HASIL PENELITIAN
Uji Bioaktivitas Sari Etanol
Beberapa Tanaman Terhadap Sel
Lekemia L1210
Ermin Katrin W.
Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Atom Nasional, Jakarta.
ABSTRAK
Uji bioaktivitas sari etanol dan tusuk konde (Heliotropium indicum L.), talatak
manuk (Dysoxylum excelsum B 1), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), dadap srep
(Erythrina hypophorus Boerl.), pacar cina (Aglaia odorata Lour), benalu masisien, dan
lekemia L1210. Hasil pengujian
m, tanaman tersebut mempunyai aktivitas
. Pemumian lebih lanjut terhadap sari daun
artridge dilanjukan dengan KCKT diperoleh
i A, B, C, D, E, F, dan G. Ke tujuh fraksi
buhan sel lekemia L1210 dengan 1C 6,8
h fraksi tersebut sedang dilakukan.
PENDAHULUAN
Lekemia atau lebih dikenal dengan nama kanker darah adalah
suat
yaitu faktor intrinsik (host): keturunan, kelainan kromosom,
defisiensi imun, disfungsi sumsum tulang; dan faktor ekstrinsik
(lingkungan) : paparan radiasi, bahan kimia obat-obatan, dan
infeksi
(3)
.
Dalam dekade terakhir ini, usaha untuk menanggulangi
penyakit tersebut melalui penggalian obat tradisional telah banyak
dilakukan, sehingga memberikan harapan pada penderita untuk
bertahan hidup. Lebih dari 275.000 jenis ekstrak bahan alam
telah diuji oleh National Cancer Institute (NCI) Amerika Serikat
dalam program skrining zat anti kanker yang dimulai sejak tahun
1955
(4)
, dan hingga tahun 1960-an telah diperoleh sekitar 1.770
uga telah berhasil
men
Indonesia merupakan negara yang kaya berbagai jenis
tanaman dan di antaranya banyak digunakan sebagai obat secara
tradisional. Biasanya obat dan tanaman tersebut digunakan dalam
bentuk jamu. Pada umumnya khasiat tanaman obat tersebut belum
dibuktikan kebenarannya secara ilmiah. Dalam program
pembinaan penggunaan tanaman obat tradisional, Departemen
Kesehatan menganjurkan agar dilakukan penelitian ilmiah
tentang khasiat tanaman obat tradisional
(7)
.
Benalu teh dan berbagai jenis benalu lainnya telah dikenal
masyarakat sebagai obat kanker; sementara obat-obat kimia
untuk mengobati kanker (secara chemotherapy) dewasa
u penyakit yang tidak banyak dijumpai, tetapi umumnya
berakhir dengan kematian. Meskipun kematian akibat lekemia
relatif kecil dibandingkan dengan kematian akibat penyakit
lainnya tetapi berdasarkan laporan WHO, kematian akibat
lekemia meningkat di berbagai negara,selama 30 tahun terakhir
ini angka kematian di Amerika Serikat meningkat 2 kali lipat
sejaktahun 1971
(2)
. Penyakit lekemia disebabkan oleh 2 faktor,
sari etanol berbagai jenis tanaman yang dapat digunakan untuk
mengobati lekemia
(2)
.
Program skrining tersebut sangat giat dilakukan setelah
ditemukan Vinkristine (obat lekemia) dan Vinblastine (obat
kanker payudara dan penyakit Hodgkin) dan daun tapak dara.
(Cataranthus roseus)
(5)
. Fujimoto et at.
(6)
j
gisolasi 3 jenis zat, yaitu Blumealactone A, B, dan C dan
tanaman sembung (Blumea balsamifera) yang dapat
menghambat pertumbuhan sel Yoshida sarcoma.
kenanga hitam telah dilakukan terhadap sel
menunjukkan bahwa kecuali kenanga hita
sebagai anti lekemia dengan 1C 31 ppm
tusuk konde dengan menggunakan sep-pak c
tujuh fraksi yang belum murni, yaitu fraks
tersebut semuanya aktif menghambat pertum
ppm. Pemurnian lebih lanjut terhadap ke tuju
50
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 41
ini umumnya berasal dari luar negeri dan harganya sangat
mahal. sehingga sulit terjangkau oleh masyarakat umun yang
membutuhkan.
