background image
ANALISIS
Toksoplasmosis Ibu Hamil
Di Indonesia
(Studi Tindak Lanjut Survai Kesehatan
Rumah Tangga 1995)
Salma Ma'roef, Soeharsono Soemantri
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Untuk meningkatkan derajat kesehatan di tahun 2010 perlu diketahui indikator
yang berpengaruh; salah satu di antaranya ialah pencegahan abortus dan meningkatkan
sumber daya manusia (SDM) melalui pencegahan kecacatan akibat toksoplasmosis
pada ibu hamil.
Dari analisis tindak lanjut ibu hamil SKRT 1995 terhadap toksoplasmosis didapat-
kan 697 tabung serum dari 805 tabung serum ibu hamil yang dapat dimerge dengan
dBase.
Dari enam pulau di Indonesia didapatkan 59,8% serum ibu hamil positif kumulatif
IgG toksoplasmosis, tertinggi di pulau Sulawesi (76,5%) dan terendah di Nusa
Tenggara (43,4%), sedangkan lainnya sekitar 57,5%-65,0% (Jawa-Bali, Sumatera,
Irian Jaya dan Kalimantan). Irian Jaya menunjukkan IgM toksoplasmosis tertinggi
(20,0%), Nusa Tenggara rendah yaitu 1,9%, dan di Sulawesi tidak ditemukan IgM,
sedangkan daerah Kalimantan dan Sulawesi hampir sama (2,7%-3,2%).
Propinsi dengan IgG toksoplasmosis paling tinggi adalah Lampung (88,66%)
sedangkan IgM paling tinggi di Irian Jaya dan Riau (20,0%) dari 19 propinsi di
Indonesia.
Kebanyakan ibu hamil mempunyai kumulatif IgG unit 0,200-0,299 (22,0%),
kumulatif unit > 0,900 (17,1%) , dan kumulatif unit 0,100-0,199 (16, 5%).
Kelompok umur yang terutama adalah 20-34 tahun (72,3%) dan kurang 19 tahun
(16,4%).
Berdasarkan trimester kehamilan, terutama pada trimester ke dua (41,5%) dan
trimester ke tiga (35,2%).
Perlu dilakukan penyuluhan pada remaja usia subur oleh petugas kesehatan/bidan
dan kalau perlu dilakukan penelitian dengan metode lain yaitu case control.
PENDAHULUAN
Data yang digunakan dalam laporan ini secara intern di-
ambil dari laporan studi follow up ibu hamil
(1)
SKRT 1995
dengan alasan apabila studi tindak lanjut SKRT terhadap
toksoplasmosis ibu hamil direncanakan dari semula maka
laporn ini harus tercakup dalam Studi Tindak Lanjut Ibu Hamil
SKRT tersebut. Masalah Toksoplasmosis Ibu Hamil ini perlu
diperhitungkan karena salah satu risikonya adalah toksoplas-
mosis kongenital
(2)
:
1. Risiko pada kehamilan trimester I: ringan 40% dan berat
60%.
2. Risiko pada kehamilan trimester II: ringan 70% dan berat
30%.
3. Risiko pada kehamilan trimester III: ringan 100% dan berat
0%.
Risiko infeksi toksoplasmosis kongenital pada kehamilan
trimester I telah terbukti tinggi; penelitian Hartono pada tahun
1993/1994
(3)
yang mengambil sampel plasenta keguguran
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
42
background image
spontan dalam kehamilan trimester I dari RSUPN Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta dan RS Dr. Hasan Sadikin Bandung
memberikan hasil isolasi positip 80,2% mengandung parasit
Toxoplasma gondii, sedangkan hasil test ELISA dari pasien
yang sama memberikan hasil 51,48% positif dengan titer antara
1 : 100 sampai dengan lebih dari 1 : 3200; selisih dari hasil dua
macam cara diagnosis yang cukup bermakna tersebut
disebabkan oleh gangguan hormonal pada kehamilan muda
(4)
.
Toksoplasmosis pada ibu hamil dapat menyebabkan
abortus dan lahir mati, bayi dengan kelainan kongenital seperti
hidrosefalus, ensefalitis, khorioretinitis, miokarditis, miositis,
limfadenopati dan gangguan saraf
(5)
.
Karena itu toksoplasmosis pada manusia perlu mendapat
prioritas utama di samping penyakit zoonosis lainnya,
lebih-lebih dengan meningkatnya import daging dan mengingat
kegemaran masyarakat Indonesia akan sate kambing setengah
matang serta sayuran mentah.
