D
r Eva T. Aronen, dari Universitas Helsinki Central Hospital
mengatakan "Suudi kami menemukan dengkur sebagai
faktor risiko yang mungkin untuk masalah mood dan
kognitif yang buruk pada anak-anak usia TK".
Diantara 43 balita yang mendengkur setidaknya sekali atau
dua kali seminggu, menurut orang tuanya, dan 46 balita
yang tidak mendengkur, tim Aronen menemukan lebih
tinggi masalah mood, khususnya gejala kegelisahan dan
depresi pada pendengkur.
"Secara keseluruhan, 22 persen dari anak-anak yang
mendengkur mengalami gangguan gejala mood yang cukup
parah gejala sehingga perlu evaluasi klinis, dibandingkan
dengan 11 persen dari anak-anak yang tidak mendengkur,"
kata Aronen.
"Mengejutkan dan melebihi harapan kami, perilaku seperti
hiperaktif dan perilaku agresif, tidak lebih sering diantara
anak usia TK yang mendengkur dalam kajian ini," Aronen
menambahkan.
Menurut laporan dari studi yang diterbitkan di dalam Journal
of Developmental and Behavioral Pediatrics, anak-anak yang
mendengkur juga cenderung memiliki lebih banyak masalah
tidur, seperti mimpi buruk, berbicara dalam tidur mereka,
atau kesulitan tidur.
Beberapa tes fungsi otak juga menunjukkan perbedaan yang
signifikan antara pendengkur dan yang bukan, termasuk
penurunan perhatian dan penurunan kemampuan bahasa
pada anak-anak yang mendengkur.
Dengkur merupakan gejala umum dari gangguan bernafas
saat tidur , yang disebabkan oleh terhalangnya udara di atas
rongga hidung selama tidur. Mengetahui dampak gangguan
napas saat tidur pada anak-anak balita terhadap perkem-
bangan dan kesehatan mental akan membantu dokter anak
dan profesional kesehatan lain mengenali masalah tidur.
Para peneliti menyimpulkan "Hal ini memungkinkan intervensi
sebelum diperoleh di sekolah atau sebelum berkembang gejala-
gejala perllaku dan atau emosional yang lebih sulit.
(NFA)
Sumber :
MedlinePlus http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/news/fullstory_82969.html
Mendengkur: Tanda Kesulitan pada Balita?
Laporan para peneliti Finlandia menyatakan bahwa anak-anak umur tiga sampai enam
tahun yang mendengkur mengalami lebih banyak gejala depresi dan kegelisahan, serta perhatian
dan masalah bahasa, dibandingkan anak lain seusia mereka yang tidak mendengkur.
N
amun saat ini studi terbaru telah dilakukan untuk menilai
efikasi kombinasi albumin dengan furosemid; 16 anak
sindrom nefrotik dan edema refrakter diacak dalam suatu
studi silang untuk mendapat kombinasi infus albumin
manusia 20% dan furosemid (kelompok infus HA+FU) atau
infus furosemid saja (kelompok infus FU).
Pada akhir studi, hasilnya menunjukkan bahwa:
Penemuan studi ini menunjukkan bahwa pemberian infus
albumin bersama furosemid lebih efektif dibanding pembe-
rian infus furosemid saja dalam menyebabkan diuresis dan
natriuresis pada pasien dengan sindrom nefrotik.
Sebelumnya suatu studi literatur juga telah dilakukan untuk
menilai manfaat klinis kombinasi furosemide dengan albumin
manusia untuk terapi edema yang resisten terhadap diuretik
pada pasien dengan sindrom nefrotik dan sirosis. Literatur
klinis didapat melalui MEDLINE (1966-Mei 2002).
Hasil studi tersebut menyimpulkan bahwa tampaknya
kombinasi albumin dengan furosemid memberikan manfaat
klinis untuk pasien sindrom nefrotik dan sirosis. Penambahan
albumin dapat meningkatkan efikasi diuretik sehingga dapat
digunakan pada pasien dengan edema atau asites rekalsitran
jika dosis diuretik telah maksimal dan juga pada pasien
dengan hipoalbuminemia berat.
Studi lain telah dilakukan secara buta ganda, dengan kontrol
plasebo pada 9 pasien sindrom nefrotik dengan asupan
natrium klorida yang telah distandarisasi. Pasien secara acak
mendapat infus furosemid 60 mg, infus albumin 20% 200
mL plus furosemid 60 mg atau infus 200 mL albumin 20%
selama 60 menit.
Hasilnya menunjukkan bahwa infus furosemid saja secara
bermakna meningkatkan natrium urin kumulatif rata-rata
dibanding dengan infus albumin saja dalam 8 jam pertama.
Kombinasi infus albumin dengan furosemid menyebabkan
peningkatan natrium urin dan ekskresi volume urin yang
lebih bermakna dibanding dengan infus furosemide saja
(p<0,005).
Faktor natriuretik atrial, konsentrasi albumin serum dan
ekskresi albumin urin meningkat secara bermakna pada
kedua kelompok infus albumin, sedangkan ekskresi furosemid
urin tidak berubah dengan pemberian albumin. Laju filtrasi
glomerulus tidak dipengaruhi secara bermakna oleh semua
jenis infus tetapi aliran plasma ginjal efektif meningkat
secara bermakna pada kedua kelompok infus albumin.
Disimpulkan bahwa pemberian bersama albumin meningkat-
kan kerja furosemid pada pasien dengan sindrom nefrotik
walaupun sedikit, efek ini dimediasi oleh perubahan hemo-
dinamik ginjal.
(EKM)
Referensi:
1. Dharmaraj R, Hari P, Bagga A. Randomized cross-over trial comparing albumin
and frusemide infusions in nephrotic syndrome. Pediatr Nephrol. 2009; 24(4):775-82.
2. Elwell RJ, Spencer AP, Eisele G. Combined furosemide and human albumin
treatment for diuretic-resistant edema. Ann Pharmacother. 2003;37(5):695-700.
3. Fliser D, Zurbrüggen I, Mutschler E, Bischoff I, Nussberger J, Franek E et al.
Coadministration of albumin and furosemide in patients with the nephrotic
syndrome.
Kidney
Int.1999;55(2):629-34.
Albumin Meningkatkan Efek
Diuretik Furosemid
Hipoalbuminemia, edema dan asites sering ditemukan pada sindrom nefrotik
dan sirosis hati. Banyak pasien dengan kondisi tersebut resisten terhadap efek
diuretik termasuk furosemid. Kontribusi hipoalbuminemia terhadap gangguan
responsivitas diuretik dapat diatasi dengan pemberian dosis diuretik yang lebih besar.
Median volume urin
Median sekresi natrium
Penurunan berat badan
Osmolaritas urin
Klirens osmolal
Klirens air bebas
3,27 mL/kg/jam
58 mEq/hari
5,2%
315 mOsm/kg
1600 mL/hari
-190 mL/hari
1,33 mL/kg/jam
30 mEq/hari
0,8%
368 mOsm/kg
880 mL/hari
-162 mL/hari
0,01
0,08
0,006
0,13
0,01
0,18
Kelompok
infus
furosemide
Variabel
Kelompok
infus
albumin +
furosemide
p
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
433
B E R I T A T E R K I N I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
434
B E R I T A T E R K I N I