background image
Tinjauan Mikrobiologi
Makanan, Minuman dan Air
pada Beberapa Rumah Sakit di Jakarta
Pudjarwoto Triatmodjo
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Untuk mengetahui besar penyebaran mikroba penyebab infeksi nosokomial secara
kualitatif dan kuantitatif pada makanan, minuman dan air di lingkungan rumah sakit,
dalam makalah ini disajikan hasil pemeriksaan secara mikrobiologis terhadap sampel-
sampel makanan, minuman dan air untuk para pasien pada beberapa rumah sakit di
Jakarta. Cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan metode yang telah dibakukan oleh
WHO.
Hasil pemeriksaan menunjukkan, bakteri gram negatif E. coli merupakan pencemar
yang dominan pada beberpa jenis makanan, air minum untuk pasien (air putih & air teh)
serta air bak mandi pasien di bangsal-bangsal perawatan di rumah sakit. Beberapa jenis
bakteri lain yang ditemukan adalah Staphylococcus, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella
dan Jamur. Sebesar 37,5% air minum (air putih & air teh) yang disajikan untuk para
pasien tidak memenuhi syarat sebagai air minum berdasarkan Permenkes No.
416/MENKES/ PER/IX/1990.
PENDAHULUAN
Masalah infeksi nosokomial saat ini makin banyak mendapat
perhatian para ahli, karena di samping dapat meningkatkan
morbilitas maupun mortalitas, juga menambah biaya perawatan
dan obat-obatan, waktu dan tenaga yang pada akhirnya akan
membebani pemerintah/rumah sakit, personil rumah sakit
maupun penderita dan keluarganya. Hal ini jelas bertentangan
dengan kebijaksanaan pembangunan bidang kesehatan yang
justru menekankan peningkatan efisiensi pelayanan
kesehatan('). Di Indonesia data mengenai kejadian, angka
kesakitan dan angka kematian infeksi nosokomial boleh dikata
masih langka; tetapi diperkirakan cukup tinggi mengingat
keadaan rumah sakit dan kesehatan umum relatif belum begitu
baik. Di Amerika dengan tingkat kesehatan masyarakat dan
rumah sakit sudah memadai, kejadian infeksi nosokomial tahun
1977 dilaporkan sebesar antara 5-10%
(2)
.
Dalam upaya menanggulangi kejadian infeksi nosokomial,
tinjauan epidemiologi terhadap masalah pencemaran dan infeksi
nosokomial perlu dilakukan karena pada dasarnya kejadian
infeksi nosokomial melibatkan unsur manusia, lingkungan dan
miroba yang satu sama lain saling terkait. Dalam hubungan ini
kgiatan. survai epidemiologi yang diarahkan untuk survai
infeksi nosbkomial dapat meliputi : pengenalan konsep survai
epidemiologi di rumah skit untuk pencegahan dan penanggu-
langan infeksi nosokomial, pengembangan teknologi peng-
amatan infeksi nosokomial, pengumpulan data rutin untuk
memperoleh gambaran tentang berbagai aspek epidemiologi
infeksi nosokomial, penelitian KLB (Kejadian Luar Biasa) in-
feksi nosokomial yang terjadi di beberapa rumah sakit serta
melaksanakan berbagai survai dan studi dalam rangka pengum-
pulan data dasar infeksi nosokomial
(3)
. Namun karena ke-
terbatasan dana dan sarana, kebijaksanaan yang berkaitan
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 37
background image
dengan aspek epidemiologi ini dari segi fisik belum dapatdikem-
bangkan secara paripurna. Walaupun demikian minat untuk
menangani dan menanggulangi infeksi nosokomial sebagai salah
satu masalah dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit berkem-
bang cukup pesat, antara lain terbukti dengan diselenggarakan-
nya seminar-seminar infeksi nosokomial di Jakarta, 1986, di
Aceh 1987 dan di Surabaya 1988, serta adanya penelitian-
penelitian yang berkaitan dengan infeksi nosokomial.
