TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Peranan Mineral Seng (Zn)
Bagi Kesehatan Tubuh
Reviana Ch.
Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi, Departemen Kesehatan RI, Bogor
Jawa Barat, Indonesia
PENDAHULUAN
Dalam ilmu gizi dikenal dua jenis mineral, yaitu mineral
utama (makro mineral) dan elemen renik (mikro mineral).
Mineral utama sudah banyak dibicarakan, baik sifat maupun
pengaruhnya terhadap kesehatan. Sedangkan elemen renik,
khususnya pengaruh seng (Zn) terhadap kesehatan, baru tahun-
tahun terakhir ini mulai dibicarakan
(1)
.
Defisiensi seng banyak ditemukan pada penduduk
Indonesia, diduga disebabkan kurangnya konsumsi bahan
makanan hewani, terutama daging dan produknya (susu, hati,
telur). Tingginya insiden penyakit infeksi juga dapat merupa-
kan indikasi defisiensi seng, karena seng dapat menurunkan
fungsi kekebalan tubuh
(2)
.
PERANAN MINERAL SENG
Sebagai salah satu komponen dalam jaringan tubuh, seng
termasuk zat gizi mikro yang mutlak dibutuhkan untuk me-
melihara kehidupan yang optimal, meski dalam jumlah yang
sangat kecil. Dari segi fisiologis, seng berperan untuk per-
tumbuhan dan pembelahan sel, anti-oksidan, perkembangan
seksual, kekebalan seluler, adaptasi gelap, pengecapan, serta
nafsu makan
(3)
. Dari segi biokimia, seng sebagai komponen
dari 200 macam enzim berperan dalam pembentukan dan
konformasi polisome, sebagai stabilisasi membran sel, sebagai
ion-bebas ultra-seluler, dan berperan dalam jalur metabolisme
tubuh
(1)
.
Peranan terpenting seng bagi makhluk hidup adalah untuk
pertumbuhan dan pembelahan sel, sebab seng berperan pada
sintesis dan degradasi karbohidrat, lemak, protein, asam
nukleat, dan pembentukan embrio. Dalam hal ini, seng di-
butuhkan untuk proses percepatan pertumbuhan, menstabilkan
struktur membran sel dan mengaktifkan hormon pertumbuh-
an
(4)
. Seng juga berperan dalam sistem kekebalan tubuh dan
merupakan mediator potensial pertahanan tubuh terhadap
infeksi. Pada defisiensi seng ditemukan limfopeni, menurun-
nya konsentrasi dan fungsi limfosit T dan B
(2)
. Selain itu, seng
juga berperan dalam berbagai fungsi organ. Misalnya, keutuh-
an penglihatan yang merupakan interaksi metabolisme antara
seng dan vitamin A. Gejala rabun senja pada defisiensi seng
berkaitan pula dengan deplesi dehidrogenase retinal dan
retional, akibat gangguan keutuhan retina yang dipengaruhi
oleh mineral seng
(5)
.
Angka Kecukupan Seng
Banyaknya seng yang dibutuhkan setiap orang berbeda-
beda, tergantung pada faktor: usia, status fisiologisnya (ba-
nyaknya seng yang harus diabsorbsi untuk menggantikan pe-
ngeluaran endogen, pembentukan jaringan, pertumbuhan, dan
sekresi air susu), serta karakteristik diet
(6)
. Besarnya masukan
seng yang dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan orang sehat
(angka kecukupan seng) dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Angka kecukupan seng rata-rata yang dianjurkan per orang per
hari.
Golongan Umur
Seng (mg)
0 6 bulan
7 12 bulan
1 9 tahun
10 59 tahun
> 60 tahun
Hamil
Menyusui 0 6 bulan
Menyusui 7 12 bulan
3
5
10
15
15
+5
+10
+10
Untuk memenuhi kecukupan seng, dibutuhkan pengaturan
diet yang adekuat, selain itu juga harus memperhitungkan
bioavailabilitas bahan makanan yang mengandung seng, yaitu
efek dari setiap proses, baik fisik, kimia, maupun fisiologis,
yang berpengaruh pada jumlah seng yang diserap dari bahan
makanan hingga bentuk biologis yang aktif untuk dapat
dimanfaatkan bagi kebutuhan fungsional
(7)
. Komponen bahan
makanan juga berperan penting pada bioavailabilitas seng,
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004 53
karena adanya interaksi antara seng dan komponen lainnya.