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka dicoba melakukan uji
bioaktivitas sari etanol dan beberapa jenis tanaman terhadap sel
lekemia L1210. Beberapa jenis tanaman yang diuji adalah tusuk
konde (Heliotropium indicum L.), talatak manuk (Dysoxylum
excelsum BI.), belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), dadap
srep (Erythrina hypophorus Boerl.), pacar cina (Aglaia odorata
Lour), benalu mesisien, dan kenanga hitam. Tanaman-tanaman
ini secara tradisional digunakan oleh masyarakat untuk mengobati
berbagai penyakit. Misalnya tusuk konde untuk mengobati infeksi
paru, sariawan, desentri, peradangan buah zakar, bisul, peluruh
haid, dan lain-lain. Dutta et al.(8) melaporkan bahwa tusuk konde
mengandung alkoloid pirolizidmn yaitu indisin-N-oksida yang
dapat memberikan efek penyembuhan terhadap pasien lekemia
akut.,
Diharapkan, dan pengujian tersebut dapat diperoleh sari
yang aktif menghambat pertumbuhan sel lekemia L1210,
sehingga dapat digunakan untuk mengobati penyakit lekemia.
Lebih lanjut dapat diisolasi untuk mendapatkan senyawa murni
untuk tujuan identifikasi struktur kiamianya.
BAHAN DAN METODE
Ekstraksi Tanaman
Tanaman yang diuji pada penelitian ini adalah daun dan
batang tusuk konde (Heliotropium indicuni L.) serta daun pacar
cina (Aglaia odorata Lour) dari daerah Bogor (Jabar); daun, kulit,
batang, dan akar talatak manuk (Dysoxylum excelsum BI.); akar
belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.), kulit batang dadap-srep
(Erythrina hypophorus Boerl); daun dan batang benalu
mesisien; dan kulit batang kenanga hitam dari daerah Palangka
Raya (Kalteng).
Contoh tanaman dikeringkan dengan mengangin-anginkan
pada suhu kamar, selanjutkan dipotong-potong kecil dan diblend
dengan Bamix sampai halus. Sebanyak 50 gram bubuk kering
diblend dengan 300 ml etanol selama 2 menit, kemudian disaring
dengan penyaring Buchner. Filtrat yang diperoleh dikumpulkan,
sedangkan ampasnya diblend lagi dengan plarut yang sama
sebanyak 3 kali. Filtrat yang dikumpulkan diuapkan dengan ro-
tary evaporator dan diteruskan dengan aliran gas nitrogen sampai
seluruh etanol menguap, diperoleh sari kering. Selanjutnya dibuat
larutan baku dengan konsentrasi 2.500, 5.000, dan 10.000 ppm
dalam pelarut metanol, kemudian dilakukan uji bioaktivitasnya
terhadap, lekemia L1210.
Uji Bioaktivitas Sari Etanol Terhadap Sel Lekemia L1210.
Aktivitas sari etanot akar, kulit batang, batang maupun
daun diuji dengan menggunakan sel lekemia tikus (lekemia
L1210) yang diperoleh dan The institute of Physical and
Chemical Research (Riken), Jepang.
Tahap pengujian dilakukan sebagai berikut sel lekemia
L1210 dibiakkan dalam media Eagle MEM sehingga populasinya
mencapal 20x10
4
sel/ml. Pengujian contoh dilakukan dengan
menambahkan larutan baku masing-masing sebanyak 10 µl ke
dalam 1 ml suspensi sel sehingga konsentrasi zat uji adalah 25,50,
dan 100 ppm. Sebagai pembanding digunakan 10 µl metanol
yang telah ditambah 1 ml suspensi sel. Percobaan dilakukan
duplo. Selanjutnya suspensi sel yang telah diisi sari/zat uji tersebut
diinkubasi selama 2 hari pada suhu 37°C dalam inkubator CO
2
.
Setetah itu, jumlah sel yang masih hidup dihitung di bawah
mikroskop.
Persentase inhibisi/penghambatan sari etanol terhadap
pertumbuhan sel lekemia L1210 dihitung sebagai berikut:
.% Inhibisi = (1-A/B) x 100
A = Jumlah sel dalam media yang mengandung zal uji
B = Jumlah sel dalam media yang tidak mengandung zat uji
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil ekstraksi menggunakan perlarut etanol pada Tabel
1. Dari tabel 1 tersebut terlihat bahwa rendemen yang diperoleh
dan ekstraksi tanaman menggunakan etanol 90% sangat
bervariasi dan berkisar antara 3,8 - 22,6%. Selanjutnya dari etanol
yang diperoleh diuji bioaktivitasnya terhadap sel lekemia L 1210.
