background image
Pemantauan Efek Samping Obat
Rozalmah Zain Hamid
Laboratorium Farmakologi f akultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara,
Medan
ABSTRAK
Efek samping obat (ESO) sering merupakan kejadian yang menyertai terapi obat,
dan lebih mungkin terlihat bila pemakaian obat sudah meluas. Namun yang menjadi
masalah utama adalah pelaporan ESO yang sangat sedikit (±10%). Padahal pemantauan
Efek Samping Obat adalah tanggung jawab kita bersama, yang sangat memerlukan
perhatian dan keterlibatan banyak unsur di dalam masyarakat, dan diharapkan dapat
berlangsung secara tents menerus. Dengan demikian kejadiannya dapat ditekan sekecil
mungkin, dan terulangnya kasus yang sama dapat dihindari.
Pada makalah ini dikemukakan berbagai cara pemantauan ESO, dan langkah-
langkah yang diambil untuk mengenal dan mcnctapkan ESO, serta tata organisasi
pemantauannya. Untuk memudahkan pclaporannya, seyogyanya pelaporan ESO di-
lakukan tanpa mekanisme formal. Namun untuk menetapkan penyebab ESO, diperlukan
suatu pendekatan formal, artinya hal-hal/kondisi yang mempengaruhi timbulnya ESO
harus ditentukan lebih dahulu dan dib,ikukan, schingga faktor subycktivitas dapat
dihindarkan. Kemudian dapat disajikan sebagai patokan praktis dalam menetapkan
hubungan sebab-akibat suatu ESO. Selain itu penerangan dan pendidikan bagi masya-
rakat awam perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran bahwa obat bukan hanya
untuk mengobati penyakit saja, tetapi dapat pula menimbulkan efek samping yang
berbahaya.
PENDAHULUAN
Efek samping obat (ESC)) sering merupakan kejadian yang
menyertai terapi obat. ESO yang tidak terdeteksi pada uji awal,.
mungkin terlihat bila pemakaiannya sudah Icbih Iuas. Namun
yang menjadi masalab utama adalah pelaporan ESO yang
sangat sedikit (± 10%)
o
). Hal ini mungkin disebabkan olch
ketidakmengertian tentang apa yang harus dilaporkan dan
keraguan dalam mengambil keputusan bahwa suatu obat adalah
penyebab efek samping yang terjadi, olch karena banyaknya
obat yang . dipakai sekaligus. Akan lebih sulit lagi, bila efek
samping baru timbal jauh/lama setelah pemberian obat.
Berjuta resep yang dituliskan setiap tahun, menggambarkan
besarnya jumlah populasi pemakai obat. Kondisi ini akan me-
ningkatkan timbulnya ESO. Namun nyatanya pelaporan ESO
sangat sedikit karena berbagai sebab di atas.
Beberapa ESO yang telah diketahui akibat pemberian suatu
obat antara lain: timbulnya anafilaksis pada pemakaian zome-
pirak
(2)
, anemia aplastik pada pemakaian kloramfenikol
(3)
, dan
kolitis psedomembranosa pada pemakaian linkomisin
(4)
. Untuk
itu, pengamatan terhadap timbulnya ESO sangat dibutuhkan
agar kejadiannya dapat ditekan sekecil mungkin, dan terulang-
nya kasus yang sama dapat dihindari. Untuk pemahaman lebih
lanjut, akan divaaikan faktor-faktor yang berperan dalam pe-
mantauan ESO ini.
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992 41
background image
USAHA-USAHA YANG DILAKUKAN PADA PEMAN-
TAUAN ESO
Informasi tentang suatu obat dimulai dari data pada hewan
coba, data toksikologi dan lain sebagainya.
