n Anak T
di Mataram
Status Kekebala
erhadap Poliomielitis
Gendrowahyuhono, S
e
ang
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan R.I. , Jakarta
uharyono Wuryadi,
rryani Girs
Mulyono Adi, M
PENDAHULUAN
Poliomielitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi
virus polio terutama menyerang pada anak-anak dan dapat
mengakibatkan kelumpuhan. Di Jawa dan Bali penyakit ini
sudah merupakan masalah kesehatan masyarakat yang perlu
ditanggulangi dengan segera. Di luar Jawa dan Bali penyakit
tersebut masih belum jelas diketahui, kecuali di beberapa
propinsi yang telah melaporkan adanya kejadian luar biasa
(KLB)poliomielitis yaitu di propinsi Kalimantan Tengah dan
Irian Jaya, antara tahun 1980 1982
1
.
Menurut data yang ada dari kejadian-kejadian wabah yang
terjadi selama ini ternyata bahwa kasus-kasus paralise karena
poliomilitis paling banyak menyerang anak-anak umur di
bawah 3 tahun
l
. Hasil-hasil penelitian serologis poliomielitis di
beberapa tempat di Indonesia
2
juga menunjukkan bahwa antara
20 60% anak yang berumur kurang dari 3 tahun tidak
mempunyai kekebalan sama sekali terhadap ketiga tipe virus
polio. Keadaan ini merupakan indikasi untuk dilakukan
vaksinasi pada penduduk dengan sasaran anak-anak yang ber-
umur di bawah 3 tahun. Menurut Titi Indiyati Soewarso
l
di-
perkirakan bahwa incidence rate pertahun adalah 5,58 per
100.000 total population anak umur 0 4 tahun, dan jika
ditinjau dari sensus penduduk tahun 1980 maka diperkirakan
incidence penyakit polio adalah 8000 kasus pertahun. Angka
yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan negara-negara
yang telah maju, dengan program vaksinasi polio yang telah
terlaksana dengan baik. Di Nusa Tenggara Barat (NIB) yang
merupakan wilayah Indonesia bagian Tengah, data mengenai
`penyakit polio masih belum lengkap, demikian juga laporan
mengenai kasus poliomielitis masih belum ada. Survei kelum-
puhan keran poliomielitis yang dilakukan oleh 1)irektorat
Jenderal PPM & PLP pada tahun 1980 pada anak-anak umur 0
4 tahun di NTB menunjukkan bahwa prevalensi rate per
1000 study population di kota Mataram adalah 0,43 dan di
Kabupaten Lombok Barat 0,41
1
. Angka ini jauh lebih kecil
bila dibandingkan dengan prevalensi penyakit polio di kota-
kota lain seperti di Badung adalah 9,04, di Bolang Mangondow
5,29 dan di Surabaya 3,16.
Survei serologi yang dilakukan di Mataram dalam penelitian ini
adalah untuk mengetahui status kekebalan anak-anak umur 3
bulan 5 tahun terhadap virus polio dan juga untuk mengetahui
prevalensi infeksi virus entero di masyarakat. Penelitian
tersebut dimaksudkan untuk memberikan tambahan informasi
epidemiologis penyakit polio di Indonesia, sehingga diharap-
kan dapat membantu perencana program pencegahan penyakit
menular dalam hal penanggulangannya, khususnya terhadap
penyakit polio.
BAHAN DAN CARA KERJA
Lokasi penelitian di Mataram di daerah perkotaan dan pe-
desaan masing-masing di Kecamatan Ampenan dan Kecamatan
Jembatan Kembar; dipilih berdasarkan adanya kemudahan
transportasi ke daerah tersebut sehingga memudahkan untuk
pengambilan, membawa dan menyimpan contoh. Pengambilau
contoh dilakukan pada bulan Agustus 1983. Contoh berupa
darah (serum) dan tinja (usapan dubur), diambil dari anak-anak
sehat berumur 3 bilan 5 tahun yang belum pernah mendapat
vaksinasi polio. Anak-anak dikumpulkan di Pusat Kesehatan
Masyarakat dan semua anak yang datang diambil darah dan
usapan duburnya setelah terlebih dahulu dicatat nama anak,
nama orang tua, umur anak dan alamatnya. Jumlah contoh yang
dapat diambil adalah 246 sera dan 237 usapan dubur di
Ampenan, serta 264 sera dan 271 usapan dubur di Jembatan
Kembar. Cara pengambilan darah adalah dari ujung jari tangan
dengan lanset kemudian ditampung dalam pipa rambat.
Sedangkan usapan duburnya diambil dengan lidi berkapas
basah yang kemudian dimasukkan dalam dubur anak dan
disimpan dengan larutan Hank's dalam botol. Sem a contoh
sera dan usapan dubur dibawa dalam termos berisi es dengan
pesawat udara ke Laboratorium di Jakarta.
Pemeriksaan serum anak dilakukan dengan cara uji netrali-
sasi pada lempeng mikro menggunakan biakan sel ginjal kera.
