background image
BERITA TERKINI
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
48
S
uatu hasil survai mengemukakan bahwa pasien kanker serta
dokter onkologi berpendapat mood depresi dapat mempe-
ngaruhi progresifitas penyakit kanker, meskipun belum ada
bukti sahih mengenai hal tersebut.
Kanker dan Depresi
Mekanisme psikofisiologi depresi dengan perjalanan penyakit
kanker meliputi disregulasi aksis hipotalamus ­ hipofisis ­
adrenal, terutama variasi diurnal kortisol dan melatonin.
Kondisi depresi juga mempengaruhi komponen imunitas
sehingga dapat mempengaruhi harapan hidup. Selain itu,
keadaan depresi juga berpengaruh buruk terhadap kepatuhan
pasien berobat.
Suatu penelitian pada hewan coba menunjukan timbulnya
gejala / perilaku depresi / ansietas pada mencit dengan ca
mammae. Terjadi peningkatan produksi sitokin proinflamasi di
hipokampus dan perifer yang menginduksi gejala / perilaku
depresif. Kadar corticosterone, yang menghambat penghan-
taran sinyal sitokin tersebut, mengalami supresi.
Keadaan depresi, baik akibat tumor secara langsung maupun
dampak psikologisnya, merupakan hal sering terjadi dan
diperlukan perhatian tersendiri, baik oleh pihak keluarga
maupun klinisi. Selain berdampak buruk terhadap kualitas
hidup, kepatuhan terapi, ternyata dari studi meta-analisis di
atas depresi berdampak negatif terhadap harapan hidup
pasien (meskipun dampaknya relatif kecil).
Studi meta-analisis berikut ini menilai sejauh mana gejala dan
kelainan depresi mayor mempengaruhi progresifitas dan harapan
hidup pasien kanker :
Metoda : Studi meta-analisis
Tujuan primer: menilai dampak depresi (termasuk kelainan depresif
dan gejala depresi) terhadap progresifitas dan mortalitas pasien
kanker.
Hasil :
Ditemukan 5 artikel (n=2.097) yang menilai dampak depresi
terhadap rekurensi kanker (publikasi tahun 1992 ­ 2008)
- Risk ratio gejala depresi terhadap progresifitas kanker
sebesar 1,23 (95% CI: 0,85 ­ 1,77, p=0,275).
Ditemukan 27 studi observasional (n=9.417) yang menilai dampak
depresi terhadap mortalitas (publikasi tahun 1990-2009). Jenis
kanker : ca payudara, ca paru, ca otak, melanoma, keganasan
hematologi, dsb.
- Risk ratio gejala depresi terhadap peningkatan mortalitas
sebesar 1,25 (95% CI: 1,12 ­ 1,40, p<0,01).
- Risk ratio depresi minor / mayor terhadap peningkatan
mortalitas sebesar 1,39 (95% CI: 1,10 ­ 1,89, p=0,03).
- Dampak depresi terhadap mortalitas terlihat pada penelitian-
penelitian dengan waktu pemantauan selama 5 tahun atau
kurang (p=0,001) maupun di atas 5 tahun (p=0,024).
- Setelah adjustment terhadap faktor prognosis lainnya, depresi
tetap secara bermakna merupakan faktor prognostik
peningkatan mortalitas.
Simpulan :
Depresi merupakan prediktor mortalitas, namun tidak progresifitas,
pasien kanker. Hubungan tersebut bermakna secara statistik
namun relatif kecil. Dampak depresi terhadap mortalitas tetap
terlihat setelah adjustment, mengindikasikan depresi memiliki
peran kausal.
(LHS)
Referensi :
1. Satin JR, Linden W, Phillips MJ. Depression As a Predictor of Disease Progression and
Mortality in Cancer Patients.Cancer 2009
2. Spiegel D, Giese-Davis J. Depression and Cancer : Mechanisms and Disease
Progression.Biological
Psychiatry.2003.54(3):269-82.
Abstract
3. Pyter LM, Pineros V, Galang JA, McClintock MK, Prendergast BJ.Peripheral Tumors
Induce Depressive-like Behaviors and Cytokine Production and Alter Hypothalamic-
pituitary-adrenal Axis Regulation. PNAS. 2009
Masalah psikologis yang dialami sebagian besar pasien kanker adalah depresi. Pernah
dilaporkan insiden depresi sebesar 60%pada pasien kanker payudara. Prevalensi depresi
makin meningkat sejalan dengan progresifitas penyakit dan gejala
Depresi pada Pasien Kanker dan
Depresi pada Pasien Kanker dan
Hubungannya dengan Harapan Hidup
Hubungannya dengan Harapan Hidup
Depresi pada Pasien Kanker dan
Hubungannya dengan Harapan Hidup
IKLAN
PIONIX