ANALISIS
Tanaman Obat
untuk Diabetes Mellitus
Lucie Widowati, B. Dzulkarnain, Sa'roni
Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi, Badan Penelitian dan Pen genthangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Sampai sekarang masih banyak obat tradisional yang di-
gunakan masyarakat. Dari Survai Kesehatan Rumah Tangga
1980, 1985 dan 1992
(1,2,3)
, penggunaan obat tradisional untuk
pengobatan sendiri tidak menurun. Kebijaksanaan Obat Na-
sional menyatakan bahwa penyediaan obat merupakan salah satu
unsur yang penting dalam upaya pembangunan di bidang kese-
hatan. Obat tradisional yang terbukti berkhasiat dikembangkan
dan digunakan dalam upaya kesehatan
(4)
.
Diabetes melitus adalah suatu penyakit gangguan meta-
bolisme karbohidrat yang ditandai dengan kadar glukosa darah
yang tinggi (hiperglikemi) dan adanya glukosa dalam urin
(glukosuria). Penyebab diabetes melitus adalah kegagalan
pankreas mensekresi insulin. Dalam jangka panjang, penyakit
ini dapat mengakibatkan risiko gangguan lebih lanjut pada retina
dan ginjal, kerusakan saraf perifer, dan mendorong terjadinya
penyakit ateroskierosis pada jantung, kaki dan otak
(5)
.
Selama ini pengobatan diabetes melitus biasanya dilakukan
dengan pemberian obat-obat Oral Anti Diabetik (OAD), atau
dengan suntikan insulin. Di samping itu banyak pula di antara
penderita yang berusaha mengendalikan kadan glukosa darahnya
dengan cara tradisional menggunakan bahan alam.
Berdasarkan terapinya, diabetes diklasifikasikan menjadi
dua golongan, yakni :
1) Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau IDDM
Pada jenis ini penderita tidak dapat memproduksi insulin
Diabetes tipe ini timbul bila pankreas kehilangan kemampuan-
nya untuk menghasilkan insulin
Ciri-ciri tipe penyakit jenis mm adalah tergantung pada
suntikan insulin untuk mencegah ketosis dan memelihara ke-
langsungan hidup karena penderita tersebut menderita insu-
linopenia, yaitu keadaan sangat kekurangan insulin. Tipe ini
90% dimulai pada usia muda.
2) Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus atau NIDDM
Pada tipe ini, pankreas masih berfungsi tetapi menunjukkan
defisiensi relatif, sehingga tubuh kehilangan kemampuan untuk
memanfaatkan insulin secara efektif.
Jenis diabetes ini dapat diperoleh dalam perjalanan hidup
seseorang. Penderita tidak selalu tergantung dan pemberian
insulin dan luar, hingga mereka cukup menerima obat lain yang
merangsang produksi insulin. Tipe ini tidak rnempunyai auto-
imun. Kebanyakan tipe ini dimulai pada usia setelah 40 tahun.
Ciri-ciri penyakit tipe ini: Tipe non obesitas, berat badan
penderita kurang dari 120% berat badan ideal, berlaku baik untuk
pengguna insulin atau tanpa insulin. Tipe obesitas dengan berat
badan lebih, berlaku baik untuk pengguna insulin atau tanpa
insulin. Kedua tipe ini termasuk sebagian besar diabetes yang
ditangani terutama oleh dokter.
Kadar glukosa darah yang tinggi dapat diatasi dengan peng-
aturan diet dan pemberian obat-obatan secara oral (hipoglikemia
oral).
Metoda Penentuan Kadar Glukosa Darah
Secara umum metoda penentuan glukosa darah dapat di-
tentukan dengan beberapa cara yaitu:
A) Metoda Kondensasi Gugus Amin
Prinsip: Aldosa dikondensasi dengan orto toluidin dalam
suasana asam dan menghasil larutan berwarna hijau setelah
dipanaskan. Kadar glukosa dan dapat ditentukan sesuai dengan
intensitas warna yang terjadi, diukur secara spektrofotometri.
B) Metoda Enzimatik
Glukosa dapat ditentukan secara enzimatik, rnisalnya de-
ngan penambahan enzim glukosa oksidase (GOD). Dengan ada-
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 53
nya oksigen atau udara, glukosa dioksidasi oleh enzim menjadi
asam glukuronat disertai pembentukan H
2
O
2
. Dengan adanya
enzim peroksidase (POD), H
2
O
2
akan membebaskan O
2
yang
mengoksidasi akseptor kromogen yang sesuai serta memberikan
warna yang sesuai pula. Kadar glukosa darah ditentukan ber-
dasarkan intensitas warna yang terjadi, diukur secara spektro-
fotometri.
C) Metoda Reduksi
Prinsip: Kadar glukosa darah ditentukan secara reduksi
dengan menggunakan suatu oksidan ferisianida yang direduksi
menjadi ferosianida oleh glukosa dalam suasana basa dengan
pemanasan. Kemudian kelebihan garam feri dititrasi secara
iodometri.
D) Metoda Pemisahan Glukosa
Glukosa dipisahkan dalam keadaan panas dengan antron
atau timol dalam suasana asam sulfat pekat. Glukosajuga dapat
dipisahkan secara kromatografi, tetapi pemisahan glukosa ini
jarang dilakukan.
Pengobatan penyakit diabetes biasanya tergantung dari
kegawatan penyakit. Pengobatan secara individual biasanya
dilakukan dengan diet saja atau dengan gabungan antara diet
dengan antidiabetik oral dan adakalanyajuga dengan gabungan
antara diet dengan insulin.
Berbagai jenis obat antidiabetik oral banyak ditemukan di
apotik dan biasanya tergolong obat yang mahal dan harus terus
menerus digunakan, hingga bagi yang tidak mampu sulit mem-
perolehnya. Di samping itu di daerah yang tidak mempunyai
apotik, obat untuk penyakit ini sulit ditemukan. Untuk itu perlu
dicarikan cara alternatif. Salah satunya adalah menggunakan
obat yang ada di sekitarnya yaitu dan tanaman obat. Berbagai
jamu-jamuan telah dipromosikan sebagai antidiabetes, dan kha-
siatnya tersebar dari mulut ke mulut, dengan bukti manfaatnya.
Untuk lebih memberikan dasar bagi bukti manfaatnya, di-
pandang sangat perlu untuk melakukan penelitian, agar dapat
dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Mekanisme kerjanya
mungkin tidak diketahui secara pasti, namun dapat diperkirakan
bahwa efeknya dalam menurunkan kadar gula darah mungkin
sama seperti obat-obat hipoglikemia oral.
PENELITIAN TERHADAP PENURUNAN KADAR
GLUKOSA DARAH
Penggunaan tanaman sebagai bahan obat tradisional me-
merlukan penelitian ilmiah untuk mengetahui kebenaran kha-
siatnya. Dengan didapatnya data yang meyakinkan secara ilmiah,
maka penggunaan tanaman tersebut sebagai obat dapat dijamin
kebenarannya.
