CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
195
B E R I T A T E R K I N I
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
196
B E R I T A T E R K I N I
A
liskiren merupakan obat antihipertensi yang termasuk
golongan penghambat renin. Dalam penelitian aliskiren
bermanfaat menurunkan tekanan darah dengan bermakna
dan ditoleransi dengan baik oleh pasien. Namun apakah
Aliskiren yang juga bekerja dalam sistim RAAS dapat melin-
dungi ginjal seperti ARB dan ACEi ?
Parving dan rekan melakukan penelitian acak, tersamar
ganda, untuk mengetahui apakah penambahan aliskiren
(penghambat renin) pada pasien dengan nefropati diabetes
dan hipertensi dan telah mendapatkan terapi losartan 100
mg, sekali sehari, dapat memberikan manfaat renoproteksi
tambahan.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa pemberian
aliskiren 150 mg selama 6 bulan (150 mg sehari selama 3
bulan dan 300 mg selama 3 bulan) menurunkan rasio
albumin kreatinin urin rata-rata sebesar 20% (p<0,001).
Penurunan sebesar 50% dijumpai pada lebih dari 24,7%
pasien yang menerima aliskiren, dibandingkan dengan
pasien-pasien yang menerima plasebo (12,5%), dengan
p<0,001.
Pada akhir penelitian, kelompok yang diberi obat antihiper-
tensi tambahan aliskiren mengalami penurunan tekanan
darah sedikit lebih besar dibandingkan dengan kelompok
plasebo (2 mmHg untuk tekanan sistolik dan 1 mmHg untuk
tekanan diastolik lebih rendah).
Para ahli dalam penelitian ini menyimpulkan bahwa aliskiren
mungkin memiliki efek renoproteksi yang tidak berhubungan
dengan kemampuannya menurunkan tekanan darah, pada
pasien yang menderita hipertensi, diabetes tipe 2 serta
nefropati.
Aliskiren dalam penelitian ini memiliki efek renoproteksi
yang tidak bergantung pada kemampuannya menurunkan
tekanan darah pada pasien hipertensi dengan diabetes
melitus tipe 2 yang telah mendapatkan terapi antihipertensi
losartan. (
YYA)
Referensi :
Mancia G, De Backer G, Dominiczak A, Cifkova R, Fagard R, Germano G,
et al. 2007 Guidelines for the Management of Arterial Hypertension. J.
Hypertens. 2007; 25 : 1105-87.
Parving H-H, Mauer M, Ritz E. Diabetic nephropathy. In: Brenner BM, ed.
Brenner & Rector's the Kidney. Elsevier, 2008:1265-98.
Parving HH, Persson F, Lewis JB, Lewis EJ, Hollenberg NK. Aliskiren
combined with Losartan in Type 2 Diabetes and Nephropathy. N Engl J
Med 2008; 358: 2433-46.
Stanton A, Jensen C, Nussberger J, O'Brien E. Blood Pressure Lowering in
Essential Hypertension with an Oral Renin Inhibitor, Aliskiren. Hyperten-
sion 2003;42;1137-43
Sistim RAAS (renin_angiotensin_aldosterone system) memiliki peran yang penting
dalam patofisiologi nefropati pada pasien diabetes. Dalam penelitian-penelitian yang
pernah dilakukan, obat antihipertensi golongan ARB (Angiotensin Receptor Blocker)
dan ACEi (Angiotensin Converting Enzyme inhibitor) memiliki efek renoproteksi karena
dapat menghambat progresifitas penyakit ginjal. Oleh karena itu obat antihipertensi ARB
dan ACEi dianjurkan pemberiannya bagi pasien hipertensi yang juga menderita diabetes.
1.
2.
3.
4.
Aliskiren Memiliki Efek
Renoproteksi
Seperti diketahui bersama probiotik mempunyai fungsi/manfaat yang cukup banyak.
Selain memperbaiki keluhan yang berhubungan dengan gangguan saluran cerna;
misalnya: diare, kembung, ternyata studi tentang probiotik juga sudah untuk kasus-
kasus gangguan di luar saluran cerna seperti di antaranya untuk kasus-kasus atopik.
