HASIL PENELITIAN
Uji Banding secara
Klinis antara Cefixime dengan
Kombinasi Amoksisilin dengan Asam
Klavulanat
pada Penderita Otitis Media Akuta
(penelitian pendahuluan)
Dr. Tedjo Oedono
Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
ABSTRAK
Otitis Media Akuta (OMA) adalah radang mukoperiosteum cavitas tympanica. Pe-
nyakit ini biasanya merupakan komplikasi penyakit hidung, tenggorok, tonsil, maupun
kombinasi. Dan penyakit primer di atas yang tersering adalah penyakit kambuhan akut
maupun lthronis dalam fase eksaserbasi akut. Pengobatan standar OMA adalah amoksi-
sum atau ampisilin, yang kemudian dengan adanya bakteri penghasil enzim beta lakta-
mase terapi berkembang menggunakan kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat.
Amoksisilin adalah penisilin berspektrum luas bersifat bakterisid terhadap bakteri
gram () maupun (+) yang biasanya merupakan etiologi radang daerah THT. Cefixime
adalah jenis sefalosporin generasi ke tiga, merupakan preparat peroral dengan spektrum
antibakterisid seperti amoksisilin dengan nilai tambah terhadap bakteri yang meng-
hasilkan enzim beta-laktamase. Asam klavulanat adalah zat anti enzim beta-laktamase
yang progresif dan cukup stabil.
Perbandingan uji klinis antara cefixime dengan kombinasi amoksisilin dan asam
klavulanat menunjukkan adanya perbedaan dengan p > 0.05. Hasil pemantauan bak-
teriologis pada kasus-kasus OMA yang gagal pada ke dua grup perlakuan (grup 1/grup
cfs dan grup 2/grup aug) ternyata pada grup 1 Pseudomonas, Bacteroides fragilis, dan
Staphylococcus aureus, merupakan bakteri yang resisten terhadap cefixime; pada grup 2,
Pseudomonas aeruginosa, suatu galur Streptococcuspyogenes, Pneumococcus, Klebsiella
pneumoniae, E. coli, Proteus vulgaris, merupakan bakteri-bakteri yang resisten terhadap
kombinasi antara amoksisilin dengan asam klavulanat.
Suatu bukti lain yang perlu disimak adalah adanya bakteri gram () seperti Klebsiella
pneumoniae, Proteus vulgaris, dan E. coli yang tadinya dianggap resisten terhadap
amoksisilin karena menghasilkan enzim beta-laktamase, dalam penelitian ini masih
cukup mampu hidup walaupun terdapat inhibitor beta-laktamase.
Efek samping yang timbul ialah pada grup 1 rasa pusing dan sakit kepala 1 kasus,
pada grup 2 terjadinya diare dan mual-mual 1 kasus, dan reaksi hipersensitifpada 1 kasus.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 53
PENDAHULUAN
Otitis media akuta adalah radang pada mukoperiosteal cavi-
tas tympanica yang disebabkan oleh virus dan/atau bakteria.
Radang ini sering didahului oleh radang hidung sebanyak 80%,
radang hidung dan tenggorok 90%, radang tonsil 50%, dan ra-
dang tenggorok 30% Bakteri-bakteri penyebab otitis media
akuta (OMA) pada kasus anak 5 tahun ke bawah adalah: Haemo-
philus influenzae, Streptococcus, Pneumococcus, Escherichia
coli, Klebsiella pneumoniae. Untuk kasus Iebih dari 5 tahun
penyebab tersering adalah Streptococcus, Pneumococcus,
Klebsiella pneumoniae, Pseudomonas atau Proteus vulgaris.
