Cermin Dunia Kedokteran No. 74, 1992
40
Genetika Medik
Diagnosis Prenatal dan Aplikasi Klinik
dr. Lydia Pratanu, MS
Laboratorium Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlanggal
Pelayanan Genetika Klinik
RSAB
Harapan Kita, Jakarta
DIAGNOSIS PRENATAL SEBAGAI TINDAKAN PRE-
VENSI
Sudah sejak sekitar 20 tahun terakhir ini, diagnosis prenatal
menjadi suatu bagian yang tidak terpisahkan dengan tindakan-
tindakan/tes-tes pencegahan kelainan-kelainan bawaan, khu-
susnya penyakit-penyakit genetik
o)
; perkembangan tersebut
sangat pesat dalam bidang Genetika Medik (Medical Genetics)
yang selama beberapa tahun terakhir ini, termasuk eksistensi
genetika molekuler dan gene mapping, telah sangat besar peran-
annya dalam usaha-usaha preventif terhadap penyakit-penyakit
genetik tertentu(
2
). Bagi Indonesia, dengan dicanangkannya
program Keluarga Berencana dengan "Dua anak cukup", se-
makin terasa pentirignya kualitas anak yang lahir sehat, bukan
hanya dalam arti bebas dari penyakit dan cacat.
Testes genetik yang banyak diterapkan untuk diagnosis
prenatal bertujuan "mencegah" semaksimal mungkin berbagai
cacat genetik, sebab sebagaimana diketahui, hingga saat ini
hampir semua penyakit genetik tak dapat diobati secara me-
muaskan. Dengan perkembang
,
an pesat dari alat-alat deteksi dan
metode-metode terbaru, diharapkan ada suatu jawaban bagi
orang-orang yang menjadi carrier atau bahkan juga yang sedang
menderita suatu penyakit genetik. Sebagai gambaran, menurut
Rodney Harris, dari 2500 anak yang lahir dap tahunnya, terdapat
50 anak yang cacat. Cacat di sini bisa berupa cacat fisik dengan
latar belakang genetik ataupun tidak. Dui data tersebut bisa
diperkirakan bahwa terdapat kira-kira 2% bayi yang akan lahir
cacat dan 1 1,5% di antaranya berupa kelainan genetik, baik
yang chromosomal ataupun lainnya.
Bagi bangsa Indonesia, melahirkan anak-anak yang sehat
tentu menjadi harapan dan angan-angan setiap orang tua, para
dokter dan tenaga medis lainnya. Dengan ditunjang program
perinatologi, di mana diagnosis prenatal menjadi salah satu mata
rantainya, maka diharapkan keinginan tersebut akan lebih nyata
dan meyakinkan. Bagi negara, dengan makin meningkatnya
kualitas kesehatan masyarakat Indonesia, maka diharapkan akan
makin meningkat pula produktivitas secara keseluruhan serta
menurunkan beban negara unwk menun jang penderita-penderita
cacat yang ada.
KRITERIA DAN INDIKASI
Bila diagnosis prenatal diperlukan, ada dua hal yang harus
dikerjakan, yaitu :
1.
Pastikanlah bahwa kemungkinan kelainan yang terjadi
adalah berisiko tinggi dengan indikasi yang jelas.
2.
Pastikanlah bahwa terdapat fasilitas pemeriksaan prenatal
yang akurat dan dapat dipercaya.
Karena hampir semua prosedur pemeriksaan prenatal me-
nyebabkan rasa cemas yang cukup besar pada ibu yang harus
mengalaminya, dan dapat menyebabkan efek samping yang
cukup berbahaya pada janin yang dikandung (1:200 untuk risiko
abortus spontan pada amniosentesis dan 1:100 pada CVS), maka
sebelum prosedur pemeriksaan prenatal dilakukan, harus sangat
jelas memenuhi kriteria umum untuk tes spesifik ini.
Indikasi untuk pemeriksaan prenatal (secara prinsip/garis
besar saja) :
1.
Salah satu orang ma, diduga merupakan "pembawa"/carrier
untuk suatu translokasi otosomal yang seimbang (balanced
autosomal translocation).
