TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Stem Cell Retina: Harapan Baru
untuk Mengatasi Kebutaan?
Meta W. Djojosubroto
Hôpital Ophtalmique Jules Gonin, Avenue de France 15
1044 Lausanne, Switzerland
Retinitis pigmentosa (RP) dan degenerasi makular akibat
penuaan (DMP) merupakan dua jenis kebutaan yang
disebabkan oleh kelainan pada sel-sel fotoreseptor. Hingga saat
ini belum ditemukan cara pengobatan yang paling sesuai untuk
mengatasi kedua kondisi kebutaan tersebut. Walaupun
demikian, penelitian telah menunjukkan kemajuan dalam
pengembangan beberapa terapi yang dapat digunakan. Salah
satunya adalah dengan menggunakan stem cells yang
ditransplantasikan pada retina.
Penyakit degenerasi dan trauma pada sistem saraf sentral
yang terjadi pada otak, retina, maupun sumsum tulang belakang
merupakan sumber utama kelumpuhan jangka panjang. Pada
retina, degenerasi dapat terjadi pada
sel-sel fotoreseptor, yang
dapat menyebabkan antara lain retinitis pigmentosa (RP). RP
adalah penyakit mata keturunan. Pada pasien RP, degenerasi
sel fotoreseptor terjadi secara bertahap menyebabkan hilangnya
penglihatan secara progresif. Jumlah penderita RP diperkirakan
memiliki rasio 1:4000 dan gejala klinis umumnya timbul pada
usia 20-30 tahun. Selain RP, penyakit degenerasi retina lain
yang menyebabkan hilangnya penglihatan sentral secara
progresif adalah degenerasi makular akibat penuaan (DMP).
DMP umumnya terjadi pada usia 60-70 tahun, dan merupakan
penyebab utama kebutaan pada orang-orang yang berusia lebih
dari 55 tahun. Sampai saat ini belum ada metode penyembuhan
RP maupun DMP. Walaupun demikian, para peneliti telah
berhasil mengembangkan beberapa metode pengobatan yang
menjanjikan, antara lain dengan artificial retinal implants
1
,
terapi gen
2,3
, transplantasi stem cell
4
, maupun pemberian nutrisi
khusus
5,6
.
STEM CELLS
Stem cells adalah sel-sel yang memiliki potensi tinggi
untuk berkembang menjadi berbagai jenis sel dalam tubuh.
Pada dasarnya, stem cells berfungsi sebagai salah satu
mekanisme perbaikan tubuh. Dengan kemampuan membelah
diri yang dapat dikatakan tak terhingga, stem cells dapat
menggantikan sel-sel yang rusak atau mati sepanjang hidup
suatu organisme. Jika suatu stem cell membelah, sel anakan
yang baru memiliki potensi untuk tetap menjadi stem cell atau
menjadi suatu jenis sel dengan fungsi spesifik, misalnya sel
otot, sel darah, atau sel otak.
Berdasarkan asalnya, stem cell dibedakan menjadi stem
cell embrio dan stem cell dewasa. Stem cell embrio diperoleh
dari embrio yang berkembang dari sel telur yang dibuahi sel
sperma secara in vitro, dilakukan di klinik fertilisasi in vitro,
dan didonasikan untuk riset dengan sepengetahuan donor.
Berbeda dengan stem cell embrio, stem cell dewasa umumnya
berada di beberapa jaringan tertentu dan berfungsi
menghasilkan sel-sel yang membentuk jaringan tersebut.
Contohnya stem cell hematopoetik pada sumsum tulang
belakang dapat menghasilkan berbagai jenis sel darah seperti
eritrosit dan leukosit. Stem cell embrio memiliki potensi
tertinggi (totipotensi atau multipotensi) untuk berkembang
menjadi hampir semua jenis sel pada tubuh, sedangkan stem
cell dewasa memiliki potensi berkembang yang lebih rendah
(pluripotensi) karena umumnya terbatas pada jenis-jenis sel
tertentu.
Sampai saat ini, penelitian stem cell pada umumnya masih
berkutat pada pertanyaan-pertanyaan dasar: bagaimana
mengarahkan stem cell agar dapat berdiferensiasi menjadi jenis
sel yang diperlukan untuk mengobati kondisi tertentu (misalnya
neuron untuk mengobati penyakit Parkinson), bagaimana
memastikan sel-sel tersebut tetap hidup setelah transplantasi,
bagaimana supaya sel-sel tersebut tidak ditolak oleh sistem
imun inang, serta bagaimana mencegah terjadinya pembelahan
sel yang tak terkendali yang dapat berakibat kanker.
