358
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
359
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
WHO membuat klasifikasi paduan
pengobatan TB pada tahun 1997 seperti
pada tabel 1
Panduan pengobatan TB tercantum
pada standar 8 International Standard of
Tuberculosis Care ( ISTC) yaitu semua
pasien (termasuk mereka yang terinfeksi
HIV) yang belum pernah diobati harus
diberi paduan obat lini pertama; disepakat i
secara internasional menggunakan obat
yang biovalibilitinya telah diketahui. Fase
awal harus terdiri dari isoniazid, rifampi-
sin, pirazinamid, dan etambutol. Fase lan-
jutan yang dianjurkan terdiri dari isoniazid
dan rifampisin diberikan selama 4 bulan.
Isoniazid dan etambutol selama 6 bulan
merupakan paduan alternatif pada fase
lanjutan jika kepatuhan pasien tidak dapat
dinilai, tetapi ini berisiko tinggi gagal dan
kambuh, terutama untuk pasien terinfeksi
HIV. Dosis obat antituberkulosis harus
sesuai dengan rekomendasi internasional.
Kombinasi dosis tetap yang terdiri kom-
binasi 2 obat (isoniazid dan rifampisin), 3
obat (isoniazid, rifampisin dan pirazina-
mid), dan 4 obat (isoniazid, rifampisin,
pirazinamid dan etambutol) sangat dire-
komendasikan terutama jika menelan obat
tidak diawasi.
Resistensi OAT terhadap M.tuberculosis
Pada uji klinik 73 pasien diobati deng-
an INH saja, terjadi resistensi sebesar 52%
pada bulan ke dua pengobatan dan 71%
pada akhir bulan ke tiga. Jika hanya diberi
satu obat maka risiko terjadinya resistensi
terhadap obat tersebut akan makin mening-
kat. Hal ini akan mudah dihindari dengan
pemberian OAT kombinasi dosis tetap.
Resistensi di antara pasien TB baru
yang belum mendapat pengobatan atau
telah mendapat OAT kurang dari 1 bu-
lan disebut resistensi primer. Resistensi
sekun der terjadi pada pasien yang mempu-
nyai riwayat pengobatan OAT sebelumnya
minimal 1 bulan pengobatan. Resistensi
terhadap M.tuberculosis merupakan konse-
kuensi kesalahan manusia dalam hal pem-
berian obat, pengelolaan/pengadaan obat,
penatalaksanaan kasus, proses penyam-
paian OAT kepada pasien.
KOMBINASI DOSIS TETAP
Beberapa penyakit infeksi dapat dio-
bati dengan rifampisin, pada pengobatan
TB dengan satu obat rifampisin akan ce-
pat terjadi resistensi walaupun diberikan
dalam jangka pendek. Pemberian paduan
OAT lepas misalnya kombipak memung-
kinkan pasien tidak minum semua obat
dan menyetop sendiri obat yang tidak
disukai, sebaliknya penyelenggara kesehat-
an dapat memberikan paduan atau dosis
obat tidak sesuai standar sehingga memu-
dahkan terjadinya resitensi M. tuberculosis
terhadap OAT bahkan MDR. Pemberian
paduan OAT KDT lebih sederhana karena
jumlahnya lebih sedikit daripada paduan
OAT obat lepas. Pada penelitian di Hong
Kong 1% dari 312 pasien kelompok KDT
mengeluh besarnya pil yang harus ditelan
dibandingkan 5 % dari 308 pasien kelom-
pok paduan OAT lepas. Pemberian OAT
dengan KDT ini tidak mengubah penata-
laksanaan TB dengan strategi DOTS.
Dosis kombinasi tetap ini telah di-
tetapkan oleh WHO sebagai dosis yang
efektif atau masih termasuk dalam dosis
terapi dan dosis non toksik, walaupun ber-
beda jika dibandingkan dengan dosis OAT
menurut WHO 1993 (tabel 2). Gambar 1
menunjukkan bahwa dosis obat yang ter-
kandung dalam KDT masih termasuk da-
lam batas terapi misal INH untuk pasien
dengan berat badan 50 kg diberi 3 tablet
berarti 275 mg, dilihat pada grafik INH
masih dalam dosis terapi.
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari
4 macam OAT yaitu rifampisin 150 mg,
isoniasid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan
etambutol 275 mg. Rekomendasi WHO ta-
hun 1999 kombinasi dosis tetap diberikan
berdasarkan berat badan untuk dewasa (ta-
bel 3a dan 3b) dan dosis anak pada tabel 3c.
Pada saat ini kombinasi tetap yang ada di
Indonesia hanya RHZE dan RH.
WHO dan IUATLD merekomenda-
sikan pemakaian OAT KDT 4 obat sejak
tahun 1994 dengan syarat bioavibiliti ri-
fampisin setelah dikombinasi dengan OAT
lainnya tidak boleh berkurang, tetapi kom-
binasi ini hanya digunakan oleh sebagian
kecil penyelenggara kesehatan. Pada tahun
1998 WHO dan IUATLD menyarankan
Tabel 2. Perbedaan antara dosis OAT pada pasien
dengan BB 50kg Tahun 1993 & 1999.
