ULASAN
Penyakit yang Berhubungan
dengan Penghambatan Apoptosis
Rochman Naim
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor, Bogor, Jawa Barat, Indonesia
Pada mahluk hidup multiseluler, homeostasis dipertahan-
kan melalui keseimbangan antara proliferasi/perkembang-
biakan sel dan kematian sel. Dengan ketiadaan perubahan
dalam laju proliferasi sel, perubahan dalam laju kematian sel
dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi atau kehilangan sel.
Akumulasi sel terjadi bila laju kematian sel lebih rendah
dibanding proliferasi sel, sebaliknya bila laju kematian sel lebih
besar maka kehilangan sel akan terjadi.
Walaupun telah banyak diketahui tentang kontrol dari
proliferasi sel, kontrol dari kematian sel masih sangat sedikit
diketahui dan masih terus dipelajari. Kematian sel secara
fisiologik terjadi terutama melalui bentuk kematian sel yang
disebut dengan apoptosis. Keputusan dari suatu sel mengalami
apoptosis dapat dipengaruhi oleh sejumlah rangsangan dari luar
sel.
Kegagalan sel untuk mengalami kematian sel apoptotik
mungkin melibatkan patogenesis dari sejumlah penyakit
manusia yang meliputi penyakit-penyakit yang dikarakterisasi
dengan terjadinya akumulasi sel, yaitu kanker, penyakit
autoimun, dan penyakit viral tertentu. Akumulasi sel dapat
berasal dari proliferasi sel yang meningkat atau kegagalan sel
untuk melakukan proses apoptosis terhadap rangsangan yang
sesuai. Walaupun banyak perhatian telah difokuskan pada
peran potensial dari proliferasi sel pada penyakit-penyakit di
atas, makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa perubahan-
perubahan dalam kontrol sel yang dapat bertahan hidup
merupakan hal yang penting dalam patogenesis penyakit di atas
yang disebut juga dengan penyakit proliferatif.
KEMATIAN SEL DALAM KANKER
Sel-sel dari sejumlah tumor ganas (malignancy) pada
manusia memiliki kemampuan yang menurun untuk mengalami
apoptosis dalam responnya terhadap beberapa rangsangan
fisiologik
(1)
. Hal ini lebih terlihat pada tumor-tumor yang
bersifat metastatik. Kebanyakan sel normal tergantung pada
faktor-faktor spesifik lingkungannya untuk mempertahankan
viabilitasnya
(2)
. Ketergantungan ini yang mungkin mencegah
sel normal untuk dapat bertahan hidup pada lingkungan non-
fisiologiknya. Sel-sel tumor metastatik dapat menghindari
mekanisme homeostatik ini dan dapat bertahan hidup pada
lingkungan yang berbeda dengan lingkungan/jaringan tempat
mereka berkembang. Untuk melakukan proses ini, sel-sel
tumor harus meningkatkan kemampuannya untuk tidak
terikat/tergantung dari faktor-faktor bertahan hidup yang
membatasi distribusinya. Kemajuan yang telah dicapai saat ini
telah membuka basis molekuler tentang peningkatan resistensi
sel tumor terhadap apoptosis, dan beberapa gen yang kritikal
dalam regulasi apoptosis telah diketahui.
Gen BCL2 ditemukan pertama kali lokasinya pada sisi
translokasi antara kromosom 14 dan 18, dan berada dalam
kebanyakan limfoma folikuler manusia
(3)
. Sebagai suatu
oncogene, pada awalnya BCL2 ditemukan memiliki sedikit atau
tidak ada kemampuan untuk meningkatkan progresi siklus sel
atau proliferasi sel. Namun, terjadinya overekspresi dari BCL2
secara spesifik menghambat sel untuk mengalami apoptosis
dalam responnya terhadap sejumlah rangsangan
(4)
. Lebih lanjut,
introduksi gen yang menghambat fungsi BCL2 dapat
menginduksi apoptosis pada sejumlah tipe tumor. Hal ini telah
menghantarkan pada suatu hipotesis bahwa kebanyakan tumor
secara kontinyu bersandar pada produk gen BCL2 atau gen
yang berhubungan dengan BCL2 untuk mencegah kematian sel.