Salah satu cara transmisi infeksi nosokomial adalah dengan
cara fekal-oral, yaitu melalui makanan, minuman dan air yang
disajikan oleh rumah sakit untuk para pasien maupun personil
rumah sakit
<4
). Untuk mendapatkan gambaran mengenai
sumbersumber penularan dan rute penyebaran infeksi
nosokomial sebagai salah satu upaya pengumpulan data dalam
pemecahan masalah infeksi nosokomial, dalam makalah ini
disajikan data hasil penelitian mikrobiologis terhadap makanan,
minuman dan air yang dikonsumsi oleh para pasien di rumah
sakit. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam
upaya penanggulangan infeksi nosokomial.
38
BAHAN DAN CARA
1.
Jenis sampel yang diteliti
Bahan-bahan yang diperiksa dalam penelitian ini adalah air
minum untuk para pasien maupun petugas rumah sakit yaitu air
putih matang dan air teh, air mandi pasien yang ada di bangsal-
bangsal perawatan, air untuk keperluan masak di dapur umum,
air cud alat-alat serta air cuci tangan perawat. Sedangkan jenis
makanan dan minuman yang diperiksa adalah nasi/bubur,
sayur/ lauk, daging/telur, roti dan susu dalam bentuk minuman.
2.
Cara pengambilan sampel
Pengambilan sampel dilakukan secara aseptis. Untuk sampel
air diambil sebanyak 200 ml dari tiap-tiap jenis air yang diteliti
dan ditempatkan pada botol steril. Untuk sampel makanan di-
ambil kira-kira sebanyak 10 gram untuk tiap jenis makanan
yang diteliti dan dimasukkan ke dalam wadah yang steril pula.
Transportasi sampel dari rumah sakit ke laboratorium di-
lakukan dengan menempatkan sampel-sampel tersebut ke
dalam box es dengan suhu sekitar 4° C.
3.
Idenfikasi mikrobiologis
Identifikasi mikrobiologis dilakukan dengan menggunakan
metode yang telah dibakukan oleh WHO (1987
(5)
. Dalam iden-
tifikasi mikrobiologis ini terutama untuk sampel makanan dan
minuman pertama-tama dilakukan kultur terhadap masing-
masing sampel dengan media spesifik. Dari tahap kulturisasi
kemudian dilakukan pemeriksaan lanjutan yang meliputi pe-
meriksaan mikroskopis setelah terlebih dahulu dilakukan
penawaran Gram dan pemeriksaan yang lain seperti uji biokimia
dan uji serologi untuk identifikasi jenis mikroba tertentu.
Identifilcasi mikrobiologi ini ditujukan untuk deteksi beberapa
jenis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi nosokomial
seperti : Staphylococcus sp, Pseudomonas, E. coil Salmonella,
Shigella, Streptococcusm Klebsiella, Proteus dan kuman-kuman
gram negatip maupun gram positip lainnya.
Identifikasi mikrobiologi terhadap sampel air dilakukan
dengan metode MPN (Most Probable Number) per 100 ml air.
Metode ini ditujukan untuk mendeteksi adanya pencemaran air
oleh tinja manusia. Sebagai indikator terhadap pencemaran
tinja manusia adalah adanya bekteri E. coli/coliform dalam
sampel air yang diperiksa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kejadian infeksi nosokomial yang berkaitan dengan penu-
laran fekal-oral adalah infeksi nosokomial saluran cerna (INSC).
Namun data infeksi nosokomial saluran cerna di Indonesia
belum jelas diketahui karena penelitian mengenai hal ini masih
kurang sekali(6). Angka kejadian infeksi nosokomial saluran
cerna sangat dipengaruhi oleh keadaan higiene makanan, mi-
numan dan air di rumah sakit yang disajikan untuk konsumsi
para pasien maupun petugas rumah sakit, karena bahan-bahan
ini merupakan media yang berperan pending untuk transmisi
kuman penyebab infeksi nosokomial. Data hasil pemeriksaan
mikrobiologis terhadap makanan, minuman dan air yang berasal
dari beberapa rumah sakit di Jakarta tercantum dalam tabel 1
dan tabel 2.
