background image
HASIL PENELITIAN
Gambaran Kadar Mangan (Mn) pada
Sumber Air Rumah Tangga
di Jabotabek
studi kasus pemeriksaan air
di Puslitbang Farmasi
Ni'mah Bawahab, Kelik MA, Ani Isnawati
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pergembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Gambaran kadar mangan (Mn) pada sumber air rumah tangga di Jabotabek
bertujuan untuk mengetahui jumlah sampel dengan kandungan mangan (Mn) yang
tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih.
Pemeriksaan kadar mangan dalam air dilakukan dengan metode kolorimetri
terhadap sampel dari contoh air yang diajukan penduduk di wilayah Jabotabek. Per-
syaratan air minum dan air bersih ditetapkan berdasarkan Permenkes RI No. 416/Men.
Kes/IX/1990.
Dari 237 sampel air yang diperiksa, 89 sampel (35,9%) tidak memenuhi syarat air
minum, dan 50 sampel (21,1 %) di antaranya disebabkan karena tidak memenuhi per-
syaratan kadar mangan. Di antara yang tidak memenuhi syarat air minum berasal dari
wilayah Jakarta Timur 14 sampel (28%), dari wilayah Bekasi 13 sampel (26%) dan 46
sampel (92%) tidak memenuhi persyaratan air minum berasal dari sumber air jenis
sumur pompa. Kadar mangan rata-rata 0.34 ppm, sedangkan yang tidak memenuhi
syarat air bersih antara 0,67 ppm- 1,43 ppm dengan kadar rata-rata 0,91 ppm.
PENDAHULUAN
Air merupakan salah satu materi alam yang penting dalam
kehidupan manusia karena dapat dipergunakan untuk keperluan
rumah tangga, kesehatan, pertanian, peternakan, perikanan dan
industri.
Penggunaan air rumah tangga khususnya sebagai air
minum, masak, mandi dan mencuci. Sumber air yang diper-
gunakan di rumah tangga biasanya berasal dari PDAM, sumur
pompa, sumur terbuka, sumur artesis, kolam, mata air dan
lain-lain.
Mangan merupakan salah satu logam yang banyak di-
jumpai di kulit bumi dan sering terdapat bersama besi. Mangan
terlarut dalam air tanah dan air permukaan yang miskin
oksigen, sehingga kadar mangan dalam air dapat mencapai
miligram/liter. Dalam jumlah tertentu dengan pemajanan
oksigen, mangan bisa membentuk oksida yang tidak larut dan
menghasilkan endapan, sehingga menimbulkan masalah berupa
penampilan fisik air yang mengganggu.
Dalam air minum diperlukan sejumlah mineral sebagai
trace element untuk proses metabolisme tubuh, dengan per-
kiraan kebutuhan mangan untuk nutrisi harian antara 30-50
ug/kg bobot badan. Kecepatan absorbsi dapat bervariasi me-
nurut bentuk kimiawinya dan keberadaan logam-logam lain
seperti besi dan tembaga pada makanan.
Bukti neurotoksik mangan terlihat pada para penambang
yang terpajan debu Mn dalam jangka panjang. Sampai saat ini
tidak terdapat bukti yarig meyakinkan tentang toksisitas pada
manusia yang berkaitan dengan konsumsi mangan dalam air
Dibacakan pada seminar Lustrum IX Fakultas Biologi Universitas Gadjah
Mada dan Kongres I KABIOGAMA
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 47
background image
minum. Tetapi bukti percobaan pada binatang menunjukkan
Mn dalam air minum bersifat neurotoksik; maka ditetapkan
persyaratan Mn pada air minum dan air bersih berdasarkan ADI
(acceptable daily intake) orang dewasa menurut peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 410/Men. KeS/Per/IX/1990 tentang
syarat-syarat dalam pengawasan kualitas air : syarat kadar mak-
simum mangan (Mn) yang diperbolehkan untuk diminum 0,1
ppm, sedangkan untuk air bersih 0,5 ppm.
Untuk mengetahui berapa banyak sampel air dengan kadar
mangan yang tidak memenuhi syarat sebagai air minum dan air
bersih berdasarkan peraturan di atas, maka dilakukan peng-
amatan pemeriksaan mangan pada sampel dari contoh air yang
diperiksakam di Laboratorium Kimia Pusat Penelitian dan
Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes, Jakarta.