Penelitian pengaruh tanaman terhadap kadar gula darah
dapat dilakukan dengan mengukur kadar gula darah hewan coba
mencit, tikus atau kelinci. Hewan coba dapat dalam keadaan
kadar gula darah normal, atau kadar gula darah tinggi. Hewan
diabet dilakukan dengan cara merusak pankreasnya dengan
sengaja menggunakan zat kimia, di antaranya aloksan. Penguji-
an dapat juga dilakukan dengan memberi beban glukosa untuk
melihat pengaruh terhadap toleransi glukosa, dengan cara mem-
berikan glukosa sebelum percobaan.
Sediaan tanaman obat yang diberikan dapat terdiri dari
bahan tunggal atau campuran bahan. Bahan dapat terdiri dari
berbagai bagian dan tanaman misalnya daun, kulit kayu, kayu,
akar,buah atau bagian dari buah atau herba. Bentuk sediaan dapat
berupa seduhan infus ekstrak atau rebusan dan bahan segar.
Sebagai dasar penelitian tanaman terhadap penurunan kadar
gula darah, biasanya atas pemakaian empiris, yaitu pernakaian
yang dilakukan turun temurun oleh nenek moyang kita.
Dari beberapa sumber informasi mengenai penggunaan ta-
naman obat, dapat dibuat suatu daftar tanaman obat tunggal yang
digunakan secara empirik untuk menurunkan kadar gula darah
(Tabel 1)
(6,7,8)
.
Tabel 1. Daftar tanaman yang digunakan secara emprik untuk diabetes
No.
Nama Latin
Nama Daerah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
Aloe vera L.
Allium cepa L.
Alstonia scholaris R. Br.
Andrographis paniculata Nees.
Averhoa bilimbi L.
Blumea balsamifera D. C.
Catharanthus roseus (L.) G. Don
Ceiba pentandra Gatrn.
1pomoea aquatica Forst.
/pomoea batatas Poir.
Lagerstroemia speciosa Pers.
Leucaena leucocephala de Wit.
Merremia mammosa (Lour) Hall,f
Morinda citrifolia L.
Ocimum sanctum L.
Orthosiphon aristatus (BL) Miq.
Panax ginseng C.A. Meyer
Parkia speciosa Hort.
Piper cubeba L.
Pisum sativum L.
Psidium guajava L.
Solanum indicum L.
Strobilanthus crispa Bl.
Swietenia macrophylla King.
Syzygium cumini (L.) Druce
Vinca rosea L.
lidah buaya
bawang merah
pule
sambiloto
belimbing wuluh '
sembung
tapak dara
randu
kangkung
ubi jalar
bungur
petai cina
bidara upas
mengkudu
lampas
kumis kucing
ginseng
petai
kemukus
kacang polong
jambu biji
terung ngor
keji beling
mahoni
duwet
tapak data
Contoh cara penggunaan beberapa tanaman tersebut dapat
dilihat pada Tabel 2
(6)
.
Selain dari bahan tunggal, secara empiris pengobatan pe-
nyakit kencing manis juga dapat menggunakan bahan ramuan
dari beberapa tanaman obat. Bahan ramuan dan penggunaannya
dapat dilihat pada Tabel 3
(6)
.
Untuk dapat digunakan secara luas perlu ada bukti khasiat
tanaman obat dengan melakukan pengujian pada hewan per-
cobaan. Dari buku Penelitian Tanaman Obat di Beberapa Per-
guruan Tinggi di Indonesia jilid I sampai VIII
(9)
, diperoleh 46
jenis tanaman yang telah diuji khasiatnya terhadap penurunan
kadar glukosa darah, dapat menurunkan kadar gula darah pada
hewan percobaan (Tabel 4).
Ke46 jenis tanaman tersebut, dapat dibagi menjadi dua jenis
penggunaan, yaitu yang memang digunakan secara empiris dan
yang tidak digunakan secára empiris. Daftar tanaman yang di-
gunakan secara empins dan jumlah penelitian yang dilakukan
serta sumber pustakanya dapat dilihat pada Tabel 5. Selain itu
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
54
Tabel 2. Daftar tanaman tunggal yang secara empirik digunakan untuk
diabetes
dan
cara
penggunaannya
No. Nama
tanaman
Bagian
digunakan
Jumlah
diolah
Cara olah
Dosis
1 Sarbiloto
daun segar
1/2 ggm rebus
3X sehari
2 Lidah buaya
daun segar
2 helai
rebus
3X sehari
3 Pule
kulit kayu
2 jr
rebus
3X sehari
4 Sembung
daun segar
20 lb
rebus
3X sehari
5 Jamblang
biji kering
I sdt
seduh
3X sehari
6 Petai cina
biji
1 sdt
seduh
3X sehari
7 Bidara upas
umbi
1/3 jr
parut +
20 ml air
3X sehari
8 Mengkudu
buah
masak 2
bh
diparut
disari
3X sehari
9 Daun lampas
daun segar
3/4 glm
rebus +
3X sehari
10 Terung ngor
buah
10 bh
dimakan/
untuk IX
3X sehari
11 Mahoni
biji kering
1/2 sdt
seduh
3X sehari
12 Tapak
dara
daun
batang
301b
6 bt
rebus +
glm
3X sehari
akar
15
bt tinggal
bunga
15
bt 3/4nya
Tabel 3. Ramuan berasal dari tanaman obat untuk kencing manis
No. Ramuan
Bagian
digunakan
Jumlah
diolah
Cara olah
Dosis
1 Sambiloto
daun
1/3
ggm direbus
3X
sehari
Kumis
kucing
Bratawali
daun
batang
1/3 ggm
3/4 jr
3 gl, tinggal
3/4nya
2 Meniran
daun
1/4
ggm direbus 3X
sehari
3 Sambiloto
Ketumpangan uler
Kumis kucing
Duwet
daun
daun
daun
biji
1/4 ggm
1/4 ggm
1/3 ggm
20 btr
3 gl, hingga
3/4nya
direbus
3X sehari
Pulai
Mengkudu
Temulawak
kulit batang
buah tua
rimpang
1 jr
1 bh
3/4 jr
5 gl, hingga
1/2nya
Jahe
rimpang 3/4
jr
4 Urat
daun
1/3 ggm direbus
3X sehari
Bratawali
batang
1/2 jr
3 gl, hingga
Kumis
kucing
Adas
Pulosari
daun
buah
kulit batang
1/4 ggm
3/4 sdt
3/4 jr
3/4nya
5 Bidara
upas
umbi
1/2
jr direbus 3X
sehari
Duwet
Pulai
biji
kulit batang
10 btr
3/4 jr
3 gl, hingga
3/4nya
6 Lidah
buaya
Meniran
Kumis kucing
Her
daun
daun
daun
daun
1/2 plh
1/4 ggm
1/4 ggm
1/4 ggm
direbus 3X
sehari
Meniran
Murbei
Kaki kuda
Sembung
Kumis kucing
Adas
Pulosari
daun
daun
daun
daun
daun
buah
kulit
1/4 ggm
1/5 ggm
1/4 ggm
1/4 ggm
1/5 ggm
3/4 sdt
3/4 jr
4 gl, hingga
3/4nya
7 Duwet
buah
2 jr
direbus
3X sehari
Pulai
Tapak dara
Sambiloto
kulit batang
daun
daun
2 jr
1/3 ggm
1/4 ggm
3 gl, hingga
3/4nya
Keterangan : ggm = genggam bh = buah btr = butir
jr = jari gl = gelas
lb
=
lembar bt
=
batang
pada Tabel 6 dapat dilihat beberapa tanaman yang tidak diguna-
kan secara empiris, akan tetapi telah dilakukan penelitian ilmiah-
nya, serta data jumlah penelitian dan daftar pustakanya. Karena
tidak semua judul penelitiannya mempunyai informasi yang
lengkap, maka tidak semua informasi dapat diterangkan.