2.
Usia ibu yang lanjut (> 35 tahun).
3.
Mempunyai anak dengan keterbelakangan mental yang
tidak diketahui sebabnya.
4.
Terdapat mosaicism kromosomal pada orangtua.
5.
Kehamilan (atau sel garnet pasangannya) mempunyai
risiko tinggi terhadap penyinaran/irradiasi atau menjalani
pengobatan sitotoksik.
Cermin Dunia Kedokteran No. 74 1992 41
JENIS-JENIS PEMERIKSAAN PRENATAL
I. Non Invasif :
1. USG :
--
Lokasi plasenta, umur gestasi, kehamilan ganda/tidak,
pertumbuhan janin, gerakan janin dan aspek umum dari
janin.
--
Scanning
untuk evaluasi kelainan-kelainan janin.
2. Pemeriksaan darah ibu :
-- -Feto protein
--
Sel-sel trophoblast dari darah ibu dengan menggunakan
PCR (Polymerase
Chain Reaction).
Sel-sel tersebut di-
perbanyak jumlahnya lalu dianalisis dengan DNA probe
untuk mengetahui kelainan-kelainan yang terdapat pada
janin, misalnya Talasemia, Fragile
X
Syndrome, DMD
(Duchenne Muscular Dystrophia), Congenital Adrenal
Hyperplasia, Retinoblastoma.
II. Invasif :
1. Amniosentesis
--
Kelainan kromosom.
--
Kelainan NTD (Neural Tube Defect) yang terbuka.
2 Biopsi khorion
--
Analisis DNA pada berbagai kelainan genetik.
--
Kelainan kromosom.
--
Kelainan ensim dan biokimiawi.
3. Fetoskopi
--
Kelainan ekstremitas
yang
parah atau cacat lain yang
visible (bib USG talc jelas).
4. Darah janin/cordosentesis dan tissue sampling
--
Talasemia dan hemoglobinopati lainnya.
--
Fragile X syndrome.
AMMOSENTESIS
Walaupun sampai hari ini ada bermacam-macam teknik
yang digunakan untuk prediksi atau konfirmasi pemeriksaan
prenatal, pengambilan cairan dan se1-selnya melalui uterus yang
hamil masih merupakan pilihan yang Was digunakan. Sampel
yang diambil harus betul-betul jernih, dan sel-selnya dibiak
until mengetahui adanya aberasi kromosom, pemeriksaan bio-
kimia atau analisis DNA. Sampel yang tercampur darah (bloody
fluid) mungkin disebabkan kerusakan plasenta; perubahan
wama tertentu mungkin menandakan adanya kematian janin.
Semuanya sangat penting dipertimbangkan, karena abortus
spontan dapat setiap waktu terjadi bila bersamaan dengan itu
dilakukan amniosentesis. Di samping itu, semua keadaan ter-
sebut di atas sering menyebabkan kegagalan dalam proses pem-
biakan jaringan.
Setelah sampel diambil, cairan dipusing. Supernatannya
dapat digunakan untuk analisis AFP atau biokimia tertentu;
sedangkan pellemya digunakan untuk analisis kromosom dan
analisis DNA.
Sebagian besar tes prenatal, baik analisis kromosom mau-
pun biokimiawi membutuhkan pembiakan; dan tergantung dari
jumlah dan kualitas sel yang didapat, biasanya dibutuhkan waktu
2-3 minggu untuk mendapatkan diagnosis dan kesimpulan yang
pasti. Sangat penting bahwa biakan tersebut dicek berulang kali
untuk memastikan pertumbuhan sel yang memuaskan. Bila ti-
dak, mungkin diperlukan pengambilan segera sampel ulangan,
karena bila telah melewati usia kehamilan tertentu tidak akan
didapatkan cairan dan sel yang baik.