TUJUAN PENELITIAN
Mengetahui gambaran distribusi Toksoplasmosis pada Ibu
Hamil (Bumil) di Indonesia dan masing-masing daerah (pulau).
Tujuan Khusus
1. Untuk melihat distribusi serum, IgG dan IgM ibu hamil
berdasarkan daerah.
2. Untuk melihat distribusi serum, IgG dan IgiM ibu hamil
berdasarkan propinsi
3. Untuk melihat distribusi persentase IgG/unit berdasarkan
kelompok umur ibu hamil.
4. Untuk mengetahui distribusi persentase IgG/unit berdasar-
kan trimester kehamilan ibu hamil.
Data didapatkan dari serum pertama kunjungan responden
yang berjumlah 1396 ibu hamil. Jumlah serum yang diambil
dari responden sebanyak 5 -- 7 ml. digunakan untuk:
1. Pemeriksaan Hepatitis B (oleh Biofarma Bandung).
2. Pemeriksaan HIV/AIDS dengan metoda ELISA.
3. Pemeriksaan Syphilis (oleh laboratorium NAMRU II,
Jakarta).
Bila positif, pemeriksaan diulang dengan test Western Blot
untuk konfirmasi.
Pemeriksaan syphilis dilakukan dengan 2 metode yaitu :
(1) Hemaglutinasi dan (2) Reversed Passive Haemaglutination
(RPHA).
Serum disimpan di laboratorium Puslit Penyakit Menular
dan laboratorium NAMRU II Jakarta sejak pertengahan tahun
1984 dalam freezer Revco (-70° C), dan berkali-kali dicairkan
sehingga berisiko penurunan titer zat anti yang dikandung,
ditambah dengan transportasi yang mungkin tidak disertai
dengan dry-ice, hal ini akan mempengaruhi pemeriksaan titer
IgM.
Keadaan ini juga terjadi saat serum dipindahkan dari
laboratorium Parasitologi FKUI juga mengalami pencairan
pada waktu seleksi sehingga akhirnya jumlah serum yang dapat
diperiksa untuk toksoplasmosis dengan test ELISA terhadap
IgG dan IgM tinggal 767 tabung dan sisanya dari 805 tabung
yang dikirim ternyata 70 tabung kosong.
Prosedur pemeriksaan adalah sebagai berikut :
Deteksi IgG dan IgM Toksoplasma dilakukan dengan test
ELISA menggunakan kit toxonostika IgG dan toxonostika IgM
buatan Organon. Dari tiap sampel dipisah 10
µl yang dilarutkan
dalam 1 ml phosphate buffer saline (PBS). Untuk deteksi IgG
dimasukkan 100
µl larutan serum ke dalam sumur lempeng
Micro ELISA, kemudian diinkubasi selama 1 jam pada suhu
37°C. Konjugat diikat pada kompleks Ag - Ab akan meng-
alami kerusakan sehingga terjadi perubahan warna. Reaksi
dihentikan dengan larutan H
2
SO
4
. Intensitas perubahan warna
diukur dengan ELISA Reader menggunakan filter 450
m.
Sebagai kontrol digunakan serum negatif, serum positif lemah
dan serum positif kuat sebagai kalibrator. Titer zat 1:100 adalah
positif. Pada toxonostika IgM prinsipnya adalah Antibody
Capture Sandwich. Dasar sumur dilapisi dengan anti-human
IgM. Bila ditambah serum penderita, semua antibodi IgM akan
diikat. Bila ditambahkan antigen toksoplasma dan konjugat
akan terbentuk kompleks anti IgG-IgM yang mengikat antigen
dan konjugat. Penambahan substrat menyebabkan perubahan
warna yang intensitasnya diukur dengan ELISA Reader setelah
reaksinya dihentikan dengan larutan H
2
SO
4
.
