HASIL PENELITIAN
Uji Analgetik Infus
Rimpang Lempuyang Pahit
(Zingiber americana BL)
pada Mencit Putih
Pudjiastuti, B. Dzulkarnain, Budi Nuratmi
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan uji analgetik infus rimpang lempuyang pahit (Zingiber americana
BL) pada mencit putih dengan dosis 30 mg, 90 mg, dan 300 mg serbuk/10 g bobot
badan yang diberikan secara oral.
Cara Witkins et al. digunakan sebagai metode percobaan menggunakan akuades
sebagai kontrol dan asetosal 52 mg/kg bobot badan sebagai pembanding. Sebagai
induksi rasa sakit digunakan asam asetat 3% 0,1 ml/ekor diberikan 30 menit setelah
pemberian bahan secara intraperitoneal.
Observasi dilakukan dengan melihat jumlah writhing (geliat) yang timbul langsung
setelah pemberian asam asetat, selama 30 menit dengan selang waktu 5 menit.
Hasil percobaan menunjukkan bahwa infus lempuyang pahit dosis 300 mg/10 g
bobot badan secara statistik mempunyai efek analgesik yang tak berbeda dengan
asetosal.
PENDAHULUAN
Analgesik adalah obat yang digunakan untuk mengurangi
atau menghilangkan rasa sakit/nyeri tanpa menghilangkan ke-
sadaran. Obat-obat analgesik ringan modern murah dan mudah
didapatkan, namun demikian pengobatan secara tradisional
menggunakan tanaman obat juga dirasakan meningkat; dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, obat tradisio-
nal juga mengalami perkembangan dalam bentuk formulasi
sediaan misalnya serbuk, pil, kapsul dan lain-lain.
Dari data empiris diketahui banyak tanaman obat yang di-
gunakan sebagai pengobatan analgesik, salah satu di antaranya
adalah rimpang lempuyang pahit (Zingiber americana) yang
secara awam digunakan untuk pengobatan sakit kepala
(1,2)
.
Keamanan, kebenaran penggunaan dan khasiat tanaman
tersebut harus didukung data ilmiah. Sebagai langkah pertama
dilakukan uji analgetik menggunakan mencit sebagai hewan
coba dengan cara Witkin et al.
(3)
Sebagai induksi rasa sakit/
nyeri menggunakan asam asetat; nyeri ditandai dengan timbul-
nya writhing (geliat), yaitu abdomen menyentuh dasar tempat
berpijak dan kedua pasang kaki ditarik ke belakang. Sebagai
pembanding digunakan asetosal dan akuades untuk kontrol.
Efek analgetik bahan yang diuji dapat dilihat dengan adanya
penekanan jumlah geliat yang timbul selama 30 menit diban-
dingkan dengan asetosal.
BAHAN UJI
Bahan percobaan berupa rimpang lempuyang pahit di-
dapatkan dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah
Departemen Pertanian Bogor. Bahan dicuci bersih, diiris tipis,
dikeringkan, diserbuk dan diayak dengan ayakan mesh No. 48
dan dibuat infus sesuai dengan Farmakope Indonesia Edisi III
1979
(4)
. Infus ini yang digunakan sebagai bahan uji.
Makalah ini disampaikan pada Senminar Nasional Kelompok Kerja
Tumbuhan Obat Indonesia X, Jakarta 27-28 Maret 1996
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 39
HEWAN COBA
Mencit didapatkan dari Puslit Penyakit Menular Badan
Penelitian Pengembangan Kesehatan dengan kelamin jantan
berat lebih kurang 20 g strain Swiss derived. Sebelum diguna-
kan hewan diadaptasikan dalam laboratorium selama 1 minggu.
CARA PERCOBAAN
(3)
Hewan yang siap pakai dibagi dalam 5 kelompok @ 5
ekor.
Tiap kelompok diberi bahan sebagai berikut :
Kelompok I diberi infus lempuyang pahit dosis 30 mg/10 g
bb
Kelompok II diberi infus lempuyang pahit dosis 90 mg/10 g
bb
Kelompok III diberi infus lempuyang pahit dosis 300 mg/10 g
bb
Kelompok IV diberi asetosal 52 mg/kg bb
Kelompok V diberi akuades 0,5 ml/10 g bb.
Bahan uji diberikan secara oral 30 menit sebelum disunti-
kan asam asetat dengan menghitung jumlah geliat yang timbul
setiap 5 menit.
HASIL
Tabel 1. Rata-rata pengamatan jumlah geliat pada mencit putih yang
diberi infus lempuyang pahit dan asam asetat selama 30 merit.