Hasil penentuan 1C
50
dari sari etanol terhadap pertumbuhan sel
lekemia L1210 disajikan pada tabel 2.
Tabel 1. Rendemen sari etanol dan berbagai tanaman
Jenis Tanaman
Bagian
Tanaman
Rendemen
(%)
Bentuk & warna
ekstrak kasar
Tusuk konde
(Helitropium indicum L.)
batang
daun
6,0
6,2
sirup, hijau tua
sirup, hijau tua
Talatak manuk
(Dysoxylurn excelsum BL)
akar
batang
kulit batang
daun
3,8
4,4
4,6
18,7
sirup, coklat tua
sirup, coklat tua
sirup, coklat tua
sirup, coklat tua
Belimbing wuluh
(Avernhoa bilimbi L.)
akar 18,0
sirup.
merah
tua
Dadap srep
(Erythrina hyphoporus
Boerl)
kulit batang
8,2
sirup, coklat tua
Pacar cina
(Aglaia odorata Lour)
daun
8,6
sirup, hijau tua
Benalu masisien
batang
daun
22,3
22,6
sirup, coklat tua
sirup, coklat tua
Kenanga hitam
akar
11,2
sirup, coklat tua
* Bobot sari etanol per bobot kering tanaman
Dari Tabel 2 tertihat bahwa selain akar kenanga hitam, contoh
tanaman yang diuji menunjukkan aktif menghambat pertumbuhan
sel lekemia L1210 dengan 1C
50
3 1 ppm. 1C
50
(inhibition Con-
centration) adalah konsentrasi zat uji yang menyebabkan
terhambatnya pertumbuhan sel sebesar 50%. Hasil pengujian ini
secara tuntas masih memerlukan waktu yang cukup panjang.
Di dalam sari etanol yang aktif menghambat pertumbuhan
sel lekemia L1210 ini diperkirakan ada satu atau lebih komponen
yang benar-benar aktif berperan sebagai zat anti lekemia,
sehingga pemisahan tebih lanjut mutlak diperlukan. Oleh karena
itu dicoba dilakukan pemisahan terhadap sari daun tusuk konde
mengunakan sep-pak cartridge (absorben florisil C-18) dengan
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
42
Tabel 2. Nilai IC
50
dari sari etanol terhadap pertumbuhan sel lekemia L1210
Tanaman
Bagian
Tanaman
T
IC
51
,
(ppm)
Anti
lekemia
Tusuk konde
(Helitropium indicum 1..)
batang
daun
< 25
31
+
Talatak manuk
(Dysoxylum excelcunt Bl.)
akar
batang
kulit hatang
daun
< 25
< 25
< 25
< 25
+
+
+
+
Belimbing wuluh
(Avernhoa bilimbi L.)
akar <
25
+
Dadap srep
(Erythrina hyphoporus
Boerl)
kulit batang
< 25
+
Pacar cina
(Aglaia odorata Lour)
dauu <
25
+
Benalu masisien
hatang
daun
< 25
< 25
+
+
Kenanga hitam
akar
> 100
+
Keterangan : + = aktif menghambat pertumbuhan sel lekemia L1210
- = tidak/kurang uktif menhambat pertumbuhan sel lekemia
L1210
eluen campuran metanol : air = 1:2. 1:1, 2:1, 3:1 dan 1:0. Residu
yang diperoleh diuji bioaktivitasnya terhadap sel lekemia. Hasil
pengujian disajikan pada Tabel 3.
Tabel
3.
Aktifitas fraksi sep-pak cartridge dalam menghambat
pertumbuhan sel lekemia L1210 dengan konsentrasi zat uji = 15 ppm
No
Komposisi eluen
(MeOH:H 20)
Kons. Zat uji
(ppm)
Inhibisi
(%)
1 1
:2
15 71
2
1 : 1
15
80
3
2 : 1
15
57
4
3 : 1
15
55
5
1 : 0
15
88
Dari Tabel 3 tersebut terlihat bahwa komposisi terakhir, yaitu
elusi dengan metanol saja memberikan residu yang paling aktif
menghambat pertumbuhan sel lekemia L1210, yaitu 88% untuk
konsentrasi zat uji sebesar 15 ppm. Setelah perlakuan ini
dilakukan berulang kali untuk memperoleh residu yang cukup,
maka selanjutnya dipisahkan dengan cara kromatografi cair
kinerja tinggi (KCKT) menggunakan kolom ODS semi preparatif
(25 x 2,2 cm) dengan eluen campuran metanol : air = 85 : 15,
detektor UV pada panjang gelombang 254 nm. Dari pemisahan
ini diperoleh 7 (tujuh) bagian, yaitu A, B, C, D, E, F, dan G
(Gambar 1). Setelah dikeringkan, masing-masing diuji
bioaktivitasnya terhadap sel lekemia L1210.
