background image
HASIL PENELITIAN
Pola Kuman
Infeksi Saluran Pernafasan Bawah
dan Kepekaannya
terhadap Berbagai Antibiotika
Agus Sjahrurachman, Ikanungsih, Conny RT, Aryani K,
Tjahjani MS, Pratiwi S.
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Infesi saluran pernafasan bawah non tuberkulosis merupakan salah satu penyebab
kesakitan terbesar di negara berkembang. Banyak di antaranya disebabkan oleh infeksi
bakterial. Pada sisi lain diketahui bahwa pola kepekaan bakteri terhadap antibiotika
merupakan fenomena dinamis. Karena itu monitoring kepekaan bakteri terhadap
antibiotika perlu secara kontinu dilakukan. Pada penelitian ini dilaporkan pola bakteri
yang diisolasi dari penderita infeksi saluran pernafasan bawah dan pola kepekaannya
terhadap berbagai antibiotika yang dilakukan di Bagian Mikrobiologi selama tahun
2000. Hasilnya menunjukkan bahwa bakteri yang terbanyak diisolsi adalah bakteri
Gram negatif. Antibiogram terhadap golongan penisilin dan aminoglikosida
menunjukkan bahwa banyak bakteri telah resisten terhadap golongan ini. Terhadap
golongan sefalosporin dan kuinolon, kepekaan bakteri tertinggi teramati masing-
masing terhadap seftasidum dan levofloksasin.
PENDAHULUAN
Infeksi saluran pernaasan bawah non tuberkulosis
merupakan suatu golongan infeksi yang dapat menyerang
bronkus, bronkiolus dan paru. Manifestasi klinisnya dapat
bersifat akut, seperti pada pneumonia atau kronis dengan
eksaserbasi akut. Penyebabnya mempunyai spektrum yang
luas.
Pada anak, penyebabnya dapat berupa bakteri atau virus.
Sebagian dari kasus infeksi saluran pernafasan bawah oleh
virus juga disertai oleh infeksi konkomitan bakteri. Pada orang
dewasa, penyebab utamanya adalah bakteri (Ray dan Kenneth,
1994).
Karena spektrum penyebab infeksi saluran pernafasan
bawah sangat luas, idealnya pengobatan antibiotika menunggu
hasil isolasi penyebab dan uji resistensi penyebab terhadap
antibiotika (WHO 1991). Pendekatan ini jelas tidak praktis
karena menyebabkan penderita infeksi bakterial akan terlambat
mendapatkan pengobatan. Pada sisi lain telah menjadi
pengetahuan umum bahwa pemberian antibiotika akan
menyebabkan seleksi populasi bakteri dan sebagai akibatnya
kepekaan bakteri terhadap antibiotika tersebut cenderung
berkurang sejalan intensitas dan lama pemakaian di
masyarakat. Karena itu diper-lukan kajian berkala terhadap
spektrum penyebab dan pola kepekaan isolat bakteri tersebut
terhadap antibiotika sebagai landasan dalam melakukan
educated guess therapy. Selaras dengan pola pemikiran di atas,
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia melakukan pengkajian isolat bakteri dari infeksi
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
38
background image
saluran pernafasan bawah dan kepekaannya terhadap berbagai
antibiotika pada tahun 2000.
BAHAN DAN CARA KERJA
1. Bahan pemeriksaan
Bahan pemeriksaan berupa cairan bilasan bronkus dan
cairan pleura didapat dari berbagai rumah sakit di Jakarta
selama tahun 2000. Setibanya di Laboratorium Mikrobiologi
Fakulatas Kedokteran Universitas Indonesia, bahan segera
diproses.
2. Isolasi bakteri
Suatu sengkelit bahan pemeriksaan diinokulasi pada plat
agar darah dan agar endo. Setelah diinkubasi 18-24 jam, koloni
bakteri yang tumbuh diseleksi dan dilakukan pewarnaan Gram.
Setelah koloni bakteri dimurnikan, bakteri diidentifikasi ber-
dasarkan morfologi koloni dan kuman, sifat gram, daya
hemolisa, uji biokimia lain. Untuk bakteri streptokokus
dilakukan juga uji kepekaan terhadap optokin dan basitrasin
secara cakram dan untuk bakteri stafilokokus dilakukan pada
uji koagulasa.
3. Uji kepekaan kuman terhadap antibiotika
Pengujian kepekaan bakteri dilakukan menurut cara difusi
cakram mengacu pada pengerjaan dan interpretasi hasil dari
National Committee for Clinical Laboratory Standard
(NCCLS). Ringkasnya bakteri yang telah dimurnikan, disus-
pensikan dalam kaldu sampai kepekaannya 0.5 Mc Farland.