Ulangan mencit ke
Kelompok bahan
10 g bb
1 2 3 4 5
Rata-
rata
A. L. pahit 30 mg
12,6
14
11
9,6
9,1
11,26
B. L. pahit 90 mg
8,10
10,5 11,17
10,5
10,5
8,46
C. L. pahit 300 mg
6,8
5,83
8,17
9,16
8,8
7,75
D. Asetosal 0,52 mg
5
3,1
2,5
2,67
3,5
3,35
E. Akuades 0,5 ml
17,6
20,50
26
20,33 20,68
20,05
Jumlah geliat selama 30 menit setiap kelompok berbeda,
asetosal merupakan penghambat rasa nyeri tertinggi dikatakan
mempunyai efek analgetik tertinggi dibanding kelompok bahan
uji lainnya.
Tabel 2. Uji perbedaan tiap kelompok perlakuan
Sumber
variasi
Rata-
rata
A g C D
E
A
11,26
- - - -
-
B
8,46
2,80
- - -
-
C 7,75
3,51 0,71 -
- -
D 3,35
7,91+ 5,10 4,40 - -
E
20,05 8,79++ 11,59++ 12,30++ 16,70++ -
A - Infus lempuyang pahit 30 mg/10 g bb
B - Infus lempuyang pahit 90 mg/10 g bb
C - Infus lempuyang pahit 300 mg/10 g bb
D - Asetosal 52 mg/kg bb
E - Akuades 1 ml/ekor .
Keterangan : LSD 5% 4,91
+ berbeda
1 %
++ berbeda sangat nyata
Pada Grafik 1 terlihat jumlah geliat pada kelompok aseto-
sal terkecil yang berarti adanya efek analgesik terbesar, sedang
ketiga bahan uji efek analgetiknya lebih kecil dibanding
asetosal.
Grafik 1. Rata-rata pengamatan jumlah geliat pada mencit putih yang diberi
infus lempuyang pahit dan asam asetat selama 30 menit.
Menit
............ 30
mg
________ 90
mg
300
mg
_ _ _ _ _ _
Asetosal
+.+.+.+.+ Akuades
Keterangan :
Dosis I - Infus lempuyang pahit 30 mg/10 g bb
Dosis II - Infus lempuyang pahit 90 mg/10 g bb
Dosis Ill - Infus lempuyang pahit 300 mg/10 g bb
Dosis IV - Acetosal 0,52 mg/10 g bb
Dosis V - Akuades 1 ml/ekor
Tabel 3. Prosentase proteksi bahan uji terhadap kontrol
(5)
Kelompok bahan
Rata-rata
Proteksi
(%)
A. L. pahit 30 mg/10 g bb
11,26
45,83
B. L. pahit 90 mg/10 g bb
8,46
59,33
C. L. pahit 300 mg/10 g bb
7,75
62,74
D. Asetosal 52 mg/kg bb
3,35
83,89
Digunakan rumus :
rata-rata uji
100 (
X 100)
rata-rata
kontrol
Prosentase proteksi dibandingkan dengan kontrol, terlihat
makin besar dosis bahan uji yang diberikan makin besar pro-
teksi bahan uji terhadap asam asetat walaupun tidak sebesar
pada kelompok asetosal.
Tabel 4. Prosentase efektifitas analgesik
(5)
Kelompok bahan
Proteksi
bahan uji
(%)
Proteksi
asetosal
(%)
Efektifitas
analgesik
(%)
A. L. pahit 30 mg/10 g bb
45,86
83,89
53,39
B. L. pahit 90 mg/10 g bb
59,33
83,89
70,72
C. L. palut 300 mg110 g bb
62,74
83,89
74,79
Digunakan rumus :
Rata-rata proteksi bahan uji
X
100
Rata-rata
proteksi
asetosal
Prosentase efektifitas analgesik dibandingkan dengan ase-
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000
40
Pada Tabel 4 prosentase efektifitas analgesik ketiga dosis
lempuyang pahit terlihat makin tinggi sesuai dosis yang
diberikan.
tosal, karena asetosal dianggap paling efektif dalam menang-
gulangi rasa nyeri. Terlihat selama 30 menit makin besar, dosis
yang diberikan makin tinggi pula efektifitas analgesiknya.
Dari hasil percobaan terlihat adanya efek analgesik bahan
uji, yang data empiris sebagai obat sakit kepala. Walaupun
derajat rasa sakit dan respon binatang tidak sama dengan manu-
sia akan tetapi pengamatan respon pada mencit dapat meng-
arahkan adanya efektifitas analgesik bahan pada manusia.
PEMBAHASAN
Uji analgesik menggunakan mencit jantan untuk meng-
hindari faktor biologis yang berpengaruh pada percobaan.
Dosis percobaan digunakan berdasar pada LD50 mencit yaitu
44,89 mg/10 g bobot badan i.p mencit. Apabila harga tersebut
diekstrapolasikan menurut Paget den Barnes, dosis terbesar
pada percobaan yaitu 300 mg/10 g bobot badan masih ter-
geletak dalam batasan harga LD50
(6)
.