Stem cells untuk pengobatan
Transplantasi stem cells pada berbagai jaringan dan organ,
terutama penggunaan stem cells hematopoetik dari darah tali
pusat (cord blood) untuk pengobatan penyakit darah, sangat
menjanjikan. Dalam beberapa tahun terakhir terjadi
peningkatan penggunaan darah tali pusat untuk pengobatan
pasien dari berbagai golongan usia. Jepang telah menggunakan
darah tali pusat pada lebih dari 50% transplantasi pada pasien
anak-anak maupun dewasa. Di Amerika Serikat, darah tali
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
29
pusat juga telah digunakan lebih dari 50% dari total
transplantasi pada anak-anak, sedangkan pada pasien dewasa
mendekati 20%
7
.
Keberhasilan transplantasi stem cells pada jaringan darah
sayangnya belum berhasil diikuti keberhasilan pada sistem
saraf. Pada saat ini, pengobatan penyakit saraf seperti penyakit
Parkinson, Alzheimer, atau degenerasi sel retina dengan
transplantasi stem cells masih terlalu dini untuk dilakukan.
Walaupun demikian, percobaan transplantasi stem cell saraf
pada berbagai hewan percobaan telah menunjukkan berbagai
kemajuan yang makin mendekatkan penggunaan stem cells
untuk pengobatan penyakit saraf ke arah klinik (diulas di
Ref.
8
).
TRANSPLANTASI PADA RETINA
Transplantasi menggunakan enten (graft) retina pada otak
inang neonatal menunjukkan bahwa enten retina dapat sintas
(survive), berkembang, dan bahkan membuat hubungan saraf
dengan otak inang
9
. Hasil eksperimen tersebut menimbulkan
asumsi bahwa penggunaan enten retina yang ditransplantasikan
pada retina lain bisa lebih mudah menghasilkan hubungan saraf
dibandingkan enten retina pada otak. Sayangnya, ternyata tidak
semudah itu. Selama lebih dari satu dekade terakhir para
peneliti retina masih berkutat pada permasalahan pengentenan,
sintasan, dan diferensiasi sel-sel yang ditransplantasikan.
Teknik bedah mata modern telah memungkinkan
transplantasi sel pada daerah subretina. Transplantasi
menggunakan kumpulan sel-sel yang berbentuk lembaran
diperkirakan lebih menjanjikan daripada transplantasi
menggunakan sel-sel tunggal. Salah satu hasil eksperimen yang
menggunakan metode tersebut dilaporkan oleh group Maureen
A. McCall
10
. Retina dari fetus tikus normal ditransplantasikan
pada retina tikus yang memiliki mutasi pada gen rhodopsin.
Rhodopsin adalah pigmen di retina yang berperan dalam
pembentukan sel fotoreseptor pada fetus dan dalam persepsi
cahaya pada mata dewasa. Karena tidak adanya rhodopsin,
tikus mutan mengalami degenerasi retina seperti pada RP.
Beberapa minggu setelah transplantasi, uji histologi
menunjukkan bahwa retina donor dapat mengenten dengan
baik. Yang lebih menarik lagi, retina tikus inang menunjukkan
respon saat diberi rangsangan cahaya pada daerah transplantasi,
sementara daerah yang tidak mendapat transplan tidak
memberikan respon karena fotoreseptornya telah mengalami
degenerasi. Walaupun hasil penelitian ini sangat menjanjikan,
kelemahannya adalah diperlukannya banyak embrio sebagai
donor retina untuk dapat meliput seluruh retina mata dewasa.
Hal ini jelas tidak mungkin dilakukan pada manusia dan dalam
hal ini stem cells menjadi donor yang lebih menjanjikan.
Sebagaimana penggunaan stem cells pada penyakit saraf
lainnya, stem cell untuk mengobati kebutaan akibat RP atau
DMP hingga saat ini masih dalam tahap penelitian. Beberapa
grup peneliti telah menunjukkan kemajuan yang membesarkan
hati. Salah satu contohnya adalah transplantasi stem cell dari
hipokampus yang disuntikkan ke vitreous mata. Hasil
pengamatan setelah 4 minggu menunjukkan bahwa sel-sel
tersebut dapat bermigrasi dari vitreous menuju berbagai lapisan
retina
11
. Walaupun menjanjikan, keberhasilan sel donor
berintegrasi pada lapisan retina menjadi mentah bila tidak
diikuti oleh kemampuan stem cell donor untuk berdiferensiasi
menjadi jenis sel retina yang tepat. Hasil uji ternyata
menunjukkan bahwa walaupun stem cells hipokampus berhasil
berintegrasi dan menunjukkan morfologi yang menyerupai sel
neuron, tidak ditemukan penanda-penanda khas retina pada sel-
sel tersebut, yang mengisyaratkan bahwa neuron dari stem cell
hipokampus tersebut belum mampu menggantikan fungsi
neuron retina.
