background image
HASIL PENELITIAN
Penyakit Kulit
di Kalangan Tenaga Kerja
Industri Plywood
di Propinsi Kalimantan Selatan
Sudi Astono, Herliani Sudarja
Peserta Program Pasca Sarjana Hiperkes Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Kalimantan Selatan adalah salah satu propinsi di Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang mempunyai hutan tropis
cukup luas, sehingga kaya akan salah satu sumber daya
alamnya yang berupa kayu. Karena kayu dan hasil olahannya
sangat dibutuhkan di dalam menunjang kehidupan manusia,
maka bertumbuhanlah industri pengolahan kayu terutama
industri plywood untuk kebutuhan dalam dan luar negeri di
Kalimantan Selatan. Industri ini mendatangkan devisa cukup
besar serta menyerap ribuan tenaga kerja.
Proses produksi plywood ini menggunakan bahan kimia
dan mengeluarkan banyak debu kayu, yang keduanya merupa-
kan faktor berbahaya bagi kesehatan tenaga kerja, antara lain
dapat menyebabkan penyakit kulit seperti dermatitis kontak.
Secara definisi yang dimaksud dermatosis akibat kerja
adalah penyakit kulit ;yang didapat di tempat kerja akibat faktor
penyebab yang ada di lingkungan kerja, yang secara klinis telah
diketahui hubungan sebab akibatnya.
Jenis DAK yang sudah diketahui yaitu:
1. Dermatitis kontak: - Dermatitis kontak alergi dan derma-
titis kontak iritan.
2. Dermatitis kontak foto: - Dermatitis kontak foto alergi dan
dermatitis kontak foto iritan.
3. Akne.
4. Dermatomikosis.
5. Kelainan pigmentasi kulit, berupa hiperpigmentasi dan
hipopigmentasi.
6. Neoplasma kulit.
PERMASALAHAN
Menurut catatan Kanwil Depnaker Kal Sel, kurang lebih
30.000-an tenaga kerja yang bergelut di bidang industri
plywood. Tenaga kerja ini di lingkungan kerjanya terpajan debu
kayu dan bahan kimia. Laporan salah satu poliklinik perusaha-
an plywood menyatakan 10% tenaga kerjanya menderita pe-
nyakit kulit. Penyakit kulit ini sangat mengganggu kenyamanan
dan konsentrasi bekerja sehingga dapat memperbesar kemung-
kinan terjadinya kecelakaan kerja. Di negara maju dengan
penerapan higiene perusahaan dan higiene perorangan tenaga
kerja yang sudah lebih baik masih ditemukan penyakit kulit
akibat kerja dengan prevalensi 1% - 2%. Angka ini merupakan
40% dari seluruh penyakit akibat kerja. Penyakit kulit akibat
kerja ini sebagian besar (80%) berupa dermatitis kontak.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan dari tahun 1998-1999, terhadap 2000
sampel tenaga kerja dari 30.000 tenaga kerja industri plywood,
yang ada se-Kalimantan Selatan. Menggunakan teknik wawan-
cara untuk mengisi kuesioner, pemeriksaan fisik dan klinis
tenaga kerja serta pemeriksaan lingkungan kerja perusahaan.
Variabel data sampel berupa;
1. Status kesehatan kulit, yang dinyatakan dengan sehat atau
menderita penyakit kulit.
Diagnosis penyakit kulit akibat kerja didasarkan adanya
riwayat penyakit kulit, jenis dan lokasi kerjanya, gambaran
klinis, identifikasi bahan penyebab dan patch test (local
eczematous reactions) untuk kasus yang dicurigai sebagai der-
matitis kontak.
2. Pengukuran
lingkungan
kerja.
Terhadap, a. konsentrasi debu kayu di udara (mg/m
3
)
b. kosentrasi amoniak dan formaldehid di udara
(ppm)
c. suhu lingkungan kerja (°C)
3. Umur dan lama kerja dari tenaga kerja bersangkutan
(tahun).
HASIL
Dari hasil yang didapat, tenaga kerja yang menderita
penyakit kulit sebanyak 696 orang (35%), terbanyak di bagian
logpond, boiler, dan hot press. Tenaga kerja di bagian logpond
kebanyakan menderita tinea pedis dan dermatitis kontak,
sedangkan tinea pedis kebanyakan diderita tenaga kerja di
bagian dryer dan boiler (Tabel 1 s/d 4).
