background image
LAPORAN KASUS
Isolated Clitoromegaly
pada Neonatus
sebagai Gejala Awal Sindrom
Hiperplasi Adrenal Kongenital
Charles D. Siregar*, Jose RL Batubara, BambangTrijaya, Aman B Pulungan
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Pusat Dr. Cipto Mangunkusuma Jakarta
*Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit H. Adam Malik, Medan
ABSTRAK
Tanda utama kemungkinan Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) pada bayi baru
lahir adalah ditemukannya ambiguitas genitalia eksterna. Bayi perempuan dengan
HAK dapat mengalami virilisasi genitalia eksternal dalam berbagai tingkat, mulai dari
klitoromegali saja atau fusi parsial labial, hingga fusi lengkap lipatan labioskrotal
disertai klitoromegali hebat dengan pembentukan uretra dalam falus.
Dilaporkan bayi perempuan umur 3 hari, BL 3050 gram, PBL 47 cm dengan
kelainan hanya berupa klitoromegali. Hasil pemeriksaan elektrolilt darah normal, USG
genitalia interna pada usia 4 hari sulit terlihat struktur uterus ataupun ovarium, dan
adrenal normal. Analisis kromosom 46 XX; 17 OH progesteron 2910 mg/dl.
Minggu pertama pengobatan dengan hidrokortison klitoromegali tidak dijumpai
lagi. Hasil uji ACTH: 17 OH Progesteron pada awalnya 24 mg/dl dan 60 menit
kemudian 330 mg/dl. Pasien kontrol teratur sampai usia 17 bulan, TB terakhir 76 cm
(P10 NCHS) dan BB 9700 gram (P10-25 NCHS).
Kesimpulan : Klitoromegali dapat merupakan satu-satunya gejala klinis HAK.
Pada kasus HAK yang dini diobati, tumbuh kembang diharapkan dapat optimal.
PENDAHULUAN
Hiperplasia Adrenal Kongenital (HAK) adalah hiperplasia
jaringan korteks adrenal akibat rangsangan kronik adreno-
corticothropine hormone (ACTH) yang kadarnya dalam darah
meningkat. Peningkatan kadar ACTH merupakan respons tubuh
terhadap kadar kortisol plasma yang rendah akibat kurang atau
tidak adanya aktivitas salah satu dari enzim-enzim pembentuk
kortisol dari kolesterol di korteks adrenal.
(1,2)
Akibat lain dari
kurang atau tidak adanya aktivitas salah satu dari enzim-enzim
pembentuk kortisol ini, yakni tertahannya perubahan ke derivat
normal, pirau ke derivat lainnya menjadi hormon seks, se-
hingga terbentuk androstenedion yang selanjutnya akan
menjadi testosteron dalam jumlah yang berlebihan yang me-
nyebabkan maskulinisasi pada janin perempuan.
(3,4,5)
Ambi-
guitasgenitalia eksterna pada bayi baru lahir merupakan tanda
utama kemungkinan terjadinya HAK.
(4)
Bayi perempuan de-
ngan HAK dapat mengalami virilasi genital eksterna dalam
berbagai tingkat, mulai dari klitoromegali saja atau fusi parsial
labial, hingga fusi lengkap lipatan labioskrotal disertai kli-
toroumegali hebat dengan pembentukan uretra dalam falus.
(1-3)
Tujuan penyajian ini untuk melaporkan 1 kasus Hiper-
plasia Adrenal Kongenital pada neonatus dengan gejala klinis
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 43
background image
hanya berupa klitoromegali saja (= Isolated Clitoromegaly).
LAPORAN KASUS
Seorang anak perempuan berusia 17 bulan, bangsa Indo-
nesia, datang pertama kali ke Poliklinik Endokrinologi Anak
BIKA FK-UI/RSPN-CM pada usia 3 hari. Pasien dirujuk oleh
Dokter Spesialis Anak di Jakarta, untuk evaluasi lanjutan
dengan ambiguous genitalia.
Pasien lahir spontan dari kehamilan cukup bulan, ditolong
oleh Dokter Spesialis Kebidanan di Rumah Sakit, langsung
menangis. Berat badan lahir 3050 gram dan panjang badan lahir
47 cm. Pasien adalah anak ke-4 dari 4 bersaudara, dan tidak ada
anggota keluarga lain baik dari pihak ibu maupun dari pihak
ayah yang mempunyai kelainan seperti ini. Riwayat minum/
makan obat-obatan, jamu ataupun merokok masa harnil
disangkal oleh ibu pasien. Demikian juga riwayat kematian
neonatal dini, serta riwayat kosanguitas antara ayah dan ibu
pasien disangkal.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan seorang bayi perem-
puan, keadaan umum baik, kompos mentis, aktivitas normal,
status gizi cukup, tidak sesak, tidak sianosis. Frekuensi denyut
nadi = frekuensi denyut jantung : 130 x/menit, reguler.
