background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 41
Penanggulangan GAKI melalui
lodisasi
Air
Minum
di Thailand
Sumengen Sutomo*, Djasmldar**, Yuyus R**
* Direktorat Bina Gizi Masyarakat Departemen Kesehatan RI, Jakarta
** Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Gangguan akibat kekurangan iodium (Gaki) merupakan salah saw masalah ke-
sehatan masyarakat yang masih belum dapat ditanggulangi dengan efektif di Indonesia
dan Thailand. Penanggulangan Gaki melalui iodisasi air minum di Indonesia belum
dilakukan. Di Thailand distribusi garam beriodium dan iodisasi air minum dewasa ini
sedang dilaksanakan di 15 propinsi endemik Gaki dan memberikan indikasi efektif
menurunkan 34,4 -- 94,3% prevalensi Gaki pada anak sekolah dasar.
Iodisasi air minum dilakukan di sekolah-sekolah dasar dan desa menggunakan
teknologi sederhana dengan meneteskan larutan KIO
3
ke dalam air minum sehingga
mencapai kadar 200 ug/liter air. Teknologi sederhana ini mungkin dapat diterapkan untuk
meningkatkan efektifitas program pemberian garam beriodium dan suntikan larutan
minyak beriodium dalam menanggulangi Gaki di Indonesia.
LATAR BELAKANG
Gangguan akibat kekurangan iodium (Gaki) yang biasa
disebut gondok endemik merupakan gangguan kesehatan mulai
dari lahir sampai dewasa. Penderita Gaki pada umumnya berasal
dari daerah pegunungan dengan tanah, air dan tanaman yang
kurang mengandung iodium. Penduduk yang tinggal di daerah
ini akibatnya mengalami kekurangan iodium dan menderita Gaki
seperti gondok dan kretin.
Gaki merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat
di berbagai negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia
dan Thailand. Di Indonesia dengan penduduk sekitar 180 juta, 30
juta tinggal di daerah endemik Gaki, lebih dari 750 ribu men-
derita kretin dan 3,5 juta menderita kelainan mental. Pemberan-
tasan Gaki melalui distribusi garam beriodium dan suntikan
larutan minyak beriodium belum dapat dilakukan secara efektif.
Penanggulangan Gaki melalui iodisasi air minum belum di-
lakukan di Indonesia.
Penanggulangan Gaki melalui iodisasi air minum telah
dibuktikan sangat efektif di berbagai negara seperti di USA
negara bagian Ohio tahun 1917 -- 1920, New York tahun 1923,
Montana tahun 1927; Inggris di kota Derbishire; Malaysia di
Serawak tahun 1981; Thailand tahun 1983 dan Italia di Sicilia
tahun 1924. Iodisasi air minum di Thailand sangat efektif dan
efisien. Program kombinasi iodisasi air minum dan distribusi
garam beriodium di daerah pedesaan Thailand dilaksanakan
sejak tahun 1986, sedang distribusi garam beriodium sudah
mulai dilakukan lebih dari sepuluh tahun sebelumnya. Iodisasi
air menggunakan peralatan dan cara yang sederhana sehingga
mudah diterapkan di daerah pedesaan negara yang sedang ber-
kembang lain.
Berikut ini disajikan
.
gambaran pelaksanaan program
iodisasi air minum yang dilakukan di daerah pedesaan bebe-
rapa propinsi Thailand. Tujuan penyajian ini adalah membantu
memberikan masukan kepada para pengambil keputusan serta
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
42
pelaksana program agar dapat memanfaatkan teknologi se-
derhana iodisasi air minum. Penyajian ini berdasarkan tinjauan
langsung di Thailand selama 11 hari dari tanggal 8 sd. 18 Juli
1990 yang meliputi beberapa aspek termasuk masalah, tujuan,
kegiatan dan hasil yang dibahas secara kualitatif dan singkat.
MASALAH
Gaki merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sudah
diketahui sejak 50 ­ 60 tahun yang lalu di Thailand. Penduduk
yang terancam Gaki terutama yang tinggal di propinsi wilayah
bagian utara dan timur laut dengan prevalensi antara 15 ­ 58%.