Judul-judul penelitian mengenai tanaman obat yang di-
gunakan untuk menurunkan kadar gula darah dapat dilihat pada
Daftar 1.
PEMBAHASAN
Ternyata sudah banyak penelitian yang dilakukan untuk
obat diabetes dan tanaman. Dari tabel terlihat ada 46 jenis
tanaman yang sudah mendapat perhatian. Sebagian besar tana-
man empirik yang digunakan untuk obat diebetes, telah diuji
khasiatnya secara ilmiah. Umumnya pengujian dilakukan ter-
hadap hewan coba. Dari daftar tanaman yang digunakan secara
empirik untuk diabetes (26 tanaman), baru 16 tanaman yang
telah dit secara ilmiah. Selain itu, banyak tanaman yang
tidak diketahui khasiat antidiabetes secara empirik, tetapi di-
lakukan juga penelitian ilmiahnya karena perkembangan jaman.
Contohnya seperti terlihat pada Tabel 4.
Yang banyak mendapat perhatian adalah tanaman pare
(Momordica charantia L.) Penelitian yang dilakukan sudah
mencakup penelitian yang cukup luas, sampai ke uji klinik,
jumlahnya ada 14 penelitian. Dari ber-macam penelitian untuk
kadar gula darah, berbagai jenis sediaan sudah dicoba, yaitu
perasan, infus atau endapan air. Hewan percobaan yang diguna-
kan juga bervariasi yaitu terhadap tikus, mencit atau kelinci.
Umumnya hasil yang didapat menunjukkan adanya efek positif
menurunkan kadar gula darah, hanya bentuk endapan tidak
menunjukkan hasil yang positif. Pada uji klinik tidak menunjuk-
kan adanya pengaruh terhadap kadar gula darah
(10)
. Sementara
itu uji klinik untuk pare di India menunjukkan bukti yang nyata.
Hal ini mungkin terjadi karena di India varietas jenis pare yang
disebut kerala mungkin tidak sama dengan pare yang ada di
Indonesia. Di samping itu di Indonesia jenis pare pun ada be-
berapa, yaitu yang kecil dengan tonjolan-tonjolan yang jelas,
dan yang biasanya dimakan sebagai sayur yang tonjolannya
lebih rata. Mungkinjenis penyakit diabetes juga termasuk faktor
mempengaruhi. Seperti di atas telah diterangkan jenis penyakit
diabetes ada dua, yaitu karena pankreas tidak menghasilkan
insulin (IDDM) sejak kecil, dan diabetes yang diperoleh dalam
perjalanan hidupnya (NIDDM). Umur penderitapun dapat ikut
menentukan. Jadi berbagai faktor dapat mempengaruhi hasil
percobaan.
Di luar negeri, penelitian mengenai pare sudah lebih jauh.
Salah satunya ialah telah ditemukannya suatu hipoglikemik
yang dikenal sebagai `p-insulin', yaitu suatu polipeptida dari
buah dan biji Momordica charantia
(11)
.
Tanaman lain yang banyak mendapat perhatian ialah duwet serta
bratawali. Pada tanaman duwet, percobaan telah dilakukan
terhadap cortex, biji dan daunnya dengan berbagai hewan uji
pula. Semua percobaan yang dilakukan memberikan hasil yang
positif terutama untuk bijinya. Dari 3 penelitian untuk bijinya,
semua menunjukkan khasiat menurunkan kadar gula darah,
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 55
Tabel 4. Daftar tanaman telah diuji khasiat ilmiahnya untuk menurunkan kadar gula darah
No.
Nama Latin
Famili
Nama daerah
Bag. yang
Oigunakan.
Jumlah
penelitian
*1.
Allium cepa L.
Liliaceae
bawang umbi 1
2.
Allium porum L.
Liliaceae
bawang prei
umbi
2
3.
Allium sativum L.
Liliaceae
bawang putih
umbi
5
*4.
Alstonia scholaris (L.)
Apocynaceae
babakan pule
umbi
2
5.
Alstonia spatulata
Apocynaceae
basung kulit 2
6.
Anacardium occidentale L.
Anacardiaceae
jambu mete
daun
1
*7.
Andrographis paniculata Nees.
Acanthaceae
sambiloto daun
3
8.
Aneilema vaginatum R.Br.
Commelinaceae
?
?
1
9.
Apium graveolens L.
Umbelliferae
seledri herba I
*10.
Averrhoa bilimbi L.
Oxalidaceae
belimbing
buah 5
11.
Azadirachta indica A. Juss.
Meliaceae
mimba daun 3
*12.
Blumea balsamifera D. C
Asteraceae
sembung daun
1
13.
Borreria laevis Griseb.
Rubiaceae
?
herba 2
14.
Brucea javanica (L.) Merr.
Simaroubaceae
buah makasar
buah
1
15.
Cassia siamea Lamk.
Leguminosae
johar daun I
*16.
Catharanthus roseus G. Don.
Apocynaceae
tapak data
herba
5
17.
Clinacanthus nutans Nees.
Acanthaceae
dandang gula
daun
2
18.
Erigeron linifolus Willd.
Compositae
jentik.manis daun
1
19.
Eugenia polyantha Wight.
Myrtaceae
salam daun 3
20.
!ndigofera sumatrana Gaetrn.
Leguminosae
tarum ?
1
*21.
1pomoea batatas Poir.
Convolvulaceae
ubi jalar
umbi
1
22.
Kopsia arborea Bl.
?
?
biji 1
*23.
Lagerstroemia speciosa (L.) Lythraceae
bungur putih
daun
1
*24.
Leucaena leucephala de Witt.
Mimosaceae
petai cina
biji
5
25.
Melia dubia Cav.
