Pengembangan IPTEK PJPT-
II
Prof Dr Sudraji Sumapraja
Staf Ahli Menristek Bidang IPTEK Kedokteran, Jakarta
Terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya
untuk menyampaikan beberapa kebijaksanaan Kantor Menteri
Negara Riset dan Teknologi tentang Pengembangan IPTEK
PJPT-II, kepada para peserta Kongres PERSI VI dan Hospital
Expo VII yang saya hormati.
Sebentar lagi kita akan memasuki Rencana Pembangunan
Lima Tahun (REPELITA) VI, yang merupakan REPELITA per-
tama dalam Pembangunan Jangka Panjang Tahap II (PJPT-II),
dimana pembangunan nasional Indonesia akan mulai tinggal
landas dengan kekuatan sendiri, yang akan mengantarkan bangsa
Indonesia menuju masyarakat yang maju, sejahtera, adil dan
makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Bangsa Indonesia telah bertekad untuk secara sistematis, tahap
demi tahap, mentransformasikan diri menjadi bangsa yang
modern, yaitu bangsa yang menguasai ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK) untuk memenuhi keperluan-keperluan dasar-
nya sendiri, menyediakan prasarana ekonominya sendiri, serta
menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kualitas hidup-
nya sendiri yang semakin meningkat. Dalam tahap-tahap inilah,
tumpuan pembangunan nasional akan beralih dari pemanfaatan
sumber daya alam (SDA) ke pemanfaatan sumber daya yang
selalu terbaharukan, yaitu sumber daya manusia (SDM) Indo-
nesia. Oleh karena itulah, konsep inti pengembangan IPTEK
adalah pembangunan manusia lndonesia itu sendiri.
Pembangunan Nasional, dimana kita semua terlibat di da-
lamnya, adalah pembangunan bangsa. Bangsa di sini memiliki
arti yang lebih luas dari pada hanya kemerdekaan politik. Di
dalamnya tersirat kemandirian ekonomi, kemampuan memper-
tahankan budayanya, dan keberhasilan mempertahankan ke-
satuan nasionalnya sendiri: Indonesia. Oleh karena itulah, ke-
mampuan pengembangan IPTEK menjadi sangat penting. Tanpa
Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI H ospital Expo, Jakarta,
21 - 25 November 1993.
kemampuan itu, pemilikan sumber daya alam yang berlimpah
sekalipun tidak ada artinya. Lain halnya kalau IPTEK dapat
dikuasai, sumberdaya alam yang langka sekalipun bukan me-
rupakan hambatan. Contohnya, Jepang dan Korea yang sumber
daya alamnya langka, dapat menjadi negara industri maju karena
kemampuan membangun IPTEK-nya. Oleh karena itu sekali
lagi: pembangunan sumberdaya manusia adalah konsep inti
pengembangan IPTEK Indonesia.
Ada lima prinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam me-
nerapkan IPTEK untuk pembangunan bangsa.
Prinsip pertama, perlu diselenggarakan pendidikan dan
latihan di berbagai bidang IPTEK yang gayut untuk pemba-
ngunan bangsa, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Prinsip ke dua, perlu dikembangkan konsep yang jelas dan
realistis serta dilaksanakan secara konsekuen, tentang masya-
rakat yang ingin dibangun, dan teknologi yang akan dipakai
untuk mewujudkannya. Teknologi-teknologi itu tidak harus yang
paling sederhana, dapat juga yang paling canggih yang ada di
dunia. Yang penting adalah kegunaannya untuk memecahkan
masalah-masalah yang nyata di dalam negeri.
Prinsip ke tiga, kalau teknologi yang diperlukan itu belum
ada di Indonesia, maka teknologi itu harus dialihkan dari negara
maju, diterapkan dan dikembangkan di Indonesia, untuk me-
mecahkan masalah-masalah yang nyata kita hadapi. Karena,
teknologi itu tidak dapat dimengerti kalau dikembangkan secara
abstrak.
