HASIL PENELITIAN
Derajat Keasaman Air Ludah pada
Penderita Diabetes
Suyono, Isa, Henry, Nugroho
Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Sebelas Maret /
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Moewardi Surakarta
ABSTRAK
Diabetes banyak menimbulkan komplikasi berbagai organ. Pada mulut manifestasi
komplikasinya berupa penyakit periodontal, xerostomia, kalkulus, gigi goyah, gingivitis dengan
perdarahan, kandidiasis, dan risiko caries. Komplikasi tersebut dipengaruhi oleh derajat keasaman
air ludah.
Uji korelasi kadar gula darah dangan pH air ludah dilakukan terhadap 23 penderita diabetes
di bangsal Melati RSDM pada Januari sampai Februari 2001. Didapatkan hasil r =-0,63 dan t =
3,93; berarti terdapat korelasi yang secara statistik berarti antara Diabetes Melitus dengan pH air
ludah
Kata kunci : Diabetes Melitus, Keasaman Air Ludah
PENDAHULUAN
Diabetes adalah penyakit metabolik kronis yang
disebabkan oleh ketidakmampuan sel menggunakan glukosa,
akibat kurangnya produksi atau tidak adekuatnya insulin dari
sel beta pankreas. Diabetes Melitus disebut juga The Great
Imitator karena penyakit ini dapat mengenai semua organ
tubuh dan menimbulkan berbagai macam keluhan. Saat ini
diabetes Melitus merupakan urutan ke-4 prioritas penelitian
nasional untuk penyakit degenenatif
(1-5)
.
Gejala diabetes telah digambarkan dalam literatur
kedokteran sejak beberapa abad yang lalu, dan tanda-tanda
keadaan mulut akibat diabetes Melitus dipaparkan sejak
pertengahan tahun 1800-an. Untuk mempertahankan derajat
keasaman mulut, manusia secara alami memiliki ludah yang
sangat berperan bagi kesehatan mulut. Fungsinya antara lain
untuk perlindungan permukaan mulut baik mukosa maupun
elemen gigi geligi, pengaturan kandungan air, pencernaan
makanan dan pengecapan. Perubahan sifat, jumlah, dan
susunan air ludah, akan berpengaruh terhadap kesehatan mulut
dan proses lain yang berhubungan dengan fungsi ludah
(11)
.
Salah satu fungsi yaitu perlindungan permukaan mulut
dipengaruhi oleh derajat keasaman air ludah, sehingga
perubahan derajat keasaman air ludah akan berpengaruh
terhadap derajat kesehatan mulut baik mukosa maupun elemen
gigi-geligi
(11,12)
. Dari penelitian terdahulu diketahui bahwa
diabetes , terutama yang tidak terkontrol, meningkatkan
terjadinya penyakit periodontal
(6-8)
. Berbagai bentuk penyakit
periodontal terjadi pada 75% penderita diabetes Melitus tidak
terkontrol
(8)
. Di samping itu terjadi pula komplikasi lain berupa
gigi mudah goyah, gingivitis dengan perdarahan, pengendapan
kalkulus yang cepat, xerostomia, kandidiasis, dan neuropati
perifer pada mulut
(6,7,8)
, serta peningkatan risiko karies
(9,10)
.
TINJAUAN PUSTAKA
Pada penderita diabetes dapat terjadi xerostomia akibat
penurunan sekresi air ludah karena diuresis
(11,13)
. Penurunan
sekresi ini terutama dari kelenjar parotis
(6,14)
cenderung
membuat pH menurun
(11,12,14)
. Di samping itu terjadi kenaikan
kadar glukosa cairan mulut yang akan dimetabolisme oleh
bakteri mulut menjadi asam
(6,12,15,16)
. Kondisi ini juga
menurunkan pH air ludah, karena pH air ludah dipengaruhi
oleh kapasitas buffer yang terutama dipengaruhi kecepatan
sekresi ludah parotis. Sehingga jika sekresi parotis menurun
maka kapasitas buffer pun menurun dan pHpun ikut
menurun
(11)
. Penurunan pH ini juga terjadi karena peningkatan
konsentrasi glukosa darah diikuti peningkatan konsentrasi
glukosa dalam ludah kelenjar parotis
(16)
, glukosa dalam ludah
ini akan dimetabolisme oleh bakteri mulut dan menghasilkan
asam
(11)
.