Sebelum mengirim pasien untuk pemeriksaan prenatal,
hams dipastikan bahwa ada fasilitas pemeriksaan prenatal yang
akurat dan dapat dipercaya. Setelah itu, pasien yang akan men-
jalani pemeriksaan prenatal perlu mendapatkan konseling ge-
netik supaya mendapatkan informasi yang jelas tentang hal-hal
yang akan dialami maupun basil tes yang akan didapat.
Amniosentesis biasanya dilakukan pada kehamilan 15--18
minggu; oleh dokter ahli kebidanan yang telah mendapat ke-
ahlian untuk aspirasi ini.
Prosedur pengambilan :
Jarum langsung dimasukkan melalui dinding perut ibu,
menembus uterus ibu melalui tuntunan USG. Melalui USG dapat
diketahui lokasi plasenta dan janin. Prosedur ini dapat dilakukan
dengan pembiusan setempat tanpa hams rawat tinggal di rumah
sakit.
Prosedur yang akan dilakukan dan risiko yang mungkin
terjadi akibat pengambilan ini perlu dijelaskan pada pasien.
Risiko amniosentesis
1.
Keguguran/abortus :
Diperkirakan sebesar 1%; pengulangan amniosentesis akan
meningkatkan risiko ini (5--10%), seperti halnya bila amniosen-
tesis dikerjakan oleh orang yang tidak trampil.
2.
R i s i k o ibu :
Pada umumnya minimal; bila dikerjakan dengan prinsip
aseptik, risiko infeksi akan terhindarkan.
Hasil dan tindak lanjut :
Pasangan pasien tersebut perlu diberitahu bahwa diperlukan
waktu sedikitnya 3 minggu untuk mendapatkan hasilnya, dan
kemungkinan untuk pengambilan ulang bisa terjadi. Pasien juga
perlu diberi tabu, bahwa kadang-kadang ditemukan juga ke-
lainan yang sesungguhnya tidakberhubungan dengan yang dicari
(misalnya ada NTD pada kehamilan yang dicurigai Down
syndrome). Pasien perlu juga diberi tabu tentang langkah-
langkah selanjutnya, bila temyata terjadi kegagalan kultur atau
sebab-sebab lainnya.
Tindak Ian jut post natal juga penting, selain untuk mencek
kebenaran diagnosis prenatal kita, juga karena janin yang lahir
mungkin akan mempengaruhi risiko genetik pada kehamilan
berikutnya.
Kesimpulannya, amniosentesis pada umumnya aman dan
dapat dipercaya, tetapi tetap tidak bebas sama sekali dari faktor
risiko. Penting sekali untuk digunakan dengan selektif dan tepat,
dan dijelaskan kepadapasangan pasiAn yang menginginkannya.
BIOPSI KHORION
Biopsi khorion sebagai salah satu sarana untuk diagnosis
prenatal merupakan sarana diagnostik yang lebih invasif di-
banding amniosentesis. Teknik ini sekarang sudah banyak
Cermin Dunia Kedokteran No. 74, 1992
42
ditinggalkan karena faktor positip semu/negatip semu yang
mungkin terjadi dan juga risiko pengambilannya yang lebih
besar dibandingkan dengan amniosentesis. Biopsi khorion ini
tampaknya akan lebih berperan dengan adanya teknologi bio-
logi molekuler, khususnya analisis sampai Ice tingkat DNA.
Pada saat sekarang, pengambilan biopsi khorion dikerjakan
pada usia kehamilan 8 sampai 11 minggu. Bila memasuki
minggu ke-12, pengambilan transservikal akan lebih sulit, se-
hingga pengambilan secara transabdominal lebih memungkin-
kan.
Pengambilan secara transservikal dilakukan dengan cara
memasukkan suatu kanula plastik melalui serviks dengan pan-
duan USG dan kemudian jonjot khorion diaspirasi. Cara lain
adalah pengambilan melalui alat fetoskop. Lalu jaringan ma-
ternal disingkirkan secara mikroskopik, dan sisa jaringan (fetal
tissue) dianalisis.
Analisis yang dapat dikerjakan adalah :
1.
Analisis. DNA, termasuk fetal sexing dengan spesifikasi
kromosom X dan Y.
2.