Hasil pengujian disajikan pada Tabel 4.
Dari Tabel 4 tersebut terlihat bahwa semua fraksi rempunyai
aktivitas menghambat pertumbuhan sel lekemia L1210 dengan
IC
50
6,8 ppm. Usaha pemurnian lebih lanjut terhadap masing
masing fraksi untuk mendapatkan komponen murni sedang
dilakukan.
Gambar 1. Kromatogram KCKT dan residu sep-pak cartridge
Tabel 4. Hasil uji bioaktivitas fraksi KCKT terhadap pertumbuhan sel
lekemia L1210
Inhibisi
(%)
Bagian
Kons. zat uji
2,5 ppm
Kons. zat uji
5 ppm
Kons. zat uji
10 ppm
IC50
(pp
m
)
A 100 100
<
2.5
B - 88 99
<
5
C 99 99
<
2,5
D 93 99
<
2,5
E 63 77
<
5
F 46 57
6,8
G 58 68
<
5
- : Tidak dilakukan pengujian
KESIMPULAN
Sebanyak enam dari tujuh contoh tanaman yang diuji yaitu,
tusuk konde, talatak manuk, belimbing wuluh, dadap srep, pacar
cina, dan benalu masisien menunjukkan aktivitas terhadap
penghambatan sel lekemia L1210 dengan nilai 1C
50
31 ppm,
sedangkan satu tanaman yaitu kenanga hitam tidak aktif dengan
1C
50
100 ppm. Pemurnian lebih lanjut terhadap sari etanol daun
tusuk konde dengan menggunakan sep-pak cartridge florisil C-
18 dilanjutkan dengan KCKT diperoleh tujuh fraksi yang belum
murni, yaitu fraksi A, B, C, D, E, F, dan G, Ke tujuh fraksi tersebut
semuanya aktif dengan 1C 6,8 ppm.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Bp. D Made Sumatra, MS dan
Sdr Hendig Winarno, M.Sc dan Lab. Kimia PAIR-BATAN yang relal,
memberikan saran dan nasihatnya serta Sdri. Aryanti, B.Sc. Sdr Firdaus, dan
Sdr Suhanda yang telah membantu melakukan persiapan dan bioassay.
KEPUSTAKAAN
1. Winandibrata, E. S., Pola Penderita Lekemia, Medan, 1976.
2. Cordell G A. Recent experimental and clinical data concerning antitumor
and cytotoxic agents from plants. Dalam : Wagner H Wolf P. 9eds.) New
Natural Products and Drugs with Phaniacological. Biological or Therapeu-
tical Activity. Springer-Verlag Pub, Berlin, 1977; hal. 54-81.
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 43
3. Reksodiputro AH. Nasution CA. Prinsip penatalaksanaan lekemia , Cermin
Dunia Kedokt., 1993; 88 : 5-9.
7.
Hargono U. Perkembangan kebijak pengaturan, pembinaan. dan
pengawasan obat tradisional pelangsing. Warta Perhiba , Jakarta, 1994; 2
(4) : 2-7
4. Farmer PB. Walker JM. The Molecular Basics of Cancer Chroom. Helm.
London; 1985.
8. Dutta SK, Sanyal U. Chakraborti SK. A modified method of isolation of
indicine-N-oxide from Heliorropium indicum and its antitumor activity
against Ehrlich Ascites Carcinoma and Sarcoma- 180, Indian J. Cancer
Chemotherapy 1987; 9 (2) : 73-7.
5. Busch H. Lane M. Chemotherapy : An Introductory Test. Year Book
Medcat Pub. inc Chicago, 1967.
6. Fujimoto Y, Sumartono A, Sumatra M. Sesquiterpene lactones from
Blumea balsamifera, Phytochemistry 1988; 27(4): 1109-13.
He who fears to suffer suffers from fear
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997
44