Prinsip ke empat, untuk dapat menjadi bangsa yang di-
hormati oleh bangsa lain kita harus bertekad untuk mampu
memecahkan masalah-masalah kita sendiri, dan tidak selalu
mengandalkan impor IPTEK buatan luar negeri.
Prinsip ke lima, sudah barang tentu pada awalnya setiap
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994
6 1
negara harus melindungi pengembangan IPTEK nasionalnya,
sampai ia mampu bersaing di dunia internasional, tetapi tidak
untuk waktu yang terlampau lama.
Karena inti pembangunan nasional pada hakekatnya adalah
pembangunan potensi manusia lndonesia, maka sesungguhnya
kita sedang berhadapan dengan upaya mengubah mentalitas
bangsa menjadi bangsa yang menghayati dan menerapkan nilai-
nilai negara industri maju, yang rata-rata lebih produktif dan
lebih efisien.
GBHN 1993 telah mengamanatkan bahwa IPTEK merupa-
kan salah satu asas pembangunan nasional. Kualitas manusia
Indonesia dan masyarakat Indonesia serta penguasaannya ter-
hadap IPTEK merupakan satu kesatuan sebagai faktor dominan
dalam pembangunan nasional. Selanjutnya IPTEK telah ditetap-
kan sebagai bidang pembangunan nasional. Dengan demikian,
IPTEK semakin berperan untuk mencapai tujuan pembangunan
nasional yang memberikan kesejahteraan kepada rakyat yang
setinggi-tingginya.
Tetapi, manusia tidak dengan sendirinya dapat menjadi
pembawa IPTEK. Ia harus terlebih dahulu menempuh proses
nilai tambah, yaitu proses untuk memperoleh dan menyempur-
nakan kemampuannya secara terus menerus. Proses nilai
tambah itu ditempuh dalam dua tahap: (1) proses persiapan; dan
(2) proses penyempurnaan.
Proses persiapan yang lebih dikenal dengan proses pendidik-
an dimulai sejak prasekolah dan mungkin berakhir di perguruan
tinggi; sedangkan proses penyempurnaan dimulai sejak ia be-
kerja. Untuk proses persiapan ini diperlukan sistem pendidikan
yang rasional dan efektif; sedangkan untuk proses penyempur-
naan diperlukan wahana-wahana transformasi teknologi dan
industri, dimana putra-putri bangsa yang terbaik mendapat ke-
sempatan untuk menyempurnakan dirinya, merealisasikan po-
tensinya untuk berproduksi, dan kemudian menjadi unggul da-
lam bidangnya. IPTEK yang diperoleh melalui pendidikan baru
merupakan landasan untuk dapat berkembang menjadi manusia
yang mampu dalam bidangnya; sedangkan kemampuan untuk
menerapkan dan mengintegrasikan teknologi, dan mengelola
penerapan dan pengintegrasian teknologi itu tidak cukup hanya
diperoleh dari pendidikan melalui observasi, seminar atau
membuat satu-dua produk lantas berhenti.
Kemampuan yang bermutu tinggi dan lestari hanya akan di-
peroleh melalui wahana-wahana yang melakukan proses nilai
tambah terus-menerus untuk menghasilkan barang dan jasa yang
lebih bermutu, lebih bersaing harganya dan lebih tepat waktu
penyampaiannya. Oleh karena itulah, kita tidak boleh main-
main dengan proses pendidikan, dan juga tidak boleh main-main
memilih wahana tempat
manusia
lndonesia menyem-
purnakan dirinya menjadi manusia yang unggul.
Secara konsepsional, terdapat dua unsur strategi penerapan
IPTEK untuk transformasi teknologi dan industri suatu negara
sedang berkembang: pertama, pentahapannya; dan ke dua,
wahana-wahananya.
Proses transformasi masyarakat Indonesia menjadi ma-
syarakat yang maju teknologi dan industrinya dapat dipikirkan
terdiri dari empat tahap transformasi teknologi dan industri yang
bertumpang-tindih. Tiga yang pertama gayut untuk negara yang
sedang berkembang seperti Indonesia, sedangkan tahap keempat
merupakan tahap kunci bagi negara-negara yang ingin memper-
tahankan keunggulan teknologinya, yang telah sama-sama kita
siapkan dalam menyongsong tinggal landas di tahun 1994.
