TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Sindrom Nefrotik pada Kehamilan
Zulkhairi, Salli R Nasution
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit Haji Adam Malik
Medan, Sumatera Utara ,Indonesia
PENDAHULUAN
Kehamilan berpengaruh secara mekanis dan hormonal
terhadap fungsi traktus urinarius yang secara embriologis
berasal dari traktus genitalis. Deregulasi kerja fisiologis ginjal
dapat menginduksi perubahan yang bisa membahayakan
kehamilan serta meninggalkan penyakit yang menetap dan
progresif bagi ibu hamil. Kehamilan bersamaan dengan
perubahan anatomi, fungsi ginjal dan regulasi volume cairan
tubuh
(1)
. Perubahan fisiologis pada ginjal wanita hamil dapat
dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perubahan fisiologis ginjal wanita hamil
(2)
Hemodinamik sistemik
Fungsi ginjal
Ekspansi volume
Penurunan resistensi pembuluh darah
Penurunan tekanan darah
Peningkatan tekanan darah
Peningkatan aliran darah ginjal
Peningkatan LFG
Hipoproteinemia
Alkalosis respiratorik kronik dan
asidosis metabolik yang seimbang
Profil klinis penyakit parenkim ginjal selama kehamilan
masih belum banyak dipahami. Belum banyak studi prospektif
yang menyelidiki hubungan klinis dan histologisnya. Analisis
retrospektif menunjukkan bahwa penyakit ginjal progresif
mengurangi kesempatan menyokong kehamilan yang viabel.
Pada kreatinin serum > 3 mg% dan urea nitrogen darah > 30
mg% jarang didapatkan kehamilan bisa normal. Ibu hamil
dengan penurunan fungsi ginjal yang ringan sampai sedang
dilaporkan dapat melahirkan bayi yang viabel, tetapi ada juga
yang melaporkan pasien sampai menjalani hemodialisis
intermiten pada keadaan fungsi ginjal yang memburuk. Jika
penyakit parenkim ginjal tidak berhubungan dengan hipertensi,
kehamilan dapat berlanjut tanpa banyak komplikasi.
(1)
Sindrom nefrotik (SN) adalah kelainan kompleks yang
ditandai oleh sejumlah gambaran kelainan ginjal dan non
ginjal, yang paling menonjol adalah proteinuri > 3,5 g/1,73 m2
luas permukaan badan dalam 24 jam ( pada praktek di klinis >
3,0-3,5 g/24 jam), hipoalbuminemi, edema, hiperlipidemi,
lipiduri dan hiperkoagulabilitas.
(3)
SN dikategorikan dalam
bentuk primer dan sekunder. Bentuk primer sekarang dikenal
dengan istilah SN idiopatik yang berhubungan dengan kelainan
primer parenkim ginjal dan sebabnya tidak diketahui.
Sedangkan bentuk sekunder disebabkan oleh penyakit tertentu
seperti keganasan, toksin, gangguan sirkulasi mekanik, purpura
anafilaktoid, lupus eritomatosus sistemik, diabetes melitus,
sickle cell disease dan sifilis.
(4,5)
Berbagai penyebab SN dapat dilihat pada Tabel 2. SN
pada kehamilan secara umum jarang terjadi.
(7'8)
Hal ini
sebenarnya timbul karena adanya penyebab SN, kehamilan
hanya koinsiden.
(7)
Sulit mencari kepustakaan yang melaporkan
prevalensi atau insidensi SN pada kehamilan. Yao dkk
mendapatkan 50 kasus SN pada kehamilan pada pengamatan
13 tahun (1979-1992) di bagian kebidanan rumah sakit umum
Tianjin, Cina.
(9)
Apabila kehamilan disertai SN, maka
pengobatan serta prognosis ibu dan anak tergantung pada faktor
penyebabnya dan pada beratnya insufisiensi ginjal.