Pada tahun 1957 Klerks melaporkan prevalensi Gaki 23,5 ­
45,5% di 5 propinsi wilayah bagian utara dan tahun 1955 Ra-
malingswami melaporkan angka 58% di 2 propinsi wilayah
utara, dan 15 ­ 21% di 2 propinsi wilayah timur laut. Sejak tahun
1962 pemerintah melalui Departemen Kesehatan (Ministry of
Public Health) melaksanakan program penanggulangan Gaki
melalui distribusi garam beriodium. Tahun 1970 Departemen
Kesehatan melaporkan hasil survai di 90 sekolah dasar dari 9
propinsi; prevalensi Gaki dilaporkan telah menurun mencapai
16% pada tahun 1982 dan 10,6% tahun 1985.
Pembangunan nasional telah meningkatkan kondisi sosial
ekonomi dan lingkungan schingga penduduk memperoleh ke-
mudahan transportasi, memperoleh kebutuhan sehari-hari dan
makanan yang berasal dari lautan. Di lain pihak produksi garam
tanpa iodium bertambah banyak dan tersedia lebih murah di
daerah endemik Gaki. Pada tahun 1985 dilaporkan bahwa hanya
12% garam beriodium yang dijual untuk konsumsi penduduk
sedang sisanya garam tanpa iodium. Kemudian diadakan survai
prevalensi Gaki secara nasional. Departemen Kesehatan me-
laporkan bahwa prevalensi Gaki di 9 propinsi meningkat
kembali dan bervariasi dari 20,6% sampai 70,5%. Propinsi yang
endemik berat termasuk propinsi Phrae, Nan, Ciangrai, Tak, dan
Pitsanuloke. Sehubungan dengan itu program penanggulangan
Gaki melalui distribusi garam beriodium ditingkatkan kembali.
Untuk membantu meningkatkan efektifitas program Gaki di-
laksanakan alternatif lain berupa iodisasi air minum yang di-
mulai pada tahun 1986. Pelaksanaan program ini masih terbatas
di beberapa propinsi dengan sasaran anak sekolah dasar dan
masyarakat.
TUJUAN
Program iodisasi air minum di Thailand bertujuan untuk
mencegah dan memberantas Gaki pada penduduk yang tinggal
di daerah yang kekurangan iodium. Sasaran penduduk adalah
anak-anak sekolah dan wanita berumur 15 ­ 45 tahun termasuk
mereka yang tinggal di daerah endemik Gaki.
Tujuan khusus yang ingin dicapai antara lain adalah :
Semua anak sekolah dasar yang tinggal di daerah endemik Gaki
setiap hari minum sekurang-kurangnya 2 gelas air yang telah
mengandung iodium; penduduk wanita dan mereka yang
tinggal di daerah endemik Gaki minum air yang mengandung
iodium.
KEGIATAN
Untuk mencapai wjuan tersebut dilakukan berbagai ke-
giatan iodisasi air minum yang dibedakan dalam tahap persiap-
an, pelaksanaan iodisasi, pelaporan dan penilaian. Dalam tahap
persiapan dikembangkan teknologi sederhana dalam iodisasi air
minum menggunakan botol tunggal (single bottle) dan botol
rangkap (double bottle). Botol tunggal berupa satu botol, botol
rangkap berupa dua botol; masing-masing botol berukuran sama
dengan volume 30 ml. Botol tunggal berisi larutan iodium
(200 ug iodium per liter air) digunakan untuk mendistribusikan
iodium ke dalam air minum dengan perhitungan 2 tetes untuk
setiap 10 liter air minum. Botol rangkap terdiri dari satu botol
berisi larutan tepung (starch) dan satu botol lain berisi cairan
asam HCl atau tidak. Bersamaan dengan ini dikembangkan
iodinator untuk mencampur iodium pada garam dan air minum.
Teknologi sederhana ini dikembangkan oleh Dokter Rumsai
Suwanik dari RS Siriraj, Mahidol University lebih dari 10 tahun.
Teknologi sederhana ini kemudian diuji coba di beberapa desa
pada sistem penyediaan air minum bagi anak sekolah dan ma-
syarakat. Setelah diadakan evaluasi teknologi sederhana ini
dapat diterima oleh masyarakat dan berhasil menekan prevalensi
Gaki. Kemudian teknologi sederhana ini disampaikan kepada
Departemen Kesehatan untuk dilaksanakan terutama di propinsi
dengan prevalensi Gaki tinggi.
Dalam fase pelaksanaan Departemen Kesehatan Thailand
mengintegrasikan kegiatan iodisasi air minum ke dalam sistem
pelayanan keshatan masyarakat utama (primary health care).
Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dalam fase ini termasuk
membentuk tim kerja, lokakarya dan seminar, latihan petugas,
penyuluhan masyarakat, dan pelaksanaan iodisasi air minum.
Pembentukan tim kerja di berbagai jaringan pelayanan kesehatan
tingkat pusat, propinsi, distrik, subdistrik, desa dan masyarakat.
Tim kerja langsung berada di dalam unit organisasi yang ada
sehingga tidak membentuk organisasi baru. Setiap tim memiliki
tugas dan tanggung jawab yang jelas dalam menanggulangi
masalah Gaki. Lokakarya dan seminar bertujuan untuk memberi-
tahukan berbagai pihak termasuk para pengambil keputusan,
petugas kesehatan dan pimpinan masyarakat bahwa masalah.
Gaki cukup serius, teknologi penanggulangan tersedia sehingga
perlu mendapat prioritas.
Dengan cara demikian maka mudah diperoleh komitmen
para pengambil keputusan dari berbagai pihak. Latihan petugas
dilakukan di tiap tingkatan mulai dari pusat sampai daerah sesuai
dengan tingkatan tugas masing-masing. Petugas propinsi mem-
peroleh latihan dalam pengelolaan kegiatan di tingkat propinsi,
petugas distrik memperoleh latihan dalam pengelolaan kegiatan
di tingkat distrik, petugas subdistrik memperoleh latihan dalam
pengelolaan kegiatan di tingkat subdistrik, petugas desa mem-
peroleh latihan dalam pengelolaan di tingkat desa.
Penyuluhan dilakukan secara menyeluruh mulai dari tingkat
pengambil keputusan sampai dengan masyarakat. Penyuluhan
menggunakan berbagai macam media seperti televisi, radio,
surat kabar, majalah, ceramah, kunjungan rumah, poster, leaflet
dan media lain. Penyuluhan di setiap propinsi dilakukan secara
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991 43
terencana, intensif dan terus menerus.
Pelaksanaan iodisasi air minum dilakukan di sekolah-
sekolah dasar dan masyarakat. Guru mengikuti seminar, mem-
peroleh penerangan dan latihan dalam iodisasi air minum. Anak
sekolah memperoleh pendidikan dan penerangan sehingga
dengan sadar bersedia minum air yang telah mengandung
iodium. Anak sekolah di setiap sekolah diharuskan minum air
yang disediakan dan telah memperoleh iodium sekurang-
kurangnya 2 kali yaitu pada waktu akan masuk sekolah dan
waktu istirahat. Kader desa (village health volunteer) memberi
penyuluhan dan melatih komunikator desa mengenai kegiatan
iodisasi air minum. Komunikator desa memberi penyuluhan dan
melatih ibu rumah tangga melaksanakan iodisasi air minum
untuk masing-masing keluarganya. Kemudian diadakan bim-
bingan dan supervisi terhadap kegiatan yang dilaksanakan oleh
masing-masing tingkatan secara hirarkis dan rujukan.
Laporan kegiatan dilaksanakan mengikuti sistem pelaporan
yang telah dikembangkan dalam memberikan pelayanan kese-
hatan. Guru mengamati perkembangan Gaki pada anak sekolah
dan melaporkan kepada petugas kesehatan di sekolah. Petugas
kesehatan menggunakan formulir laporan meneruskan kepada
pusat kesehatan pembantu (village health station). Komunikator
desa mengamati kejadian dan kegiatan kesehatan di 10 rumah
tangga, kemudian melaporkan kepada kader desa dengan for-
mulir mingguan. Kader desa melaporkan kepada puskesmas
pembantu melalui formulir laporan. Puskesmas pembantu
mengadakan kompilasi, rekapitulasi dan melaporkan kepada
puskesmas. Laporan dari sekolah dan masyarakat yang telah
melalui puskesmas pembantu, dianalisis sederhana kemudian
diteruskan ke puskesmas. Hasil analisis ini diteruskan ke Dinas
Kesehatan Distrik untuk dianalisis lebih lanjut dan diinterpre-
tasi. Hasil ini kemudian diteruskan ke Dinas Kesehatan Propinsi
dan selanjutnya ke Bagian Gizi di Departemen Kesehatan. Pe-
nilaian laporan ini selanjutnya digunakan untuk memperbaiki
kegiatan program lebih lanjut. Selain itu juga dilakukan survai
Gaki nasional pada anak sekolah untuk menilai kemajuan pro-
gram penanggulangan Gaki.
