TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Pemakaian Antibiotika Topikal
Pada Otitis Media Supuratif Kronik
Jinak Aktif
Ramsi Lutan, Farid Wajdi
Bagian Telinga, Hidung dan Tenggorokan-Kl, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit H. Adam Malik, Medan, Sumatera Utara, Indonesia
ABSTRAK
Dalam pengobatan kasus otitis media supuratif kronis (OMSK) jinak aktif, prinsip
terapi yang dianjurkan adalah pembersihan lokal kavum timpani dan liang telinga luar
disertai pemberian antibiotika lokal berupa tetes telinga yang rasional. Mikroorganisme
penyebab terbanyak adalah P. aeruginosa, P. mirabilis dan S. aureus, yang tidak
sensitif lagi dengan pemberian kloramfenikol dan gentamisin tetes telinga. Preparat
terbaru yang tersedia adalah antibiotika tetes telinga ofloksasin 0,3% yang kelihatan
efektif melawan mikroorganisme penyebab OMSK.
PENDAHULUAN
Infeksi kronis telinga tengah atau Otitis Media Supuratif
Kronis (OMSK) adalah keluarnya sekret dari telinga tengah,
menetap atau berulang dengan perforasi membrana timpani dan
biasanya diikuti oleh penurunan pendengaran dalam beberapa
tingkatan
(1)
.
Infeksi kronis telinga tengah cenderung disertai sekret
purulen. Proses infeksi ini sering disebabkan oleh campuran
mikroorganisme aerobik dan anaerobik yang multiresisten ter-
hadap standar yang ada saat ini. Kuman penyebab yang sering
dijumpai pada OMSK ialah Pseudomonas aeruginosa sekitar
50%, Proteus sp. 20% dan Staphylococcus aureus 25%.
(1,2)
Penyakit ini sangat mengganggu dan sering menyulitkan
baik dokter maupun pasiennya sendiri. Perjalanan penyakit
yang panjang, terputusnya terapi, terlambatnya pengobatan
spesialis THT dan sosioekonomi yang rendah membuat penata-
laksanaan penyakit ini tetap menjadi problem di bidang THT
(3)
.
Antibiotika merupakan salah satu medikamentosa yang
telah digunakan untuk pengobatan OMSK sejak dulu. Namun
demikian sampai saat ini masih terdapat perbedaan persepsi
mengenai manfaat antibiotika, baik yang diberikan secara topi-
kal maupun sistemik
(4)
.
Antibiotik topikal
Ada dua pertimbangan dasar pemilihan antibiotika pada
penanganan otitis media kronis yaitu:
1.
Dapat terdistribusi dengan baik pada jaringan yang ter-
infeksi; dalam hal ini telinga tengah.
2.
Spektrum yang luas meliputi organisme yang ditemui pada
infeksi telinga
(2)
.
Paad OMSK jinak aktif prinsip terapi yang dianjurkan
adalah pembersihan secara lokal kavum timpani dan liang
telinga luar disertai pemberian obat lokal berupa antibiotik tetes
telinga
(5)
. Pemberian antibiotika topikal jauh lebih baik diban-
ding pemberian secara oral karena dalam waktu singkat sudah
ditemui dengan konsentrasi tinggi pada mukus dan debris di
telinga tengah
(6)
. Keluarnya sekret menandakan adanya perfo-
rasi membrana timpani, oleh karena itu penggunaan antibiotik
topikal menjadi praktis dan bermanfaat
(7)
.
Ada beberapa pendapat mengenai penggunaan antibiotika
topikal untuk OMSK.
Riff menganjurkan irigasi dengan garam faal agar ling-
kungan bersifat lebih asam dan merupakan media buruk untuk
tumbuh kuman. Selain itu dikatakan bahwa tempat infeksi pada
OMSK sulit dicapai oleh antibiotika topikal
(4)
.