Sebelum dipasarkan, obat terlebih dahulu hams melalui
suatu uji klinik yang baik untuk membuktikan kegunaan dan
keamanannya. Namun usaha ini belum dapat menjamin ke-
amanan that sepenuhnya, karena jumlah subyek yang diamati
relatif sedikit. Di samping itu pada uji awal, pasien sudah
diseleksi dengan cermat sehingga kerap kali kondisinya tidak
lagi seperti yang didapat pada praktek klinik yang
lazim/normal. Setiap gejala yang merugikan hams dicatat, agar
dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan pada waktu yang
akan datang. Oleh karena itu, setelah obat dipasarkan perlu
pemantauan berkelanjutan dengan jumlah subyek yang lebih
banyak, waktu yang lebih panjang, dan populasi pemakai obat
yang lebih bervariasi (ibu hamil, anak-anak, orang tua, dan
orang-orang dengan penyakit tertentu).
Usaha lain yang dapat dilakukan untuk pemantauan ESO
adalah dengan mengamati kembali sertifikat kematian dan
catatan-catatan lain di rumah sakit. Dari data ini dapat
diketahui kecenderungan timbulnya suatu penyakit yang
berkaitan dengan obat. Salah satu contoh adalah, meningkatnya
angka kematian pada penderita asma muda pada pertengahan
tahun 60-an yang terutama disebabkan oleh terlalu banyaknya
penggunaan inhalasi obat bronkodilator yang bukan P-agonis
spesifik
o
). Juga kecenderungan timbulnya ESO pada kelompok
pasien tertentu, seperti timbulnya anemia aplastik oleh
fenilbutazon pada wanita tua
(s
). Namun data rumah sakit saja
tidaklah cukup sebagai sumber informasi, oleh karena itu masih
terus dilakukan usaha agar hasil yang diperoleh benar-benar
merupakan sesuatu yang dapat dipertanggung jawabkan.
Cam lain yang dipakai adalah dengan record linkage. Cam
ini merupakan proyek jangka panjang. Namun dapat meng-
hasilkan sesuatu yang penting dan berguna dalam menentukan
penyebab ESO yang lebih pasti. Catatan medis dari rumah sakit
maupun praktek pribadi dicatat dan dianalisis mulai dari awal
penyakit sampai pada kematian penderita. Metode ini khusus-
nya dapat digunakan untuk menemukan penyebab penyakit
jangka panjang baik yang disebabkan oleh that atau faktor lain,
seperti timbulnya adenokarsinoma vagina dan serviks pada wa-
nita dewasa, yang pada saat dalam kandungan, ibunya
mendapat stilbestrol
(1)
. Pemastian hubungan sebab-akibat
dilakukan dengan cara :
a)
pemantauan berkelanjutan terhadap individu yang diberi
suatu obat, untuk menentukan efek samping yang berkaitan
dengan obat tersebut.
b)
memperhatikan pasien dengan penyakit khusus yang men-
dapat obat tertentu. Ini lebih mudah dilakukan karena lazimnya
dokter memilah-milah penderita berdasarkan penyakit yang
diderita, bukan berdasarkan obat yang diberikan kepada pasien-
nya. Misalnya untuk mengetahui efek samping pemberian
fenitoin, maka dikumpulkan data dari penderita epilepsi. Dari
pemantauan seperti inilah didapatkan bukti bahwa fenitoin yang
diberikan kepada wanita penderita epilepsi yang sedang hamil
dapat menimbulkan malformasi pada bayi yang dilahirkan-
nya
(1)
.
Gambar 1. Skema langkah-Iangkah untuk mengenal dan menetapkan
ESO
(6)
.
Langkah-Iangkah untuk Mengenal dan Menetapkan ESO
Salah satu kesulitan dalam pemantauan ESO adalah bila
ESO itu jarang sekali terjadi. Naniun jalan keluarnya adalah
dengan melakukan studi kontrol, yaitu dengan membandingkan
kelompok penderita yang mengalami gejala-gejala efek samping
tertentu dengan kelompok kontrol yang dipapari oleh faktor/
obat yang sama. Dengan cara inilah diketahul hubungan timbul-
nya kolitis psedomembranosa dengan pemakalan linitomiain
(4)
.