Sesuai dengan hipotesis ini, ekspresi BCL2 telah berhubungan
dengan prognosis yang buruk pada kanker prostat, kanker
kolon, dan neuroblastoma
(5)
.
Gen BCL2 merupakan salah satu dari sejumlah gen yang
dapat mengontrol proses awal apoptosis suatu sel
(6)
. Pada sel
tumor yang dikultur, overekspresi BCL2 atau gen yang
berhubungan ditemukan mendukung resistensi sel terhadap
kematian dalam responnya terhadap agen kemoterapetika
seperti cytosine arabinoside, methotrexate, vincristine, dan
cisplatin
(7)
. Penemuan ini telah memberi gambaran baru karena
agen kemoterapi pada awalnya diduga membunuh sel dengan
menginduksi kerusakan metabolik yang irreversible yang
berakibat kematian nekrosis sel target. Saat ini terlihat bahwa
mekanisme primer kebanyakan agen kemoterapetika dalam
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
36
menginduksi kematian sel terjadi melalui penyimpangan
fisiologi seluler yang berakibat terinduksinya apoptosis. Hal ini
sesuai dengan penemuan bahwa overekspresi BCL2 atau gen
yang berhubungan secara in-vitro dapat mengakibatkan
fenotipe resistensi multidrug.
Sejumlah agen kemoterapetika bekerja dengan cara
menginduksi kerusakan DNA. Kematian sel dalam responnya
terhadap kerusakan DNA pada banyak kasus merupakan akibat
dari apoptosis. Produk gen p53 dibutuhkan oleh sel untuk
menginduksi apoptosis dalam responnya terhadap kerusakan
genotoksik
(8)
. Hal ini terlihat pada tumor yang tidak memiliki
gen p53 ternyata tidak dapat mengalami apoptosis dalam
responnya terhadap kerusakan DNA yang diinduksi oleh agen
kemoterapetika dan radiasi
(9)
. Sel-sel yang tidak dapat
mengalami apoptosis dalam responnya terhadap kerusakan
DNA mungkin lebih cenderung untuk memperoleh
penyimpangan genetik dibanding sel yang normal. Kesalahan
atau kekeliruan dalam "perbaikan" DNA yang rusak dapat
berkontribusi terhadap laju mutasi yang tinggi yang telah
diobservasi pada banyak kasus kanker manusia.
Tumor promoter seperti phorbol myristate acetate (PMA)
dan alpha-hexachlorocyclo-hexane dapat bertindak sebagai
faktor spesifik untuk bertahan hidup bagi sel-sel yang
memperlihatkan perkembangan tumor
(10)
. Hal ini menunjukkan
bahwa penghambatan apoptosis merupakan hal yang lebih
penting dalam perkembangan tumor ganas.
KEMATIAN SEL DAN AUTOIMUNITAS
Regulasi fisiologik dari kematian sel merupakan hal
esensial untuk "pemusnahan" limfosit yang secara potensial
autoreaktif dalam perkembangannya dan untuk "pemusnahan"
sel-sel yang berlebih setelah selesainya respon imun.
Kegagalan memusnahkan sel autoimun yang meningkat selama
perkembangan atau yang berkembang sebagai hasil mutasi
somatik selama respon imun dapat mengakibatkan penyakit
autoimun. Hasil pada hewan model telah mendemonstrasikan
pentingnya disregulasi apoptosis dalam etiologi penyakit
autoimun. Sebagai contoh, satu molekul yang penting dalam
regulasi kematian sel pada limfosit adalah reseptor permukaan
sel yang dikenal dengan nama Fas, anggota dari famili reseptor
tumor necrosis factor (TNF)
(11)
. Stimulasi Fas pada limfosit
yang teraktivasi dapat menginduksi apoptosis. Dua bentuk dari
penyakit autoimun yang bersifat herediter berhubungan dengan
apoptosis berperantara Fas (Fas-mediated apoptosis)
(12)
.