Gambar 1. Rentang dosis KDT
Tahun
R
H
Z
E
WHO 1993
450
300
1500
800
WHO 1999
450
225
1200
825
Figure 2 :
Rifampicin
dosage
min dose
norm dose
max dose
1000
800
Dose (mg)
Body Wight (kg)
600
400
200
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 3 :
Isoniazid
dosage
min dose
norm dose
max dose
600
500
Body Wight (kg)
Body Wight (kg)
Body Wight (kg)
400
300
200
100
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 4 :
Pyrazinamide
dosage
min dose
norm dose
max dose
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 5 :
Ethambutol
dosage
min dose
norm dose
max dose
2000
1600
1200
800
400
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting di
du nia. Mycobacterium tuberculosis telah
meng infeksi sepertiga penduduk dunia. In-
donesia merupakan negara dengan pa sien
TB terbanyak ke-3 di dunia setelah In dia
dan Cina. Pada tahun 1993,WHO men-
canangkan kedaruratan global penyakit
TB, karena pada sebagian besar negara di
dunia, penyakit TB tidak terkendali. Ini di-
sebabkan oleh banyaknya pasien yang tidak
berhasil disembuhkan terutama penderita
TB BTA (+). Di negara-negara berkembang
kematian TB merupakan 25% dari seluruh
kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Diperkirakan 95% penderita TB terdapat di
negara berkembang dan 75% di antaranya
terdapat pada kelompok usia produktif (15-
50) tahun. Diperkirakan 8 juta kasus TB
baru dan 2 juta kematian tiap tahun. Epide-
mi HIV/AIDS merupakan salah satu penye-
bab meningkatnya penderita TB.
Hasil survei kesehatan rumah tang-
ga (SKRT) Departemen Kesehatan tahun
1995, menunjukkan bahwa penyakit TB
merupakan penyebab kematian nomor tiga
setelah penyakit kardiovaskuler dan salur-
an pernapasan pada semua kelompok usia
dan penyebab kematian nomor satu pada
penyakit infeksi.
Multi drug resistance (MDR) merupa-
kan suatu keadaan yang sangat urgen dan
pengobatannya sulit serta sangat mahal.
Pengembangan pengobatan TB paru yang
efektif merupakan hal yang penting untuk
menyembuhkan pasien dan menghinda-
ri MDR. WHO dan International Union
Against Tuberculosis and Lung Disease
(IUTLD) menganjurkan agar menggan-
ti paduan OAT lepas dengan kombinasi
dosis tetap sejak tahun 1994, tetapi kurang
gencar dan baru tahun 1999 lebih dipro-
mosikan untuk mencegah resistensi.
STRATEGI DIRECTLY
OBSERVED TREATMENT SHORT
COURSE (DOTS)
Word Health Organization ( WHO) te-
lah mempromosikan strategi DOTS obat
paket TB yang paling cost effective sejak
tahun 1994.
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen:
Komitmen pemerintah untuk men-
1.
jalankan program TB nasional
Penemuan kasus TB dengan pemerik-
2.
saan BTA mikroskopik
Pemberian obat jangka pendek yang dia-
3.
wasi secara langsung, dikenal dengan is-
tilah DOT (Directly Observed Therapy)
Pengadaan OAT secara berkesinam-
4.
bungan
Monitoring
5.
serta pencatatan dan pela-
poran
Strategi DOTS tetap digunakan pada
pengobatan TB dengan paduan OAT KDT.
PMO (Pengawas Menelan Obat) juga tetap
digunakan untuk mengawasi langsung
pasien menelan obat pada fase intensif
maupun fase lanjut.
PENGOBATAN TUBERKULOSIS
Berbagai variasi paduan pengobatan TB
telah dikenal selama ini. Pada dasarnya pen-
gobatan terdiri atas dua fase yaitu fase awal
dan fase lanjutan. Pada fase awal diperlukan
sedikitnya 3 atau 4 macam obat, dan pada
fase lanjutan diberikan 2 macam obat.
Obat Anti Tuberkulosis
Kombinasi Dosis Tetap
Priyanti Z Soepandi
Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi
FKuI, sMF Paru RsuP Persahabatan, Jakarta
Tabel 1. Paduan obat alternatif berdasarkan kategori
Kategori
Pengobatan
TB
Klasifikasi dan Tipe Penderita
TB
Paduan Obat Alternatif
Fase intensif (tiap hari
atau 3x/minggu)
Fase lanjutan
I
Kasus baru BTA (+)
2 HRZE*
4 H3R3*
Kasus baru BTA (-), Ro (+)
dengan kelainan parenkim paru
yang luas/sakit berat
2 HRZE
4 HR
Kasus baru pada TB ekstraparu
yang berat
2 HRZE
6 HE
II
Pasien:
2 HRZES
5 H3R3E3*
Kambuh (relapse)
/1 HRZE*
5 HRE
Gagal (failure)
2 HRZES
Putus berobat (after default)
/1 HRZE
III
Kasus baru BTA (-), Ro (+), sakit
ringan
2 HRZ* 2 HRZ
4 H3R3* 6 HE
Kasus TB ekstraparu ringan
2 HRZ
4 HR
IV
Kasus kronik
Rujuk ke spesialis untuk memakai obat sekunder
* Paduan OAT yang digunakan Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia
Dose (mg)
Dose (mg)
Dose (mg)
358
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
359
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
WHO membuat klasifikasi paduan
pengobatan TB pada tahun 1997 seperti
pada tabel 1
Panduan pengobatan TB tercantum
pada standar 8 International Standard of
Tuberculosis Care ( ISTC) yaitu semua
pasien (termasuk mereka yang terinfeksi
HIV) yang belum pernah diobati harus
diberi paduan obat lini pertama; disepakat i
secara internasional menggunakan obat
yang biovalibilitinya telah diketahui. Fase
awal harus terdiri dari isoniazid, rifampi-
sin, pirazinamid, dan etambutol. Fase lan-
jutan yang dianjurkan terdiri dari isoniazid
dan rifampisin diberikan selama 4 bulan.