Tahap pertama, dan yang paling mendasar adalah tahap
penggunaan teknologi-teknologi yang ada di dunia untuk proses-
proses nilai tambah dalam rangka memproduksi barang-barang
yang sudah ada di pasaran. Jalan pintas yang paling masuk akal
adalah melakukan mengalihkan teknologi-teknologi dari luar
negeri untuk memproduksi barang-barang tersebut di dalam
negeri.
Tahap ke dua, adalah integrasi teknologi-teknologi yang
sudah ada ke dalam desain dan produksi barang-barang yang
baru sama sekali, artinya yang belum ada di pasaran. Pada tahap
ini dikembangkan desain dan cetak biru. Dengan demikian ada
unsur baru di sini, yaitu unsur penciptaan.
Tahap ke tiga, adalah tahap pengembangan teknologi itu
sendiri. Teknologi yang sudah ada dikembangkan lebih lanjut;
dan teknologi-teknologi baru pun dikembangkan, yang ke-
semuanya itu untuk merancang produk-produk masa depan.
Tahap ke empat, Perusahaan-perusahaan atau negara-
negara yang sedang melaksanakan tahap ketiga itu seringkali
dihadapkan kepada kurangnya teori untuk mengembangkan
teknologi baru, yang memerlukan penelitian dasar untuk men-
jawabnya, dan untuk mempertahankan keberhasilan serta
keunggulan yang telah dicapainya.
Karena kita memulai transformasi teknologi dan industri itu
dengan sumber dana dan daya yang terbatas, maka kita harus
pandai-pandai membuat prioritas, wahana-wahana industri mana
yang perlu dikembangkan lebih dulu. Berdasarkan kondisi, ke-
mampuan, daya dukung dan daya tampung yang ada, dan mem-
perhatikan pula pertimbangan-pertimbangan geografik, politik
dan strategi, maka telah diputuskan untuk memprioritaskan
pengembangan sembilan wahana industri sebagai berikut :
1) Industri angkutan udara
2) Industri angkutan laut
3) Industri angkutan darat
4) Industri telekomunikasi
5) Industri energi
6) Industri rekayasa
7) Industri alat dan mesin pertanian
8) Industri pertahanan-keamanan, dan
9) Industri pendukung lainnya.
Dengan berkembangnya delapan wahana industri pertama
tersebut di atas, maka wahana kesembilan pun akan turut berkem-
bang melalui tarikan dan dorongan melewati berbagai kaitannya,
seperti industri kesehatan, kedokteran, perpmah-sakitan, pen-
didikan, pariwisata, dan lain-lain.
Selain strategi transformasi teknologi dan industri seperti
diuraikan di atas, Dewan Riset Nasional (DRN) telah merumus-
kan Program Utama Nasional Riset dan Teknologi (PUNAS
RISTEK), yang secara garis besar dikelompokkan ke dalam lima
bidang utama Matriks Nasional Riset dan Teknologi, sebagai
berikut :
62
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
I. Kebutuhan Dasar Manusia (Butsarman)
II. Sumber Daya Alam, Energi dan Lingkungan Hidup
III. Industri
IV. Pertahanan dan Keamanan
V. Sosial, Hukum, Ekonomi, Budaya, Falsafah dan Perundang-
Undangan
Selain itu, DRN telah merumuskan pula PUNAS RISTEK
PELITA VI yang mengacu kepada GBHN 1993, memberikan
arah pengembangan IPTEK, dan menjadi acuan untuk meng-
ajukan dan menyaring usulan kegiatan IPTEK, yang ditampilkan
dalam delapan program sebagai berikut :
A. Sub Sektor Teknik Produksi dan Teknologi
1. Program Teknik Produksi
2. Program Teknologi
B. Sub Sektor Ilmu Pengetahuan Terapan dan Ilmu Penge-
tahuan Dasar
3. Program Ilmu Pengetahuan Terapan
4. Program Ilmu Pengetahuan Dasar
C. Sub Sektor Kelembagaan, Prasarana dan Sarana IPTEK
5. Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK
6. Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK
D. Sub Sektor Informasi dan Statistik
7. Program Pengembangan Sistem Informasi
8. Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik.