Di lain pihak pada penderita diabetes Melitus juga terjadi
mikroangiopati yang menyebabkan kerusakan pembuluh darah
kecil sehingga terjadi ekstravasasi sel-sel darah, protein dan
plasma yang terjadi juga di pembuluh darah di mulut; protein
tersebut akan dimetabolisme oleh bakteri mulut menghasilkan
basa
(11,17)
. Pada penderita diabetes juga terjadi peningkatan
kandidiasis mulut yang menghasilkan produk peragian bersifat
asam
(10,14)
.
Sedangkan pH optimum untuk tumbuhnya jamur
adalah 5-6,5,
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
36
Meskipun pH saliva cenderung turun tapi insidensi karies
pada penderita diabetes Melitus tidak meningkat dibandingkan
dengan kontrol nondiabetes
(6,10,15)
, sebaliknya terjadi
peningkatan penyakit periodontal
(6,7,8)
, yang biasanya berawal
dari terbentuknya kristal patologis dan karang gigi yang sering
terjadi karena peningkatan pH air ludah
(19)
, ditambah dengan
mikroangiopati diabetik yang mengenai pembuluh darah di
jaringan periodontal
(6)
. Mikroangiopati diabetik ini
menyebabkan endotel rusak, adhesi-agregasi trombosit
membentuk mikrotrombus, proliferasi otot polos, penebalan
membrana basalis, metabolisme kolagen, dan penumpukan
lipoprotein
(17)
. Hal ini mengganggu difusi oksigen dan nutrisi
jaringan serta menurunkan daya tahan tubuh terhadap kuman
sehingga jaringan periodontium rentan terhadap penyakit
(6)
.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilakukan atas penderita rawat inap dan rawat
jalan di poliklinik Penyakit Dalam RSUD Dr. Moewardi
Surakarta dari bulan Januari 2001 sampai dengan Februari
2001 yang memenuhi kriteria diabetes , yaitu jika terdapat
gejala diabetes ditambah salah satu hasil laboratorium berikut :
GDP >120mg/dl, gula darah 2 jam post prandial >200 mg/dl,
atau GDS >200 mg/dl.
Penderita didiagnosis menderita diabetes oleh staf ahli
penyakit dalam FK UNS/RSUD Dr. Moewardi. Derajat
keasaman air ludah adalah derajat keasaman air ludah yang
disekresikan dan diukur dengan memakai skala pH.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Selam masa penelitian didapatkan sebanyak 23 orang yang
memenuhi kriteria. Kadar gula darah didasarkan pada hasil
pemeriksaan di laboratorium klinik RSUD Dr. Moewardi
Surakarta. (Tabel 1)
Tabel 1. Hasil pengukuran gula darah dan pH air ludah
No
Kadar gula
darah (mg/dl)
Keasaman air
ludah (pH)
1 66
6,5
Asam
2 103
6,5
Asam
3 149
7,0
Netral
4 160
7,5
Basa
5 176
6,5
Asam
6 204
7,0
Netral
7 225
6,5
Asam
8 231
7,0
Netral
9 248
6,5
Asam
10 284
6,5
Asam
11 289
6,5
Asam
12 305
6,0
Asam
13 306
6,5
Asam
14 315
6,0
Asam
15 319
6,5
Asam
16 321
6,0
Asam
17 327
6,0
Asam
18 331
6,5
Asam
19 345
6,0
Asam
20 396
6,5
Asam
21 396
6,0
Asam
22 401
6,0
Asam
23 415
6,5
Asam
Dalam penelitian ini, atas data yang didapat lebih dahulu
dihitung koefisien korelasinya(r), kemudian keberartian
koefisien korelasi diuji dengan uji t dua arah bergantung pada
arah 0,01 dengan derajat kebebasan (n-2). Dengan cara
tersebut, didapatkan koefisien korelasi (r) = -0,632 dan t = 3,39
(lebih besar dari t
(n-2)
= 2,831). Sehingga Ho ditolak; dengan
demikian secara statistik terdapat korelasi yang berarti antara
diabetes dengan derajat keasaman air ludah.