Dengan bantuan kapsa lidi steril, suspensi bakteri diinokulasi-
kan secara merata pada pelat agar Muller ­ Hinton mendapat
suplementasi darah 5%. Setelah diinkubasi semalam, keesokan
harinya diameter zona hambatan diukur dengan kapiler. Ada-
pun cakram antibiotika yang dipakai adalah : penisilin 10 U;
amoksisilin 25 ug; sulbenisilin 100 ug; metisilin 5 ug; oksasilin
5 ug; sefotiam, sefuroksim, seftasidim, seftriakson, sefotaksim,
sefpirom masing-masing 30 ug; gentamisin 10 ug; streptomisin
10 ug; kloramfenikol 30 ug; tetrasiklin 30 ug; kotrimoksasol 25
ug; eritromisin 15 ug; siprofloksasin 4 ug; afloksasin 5 ug;
vankomisin 30 ug. Dipakai pula cakram sefdinir, levofloksasin
dan teikoplanin. Cakram penisilin dan eritromisin digunakan
hanya untuk kuman Gram positif. Cakram metisilin dan
oksasilin digunakan untuk Gram positif, khususnya stafilo-
kokus dan cakram vankomosin hanya untuk stafilokokus.
HASIL PENELITIAN
1. Spektrum isolat bakteri
Dari 73 bahan pemeriksaan berupa cairan bronkus dan 17
bahan cairan pleura dapat diisolasi 90 isolat bakteri, yang
terdiri dari 25 (28%) isolat bakteri Gram positif dan 65 (72%)
isolat bakteri Gram negatif. Dari keseluruhan isolat, bakteri
terbanyak ditemukan adalah berturut-turut pseudomonas dan
klebsiella (Tabel 1).
2. Kepekaan isolat bakteri terhadap antibiotika golongan
penisilin dan sefalosporin
Dari isolat kuman positif teramati hanya 56% yang peka
terhadap penisilin dan khusus untuk bakteri Stafilokokus
aureus data menunjukkan telah banyak yang resisten terhadap
metisilin atau oksasilin. Secara keseluruhan, terhadap golongan
penisilin yang diuji, kepekaan tertinggi adalah terhadap
sulbenisilin, yaitu 58%. Rincian hasil dapat dilihat pada
gambar 1.
Gambar 1. Kepekaan kuman saluran nafas bawah tahun 2000 terhadap
golongan penisilin.
Keterangan :
Absis menunjukkan persentasi kuman yang resisten (kotak raster), intermediate
(kotak diarsir) dan peka (kotak polos) terhadap 1 = penisilin (n = 18 isolat), 2 =
amoksisilin (n = 89 isolat), 3 = sulbenisilin (n = 90 isolat), 4 = tikarsilin (64
isolat), 5 = metisilin/oksasilin (n = 11 isolat).
Terhadap golongan sefalosporin yang diuji, persentase
kepekaan isolat bakteri terendah adalah terhadap sefotiam dan
sefdinir, yaitu berturut-turut sebanyak 32% dan 33%. Sedang-
kan persentase kepekaan isolat bakteri tertinggi adalah terhadap
seftasidim dan sefirom, yaitu berturut-turut 76% dan 63%. Data
lengkap dapat dilihat pada gambar 2.
3. Kepekaan isolat bakteri terhadap antibiotika lain
Terhadap golongan aminoglikosida, isolat bakteri juga
banyak yang telah resisten, khususnya terhadap streptomisin
yang mencapai 53%. Sedangkan terhadap golongan kuinolon,
persentase isolat yang resisten lebih rendah dibandingkan
terhadap aminoglikosida. Kepekaan tertinggi teramati terhadap
levofloksasin (gambar 3).
Kepekaan semua isolat bakteri terhadap antibiotika yang
telah sangat lama digunakan, yaitu kloramfenikol, tetrasiklin
kontrimoksasol menunjukkan bahwa persentase resistensinya
sudah tinggi, berkisar antara 46%-56%. Khusus untuk Staphy-
lococcus aureus, juga teramati bahwa belum ditemukan adanya
isolat yang resisten terhadap bankomisin (gambar 4).
DISKUSI
Infeksi saluran nafas bawah dapat, mengenai alveoli,
jaringan interstisium paru, bronkiolus, pleura dan bronkus.