Mencit (mouse) strain MRL-lpr, yang memperlihatkan
systemic lupus erythematosus yang fatal pada umur 6 bulan,
memiliki suatu mutasi pada reseptor Fas. Sebaliknya, mencit
strain GLD, yang memperlihatkan penyakit yang mirip,
memiliki suatu mutasi pada Fas ligand
(12)
. Pada manusia telah
diidentifikasi adanya bentuk Fas yang disekresikan
(13)
. Pasien
systemic lupus erythematosus memiliki level Fas soluble yang
meningkat, yang mungkin secara kompetitif menghambat
interaksi Fas ligand-Fas. Akibatnya akan terjadi penurunan
apoptosis berperantara Fas yang akan mendukung akumulasi
sel-sel autoimun pada penyakit tersebut di atas. Penyakit
autoimun mirip lupus yang juga dilaporkan pada mencit
transgenik memperlihatkan adanya overekspresi BCL2 pada
sel-sel B-nya
(14)
. Mencit strain nonobese diabetik (NOD)
memperlihatkan adanya hubungan antara lokus BCL2 dan
diabetes autoimun
(15)
.
Investigasi terhadap peran apoptosis dalam perkembangan
penyakit autoimun pada manusia seperti systemic lupus
erythematosus, rheumatoid arthritis, psoriasis, dan
autoimmune diabetes mellitus mulai meningkat. Perubahan
kepekaan limfosit terhadap kematian apoptosis secara in vitro
telah dilaporkan pada beberapa penyakit di atas
(16)
.
KEMATIAN SEL DALAM INFEKSI VIRAL
Kerusakan fisiologi sel sebagai akibat infeksi virus dapat
menyebabkan sel yang terinfeksi mengalami apoptosis.
Kematian sel yang terinfeksi mungkin digambarkan sebagai
suatu mekanisme pertahanan seluler untuk mencegah propagasi
virus. Sel T sitotoksik juga beraksi untuk mencegah
penyebaran virus dengan mengenal dan membunuh sel-sel
yang mengandung peptida viral dalam kaitannya dengan
molekul kelas I dari kompleks histokompatibilitas utama
permukaan sel
(17)
. Sel T dapat menginduksi kematian sel
dengan aktivasi program endogen kematian sel dari sel target.
Sel T sitotoksik menginduksi apoptosis dengan aktivasi
reseptor Fas pada permukaan sel target atau dengan introduksi
protease seperti granzyme B yang mengaktivasi apoptosis dari
dalam sitoplasma sel target
(18)
.
Untuk menghindari sistem pertahanan host, sejumlah virus
telah mengembangkan mekanisme untuk merusak regulasi
normal apoptosis dalam sel yang terinfeksi. Sebagai contoh
infeksi adenoviral yang efektif tergantung pada fungsi protein
E1B dengan berat molekul 19 kDa
(19)
. Protein ini telah
memperlihatkan penghambatan secara langsung apoptosis, dan
fungsinya pada adenovirus dapat digantikan oleh BCL2.
Sekuens primer dan analisis mutasional menunjukkan bahwa
ada kemiripan struktural di antara kedua gen E1B dan BCL2
(20)
.
Gen BHRF1 dari virus Epstein-Barr dan gen LMW5-HL dari
virus African swine fever memiliki sekuens dan fungsi yang
mirip dengan BCL2
(21)
.
Gen viral lainnya yang tidak memiliki kemiripan dengan
BCL2 dapat juga menghambat apoptosis. Sebagai contoh gen
p35 dan inhibitor of apoptosis gene (IAP) yang ditemukan pada
baculovirus dapat menghambat apoptosis dalam responnya
terhadap sejumlah rangsangan
(22)
. Kemampuan p35 untuk
menghambat apoptosis tidak tergantung pada ekspresi protein
viral lainnya. Virus pox terlihat menghambat apoptosis dengan
memproduksi inhibitor molekul efektor kematian interleukin-
1 -converting enzyme (ICE). ICE merupakan suatu cysteine
protease yang berhubungan erat dengan protein yang dikode
oleh gen kematian sel ced3 pada cacing Caenorhabditis
elegans. Produk gen ced3 dibutuhkan oleh sel untuk
mengalami apoptosis selama perkembangan dalam C.
elegans
(23)
. Gen crmA dari virus cowpox berfungsi sebagai
inhibitor ICE
(24)
. Gen crmA dapat menghambat apoptosis
dalam responnya terhadap sejumlah rangsangan dan juga
dibutuhkan untuk menghambat perkembangan respon inflama-
torik terhadap sel-sel yang terinfeksi virus cowpox
(24,25)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006 37
Pencegahan apoptosis juga penting untuk pembentukan
viral latency. Virus Epstein-Barr membentuk infeksi laten pada
sel-sel B. Gen viral LMP-1 yang diproduksi selama infeksi
laten secara spesifik meregulasi upstream ekspresi BCL2, yang
secara potensial mengakibatkan sel yang terinfeksi laten
bertahan hidup
(26)
. Infeksi kronis dari virus Sindbis juga telah
dilaporkan tergantung pada ekspresi BCL2 sel host
(27)
.