Meliaceae
mindi
daun
1
*26.
Merremia mammosa Hall.
Convolvulaceae
bidara upas
umbi
2
27.
Mesona palustris BI.
Labiatae
cincau hitam
daun
2
28.
Momordica charantia L.
Cucurbitaceae
pare
buah,
14
*29.
Morinda citrifolia L.
Rubiaceae
mengkudu daun,
buah 3
*30.
Ocimum sanctum L
Labiatae
lampes
biji
1
31.
Orthosiphonstamineus Benth
Labiatae
kumis kucing
daun
1
*32.
Parkia speciosa Hassk.
Papilionaceae
petai kulit
biji
1
33.
Phaseolus vulgaris L.
Leguminosae
buncis
buah
3
34
Phyllanthus emblica L.
Euphorbiaceae
kemlaka batang 1
35.
Physalis minima L.
Solanaceae
ciplukan
daun, 2
36.
Phithecellobium lobatum Benth.
Legumnosae
jengkol
kulit
1
37.
Plantago major L.
Plantaginaceae
daun urat
daun
1
38.
Pteroearpus indicus Willd.
Legumonosae
angsana daun 1
*39.
Sericocalyx crispus L. Bremek
Acanthaceae
keji beling
daun
I
40.
Stevia rebaudiana Bertonii.
Compositae
stevia daun 2
41.
Strychnos ligustrina Bl.
Strychnaceae
bidara laut
kayu
I
42.
Swietenia macrophylla King.
Meliaceae
mahoni biji
1
43.
Symphytum officinale L.
Boraginaceae
komfrey daun 1
*44.
Syzygium cumini (L.) Skeels.
Myrtaceae
;duwet daun,
biji,
6
45.
Tinospora crispa (L) Miers.
Menispermaceae
hratawali
cortex
batang 5
46.
Vitex pubescens L.
Verbenaceae
laban akar I
Keterangan: * tanaman digunakan secara empirik untuk diabetes
bahkan menaikkan toleransi terhadap glukosa.
Pada tanaman bratawali semua percobaan dilakukan ter-
hadap batangnya dalam bentuk infus dan hewan coba kelinci
(6 penelitian), dengan dosis yang bervariasi. Di sini terlihat
adanya duplikasi penelitian yang dilakukan pada tempat yang
berbeda. Karena itu sangat perlu kiranya adanya pertukaran
informasi antar institusi penelitian. Kedua tanaman ini memang
termasuk dalam penggunaan empirik.
Penelitian terhadap bawang putih untuk khasiat hipoglike-
mik sudah disertai penelitian yang bertujuan untuk menghilang
kan bau yang menyertai bawang putih. Penelitian tersebut antara
lain adalah kombinasi bawang putih dengan kopi; sirih dan
beluntas. Ternyata dibandingkan dengan khasiat bentuk tunggal,
khasiat efek hipoglikemik bahan kombinasi tidak berkurang.
Sementara itu, beberapa tanaman yang digunakan secara
empirik untuk diabetes, penelitian ilmiahnya belum dilakukan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
56
Tabel 5. Metoda penelitian dan tanaman yang digunakan secara empirik untuk diabetes
No. Nama
latin Bagian
Bentuk
Hewan Dosis Hasil
No.
Judul
1
Alstonia scholaris (L.) R.Br.
ku.bat triterpenoid kelinci 100mg/kgbb.
+
9
2
Alstonia scholaris (L) R.Br.
ku.bat isolat
kelinci 100;
200mg/kgbb.
+
10
3
Andrographis paniculata Nees
daun rebusan tikus 40%b/v;
20ml/kgbb.
+
14
4
Andrographis paniculata Nees
+ Orthosiphon aristatus (BL)
daun
daun
infus
infus
kelinci
kelinci
0,3g/kgbb.
0,129g/kgbb.
+ 15
Andrographis paniculata Nees
herba
infus kelinci
20%b/v;
37,5m1/kgbb.
+ 16
6
Averrhoa bilimbi L.
buah perasan
buah tua
marmut 20m1/kgbb.
-
20
7
Averrhoa bilimbi L.
buah perasan
buah muda
marmut 20m1/kgbb.
-
21
8
Averrhoa bilimbi L.
daun eks.et
mencit 70%;
lg/kgbb.
-
22
9
Blumea balsamifera
daun
infus kelinci
10%b/v;
5m1/kgbb. + 25
10 Catharanthus roseus G. Don
akar
infus
tikus
80%b/v; 20ml/kgbb.
-
29
11 Catharanthus roseus G. Don
herba eks.et
tikus 100%b/v;
20m1/kgbb.
-
22
12 Catharanthus roseus G. Don
daun rebusan tikus 30%
+
30
13 Catharanthus roseus G. Don
daun
infus kelinci
30%b/v;
Smlkgbb. + 31
14 Catharanthus roseus G. Don
daun
rebusan
kelinci
10; 20; 30; 40%
+
32
15 Lagestroemia speciosa L
daun
infus
kelinci
10; 20; 40%; 5m1/kgbb.
+
41
16 Leucaena leucocephala De Witt
biji
infus tikus
40%b/v;
20m1/kgbb. + 43
17 Leucaena leucocephala De Witt
biji dekok kelinci
10%b/b;
lg/kgbb.
+
44
18 Merremia mammosa Hall
umbi perasan tikus 100%b/v;
20ml/kgbb.
+
47
19 Morinda citrifolia L.
buah perasan tikus 25m1/kgbb.
-
65
20 Morinda citifolia L.
buah
perasan
kelinci
200%; 1; 2ml/kgbb.
+
66
21 Morinda citrifolia L.
buah perasan kelinci 10%;
5ml/kgbb.
+
67
buah ekst.air kelinci 10%;
5ml/kgbb.
+
67
22 Ocimum sanctum L.
biji mucilago kelinci
50mg/kgbb.
+
68
23 Sertcocalyx crispus L. Bremek
daun infus
kelinci 10;
20; 40%b/b; 1 g/kgbb.
-
83
24 Syzygium cumini (L) Skeels
cortex
infus tikus
40%;
5m1
+ 87
25 Syzygium cumini (L) Skeels
biji
infus
kelinci
10; 20; 30%; lOml
+
88
26 Syzygium cumini (L.) Skeels
biji rebusan kelinci
50%b/v;
lOml
+
90
27 Tinospora crispa L.
batang
infus tikus
20g/kgbb.
+ 26
Keterangan:
+
: terlihat
khasiat
hipoglikemik
: tidak
terlihat
khasiat
hipoglikemik
Tabel 6. Metoda penelitian dari tanaman yang tidak digunakan secara empirik untuk diabetes
No. Nama
latin Bagian
Bentuk
Hewan Dosis Hasil
No.
Judul
1
Allium sativum L
umbi sari
tikus 9,38g/kgbb.
+
5
2
Allium sativum L.
umbi sari
kelinc' 6,25g/kgbb.