Kemampuan stem cell hipokampus mengenten pada retina
dan bahkan berdiferensiasi menjadi neuron menimbulkan
pemikiran bahwa penggunaan stem cell yang benar-benar
berasal dari retina mungkin memberikan hasil yang lebih baik.
Bersama dengan laboratorium Dr. van der Kooy, grup kami
telah berhasil mengembangkan metode isolasi stem cells retina
manusia dari donor berbagai usia (prenatal hingga 70-an
tahun)
12
. Stem cell retina dewasa tersebut ditemukan pada
daerah pars plicata dan pars plana pada retinal ciliary margin,
dengan rasio 1:500
12
.
Dalam penelitian kami, selain stem cell retina manusia
juga digunakan stem cell retina dewasa yang diisolasi dari
mencit. Sel-sel tersebut dapat dikultur hingga lebih dari satu
tahun (setara dengan sekitar 10
46
sel) menunjukkan bahwa
kondisi kultur yang digunakan dapat menunjang self-renewal
sel-sel tersebut
13
. Lebih meyakinkan lagi, hasil uji kimia
imunitas dan RT-PCR menunjukkan bahwa sel-sel tersebut
mengekspresikan protein nestin, yaitu protein pada rangka sel
epitelial saraf immature yang merupakan penanda sel saraf
progenitor
14
, dan protein Bmi1 yang merupakan penanda stem
cell. Selain Bmi1, penanda stem cell lainnya yang sering
digunakan adalah Notch, Numb, Musashi-1 dan Presenilin.
Selain itu ada pula penanda inti seperti FGF4, Fz9, Sox2, dan
Nucleostemin yang banyak digunakan sebagai penanda stem
cell saraf
15,16
.
Selain dari jaringan otak maupun retina, sel-sel retina
dapat pula dihasilkan dari stem cells embrio. Baru-baru ini,
grup Thomas Reh dari University of Washington di Seattle,
Amerika Serikat, telah mempublikasikan hasil penemuan
mereka mengenai kondisi kultur yang dapat digunakan untuk
menginduksi stem cell embrio manusia menjadi sel-sel retina
(sel-sel ganglion dan amakrin)
17
.
Walaupun keberhasilan mengisolasi dan membiakkan stem
cell retina secara in vitro sangat menjanjikan, sayangnya belum
cukup untuk menjamin penggunaannya untuk mengatasi
kebutaan. Masalah yang dihadapi peneliti stem cell di seluruh
dunia antara lain adalah bagaimana mengatur sintasan dan
diferensiasi sel-sel yang telah mengenten. Sel yang
ditransplantasikan harus dari tahap yang tepat agar dapat
menyintas dengan baik, dan agar kemudian dapat
berdiferensiasi menjadi sel yang tepat untuk mengobati
penyakit yang menjadi target. Salah satu cara misalnya dengan
melakukan priming dengan kondisi in vitro tertentu selama 7
hari sebelum transplantasi, yang terbukti menunjang sintasan
stem cells saraf fetus tikus setelah transplantasi
18
.
Untuk mengetahui cara menginduksi diferensiasi yang
tepat dilakukan eksperimen menggunakan berbagai kombinasi
faktor pertumbuhan sel secara in vitro. Salah satu studi yang
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
30
sedang saya lakukan adalah upaya mengarahkan stem cell agar
berdiferensiasi menjadi sel-sel retina yang spesifik, misalnya
agar menjadi sel-sel fotoreseptor, bipolar, amakrin, dan
sebagainya. Penting untuk diketahui bahwa sel-sel retina
terbentuk dengan urutan yang spesifik. Pada perkembangan
mata pra- dan post-natal, sel retina yang pertama terbentuk
adalah sel ganglion retina, diikuti oleh fotoreseptor runjung
(cone) dan sel-sel amakrin. Kemudian muncul sel horisontal
yang diikuti fotoreseptor batang (rod). Sel bipolar dan sel glia
M
üller merupakan sel-sel yang terbentuk paling akhir pada
neurogenesis
19
. Jelas bahwa organisasi sel-sel pada retina
terbentuk melalui suatu proses perkembangan yang rumit yang
mengikutsertakan berbagai faktor instrinsik dan ekstrinsik.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor ekstrinsik sangat
mempengaruhi pembentukan sel-sel retina. Perkembangan
fotoreseptor batang didorong oleh berbagai faktor, antara lain
fibroblast growth factor-2 (FGF-2), sonic hedgehog (SHH) dan
laminin b2. Ciliary neurotrophic factor (CNTF) dan leukemia
inhibitory factor (LIF) diketahui berperan menghalangi
diferensiasi fotoreseptor batang dengan mendorong sel-sel yang
sedang berdiferensiasi menjadi fotoreseptor batang untuk
membentuk sel-sel bipolar. Secara in vitro, retinoic acid
diketahui mendorong diferensiasi fotoreseptor. Activin A juga
diketahui meregulasi diferensiasi pada perkembangan retina.