Cara ini cukup baik dikembangkan untuk penntantauan efek
samping yang ditimbulkan oleh suatu obat. Namun kesalahan
dapat timbul karena seleksi kelompok penderita mauplift ke-
lompok kontrol tidak dilaksanakan dengan baik.
Masih ada cam lain untuk memantau ESO, yaitu peman-
tauan intensif. Pengumpulan informasi rumah sakit yang me-
liputi latar belakang informasi (umur, berat/tinggi badan, dan
lain-lain), riwayat penyakit, obat yang diberikan, ESO, per-
ubahan nilai uji laboratorium selama di rumah sakit. Pemantauan
ini dilakukan terhadap obat yang diduga sebagai penyebab efek
samping, berdasarkan deteksi sederhana dan lttperan kasus di
majalah kedokteran. Bila insidens suatu ESO tinggi, seperti
perdarahan saluran cerna pada pemberian asam etakrinat (se-
besar 20% dibanding4,3% akibatpemberian diuretik lain), maka
kemungkinan timbulnya bias menjadi lebih kecil. Dengan cara
ini pula ditemukan faktor risiko untuk terjadinya efek samping
asam etakrinat, misalnya jenis kelamin wanita, kadar urea darah
yang tinggi, pemberian heparin sebelumnya, dan pemberian
obat secara i.v. Cara ini juga dapat menentukan asosiasi negntif,
artinya menyangkal adanya hubungan antara timbulnya suatu
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
42
background image
turut berpartisipasi dalam pemantauan ESO, antara lain dengan
mengisi daftar pertanyaan. Daftar pertanyaan ini diberikan
kepada penderita yang berobat jalan, misalnya pada penderita
hipertensi dan diabetes melitus. Penderita diharuskan mencatat
semua gejala yang dirasakannya pada pemakaian suatu obat.
Cara ini dapat juga dipakai untuk membuktikan bahwa suatu
that ternyata tidak memberikan efek samping seperti yang di-
duga sebelumnya.
Di samping itu berdacarkan keluhan penderita, dapat di-
duga obat apa kira-kira yang diperolehnya, sehingga dapat
dihubungkan dengan ESO yang timbul. Bila pemaparan obat
dengan reaksi yang timbul sering bersamaan, dapat dipastikan
bahwa obat inilah sebagai penyebab ESO tersebut. Contoh
untuk ini adalah obat doksilamin piridoksin (Bendectin) yang
luas digunakan pada ibu hamil, ternyata banyak menimbulkan
kelainan kongenital
(10)
.
UMPAN BALIK
ESO dapat dilaporkan kepada badan khusus yang me-
nangani masalah ini, dan selanjutnya akan dipublikasi pada
media khusus. Namun karena segala keterbatasan yang ada,
dan nap dokter mungkin mendapatkan media informasi yang
berbeda-beda, maka alangkah baiknya bila media informasi
kedokteran seperti majalah/jurnal menyediakan suatu rubrik
khusus untuk masalah ESO ini, sehingga penyampaian dan
penyebaran informasi lebih luas cakupannya.
Data ESO ini penting diinformasikan kepada dokter agar
lebih berhati-hati dalam memberikan obat kepada pasiennya.
Selma ini umumnya dokter hanya mendapat informasi dari
pabrik penghasil obat tersebut, yang seringkali kurang lugas
mengemukakan hal-hal yang bersifat negatif. Untuk itu sudah
sepatutnyalah pihak-pihak yang berwenang dapat menerima
laporan ESO tanpa suatu mekanisme formal. Data dari laporan
ini dicatat, dikumpulkan, dan dibuktikan lebih lanjut melalui
penelitian-penelitian dengan metodologi yang mapan, serta di-
evaluasi kembali. Setelah dibuktikan bahwa suatu that adalah
penyebab suatu ESO, dapat dilakukan beberapa usaha untuk
memperkecil kemungkinan terulangnya kejadian tersebut
antara lain dengan :
1.