Pada penelitian ini rata-rata pH air ludah adalah 6,4 - lebih
rendah dari rata-rata pH air ludah normal yaitu 6,8
(11)
. Hal ini
menyokong penelitian terdahulu
(6,14)
yang mendapatkan bahwa
pH air ludah penderita diabetes secara statistik lebih rendah
pada dibanding kontrol sehat
(2,3)
.
KESIMPULAN
Pada penderita diabetes Melitus pH air ludah lebih rendah
dari pH air ludah orang normal.
KEPUSTAKAAN
1.
Supartondo, Sarwono W, Gambaran Klinis Diabetes Melitus, in :
Soeparman. Ilmu Penyakit Dalam, FK UI, Jakarta, 1994, 375-78
2.
David ES. Pancreas : Metabolisme Glukosa dan Diabetes Melitus, in:
Sylvia AP, Lorraine MW. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, EGC, Jakarta, 1995, 1109-19
3.
Askandar T. Diabetes Melitus : Klasifikasi, Diagnosis, dan Terapi.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1996, 1-2
4.
Ranakusuma AB. Buku Ajar Praktis Metabolik Endokrinologi Rongga
Mulut. FK UI, Jakarta, 1992, 71-117.
5.
Keen H, Alberti KGMM. Genetics of Diabetes, in : International
Textbook of Diabetes Melitus, 2nd ed. Alberti KGMM, Ximmet P,. De
Fronzo RA, John Wiley & Sons Ltd. England; 1997, 37-88
6.
Iughetti L, Marino R, Bertolani MF, Bernasconi S. Oral Health in
Children and Adolescents with IDDM. Pediatr. Endocrinol. Metabolism,
1999, Sep-Oct; 2 (5); 603-10
7.
Finney LS, Finney MO, Gonzales-Compoy JM. What the Mouth has to
say about Diabetes, Careful examinations can avert serious complication.
Postgrad Med1997; Dec; 102 (6) : 117-26
8.
Burket LW. Oral Medicine : Diagnosis and Treatment, JB. Lippincott
Co., Philadelphia 1971: 462-71
9.
Olofson M, Bratthal D. Diagnostics-dental Caries, Faculty of
Odontology, Malmo University Sweden 2000,: 1-4
10.
Karjalainen KM, Knuuttila ML, Kaar ML. Relationship between Caries
and Level of Metabolic Balance in Children and Adolescents with Insulin
Dependent Diabetes Melitus, Caries Res 1997; 31 (1) : 13 8
11.
Amerongen AVN. Ludah dan Kelenjar Ludah : Arti Bagi Kesehatan Gigi,
Gadjah Mada University Press, 1991; 1-42
12.
Roukema PA. Ludah. dalam : Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Gadjah
Mada University Press1993; 105-24
13.
Hasket R, Gayford JJ. Penyakit Mulut, Jakarta : EGC, 1991, 168-85
14.
Banocy J, Albecht M, Rigo O, Ember G, Ritlop B. Salivary Secretion
Rate, pH, Lactobacilli and Yeast Counts in Diabetic Women. Acta
Diabetol Lat, Jul-Sep 1987,; 24:3 223-8
15.
Colin HL, Uusitupa M, Niskanen L, Koivisto AM, Meurman JH. Caries
in Patients with Non Insulin Dependent Diabetes Melitus, Oral Surg Oral
Med Oral Pathol Radiol Endod. 1998,Jun; 85 (6) : 680-5
16.
Borg Andersson A, Birkhed D, Berntorp K, Lindgarde F, Matsson L,
Glucose Concentration in Parotid Saliva After Glucose/Food Intake in
Individual with Glucose Intolerance and Diabetes Melitus, Eur J Oral Sci.
1998, Oct; 106(5):931-7
17.
Askandar T. Makro dan Mikro Angiopati Diabetik. in : Soeparman (ed.).
Ilmu Penyakit Dalam. FK UI, Jakarta; 1994, 394-401
18.
Lorraine MW.. Gangguan Asam Basa, In : Sylvia AP. Patofisiologi:
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, EGC, Jakarta 1995,: 327-56
19.
Pilot T. Penyakit Periodontal in : Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan,
Gadjah Mada University Press 1993: 160-82
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 37