TUJUAN PENELITIAN
1) Menetapkan jumlah sampel yang tidak memenuhi syarat
air minum dan air bersih mengenai kadar mangan menurut
Permenkes No. 416 tahun 1990, berdasarkan wilayah dan
sumber air.
2) Menetapkan jumlah rata-rata kadar mangan (Mn) yang
tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih menurut
Permenkes No. 416 tahun 1990.
BAHAN DAN CARA
Bahan
Kalium permanganat (KMNO
4
) Standar 0,01 N
Asam Sulfat (H
2
SO
4
) 4 N
Larutan Asam Nitrat (HN0
3
) 8 N
Perak Nitrat (Ag N0
3
) 2%
Kalium Peroxodisulfat (K
2
S
2
O
8
)
Natrium Oksalat (Na
2
C
2
O
4
)
Sampel
Contoh air yang diajukan penduduk wilayah Jabotabek
untuk diperiksakan di Laboratorium Kimia Puslitbang Farmasi
tahun 1999. Contoh air diperoleh dari berbagai sumber yaitu
PDAM, sumur terbuka, sumur pompa, sumur artesis, kolam,
mata air dan sumber-sumber lain.
Peralatan
48
Pipet ukur
Tabung Nessler dan alat gelas yang lain.
Cara Kerja
Standarisasi larutan standar KMnO
4
0,1N
Ditimbang dengan tepat Natrium oksalat anhidrat (Na
2
C
2
O
4
) diantara 200-400 mg (dibuat beberapa sampel), masing-
masing dimasukkan ke dalarn Erlen Meyer 250 ml. Kemudian
ditambah 100 ml akuades dan dipanaskan sampai 90°C-95°C.
Dititrasi cepat-cepat dengan larutan permanganat yang akan
distandarisasi sampai titik akhir, yaitu merah muda, yang tetap
tampak selama 1 menit. Suhu dijaga jangan sampai turun di
bawah 85° C. Bila perlu isi Erlen Meyer dipanaskan selama
titrasi berlangsung. Blanko dilakukan dengan aquades dan
H
2
S
2
O
2
.
g Na
2
C
2
O
4
Normalitas KMnO
4
=
(A-B) x 0,06701
A = ml titrasi sampel
B = ml titrasi blanko
Pemeriksaan Kadar Mangan (Mn) dalam air
100 ml bahan sampel, tambah 5 ml H
2
SO
4
4 N dan 4 ml N
HNO
3
dan 4 ml AgNO
3
2% dan 1 gram K
2
S
2
O
8
panaskan,
kemudian didihkan selama 5 menit, larutan tidak berwarna Mn
(negatif), berwarna ungu Mn (positif). Masukkan secara kuan-
titatif dalam tabung Nessler, sampai tanda dan digojok. Kon-
sentrasi diperoleh dengan membandingkan warna dengan
standar.
Perhitungan : Kadar Mn = 1000 X a ml 0,01 N KMn X 11 X f KMn 04
100
100
Penetapan Persyaratan air minum dan air bersih
Air minum dan air bersih ditetapkan berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan RI No. 410/Men Kes/Per/IX/1990. Per-
syaratan air minum: apabila kadar maksimum mangan (Mn)
yang diperbolehkan 0,1 ppm. Persyaratan air bersih: apabila
kadar maksimum mangan (Mn) yang diperbolehkan 0,5 ppm.
HASIL
Jumlah asal sampel yang diajukan penduduk untuk
diperiksakan di Laboratorium Kimia Puslitbang Farmasi pada
tahun 1999 dapat diketahui pada tabel 1.
Tabel 1. Jumlah dan frekuensi sampel berdasarkan wilayah asal sampel
air pada tahun 1999.
No. Wilayah Jumlah %
1. Jakarta
Pusat
22
9,3
2. Jakarta
Timur
42
17,7
3. Jakarta
Selatan
35
14,8
4. Jakarta
Barat
10
4,2
5. Jakarta
Utara
52
21,9
6. Bekasi
34
11,6
7. Depok
26
11,6
8. Tangerang
8
3,4
9. Bogor
8
3,4
Jumlah 237
100
Wilayah sampel air terbanyak dari Jakarta Utara (21,9%)
kemudian diikuti oleh wilayah Jakarta Timur (17,7%).