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002 43
background image
Tabel 1. Tenaga kerja yang menderita penyakit kulit
Tenaga kerja
Jumlah
%
Sehat 1304
65
Sakit kulit
696
35
Jumlah 2.000 100
Tabel 2. Jenis penyakit kulit tenaga kerja
Jenis Penyakit Kulit
Jumlah
%
Dermatitis alergi
74
10,6
Dermatitis kontak
148
21,3
Tinea pedis
248
35,6
Tinea cruris
83
11,9
Tinea corporis
40
5,7
Tinea versikolor
22
3,2
Mililaria 61
8,5
Acne 3
0,4
Paronikia 3
0,4
Folikulitis 13
1,9
Urtikaria 3
0,4
Jumlah 696
100
Tabel 3. Penderita penyakit kulit berdasarkan lokasi kerja
Lokasi Kerja
Jumlah sampel
(orang)
Menderita
penyakit kulit
%
Log pond
57
29
50,59
Rotary 180
68
37,8
Dryer 181
71
39,2
Corvener
471
146
31,0
Glue spreader
128
48
37,5
Hot press
82
39
47,6
Sizer 62
17
27,4
Finishing 582
190
32,6
Boiler 16
8
50,0
Mekanik 99
37
37,4
Kantor 142
43
30,3
Jumlah 2.000
696
Tabel 4. Jenis penyakit kulit terbanyak berdasarkan lokasi kerja
Jenis penyakit kulit
Tinea pedis Dermatitis kontak Tinea cruris
Lokasi Kerja
N
Jml % Jml % Jml %
Log
pond
57 12 21 7
12
1 2
Rotary
180 24 13 11
6
8 4
Dryer
181 32 18
13
7
10 6
Corvener
471 69 15 29
6
9 2
Glue
spreader 128 13 10 7
5
4 3
Hot press
82
11
13
12
14
3
4
Sizer 62
6
10
2
3
0
0
Finishing
582 61 11 38
7
24 4
Boiler
16 1 6 0
0
1
6
Mekanik
99 11 11 6
6
5 5
Kantor
142 9 6 4
3
7
5
Jumlah 2.000
248 148
83
PEMBAHASAN
Penyakit kulit akibat kerja atau dermatosis akibat kerja
(DAK) di luar negeri merupakan yang tertinggi di antara
penyakit-penyakit akibat kerja lainnya. Tahun 1973 di
California, Amerika Serikat ditemukan 40,6% penyakit akibat
kerja merupakan DAK. Biro statistik tenaga kerja Amerika
Serikat mendapatkan angka 1,5% dari seluruh tenaga kerja
yang terdaftar menderita DAK.
Dermatosis tersering adalah dermatitis kontak, yang pada
penelitian ini didapatkan sebesar 21,3% (terbanyak ke dua). Zat
iritan akan merusak kulit dengan cara mengurangi kandungan
air kulit, sehingga kulit mudah retak, menimbulkan dermatitis.
Zat alergik mempengaruhi kulit melalui jalur imunologis,
limfosit terangsang untuk membentuk mediator yang meng-
akibatkan dermatitis. Dermatitis kontak foto, kejadiannya ham-
pir sama hanya memerlukan bantuan sinar matahari. Akne
sering disebabkan senyawa klor yang menyumbat muara folikel
rambut dan muara kelenjar keringat sehingga retensi produksi-
nya disertai pembentukan keratin yang mengakibatkan ter-
bentuknya komedo. Dermatomikosis akibat kerja dapat
memberi gambaran klinis berupa dermatofitosis seperti tinea
pedis dan non dermatofitosis akibat kerja seperti tinea versi-
kolor, yang ditemukan 3,3% di dalam penelitian ini. Kelainan
pigmentasi sering disebabkan monobenzil eter hidrokuinon di
pabrik karet. Kanker kulit terjadi karena pajanan kronis sinar
ultra violet, radiasi ionisasi dan shale oil.
Dalam penelitian ini, penyakit kulit yang ditemukan dapat
dinyatakan sebagai dermatosis akibat kerja, karena didukung
oleh faktor penyebabnya berupa: 1. Faktor kimia, debu ber-
bagai jenis kayu, formaldehid sebagai bahan campuran lem
(glue) dan uap amoniak yang dibuktikan dengan hasil peme-
riksaan lingkungan kerja, 2. Faktor fisik, berupa lingkungan
kerja yang panas dan lembab, 3. Riwayat perjalanan penyakit
yang membaik bila tenaga kerja libur atau istirahat dan
kambuh/bertambah parah bila bekerja lagi.
Di lokasi logpond tenaga kerja kontak langsung dengan
kayu di sungai, sedangkan di bagian boiler dan di hot press
debu kayu sangat banyak serta udaranya yang panas dan
lembab. Insiden DAK di Indonesia belum diketahui, mungkin
karena laporan perusahaan mengenai DAK tidak ada atau tidak
lengkap karena berbagai sebab atau ada anggapan bahwa DAK
merupakan penyakit ringan serta sulit menentukan derajat
kecacatannya guna perhitungan kompensasi.
KESIMPULAN
Telah ditemukan 35% dermatosis akibat kerja pada 2.000
sampel tenaga kerja industri plywood di Kalimantan Selatan.
Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui insidennya
di industri kayu Indonesia serta di industri lainnya. Hasil ini
diharapkan sangat bermanfaat di dalam menentukan kebijakan
perusahaan yang bersangkutan dan pemerintah di bidang
kesehatan dan keselamatan kerja (K3).
KEPUSTAKAAN
1. Bagian Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Ilmu Penyakit Kulit Dan
Kelamin, edisi I. Jakarta. FKUI. 1987.
2. Stanley L, David W, Janella K. Adequacy of Sample Size In Health
Studies. Dalam : terjemahan. Dibyo P, Hari K. Yogjakarta. Gajah Mada
University Press. 1997.
3. Marks JG Jr, Joseph FF Jr. Prevention of poison ivy and poison oak
allergic contact dermatitis by quaternium-18 bentonite. J of Am Acad of
Dermatol. 1995: 33 : 212-6.
4. Retno WS. Disertasi: Prediksi Klinis Dermatitis Kontak - tangan pada
pekerja dengan kondisi diatesis atopi kulit. Program Paska Sarjana
Universitas Indonesia. Jakarta. 1999.
5. Bigby ME, Arndt KA, Coopman SA. Skin Disorder. In: Levy BS,
Wegman DH, editors. Occupational Health. Recognizing and Preventive
Work - Related Disease and Injury. 4
th
ed. Philadelphia: Lippincott
Williams and Wilkins; 2000. p. 545-46.
6.
Balai Hiperkes Kanwil Depnaker Propinsi Kalimantan Selatan. Laporan
Program Pengawasan Perusahaan Plywood, Banjarmasin. 1999.
Cermin Dunia Kedokteran No. 136, 2002
44