Untuk 12 tahun ke atas penyebab tersering adalah : Strepto-
coccus, Pneumococcus, Klebsiella pneumoniae, dan Staphylo-
coccus (Lim et al.). Kasus OMA umumnya merupakan kom-
plikasi dari rhinotonsilofaringitis, rhinofaringitis, serta tonsilitis
baik yang kambuhan akut (acute recurrence) maupun yang
kronis pada fase eksaserbasi akut dengan frekuensi sekitar 90%
dari semua kasus OMA, seperti yang diungkapkan pada hasil
pemantauan kasus-kasus poliklinik bagian Anak dan THT di
tiga rumah sakit besar di Yogyakarta.
Standar pengobatan untuk OMA di unit THT FK. UGM
adalah ampisilin atau amoksisilin. Oleh karena kedua obat di atas
termasuk penisilin berspektrum luas; maka bila digunakan se-
cara serampangan dapat mudah terjadi resistensi. Dewasa ini
penggunaan ampisilin telah meluas sampai ke puskesmas, se-
hingga resistensi tak dapat dihindarkan, seperti yang telah di-
ungkapkan oleh Pratiwi Sudarmono (1989) mengenai resis-
tensi kuman Staphylococcus, E. coli, Haemophilus influenzae,
serta beberapa galur Strep tococcus
(2)
. Konsekuensinya apabila
terjadi resistensi ampisilin akan pula terjadi resistensi amoksi-
sum karena mereka mempunyai resistensi si1ang
(3)
. Adanya
mikroba yang membentuk enzim beta-laktamase pada kasus
kasus tonsilitis kronika dengan eksaserbasi akut dan kasus-
kasus rhinofaringitis kronika dengan eksaserbasi akut dapat
menim-bulkan terjadinya komplikasi OMA
(1)
sehingga perlu
dipikirkan penambahan asam klavulanat dan sulbaktam sebagai
antienzim beta-laktamase.
Amoksisilin adalah jenis penisilin berspektrum luas yang
biasanya mempunyai formulasi amoksisilin trihidrat dengan
daya bakteriosid. Antienzim-beta laktamase yang terikat pada
amoksisilin biasanya berbentuk kalium klavulanat. Inhibitor itu
mempunyai sifat yang progresif dan ireversibel, sehingga pe-
nambahan asam klavulanat akan menambah daya bakterisidnya
pada kuman yang menghasilkan beta-1aktamase
(3,4)
.
Cefixime adalah sefalosporin generasi ke tiga berbentuk
preparat peroral dengan daya bakterisid. Mekanisme kerjanya
terletak pada kekuatan mengikat penicillin-binding protein (PBP)
enzymes, menyebabkan terhambatnya sintesis lapisan peptido-
glikan pada dinding sel kuman dan mengacau pembelahan sel.
Spektrum antibakterinya kurang lebih sama dengan spektrum
amoksisilin dengan kombinasi asam k1avulanat
(5)
.
Gunaevaluasi polaresistensi kuman-kumanpenyebab OMA
serta mencari alternatif obat baru untuk mengantisipasi ke-
mungkinan resistensi kuman penyebab OMA, maka perlu di-
adakan penelitian eksperimental klinis bagi antimikroba yang
secara teoritis maupun berdasarkan uji sensitifitas terhadap
beberapa antimikroba dinyatakan berdaya guna. Untuk maksud
di atas maka peneliti mernilih kombinasi amoksisilin dengan
asam klavulanat dibandingkan dengan cefixime.
BAHAN DAN CARA KERJA
Kasus yang diperiksa untuk penelitian ini adalah pasien
OMA yang berumur antara 512 tahun. Gejala-gejala subyektif
terdiri dari: otalgia, rasa penuh di telinga, adanya otorhea baik
mukopurulen,maupun purulen. Gejala-gejala obyektifnya adalah:
temperatur Iebih dari 38°C; lekositosis Iebih dari 11,000; pe-
meriksaan sitologi cairan telinga terdapat netrofil atau netnofil
dan limfosit, gendang telinga tampak merah sebagian atau me-
nyeluruh, merah dengan bulging, atau tampak adanya perforasi;
pergerakan gendang telinga pada pemeriksaan dengan alat
bantu positif atau negatif.