KESIMPULAN
Pada percobaan, rimpang lempuyang pahit pada dosis 30
mg dan 90 mg/10 g bb mempunyai efek analgesik, walaupun
tidak sekuat asetosal 52 mg/kg bobot badan. Sedang lempu-
yang pahit dosis 300 mg/10 g bobot badan mempunyai efek
analgesik yang tak berbeda dengan asetosal.
Metode pengujian di sini mempergunakan pembanding
asetosal, yang merupakan prototipe obat non narkotik
(7)
; kerja
obat analgetik dan narkotik yang diketahui adalah dengan jalan
mempengaruhi prostaglandin yang berfungsi merespon nyeri,
sehingga terjadi penurunan jumlah infus nyeri pada saraf pusat.
Terlihat adanya hubungan dosis dan efek; prosentase pro-
teksi analgesik dan prosentase efektifitas analgesik lempuyang
pahit meningkat sesuai dengan kenaikan dosis. Jadi adanya
sifat analgesik dapat dikatakan karena pemberian bahan lempu-
yang pahit.
Pada Grafik 1 terlihat pada pengamatan 5 menit pertama
mencit sudah mengalami geliat akibat pemberian asam asetat;
yang berbeda untuk tiap kelompok percobaan; keadaan ini
menunjukkan adanya perbedaan efek analgetik dari bahan yang
diuji.
Disarankan untuk meneliti ke arah fitofarmaka, mencari
zat aktif terkandung untuk melihat efek analgetiknya.
Pada Tabel 1 teriihat kelompok asetosal mempunyai harga
rata-rata terendah, yang berarti adanya kemampuan menekan
jumlah geliat tertinggi dan mempunyai efek analgetik tertinggi.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ditujukan kepada Kapuslitbang Farmasi, Balitro dan seluruh Staf
Kelompok Program Penelitian Obat Tradisional yang telah membantu
untuk terlaksananya percobaan ini.
Secara statistik (Tabel 2) infus lempuyang pahit dosis 30
mg dan 90 mg/10 g bb dibanding asetosal terlihat ada beda
nyata pada p = 5%; kedua dosis lempuyang pahit tersebut
mempunyai efek analgesik walaupun tidak sekuat asetosal;
sedang lempuyang pahit dosis 300 mg/10 g bb mempunyai efek
analgesik tak berbeda dengan asetosal pada p = 1%, yang
berarti mempunyai potensi analgesik sama dengan asetosal.
KEPUSTAKAAN
1.
Perry LM. Medicinal Plant of East South East Asia, 1990.
2. Sudarman M, Harsono R. Cabe Puyang Warisan Nenek Moyang. PT
Karya Werda 1975.
Dari informasi ilmiah, rimpang lempuyang pahit me-
ngandung minyak atsiri, sterol, asam lemak, tanin, glikosida
(poliosa), saponin, senyawa pereduksi
(8)
. Salah satu sifat mi-
nyak arsiri antara lain sebagai analgesik
(9)
, seperti terlihat juga
pada minyak atsiri rimpang Kaempheria galanga L.
(10)
Ke-
mungkinan adanya efek analgesik dari lempuyang pahit di-
sebabkan karena adanya kandungan minyak atsiri, walaupun
tidak tertutup kemungkinan kandungan lainnya.
3.
Turner RA. Screening Methods in Pharmacology. New York : Academic
Press, 1965.
4.
Dirjen POM. Farmakope Indonesia Edisi III, 1979.
5. Lucia E. Wuryaningsih. Uji analgesik ekstrak etanol kering rimpang
kencur (Kaempheria gadanga L.). FF Universitas Surabaya, 1994.
6.
Pudjiastuti dkk. Toksisitas akut (LD50) dan pengaruh beberapa tanaman
obat terhadap mencit putih. Cermin Dunia Kedokt. 1988 ; 53 : 44-7.
7.
Gan Sulistia dkk. Farmakologi den Terapi Indonesia, FKUI, 1979.
8.
Hendra Rahmawati dkk. Profil lempuyang gajah (Zingiber zerumbet S.J.),
lempuyang pahit (Zingiber americana BL) dan lempuyang wangi
(Zingiber aromaticum VAHL). FF Universitas Pancasila. Seminar
Nasional Kelompok Kerja Tumbuhan Obat X Jakarta 27-28 Maret 1996.
Pada Tabel 3 dilihat proteksi bahan terhadap rasa nyeri
akibat asam asetat. Asetosal mempunyai prosentase proteksi
tertinggi, sedang pada tiga dosis lempuyang pahit yang diberi-
kan sesuai dengan kenaikan dosis, prosentase proteksi rasa
nyeri dosis 300 mg lempuyang pahit masih lebih kecil dari
asetosal.
9.
Trease GE, Evens WC. Pharmacognosy, 11
th
Ed. 1978.
10. Achmad A. Haryadi. Penelitian khasiat minyak atsiri Kaempheria
galanga L sebagai analgesik pada mencit. FF Universitas Airlanga 1989.
Many see more with one eye than others with two
Cermin Dunia Kedokteran No. 129, 2000 41