(10)
PATOFISIOLOGI
Pada individu sehat, dinding kapiler glomerulus berfungsi
sebagai sawar untuk menyingkirkan protein agar tidak
memasuki ruangan urinarius melalui diskriminasi ukuran dan
muatan listrik. Dengan adanya gangguan glomerulus, ukuran
dan muatan sawar selektif rusak.
Umumnya molekul dengan radius < 17 A° dapat melalui
filter glomerulus, sedangkan yang radius molekulnya > 44 A°
tidak. Albumin dengan radius molekul 36 A° mempunyai
bersihan fraksional sekitar 10% laju filtrasi glomerulus (LFG).
Dinding kapiler glomerulus mempunyai muatan negatif atau
anionik pada permukaan endotelnya sampai seluruh membrana
basalis glomerulus dan pada lapisan sel epitelnya, sehingga
dinding kapiler dapat menolak muatan positif dari protein
plasma. Jika gomerulus intak hanya albumin yang dapat lolos
melalui filtrasi glomerulus. Protein diekskresikan < 150 mg /
hari dalam urin.
(11)
Proteinuri pada SN terutama terdiri dari
proteinuri glomerular. Sedangkan proteinuri tubulus tidak
berperan penting, hanya turut memperberat derajat
proteinuri.
(12)
Pada kehamilan terjadi peningkatan hemodinamik ginjal
dan/atau peningkatan tekanan vena ginjal yang dapat
menambah ekskresi protein melalui urin.
(8)
Telah diteliti bahwa
95% wanita hamil normal mengekskresikan protein > 200
mg/hari.
(13)
Disepakati abnormal pada kehamilan jika lebih dari
300-500 mg/hari.
(14)
Proteinuri persisten pada kehamilan
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 37
umumnya disebabkan preeklamsi, makin meningkat pada paruh
kedua usia kehamilan dan umumnya terjadi setelah timbulnya
hipertensi.
(13)
Tabel 2. Penyebab Sindrom Nefrotik
(6)
Penyakit
glomerulus
Lesi minimal
Membranous idiopatik
Proliferatif
Lobular
Metabolik
Glomerulosklerosis diabetik difus dan nodular
Amiloidosis
Mieloma multipel
Miksedema
Penyakit sistemik
dan imunologis
Lupus eritematosus sistemik
Periarteritis
Sindrom Goodpasture
Dermatomiositis
Central pontine myelinolysis
Penyakit Takayasu
Erythema multiforme
Penyakit sirkulasi
Anemia sickle cell
Sferositosis
Stenosis arteri renalis
Trombosis vena renalis
Trombosis arteri pulmonal
Perikarditis konstriktiva
Insufisiensi katup trikuspid
Feokromositoma
Nefrotoksin
Diuretik organik merkuri, Salep amoniak merkuri
Merkuri non organik
Bismut
Emas
Obat-obat dan alergi
Serbuk sari (pollen)
Gigitan lebah
Racun kayu, racun pohon menjalar, toksin rhus yang
sudah dipurifikasi
Trimetadion dan parametadion
Anti serangga
Gigitan ular
Probenesid, Penisilamin
Terapi alergen dan serum campuran; contoh kayu,
cold pills, globulin dan vaksin polio
Penyakit infeksi
Penyakit Sitomegalovirus
Sifilis
Malaria
Tifus
Jejunoileitis kronis
Tuberkulosis
Endokarditis bakterial subakut
Herpes zoster
Shunt nephritis (stafilokokus)
Bakteremia campuran
Sindroma nefrotik
kongenital
Nefritis
hereditofamilial
Kehamilan
Transplantasi
Cyclic recurrent
Intestinal lymphangiectasis
KEHAMILAN PADA PENDERITA SINDROM NEF-
ROTIK
Bagi wanita dengan penyakit ginjal yang mempertimbang-
kan hamil ada dua pertanyaan yang dibutuhkan untuk
menolong pasien membuat keputusan yang tepat: Apa
pengaruh penyakit ginjal pada kehamilan dan hasilnya terutama
terhadap morbiditas dan mortalitas janin. Penyakit ginjal
berhubungan dengan gagal plasenta, retardasi pertumbuhan
dalam rahim, partus prematurus, bayi kecil. Tetapi risiko ini
tidak sama pada semua wanita hamil dengan penyakit ginjal.