Frekuensi pernafasan 28 x/menit, suhu afebris. Kepala bentuk
normal, ubun-ubun normal, lingkaran kepala 36 cm. Muka
bentuk normal, mata tak ada kelainan, hidung tak ada kelainan,
mulut normal, lidah normal, dagu normal. Leher : tiroid tak
membesar, dan kelenjar getah bening tak teraba. Kulit normal.
Dada simetris normal, frekuensi denyut jantung 130 x/menit,
reguler dan tidak ditemukan bising jantung. Frekuensi per-
nafasan 28 x/menit, dan suara nafas tambahan tidak ditemukan.
Perut lemas, tali pusat belum pupus. Hati dan limpa tak teraba.
Ginjal tak teraba. Ekstremitas atas dan ekstremitas bawah tak
ada kelainan. Pemeriksaan sistem saraf normal. Genitalia eks-
terna : skrotum tidak ada, hiperpigmentasi tidak ada, testes tak
teraba, penis tidak ada, vagina ada, dan klitoris ada 1,5 cm
(klitoromegali).
Ukuran-ukuran badan : panjang badan 50 cm, panjang sim-
fisis-tumit 21 cm, berat badan 3000 gram, panjang kanan=
panjang lengan kiri = 22 cm, panjang rentang tangan 52 cm.
Lingkaran kepala 36 cm, lingkaran dada 33 cm, dan lingkaran
perut 34 cm.
Pasien ini didiagnosis dengan Ambiguous genitalia, dan
diagnosis banding penyebabnya adalah :
1. Hiperplasia adrenal kongenital.
2. Neurofibromatosis.
Direncanakan pemeriksaan analisis kromosom, pemeriksa-
an elektrolit darah yaitu Kalium dan Natrium, pemeriksaan 17
hidroksi progesteron serum, dan pemeriksaan USG genitalia
interna.
Hasil analisis kromosom 46, XX; elektrolit darah: natrium
151 meq/1 dan Kalium 8,4 meq/1; 17 OH Progesteron : 2910
mg/dl. USG genitalia interna : sulit terlihat struktur uterus atau-
pun ovarium dan adrenal normal.
Ditegakkan Diagnosis: Hiperplasia Adrenal Kongenital.
Diberikan pengobatan hidrokortison 3 x 1,5 mg/hari.
Seminggu kemudian pasien datang kembali ke poliklinik
Endokrinologi Anak BIKA FK-UI/RSPN-CM. Pada pemeriksa-
an fisik, keadaan umum baik dan tidak didapatkan adanya
kelainan-kelainan. Genitalia eksterna skrotum tidak ada, hiper-
pigmentasi tidak ada, testes tidak ada, vagina ada, klitoris tidak
besar/telah mengecil. Direncanakan pemeriksaan uji ACTH,
dan pengobatan diteruskan.
Hasil uji ACTH : 17 OH Progesteron pada awalnya 24
mg/dl dan 60 menit kemudian 330 mg/dl.
Pasien kontrol teratur sampai usia 17 bulan. Tinggi badan
terakhir 76 cm (P10 NCHS) dan berat badan 9700 gram
(P10-25 NCHS).
DISKUSI
Bayi baru lahir dengan jenis kelamin yang meragukan
merupakan kedaruratan medis dan penyelidikan yang sesuai
harus dilakukan dengan cepat.
(1-6)
Penyebab jenis kelamin yang
meragukan pada bayi baru lahir terbanyak adalah HAK, dan
penyebab HAK terbanyak adalah defisiensi 21-hidroksilase.
(1-3)
Riwayat kematian bayi laki-laki dalam keluarga tanpa sebab
yang jelas, anak dengan tinggi badan berlebih, disertai pubertas
prekoks, dan perawakan pendek pada masa dewasa menunjang
ke arah diagnosis.
(1-3)
Selain jenis kelamin yang meragukan,
gejala klinis lain yang bisa didapat antara lain hiperpigmentasi,
kehilangan garam, dan muntah-muntah.
(1-8)
Uji diagnostik untuk Hiperplasia adrenal kongenital, antara
lain.
(1-3)
Pemeriksaan Darah :
- 17 OH Progesteron
- Elektrolit (Na+ & K+)
-
Testosteron
-
Androstenedion
-
ACTH
- "Plasma renin activity"
- 11 - deoksikortisol
-
Analisis
Kromosom
Pemeriksaan Urin :
- 17 ketosteroid
-
Pregnanetriol
- Kromatografi profit steroid
Pencitraan :
- USG pelvis
-
Genitografi
-
IVP
Pada bayi dengan jenis kelamin yang meragukan, bila
didapatkan basil analisis kromosom 46, XX disertai peningkat-
an 17-OH Progesteron serum, maka sudah dapat ditegakkan
diagnosis pasti Hiperplasia adrenal kongenital karena defisiensi
21-hidroksilase.
(1-6)
Pada kasus ini gejala klinis yang ditemukan hanya klitoro-
megali, dan dari hasil uji diagnostik kasus ini didapati analisis
kromosom 46, XX dan 17 OH Progesteron serum, 2910 mg/dl.