Infeksi biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran
pernafasan tengah, patogen yang teraspirasi dan mampu
melewati barier di saluran pernafasan tengah atau kadang-
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 39
background image
kadang akibat dari penyebaran hematogen (Ray dan Kenneth,
1994). Dalam bentuk community acquired bronkhitis akut,
bakteri yang sering diisolasi adalah Haemophilus influenzae,
Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia pneumoniae dan
Staphylococcus aureus. Dalam bentuk bronkhitis kronis,
bakteri yang sering diisolasi adalah Streptococcus pneumoniae
dan Haemophilus influenzae. Adapun dalam bentuk
pneumoniae, bakteri yang sering diisolasi adalah Streptococcus
pneumoniae, Staphylo-coccus aureus, Haemophilus influenzae
dan anggota keluarga Enterobacteriaceae. Dalam bentuk
empiema, bakteri yang sering diisolasi adalah Streptococcus
pneumoniae, Staphylo-coccus aureus, Enterobacteriacae,
Pseudomonas aeruginosa dan bakteri anaerob (Ray dan
Kenneth, 1994). Pada pneumonia yang merupakan infeksi
rumah sakit atau juga banyak diisolasi Pseudomonas
aeruginosa dan Moraxella catarrhalis (Bennet dan Brachman,
1992). Pada penelitian ini bakteri yang ter-banyak diisolasi
adalah pseudomonas, yaitu sebanyak 37% disusul oleh anggota
keluarga Enterobacteriaceae sebesar 34%. Tingginya isolasi
bakteri batang Gram negatif pada penelitian ini belum dapat
dipastikan sebabnya. Pada penelitian juga tidak diketahui
berapa besarnya kejadian infeksi oleh Chlamydia dan
Mycoplasma karena kedua organisasi tersebut tidak secara
khusus dicari. Seperti telah disebutkan di atas bahwa pada
kasus infeksi rumah sakit dan pada kasus-kasus yang
mempunyai underlying disease banyak diisolasi bakteri Gram
negatif. Karena itu melihat gambaran isolat yang didapat dari
cairan bronkus dan cairan pleura saat ini mungkin sebagian
besar kasus yang diteliti termasuk dalam kedua kategori di atas.
Gambar 2. Kepekaan kuman saluran nafas bawah tahun 2000 terhadap golongan sefalosporin.
Keterangan :
Absis menunjukkan persentase kuman yang resisten (kotak raster), intermediate (kotak diarsir) dan
peka (kotak polos) terhadap 1 = sefotiam (n = 90 isolat), 2 = sefuroksim (n = 33 isolat), 3 =
seftasidim (n = 37 isolat), 4 = seftriakson (55 isolat), 5 = sefotaksim (n = 89 isolat), 6 = sefirom (n =
90 isolat), 7 = sefdinir (n = 18 isolat).
Gambar 3. Kepekaan kuman saluran nafas bawah tahun 2000 terhadap
aminoglikosida dan kuinolon.
Keterangan :
Absis menunjukkan persentase kuman yang resisten (kotak raster),
intermediate (kotak diarsir) dan peka (kotak polos) terhadap 1 = gentamisin (n
= 87 isolat), 2 = streptomisin (n = 87 isolat), 3 = siprofloksasin (n = 87 isolat),
4 = ofloksasin (30 isolat), 5 = levofloksasin (n=21 isolat).
Gambar 4. Kepekaan kuman saluran nafas bawah tahun 2000 terhadap
antibiotika lain.
Keterangan :
Absis menunjukkan persentase kuman yang resisten (kotak raster),
intermediate (kotak diarsir) dan peka (kotak polos) terhadap 1 = kloramfenikol
(n = 90 isolat), 2 = tetrasiklin (n = 87 isolat), 3 = kotrimoksasol (n = 90 isolat),
4 = eritromisin (26 isolat), 5 = vankomisin (n = 8 isolat), 6 = teikoplanin (n = 8
isolat).
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002
40
background image
KEPUSTAKAAN
1. Ray CG, Ryan JK. Middle and lower respiratory tract infections. In :
Ryan KJ (ed) 3 ed. Sherris Medical Microbiology, London : Prentice Hall
Int. Publ. 1994; Hal 755-9.
2. ................. In : Benneth JV, Brachman PS (eds). Hospital Infections.
Boston : Little Brown Co. 1992; hal 611-40.
3.
WHO. Technical Bases for the WHO Reccomendations on the
management of pneumonia children at first level health facilities. WHO
Geneve : 1990.
4. WHO. Antibiotics in the treatment of acute respiratory infections in
young children. WHO Geneve : 1990.
Cermin Dunia Kedokteran No. 137, 2002 41