Apa efek terhadap kehamilan pada riwayat penyakit ginjal
yang diderita sebelumnya..
Tidak hanya pengaruh yang segera timbul selama
kehamilan, tetapi juga efeknya juga terhadap progresifitas
penyakit ginjal tersebut.
(15)
Hal tersebut tidak terkecuali untuk
penderita SN yang ingin hamil. SN adalah satu faktor risiko
mayor untuk akibat yang jelek pada janin; harus dilakukan
upaya menurunkan proteinuri dan perbaikan hipoalbuminemi
terlebih dulu sebelum hamil.
(15)
SINDROM NEFROTIK AKIBAT KEHAMILAN
Penyebab tersering proteinuri yang nefrotik (>3,5 mg/hari)
pada kehamilan lanjut adalah preeklamsi
(8,16)
Preeklamsi
banyak menimbulkan komplikasi ginjal serius pada kehamilan,
secara histologis abnormalitasnya ditemukan di glomerulus,
(1,7)
berupa pembengkakan dan proliferasi sel-sel endotel kapiler
glomerulus dengan penyempitan lumen kapiler, jarang terdapat
kehilangan struktur pedikel yang bermakna.
(1)
Sangat sering
proteinuri akibat preeklamsi nefrotik cukup kuat untuk
menginduksi gambaran klinis SN.
(1,7)
Penyakit menjadi
progresif dan cenderung mereda sebagian atau seluruhnya
setelah partus.
(7)
Weisman dkk telah melaporkan sekelompok kehamilan
nefrotik berat yang diikuti selama 4 tahun setelah partus dan
mengamati bahwa beberapa wanita memiliki penyakit ginjal
yang perubahan morfologinya ditutupi oleh perubahan
preeklamsi pada spesimen biopsi pasca partus. Lindheimer dan
Katz memeriksa 10 kehamilan nefrotik dengan endoteliosis
glomerular 12-14 bulan pasca partus, 9 dari wanita ini memiliki
fungsi ginjal normal, yang ke-10 menderita penyakit ginjal
polikistik walaupun pada pielogram pasca partus 3 tahun lalu
dalam batas normal. Oleh karena itu, preeklamsi masih
merupakan penyebab terbanyak proteinuri pada kehamilan
lanjut. Penyebab lain SN pada kehamilan termasuk glome-
rulonefritis membranous, proliferatif atau membrano-
proliferatif, lipoid nefrosis, lupus nefropati, sifilis sekunder,
nefritis herediter, trombosis vena ginjal, nefropati diabetik dan
amiloidosis.
(1,8)
Penekanan vena cava inferior akibat uterus gravida
mungkin berperan sebagai penyebab transient nephrotic
syndrome yang dapat menimbulkan trombosis vena ginjal. Pada
keadaan ini tidak dijumpai penyebab primer maupun
sekunder.
(7)
RECURRENT NEPHROTIC SYNDROME OF PREG-
NANCY
Nama lain untuk istilah ini adalah cyclic nephrosis of
pregnancy, yang menggambarkan kondisi bahwa gejala SN
lebih jelas selama kehamilan, dan dapat menghilang setelah
partus.
(1,8,16)
Kasus ini jarang ditemukan di klinik tetapi
mempunyai prognosis yang baik.
(4,12)
Umumnya kasus ini
terjadi pada pasien preeklamsi dengan latar belakang penyakit
parenkim ginjal sebelumnya.
(8)
Kasus ini pertama dilaporkan Schreiner (1963) pada 1
kasus SN yang dihubungkan dengan pengulangan
kehamilan.