Kriteria eksklusi adalah: 1) anak <5 tahun; 2) kasus dalam
keadaan gawat, sakit berat, maupun alergi pada antimikroba
yang diteliti; 3) OMA dengan komplikasi; 4) kasus dengan
riwayat telah makan obat simtomatik sebelumnya; 5) kasus
dengan riwayat sakit ginjal dan hepar; 6) kasus dengan riwayat
minum obat antimikroba I minggu atau kurang. Pada kasus-
kasus yang memenuhi syarat dilakukan pemeriksaan ragam
bakteri penyebab serta sensitifitas terhadap antimikroba ter-
maksud, selanjutnya dibagi secara random yang diseimbangkan
dan dimasukkan dalam grup masing-masing.
Pemeriksaan itu diulang kembali setelah 7 hari pengobatan.
Pengobatan dengan kombinasi antara amoksisilin dan asam
klavulanat secara peroral 3 kali per hari (250 mg amoksisilin)
selama 7 hari, sedang pengobatan dengan cefixime peroral se-
banyak 2 kali per hari 3 mg per kg berat badan selama 7 hari.
Obat-obat yang tidak boleh diberikan bersama adalah: preparat
steroid, artalgetik/antipiretik, antiinflamasi nonkortikosteroid
dan preparat enzim.
Pengobatan akan dihentikan apabila terjadi hal-hal sebagai
berikut :
1) Setelah 4 hari pengobatan penyakitnya tambah berat
2) Dalam 4 hari pengobatan tak ada perbaikan
3) OMA sembuh komplit
Variabel-variabel gayutnya adalah temperatur tubuh, jum-
lah lekosit, otalgia, rasa penuh di telinga, jumlah netrofil per
medan pandangan, gambaran gendang telinga.
Skor untuk temperatur tubuh: satu bila panas badan 38°C
atau lebih, sedang nol (nihil) bila panas badan kurang dari 38°C.
Skor untuk jumlah lekosit terdiri dari: satu bila jumlahnya
11.000 atau lebih, dan nol bila kurang dari 11.000.
Skor untuk otalgia terdiri atas: dua bila otalgia positif, satu
bila otalgia ragu, nol bila otalgia absen.
Skor untuk rasa penuh di dalam telinga terdiri atas: dua
bila rasa itu positif, satu bila rasa itu ragu, sedang nol bila rasa
itu absen.
Skor untuk jumlah netnofil per medan pandangan preparat
usap ingus hidung terdiri dari: tiga bila jumlahnya lebih dari 20
per medan pandangan, dua bila jumlahnya 15 20 per medan
pandangan, satu bila jumlahnya 510 per medan pandangan, nol
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
54
bila jumlahnya kurang dari 5 per medan pandangan.
Skor keadaan gendang telinga terdiri dari: empat bila
seluruh gendang telinga merah menyeluruh tanpa bulging atau
perforasi, tiga bila gendang telinga merah menyeluruh tanpa
bulging, dua bila gendang telinga merah di tepi dan gerakannya
tak ada, satu bila gendang telinga merab di tepi dan ada
gerakan, nol bila keadaan normal.
Variabel perlakuannya adalah terapi dengan cefixime
(CefspanŽ/csf) sebagai grup 1 dan terapi dengan kombinasi
amoksisilin dengan asam klavulanat (AugmentinŽ/aug)
sebagai grup2.