+
8
3
Archangelisia flava (L.) Merr.
kayu infus
kelinci 30;
40%
+
19
4
Azadirachta indica Less,
daun infus
kelinci 40;
60%;
+
23
5
Azadirachta indica Less.
daun dekok
kelinci 10%;
lg/kgbb.
+
24
6
Gynura procumbens (Lour) Merr daun ekst.air tikus 100mg
daun/100gbb.
+
36
7
Mesona palustria Bl.
daun rebusan tikus 10%;
2m1
+
48
8
Momordica charantia L.
herba
rebusan
tikus
40%; 20m1/kgbb.
+
54
9
Momordica charantia L.
buah end.prs. tikus 300g/kgbb.
-
56
10 Momordica charantia L.
buah perasan tikus 200g/kgbb.
-
57
11 Momordica charantia L.
buah ekst.air mencit 1;
1,5g/kgbb.
+
58
12 Momordica charantia L.
buah perasan kelinci 5m1/kgbb.
+
59
13 Momordica charantia L.
buah perasan kelinci 10ml/kgbb.
+
60
14 Momordica charantia L.
daun
rebusan
kelinci
15%; 25; 5m1/kgbb.
+
61
buah
rebusan
kelinci
15%; 25%; 5m1/kgbb.
+
61
15 Momordica charantia L.
buah
infus
kelinci
10; 20; 30%; 1Omi/ekor
+
62
16 Momordica charantia L.
buah sari
orang 1800g/orang
+
63
17 Phaseolus vulgaris L.
buah ekst.
tikus 1;
1,5g/kgbb.
+
74
18 Phaseolus vulgaris L.
buah sari
air tikus 40g/kgbb.
+
75
19 Physalis minima L
daun
infus
marmut 20; 40%; 25ml/kgbb.
+
77
20 Physalis minima L
batang infus
marmot 40%; 25m1/kgbb.
+
78
21 Plantago major L.
daun
infus
kelinci
10%; 20%; 5m1/kgbb.
81
22 Syzygium polyanta Wight.
daun ekst.air tikus 5,5g/kgbb.
-
94
23 Vitex pubescens Vahl.
akar
ekst.et
kelinci
0,4; 0,8; 1,6g/kgbb.
+
103
Keterangan:
+
: terlihat
khasiat
hipoglikemik
: tidak
terlihat
khasiat
hipoglikemik
Daftar I. Judul penelitian untuk menurunkan kadar gula darah
1. M. Jufri Samad. Pengaruh ekstrak umbi bawang merah (Allium cepa
bulbus) takaran 250 mg/kgbb. terhadap penurunan kadar gula darah
normal kelinci. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Hasanuddin, 1987.
2. Achmad Yusuf. Pengaruh ekstrak eter bawang prei (Allium porum
Linn) terhadap kadar glukosa, triasil gliserol dan kolesterol plasma
darah tikus yang diberi diit sukrosa. Jurusan Farmasi FMIPA Univer-
sitas Indonesia, 1988.
3. Agus Purwanto. Pengaruh bawang prei (Allium porum Linn) terhadap
kadar glukosa, kolesterol dan trigliserida plasma darah tikus yang diberi
diit sukrosa. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Indonesia, 1988.
4. Ngatijan. Efek bawang putih terhadap kadar gula darah kelinci dan uji
keracunan akutnya. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1988.
5. Dwi Kutsiatun. Pengaruh campuran ekstrak bawang putih dan sirih
terhadap gula darah tikus putih. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1991.
6. Desak Ketut Andika Andayani. Efek hipoglikemik campuran ekstrak
bawang putih dan daun befuntas pada tikus putih. Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1989.
7. Sri Mulyani. Efek hipoglikemik campuran ekstrak bawang putih dan
kopi pada tikus putih. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1989.
8. Afwan. Pengaruh pemberian sari bawang putih terhadap penurunan
kadar glukosa darah kelinci dibandingkan dengan metformin hidroklo-
rida. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1992.
9. Pengaruh triterpenoid dari Alstonia scholaris (L.) R.Br. terhadap kadar
glukosa darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 1987.
10. Pri Hardini. Pengaruh isolat kulit batang Alstonia scholaris terhadap kadar
insulin dalam serum darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Airlangga, 1992.
11. Pasaribu RT. Penelitian terhadap umbi upas (Merremia mammosa
Hall.) dan kulit batang pule (Alstonia scholaris R.Br) yang terkenal
sebagai obat antidiabetes oral. Jurusan Kimia FMIPA Institut Tekno-
logi Bandung, 1977.
12. Irma Sugiri. Penelitian mengenai adanya khasiat hipoglikemik Clina-
canthus nutans (dandang gendis) dan kulitAlstonia spatulata (basung).
Jurusan Kimia FMIPA Institut Teknologi Bandung, 1980.
13. Tri Windono. Uji efek hipoglikemik fraksi-fraksi yang mengandung
flavonoid dari daun jambu mete (Anacardium occidentale L.). Fakultas
Pasca Sarjana Universitas Airlangga, 1987.
14. W. Sugiyarto. Efek rebusan daun sambiloto (Androgtraphis paniculata
Ness) terhadap kadar glukosa darah pada tikus putih jantan. Fakultas
Farmasi Universitas Gajah Mada, 1987.
15. Minggawati. Studi perbandingan pengaruh infus kombinasi daun
sambiloto dan duan kumis kucing (&:3) dengan infus kedua tumbuhan
tersebut dalam keadaan tunggal terhadap perubahan kadar glukosa
darah kelinci pada uji toleransi glukosa oral. Fakultas Farmasi Universitas
Katolik Widya Mandala, 1990.
16. Lucia Endang Soenaryo. Pengujian beberapa efek farmakologi herba
Andrographis paniculata Nees. pada hewan percobaan. Jurusan Farmasi
FMIPA Institut Teknologi Bandung, 1978.
17. Nut Asiah. Pengaruh penggunaan infusa Aneilema vaginatum R.Br.
terhadap kadar gula darah kelinci dan perbandingannya dengan tolbutamid.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1985.
18. Astriani. Pengaruh ekstrak etanol tanaman seledri (Apium graviolens
Linn) terhadap efek diuresis dan toleransi glukosa pada tikus albino
betina galur Wistar. Jurusan Farmasi FMIPA Institut Teknologi Ban-
dung, 1992.
19. Herawati. Pengaruh Archangelisia flava (L.) Merr. terhadap uji tole-
ransi glukosa secara oral pada kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Airlangga.
20. Suharti. Efek hipoglikemik perasan buah belimbing wuluh tua (Averrhoa
bilimbi Linn) pada marmut. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
1987.
21. Jenni Agustin. Efek hipoglikemik perasan buah belimbing wuluh muda
(Averrhoa bilimbi Linn) pada marmut. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1982.