Inhibitor-inhibitor Apoptosis
Inhibitor fisiologik
Gen-gen viral
Agen farmakologik
1. Faktor
pertumbuhan
2. Matriks
ekstraseluler
3. Ligand CD40
4. Asam amino
netral
5. Zinc
6. Estrogen
7. Androgen
1. Adenovirus E1B
2. Baculovirus p35
3. Baculovirus IAP
4. Cowpox virus crmA
5. Epstein-Barr virus
BHRF1, LMP-1
6. African swine fever
virus LMW5-HL
7. Herpesvirus
1 34.5
1. Inhibitor calpain
2. Inhibitor cysteine
protease
3. Tumor promoter:
PMA, fenobarbital,
alfa hexachloro-
cyclohexane
38
Penyakit-penyakit Penghambat Apoptosis
1. Kanker: follicular lymphomas, carcinoma dengan mutasi p53,
hormone-dependent tumor (breast cancer, prostate cancer, ovarian
cancer)
2. Penyakit autoimun: systemic lupus erythematosus, immune-mediated
glomerulonephritis
3. Infeksi
viral:
herpesvirus, poxvirus, adenovirus
KEPUSTAKAAN
1.
Hoffman B, Liebermann DA. Oncogene 1994; 9: 1807.
2.
Boudreau N, Sympson CJ, Werb Z, Bissel MJ. Science 1995; 267: 891.
3.
Tsujimoto Y, Gorham J, Cossman J, Jaffe E, Croce CM. Science 1985;
229: 1390.
4.
Hockenbery DM, Oltvai ZN, Yin XM, Milliman CL, Korsmeyer SJ.,
1993. Cell 75: 241.
5.
Hague A, Moorghen M, Hicks D, Chapman M, Paraskeva C. Oncogene
1994; 9: 3367.
6.
Oltvai ZN, Milliman CL, Korsmeyer SJ. Cell 1993; 74: 609.
7.
Miyashita T, Reed JC. Blood 1993; 81: 151.
8.
Lowe SW, Schmitt EM, Smith SW, Osborne BA, Jacks T. Nature 1993;
362: 847.
9.
Lowe SW et al. Science 1994; 266: 807.
10.
Bursch W et al. Carcinogenesis 1990; 11: 847.
11.
Watanabe-Fukunaga R, Brannan CI, Copeland NG, Jenkins NA, Nagata
S. Nature1992; 356: 314.
12.
Suda T, Takahashi T, Golstein P, Nagata S. Cell 1993; 75: 1169.
13.
Cheng J et al. Science 1994; 263: 1759.
14.
Strasser A et al. Proc Natl Acad Sci USA 1991; 88: 8661.
15. Garchon HJ, Luan JJ, Eloy L, Bedossa P, Bach JF. Eur J Immunol.
1994; 24: 380.
16.
Emlen W, Niebur J, Kadera R. J Immunol. 1994; 152: 3685.
17.
Henkart PA. Immunity 1994; 1: 343.
18.
Kagi D et al. Science 1994; 265: 528.
19.
Rao L. et al. Proc Natl Acad Sci USA 1992 ; 89: 7742.
20.
Boyd JM et al. Cell 1994; 79: 341.
21.
Neilan JG et al. J Virol. 1993 ; 67: 4391.
22.
Sugimoto A, Friesen PD, Rothman JH. EMBO J. 1994; 13: 2023.
23.
Miura M, Zhu H, Rotello R, Hartwieg EA, Yuan J. Cell 1993; 75: 653.
24.
Ray CA et al. Cell 1992; 69: 597.
25.
Gagliardini V et al. Science 1994; 263: 826.
26.
Henderson S et al. Cell 1991; 65: 1107.
27.
Levine B et al.. Nature 1993; 361: 739.
Good books, like good friends, are few and chosen ;
the more select, the more enjoyable
(AB Alcott)
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
Document Outline