t
Tabel 1. Besarnya pencemaran bakteri E. coil pada beberapa jenis
sampel air yang diambil dari 2 rumah sakit di Jakarta
berdasarkan
pada
pemeriksaan
MPN
E. coli/100 (N=79).
MPN E. coli/l00 ml
RS. X
RS. Y
Jenis air
n
Hasil (+)
MPN
% n
Hasil (+)
MPN
%
Rata-rata
(%)
Airp+t
Airmp
Air and
Air ct
Air ct+d
12
12
6
7
1
5
6
2
3
0
41,6
50,0
33,3
42,8
0,0
12
12
6
8
3
4
5
1
2
2
33,3
41,6
16,6
25,0
66,6
37,5
45,8
24,9
33,9
33,3
Jumlah 38 16 42,1
41 14 34,1 37,9
Keterangan : RS. X dan RS. Y = Kode rumah sakit yang diperiksa
N = Total sampel diperiksa
MPN =
Most ProbableNumber =JwnlahPerkiraan
terdekat
n =
Jumlah
tiap
jenis
air
per
rumah
sakit
Air p+t = Air putih + air teh
Air
nip =
Air
mandi
pasien
Air
md =
Air
masak
di
dapur
umum
Air
ct =
Air
cuci
tangan
Air
ct+d
=
Air
cuci
tangan
perawat
+
desinfektan
Dalam tabel 1 terlihat bahwa 37,5% air minum (air putih dan
air teh) yang disajikan oleh rumah sakit untuk keperluan pasien
maupun untuk petugas rumah sakit mengandung bakteri E. coil.
Ini berarti air minum tersebut telah tercemar oleh tinja manusia,
yang berarti pula bahwa air minum tersebut tidak memenuhi
standar kualitas air minum berdasarkan Permenkes No. 416/
MENKES/PER/IX/1990. Dalam Permenkes tersebut di atas diper-
syarakatkan bahwa parameter mikrobiologis untuk air minum
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
background image
adalah MPN E. coli/100 ml sampel harus nol (negatip)
(7)
.
Selain itu pencemaran E. coli pada air bak mandi pasien di
bangsal-bangsal perawatan ternyata cukup tinggi. Dan 24 sam-
pel yang diperiksa, 11 sampel (45,8%) tercemar oleh bakteri
tersebut. Di sini tingkat pencemaran E. coli pada air bak mandi
tersebut diketahui melebihi ambang batas pencemaran yang
diperkenankan sebagaimana dipersyaratkan dalam Permenkes
No. 416/Menkes/Per/IX/1990. Dalam Permenkes disebutkan
bahwa persyaratan mikrobiologis untuk air bersih adalah MPN
Koliform/100 ml untuk bukan air perpipaan = 50, sedangkan
untuk air perpipaan = 10.
Adanya unsur kotoran manusia (tinja) dalam air minum akan
membahayakan kesehatan, apabila di dalam tinja tersebut men-
gandung mikroorganisme patogen yang sering terdapat di dalam
feses manusia yaitu virus, bakteri, parasit dan protozoa. Penya-
kit-penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme tersebut
merupakan penyakit yang bersifat water-borne diseases yaitu
penyakit-penyakit yang transmisinya melalui anal-oral yang
berhubungan dengan pencemaran air oleh tinja manusia.
Bakteri-bakteri patogen yang terdapat di dalam feses manusia
ada bakteri-bakteri yang termasuk dalam familia Enterobacteri-
aceae. Diantara bakteri patogen tersebut yang terpenting adalah
Salmonella, Shigella, Pseudomonas, Vibrio cholera, Klebsiella,
Campylobacter, E. coli patogen dan lain-lain. Kelompok bakteri
ini dapat menyebabkan penyakit typhus, disentri, cholera/
muntaber, dan lain-lain. Bakteri-bakteri patogen ini masuk ke
dalam tubuh manusia melalui air yang diminum yang tercemar
oleh bakteri-bakteri tersebut; tetapi dapat pula masuk melalui
paru-paru setelah inhalasi dan melalui mata setelah menggosok
mata dengan tangan yang tercemar oleh tinja. Tahap carrier
(pembawa kuman patogen, tetapi dia sendiri tidak sakit) dapat
pula terjadi pada penyakit-penyakit yang disebabkan oleh
entero-bakteri patogen tersebut. Penderita carrier berperan
sangat penting dalam transmisi kuman penyebab infeksi
nosokomial.