Isoniazid dan etambutol selama 6 bulan
merupakan paduan alternatif pada fase
lanjutan jika kepatuhan pasien tidak dapat
dinilai, tetapi ini berisiko tinggi gagal dan
kambuh, terutama untuk pasien terinfeksi
HIV. Dosis obat antituberkulosis harus
sesuai dengan rekomendasi internasional.
Kombinasi dosis tetap yang terdiri kom-
binasi 2 obat (isoniazid dan rifampisin), 3
obat (isoniazid, rifampisin dan pirazina-
mid), dan 4 obat (isoniazid, rifampisin,
pirazinamid dan etambutol) sangat dire-
komendasikan terutama jika menelan obat
tidak diawasi.
Resistensi OAT terhadap M.tuberculosis
Pada uji klinik 73 pasien diobati deng-
an INH saja, terjadi resistensi sebesar 52%
pada bulan ke dua pengobatan dan 71%
pada akhir bulan ke tiga. Jika hanya diberi
satu obat maka risiko terjadinya resistensi
terhadap obat tersebut akan makin mening-
kat. Hal ini akan mudah dihindari dengan
pemberian OAT kombinasi dosis tetap.
Resistensi di antara pasien TB baru
yang belum mendapat pengobatan atau
telah mendapat OAT kurang dari 1 bu-
lan disebut resistensi primer. Resistensi
sekun der terjadi pada pasien yang mempu-
nyai riwayat pengobatan OAT sebelumnya
minimal 1 bulan pengobatan. Resistensi
terhadap M.tuberculosis merupakan konse-
kuensi kesalahan manusia dalam hal pem-
berian obat, pengelolaan/pengadaan obat,
penatalaksanaan kasus, proses penyam-
paian OAT kepada pasien.
KOMBINASI DOSIS TETAP
Beberapa penyakit infeksi dapat dio-
bati dengan rifampisin, pada pengobatan
TB dengan satu obat rifampisin akan ce-
pat terjadi resistensi walaupun diberikan
dalam jangka pendek. Pemberian paduan
OAT lepas misalnya kombipak memung-
kinkan pasien tidak minum semua obat
dan menyetop sendiri obat yang tidak
disukai, sebaliknya penyelenggara kesehat-
an dapat memberikan paduan atau dosis
obat tidak sesuai standar sehingga memu-
dahkan terjadinya resitensi M. tuberculosis
terhadap OAT bahkan MDR. Pemberian
paduan OAT KDT lebih sederhana karena
jumlahnya lebih sedikit daripada paduan
OAT obat lepas. Pada penelitian di Hong
Kong 1% dari 312 pasien kelompok KDT
mengeluh besarnya pil yang harus ditelan
dibandingkan 5 % dari 308 pasien kelom-
pok paduan OAT lepas. Pemberian OAT
dengan KDT ini tidak mengubah penata-
laksanaan TB dengan strategi DOTS.
Dosis kombinasi tetap ini telah di-
tetapkan oleh WHO sebagai dosis yang
efektif atau masih termasuk dalam dosis
terapi dan dosis non toksik, walaupun ber-
beda jika dibandingkan dengan dosis OAT
menurut WHO 1993 (tabel 2). Gambar 1
menunjukkan bahwa dosis obat yang ter-
kandung dalam KDT masih termasuk da-
lam batas terapi misal INH untuk pasien
dengan berat badan 50 kg diberi 3 tablet
berarti 275 mg, dilihat pada grafik INH
masih dalam dosis terapi.
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari
4 macam OAT yaitu rifampisin 150 mg,
isoniasid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan
etambutol 275 mg. Rekomendasi WHO ta-
hun 1999 kombinasi dosis tetap diberikan
berdasarkan berat badan untuk dewasa (ta-
bel 3a dan 3b) dan dosis anak pada tabel 3c.
Pada saat ini kombinasi tetap yang ada di
Indonesia hanya RHZE dan RH.
WHO dan IUATLD merekomenda-
sikan pemakaian OAT KDT 4 obat sejak
tahun 1994 dengan syarat bioavibiliti ri-
fampisin setelah dikombinasi dengan OAT
lainnya tidak boleh berkurang, tetapi kom-
binasi ini hanya digunakan oleh sebagian
kecil penyelenggara kesehatan. Pada tahun
1998 WHO dan IUATLD menyarankan
Tabel 2. Perbedaan antara dosis OAT pada pasien
dengan BB 50kg Tahun 1993 & 1999.