HASIL
Dewasa ini kombinasi program distribusi garam beriodium
dengan iodisasi air minum masih dilaksanakan secara terbatas di
beberapa propinsi. Hasil secara keseluruhan belum dilaporkan,
akan tetapi data dari laporan maupun survai nasional yang telah
dilakukan memberikan indikasi berhasilnya program penanggu-
langan Gaki di berbagai propinsi. Departemen Kesehatan Thai-
land melaporkan hasil survai dari 90 sekolah di 15 propinsi;
diperoleh angka prevalensi Gaki bervaniasi antara 3,1% sd.
49,8%. Beberapa propinsi yang semula prevalensi tinggi telah
mengalami penurunan (tabel 1).
Dewasa ini pemerintah Thailand melalui Departemen Ke-
sehatan masih melaksanakan program penanggulangan Gaki di
berbagai propinsi. Program Gaki secara nasional telah direnca-
nakan dalam program pembangunan nasional sosial ekonomi
yang ke enam dengan sasaran menurunkan prevalensi di 15
Tabel 1. Prevalensi (%) Gaki di beberapa propinsi di Thailand sebelum
dan sesudah kombinasi program garam beriodium dan lodisasi
air minum
Prevalensi ( % )
Propinsi
(Thailand)
1988 1990
Penurunan (%)
Pat 70,5
12,0
82,9
Pitsanuloke 59,8 9,4
84,3
Kampangpet
54,3 3,1
94,3
Petchaboon 45,9 5,2
88,7
Loei 41,0
10,9
73,4
Lampang 32,2
20,0
37,9
Phrae 20,6
9,0
56,3
Chiangrae 69,3
49,8
39,2
Nan 18,3
12,0
34,4
propinsi sampai mencapai kurang dari 10% pada akhir tahun
1993.
PEMBAHASAN
Mengamati kegiatan penanggulangan Gaki di tingkat pusat
dan beberapa propinsi di Thailand, dapat diperoleh gambaran
faktor yang melatarbelakangi indikasi berhasilnya program pe-
nanggulangan Gaki. Faktor tersebut antara lain adalah komitmen
pimpinan berbagai sektor yang sangat tinggi, organisasi sistem
pelayanan kesehatan primer yang dapat mendukung pelaksana-
an kegiatan program, koordinasi serta kerjasama dari berbagai
pihak yang sangat baik, penyuluhan kesehatan yang efektif dan
partisipasi masyarakat yang tinggi.
Pimpinan berbagai departemen termasuk Departemen Pen-
didikan, Dalam Negeri dan Kesehatan dari mulai tingkat ke-
bijaksanaan sampai dengan tingkat pelaksana sangat mendukung
terselenggaranya kegiatan program. Organisasi sistem pelayan-
an kesehatan secara hirarkis dan rujukan mampu memberikan
pelayanan kesehatan termasuk iodisasi air minum sampai rumah
tangga. Dinas Kesehatan Distrik dipimpin oleh seorang para-
medis senior dan bertanggung jawab atas peningkatan kesehatan
masyarakat melalui puskesmas, puskesmas pembantu, kader
desa dan komunikator. Rumah Sakit Distrik dipimpin oleh se-
orang dokter dan bertanggung jawab memberikan pelayanan
kuratif serta rehabilitatif melalui sistem rujukan dari puskesmas,
puskesmas pembantu, kader desa dan komunikator. Di Distrik
dibentuk tim kerja yang bertanggung jawab atas program Gaki di
wilayahnya dan dipimpin oleh paramedik dari Dinas Kesehatan
Distrik atau dokter dari rumah sakit secara bergantian setiap dua
tahun sekali. Koordinasi dan kerjasama antara tenaga Dinas
Kesehatan Distrik, rumah sakit dan masyarakat sangat baik se-
hingga kegiatan iodisasi air minum dapat terintegrasi dengan
baik dan dapat disampaikan pada masyarakat melalui kader desa
dan komunikator dengan bimbingan dan supervisi dari petugas
kesehatan.
Penyuluhan penanggulangan Gaki diintegrasikan ke dalam
berbagai kegiatan kesehatan lain dan dilakukan secara intensif.