(1,7)
Walaupun fungsi ginjal adekuat dan hipertensi
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
38
pada awalnya tidak dijumpai, pasien akhirnya meninggal
karena gagal ginjal dengan gambaran histologi proliferatif
campuran dan perubahan membranous di glomerulus.
Schreiner menyebutkan bahwa kasus ini disebabkan respon
hiperimun yang berhubungan dengan adanya produk kehamilan
yang tidak diketahui.
(1,7,8)
DIAGNOSIS
1. Gambaran klinis
Tidak ada penekanan khusus gambaran klinis SN yang
terjadi pada wanita hamil. Secara umum pada SN terjadi edema
akibat hipoalbuminemi, asites, efusi pleura, sesak nafas, kaki
merasa berat dan dingin, tidak jarang diare, atrofi otot, serta
hipertensi ringan dan sedang.
(12)
2. Evaluasi
laboratorium
2.1. Proteinuri
Proteinuri biasanya dideteksi pada urinalisis rutin.
Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kuantitatif. Bila asal
proteinuri tidak jelas, dapat dilakukan elektroforesis protein
urin. Bila albumin >70% maka sumbernya adalah glomerular.
Pemeriksaan yang paling sering dan mudah adalah dengan cara
dipstick yang bermanfaat untuk melihat ada tidaknya proteinuri
terlebih pada nilai yang > +3 ( 3 g/dl) atau > +4 ( > 20 g/dl),
tetapi pada nilai intermediate angka positif palsunya mencapai
50%. Protein urin 24 jam adalah baku emas untuk pengukuran
nilai proteinuri, tetapi cara ini tidak praktis terutama pada
keadaan preeklamsi yang memerlukan hasil segera. Yang
paling baik adalah dengan menggunakan alat urinalisis
otomatis.
(13)
2.2. Sedimen urin
Urin mengandung benda-benda lemak dan kolesterol ester,
terlihat sebagai Maltese cross dengan sinar polarisasi. Hematuri
mikroskopik disertai silinder eritrosit sering ditemukan pada
semua bentuk glomerulonefritis yang menyebabkan SN.
(12)
2.3. Faal ginjal
Pada stadium awal faal ginjal masih normal, masih
sanggup mengeksresikan urea, kreatinin dan hasil-hasil
metabolisme protein lainnya. Bila SN telah berjalan lama dan
menetap, baru terdapat gangguan faal ginjal, biasanya telah
terdapat kerusakan progresif glomerulus.
(12)
2.4. Hiperlipidemi
Kenaikan lemak darah sudah lama diketahui pada pasien
SN. Kenaikan kolesterol total serum dapat mencapai 400-600
mg% dan lemak total 2-3 g%. Pada umumnya terdapat
hubungan terbalik antara kadar albumin serum dengan kadar
kolesterol total serum yaitu penurunan kadar albumin serum
disertai kenaikan kadar kolesterol total serum.
(12)
2.5. Elektroforesis serum protein
Penurunan kadar albumin terutama menyebabkan
hipoproteinemi. Globulin serum cenderung normal atau sedikit
meninggi. Proteinuri non selektif dan gamma globulin dapat
lolos melalui urin jika glomerulus telah rusak berat. Gamma
globulin seringkali meninggi, juga beta globulin dan
fibrinogen. Jika pengobatan adekuat semua fraksi tersebut akan
kembali normal.
(12)
3. Biopsi ginjal
Untuk mencari penyebab SN pada kehamilan dilakukan
biopsi ginjal. Tindakan ini sering dilakukan pada SN yang tidak
disebabkan oleh preeklamsi dan SN yang terjadi pada awal
kehamilan. Biopsi dilakukan pada posisi telungkup pada usia
kehamilan di atas 20 minggu, setelah masa itu lebih baik dalam
posisi duduk. Kontraindikasi absolut dan relatif tidak berbeda
seperti pada wanita yang tidak hamil.