Gambar 1. Rentang dosis KDT
Tahun
R
H
Z
E
WHO 1993
450
300
1500
800
WHO 1999
450
225
1200
825
Figure 2 :
Rifampicin
dosage
min dose
norm dose
max dose
1000
800
Dose (mg)
Body Wight (kg)
600
400
200
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 3 :
Isoniazid
dosage
min dose
norm dose
max dose
600
500
Body Wight (kg)
Body Wight (kg)
Body Wight (kg)
400
300
200
100
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 4 :
Pyrazinamide
dosage
min dose
norm dose
max dose
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
Figure 5 :
Ethambutol
dosage
min dose
norm dose
max dose
2000
1600
1200
800
400
0
30
35
40
45
50
55
60
65
70
75
80
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) merupakan masalah
kesehatan masyarakat yang penting di
du nia. Mycobacterium tuberculosis telah
meng infeksi sepertiga penduduk dunia. In-
donesia merupakan negara dengan pa sien
TB terbanyak ke-3 di dunia setelah In dia
dan Cina. Pada tahun 1993,WHO men-
canangkan kedaruratan global penyakit
TB, karena pada sebagian besar negara di
dunia, penyakit TB tidak terkendali. Ini di-
sebabkan oleh banyaknya pasien yang tidak
berhasil disembuhkan terutama penderita
TB BTA (+). Di negara-negara berkembang
kematian TB merupakan 25% dari seluruh
kematian yang sebenarnya dapat dicegah.
Diperkirakan 95% penderita TB terdapat di
negara berkembang dan 75% di antaranya
terdapat pada kelompok usia produktif (15-
50) tahun. Diperkirakan 8 juta kasus TB
baru dan 2 juta kematian tiap tahun. Epide-
mi HIV/AIDS merupakan salah satu penye-
bab meningkatnya penderita TB.
Hasil survei kesehatan rumah tang-
ga (SKRT) Departemen Kesehatan tahun
1995, menunjukkan bahwa penyakit TB
merupakan penyebab kematian nomor tiga
setelah penyakit kardiovaskuler dan salur-
an pernapasan pada semua kelompok usia
dan penyebab kematian nomor satu pada
penyakit infeksi.
Multi drug resistance (MDR) merupa-
kan suatu keadaan yang sangat urgen dan
pengobatannya sulit serta sangat mahal.
Pengembangan pengobatan TB paru yang
efektif merupakan hal yang penting untuk
menyembuhkan pasien dan menghinda-
ri MDR. WHO dan International Union
Against Tuberculosis and Lung Disease
(IUTLD) menganjurkan agar menggan-
ti paduan OAT lepas dengan kombinasi
dosis tetap sejak tahun 1994, tetapi kurang
gencar dan baru tahun 1999 lebih dipro-
mosikan untuk mencegah resistensi.
STRATEGI DIRECTLY
OBSERVED TREATMENT SHORT
COURSE (DOTS)
Word Health Organization ( WHO) te-
lah mempromosikan strategi DOTS obat
paket TB yang paling cost effective sejak
tahun 1994.
Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen:
Komitmen pemerintah untuk men-
1.
jalankan program TB nasional
Penemuan kasus TB dengan pemerik-
2.
saan BTA mikroskopik
Pemberian obat jangka pendek yang dia-
3.
wasi secara langsung, dikenal dengan is-
tilah DOT (Directly Observed Therapy)
Pengadaan OAT secara berkesinam-
4.
bungan
Monitoring
5.
serta pencatatan dan pela-
poran
Strategi DOTS tetap digunakan pada
pengobatan TB dengan paduan OAT KDT.
PMO (Pengawas Menelan Obat) juga tetap
digunakan untuk mengawasi langsung
pasien menelan obat pada fase intensif
maupun fase lanjut.
PENGOBATAN TUBERKULOSIS
Berbagai variasi paduan pengobatan TB
telah dikenal selama ini. Pada dasarnya pen-
gobatan terdiri atas dua fase yaitu fase awal
dan fase lanjutan. Pada fase awal diperlukan
sedikitnya 3 atau 4 macam obat, dan pada
fase lanjutan diberikan 2 macam obat.
Obat Anti Tuberkulosis
Kombinasi Dosis Tetap
Priyanti Z Soepandi
Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi
FKuI, sMF Paru RsuP Persahabatan, Jakarta
Tabel 1. Paduan obat alternatif berdasarkan kategori
Kategori
Pengobatan
TB
Klasifikasi dan Tipe Penderita
TB
Paduan Obat Alternatif
Fase intensif (tiap hari
atau 3x/minggu)
Fase lanjutan
I
Kasus baru BTA (+)
2 HRZE*
4 H3R3*
Kasus baru BTA (-), Ro (+)
dengan kelainan parenkim paru
yang luas/sakit berat
2 HRZE
4 HR
Kasus baru pada TB ekstraparu
yang berat
2 HRZE
6 HE
II
Pasien:
2 HRZES
5 H3R3E3*
Kambuh (relapse)
/1 HRZE*
5 HRE
Gagal (failure)
2 HRZES
Putus berobat (after default)
/1 HRZE
III
Kasus baru BTA (-), Ro (+), sakit
ringan
2 HRZ* 2 HRZ
4 H3R3* 6 HE
Kasus TB ekstraparu ringan
2 HRZ
4 HR
IV
Kasus kronik
Rujuk ke spesialis untuk memakai obat sekunder
* Paduan OAT yang digunakan Program Nasional Penanggulangan TB di Indonesia
Dose (mg)
Dose (mg)
Dose (mg)
360
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
361
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
untuk menggantikan paduan
obat tunggal
dengan KDT sebagai bagian dari strategi
DOTS dalam pengobatan TB.