HASIL
Untuk melengkapi laporan deteksi zat dari serum ibu hamil
SKRT 1995 ini kiranya perlu dilaporkan juga data Ibu Hamil
yang diambil secara intern dari laporan Studi Follow Up Ibu
Hamil SKRT sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Serum*
Jumlah
Penyakit Cara
Pemeriksaan
Diperiksa Positif %
Malaria
Sediaan tebal
901
0
1,0
Syphilis
Hemaglutinasi RPHA
1000
13
1,3
HIV
ELISA Western Blot
1014
0
0
Hepatitis
HBs Ag
ELISA
1024
118
11,5
HB e Ag
ELISA
118
24
20,3
(Kutipan Studi Follow Up Ibu Hamil. Seminar Hasil SKRT 1995)
5
Dari jumlah serum yang diperiksa setelah dimerge dengan
dBase maka ditemukan IgG antibodi T. gondii positif pada
419(59,8%) dari 697 ibu hamil dan IgM positif pada 34 ibu
hamil (4,9%) (tabel 2):
Tabel 2. Penyebaran Toxoplasma gondii pada serum ibu hamil menurut
pulau di Indonesia
Jumlah
No
Pulau Serum
%
IgG
%
IgM
%
1 Sumatera
218 31,3 137 62,6 17 7,8
2
Jawa - Bali
261
37,4
150
57,5
7
2,7
3 Nusatenggara 53
7,6
23 43,4 1 1,9
4
Kalimantan 123 17,6 80 65,0 4 3,2
5 Sulawesi
17
2,4
13 76,5 -
-
6 Irian
Jaya
25
3,6
16 64,0 5 20,0
Total 697
100,0
417
59,8
34
4,9
Persentase data serum dari Jawa-Bali yang paling banyak
(37,4%) kemudian dari Sumatera (31,3%) dan Kalimantan
(17,6%), Nusa Tenggara (7,6 %) Irian Jaya (3,6 %) dan
Sulawesi hanya 2,4 %. Dari data di atas tampak bahwa IgG anti
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 43
background image
toksoplasma pada ibu hamil tersebar merata di semua pulau;
persentase antibodi IgM tertinggi ibu hamil adalah di Irian Jaya
(20,0%).
Tabel 3. Presentase IgG T gondii positif pada serum ibu hamil menurut
Propinsi di Indonesia (Analisis Lanjut SKRT 1995)
Jumlah
No Propinsi
Diperiksa IgG % IgM %
1 Aceh
44
26 59,09 1 2,27
2 Sumatera
Utara
29
20 68,96 1 3,45
3 Sumatera
Barat
50
27 54,00 6 12,00
4 Riau
20
11 55,00 4 20,00
5 Jambi
41
21 51,21 3 7,32
6 Lampung
34
30 88,23 3 8,82
7 DKI
Jaya
26
20 76,92 -
-
8 Jawa
Barat
67
46 68,66 -
-
9 Jawa
Tengah
58
34 58,62 4 6,90
10 Jawa
Timur
54
20 48,78
-
-
11 Bali
56
30 53,57 3
3,56
12
Nusa Tenggara Barat
38
11
28,95
-
-
13
Nusa Tenggara Timur
15
12
80,00
1
6,25
14 Kalimantan
Barat
34
20 55,88
-
-
15 Kalimantan
Tengah
19
13 68,42 1
5,26
16 Kalimantan
Selatan
38
21 55,26 2
5,26
17 Kalimantan
Timur
32
26 81,25 1
3,12
18 Sulawesi
Tengah
17
13 76,47
-
-
19 Irian
Jaya
25
16 68,00 5 20,00
Total 697
419
59,83
34
4,88
Dari data di atas (tabel 3) terlihat distribusi IgG tertinggi di
Lampung (88,2%), di 6 propinsi tidak ditemukan IgM anti -
toxoplasma: DKI Jaya, Jawa Barat, Jawa Timur, Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Sulawesi Tengah,
sedangkan distribusi IgM tertinggi di Riau dan Irian Jaya
(20.0%).