22. Andy Zul Izwar. Efek ekstrak etanol daun Averrhoa bilimbi dan herba
Catharanthus roseus terhadap kadar glukosa darah mencit diabet per-
manen. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Indonesia, 1986.
23. B. Lucia Lily Yuniar. Pengaruh infus daun mimba (Azadirachta indica
A. Juss) terhadap perubbhan kadar glukosa darah kelinci pada uji
toleransi glukosa oral. Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya
Mandala, 1990.
24. Jonihan. Efek hipoglikemik dekokta daun mindi (Azadirachta indica A.
Juss) dibandingkan dengan tolbutamida. Fakultas Farmasi Universitas
Tujuh Belas Agustus, 1988.
25. Selamat Tarigan. Pengatuh pemberian infusa Blumea balsami fera ter-
hadap kadar gula darah kelinci dibandingkan dengan tolbutamida. Jurusan
Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1981.
26. Haryani. Penapisan efek hipoglikemik dan fitokimia Tinospora tuber-
culata Beumee, Indigofera sumatrana Gaetrn dan Borreria laevis Griseb.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Padjadjaran, 1992.
27. Mirdaus Tamin. Penentuan LD50 seduhan buah makasar (Brucea
javanica (L.) Merr. menggunakan mencit putih dan efeknya terhadap
penurunan kadar glukosa darah kelinci. Fakultas Famutsi Universitas
Pancasila, 1980.
28. Salim Hanggara Puma. Efek hipoglikemik air rebusan daun johar
(Cassia siamea Lamk.) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1991.
29. Ana Rahayu Wibowo. Efek hipoglikemik akar tapak dara (Catharan
thus roseus L.G. Don) bunga putih pada tikus putih jantan. Fakultas
Farmasi Universitas Gajah Mada, 1991.
30. Suyanto.Efek hipoglikemik rebusan daun tapak dara merah (Catharan
thus roseus var. roseus G. Don) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1989.
31. Mey Lauhata. Pengaruh infus daun Catharanthus roseus G. Don secara
oral terhadap uji toleransi pada kelinci dengan tolbutamid sebagai
pembanding. Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala,
1986.
32. Norma. Studi tentang rebusan daun Catharanthus roseus (L.) G. Don.
varietas albus sebagai obat hipoglikemik. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Hasanuddin, 1985.
33. Irma Sugiri. Penelitian mengenai adanya khasiat hipoglikemik dalam daun
Clinachanthus nutans. Jurusan Kimia FMIPA Institut Teknologi Bandung,
1980.
34. T. Pumosulianto. Efek hipoglikemik rebusan daun dandang gula (Cli-
nachanthus nutans Burm. F. Lndau) dibandingkan dengan tolbutamida dan
fenferamina HCI. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1979.
35. F.X. Mediastini. Efek hipoglikemik ekstrak air daun jentik manis (Erigon
linifolius Willd) pada tikus putih jantan diabetes. Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1989.
36. Nurul Hidayah H. Pengaruh sari air daun dewa (Gynura procumbens
Merr) terhadap kadar glukosa darah tikus. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Indonesia, 1991.
37. Margareth Elina. Pengaruh perasan biji kedelai putih terhadap kadar
glukosa darah kelinci pada uji toleransi glukosa oral. Fakultas Farmasi
Universitas Katolik Widya Mandala, 1992.
38. Rully Makarawa. Pengaruh infus batang ubi jalar (Ipomoea batatas Poir)
sebagai antidiabetik pada binatang percobaan tikus. Jurusan Farmasi
FMIPA Universitas Hasanuddin, 1988.
39. Syeny. Pengaruh pemberian suspensi biji Kopsia arborea Bl. secara oral
terhadap kadar glukosa darah kelinci dengan cara uji toleransi glukosa.
Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, 1986.
40. Putu Pramitasari. Pengaruh pemberian infus daun bungur bunga putih
(Lagerstromia peciosa L.) Pers. var bunga putih) terhadap kadar glukosa
darah kelinci dengan cara uji toleransi glukosa oral. Fakultas Farmasi
Universitas Surabaya, 1992.
41. Indrawati Nyototodihardjo. Pengaruh infus daun bungur (Lagerstroemia
speciosa Pers.) terhadap uji toleransi glukosa pada kelinci. Fakultas
Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala, 1984.
42. Anita Tjitrawati. Pengaruh infus serbuk biji petai terhadap kadar gula
darah puasa dari kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya
Mandala, 1981.
43. Robertus Mujianto. Studi pendahuluan efek hipoglikemik infus biji petal
cina (Leucacena leucocephala (Lamk) de Witt) pada tikus putih jantan.
Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1987.
44. Santana Anggraini. Efek hipoglikemik dekokta biji lamtoro (Leucaena
leucocephala (Lam.) de Wit.) dibandingkan dengan tolbutamida. Fakul
tas Farmasi Universitas Tujuh Belas Agustus, 1988.
45. Nina Hardani. Pengujian efek ekstrak biji Leucaena leucocephala (Lamk)
de Witt terhadap kadar glukosa darah tikus. Jurusan Farmasi FMIPA
Institut Teknologi Bandung, 1991.
46. Nunuk Istiyarsih. Studi pendahuluan efek hipoglikemik infus daun mindi
(Melia dubia Cav) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi Universitas
Gajah Mada, 1987.
47. Raharsih. Pengaruh perasan umbi bidara upas (Merremia mammosa L.
Hallier F.) terhadap kadar glukosa darah tikus putih jantan. Fakultas
Farmasi Universitas Gajah Mada, 1987.
48. Emanetti. Efek hipoglikemia air rebusan daun Mesona palustres BI. pada
pemakaian sediaan glukosa, sukrosa dan pati beras pada orang sakit.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Andalas, 1989.
49. Endjelbertus Tjandra. Uji efek air rebusan daun cincau hitam (Mesona
palustris Bl.) dengan campuran pati beras, pati gandum dan pati sagu
terhadap kadar glukosa darah tikus putih jantan. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Andalas, 1991.
50. Lily Sumarni. Pengaruh infus buah pare (Momordica charantia L.)
terhadap uji toleransi glukosa pada kelinci. Fakultas Farmasi, Univer- '
sitas Widya Mandala, 1983.
51. Pradana. Pengaruh sari buah pare (Momordica charantia L.) pada toleransi
glukosa penderita diabetes melitus. Bagian Farmakologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia, 1987.
52. Kasmida. Uji pendahuluan pengaruh buah pare (Momordica charantia
Linn) terhadap kadar glukosa darah manusia normal. Jurusan Farmasi
FMIPA Universitas Indonesia, 1989.
53. Lanny Wijaja. Pemeriksaan pengaruh sari buah Momordica charantia
terhadap kadar glukosa darah kelinci. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Indonesia, 1986.
54. L.M. Sriwoelan. Pengaruh rebusan herba pare alas (Momordica charantia
L.) terhadap kadar glukosa darah tikus. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1987.