Keuntungan kombinasi dosis tetap
Pengobatan menjadi sederhana
1.
Mengurangi kesalahan dalam pem-
·
buatan resep
Meningkatkan kepatuhan pasien be-
·
robat karena jumlah obat yang dimi-
num lebih sedikit
Meningkatkan kepatuhan tenaga ke-
·
sehatan terhadap penatalaksanaan
TB
Memungkinkan mengurangi super-
·
visi
Penatalaksanaan dan persediaan obat
2.
menjadi sederhana
Dalam hal penghitungan jumlah
·
obat
Dalam hal pemesanan obat
·
Distribusi stok obat
·
Mengurangi risiko stok obat habis
·
Yakin bahwa kualiti obat baik
·
Mengurangi angka resistensi obat
3.
Pasien menerima obat dengan regi-
·
men dan dosis yang benar
Pemberian obat TB KDT (kombinasi
·
dosis tetap), dapat mencegah peng-
gunaan obat tunggal oleh pasien.
Kerugian penggunaan KDT
Harga obat lebih mahal
·
Jika terjadi efek samping, tidak diketa-
·
hui obat mana yang menyebabkannya
sehingga paduan KDT diganti paduan
obat lepas
KUALITI OAT KOMBINASI DOSIS
TETAP (KDT)
Kualiti obat merupakan hal yang pen-
ting untuk semua OAT ; dalam kombi-
nasi dosis tetap bioavailabiliti rifampisin
setelah dikombinasi dengan OAT lainnya
tidak boleh berkurang, karena rifampisin
adalah tulang punggung pengobatan TB.
Hal tersebut telah ditetapkan oleh WHO
Quali ty control network for FDC .
EFEK SAMPING KOMBINASI
DOSIS TETAP
Efek samping terjadi 3-6% pada pasien
yang diobati; jika terjadi efek samping
maka dapat digunakan paduan
OAT lepas.
Oleh karena itu tetap dibutuhkan paduan
OAT lepas
di pusat rujukan.
Jika pasien TB yang mendapat OAT
kombinasi dosis tetap mengalami efek
samping maka dirujuk ke spesialis. Efek
samping lebih banyak terjadi pada pasien
TB dengan HIV/AIDS.
Kombinasi dosis tetap dapat diganti
dengan paduan OAT lepas dan dicari pe-
nyebab efek sampingnya misal :
Pada gagal ginjal : rifampisin, INH dan
·
pirazinamid aman diberikan, dosis
etambutol harus dikurangi dan diberi
piridoksin untuk mencegah neuropati
perifer
Pada penyakit hati : hampir semua OAT
·
dapat menyebabkan efek samping ke
hati kecuali streptomisin dan etambu-
tol. Maka harus dipertimbangkan keun-
tungan dan kerugiannya.
PENELITIAN KDT
Gravendeel dkk melakukan peneltian
uji perbandingan KDT dan kombipak pada
360 pasien TB paru ( 162 pasien dengan
kombipak dan 198 pasien dengan KDT)
di Sulawesi Selatan pada tahun 1999. Pada
penelitian ini ditemukan 2 pasien ikterik
pada kelompok kombipak; keluhan lain
selama penelitian adalah keluhan pencer-
naan dan sendi selama 2 minggu pada kel-
ompok kombipak. Keluhan sendi mungkin
disebabkan dosis pirazinamid yang lebih
besar pada kelompok kombipak. Konversi
sputum terdapat pada 89% pasien kelom-
pok kombipak dan 94% pasien kelompok
KDT. Angka kesembuhan pada kedua kel-
ompok sama yaitu 95%.
Pada penelitian 110 pasien kategori I di
rawat jalan SMF Paru RS Persahabatan pada
bulan April 2005 sampai April 2006, 52
pasien diobati dengan KDT dan 58 pasien
diobati dengan kombipak. Konversi BTA,
efikasi, angka kesembuhan pengobatan dan
efek samping tidak berbeda bermakna.
Penelitian pendahuluan bersifat uji
klinik terbuka multinasional di Mesir, In-
dia, Pakistan, Thailand dan Filipina me-
neliti pengobatan TB paru dengan KDT
dibandingkan dengan paduan
OAT lepas.
Jumlah pasien 301 kelompok OAT KDT
dan 319 kelompok OAT lepas.