Untuk melihat persentase kumulatif IgG anti - Toxoplasma
gondii pada umur ibu hamil dan trimester kehamilan ibu dapat
dilihat di tabel 4 :
Gambaran kumulatif IgG serum ibu hamil terlihat pada grafik
di bawah ini:
Grafik 1. Gambaran kumulatif IgG unit berdasarkan umur ibu hamil
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90
100
<0.099
0.100-
0.199
0.200-
0.299
0.300-
0.399
0.400-
0.499
0.500-
0.599
0.600-
0.699
0.700-
0.799
0.800-
0.899
>0.999
I
II
III
Grafik 2. Persentase IgG berdasarkan trimester kehamilan (analisa lanjut
SKRT 1995) di Indonesia
0
5
10
15
20
25
30
35
40
45
50
<0.099
0.100-
.199
0.200-
0.299
0.300-
0.399
0.400-
0.499
0.500-
0.599
0.600-
0.699
0.700-
0.799
0.800-
0.899
>0.900
I
II
III
Tabel 4. Presentase IgG berdasarkan umur ibu hamil dan umur kehamilan
Persentase
Umur Ibu Hamil (Tahun)
Umur Kehamilan (Semester)
IgG / Unit
Total
< 19
20-34
> 35
I
II
III
(0,099)
2 (0,3)
2 (100,0)
1 (50,0)
1 (50,0)
-
0,100-0,199
115 (16,5)
20 (17,4)
83 (72,2)
12 (10,4)
26 (22,6)
51 (44,3)
38 (33,0)
0,200-0,299
153 (22,0)
37 (24,2)
103 (67,3)
13 (8,5)
35 (22,9)
65 (42,5)
53 (21,6)
0,300-0,399
89 (12,8)
16 (18,0)
59 (66,3)
14 (15,7)
21 (23,6)
35 (39,3)
33 (37,1)
0,400-0,499
69 (9,9)
6 (8,7)
55 (79,7)
8 (11,6)
14 (20,3)
31 (44,9)
24 (34,8)
0,500-0,599
40 (5,7)
6 (15,0)
30 (75,0)
4 (10,0)
10 (10,0)
15 (37,5)
15 (37,5)
0,600-0,699
40 (5,7)
5 (12,5)
31 (77,5)
4 (10,0)
17 (42,5)
17 (42,5)
6 (15,0)
0,700-0,799
35 (5,0)
5 (14,3)
26 (74,3)
4 (11,4)
14 (40,0)
14 (40,0)
16 (45,7)
0,800-0,899
35 (5,0)
4 (11,4)
25 (71,4)
6 (17,1)
16 (45,7)
16 (45,7)
13 (37,1)
> 0,900
119 (17,1)
15 (12,6)
90 (75,6)
14 (11,8)
44 (37,0)
44 (37,0)
47 (39,5)
Total
697 (100,0)
114 (16,4)
504 (72,3)
79 (11,3)
163 (23,4)
289 (41,5)
245 (36,2)
Dalam tabel 4 terlihat bahwa umur ibu hamil kebanyakan
sekitar umur 20-34 tahun (504 - 72,3%), dan persentase
kumulatif paling tinggi pada trimester kedua (41,5%).
Persentase kumulatif tertinggi pada IgG unit 0,200-0,299
(22,0%).
Pada kelompok umur 20-34 tahun persentase kumulatif
IgG unit 0,400-0,499 ada pada 55 ibu (79,7%). Pada kelompok
umur kurang 19 tahun pada persentase kumulatif IgG
0,200-0,299 ada pada 37 Bumil (24,2%), sedangkan pada
kelompok umur lebih dari 35 tahun persentase kumulatif IgG
0,300-0,399 ada pada 14 Bumil (15,%) dan kumulatif IgG unit
> 0,900 pada 14 Bumil (17,7%).
Usia kurang 19 tahun paling banyak pada kumulatif IgG
0,200-0,299 yaitu 37 Bumil (32,4%) dan kumulatif IgG unit
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
44
background image
0,100-0,199 sebanyak 20 Bumil (17,5%), usia 20-34 tahun pada
kumulatif 0,200-0,299 sebanvak 103 Bumil (20,4%) dan
kumulatif IgG unit > 0,900 sebanyak 90 Bumil (17,9%), dan
pada kelompok usia di atas 34 tahun yang terbanyak adalah
kumulatif IgG 0,300-0,399 - 14 Bumil (17,7%); > 0,900 - 14
Bumil (17,7%); dan 0,200-299 - 13 Bumil (16,4%).
Persentase dan proporsi berdasarkan trimester kehamilan
terlihat sama yaitu:
Proporsi yang paling banyak pada trimester pertama adalah
kumulatif IgG 0,200-0,299 sebanyak 35 Bumil dan kumulatif
IgG unit > 0,900 adalah 28 Bumil; trimester kedua juga pada
kumulatif IgG 0,200-0,299 sebanyak 65 Bumil dan kumulatif
unit 0,100-0,199 sebanyak 51 Bumil, dan pada trimester ke tiga
sama yaitu pada kumulatif IgG unit 0,200-0,299 dan kumulalif
IgG unit > 0,900, sedangkan yang lainnya tidak banyak beda.