Dalam tabel 1 dijumpai adanya air cuci tangan perawat yang
telah diberi disinfektan (Saulon) tetapi hasil pemeriksaan MPN
E. coli/100 ml sampel menunjukkan hasil positip; yaitu dari 4
sampel yang diperiksa terdapat 2 sampel yang positip. Ada
beberapa kemungkinan yang penting yang menyebabkan hal ini
bisa terjadi; kemungkinan pertama adalah daya bunuh disin-
fektan yang dipakai kurang efektif, kemungkinan kedua dosis
pemberian disinfektan kedalam waskom terlalu kecil sehingga
tidak bisa mematikan bakteri, serta adanya kemungkinan-
kemungkinan lain.
Peraturan disinfeksi di rumah sakit merupakan dasar program
pencegahan infeksi, tidak terkecuali pencegahan infeksi no-
sokomial. Untuk menghindari kejadian seperti tersebut di atas,
maka kiranya perlu ditekankan bahwa cara-cara membersihkan,
disinfeksi dan sterilisasi yang standar, prosedur antiseptik yang
sama adalah berguna tidak hanya demi efisiensi di rumah sakit,
tetapi juga merupakan cara yang rasional dalam mencegah
infeksi. Oleh karena itu dalam memilih antiseptik yang baik
ada beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan yaitu masalah
efektifitas, keamanan, penggunaan yang mudah, ekonomis dan
dapat diterima oleh penderita maupun pemakai. Hal ini pada
gilirannya akan dapat meiicegah kejadian infeksi nosokomial di
rumah sakit.
Tabel 2 Distribusi bakteri penyebab infeksi nosokomial pada berbagai
jenis makanan dan minuman yang disajikan oleh rumah sakit
pada
para
pasien.
RS. X (N=55)
RS. Y (N=54)
Mikro
organisme
Nasi+
1-p
(n=33)
Roti
(n=12)
Susu
(n=10)
Nasi+
1-p
(n=33)
Roti
(n=12)
Susu
(n=9)
Jumlah
V. cholera
Salmonella
Shigella
E. cols
Clostridium
Staphylo-
coccus
Pseudomonas
Streptococcus
Proteus
Klebsiella
Jamur
(Aspergillus)
­
­
­
4
­
2
­
­
2
1
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
4
­
­
­
1
­
1
­
­
­
­
­
­
­
­
1
­
1
1
-
1
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
­
3
­
­
­
­
­
1
1
­
­
­
­
0
0
0
6
0
5
1
0
3
0
7
Jumlah 9
4
­
4
3
1
23
% 27,2
33,3
20,0
12,1
25,0
11,1
Keterangan : N = Total sampel diperiksa tiap rumah sakit
n =
Jumlah
sampel
diperiksa
tiap
jenis
makanan
RS. X dan RS. Y = Kode rwnah sakit yang diperiksa
Nasi+1-p
=
Nasi
+
lauk-pauk
Hasil pemeriksaan mikrobiologis terhadap makanan dan
minuman (tabel 2) menunjukkan bahwa sebesar 21,1% makanan
dan minuman yang disajikan oleh rumah sakit untuk konsumsi
para pasien maupun untuk personil rumah sakit tercemar oleh
beberana ienis bakteri yang dapat menyebabkan infeksi no-
sokomial. Beberapa jenis bakteri penyebab infeksi nosokomial
yang terdeteksi mencemari makanan dan minuman di rumah
sakit adalah E. coli, Pseudomonas, Staphylococcus, Proteus,
Klebsiella dan beberapa spesies Jamur (gambar 1). Dalam
penelitian ini E. coli merupakan jenis mikroba yang paling
banyak ditemukan dalam beberapa jenis makanan. Bakteri E.
coli, Pseudomonas dan Proteus adalah golongan Enterobacteri-
aceae yang bersifat gram-negatip. Dalam kehidupan sehati-hari
E. coli sangat berkaitan erat dengan tingkat hygiene, pem-
buangan tinja manusia, kebersihan perorangan dan sebagainya.