55. Asdi. Antidiabetic activity of Momordica charantia fructus (pare),
1989.
56. Muhammad Nizar. Efek hipoglikemik endapan perasan buah pare
(Momordica charantia L) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi
Universitas Gajah Mada, 1991.
57. Suwadi. Efek hipoglikemik fraksi air perasan buah pare (Momordica
charantia L) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1991.
58. Dewi Retno Kustiani. Uji banding efek hipoglikemik ekstrak air buah paria
bodas dan buah patio hejo (Momordica charantia Linn) pada mencit
diabetes aloksan. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Padja-
djaran, 1992.
59. Lia Deliana. Pengaruh pemberian perasan buah Momordica charantia L
terhadap kadar glukosa darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Airlangga, 1986.
60. Salamun. Pengaruh perasan buah Momordica charantia L terhadap kadar
glukosa darah kelinci. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Airlangga,
1986.
61. Lihawa Daud. Studi tentang daun dan buah pare (Momordica charantia L)
sebagai obat hipoglitik. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Hasanuddin,
1985.
62. FM. Lily Sumarni. Pengaruh infus daun pare (Momordica charantiaL )
terhadap uji toleransi glukosa pada kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Katolik Widya Mandala, 1983.
63. Pradana Soewondo dkk. Pengaruh sari buah pare (Momordica charantia)
pada toleransi glukosa penderita diabetes melitus. Bagian Ilmu Penyakit
Dalam RSCM, SPTO VI 1988. Depok.
64. Mack Siswandito. Pengaruh infus daun mengkudu (Morinda citrifolia
Linn) terhadap kadar glukosa darah dan melakukan uji penapisan
mekanisme kerja pada kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Katolik
Widya Mandala, 1986.
65. Nektarindrati. Efek hipoglikemik perasan air buah pace (Morinda citrifolia
L.) pada tikus putih jantan. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
1991.
66. Ki Jonggo Tikno Liman. Pengaruh perasan buah mengkudu (Morinda
citrifolia Linn) terhadap kadar glukosa darah kelinci dengan meng-
gunakan uji toleransi glukosa oral. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya,
1991.
67. M. AlibataHarahap. Pengaruh perasan dan ekstrakbuah masakMorinda
citrifolia Linn. terhadap kadar gula darah kelinci dan perbandingannya
dengan tolbutamida. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera
Utara, 1985.
68. Hera Lukitawati. Pengaruh mucilago biji Ocimum sanctum Linn ter-
hadap kadar glukosa darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Airlangga, 1989.
69. NurhayatiSyarifdkk.Efek hipoglikemik dekokta kulit biji petai (Parkia
speciosa) dibandingkan dengan tolbutamid. Fakultas Farmasi Univer-
sitas Tujuh Belas Agustus, 1986.
70. Muliettaros Munthe. Pengamh infus dan ekstrak akar dari Parkia
speciosa Hassk. terhadap penumnan kadar gula darah kelinci diban-
dingkan dengan tolbutamida. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Sumatera Utara, 1985.
71. Latih Ariani. Pengaruh infus serbuk daun apokat terhadap kadar gula darah
kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya Mandala,
1980.
72. Sis Mardini. Penelitian efek farmakologis dari buncis (Phaseolus vulgaris
Linn) terhadap penurunan glukosa darah kelinci. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Padjadjaran, 1984.
73. Muchtadi. Uji efek ekstrak etanol buah Phaseolus vulgaris Linn terhadap
kadar glukosa darah tikus. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Padjadjaran, 1987.
74. Ahmad Muhadi. Uji efek ekstrak kental Phaseolus vulgaris Linn terhadap
kadar glukosa darah tikus. Studi Kimia Fakultas Pasca Sarjana Institut
Teknologi Bandung, 1987.
75. Prihatiwi Setiati. Pengaruh sari air buncis (Phaseolus vulgaris Linn)
terhadap kadar glukosa darah tikus putih. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Indonesia, 1991.
76. Alex Wijaya Karsiwan. Identifikasi triterpenoid kulit batang kemlaka
(Phyllanthus emblica Linn) dan pengaruhnya terhadap kadar glukosa darah
kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, 1992.
77. Pudjiawati. Efek hipoglikemik daun ciplukan (Physalis angulata Linn)
pada marmut jantan. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1982.
78. Lina Arini. Efek hipoglikemik batang ciplukan (Physalis angulata
Linn) pada marmut jantan. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada,
1982.
79. Zulkamain. Pengaruh pemberian infus herba Physalis minima Linn
terhadap kadar gula darah kelinci dan perbedaan dengan tolbutamid.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1984.
80. Bambang Wispiyono. Pengaruh rebusan dan ekstrak etanol kulit ba,(ang
pohon jengkol (Pithecelobium jiringa (Jack) Prain ex King) terhadap
kadar glukosa darah kelinci. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Indonesia, 1991.
81. Diah Mulyaning Tyas.Pengaruh infus daun Plantagomajor L.terhadap
penurunan kadar gula darah kelinci dibandingkan dengan tolbutamid.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1988.
82.
Hayati. Pengaruh infus daun Pterocarpus indicus Willd. terhadap
penurunan kadar gula darah kelinci dibandingkan dengan tolbutamid.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1990.
83. Sri Mulyani. Pengaruh pemberian infusa daun ngokilo (Sericocalyx crispus
(L.) Bremek) terhadap kadar glukosa darah kelinci dengan uji toleransi
glukosa oral. Fakultas Farmasi Universitas Surabaya, 1992.
84. Harmain Morse. Efek hipoglikemia zat pemanis dari Stevia rebaudiana
Bertoni pada kelinci. Jurusan farmasi FMIPA Institut Teknologi Bandung,
1986.
85. Amrizal M. Uji efek infusa daun Symphythum officinale Linn terhadap
kadar glukosa darah tikus putih jantad. Jurusan Farmasi FMIPA Uni-
versitas Andalas, 1988.
86. Bambang Sugiyarto. Studi pendahuluan efek hipoglikemik infus daun
duwet (Syzygium cumini (L.) Skeels) pada tikus putih jantan. Fakultas
Farmasi Universitas Gajah Mada, 1987.
87.
W. Mimbowati. Penelitian pendahuluan khasiat hipoglikemik dari
cortex Syzygium cumini (L). lakultas Farmasi Universitas Airlangga,
1982.
88. MichaelaMegawati. Pengaruhinfus biji duwet (Eugenia cumini Druce)
terhadap uji toleransi glukosa pada kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Katolik Widya Mandala, 1983.
89. Ngatijan. Uji antidiabetes biji duwet. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1988.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997 59
90. Eddy Soesanto Kristianto. Membandingkan efek hipoglikemik rebusan biji
jamblang (Eugenia cumini Drusse) dengan tolbutamida (Penelitian
Pendahuluan). Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1981.