Menuliskan informasi tentang ESO secara lugas dan jelas
pada bungkus obat sebagai peringatan dalam pemakaian-
nya
(11)
.
2.
Membatasi persediaan that tersebut di pasaran, seperti yang
dilakukan terhadap zomepirak
3.
Meninjau kembali pengadaan obat tersebut
4.
Menyediakan obat altematif yang relatif lebih aman.
RANGKUMAN
Biasanya, sangkaan terhadap penyebab ESO berasal dari
laporan kasus individu jauh sebelum pengamatan epidemiologis
dilakukan. Jadi bila dari laporan kasus tersebut timbul
sangkaan yang kuat terhadap tirnbulnya ESO, maka perlu
dilakukan pengamatan epidemiologis selanjutnya. Bila secara
epidemiologis insiden ESO tinggi pada kelompok orang yang
mendapat obat tertentu, kemungkinan adanya hubungan antara
obat tersebut dengan efek samping yang timbul menjadi kuat.
Penafsiran hubungan sebab-akibat sebagai faktor yang ber-
peran dalam memecahkan masalah keamanan obat masih me-
rupakan faktor yang sangat kontroversial, karena pengambilan
keputusan medis sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan
pengetahuan dokter bersangkutan. Ketidaksepakatan para ahli
dalam menentukan penyebab suatu ESO banyak terlihat di
berbagai publilcasi. Untuk itu sangat diperlukan pendekatan
formal, artinya hal-hal/kondisi yang mempengaruhi timbulnya
ESO harus ditentukan lebih dahulu dan dibakukan, sehingga
faktor subyektivitas dapat dihindarkan. Kemudian baru dapat
disajikan patokan praktis dalam menetapkan hubungan sebab-
akibat suatu ESO.
Akhimya penerangan dan pendidikan bagi masyarakat
awam perlu dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran
bahwa obat bukan hanya untuk mengobati penyakit saja, tetapi
dapat pula menimbulkan efek samping yang berbahaya.
KEPUSTAKAAN
1.
Gillies HC, Rogers HJ, Spector RG, Trounce JR. Adverse reaction
monitoring. In: A Textbook of Clinical Pharmacology 2nd. London
Sydney Auckland Toronto: Hodder and Stoughton. 1986. pp 181-9.
2.
Drug Surveillance Research Unit, University of Southampton. Sensitivity
reaction with Zomax. PEM News 1984; 2: 9.
3.
Erslev AJ, Wintrobe MM. Detection and prevention of drug-induced blood
dyserasias. JAMA 1962; 181: 114-9.
4.
Venting GR. Identification of adverse reactions to new drugs I. What have
been the important adverse reactions since thalidomide? Br Med J 1983;
286: 199-202.
5.
Inman WHW. Study of fatal bone marrow depression with special
reference to phenylbutazone and oxyphenazone. Br Med J 1977; 1:
1500-5.
6.
Venulet J. Some aspect of drug monitoring. In. Adv. Drug React. Ac. Rev
1985; 3: 161-75.
7.
Bergman U, Boman G, Wiholm B-E. Epidemiology of adverse drug
reactions to phenformin and metformin. Br Med J 1978; 2: 464-6.
8.
Johnson FL,' Feagler JR, Lerner KG, et al. Association of androgenic
anabolic steroid therapy with development of hepatocellular carcinoma.
Lancet 1972; 2: 1273-6.
9.
Zimmerman HJ, Lewis JH, Ishak KG, Maddrey WC. Ticrynafen-
associated hepatif injury: analysis of 340 cases. Hepatology 1984; 4:
315-23.
10.
Onne ML'E. The Debendox saga. Br Med J 1985; 291: 918-9.
11.
Rossi AC, Knapp DE, Anello C, et al. Discovery of adverse drug re-
actions : a comparison of selected phase IV studies with spontaneous
repotting methods. JAMA 193?; 249: 2226-8
Cermin Dunia Kedokteran No. 76, 1992
44