Alat-alat yang digunakan untuk penelitian ini adalah: alat-
alat poliklinik THT lengkap, alat pneumatoskopi, spuit pegas 3
ml dengan jarum yang steril guna pengambilan cairan telinga
tengah sebanyak 10 buah, mikroskop atau lup untuk timpanoskopi,
agar steril dalam tabung untuk tempat inokulasi kuman pe-
nyebab, termometer badan, mikroskop untuk memeriksa preparat
usap cairan telinga tengah,zat kimia yang terdiri dari cairan eosin
5% dalam metil alkohol, etil alkohol, dan metilen biru 5% dalam
metil alkohol untuk pemeriksaan preparat usap cairan telinga
tengah. Cara menghitung jiimlah netrofil per medan pandangan
dengan metode Hasel. Pengambilan cairan telinga tengah meng-
gunakan spuit pegas steril yang dimasukkan melalui gendang
telinga pada kuadran posterior inferior; sebelumnya terlebih dulu
dilakukan pembiusan secara neuroleptik dengan pasien tidur
terlentang. Desinfektan dilakukan dengan betadin pekat dan
kemudian dibersihkan dengan alkohol 90%.
Evaluasi secara klinis digunakan cara skor: skor 02 sesuai
dengan keadaan klinis sangat baik; skor 34 sesuai dengan ke-
adaan klinis baik; skor 56 sesuai dengan keadaan klinis sedang/
medium; skor 710 sesuai dengan keadaan klinis jelek.
Evaluasi bakteriologis:
1) Eradikasi (pembasmian kuman) dengan definisi pembasmi-
an kuman penyebab OMA praterapi yang terbukti dengan hilang-
nya kuman itu pada kultur cairan yang diambil pasca suatu terapi;
dan
2) Persistensi (menetapnya kuman) dengan definisi tetap
adanya kuman penyebab OMA praterapi yang terbukti dan
kultur yang dibuat pasca terapi.
Pengamatan adanya efek samping yang mungkin terjadi
setelah maupun selama pengobatan bertujuan untuk
melengkapi data penelitian.
Evaluasi klinis dilakukan pada hari ke-4 dan pada hari ke-7
pengobatan pada setiap grup. Pengobatan gagal bila obyek
mencapai penyembuhan klinis medium atau jelek, berhasil
apabila penyembuhan klinis mencapai baik atau sangat baik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kasus OMA yang memenuhi syarat serta telah mengisi
daftar wawancara dengan benar sebanyak 71 obyek perlakuan
dan 93 kasus dengan perincian 35 termasuk dalam grup 1 dan 36
orang termasuk dalam grup 2. Pada tabel 1 terlihat jumlah kasus
OMA sebagai komplikasi rhinotonsilo-faringitis, 13 kasus se-
bagai komplikasi rhinofaringitis, 20 kasus sebagai penyebab
rhinitis, sedang 12 kasus sebagai komplikasi dan tonsilitis.
Tabel 1. Jumlah kasus OMA pada masing-masing penyakit primernya
Penyakit primer
Jumlah kasus OMA
Rinotonsilofaringitis
Rinofaringitis
Ronitis
Tonsilitis
(tipe 1)
(tipe 2)
(tipe 3)
(tipe 4)
12
20
27
12
Jenis kuman-kuman penyebab OMA pada kedua grup dapat
diperinci seperti pada tabel 2.
Tabel 2. Jenis-jenis kuman penyebab pada kedua grup tersebut di atas
Jenis kuman
CFS (kasus)
AUG (kasus)
Hemophilus inf
Streptococcus pyogen
Pneumococcus
Klebsiella pneumoniae
E. coli
Pseudomonas grup
Proteus vulgaris
Staphyllococcus aureus
Bacillus Sp
Anaerobic coccus
Bacteroides sp
Moraxella/Branhamella cat.
B. subtilis
15
27
14
15
6
3
1
2
4
3
1
2
4
12
28
18
17
4
2
2
7
2
4
3
2
3
Di tabel 3 tertera macam-macam kuman penyebab OMA
dengan hasil sensitivitasnya baik terhadap cefixime maupun
terhadap kombinasi amoksisilin dengan asam klavulanat.