Dengan ditemukannya bakteri E. coli dalam makanan maupun
minuman adalah merupakan petunjuk bahwa makanan tersebut
tercemar oleh kotoran manusia. Bila di dalam kotoran manusia
yang mencemari makanan tersebut mengandung bakteri
patogen maka hal ini akan membahayakan kesehatan dan dapat
berakibat terjadinya infeksi nosokomial. Tingginya angka
pencemaran E. coli pada makanan dan minuman di rumah sakit
menggambarkan taraf hygiene di rumah sakit yang kurang baik
dan hal ini sangat berkaitan erat dengan kondisi lingkungan
fisik maupun faktor manusianya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 39
background image
Angka infeksi nosokomial saluran cerna di Indonesia di-
laporkan oleh para ahli sebesar 1,6-80,8%
(6)
. Sampai seberapa
besar peranan faktor makanan, minuman dan air di rumah sakit
yang tidak/kurang hygienes dapat menimbulkan kejadian
infeksi nosokomial ?
Gambar 1 Jenis bakteri penyebab infeksi nosokomiai yang terdeteksi
sebagal
bakteri
pencemar pada beberapa jenis makanan dan
minuman yang disajikan untuk para pasien di 2 rumah sakit
di Jakarta.
Keterangan :
A = Klebsiella = 0,9%
B = Proteus = 2,7%
C = Pseudomonas = 0,9%
D = E. coli = 5,5%
E = Staphylococcus = 4,5%
Hal ini masih memerlukan penelitian-penelitian yang lebih
mendalam di lingkungan perawatan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Beberapa kesimpulan yang dapat diambil dari hasil
penelitian ini antara lain adalah :
­
Bakteri gram negatip E. coli merupakan salah satu kuman
penyebab infeksi nosokomial yang dominan sebagai bakteri
pencemar pada berbagai jenis makanan, air minum dan air
mandi pasien di beberapa rumah sakit di Jakarta.
­
Beberapa jenis mikroba lain yang ditemukan adalah
Staphylococcus, Pseudomonas, Proteus, Klebsiella dan jamur
Aspergillus.
--
Besar kejadian infeksi nosokomial yang transmisinya me-
lalui makanan, minuman dan air merupakan hal yang
memerlukan peneltian lebih lanjut.
KEPUSTAKAAN
1.
Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima Bidang Kesehatan, 1989/1990
­ 1993/1994. Dep Kes RI 1989.
2.
Usman Chatib Warsa. Aspek Mikrobiologi Infeksi Nosokomial. Maj In-
fonnasi Kesehatan No. 19, Januari 1987.
3.
Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkungan Pemukiman. Pentaloka Survvailans Epidemiologi Bagi Para
Kepala Dinar Kesehatan Dati II, Dep Kes RI 1990.
4.
Susilo Surachmad, Sutoto, Josodipuro K. Kumpulan Makalah Penataran
Isolasi Penderita Penyakit Menular. (Infeksi Nosokomial dan Pencegahan-
nya). Dep Kes RI, Jakarta 1984.
5.
WHO, CDD Program for Central Diarritoeal Diseases. Manual for Labora-
tory Investigation of Acute Enteric Infection, 1987.
6.
Janas, Sutoto, Punjabi HN. Infeksi Nosokomial Saluran Cema (INCS)
pada Penderita Anak di Rumah Sakit Khusus Peayakit Menular, Jakarta.
Medika (Sept) 1985; 11(a) : 851-8.
7.
Peraturan Menteri Kesehatan Rl No 416/Menkes/Per/DC/1990 Tentang
Syarat-Syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
40
Many people are like a wheelbarrow ­
they go no farther than they are pushed
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993