DI SKUSI
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tidak semua
Bumil diambil darahnya. Dari serum yang diperiksa ada 70
tabung yang kosong karena telah dipakai untuk pemeriksaan
terhadap penyakit lain. Prosentase positif serum ini rendah
yaitu 59,8% bila dibandingkan dengan negara maju (15%-85%)
padahal di negara berkembang hygienenya masih rendah.
Keadaan ini mungkin disebabkan oleh proses penyimpanan
serum yang cukup lama dan pencairan serum yang berulang-
ulang sehingga akan menurunkan titer antibodi dan
menimbulkan konversi titer dari sero positif ke sero negatif.
Pemeriksaan darah banyak dilakukan setelah trimester kedua
dengan persentase kumulatif serum yang hampir sama sehingga
akibat yang terjadi tidak terlihat adanya angka hydrocepalus
dan keguguran. Keadaan ini mungkin data serum yang di
periksa tidak lengkap sehingga tidak terlihat dalam dBase.
Kalau proses penyimpanan dan pengambilan darah langsung
dilakukan pemeriksaan atau tidak dilakukan pencairan yang
berulang-ulang angka-angka ini mungkin akan lebih besar.
Data di atas menjelaskan bahwa hampir tiga per empat
persen ibu-ibu hamil terinfeksi toksoplasmosis dan yang paling
banyak pada periode organ reproduksi aktivitas tinggi yaitu
sekitar umur 20-35 tahun 72,3%). Pada umur di atas 35 tahun
aktivitas reproduksi berkurang yaitu proses hormonal menurun
sehingga angka IgG menurun (11,3). Dan infeksi yang terjadi
banyak setelah trimester kedua atau mungkin kejadian banyak
terjadi dalam keadaan khronis dimana pada IgM yang positif
tidak memperlihatkan reaksi pada anak yang dilahirkan.
Berkaitan dengan hasil penelitian di atas perlu dilakukan
beberapa upaya : a) penyuluhan terhadap masyarakat untuk
lebih hygiene terutama bagi ibu-ibu hamil muda (pada kehamil-
an 3 bulan pertama) b) menghindari sumber-sumber penularan
makan yang tidak dimasak dan vektor kucing. c) Dan kalau
memungkinkan perlu diadakannya evaluasi pada bayi yang
dilahirkan untuk melihat apakah ada kaitan antara IgG dan IgM
yang didapat dari ibu hamil d) Dilakukan penelitian faktor yang
sangat berpengaruh adanva antibodi T. gondii pada orang sebab
hampir semua sudah pernah terinfeksi toksoplasma.
KESIMPULAN
1. Persentase kumulatif IgG unit yang paling tinggi adalah
Sulawesi (75,6%) dan Kalimantan (65,0%) dan Irian Jaya
(64,0%), sedangkan yang paling rendah adalah Nusa Tenggara
Timur. Dan untuk IgM unit yang paling tinggi adalah Irian Jaya
(20,0%), Sumatera (7,8%), dan di Kalimatan (3,2%), sedangkan
pulau Sulawesi tidak didapatkan IgM pada serum Bumil.
2. Persentase propinsi yang paling tinggi mempunyai kumu-
latif unit IgG adalah Lampung (81,2%); Kalimantan Timur
(81,2%); Nusa Tenggara Tirnur (80,0%); dan yang paling
rendah adalah Nusa Tenggara Barat (28,9%), sedangkan daerah
lainnya tidak banyak beda. Persentase propinsi yang paling
tinggi mempunyai kumulatif IgM unit adalah Irian Jaya dan
Riau (20,0%), Sumatera Barat (12,0%); Lampung dan Jambi
(8,0%); Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Timur (6,2%-7,3%).
Dan propinsi yang tidak ditemukan kumulatif IgM unit adalah
daerah DKI Jaya, Jawa Barat dan Sulawesi Tengah.
3. Kebanyakan Ibu hamil mempunyai persentase kumulatif
IgG unit 0,200-0,299 sebanyak 153 Bumil (22,0%), kumulatif
IgG unit >0,900 sebanyak 119 Bumil (17,1%) dan kumulatif
IgG unit 0,100-0,199 sebanyak 115 Bumil (16,5%), sedangkan
yang lainnya hampir sama.