Serum diencerkan 8 kali, kemudian diinaktifkan pada suhu
56°C selama 30 menit dalam penangas air, lalu ditambahkan
dengan virus polio sejumlah 100 TCID
50
. Campuran serum-
u
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 41
virus tersebut kemudian diinokulasikan pada biakan sel ginjal
i
d
ant
dubur dilakukan dengan menggunakan biakan
ang sudah ditumbuhkan dalam tabung khusu
ositif (menunjukkan adanya Cytophatic effec) di identifikasi
rhadap antisera virus entero pools dengan cara uji netrali
pada biakan sel ginjal kera.
HASIL
Pemeriksaan serum dari 246 anak di Kec
enunjukkan bahwa prosentase anak yang telah mempunyai
ntibodi terhadap virus polio masing-masing adalah : 34,2%
nak nempunyai antibodi terhadap virus polio tipe 1; 33,7%
nak mempunyai antibodi terhadap virus polio tipe 2; dan
4,1% anak mempunyai antibodi terhadap virus polio tipe 3.
edangkan 36% anak tidak mempunyai antibodi sama sekali
irus polio (triple negatif).
Di K
kan bahwa dari 237 contoh yang diambil di Ampenan dapat
io (Tabel 3).
Tabel 3. Hasil isolasi virus entero dari usapan dubur anak di Mataram,
1983.
Jumlah isolasi
Jumlah nd
1
e~ntifkasi
kera yang sudah tumbuh p
a
ada lempeng mikro. Selanjutnya di-
nkubasikan pada suhu 35 C dalam CO
2
inkubator. Pengamatan
ilakukan selama 7 hari untuk mengetahui ada tidaknya
ibodi dalam sera yang diperiksa. Isolasi virus dari usapan
sel ginjal kera
s. Isolsi yang
y
p
te
sasi
amatan Ampenan
m
a
a
a
5
S
terhadap ketiga tipe v
ecamatan Jembatan Kembar dari 264 anak yang diperiksa
menunjukkan bahwa prosentase anak yang telah mempunyai
antibodi terhadap virus polio masing-masing adalah : 28,8%
telah mempunyai antibodi terhadap virus polio tipe 1 : 24,2%
terhadap virus polio tipe 2, dan 46,6% terhadap virus polio
tipe 3. Sedangkan 38,3% anak tidak mempunyai antibodi ter-
hadap ketiga tipe virus (triple negatif). Prosentase anak yang
mempunyai antibodi terhadap virus polio dari masing-masing
golongan umur dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2. Makin tua
umur anak maka prosentase anak yang mempunyai antibodi
makin besar, dan sebaliknya prosentase anak yang triple
negatif makin kecil.
Tabel 1. Neutralizing antibody anak-anak umur 3 bulan - 5 tahun
terhadap virus polio, di Kecamatan Ampenan, 1983.
Netralisasi positif polio
Golongan
umur
(bulan)
Jumlah
sera
Tipe 1
(%)
Tipe 2
(%)
Tipe 3
(%)
Triple
(%)
Netralisasi
negatif
(triple neg.)
(%)
3 12
24
36
48
60
54
68
42
55
27
3,7
17,7
40,5
54,5
85,2
11,1
16,2
31,0
54,5
85,2
33,3
66,2
52,4
60,0
55,6
0
4,4
14,3
36,4
33,3
61,1
29,4
28,6
27,3
37,0
3 60
246
34,2
33,7
54,1
15,5
36,6
Tabel 2. Neutralizing antibody anak-anak umur 3 bulan - 5 tahun
terhadap virus polio, di Kecamatan Jembatan Kembar, 1983.
Netralisasi positif polio
Golongan
umur
(bulan)
Jumlah
sera
Tipe 1
(%)
Tipe 2
(%)
Tipe 3
(%)
Triple
(%)
Netralisasi
negatif
(triple neg)
(% )
3 12
24
36
48
60
57
62
51
49
45
19,3
32,3
35,3
36,7
20,0
10,5
21,0
27,5
40,8
24,4
33,3
48,4
54,9
46,9
51,1
3,5
9,7
13,7
20,4
26,7
50,9
38,7
35,3
38,8
24,4
3 60
264
28,8
24,2
46,6
14,0
38,3
Pemeriksaan isolasi virus dari usapan dubur anak menunjuk
diisolasi sejumlah 29 (12,2%) enterovirus yang terdiri dari 2
contoh polio virus dan 27 contoh enterovirus yang lain (non
polio). Sedangkan di Kecamatan Jembatan Kembar dari 271
contoh dapat diisolasi 27 (10%) enterovirus, dan tidak dike-
temukan virus pol
Kecamatan
Jumlah
Contoh
Positif Negatif
Polio Entero
lain
Ampenan
237
29
208
Jembatan Kembar
271
(12,2%)
27
(10,0%)
244
2
-
27
27
508
56
(11,0%)
452
2
54
PEMBAHASAN
Jika status kekebalan anak-anak di Mataram ini dibanding-
an anak-anak di daerah lain di
r Balita di perkotaan (Ampe-
nan)
ajam lagi. Keadaan
Ini
kan dengan status kekebal
2
Indonesia maka ternyata bahwa prosentase anak umur di
bawah lima tahun (Balita) yang tidak mempunyai antibodi
sama sekali terhadap ketiga virus polio (triple negatif) sangat
tinggi, dan prosentase anak yang mempunyai antibodi terhadap
masing-masing tipe virus polio sangat tendah. Ini berarti bahwa
distribusi virus polio di Mataram belum menyebar secara luas
kepada semua penduduk. Hal ini kemungkinan disebabkan
karena masih banyak lokasi-lokasi yang terisolir dari luar
sehingga kesempatan untuk kontak dengan daerah luar pun
masih sedikit.