Penggunaan air di rumah tangga khususnya diperuntukkan
sebagai air minum, mandi dan cuci, biasanya berasal dari ber-
bagai sumber air. Adapun sumber-sumber air tersebut dapat di-
lihat pada tabel 2.
Jumlah sampel terbanyak berasal dari sumur pompa 138
sampel (58,2%) dan dari PDAM 72 sampel (30,4%).
Sejumlah 237 sampel diperiksa kadar mangan dalam air
dengan metoda kolorimetri dan ditentukan persyaratan air
minum dan air bersih menurut kriteria Permenkes No. 416
tahun 1990. Hasil pemeriksaan kadar mangan dapat diketahui
pada tabel 3.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
background image
Tabel 2. Jumlah dan frekuensi sampel berdasarkan sumber air.
No. Sumber
Air Jumlah
Persentase
%
1. PDAM
72
30,4
2. Sumur
terbuka
11
4,6
3. Sumur
pompa
138
58,2
4. Sumur
artesis
11
4,6
5. Kolam
2
0,8
6. Mata
air
2
0,8
7. Lain-lain
1
0,4
Jumlah 237
100
Tabel 3. Hasil pemeriksaan kadar mangan (Mn) menurut Permenkes No.
416 tahun 1990.
No.
Hasil pemeriksaan kadar mangan
Jumlah
sampel
Persentase
(%)
1.
Memenuhi syarat air minum
187
78,9
2.
Memenuhi syarat air bersih
33
13,9
3.
Tidak memenuhi syarat air bersih
17
7,2
Jumlah 237
100
Tidak memenuhi syarat air minum mengenai kadar
mangan 33 (13,9%) dan tidak memenuhi syarat air bersih 17
(7,2%) dari sejumlah 237 sampel.
Penentuan lebih lanjut adalah menetapkan jumlah sampel
yang memenuhi syarat dan tidak memenuhi syarat air minum
dan air bersih berdasarkan wilayah sampel berasal. Tidak me-
menuhi syarat air minum berarti mencakup jumlah memenuhi
syarat air bersih ditambah dengan yang tidak memenuhi syarat
air bersih.. Adapun data jumlah yang memenuhi syarat dan
tidak memenuhi syarat baik air minum maupun air bersih
diketahui pada tabel 4.
Tabel 4. Jumlah sampel berdasarkan wilayah dan kriteria Per. Men. Kes
416/Men.Kes/Per/IX/1990.
Jumlah Sampel
No. Wilayah
MS
air minum
MS
air bersih
TMS
air bersih
Total
1. Jakarta
Pusat
19
2
l
22
2. Jakarta
Timur
28
9
5
42
3. Jakarta
Selatan
27
6
2
35
4. Jakarta
Barat
7
3
-
l0
5. Jakarta
Utara
50
2
-
52
6. Bekasi
21
7
6
34
7. Depok
24
1
1
26
8. Tangerang
5
3
-
8
9. Bogor
6
-
2
8
Jumlah 187
33
17
237
Keterangan :
MS = memenuhi syarat
TMS = tidal menenuhi syarat
Dari tabel diketahui bahwa wilayah Jakarta Timur mem-
punyai jumlah sampel terbanyak tidak memenuhi syarat air
minum 14 sampel (28%) dan Bekasi 13 sampel (26%). Sedang-
kan jumlah sampel wilayah Bekasi yang tidak memenuhi syarat
air bersih 6 sampel (35,29%) dan wilayah Jakarta Timur 5
sampel (29,41%).
Perhitungan selanjutnya adalah menetapkan jumlah sampel
air yang memenuhi syarat maupun yang tidak memenuhi syarat
air minum dan air bersih.
Tabel 5. Kriteria Per. Men. Kes mengenai kadar Mn berdasarkan sumber
air.
Jumlah Sampel
No.