Berdasarkan kelompok umur terlihat bahwa kelompok
umur 20-34 tahun yang paling banyak dalam pemeriksaan
serum yaitu 504 (72,3%) kemudian kelompok umur < 19 tahun
yaitu 114 Bumil (16,4%) dan sisanya > 35 tahun yaitu 79
Bumil (11,3%). Proporsi kelompok umur < 19 tahun yang
paling tinggi adalah kumulatif IgG 0,200-0,299 sebanyak 37
Bumil (32,4%), begitu pula pada kelompok 20-34 tahun mem-
punyai kumulatif IgG 0,200-0,299, sedangkan kelompok umur
>35 tahun pada kumulatif IgG unit 0,300-0,399 dan > 0,900
yaitu 14 Bumil (17,7%).
4. Berdasarkan trimester kehamilan maka terlihat bahwa
serum Bumil yang diperiksa adalah pada trimester kedua adalah
289 Bumil (41,5%), kemudian trimester ketiga 245 Bumil
(35,2%), dan sedikit trimester pertama 163 Bumil (23,4%).
Persentase ataupun proporsi dari trimester kehamilan tidak ter-
lihat adanya perbedaan tentang kumulatif IgG unit yaitu
masing-masing menunjukkan yang paling tinggi dengan urutan
sebagai berikut : 0,200-0,299 (sekitar 21,5-22,5%); >0,900
(sekitar 15,2-19,2%) dan 0,100-0,199 (sekitar 15,5-17,6%).
SARAN
1. Penyuluhan pada wanita remaja atau usia subur oleh pe-
tugas Puskesmas terutama bagian kebidanan tentang tokso-
plasmosis serta pencegahannya.
2. Penyuluhan tentang hidup bersih terutama kaum wanita
sedini mungkin.
3. Dilakukannya
penelitian
secara
case-control pada ibu yang
melahirkan abortus atau bayi yang dilahirkan mengalami
hydrocephalus atau chorioretinitis di rumah sakit.
UCAPAN TERIMA KASIH
Tulisan ini ditujukan sebagai peringatan hari wafatnya Bapak Drh.
Thomas Hartono, Pusat Penelitian Penyakit Tidak Menular (Departemen
Kesehatan) serta ucapan terima kasih atas kesediaannya untuk membantu
pelaksanaan pengumpulan data dalam penelitian ini. Ucapan terima kasih juga
kami sampaikan kepada semua pihak Subbagian Protozoologi, bagian
Parasito-logi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di Jakarta yang turut
membantu pelaksanaan penelitian.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003 45
background image
KEPUSTAKAAN
1.
Ratna Budiarso L, dkk. Studi Follow Up Ibu Hamil. Seminar hasil SKRT
1995. Jakarta Februari 1997.
2. Puspenegoro, HD. Toxoplasmosis pada Bayi dan Anak serta penata-
laksanaannya. MDK, Vol. 11 No. 8 Agustus 1992.
3. Hartono, Th. Penemuan Toxoplasmagondii dari wanita keguguran di
RSCM Jakarta dan RSHS Bandung. Majalah Kesehatan Masyarakat
Indonesia tahun XXII, No. 12, 1995.
4. Cornain, S. Diagnosis Immunologic Molekuler Toxoplasmosis, Diskusi
Panel Diagnosis dan Terapi Toxopolasmosis, FKUI 13 November 1993.
5.
Benerson, A. Control of Communicable Disease in Man. American Public
Health and human Service, Atlanta 1985. Hal. 323-5.
6.
Soesbandoro, SDA at. all. Infeksi Toxoplasma pada Ibu-Ibu hamil di RSU
Mataram. Majalah obstetri dan ginekologi Indonesia Vol. 20 No. 4
Oktober 1996; Hal: 254-7.
7. Stephanis Kurniadi Budijanto. Antibodi IgA dan P30 sebagai pertanda
pada toxoplasma kongenital dan akut. Majalah Kedokteran Indonesia,
Vol. 45 No. 1 Januari 1995.
8.
Dubey JP, Beatic JF. Toxoplasmosis of animals and man. Boca Raton FL.
CRC Press, 1998; hal. 220.
9.
Soedarto. Pengaruh waktu penyimpanan sampel serum dan frekuensi cair-
an ulang serum beku penderita toxoplasmosis yang dapat dilakukan di
lapangan adalah metode Hemaglutinasi tidak langsung. Fakultas Kedok-
teran Universitas Airlangga. Surabaya 1990. Abstrak Penelitian Kesehat-
an. Seri 10.
Cermin Dunia Kedokteran No. 139, 2003
46