(13)
Biopsi ginjal juga
dibutuhkan untuk menentukan jenis terapi terutama peranan
steroid.
(8)
Tabel 3. Manifestasi dan penatalaksanaan SN pada kehamilan.
Manifestasi
Akibat pada kehamilan
Penatalaksanaan
Proteinuri
Peningkatan hemodinamik
ginjal, juga peningkatan
tekanan vena ginjal dapat
meningkatkan ekskresi
protein dan memperparah
penyakit
Diet tinggi protein
(3 g/kg/kgbb.)
Infus salt-poor albumin
direkomendasikan untuk
pasien dengan penurunan
fungsi ginjal akibat oligemi
yang nyata dan
adanya hipotensi postural
Hipoalbuminemi Kadar albumin serum
biasanya turun 0,5-1 g/100
ml pada kehamilan normal.
Penurunan albumin yang
lebih besar akan
meningkatkan kecen-
derungan retensi cairan
Edema
Biasanya meningkat selama
kehamilan
Hindari diuretik yang dapat
meningkatkan oligemi
intravaskular dan
mempengaruhi perfusi
uteroplasental
Komplikasi
infeksi
Terjadi peningkatan insiden
komplikasi infeksi
Pemeriksaan bakteriuri
asimtomatis
Episode
trombotik
Kehamilan adalah keadaan
hiperkoagulabilitas, yang
dapat meningkatkan
episode trombotik pada
kehamilan
Tidak dianjurkan
antikoagulan profilaktik,
tetapi jika dibutuhkan,
heparin adalah antikoagulan
yang tidak melewati
plasenta
Hiperlipidemi
Kolesterol dan asam lemak
bebas umumnya meningkat
selama kehamilan
Jarang dibutuhkan terapi
pada kehamilan dan
kebanyakan obat penurun
lemak belum diuji pada
kehamilan
PENATALAKSANAAN
Prinsipnya terdiri dari terapi simtomatik dan spesiflk
terhadap penyakit glomerulus primer serta pemilihan obat yang
aman bagi ibu dan janinnya.
(1)
Tabel 3 menunjukkan
manifestasi dan penatalaksanaan SN pada kehamilan.
1. Tindakan
Umum
Penderita dengan edema anasarka berat harus rawat inap
dan istirahat di tempat tidur untuk mengurangi proteinuri.
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 39
Mobilisasi otot-otot penting untuk mencegah atrofi otot
ekstremitas. Penderita edema ringan cukup rawat jalan dan
mengurangi mobilisasi aktif untuk mencegah proteinuri
ortostatik.
(4)
2. Diet
kaya
protein
Diet ini untuk kompensasi kehilangan protein melalui urin.
Efek kehilangan protein berlebih dapat menimbulkan retardasi
pertumbuhan janin. Jika terjadi hipoproteinemi ibu harus
mendapat diet tinggi protein (3g/kgbb.) dari jenis protein
hewani yang mempunyai nilai biologis tinggi.
(1,4,10)
3. Infus
salt-poor human albumin
Pada keadaan tidak hamil indikasi pemberian infus salt-
poor human albumin adalah pada pasien-pasien SN yang
resisten terhadap diuretik (500 mg furosemid dan 200 mg
spirinolakton).
(4)
Pada SN dengan kehamilan infus salt-poor
human albumin diberikan jika oligemi bertanggung jawab
terhadap perburukan fungsi ginjal yang progresif.
(1,13)
Namun
peranannya disebutkan sedikit pada penatalaksanaan SN pada
kehamilan.
(13)
4. Pembatasan
garam
dapur
Bila sembab tidak berat pembatasan konsumsi garam
dapur tidak perlu ketat. Penderita dilarang makan ikan asin,
telur asin, kecap asin atau makanan kaleng. Untuk penderita
edema anasarka dilakukan restriksi garam ketat 10 mEq/hari.