Selanjutnya diketahui pula bahwa protein Prox-1
mempengaruhi keluarnya sel progenitor retina dari siklus sel,
dan ditemukan pada sel-sel horizontal, bipolar dan amakrin
sepanjang perkembangan retina. Selain itu, ada pula Math3 dan
NeuroD yang meregulasi spesifikasi sel amakrin. Walaupun
kemajuan teknologi transgenik telah membawa pengertian
lebih lanjut terhadap pekembangan retina, masih perlu banyak
penelitian yang dilakukan sebelum peneliti dapat dengan
mudah memanipulasi dan mengontrol diferensiasi stem cell
retina.
Eksperimen in vitro yang grup kami lakukan berusaha
meniru keadaan pembentukan mata pada fetus. Pada saat
cawan optik terbentuk, sel-sel yang membentuk lensa mata
mensekresikan FGF ke sel-sel di sekitarnya, termasuk sel-sel
yang kemudian akan menjadi retina. Grup kami berusaha
meniru kondisi ini dengan memaparkan kultur stem cells
terhadap FGF-2 selama 2 hari (tahap priming), diikuti dengan
pemberian B27 (suplemen yang mengandung retinoic acid).
Metode tersebut terbukti efektif untuk menginduksi stem cell
retina menjadi sel neuron retina (57%), termasuk sel-sel dengan
penanda sel fotoreseptor (antara 25-35% dari jumlah sel
total)
20
. Saat ini, kami sedang mencoba berbagai kombinasi
faktor ekstrinsik untuk menginduksi diferensiasi in vitro
menjadi sel-sel retina yang lain dengan jumlah yang lebih
banyak.
Secara in vivo, grup kami telah melakukan transplantasi
stem cells retina pada vitreous mata mencit. Setelah 4 minggu,
sebagian besar sel-sel tersebut telah bermigrasi secara acak ke
lapisan sel ganglion dan beberapa sel mencapai lapisan inner
plexiform. Sel-sel tersebut berdiferensiasi menjadi jenis sel
retina sesuai dengan lapisan retina di mana sel-sel tersebut
berintegrasi. Sayangnya, dalam eksperimen ini, grup kami tidak
berhasil menemukan sel yang berdiferensiasi menjadi
fotoreseptor
21
. Saat ini kami mencoba berbagai pendekatan lain
dalam teknik transplantasi, selain juga berupaya meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan kami dalam memproduksi stem
cell retina yang berada dalam tahap yang tepat untuk
transplantasi.
Hal-hal yang dapat dilakukan saat ini dan di masa depan
untuk menunjang riset stem cell retina
Untuk dapat mencapai keberhasilan penggunaan stem cells
retina untuk mengobati kebutaan, para peneliti perlu
mengembangkan eksperimennya secara sederhana namun tepat
pada sasaran. Banyak masalah yang perlu diselesaikan sebelum
transplantasi dapat diterapkan pada manusia, dan setiap usaha
ke arah itu harus multidisiplin, mulai dari riset sains yang
paling mendasar hingga yang paling klinis. Selain itu,
penerapan berbagai metode baru seperti tissue engineering
dapat meningkatkan keberhasilan transplantasi.
Kemampuan untuk menginduksi diferensiasi stem cells
menjadi sel-sel retina secara in vitro walaupun belum dapat
digunakan untuk transplantasi pada manusia tidak menjadi
percuma. Sel-sel retina yang spesifik seperti fotoreseptor sangat
berguna misalnya untuk skrining kandidat obat yang dapat
memproteksi fotoreseptor terhadap degenerasi. Selain itu, sel-
sel tersebut juga dapat digunakan untuk uji coba transplantasi
pada hewan percobaan.