Djaafar dan Gitowirjono menggunakan antibiotika topikal
sesudah irigasi sekret profus dengan hasil yang cukup memuas-
kan, kecuali kasus dengan jaringan patologis yang menetap
pada telinga tengah dan mastoid
(4)
.
Naser Aminifarshhidmehr (1996) dari Kuwait melaporkan
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001 41
Podoshin, Fradis dan Ben David (1989) pada penelitiannya
menganjurkan untuk tidak memberikan gentamisin dan amino-
glikosida tetes telinga lainnya untuk penanganan OMSK jangka
panjang
(6)
.
irigasi asamasetat 2% menyebabkan keringnya sekret telinga
pada 74 penderita OMSK (77%) dan pada 19 orang di antara-
nya (19%) perforasi membrana timpani menutup secara
spontan
(3)
.
Supaya didapatkan hasil yang efektif, larutan yang diper-
gunakan harus dilarutkan dalam cairan higroskopik; propylene
glycol adalah yang terbaik untuk keperluan ini
(7)
.
Mengingat pemberian obat topikal dimaksudkan agar
masuk sampai ke telinga tengah, maka tidak dianjurkan meng-
gunakan antibiotika yang ototoksik dan lamanya tidak lebih
dari satu minggu. Cara pemilihan antibiotika yang paling baik
ialah berdasarkan kultur kuman penyebab dan uji resistensi
(4)
.
Preparat antibiotika topikal untuk infeksi telinga tersedia
dalam bentuk tetes telinga dan mengandung antibiotika tunggal
atau antibiotika dalam kombinasi, jika perlu ditambahkan kor-
tikosteroid untuk mengatasi manifestasi alergi lokal
(4,7)
.
Antibiotika topikal yang sering digunakan untuk peng-
obatan OMSK adalah:
4) Ofloksasin
Merupakan derivat quinolon; sediaan yang terdapat di
pasaran adalah berupa otic solution 0,3%. Pada penelitian se-
cara in vitro ofloksasin mempunyai aktivitas yang kuat untuk
bakteri Gram negatif dan Gram positif dan bekerja dengan cara
menghambat enzim DNA gyrase. DNA gyrase adalah suatu
enzim yang berperan dalam mengontrol topologi DNA dan
replikasi DNA sehingga sintesis DNA dari kuman akan ter-
hambat
(8)
.
Ofloksasin efektif terhadap kuman aerob Gram positif se-
perti Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumonia ser-
ta untuk kuman aerob Gram negatif seperti H. influenza, M.
catarrhalis, P. mirabilis dan P. aeruginosa
(8)
.
Konsentrasi ofloksasin ditemukan cukup tinggi di mukosa
telinga tengah. Pada penderita OMSK dengan perforasi mem-
brana timpani, konsentrasi tinggi ofloksasin telah ditemukan 30
menit setelah pemberian solusio ofloksasin 0,3%
(8)
.
1) Kloramfenikol
Losin et. al (1983) melakukan penelitian pada 30 penderita
OMSK jinak aktif mendapatkan bahwa sensitifitas kloram-
fenikol terhadap masing-masing kuman adalah sebagai berikut:
Bacteroides sp. (90%), Proteus sp. (73,33%), Bacillus sp.
(62,23%), Staphylococcus sp. (60%), dan Pseudomonas sp.
(14,23%). Amadasun (1991) melakukan penelitian pada pen-
derita OMSK jinak aktif yang tidak sembuh mendapatkan bah-
wa kloramfenikol tidak efektif terhadap kuman Gram negatif
terutama Pseudomonas sp. dan Proteus sp. Penelitian tersebut
menunjukkan sensitifitas kedua kuman tersebut yang dominan
pada OMSK jinak aktif terhadap khloramfenikol sebesar 16%
dibanding gentamisin sebesar 28%
(5)
.
Antibiotika topikal golongan kuinolon yang lain adalah
siprofloksasin 0,3%, penelitian Utji (1999) mendapatkan bahwa
pemakaian tetes 0,3% siprofloksasin pada penderita OMSK
lebih berhasil guna dan lebih murah dibanding pemakaian tetes
telinga kloramfenikol, dan tidak dijumpai efek ototoksik
(5)
.