Setiap tahun DRN akan menilai kembali PUNAS RISTEK
itu untuk lebih disempurnakan dan disesuaikan dengan per-
ubahan pembangunan dan perkembangan IPTEK, yang diduga
akan bergerak sangat pesat.
Dalam penyusunan PUNAS RISTEK, DRN telah memberi
penekanan prioritas yang berlainan, sesuai dengan keperluan
pemanfaatan, pengembangan dan penguasaan IPTEK bagi
pembangunan nasional. Hal tersebut digambarkan dengan
menempatkan tanda prioritas (+) pada program yang ber-
sangkutan.
Pemerintah juga telah berketetapan bahwa IPTEK yang
diperlukan untuk pembangunan nasional, yang sudah dikem-
bangkan di negara-negara maju, dan pada garis besarnya berlaku
juga untuk Indonesia, sejauh mungkin dimanfaatkan. Peman-
faatannya dilakukan melalui empat tahap pengalihan IPTEK
seperti telah diuraikan sebelumnya. Dalam rangka kebijaksanaan
inilah Indonesia telah menandatangani perjanjian kerjasama
IPTEK dengan berbagai negara maju seperti Amerika Serikat,
Jerman, Perancis, Jepang, Belanda dan Inggris, dan dengan
badan-badan internasional.
Bagaimana kalau IPTEK yang kita perlukan itu belum
dikembangkan di negara-negara maju?
Dalam hal itu bangsa Indonesia harus mengerahkan se-
bagian dari dana dan dayanya untuk memperoleh IPTEK yang
diperlukan itu. Dalam hal perumahsakitan, memang banyak
masalah yang khas Indonesia, yang tidak mungkin dikaji dari
temuan-temuan di luar negeri. Hanya yang tidak boleh dilupakan
adalah, riset yang akan dilakukan sendiri itu harus pragmatis
untuk memecahkan masalah-masalah nasional yang nyata.
Program Utama RISTEK PELITA VI
Bidang Kebutuhan dasar Manusia (BUTSARMAN)
Program-program
Utama
TP
Tek. IPT
IPD
Lem Sar. Inf.
Sta.
Program Utama
Kesehatan
Subprogram
Utama Masalah
Kedokteranl
Kesehatan
Penyakit menular
+++
++
++
+
++
++
+
+
Penyakit degeneratif
+++
+
++
+
+
+
Penyakit keganasan
+++
+
++
+
+
Penyakitgangguan
jiwa
+++
+
++
+
+
Kecelakaan
++
++
++
+
+
Gizi salah
+++
++
++
+
+
+
+
+
Subprogram Utama
Keilmuan
Biologi molekuler
+
++
++
+++
+++
++
++
Reproduksi manusia
+
++
+++
+
+++
++
++
Genetika
+
++
+++
+
+++
++
++
Pengobatan
tradisional
+
+
++
+++
+++
++
++
Subprogram Utama
Komponen Pelayan-
an Kedokteran/
Kesehatan
Kebijaksanaan
++
+
+
Alat-alat
+++
++
+
Obat-obatan
+++
++
+
Proses/metoda
pelaksanaan pelayan-
an kedokteran/
kesehatan
+++
++
++
Keterangan :
TP : Program Teknik Produksi
Tek : Program Teknologi
IPT : Program Ilmu Pengetahuan Terapan
IPD : Program Ilmu Pengetahuan Dasar
Lem : Program Pembinaan Kelembagaan IPTEK
Sar : Program Pengembangan Prasarana dan Sarana IPTEK
Inf : Program Pengembangan Sistem Informasi
Sta : Program Penyempurnaan dan Pengembangan Statistik
Prioritas tertinggi ditandai oleh +++ (tiga notasi plus)
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
63