Analisis kromosom. Sekarang dapat dikerjakan
rapid
direct method, yang hasilnya dapat dilihat dalam waktu 24 jam.
Bila terdapat mosaicism, maka harus dilakukan pengecekan
dengan amniosentesis. Perlu pula diingat, bahwa probabilitas
untuk mendapatkan aberasi kromosom lebih tinggi dibanding-
kan dengan cara amniosentesis, karena kelainan kromosom di-
dapatkan hampir pada 50% kehamilan dengan abortus spontan
(usia kehamilan 10--16 minggu).
3.
Analisis enzim/biokimiawi.
Penerapan biopsi khorion memang akan cukup luas, tetapi
karena faktor keamanan pengambilannya serta ketidak akurat-
annya, maka penerapannya lebih sempit dibandingkan amnio-
sentesis.
ULTRASONOGRAFI
Ultrasonografi (USG) jauh lebih luas penerapannya, karena
relatif aman, cukup sensitif dan akurat sebagai salah satu sarana
diagnostik prenatal.
Dalam penggunaannya sebagai sarana diagnostik prenatal,
ada beberapa hat yang perlu dipertimbangkan :
1)
Dalam fungsinya sebagai diagnostik prenatal, USG perlu
dikerjakan oleh seseorang yang telah dididik untuk mengenali
dan mengevaluasi kelainan malformasi pada tujuan tersebut.
2)
Walaupun dikatakan bahwapemeriksaan USG aman, namun
perlu dipikirkan bila terjadi efek samping terhadap pasien mau-
pun hasilnya.
3)
Dibutuhkan ketelitian yang tinggi, khususnya bila kita
hendak mencari suatu kelainan/malformasi genetik.
4)
Akan lebih balk lagi bila basil pemeriksaan USG itu di-
gabungkan dengan hasil-hasil pemeriksaan yang lain, seperti
kariotip dari analisis kromosom, konseling genetik, atau yang
lainnya; sehingga didapatkan diagnosis yang akurat dan bisa
dipercaya.
5)
Pemeriksaan USG dengan tujuan di alas baru dapat di-
kerjakan pada usia kehamilan yang lebih lan jut.
FETOSKOPI
Fetoskopi adalah pemeriksaan terhadap janin intrauterin
yang dikerjakan dengan alat yang disebut fetoskopi. Alat ini
berupa suatu alai fibreoptic yang lentur dengan ukuran kecil
yang dimasukkan ke cavum uteri/amniotic cavity melalui pem-
biusan setempat. Janin yang berusia 18 sampai 22 minggu dapat
dievaluasi melalui pemeriksaan ini.
Risiko atau efek samping yang dapat terjadi, biasanya
berupa pecahnya selaput amnion, adalah 2--5% bila dilakukan
oleh orang yang ahli dan trampil.
Selain fungsinya yang mirip dengan USG, pemeriksaan ini
sangat membantu dalam pengambilan darah dan jaringan janin
intrauterin yang panting digunakan untuk analisis kromosom,
analisis biokimia/ensim dan analisis DNA.
PERCUTANEUS UMBILICAL BLOOD SAMPLING
ATAU CORDOSENTESIS
Dengan ahli yang khusus dididik dalam PUBS, jarum yang
sangat halus dimasukkan menembus vena umbilicalis. Risiko
terhadap janin, yang biasanya berupa keguguran, hanya < 5%.
Bila dilakukan oleh orang yang tidak ahli, fetal loss bisa men-
capai 50%.
Darah janin yang diperoleh dapat dianalisis kromosomnya,
ensim dan biokimia serta analisis DNA.
TERMINASI KEHAMILAN
Setiap kelainan yang ditemukan, balk berupa kelainan yang
ringan/dapat berfungsi normal sampai kelainan yang fatal, akan
menjadi beban moral dan psikologis yang besar bagi orangtua
ataupun dokter yang merawat. Suatu kelainan yang fatal dan tak
mungkin bertahan hidup, bahkan cenderung menyebabkan ke-
lainan/gangguan pada ibunya, akan merupakan indikasi ter-
minasi kehamilan yang lebih kuat. Kelainan yang biasanya
ringan atau cenderung moderat akan menimbulkan masalah etis
dan moral yang lebih rumit.