Bagian Pendidikan Kesehatan di Dinas Kesehatan Propinsi
menyelenggarakan siaran radio mengenai penanggulangan Gaki
setiap 2 minggu sekali, bersama staf Dinas Kesehatan Distrik
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 73, 1991
44
mengadakan penyuluhan rutin ke desa-desa menggunakan mo-
bil unit yang dilengkapi film, video dan alat peraga lain. Kader
desa melaksanakan penyuluhan dari kampung ke kampung dan
komunikator melaksanakan penyuluhan dari rumah ke rumah.
Proses penyuluhan memerlukan waktu yang relatif lama untuk
dapat meningkatkan kesadaran dan perilaku masyarakat.
Dengan demikian pelayanan kesehatan termasuk teknologi
iodisasi air minum dari tingkat pusat dapat disampaikan ke
masyarakat melalui sistem rujukan sampai ke rumah-rumah.
Sistem pelayanan kesehatan primer di Indonesia agak ber-
beda karena menggunakan jaring-jaring pos pelayanan terpadu
(posyandu) sebagai tempat mempertemukan pelayanan ke-
sehatan dan kebutuhan masyarakat atas pelayanan kesehatan.
Sistem pelayanan semacam ini kurang menjamin tercapainya
cakupan pelayanan yang luas karena masih dibutuhkan jarak
untuk mencapai rumah tangga. Dalam pengetrapan teknologi
iodisasi air minum perlu dipikirkan adanya sistem pelayanan
kesehatan primer seperti yang dilakukan oleh kader desa dan
komunikator. Konsep kader desa telah banyak dilakukan, dan
komunikator dapat menggunakan tenaga PKK atau dasa wisma.
Pemanfaatan kedua macam tenaga sukarela sudah banyak di-
kembangkan oleh berbagai program kesehatan sehingga mem-
berikan harapan untuk dikembangkan dalam program iodisasi air
minum.
Kegiatan penyuluhan kesehatan termasuk iodisasi air
minum yang sangat efektif mampu memberikan pengertian dan
kesadaran masyarakat mengenai bahaya Gaki dalam waktu yang
relatif singkat. Melalui pengertian dan kesadaran ini mereka
kemudian memberikan komitmen dan partisipasi untuk me-
lakukan kebiasaan menggunakan garam beriodium dan melaku-
kan iodisasi air minum. Dengan demikian masyarakat dapat
secara aktif berpartisipasi menanggulangi Gaki yang selama ini
menjadi masalah kesehatan masyarakat. Partisipasi masyarakat
a
yang tinggi merupakan faktor mama yang menentukan ber-
hasilnya berbagai program kesehatan termasuk penanggulangan
Gaki.
KESIMPULAN
Dewasa ini Gaki merupakan salah satu masalah kesehatan
masyarakat yang masih belum dapat ditanggulangi dengan
efektif di Thailand. Upaya penangglangan Gaki melalui
kombinasi program distribusi garam beriodium dan iodisasi air
minum secara bertahap dilakukan di beberapa propinsi sejak
tahun 1986. Departemen Kesehatan Thailand melaporkan bahwa
pada tahun 1990 dari beberapa propinsi mengalami penurunan
antara 34,4 -- 94,3% prevalensi Gaki anak sekolah. Program ini
masih dilaksanakan di 15 propinsi di wilayah bagian utara dan
timur laut, dan ditargetkan prevalensi menjadi kurang dari 10%
dalam tahun 1993.
Beberapa faktor yang melatar belakangi keberhasilan pro-
gram tersebut antara lain komitmen pimpinan yang kuat, organi-
sasi pelayanan kesehatan yang mendukung kegiatan program,
koordinasi dan kerjasama antar sektor yang baik, penyuluhan
kesehatan yang efektif dan partisipasi masyarakat yang tinggi.
Iodisasi air minum merupakan teknologi sederhana yang dapat
mendukung program penanggulangan Gaki melalui distribusi
garam beriodium. Oleh karena itu kemungkinan pengetrapan
kombinasi iodisasi air minum dan distribusi garam beriodium di
Indonesia merupakan strategi yang dapat diterapkan dalam
menanggulangi masalah Gaki.
KEPUSTAKAAN
1. Nutrition Division, Department of Health Ministry of Public Health. The
National IDD Control Project 1989 -- 1992; 1990: 1--7.
2. Suwanik R et al. Simple technology provides effective IDD control at the
village level. IDD Newsletter 1989; 5(3): 2--11.