K
asus atopik diperkirakan akan meningkat, misalnya dermatitis
atopik yang diperkirakan angka kejadiannya mencapai 7% -
17% pada anak dalam 2 tahun pertama usia kehidupannya, di
beberapa negara industri mencapai 20-37%.
Kejadian alergi merupakan kondisi multifaktorial. Faktor
lingkungan dengan peningkatan polusi, perubahan diet turut
menyumbang risiko terjadinya kondisi alergi. Penurunan
pemaparan partikel antigen, penggunaan antibiotik juga di-
perkirakan menjadikan tubuh kita rentan terhadap alergi.
Hubungan antara penurunan pemaparan partikel antigen
dengan peningkatan kejadian alergi ini lebih dikenal dengan
hygiene hypothesis. GALT (Gut-associated lymphoid tissue)
merupakan organ imunologik terbesar dalam tubuh, yang
akan terpapar dengan berbagai makanan, dengan antigen
yang masuk ke dalam saluran cerna, dan tentunya pemaparan
dengan bakteri dalam lumen usus; hubungan antara bakteri
dengan jaringan dinding saluran cerna ini bersifat simbiotik. Studi
pada binatang menunjukkan bahwa mikrobiota saluran cerna
memegang peranan dalam perkembangan sistem imunologi
dari saluran cerna yang tentunya berhubungan erat dengan
GALT. Mikrobiota saluran cerna juga berpengaruh terhadap
terjadinya penyakit atopik. Studi yang ada melaporkan bahwa
pada populasi dengan dermatitis atopik terjadi penurunan
bakteri-bakteri non-patogen (Bifidobacterium, Enterococci), dan
sebaliknya terjadi peningkatan bakteribakteri patogen (seperti:
Clostridia, Staphylococcus aureus).
Sistem imunitas alamiah mempunyai mekanisme untuk mem-
berikan respon terhadap mikroba yang bersifat antigenik.
Komponen sel-sel imunologik alamiah di antaranya adalah sel
dendrit (DC), merupakan sel yang penting dalam pengenalan
awal dan perkembangan respon sel T. Sel-sel imunitas alamiah
mengenali antigen mikrobial melalui molekul-molekul di
antaranya: TLRs (Toll-like receptors), NODs (Nucleotide-binding
oligomerization domain), yang akan memberitahukan apakah
komponen tersebut merupakan molekul patogen, karakteristik
DNA, LPS (lipopolysaccharides) bakteri dan peptidoglikan;
molekul-molekul ini selanjutnya akan mempengaruhi sel Th-1
maupun sel Th-2 yang berperan dalam terjadinya alergi maupun
autoimun.
Penyakit atopik merupakan penyakit inflamasi kronik yang di-
sebabkan oleh respon sel Th-2 yang menyimpang terhadap
antigen yang tidak berbahaya (alergen) pada individu yang
sensitif. Pemberian probiotik (Lactobacillus ataupun Bifidobacte-
rium) mampu mengatur sel Treg (regulatory T-cell) yang akan
mengatur orkestra keseimbangan sel Th-1 dan sel Th-2 dengan
cara memproduksi IL-10 dan atau TGF-_ (tumor growth factor).
Studi-studi menunjukkan bahwa Lactobacillus mampu mening-
katkan produksi IL-10 maupun TGF- _.
Studi tersebut menunjukkan bahwa penyakit atopik yang
merupakan radang kronik, aktivitas klinisnya dipengaruhi oleh
pemaparan dan interaksi dengan mikroorganisme. (TMB)
Probiotik dan Alergi
Referensi:
Pender J, Stobberingh EE, Brandt PA. et al. The role of the Intestinal
microbiota in the development of atopic disorder. Allergy 2007;
62:1223-1226.
Baker BS. The role of microorganisms in atopic dermatitis. Clin.
Experiment.Immunol.2005:144:1-9.
1.
2.