Tabel 3. Ragam kuman penyebab OMA dengan basil tes kepekaannya
terhadap
kedua
jenis
di
atas
Cefixime
Amoksisilin +
Klavulanat
Jenis kuman
SS S R SS S R
Hemophilus
inf
+ + +
Streptococcus
grup
+ + + + +
Pneumococcus +
+
+
+
Klebsiella
sp
+ +
+
E.
coli
+ +
+
Pseudomonas
grup
+ +
Proteus
vulgaris
+ + + +
Staphylococcus
aureus
+ + +
Bacillus
Sp
+ + + +
Anaerobic
coccus
+ + + +
Bacteroides
fragilis
+ +
Moraxella
catarrhalis
+ +
B.
subtilis
+ +
Keterangan:
SS : Sangat
sensitil
S : Sensitif
R : Resisten
Hasil perlakuan pada ke dua grup di atas dapat dilihat
dalam Tabel 4.
nilai X2 pada Y atas X2 tes dengan koreksi Yates 0,08 3 (p>5%)
dengan demikian daya guna cefixime sama dengan kombinasi
antara amoksisilin dengan asam klavulanat. Ditemukan perbe-
daan efektivitas sebesar 24,7% antara cefixime dengan amoksi-
silin-asam klavulanat yang menunjukkan bahwa cefixime
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995 55
Tabel 4. Hasil perlakuan pada kedua grup (perlakuan berdasarkan sumber
penyakit
primernya)
Penyakit primer
Grup cfs
Grup aug
Berhasil Gagal Berhasil Gagal
Tipe 1
Tipe 2
Tipe 3
Tipe 4
5
10
12
7
1
1
0
0
4
5
10
4
2
3
4
1
Jumlah
34 (94,4%) 2 (5,6%) 23 (69,7%) 10 (30,3%)
cenderung lebih efektif, meskipun tidak dicapai kemaknaan
secara statistik. Evaluasi bakteriologis mengenai pembasmian
kuman gagal mendapatkan hasil sebab setiap kasus yang meng-
alami penyembuhan sulit diketemukan cairan telinga tengahnya.
Penilaian hanya dilakukan untuk menetapkan kuman patologis
penyebab OMA pada dua kasus yang mengalami kegagalan
terapi. Penilaian mengenai menetapnya kuman penyebab dapat
dilihat pada tabel 5.
Tabel 5. Jenis kuman yang menetap pasca terapi di setiap grup
Jenis kuman
Grup (kasus)
cfs
Grup aug
(kasus)
Hemophyllis inf
Streptococcus pyogen
Pneumococcus
Klebsiella pneumonic
E. coli
Pseudomonas auroginosa
Proteus vulgaris
Staphylococcus aureus
Basillus Sp
Anaerobic cocci
Bacteriocides
.
fragilis
Moraxella (Branhamella catarrhalis)
+
+
+
+
+
+
+
+
+
Keterangan :
+ : kultur positif : tidak tumbuh
Pada penelitian ini terdapat 2 kasus yang kulturnya tidak
tumbuh, mungkin disebabkan bakteri baik yang aerob maupun
anaerob mati sebelum pembiakan akibat kurang baiknya pengi-
riman preparat.
Pengamatan adanya efek samping pada kedua grup per-
lakuan dapat dilihat pada tabel 6.
Tabel 6. Macam efek samping yang timbul
Kasus
Jenis efek samping
Grup cfs
Grup aug
Reaksi hipersensitif (utikaria, rash,
eritema, pruritus)
Reaksi gastro intestinal (mual,
vomitus, diare)
Sakit kepala, pening
1
1
1
Kasus yang mengalami reaksi gastrointestinal dan sakit
kepala tetap mengikuti penelitian sampai selesai, sedang yang
mengalami reaksi hipersensitif terpaksa dihentikan.
Pada penelitian pendahuluan ini terbukti bahwa daya guna
cet sama dengan kombinasi amOksisilin dengan asam kia-
vulanat. Bakteri pada kasus-kasus OMA ternyata banyak yang
mampu menghasilkan enzim beta-laktamase antara lain Sta-
phylococcus aureus, I-iaemophflus influenzae, Klebsiella pneu-
moniae, Bacillus sp, Bacteroides sp, Moraxella catarrhalis, hal
ini sesuai dengan penelitian di luar negeri
(5,6)
.