Beberapa zat (asam sitrat, asam palmitat, dan asam pikolinat)
dapat meningkatkan absorbsi seng. Sedangkan fitat dan serat
menghambat. Berbagai jenis bahan makanan yang merupakan
sumber seng, dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Daftar bahan makanan sumber seng
Jenis Makanan
Kadar Seng (mg/kg basah)
Daging sapi
Daging ayam
Ikan laut
Susu
Keju
Beras
Kelapa
Kentang
10 43
7 16
4
3,5
40
13
5
3
DEFISIENSI SENG
Apabila seseorang tidak dapat memenuhi diet yang cukup
mengandung seng, mungkin terjadi defisiensi seng. Faktor lain
yang dapat menimbulkan defisiensi seng adalah: (a)
pemasukan seng yang kurang, (b) absorbsi seng berkurang, (c)
pengeluaran seng yang berlebihan, (d) utilisasi seng ber-
kurang, dan (e) kebutuhan seng yang meningkat
(1)
. Kelompok
yang paling rentan terhadap defisiensi seng adalah anak dalam
masa per-tumbuhan, masa produktif dan masa penyembuhan.
Gambaran klinis defisiensi seng pada manusia sangat
bervariasi, tergantung pada beberapa hal: usia mulai terjadi
defisiensi, derajat dan lamanya defisiensi, penyakit dan kelain-
an yang merupakan latar belakang penyebab primer defisiensi,
besarnya masukan seng dan interaksi dengan nutrien atau
faktor-faktor lain dalam makanan
(6)
.
Gejala klinis defisiensi seng dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Gejala klinis defisiensi seng
Defisiensi seng ringan
Defisiensi seng berat
Oligospermi
Dermatitis
Pertumbuhan terhambat
Penyembuhan luka terhambat
Gangguan adaptasi gelap
Perubahan emosi
Alat-alat kelamin mengecil
Infeksi
Diare
Perubahan neurologis
Kematian
Parameter yang banyak digunakan menetapkan status seng
adalah (1) konsentrasi seng plasma atau serum, (2) konsentrasi
seng eritrosit, (3) konsentrasi seng lekosit dan netrofil, (4) kon-
sentrasi seng rambut, (5) konsentrasi seng urine, (6) konsen-
trasi seng air liur, (7) uji pengecapan, (8) keseimbangan
metabolisme seng, (9) studi isotop, (10) respon pertumbuhan
dan perkembangan seksual terhadap suplementasi seng, (11)
enzim yang tergantung pada seng, misalnya aktivitas alkali
fosfatase
(9)
. Dari begitu banyak parameter yang ada, yang
sering dimanfaatkan dalam pelayanan kesehatan adalah
pemerikasaan konsentrasi seng plasma dan fosfatase alkali.
Parameter lain hanya untuk keperluan penelitian, karena tidak
praktis dan rumit
(6)
. Dari berbagai pemeriksaan tersebut, jika
kadar seng < 40 ug/dl maka disebut defisiensi berat; dan jika
berkisar antara 40-60 ug/dl maka disebut defisiensi ringan.
PENUTUP
Peranan seng sebagai elemen renik yang berfungsi mem-
pertahankan kesehatan secara optimal mutlak dibutuhkan. Oleh
sebab itu, kebutuhan seng perlu diperhitungkan dengan sumber
bahan makanan yang mengandung seng. Untuk mengetahui
besarnya masalah kesehatan akibat defisiensi seng pada anak-
anak dan kelompok rentan lainnya, perlu pemahaman yang
lebih mendalam tentang keseimbangan dan metabolisme seng.
Sejauh ini, cara terbaik untuk membuktikan adanya defisiensi
seng ialah dengan suplementasi seng dan menilai perubahan
biokimia atau perbaikan fungsional yang terjadi, atau meng-
hilangnya gejala-gejala defisiensi.
KEPUSTAKAAN
1.
Soegih R. Peranan mineral khususnya elemen renik terhadap kesehatan.
Seminar Sehari Pengaruh Mineral Terhadap Kesehatan. Jakarta, 1992.
2.
Tjokronegoro A. Sistem pertahanan tubuh dan pengaruh defisiensi seng
terhadap kesehatan. Seminar Sehari Pengaruh Mineral Terhadap Ke-
sehatan. Jakarta, 1992.
3.
Solomon NW. Zinc. Encyclopedia of Food Science, Food Technology
and Nutrition. Vol 7. London. 1993; 4980-94.
4.
Comerford JG. Zinc and Human Health. Nutrition Rev 53 (9): s16-s22.
5.
Samsudin. Peranan mineral khususnya Zn dalam tumbuh kembang anak.
Seminar Sehari Pengaruh Mineral Terhadap Kesehatan. Jakarta, 1992.
6. Muhilal, dkk. Angka Kecukupan Gizi Yang Dianjurkan. Widya Karya
Pangan dan Gizi V. Jakarta, 1994.
7. Jackson MJ. Physiology of Zinc: General Aspect Zinc in Human
Biology. In Mills CF ed. London, 1989; 1-14.
I regard that man as lost who has lost his sense of shame
Cermin Dunia Kedokteran No. 143, 2004
54