91. Srie Sutisna S. Pengaruh infus klika jamblang (Eugenia cumini Merr )
sebagai antidiabetik pada tikus putih. Jurusan Farmasi FMIPA Universitas
Hasanuddin, 1986.
92. Pinarto. Pengaruh rebusan daun salam (Syzygium palyanthum Wight.
Walp) terhadap kadar glukosa darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas
Pancasila, 1988.
93. Sujarwoto Sayekti. Uji aktivitas hipoglikemik dan uji fitokimia daun
Eugenia polyantha Wight dan herba Borreria laevis Griseb. Jurusan
Farmasi FMIPA Universitas Padjadjaran, 1993.
94. Ni Putu Maryati. Efek hipoglikemik ekstrak air daun salam (Eugenia
polyantha Wight) pada tikus diabetes. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada 1989.
95. Nuzlah Mumiati. Uji efek dari ekstrak kering dauri Stevia rebaudiana
(Compositae) terhadap kadar glukosa darah ltada mencit diabetes. Jurusan
Farmasi FMIPA Institut Teknologi Bandung, 1983.
96. Ratna Badar. Pengaruh infus batang bratawali terhadap kadar glukosa
darah kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada, 1979.
97. Lucy Halim. Pengaruh infus batang bratawali terhadap kadar gula da-
rah puasa dari kelinci. Fakultas Farmasi Universitas Katolik Widya
Mandala, 1981.
98. Julia Tanujaya. Pengaruh pemberian infusum Tinospora caukis (batang
bratawali) terhadap kadar glukosa darah kelinci. Fakultas Farmasi
Universitas Surabaya, 1988.
99. Suryanto. Pengaruh infus batang brotowali terhadap penurunan kadar gula
darah kelinci dibandingkan dengan tolbutamida. Jurusan Farmasi FMIPA
Universitas Sumatera Utara 1988.
100. Any Guntarti. Pengaruh infus batang bratawali (Tinospora crispa Miers.)
terhadap kadar glukosa darah tikus. Fakultas Farmasi Universitas Gajah
Mada, 1987.
101. Rumondang Napitupulu. Pengaruh-penggunaan i infus dari daun Vinca
alba terhadap gula darah kelinci dan perbandingannya dengan tolbutamid.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Sumatera Utara, 1981.
102. Yusuf Ranteta dung. Penelitian pendahuluan pengaruh infus Vinca rosea
varietas alba (tapak dara) pada kadar gula darah anjing. Jurusan Farmasi
FMIPA Universitas Hasanuddin, 1982.
103. Rusdil Anwar. Pengaruh pemberian ekstrak akar laban (Vitex pubescens
Linn) terhadap toleransi glukosa secara oral pada kelinci putih jantan.
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Andalas, 1991.
104. Hanny Dyachristianti. Pengaruh infus rambut dari jagung (Zea mays L)
terhadap uji toleransi glukosa darah pada kelinci. Fakultas Farmasi
Universitas Katolik Widya Mandala, 1985.
Yang termasuk di dalamnya adalah lidah buaya, babakan pule,
sembung dan katumpangan uler. Di samping itu terdapat ta-
naman yang penggunaan empirisnya telah ditunjang oleh pe-
nelitian ilmiah dan cukup banyak mendapat perhatian adalah
tapak dara dan belimbing wuluh. Umumnya menunjukkan hasil
positif menurunkan kadar glukosa darah pada hewan percobaan.
Ternyata tanaman yang digunakan secara empirik, belum tentu
mendapat perhatian besar, dan adakalanya hasil yang diteliti
belum memuaskan dapat berkhasiat seperti yang diharapkan.
Karena hampir seluruh percobaan dilakukan pada hewan
percobaan, menjadi pertanyaan apakah akan mempunyai khasiat
yang sama bila diberikan pada manusia ? Fisiologi berbagai
jenis hewan berbeda dibandingkan dengan manusia, maka dosis
tidak begitu saja dapat diperhitungkan berdasarkan berat badan.
Cara penyesuaian dosis dengan cara ekstrapolasi yang diketahui
adalah cara Paget dan Barnes 1969 yang secara mudah dapat di-
gunakan karena disiapkan dalam label dan cara perhitungannya.
Selain itu informasi yang penting juga adalah terhadap
tanaman klabet (Trigonella foenum graecum L.). Tanaman ini
digunakan di India untuk diabetes. Selain menurunkan kadar
gula darah, juga dapat menurunkan kolesterol darah akibat
pemberian secara eksogen. Kandungan biji klabet yang mem-
punyai aktivitas hipoglikemik ialah alkaloid. Salah satu alkaloid
yang dikandungnya ialah trigonelin, yang diketahui mempunyai
efek terhadap glikosuria
(12)
.
KESIMPULAN
Momordica charantia menunjukkan hasil yang positif
menurunkan kadar gula darah pada hewan percobaan dengan
ditunjang oleh banyaknya penelitian ilmiahnya.
Beberapa tanaman yang disebut mempunyai khasiat empiris
belum mendapat perhatian untuk diteliti yaitu: babakan pule,
lidah buaya, sembung dan katumpangan uler.
KEPUSTAKAAN
1. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1980.
2. BadanPenelitiandanPengembanganKesehatan. Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1985.
3. BadanPenelitiandan
Pengembangan Kesehatan, Survey Kesehatan Rumah
Tangga 1982
4. , Kebijaksanaan Obat Nasional, Keputusan Menteri Kesehatan Re-
publik Indonesia No. 47 MENKES/SK/I 1/1983. Departemen Kesehatan
RI, 1983, hal 83.
5. WHO Technical Repoit Senes 727, Diabetes Melhtus, World Health
6. Mandisiswoyo, Radjakmangunsudarso. Cabe Puyang Warisan Nenek
Moyang, 1975.
7. Oan Stenis-Krusemen. Medical plants of Indonesia Asia. 1953.
8. Lilly Perry. Medical plants of Asia and South East Asia. Massachusetts,
1980.
9. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Penelitian Tanaman Obat
di Beberapa Perguruan Tinggi di Indonesia, Jilid I s/d VIII.
10. Pradana Soewondo dkk. Pengaruh sari buah pare (Momordica charantia)
pada toleransi glukosa penderita diabetes melitus. Bagian Ilmu Penyakit
Dalam RSCM, Fak. Kedokteran UI. SPTO VI, 1988, Depok.
11. Sujarwoto Sayekti. Uji Aktivitas hipoglikemik dan uji fitokimia daun
Eugenis polyantha Wight. dan herba Borreria laevis Griseb. Skripsi,
Jurusan Farmasi FMIPA Universitas Padjadjaran, 1993.
12. Lucie Widowati. Penganuh biji klabet (Trigonella foenum graecum Linn)
terhadap kadar gula darah. Cermin Dunia Kedokt 1989; 58.
Cermin Dunia Kedokteran No. 116, 1997
60