(4)
5. Diuretik
Diuretik harus dihindari karena dapat meningkatkan
oligemi intravaskuler dan mempengaruhi perfusi
uteroplasenta,
(1,16)
selain itu penurunan tekanan darah selama
kehamilan dapat memprovokasi kolaps sirkulasi atau episode
tromboemboli. Pengecualian hal ini adalah pada bentuk
nefrotik tertentu yang juga memunculkan hipertensi yang
sensitif garam (terutama wanita dengan nefropati diabetik),
pada kasus seperti itu restriksi garam yang lebih ketat,
kombinasi dengan diuretik yang hati-hati dapat menghindari
terminasi pada awal trimester III akibat tekanan darah tidak
terkontrol.
(16)
Juga pada kasus-kasus edema nefrotik yang
makin memburuk selama kehamilan dapat dipertimbangkan
diuretik.
(8)
6. ACE-Inhibitor
Walaupun mempunyai efek antiproteinuri dan
antihipertensi, golongan obat ini dikontra indikasikan pada
kehamilan karena efek yang tidak diinginkan pada janin berupa
gagal ginjal dan kematian janin.
(13,17)
7. Antibiotik
Diketahui setiap SN sangat peka terhadap infeksi
sekunder, renal maupun ekstrarenal.
(4)
Sedang pada kehamilan
sering dijumpai bakteriuri asimtomatik yang jika tidak diobati
25% akan berkembang menjadi infeksi akut simtomatis.
(14)
Sejumlah 18% kehamilan nefrotik menderita komplikasi
infeksi dan sebagian besar merupakan infeksi saluran kemih.
(8)
Kedua keadaan tersebut akan menambah risiko infeksi
sekunder. Oleh karena itu untuk menghindari komplikasi
infeksi pasien harus sering diperiksa untuk deteksi bakteriuri
asimtomatik dan antibiotik harus diberikan dengan hati-hati
pada bukti infeksi yang sudah ada.
(I,10)
8. Antikoagulan
Antikoagulan dipertimbangkan untuk mencegah penyulit
tromboemboli yang mungkin terdapat pada SN.
(4)
Wanita hamil
dengan SN berisiko tinggi tromboemboli vena dan perlu
mendapat antikoagulan.
(13)
Untuk ini, heparin lebih baik
dibanding warfarin.
(1)
Siberman dan Adam menganjurkan
pemberian heparin dalam masa nifas pada wanita dengan
SN.
(10)
Heparin tidak terfraksinasi dan heparin berat molekul
rendah tidak melewati plasenta, sehingga aman digunakan.
(18)
Pemberian antikoagulan tidak perlu jika diuretik dihindari dan
diet restriksi garam benar-benar diterapkan.
(8)
9. Anti agregasi trombosit
Aspirin atau dipiridamol sudah lama dikenal untuk
mencegah penyulit hiperkoagulasi dengan fenomena
tromboemboli pada pasien SN. Efek farmakologiknya terutama
untuk mencegah agregasi trombosit dan deposit fibrin atau
trombus. Begitu juga halnya dengan indometasin yang selain
memiliki efek anti agregasi trombosit juga efek sebagai anti
proteinuri.
(4)
Penggunaan aspirin pada wanita hamil walaupun terbukti
secara epidemiologis dan klinis aman namun disebutkan dapat
menimbulkan partus lama dan risiko perdarahan pada neonatus
dan ibunya. Indometasin tidak dianjurkan pada wanita hamil
karena melewati barier plasenta serta toksisitasnya.
(17,19)
walaupun tidak terbukti teratogenik.