Keberhasilan penyembuhan total OMA dengan terapi
cefixime mencapai 96%, sedang untuk kombinasi amoksisilin
dengan asam klavulanat mencapai 75%. Hal yang sama pernah
dikemukakan oleh Hsu et al. (1992) bahwa perbaikan klinis
pada pengobatan dengan cefixime secara menyeluruh mencapai
57 (95%) dari 60 penderita infeksi THT.
Pemantauan bakteriologis menunjukkan bahwa obat di atas
amat efektif terhadap H. influenzae (100%), Klebsiella (100%),
dan Streptococcus beta-haemolyticus (100%). Namun demikian
tidak efektif terhadap Streptococcus viridans (63%) atau Sta-
phylococcus aureus (54%). Pada penelitian ini terbukti pada pe-
mantauan bakteriologis mengenai persistensi bakteri penyebab
OMA, terdapat resistensi Pseudomonas aeruginosa, Bacteroi-
des fragilis, dan Staphylococcus aureus; hal ini pernah di-
kemukakan juga oleh Neu (1992). Peristiwa menarik yang perlu
disimak adalah diketemukannya beberapa jenis bakteri yang
telah resisten terhadap kombinasi amoksisilin dengan asam
klavulanat, seperti Streptococcus pyogenes, Pneumococcus,
Klebsiella sp, Proteus vulgaris dan E. coli. Dahulu
diperkirakan bahwa baik bakteri Klebsiella maupun E. coli
resisten terhadap derivat penisilin karena kemampuannya
membentuk enzim beta-laktamase, akan tetapi sekarang terlihat
bahwa resistensi kedua kuman di atas bukan berdasarkan
pembentukan enzim beta-Iaktamase akan tetapi mungkin
resistensi nongenetik atau resistensi kromosomal
(2)
.
KESIMPULAN DAN SARAN
1) Daya guna cefixime dan kombinasi antara amoksisilin
dengan asam klavulanat sama.
2) Persistensi kuman pascaterapi : grup I adalah Pseudomonas,
Bacteroides fragilis, Staphylococcus; grup 2 adalah Strepto
coccus pyo genes, Pneumococcus, Klebsiella pneumoniae, E.
coli, Pseudomonas, Proteus sp.
3) Efek samping obat, grup I sakit kepala dan pusing, grup 2
reaksi hipersensitif dan reaksi gastrointestinal.
KEPUSTAKAAN
1. Tedjo Oedono. Aneka ragam bakten sebagai penyebab rinofaringitis khro-
nika dengan komplikasi persinusitis baik yang ada poliposis nasi maupun
tidak, dan tonsilofaringitis baik yang khronis maupun subkhronis. Naskáh
lengkap pertemuan mingguan dokter-dokter R.S. Bethesda Yogyakarta,
1991.
2. Sudarmono P. Mekanisme resistensi terhadap antibiotika. Lembaran obat
dan pengobatan, 1989; 6: 2529.
3. Eisenberg MS, Furukawa C, Ray CG. Manual of antimicrobial therapy and
infectious diseases. W.B. Saunders Blue Books, 1980.
4. Smithkline Beecham Pharmaceutical Report. Beta-watch 2nd. ed.
Smithkline Beecham Pharmaceutical, 1990.
5. Fujisawa Pharmaceutical Report (ed). Cefspan (cefixime), Fujisawa
Pharma ceutical Co, Ltd, 1990.
6. Principi N, Marcchisio P. Cefixime vs amoxycillin in the treatment of
acute otitis media in infants and children. Drug 1991; 42 (suppl. 4): 2529.
7. Neu HC. New oral cephalosporins : why and when they should be used.
Med. J mv. md. 1992; 1, (3/4, suppl.): pp 38.
Cermin Dunia Kedokteran No. 102, 1995
56