Sumber Air
MS
air minum
MS
air bersih
TMS
air bersih
Total
1. PDAM
71
1
-
172
2. Sumur
terbuka
8
2
1
11
3. Sumur
pompa
92
30
16
138
4. Sumur
artesis
11
-
-
11
5. Kolam
2
-
-
2
6. Mata
air
2
-
-
2
7. Lain-lain
1
-
-
1
Jumlah 187
33
17
237
Jenis sumur pompa merupakan jumlah terbanyak yang
tidak memenuhi syarat air minum yaitu 46 sampel (92%) dan
16 sampel (32%) tidak memenuhi syarat air bersih. PDAM
meskipun jumlah sampel kedua terbanyak, tetapi yang tidak
memenuhi syarat air minum hanya 1 sampel (2%).
Kadar rata-rata mangan dalam sampel air yang tidak me-
menuhi syarat air minum maupun air bersih adalah sebagai
berikut: (tabel 6).
Tabel 6. Kadar rata-rata mangan (Mu) untuk yang tidak memenuhi
syarat sebagai air minum dan air bersih.
No.
Kriteria
Permenkes
No. 410/1990
Kadar rata-
rata (Mn)
Std.
Deviasi
Nilai
minimum
Nilai
maksimum
1. Air
minum
0,34
0,12
0,18
0,50
2. Air
bersih
0,91
0,26
0,67
1,43
PEMBAHASAN
Mangan merupakan mineral yang terdapat di kulit bumi
dan dapat terlarut pada air tanah, sehingga kadar mangan dalam
berbagai sumber air tergantung dari daerah/jenis tanah tersebut.
Dari hasil pemeriksaan kadar mangan berdasarkan wilayah asal
sampel yang tidak memenuhi syarat air minum dan air bersih
terbanyak adalah wilayah Jakarta Timur dan Bekasi. Tetapi
selain kedua wilayah tersebut bukan berarti wilayah lain tidak
mengandung mangan; karena dari hasil pemeriksaan secara
keseluruhan belum menggambarkan bahwa daerah-daerah ter-
tentu merupakan daerah yang banyak mengandung mangan,
karena cara mendapatkan sampel dan jumlah sampel tidak sama
atau memadai antara beberapa wilayah.
KESIMPULAN
1. Jakarta Utara dengan jumlah 21,9% merupakan wilayah
asal sampel terbanyak, diikuti oleh wilayah Jakarta Timur
17,7%.
2. Sumber air paling banyak sebagai sampel adalah sumur
pompa 58,2% dan PDAM 30,4%.
3. Sejumlah 50 sampel (21,1%) tidak memenuhi syarat kadar
mangan untuk air minum dan 17 sampel (7,17%) tidak
memenuhi syarat air bersih.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002 49
background image
4. Wilayah Jakarta Timur merupakan asal sampel terbanyak
yang tidak memenuhi syarat air minum 14 sampel (28%) dan
2. Terangna N. Pengkajian kualitas sumber air sebagai sumber baku air
minum di Indonesia. Makalah Seminar Sehari Pengkajian Parameter
Kualitas Air dalam Permenkes No. 416 tahun 1990, Jakarta, 1994.
Bekasi 13 sampel (26%).
5. Sumber air untuk jenis sumur pompa 46 sampel (92%)
tidak memenuhi syarat air minum dan tidak memenuhi syarat
air bersih 16 sampel (32%).
3. Harsanto BJE. Kemampuan laboratorium pada pemeriksaan parameter
kimia organik air minum dan air bersih. Makalah Seminar Sehari
Pengkajian Parameter Kualitas Air dalam Permenkes No. 416 tahun 1990,
Jakarta, 1994.
4. Perusahaan Air Minum DKI Jakarta. Pengolahan dan produksi air minum,
air, April 1987.
KEPUSTAKAAN
1.
Departemen Kesehatan RI. Peraturan Menteri Kesehatan RI No.
416/Menkes/IX/1990 tentang syarat-syarat dan pengawasan kualitas air
minum, Berita Negara RI 1990.
5. WHO
Manganese,
Environmental
Health Criteria 17, United Nation
Environment Programe, International Labour Organisation and The
World Health Organization, Geneva: 1981.
Cermin Dunia Kedokteran No. 135, 2002
50