background image
Sindrom Guillain- Barre
dan Typhus Abdominalis
- laporan kasus
A. Munandar
Unit Neurologi, Rmmah Sakit Husada, Jakarta
ABSTRAK
Sindrom Guillain-Barre sebagai bentuk kelumpuhan pada demam tifoid sangat
jarang ditemukan. Penulis melaporkan satu kasus sindrom Guillain-Barre path pen-
derita demam tifoid, menambah kasus serupa yang sebelumnya telah dilaporkan
Chanmugam.
PENDAHULUAN
Manifestasi kelumpuhan yang dapat terjadi pada demam
tifoid mungkin berupa miopati, sindrom Guillain-Barre dan
polineuropati
(1)
. Bentuk sindrom Guillain-Barre sangat jarang
ditemukan dan dalam kepustakaan pernah dilaporkan oleh
Chanmugam
(2)
. Kasus yang dilaporkan penulis berbeda dengan
yang telah diuraikan itu dalam hal penanganannya. Kasus di-
kenal pertama sebagai sindrom Guillain-Barre dan mendapat pe-
nanganan sesuai dengan itu dan baru kemudian diketahui meru-
pakan kasus tifoid, sedangkan kasus penulis sejak pertama diobati
sebagai tifoid (mungkin karena pasien datang ke dokter penyakit
dalam) dan setelah demamnya mereda baru dikonsulkan ke unit
neurologi. Namun kedua-duanya ialah sindrom Guillan-Barre
yang timbul pada infeksi Salmonella.
URAIAN KASUS
Seorang anak laki-laki Indonesia berumur 14 tahun pada
saat masuk perawatan telah menderita demam di rumah selama
empat hari. Bersamaan dengan demamnya ia merasa kesemutan
pada kedua betisnya dan kemudian kedua tungkainya menjadi
lemah. Kelemahan itu bertambah hari bertambah parah sehingga
ia tidak mampu berjalan sendiri. Ia kemudian masuk perawatan
di rumah sakit. Hasil pemeriksaan laboratorium ialah : Hb 13,6
g%; leukosit 7300/mm
3
; hitung jenis menunjukkan eosinofil 0,
batang 5, segmen 84, limfosit 11; tes aglutinasi S typhi O 1/80 dan
H 1/160 positif; biakan darah juga S typhi positif; urine tidak ada
kelainan. Ia mendapat pengobatan dengankloramfenikol 4 x 500
mg dan pada hari perawatan ke enam ia menjadi afebril. Pada hari
perawatan kelima ia dikonsulkan ke unit neurologi.
Pada pemeriksaan neurologi ditemukan tetraparesis flaksid
dengan tenaga 3, refleks tendo dan refleks patologi negatif.
Gangguan sensorik tidak ditemukan. Pemeriksaan EMG mem-
perlihatkan penurunan kecepatan hantar saraf, penurunan ge-
lombang F dan hilangnya refleks H. Cairan serebrospinal :
jumlah se157/mm', segmen 21 dan limfosit 79; protein 479 mg/
100 ml, gula 57 mg/100 ml; tidak ditemukan bakteri. Atas dasar
penemuan itu ditegakkan diagnosis sindrom Guillain-Barre.
Pengobatan dengan kloramfenikol 4 x 500 mg diteruskan
sampai 10 hari dan kemudian dilanjutkan dengan kloramfenikol
4 x 250 mg. Untuk sindrom Guillain-Barre ia mendapat terapi
penunjang dan fisioterapi.
DISKUSI
Sindrom Guillain-Barre biasanya didahului infeksi virus di
saluran nafas, saluran cerna, (mungkin juga AIDS), vaksinasi,
tindakan bedah atau menjadi penyulit pada proses keganasan.
Mungkin juga terjadi pada difteri dalam minggu ke 5-8, atau
kadang-kadang pads penderita uremi yang kehabisan gizi
(3,4)
.
Dalam kepustakaan baru satu kali dilaporkan sindrom ini pada
demam tifoid
(2)
.
Awitan sindrom ini biasanya akut atau subakut dengan
keluhan kesemutan, baal dan nyeri otot, disusul kelemahan otot
background image
yang mulai, sedikit banyak secara simetri, di tungkai dan kemu-
dian dapat menjalar ke proksimal ke lengan dan saraf otak. Suhu
tubuh biasanya normal. Salah satu ciri utama lain ialah kele-
mahan otot yang mencolok dan tidak ada atau hanya sedikit
gangguan sensorik. Pada EMG kecepatan hantar saraf melambat
dan respon F dan H abnormal
(3)
. Penyakit ini secara alami pulih.
Pada terapi yang penting ialah kesiapan untuk bantuan per-
nafasan.
Baik pada kasus Chanmugam maupun kasus penulis
ditemukan demam tinggi pada penderita, yang biasanya tidak
ditemukan pada sindrom Guillain-Barre
(3,4)
. Demam itu baru
hilang setelah penderita mendapat pengobatan terhadap demam
tifoidnya sungguhpun padakasus Chanmugam dari segi susunan
saraf sudah terjadi kemajuan secara lambat clan tetap.
Di Indonesia demam tifoid merupakan penyakit menular
kedua terbesar setelah gastroenteritis
(1)
. Oleh karena itu sindrom
Guillain-Barre sebagai bentuk kelumpuhan pada demam tifoid
mungkin lebih sering dijumpai asalkan diwaspadai. Pengenalan
sindrom ini sebagai penyulit demam tifoid perlu disadari karena
berpotensi fatal akibat kegagalan pernafasan; sehingga tidak
boleh dianggap sebagai suatu polineuropati. Polineuropati biasa-
nya melibatkan komponen motorik, sensorik dan vegetatif. Se-
baliknya mengenali sindrom Guillain-Barre tanpa mengetahui
kemungkinan kaitannya dengan demam tifoid mungkin juga
berakibat fatal karena infeksi Salmonella tidak diatasi.
KESIMPULAN
Kemungkinan timbulnya sindrom Guillain-Barre pada
demam tifoid perlu lebih diketahui dan disadari, khususnya di
Indonesia di mana demam tifoid masih merttpakan penyakit
menular yang besar.
Sungguhpun sindrom Guillain-Barre umumnya pulih de-
ngan baik namun mungkin terjadi kegagalan pernafasan yang
dapat menimbulkan akhir yang fatal.
KEPUSTAKAAN
1.
Dody Ranuhardy, Djoko Widodo. Manifestasi kelumpuhan pads Demam
Tifoid, Medika, 7, 18, 1992; 18(7): 57-59.
2.
Chanmugam D, Waniganetti A. Guillain-Barre Syndrome associated with
Typhoid Fever. BMJ 1969; 1: 95-6.
3.
Adams RD, Victor M. Principles of Neurology, 4th ed. New York: McGraw-
Hill, 1989: 1035-40.
4.
Pryse-Philips W, Murray TJ. Essential Neurology, 2nd ed. 1984 : 591-3.