Mengingat proses transplantasi pada hewan kecil
(misalnya mencit dan tikus) memiliki banyak halangan teknis,
transplantasi telah mulai dicoba pada hewan percobaan yang
lebih besar, misalnya pada babi
22
. Transplantasi menggunakan
hewan besar sangat berguna untuk menentukan keberhasilan
graft secara lebih akurat, serta dapat digunakan untuk
mengembangkan metode operasi transplantasi yang selanjutnya
dapat digunakan di klinik.
KEPUSTAKAAN
1. Chow AY et al. The artificial silicon retina microchip for the treatment
of vision loss from retinitis pigmentosa. Arch. Ophthalmol. 2004;122,
460-469.
2. Yanez-Munoz,RJ et al. Effective gene therapy with nonintegrating
lentiviral vectors. Nat. Med. 2006; 12: 348-353.
3. Kostic,C. et al. Activity analysis of housekeeping promoters using self-
inactivating lentiviral vector delivery into the mouse retina. Gene Ther.
2003; 10: 818-821
4. Otani,A. et al. Rescue of retinal degeneration by intravitreally injected
adult bone marrow-derived lineage-negative hematopoietic stem cells. J.
Clin. Invest 2004; 114: 765-774
5. Schmidt-Erfurth,U. Nutrition and retina. Dev. Ophthalmol. 2005; 38,
120-147
6. Berson,E.L. Nutrition and retinal degenerations. Int. Ophthalmol. Clin.
2000; 40: 93-111
7. Rubinstein,P. Why cord blood? Hum. Immunol. 2006; 67: 398-404
8. Lindvall,O., Kokaia,Z. Stem cells for the treatment of neurological
disorders. Nature 2006; 441: 1094-1096
9. Klassen,H. & Lund,R.D. Retinal transplants can drive a pupillary reflex
in host rat brains. Proc. Natl. Acad. Sci. USA 1987; 84: 6958-6960.
10. Sagdullaev BT, Aramant RB, Seiler MJ, Woch G,. McCall MA. Retinal
transplantation-induced recovery of retinotectal visual function in a
rodent model of retinitis pigmentosa. Invest Ophthalmol. Vis. Sci. 2003 ;
44:1686-1695.
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
31
11. Young MJ, Ray J, Whiteley SJ, Klassen H, Gage FH. Neuronal
differentiation and morphological integration of hippocampal progenitor
cells transplanted to the retina of immature and mature dystrophic rats.
Mol. Cell Neurosci. 2000; 16:197-205.
12. Coles BL et al. Facile isolation and the characterization of human retinal
stem cells. Proc. Natl. Acad. Sci. U S A 2004; 101:15772-15777.
13. Angenieux B, Schorderet DF, Arsenijevic Y. Epidermal growth factor is a
neuronal differentiation factor for retinal stem cells in vitro. Stem Cells
2006; 24: 696-706.
14. Lendahl U, Zimmerman LB, McKay RD. CNS stem cells express a new
class of intermediate filament protein. Cell 1990; 60: 585-595.
15. Cai J. et al. Properties of a fetal multipotent neural stem cell (NEP cell).
Dev. Biol. 2002;251: 221-240
16.
Tsai RY, McKay RD. A nucleolar mechanism controlling cell
proliferation in stem cells and cancer cells. Genes Dev. 2002;16: 2991-
3003
32
17. Lamba DA, Karl MO, Ware CB, Reh TA. Efficient generation of retinal
progenitor cells from human embryonic stem cells. Proc. Natl. Acad. Sci.
U S A 2006.
18. Gao J. et al. Transplantation of primed human fetal neural stem cells
improves cognitive function in rats after traumatic brain injury. Exp.
Neurol. 2006.
19. Young RW. Cell differentiation in the retina of the mouse. Anat. Rec.
1985; 212: 199-205
20. Merhi-Soussi F et al. High Yield of Cells Committed to the Photoreceptor
Fate from Expanded Mouse Retinal Stem Cells. Stem Cells 2006.
21. Canola K. et al. Retinal stem cells transplanted into models of late stages
of retinitis pigmentosa preferentially adopt a glial or a retinal ganglion
cell fate. 2006. Ref Type: Unpublished Work
22. Warfvinge K. et al. Retinal progenitor cell xenografts to the pig retina:
morphologic integration and cytochemical differentiation. Arch.
Ophthalmol. 2005; 123: 1385-1393.
Cermin Dunia Kedokteran merasa sangat kehilangan atas meninggalnya :
Bapak Sriwidodo WS
Salah seorang yang pengabdiannya untuk Majalah Cermin Dunia Kedokteran
sejak awal sangat berarti dalam membesarkan majalah ini
di RS Husada, Jakarta pada tanggal 15 Agustus 2006
Cermin Dunia Kedokteran No. 153, 2006
Document Outline