Tingkat kekebalan anak umu
dan di pedesaan (Jembatan Kembar) ternyata tidak ada
perbedaan. Akan tetapi kalau diperhatikan pada anak umur di
bawah 2 tahun maka terlihat bahwa tngkat kekebalannya
terhadap virus polio tipe 1, anak-anak di desa lebih tinggi dari
anak-anak di kota. Demikian juga kekebalan terhadap ketiga
tipe virus polio (triple positif), prosentase anak di desa lebih
tinggi dibandingkan dengan anak di kota. Perbedaan tersebut
kemungkinan disebabkan karena adanya beberapa faktor,
antara lain status higiene sanitasi di desa lebih jelek daripada di
kota sehingga penyebaran virus polio di desa lebih meluas dan
akibatnya infeksi primernya pada anak-anak di desa lebih dini.
Faktor lain adalah status sosial ekonomi dari orang tua anak di
kota sudah lebih baik dan lebih maju, kebiasaan dalam menjaga
kebersihan dan perawatan anak lebih baik sehingga untuk
terjadinya infeksi oleh virus polio pada anak akan tertunda
pada anak yang lebih tua. Jika diperhatikan dari status
kekebalan anak-anak di kota maka ternyata bahwa ada
kenaikan yang tajam dari antibodi anak terhadap virus polio
tipe 1 dan tipe 2 setelah anak berumur 2 tahun, masing-masing
dari 17% menjadi 40% dan dari 16% menjadi 31%; dan setelah
anak berumur 3 tahun kenaikannya tidak t
menunjukkan bahwa kelihatannya memang ada kecen-
derungan infeksi primer virus polio akan tertunda pada anak
yang lebih tua apabila keadaan sosial ekonomi dan sanitasi
lingkungannya bertambah maju.
Status kekebalan anak yang rendah di Mataram juga menun-
Cermin Dunia Kedokteran No. 50, 1988
42
jukkan bahwa selama beberapa waktu yang silam belum pernah
terjadi epidemi poliomielitis di daerah tersebut. Hasil isolasi
virus entero menunjukkan tidak ada perbedaan prosentase
infeksi virus entero di daerah pedesaan dan perkotaan. Infeksi
virus entero non polio (Echo dan Coxsakie virus) ternyata lebih
dominan sehingga menghambat transmisi virus polio di antara
anak-anak Balita. Melihat hasil-hasil penelitian ini maka
khususnya di Mataram dan sekitarnya membutuhkan perhatian
yang serius untuk mencegah terjadinya wabah poliomilitis,
sehingga perlu segera dilakukan vaksinasi polio pada anak-
nak umur di bawah lima tahun, baik di daerah perkotaan
daerah pedesaan. Hasil trial vaksin polio di Jakarta
dan
aksinasi dasar.
PU
1.
Titi Indiyati Soew
e
o
si
o
In
71 19
irecto
of E
iolog
nd Imm
ation,
Direct ate General of Comm
isea Contro lull, 1984.
2.
o,
ke
n
anak
adap
poliom itis di beber a d
In nesia. ulletin P elitian
Kesehatan, 1984; 2, 29 33.
3.
Gendr
uhono, Suharyo
adi.
anggap kebal anak-anak
o di Jakarta. Bulletin Penelitian Kesehatan,
4.
G
a
maupun
Lampung
3,4
membuktikan bahwa dengan memberikan 2
kali vaksinasi polio secara oral sudah cukup memberikan
kekebalan yang baik di antara anak-anak yang berumur lebih
dari 3 bulan.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil-hasil penelitian ini disimpulkan bahwa
status kekebalan terhadap virus polio dari anak-anak di bawah
lima tahun di Mataram sangat rendah baik di daerah perkotaan
maupun di pedesaan. Untuk itu disarankan segera melakukan
vaksinasi polio kepada anak-anak umur di bawah lima tahun,
khususnya di Mataram, dengan trivalent oral polio vaksin dan
dapat diberikan 2 kali sebagai v
KE
STAKAAN
situati
arso. Th
n analy s of p liomyelitis in
donesia, 19
82. D
rate
pidem
y a
uniz
or
unicable D
se
l.
Gendrowahyuhon
dkk.
St
aerah di
atus kebala
anak-
terh
il
ap
do
B
en
owahy
no Wury
T
terhadap 2 dosis vaksin poli
1982; 2, 31 34.
endrowahyuhono, dkk. Tanggap kebal anak terhadap vaksinasi polio
dangan dua kali dosis dan tiga kali dosis. Medika, 1987; 4, 369 373.
Cermin Dunia Kedokteran No. 75, 1992 43