Keuntungan lain pemakaian tetes telinga dari golongan
kuinolon adalah dapat diberikan secara tunggal tanpa antibiotik
oral dan dosis pemberian 2 kali sehari memungkinkan pasien
merasa nyaman tanpa mengganggu aktifitas kerja maupun
sekolah
(8)
.
2) Polimiksin B atau Polimiksin E
Obat ini bersifat bekterisid terhadap kuman Gram negatif,
Pseudomonas, E. coli, Klebsiella dan Enterobakter tetapi tidak
efektif (resisten) terhadap kuman Gram positif seperti Proteus
dan B. fragilis dan toksik terhadap ginjal dan susunan saraf
(6)
.
KEPUSTAKAAN
1.
Colman BH, Hall SI. Chronic Otitis Media, Diseases of The Nose, Throat
and Ear, 13
th
ed, Churchill Livingstone, 1987; 315-20.
2.
Legent F. Bordure PH, Beauvillain, Berche P. Controlled Prospective
Study of Oral Ciprofloxacin versus Amoxycillin/Clavulanic Acid In
Chronic Suppurative Otitis Media In Adults, Chemotherapy, Karget
Medical and Scientific Publ, 1994; 40 : 16-23.
3) Gentamisin
Gentamisin adalah antibiotika derivat aminoglikosida
dengan spektrum yang luas dan aktif untuk melawan organisme
Gram positif dan Gram negatif termasuk Pseudomonas sp.,
Proteus sp. dan Staphylococcus sp
(6)
. Pemberian jangka pendek
gentamisin 0,3% secara tunggal tanpa kombinasi di samping
biayanya murah juga sangat efektif untuk melawan organisme
berspektrum luas terutama Pseudomonas aeruginosa.
(6)
Penam-
bahan steroid akan menyebabkan peningkatan biaya dua kali
lipat. Penelitian Browning, Gatehouse and Calder (1988) men-
dapatkan bahwa penambahan steroid pada tetes telinga
gentamisin 0,3% tidak meningkatkan efektivitasnya, hasilnya
tidak lebih baik dari plasebo
(6)
. Salah satu bahaya dari pem-
berian gentamisin tetes telinga adalah kemungkinan terjadinya
kerusakan telinga dalam. Telah diketahui bahwa pemberian
gentamisin secara sistemik akan menyebabkan efek oto-
toksik
(4)
.
3.
Aminifarshidmehr N. The Management of Chronic Suppurative Otitis
Media with Acid Media Solution, Am. Otol 1996; 17: 24-5.
4.
Istiantoro YH. Penggunaan Antibiotik pada Otitis Media Supuratif
kronik, Pengobatan Non Opratif Otitis Media Supuratif, Balai Penerbit
FKUI, Jakarta, 1990; 7-15.
5.
Rianto BUD. Hasil Guna Tetes 0,3% Ciprofloxacin (Baquinor)
Dibanding Tetes Telinga Chloramphenicol Pada Terapi Otitis Media
Kronis Benign Aktif, Bagian THT FK. UGM/RS. Dr. Sardjito,
Yogyakarta, 1999.
6.
Gray RF. Acute and Chronic Suppurative Otitis Media in Children : In
Scott Brown's Otolaryngology, Paediatric Otolaryngology, 6
th
Ed, Vol. 6,
Butterworth-Heinemann, 1997; 6/8/11-6/8/12.
7.
Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher,
Edisi 13, Jilid Dua, Alih Bahasa Staf Ahli bagian THT RSCM-FKUI
Indonesia, Binarupa Aksara, 1997, 401-2.
8.
Lee F. Topical Solution Addresses Parent's Concern With Ear Infections,
Daichii Pharma Corp. 1998; 1-8
Cermin Dunia Kedokteran No. 132, 2001
42