(19)
10. Kortikosteroid
Steroid dengan kerja (efek) cepat dan waktu paruh
biologik pendek (<12 jam) misalnya kortison dan hidrokortison
biasanya mempunyai efek farmakologik kurang cepat, sering
menimbulkan retensi garam dan air. Steroid dengan waktu
paruh biologik panjang, biasanya mempunyai efek
farmakologik lebih poten (kuat), misalnya betametason dan
deksametason. Steroid kerja medium dengan waktu paruh
biologik antara 12-36 jam sangat ideal untuk pengobatan
alternating (alternate-day therapy) yang mempunyai banyak
keuntungan untuk jangka panjang, misalnya prednison,
prednisolon, metilprednisolon dan triamnisolon. Golongan
yang terakhir ini relatif tidak menyebabkan retensi natrium.
(4)
Kortikosterod dosis tinggi pada kehamilan berimplikasi
pada naiknya angka kejadian bibir sumbing dan osteoporosis.
Dosis < 15 mg prednisolon/hari tidak terbukti memiliki efek
samping pada janin. Penyesuaian dosis kortikosteroid pada
kehamilan tidak diperlukan.
(15)
Nefrosis lipoid dan nefropati
lupus adalah tipe yang responsif terhadap steroid.
(8)
11. Siklofosfamid
Siklofosfamid merupakan salah satu alkylating agent dan
golongan imunosupresif yang sangat poten. Dalam tubuh
dimetabolisme oleh sel hati menjadi beberapa metabolit aktif
dan dieliminasi melalui ginjal. Karena efek sampingnya yang
sangat berbahaya maka perlu dipertimbangkan sebelum
diputuskan akan digunakan pada SN. Indikasi siklofosfamid
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006
40
adalah pada lesi minimal dengan: 1) tidak responsif terhadap
kortikosteroid. 2) kambuh berulang (frequent relapse) dan
tergantung kortikosteroid. 3) timbul efek samping
kortikosteroid.
(4)
Siklofosfamid dapat menyebabkan infertilitas baik pada
wanita maupun pria, terutama pada dosis > 200 mg/kgbb. Obat
ini dikontraindikasikan pada kehamilan karena teratogenik.
Bahkan wanita yang mendapat terapi siklofosfamid dianjurkan
untuk tidak hamil sampai dengan 1 tahun setelah terapi.
(15)
12. Siklosforin
Siklosforin adalah imunosupresif yang paling aman
digunakan pada kehamilan. Tidak dibutuhkan penyesuaian
dosis pada keadaan hamil.
(15)
PROGNOSIS
Prognosis dan keberhasilan kehamilan bergantung pada
fungsi ginjal, proteinuri dan hipertensi.
(8)
Kebanyakan
kehamilan berhasil dipertahankan sampai matur. Ada
pernyataan bahwa hipoalbuminemi oligemi yang berat
berhubungan dengan bayi kecil.
(1,7,16)
Janin dari ibu normotensi
yang menderita proteinuri selama kehamilan mempunyai
gangguan neurologis dan perkembangan mental.
(1,8)
Prognosis
biasanya kurang baik jika SN disebabkan post streptococcal
proliferative glomerulonephritis atau renal lupus
erythematosus.
(7)
Prognosis janin pada preeklamsi dengan proteinuri berat
lebih jelek daripada pada keadaan preeklamsi lain, tetapi
prognosis ibu sama saja. Prognosis baik pada kebanyakan
kehamilan nefrotik dengan fungsi ginjal yang masih dalam
batas normal, tetapi beberapa ahli berpendapat bahwa
prognosis janin lebih buruk jika SN sudah mulai timbul pada
awal kehamilan.
(16)
KESIMPULAN
Sindrom nefrotik dapat terjadi bersamaan dengan
kehamilan atau kehamilan dapat terjadi pada penderita sindrom
nefrotik. Prinsip penatalaksanaan secara umum tidak berbeda
dengan keadaan tidak hamil, kecuali penggunaan beberapa
obat-obatan yang perlu menjadi perhatian pada wanita hamil
Prognosis dan keberhasilan kehamilan bergantung pada fungsi
ginjal, proteinuri dan hipertensi yang terjadi.
KEPUSTAKAAN
1.