Pilihan yang ada dan yang akan diambil tergantung pada
banyak faktor. Setiap orangtua atau orang yang terlibat dengan
kasus sulit tersebut hams mendapat keterangan yang jelas, yang
akan mendukung keputusan yang akan diambil. Namun pilihan
dan keputusan terakhir tetap di tangan orangtua atau siapapun
yang bcrhak mengambil keputusan tentang kehamilan tersebut.
Dalam hal ini dokter menolong dan sedapat mungkin meng-
arahkan pasangan untuk mengambil keputusan yang sesuai.
Bila diperlukan, dapat ditawarkan suatu konseling khusus se-
hubungan dengan pilihan dan keputusan yang akan diambil.
APLIKASI KLINIK GENETIKA MEDIK DI INDONESIA
Di Indonesia, dalam menuju era tinggal landas, dunia ilmu
kedokteran telah berusaha mempelajari dan menerapkannya
sesuai dengan kemampuan yang ada. Sampai saat ini, baru dua
tempat di Indonesia yang dapat menerapkan hampir keseluruhan
diagnosis prenatal dengan uraian di atas, yaitu di Surabaya -- di
Unit Pelayanan Genetika Medik RSUD Dr. Sutomo, dan di
Jakarta -- di Laboratoritim Pelayanan Genetika Klinik (Medical
Cermin Dunia Kedokteran No. 74 1992 43
Genetics Service) RSAB Harapan Kita.
KESIMPULAN DAN RINGKASAN
Diagnosis prenatal/antenatal telah berkembang dengan
sangat pesat dan dapat mendeteksi berbagai kelainan genetik
dan malformasi pada janin dalam kandungan melalui serang-
kaian tes tertentu.
Tindakan/intervensi obstetrik yang digunakan untuk
diagnosis prenatal dapat berupa tindakan yang invsif atau non-
invasif. Pilihan untuk memanfaatkannya tergantung pada
kriteria dan indikasi pasien/pasangan yang diperiksa.
Aplikasi klinik terhadap pasangan yang menginginkannya
tidak ditujukan semata-mata untuk terminasi kehamilan, karena
diagnosis prenatal sebagai tindakan pencegahan diperlukan
untuk :
1.
Memberi informasi tentang janin yang sedang dikandung.
2.
Mempersiapkan pasangan yang bersangkutan untuk me-
nerima anak yang mungkin menunjukkan kelainan-kelainan.
3.
Memberi pengarahan tentang tindakan-tindakan/pendidikan
yang perlu dilakukan terhadap anak yang akan lahir dengan
kelainan tersebut.
Di Indonesia, terdapat dua tempat yang dapat melakukan
hampir seluruh pelayanan diagnosis antenatal/prenatal tersebut,
yaitu di Unit Pelayanan Genetika Medik -- RSUD Dr. Sutomo
Surabaya dan di Laboratorium Pelayanan Genetika Klinik --
RSAB Harapan Kita -- Jakarta.
KEPUSTAKAAN
1.
Galjaard H. Early Diagnosis and Prevention of Genetic Disease. Kursus
Pasca Sarjana IV Universitas Airlangga di Surabaya, 1989.
2.
Gardner RJM, Sutherland GR. Chromosome Abnormalities and Genetic
Counseling. Oxford University Press, 1989: 187--207.
3.
Hsia YE. Fetal Diagnosis. Makalah yang dibacakan pada Course in
Clinical Genetics di Surabaya. 1990.
4.
Jones, KL Smith's Recognizable Patterns of Human Malformation. 4th ed,
WB Saunders Co. 1988: 641--58.
5.
Harper PS. Practical Genetic Counselling. 3rd ed, Wright -- Butterworth
& Co. Ltd. 1988: 93--111.
6.
Vogel F, Motulsky AG. Human Genetics. 2nd ed, Springer-- Verlag. 1986:
614-30.