Dengan demikian telah dapat ditegakkan, diagnosis Hiperplasia
adrenal kongenital.
Klitoromegali yang disebabkan oleh neurofibromatosis
adalah massa atau tumor klitoris dari Plexiform Neurofibroma
.9
Pada penatalaksanaan kasus hiperplasia adrenal kongenital,
tujuannya adalah untuk mengoreksi defisiensi kortisol dan
aldosteron, dan menekan sekresi androgen adrenal yang ber-
lebihan, sehingga terjamin pertumbuhan yang normal pada
masa bayi dan anak-anak, tercapai tinggi akhir yang optimal,
terjadinya pubertas pada umur yang sesuai, dan selanjutnya
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002
44
background image
tercapai kemampuan reproduksi pada masa dewasa.
(1,6,8)
Isolated Clitoromegaly pada neonatus bisa sebagai gejala
awal Hiperplasia adrenal kongenital. Pada kasus Hiperplasia
adrenal kongenital yang dini diobati, tumbuh kembang
diharapkan dapat optimal.
Pemberian hidrokortison pada Hiperplasia adrenal konge-
nital bertujuan untuk mencegah biosintesis yang berlebihan dari
androgen. Dosis disesuaikan dengan usia pasien 10-15 mg/
m2/hari untuk anak kurang dari 5 tahun. 15-20 mg/m2/hari
untuk anak berusia 5-12 tahun, dan 20-30 mg/m2/hari untuk
anak lebih dari 12 tahun. Dosis dapat diturunkan sesuai dengan
pemantauan hasil pemeriksaan 17 OH Progesteron dan andros-
tenedion. Pemantauan dilakukan 2 bulan sekali dalam tahun
pertama pengobatan.
(3-5)
KEPUSTAKAAN
1. Hughes IA. Management of Congenital adrenal hyperplasia, Arch Dis
Child 1988; 63 : 1399-404.
Pasien ini diberi pengobatan hidrokortison 3 x 1,5 mg/hari,
selama 7 hari. Seminggu kemudian pasien datang untuk kon-
trol, dan dari hasil pemeriksaan fisik didapati klitoris telah
mengecil. Hasil uji ACTH ternyata lebih memperkuat diagnosis
Hiperplasia Adrenal kongenital.
2. Zurburg RP Congenital Adrenal Hyperplasia. Dalam Gardner L I,
penyunting Endocrine and Genetic disease of childhood and adolescence,
edisi 2 Philadelphia ; Saunders, 1975; 476-96.
3. New MI, Delbalzo P, Crawford C, Speiser PW. The adrenal cortex.
Dalam Kaplan SA, penyunting Clinical Pediatric Endocrinology. Phi-
ladelphia, Saunders, 1990; 181-221.
Keberhasilan pengobatan dapat diketahui dari hasil peman-
tauan klinis dan laboratorium. Parameter klinis diantaranya
kecepatan pertumbuhan, usia tulang, serta saat tercapainya
pubertas.
(3,6)
Brook berpendapat bahwa pemantauan pertumbuh-
an merupakan cara yang terbaik dalam menilai keberhasilan
tatalaksana Hiperplasia adrenal kongenital.
4.
Brook CGD. The management of classical congenital adren:.l hyperplasia
due to 21 hydroxylase deficiency. Clin Endocrinol 1990; 33 : 559-67.
5.
Di George AM. Adrenogenital Syndrome. Dalam Behrman RE, Kligman
RM, Nelson WE, Vaughan III VC, penyunting. Nelson Textbook of
Pediatrics, Philadelphia : Saunders, 1992; 1444-8.
6.
Morel Y, Bertrand J, Rappaport R. Disorders of hormon synthesis. Dalam
Bertrand J, Rappaport R, Sizenenko PC. Penyunting. Pediatric Endocrino-
logy : Physiology, pathophysiology, and clinical aspects, edisi - 2.
Baltimore, Williams & Wilkins, 1993; 305-32.
Pasien ini kontrol teratur, dan dari pemantauan per-
tumbuhan menunjukkan hasil yang baik. Tinggi badan terakhir
76 cm (P10 NCHS) dan berat badan 9700 gram (P10-25
NCHS).
7.
Job J, Chaussain Jl. Congenital adrenal hiperplasia. Dalam Job J, Pierson
M, penyunting Pediatric Endocrinology, New York: Wiley 1981; 302-13.
8. White PC, Curnow KM, Pascoe L. Disorders of Steroid 11 Beta
hydroxylase isozymes. Endocrine Rewiew 1994; I5 : 403-21.
Kesimpulannya bahwa klitoromegali dapat merupakan
satu-satunya gejala klinis Hiperplasia adrenal kongenital atau
9.
Nonomura K, dkk. A Case of Neurofibromatosis Associated with Clitoral
Enlargement and Hypertension, J Pediatri Surg 1992; 27 (1) : 110-2.
Cermin Dunia Kedokteran No. 134, 2002 45