Konversi
sputum setelah fase awal dan akhir pen-
gobatan pada kedua kelompok tidak ber-
beda bermakna. Efek samping sedikit
Berat
Badan
Tahap Intensif tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Tahap Lanjutan3x seminggu
RH (150/150) + E (400)
Selama 58 hari
Selama 28 hari
Selama 2 Minggu
30 37 kg
2 tab 4KDT + 500mg
Streptomisin inj
2 tab 4KDT
2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol
38 54 kg
3 tab 4KDT + 750mg
Streptomisin inj
3 tab 4KDT
3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol
55 70 kg
4 tab 4KDT + 1000mg
Streptomisin inj
4 tab 4KDT
4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol
> 71 kg
5 tab 4KDT + 1000mg
Streptomisin inj
5 tab 4KDT
5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol
Tabel 3 b. Dosis paduan OAT KDT kategori 2 ; 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3
Tabel 3 a. Dosis paduan OAT KDT kategori 1: 2(RHZE)/4(RH)3
Tabel 3 c. Dosis OAT KDT Anak
Berat Badan
Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan 3x seminggu selama 16
minggu RH (150/150)
30 37 kg
2 tablet 4KDT
2 tablet 2KDT
38 54 kg
3 tablet 4KDT
3 tablet 2KDT
55 70 kg
4 tablet 4KDT
4 tablet 2KDT
> 71 kg
5 tablet 4KDT
5 tablet 2KDT
Berat badan (kg)
2 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150)
4 bulan tiap hari
RH (75/50)
5 9
1 tablet
1 tablet
10 14
2 tablet
2 tablet
15 19
3 tablet
3 tablet
20 32
4 tablet
4 tablet
Sumber data : IDAI
lebih tinggi pada kelompok KDT 25,31%
dibandingkan 21,08%. Pemberian OAT
pada kelompok KDT lebih nyaman dan
dapat mengurangi ketidak patuhan pasien.
PENUTUP
Pengobatan TB dengan OAT KDT tetap
menggunakan strategi DOTS. Walaupun
dosis OAT KDT berbeda dengan dosis kom-
bipak tetapi masih termasuk dosis terapi dan
dosis non toksik.. Dosis KDT sesuai dengan
berat badan pasien sedangkan dosis kombi-
pak tidak berdasarkan berat badan pasien.
Kualiti obat merupakan hal penting untuk
semua OAT; dalam kombinasi dosis tetap
bioavibiliti rifampisin setelah dikombinasi
dengan OAT lain tidak boleh berkurang,
karena rifampisin adalah tulang punggung
pengobatan TB Obat anti tuberkulosis KDT
dapat mencegah monoterapi dan mencegah
terjadinya TB-MDR. Pengobatan TB de-
ngan OAT KDT banyak keuntungannya
dari segi penyelenggara kesehatan pasien
dan juga obat. Kerugian OAT KDT adalah
jika terjadi efek samping, tidak diketahui
OAT mana yang menimbulkan efek samp-
ing sehingga OAT diganti dengan obat lepas
serta harga nya lebih mahal. n
Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT), Jakarta 1995
1.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta Indah
2.
Offest Citra Rafika; 2006. 1-8
Aditama TY, Priyanti ZS. Tuberkulosis diagnosis, terapi dan masalahnya. Edisi ketiga Jakarta; Lab. Mikrobi-
3.
ologi RSUP persahabatan ; 2000
World Health Organisation, Treatment of tuberculosis: guidelines for national programmes. 3 rd ed. Ge-
4.
neva`: WHO; 2003p.28-35
Standard internasional untuk pelayanan tuberkulosis . Diagnosis Pengobatan dan Kesehatan Masyarakat .
5.
Alih bahasa Anwar Yusuf, Erlina Burhan, Irma Kartika . Jakarta 2008
Phanouvung S, Vrakking H, Blanc L, Wondermagegnehu E, Moore T, Rago L. Operational guide for national
6.
tuberculosis control programmes on the introduction and use of fixed dose combination drugs. Geneva:
WHO : 2002 p. 15-22
Blomberg B, Spinaci S, Fourier B, Laing R, The rationale for recommending fixed-dose combination tablets
7.
for treatment of tuberculosis. Bull. WHO 2001;79:61-8
Departemen Kesehatan RI. Pedoman penanggulangan tuberculosis. Edisi 2. Cetakan kedua . Jakarta Dep Kes
8.
RI; 2008
Laing R, McGoldrick K. Tuberculosis drug issues: price, fixed dose combination products and second line
9.
drugs. Departement of International Health, Boston University School of Public Health. 2000
Singh S, Mohan B. A pilot stability on four- drugs fixed dose combination anti-tuberculosis products.
10.
Gravended JMT, Asapa AS, Bleuminik MB, Vrakking HA. Preliminary results of an operational field study to
11.
compare side effects, complaints and treatment results of single drug short course regimen with a 4 FDC
regimen in South Sulawesi, Republic of Indonesia. Tuberculosis 2003; 63: 183-6.
Dicky Soehardiman, Priyanti Z Soepandi , M. Arifin Nawas . Perbandingan hasil akhir pengobatan obat
12.
antituberkulosis kombinasi dosis tetap (KDT) dengan kombipak pada pengobatan TB paru dengan strategi
DOTS
Daftar Pustaka
Diabetes
Reumatologi
Gastroenterologi
360
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
361
f
A
R
M
A
K
o
l
o
G
I
|
a g u s t u s 2 0 0 9
untuk menggantikan paduan
obat tunggal
dengan KDT sebagai bagian dari strategi
DOTS dalam pengobatan TB.
