplement Use in Cancer Survivor and the General
Population. J. Nutr. 2004; 134 (11): 3194S-3195S.
18. Borek C. Antioxidants and Radiation Therapy. J. Nutr. 2004; 134(11):
3207S-3209
Don't fly till your wings are fledged
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
42
Document Outline