Tripathi K, Prakash J. Kidney diseases in pregnancy. In : Textbook of
Nephrology, 1
st
ed, Jaypee 1993. p.347-82.
2.
Gallery EDM. Renal physiology in normal pregnancy. In: Johnson
RJ, Feehaely J (eds). Comprehensive clinical nephrology, 1
st
ed, London :
Mosby, 2000. p.46.
3.
Brady HR, Brenner BM. Pathogenetic mechanism of glomerular injury. In:
Fauci, Braunwald, Isselbacher et al (eds). Harrison's Principles of Internal
Medicine, 14
th
ed, New York : McGraw Hill, 1998.p. 1540-4.
4.
Sukandar E, Sulaeman R. Sindrom nefrotik. Dalam: Soeparman, Sukaton
U, Waspadji S, dkk (eds). Ilmu penyakit dalam, jilid II, Jakarta: BP FK UI,
1990. hal. 282-305
5.
Travis L. Nephrotic syndrome. eMedicine. June 11, 2002.
6.
Interrelationship between the different types of the nephrotic syndrome.
Available from: http://nephrotic-syndrome.org/disease/zdic2.
7.
Black D. The Nephrotic syndrome. In: Renal disease, 3
rd
ed, Oxford:
Blackwell Scient. Publ. 1972. p.331-66.
8.
Lindheimer MD, Katz AI. Kidney function and disease in pregnancy.
Philadelphia : Lea & Febiger, 1977. p.160-4.
9.
Yao T, Yao H, Wang H. Diagnosis and treatment of nephrotic syndrome
during pregnancy. Chin Med J (Eng) 1996 Jun; 109 (6): 471-3.(Abstrak)
10.
Hudono ST,Yunizaf. Penyakit ginjal dan saluran kemih (traktus urinarius).
Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T (eds). Ilmu Kebidanan,
Edisi ke-3. Jakarta: Gramedia, 1991, hal. 514
11.
Tisher CC, Wilcox CS. Buku saku nefrologi, Edisi ke-3 (terj.), Jakarta: EGC,
1995. hal.37-43.
12.
Sukandar E. Nefrologi klinik, Ed.II, Bandung: Penerbit ITB, 1997. hal. l64-97.
13.
Brown MA, Bowyer L. Renal complication in normal pregnancy. In : Johnson
RJ, Feehaely J (eds). Comprehensive Clinical Nephrology, 1
st
ed, London :
Mosby, 2000. p.47. 1-14.
14.
Cunningham FG, Grant NF, Leveno KJ et al (eds). Renal and urinary tract
disorders. In: Williams Obstetrics, 21
st
ed, New York : McGraw Hill, 2001. p.
1253-62.
15.
Packham DK, Fairly KF, Smith PK. Pregnancy with preexisting renal
disease. In : Johnson RJ, Feehaely J (eds). Comprehensive Clinical
Nephrology, 1
st
ed, London : Mosby, 2000. p.48.1-12.
16.
August P, Katz AI, Lindheimer MD. The Patient with kidney disease
and hypertension in pregnancy. In: Schrier RW (ed). Manual of
Nephrology, 5
th
ed, Philadelphia : Lippincott Williams & Wilkins, 2000.
p.219-20.
17.
Wilmana F. Analgesik-Antipiretik, Analgesik anti inflamasi nonsteroid dan
obat pirai. Dalam : Ganiswara SG, Setiabudy R, Suyatna FD,
Purwantyastuti. Farmakologi dan Terapi, ed. 4, Jakarta: Gaya Baru, 1995.
hal. 219.
18.
Turpie AGG, Hin BSP, Lip GYH. ABC of Anti thrombotic therapy. Venous
thromboembolism : treatment strategies. BMJ 2002 ; 325: 948-50.
19. Cocobo SC, Evangelista LF, Kin PT.IIMS 92/93, 3
rd
ed, Singapore:
MIMS Publication, 1992. p.206, 649.
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 41
Document Outline