Keuntungan kombinasi dosis tetap
Pengobatan menjadi sederhana
1.
Mengurangi kesalahan dalam pem-
·
buatan resep
Meningkatkan kepatuhan pasien be-
·
robat karena jumlah obat yang dimi-
num lebih sedikit
Meningkatkan kepatuhan tenaga ke-
·
sehatan terhadap penatalaksanaan
TB
Memungkinkan mengurangi super-
·
visi
Penatalaksanaan dan persediaan obat
2.
menjadi sederhana
Dalam hal penghitungan jumlah
·
obat
Dalam hal pemesanan obat
·
Distribusi stok obat
·
Mengurangi risiko stok obat habis
·
Yakin bahwa kualiti obat baik
·
Mengurangi angka resistensi obat
3.
Pasien menerima obat dengan regi-
·
men dan dosis yang benar
Pemberian obat TB KDT (kombinasi
·
dosis tetap), dapat mencegah peng-
gunaan obat tunggal oleh pasien.
Kerugian penggunaan KDT
Harga obat lebih mahal
·
Jika terjadi efek samping, tidak diketa-
·
hui obat mana yang menyebabkannya
sehingga paduan KDT diganti paduan
obat lepas
KUALITI OAT KOMBINASI DOSIS
TETAP (KDT)
Kualiti obat merupakan hal yang pen-
ting untuk semua OAT ; dalam kombi-
nasi dosis tetap bioavailabiliti rifampisin
setelah dikombinasi dengan OAT lainnya
tidak boleh berkurang, karena rifampisin
adalah tulang punggung pengobatan TB.
Hal tersebut telah ditetapkan oleh WHO
Quali ty control network for FDC .
EFEK SAMPING KOMBINASI
DOSIS TETAP
Efek samping terjadi 3-6% pada pasien
yang diobati; jika terjadi efek samping
maka dapat digunakan paduan
OAT lepas.
Oleh karena itu tetap dibutuhkan paduan
OAT lepas
di pusat rujukan.
Jika pasien TB yang mendapat OAT
kombinasi dosis tetap mengalami efek
samping maka dirujuk ke spesialis. Efek
samping lebih banyak terjadi pada pasien
TB dengan HIV/AIDS.
Kombinasi dosis tetap dapat diganti
dengan paduan OAT lepas dan dicari pe-
nyebab efek sampingnya misal :
Pada gagal ginjal : rifampisin, INH dan
·
pirazinamid aman diberikan, dosis
etambutol harus dikurangi dan diberi
piridoksin untuk mencegah neuropati
perifer
Pada penyakit hati : hampir semua OAT
·
dapat menyebabkan efek samping ke
hati kecuali streptomisin dan etambu-
tol. Maka harus dipertimbangkan keun-
tungan dan kerugiannya.
PENELITIAN KDT
Gravendeel dkk melakukan peneltian
uji perbandingan KDT dan kombipak pada
360 pasien TB paru ( 162 pasien dengan
kombipak dan 198 pasien dengan KDT)
di Sulawesi Selatan pada tahun 1999. Pada
penelitian ini ditemukan 2 pasien ikterik
pada kelompok kombipak; keluhan lain
selama penelitian adalah keluhan pencer-
naan dan sendi selama 2 minggu pada kel-
ompok kombipak. Keluhan sendi mungkin
disebabkan dosis pirazinamid yang lebih
besar pada kelompok kombipak. Konversi
sputum terdapat pada 89% pasien kelom-
pok kombipak dan 94% pasien kelompok
KDT. Angka kesembuhan pada kedua kel-
ompok sama yaitu 95%.
Pada penelitian 110 pasien kategori I di
rawat jalan SMF Paru RS Persahabatan pada
bulan April 2005 sampai April 2006, 52
pasien diobati dengan KDT dan 58 pasien
diobati dengan kombipak. Konversi BTA,
efikasi, angka kesembuhan pengobatan dan
efek samping tidak berbeda bermakna.
Penelitian pendahuluan bersifat uji
klinik terbuka multinasional di Mesir, In-
dia, Pakistan, Thailand dan Filipina me-
neliti pengobatan TB paru dengan KDT
dibandingkan dengan paduan
OAT lepas.
Jumlah pasien 301 kelompok OAT KDT
dan 319 kelompok OAT lepas.
Konversi
sputum setelah fase awal dan akhir pen-
gobatan pada kedua kelompok tidak ber-
beda bermakna. Efek samping sedikit
Berat
Badan
Tahap Intensif tiap hari
RHZE (150/75/400/275) + S
Tahap Lanjutan3x seminggu
RH (150/150) + E (400)
Selama 58 hari
Selama 28 hari
Selama 2 Minggu
30 37 kg
2 tab 4KDT + 500mg
Streptomisin inj
2 tab 4KDT
2 tab 2KDT + 2 tab Etambutol
38 54 kg
3 tab 4KDT + 750mg
Streptomisin inj
3 tab 4KDT
3 tab 2KDT + 3 tab Etambutol
55 70 kg
4 tab 4KDT + 1000mg
Streptomisin inj
4 tab 4KDT
4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol
> 71 kg
5 tab 4KDT + 1000mg
Streptomisin inj
5 tab 4KDT
5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol
Tabel 3 b. Dosis paduan OAT KDT kategori 2 ; 2(RHZE)S/(RHZE)/5(HR)3E3
Tabel 3 a. Dosis paduan OAT KDT kategori 1: 2(RHZE)/4(RH)3
Tabel 3 c. Dosis OAT KDT Anak
Berat Badan
Tahap Intensif tiap hari selama 56 hari
RHZE (150/75/400/275)
Tahap Lanjutan 3x seminggu selama 16
minggu RH (150/150)
30 37 kg
2 tablet 4KDT
2 tablet 2KDT
38 54 kg
3 tablet 4KDT
3 tablet 2KDT
55 70 kg
4 tablet 4KDT
4 tablet 2KDT
> 71 kg
5 tablet 4KDT
5 tablet 2KDT
Berat badan (kg)
2 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150)
4 bulan tiap hari
RH (75/50)
5 9
1 tablet
1 tablet
10 14
2 tablet
2 tablet
15 19
3 tablet
3 tablet
20 32
4 tablet
4 tablet
Sumber data : IDAI
lebih tinggi pada kelompok KDT 25,31%
dibandingkan 21,08%. Pemberian OAT
pada kelompok KDT lebih nyaman dan
dapat mengurangi ketidak patuhan pasien.
PENUTUP
Pengobatan TB dengan OAT KDT tetap
menggunakan strategi DOTS. Walaupun
dosis OAT KDT berbeda dengan dosis kom-
bipak tetapi masih termasuk dosis terapi dan
dosis non toksik.. Dosis KDT sesuai dengan
berat badan pasien sedangkan dosis kombi-
pak tidak berdasarkan berat badan pasien.
Kualiti obat merupakan hal penting untuk
semua OAT; dalam kombinasi dosis tetap
bioavibiliti rifampisin setelah dikombinasi
dengan OAT lain tidak boleh berkurang,
karena rifampisin adalah tulang punggung
pengobatan TB Obat anti tuberkulosis KDT
dapat mencegah monoterapi dan mencegah
terjadinya TB-MDR. Pengobatan TB de-
ngan OAT KDT banyak keuntungannya
dari segi penyelenggara kesehatan pasien
dan juga obat. Kerugian OAT KDT adalah
jika terjadi efek samping, tidak diketahui
OAT mana yang menimbulkan efek samp-
ing sehingga OAT diganti dengan obat lepas
serta harga nya lebih mahal. n
Departemen Kesehatan RI. Survei Kesehatan Rumah Tangga ( SKRT), Jakarta 1995
1.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta Indah
2.
Offest Citra Rafika; 2006. 1-8
Aditama TY, Priyanti ZS. Tuberkulosis diagnosis, terapi dan masalahnya. Edisi ketiga Jakarta; Lab. Mikrobi-
3.
ologi RSUP persahabatan ; 2000
World Health Organisation, Treatment of tuberculosis: guidelines for national programmes. 3 rd ed. Ge-
4.
neva`: WHO; 2003p.28-35
Standard internasional untuk pelayanan tuberkulosis . Diagnosis Pengobatan dan Kesehatan Masyarakat .
5.
Alih bahasa Anwar Yusuf, Erlina Burhan, Irma Kartika . Jakarta 2008
Phanouvung S, Vrakking H, Blanc L, Wondermagegnehu E, Moore T, Rago L. Operational guide for national
6.
tuberculosis control programmes on the introduction and use of fixed dose combination drugs. Geneva:
WHO : 2002 p. 15-22
Blomberg B, Spinaci S, Fourier B, Laing R, The rationale for recommending fixed-dose combination tablets
7.
for treatment of tuberculosis. Bull. WHO 2001;79:61-8
Departemen Kesehatan RI. Pedoman penanggulangan tuberculosis. Edisi 2. Cetakan kedua . Jakarta Dep Kes
8.
RI; 2008
Laing R, McGoldrick K. Tuberculosis drug issues: price, fixed dose combination products and second line
9.
drugs. Departement of International Health, Boston University School of Public Health. 2000
Singh S, Mohan B. A pilot stability on four- drugs fixed dose combination anti-tuberculosis products.
10.
Gravended JMT, Asapa AS, Bleuminik MB, Vrakking HA. Preliminary results of an operational field study to
11.
compare side effects, complaints and treatment results of single drug short course regimen with a 4 FDC
regimen in South Sulawesi, Republic of Indonesia. Tuberculosis 2003; 63: 183-6.
Dicky Soehardiman, Priyanti Z Soepandi , M. Arifin Nawas . Perbandingan hasil akhir pengobatan obat
12.
antituberkulosis kombinasi dosis tetap (KDT) dengan kombipak pada pengobatan TB paru dengan strategi
DOTS
Daftar Pustaka
Diabetes
Reumatologi
Gastroenterologi