background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
42
HASIL PENELITIAN
Sikap dan Perilaku Pemuda
mengenai
Masalah Kesehatan Lingkungan
di DKI Jakarta dan di Dl Yogyakarta
Moh. Ramly Bandy, Suhardjo
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
*) Disajikan pada KONAS IAKMI VII tanggal 21-24 September 1992 di
Bandung
ABSTRAK
Pemuda adalah kelompok masyarakat yang merupakan tunas bangsa, yang akan
menentukan masa depan bangsa di kemudian hari. Sebagai tunas bangsa, pemuda
Indonesia perlu dibina menjadi kader pembangunan yang sehat dan kreatif, seperti di-
tegaskan dalam GaRis-garis Besar Haluan Negara tahun 1988. Di lain pihak para pemuda
sangat peka terhadap perubahan lingkungan yang berdampak pada perilaku dan ke-
sehatan. Akibatnya dapat timbul berbagai gangguan kesehatan pada pemuda, keluarga
dan masyarakat sekitarnya. Untuk mendukung upaya pembinaan generasi muda tersebut,
telah dilaksanakan Penelitian Pengetahuan, Sikap dan Perilaku Pemuda mengenai Ma-
salah Kesehatan di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 1990.
Penelitian dilaksanakan dengan cara pengisian angket oleh 1000 orang siswa SLTA dan
1000 mahasiswa pria dan wanita yang berumur 15 ­24 tahun dan masih aktif sekolah/
kuliah serta belum menikah, di masing-masing kota. Makalah ini menyajikan hasil
penelitian tersebut yang menyangkut aspek kesehatan lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 80­98% pemuda yang bersikap positif
terhadap upaya pemeliharaan kesehatan lingkungan dan pencegahan pencemaran, antara
lain : suka memperhatikan kebersihan lingkungan 81,2%, setuju terhadap keharusan
membuang air besar di jamban 94,1%, dan keharusan menggunakan air bersih 98,1%.
Sikap adalah kecenderungan untuk bertindak. Secara potensial tindakan seseorang
terkandung dalam sikapnya, oleh karena itu jika sikap seseorang terhadap sesuatu hal
positif, tindakan orang itu cenderung positif pula. Hal ini tercermin dalam hasil peneliti-
an : terdapat 98,5% pemuda yang berperilaku/mempunyai kebiasaan membuang air besar
dijamban, kebiasaan membuang sampah di bak/keranjang sampah 91,5% dan kebiasaan
menggunakan air bersih sekitar 90,0%.
Data tersebut menunjukkan adanya sikap dan potensi yang cukup besar di kalangan
pemuda yang dapat dimobilisir dalam upaya pembangunan kesehatan lingkungan ma-
syarakat pada masa Pembangunan Jangka Panjang II.
background image
PENDAHULUAN
Pemuda adalah kelompok masyarakat yang merupakan tunas
bangsa, yang akan menentukan masa depan bangsa di kemudian
hari. Sebagai tunas bangsa, Pemuda Indonesia perlu dibina men-
jadi kader pembangunan yang sehat dan kreatif seperti ditegas-
kan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara tahun l988
(1)
.. Di lain
pihak para pemuda sangat peka terhadap perubahan lingkungan
yang berdampak pada perilaku dan kesehatan. Akibatnya dapat
timbul berbagai gangguan kesehatan pada pemuda, keluarga dan
masyarakat sekitarnya
(2)
. Untuk mendukung upaya pembinaan
generasi muda tersebut, telah dilaksanakan Penelitian Penge-
tahuan, Sikap dan Perilaku Pemuda Mengenai Masalah Kese-
hatan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta pada tahun 1990. Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui persepsi pemuda mengenai
cara hidup sehat, mencakup pengetahuan, sikap dan perilaku
mengenai tujuh bidang masalah kesehatan, yaitu narkotika,
minuman keras, seks, kenakalan, merokok, gizi dan kesehatan
lingkungan. Makalah ini khusus menyajikan hasil penelitian
tersebut yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan.
BAHAN DAN CARA
Sikap adalah suatu keadaan atau kecenderungan seseorang
untuk bereaksi atau berbuat terhadap keadaan atau lingkungan-
nya, yang bersendikan pada pendidikan/pendapat yang diyakini-
nya
(3)
. Sikap itu berwujud pernyataan setuju tidaknya atau senang
tidak senangnya atau suka tidak suka seseorang terhadap sesuatu
hal. Perilaku adalah segala respons atau aksi tindakan kebiasaan
yang dilakukan oleh seseorang yang dapat diamati secara lang-
sung maupun tidak langsung dengan atau tanpa menggunakan
alat.
Responden penelitian adalah pemuda yang berusia 15 - 24
tahun masih aktif sekolah/kuliah pada Sekolah Lanjutan Tingkat
Atas (SLTA)/Perguruan Tinggi, baik negeni maupun swasta, pria
wanita dan belum menikah. Besar sampel seluruhnya adalah
4000 orang, terdiri atas 1000 siswa SLTA dan 1000 mahasiswa
Perguruan Tinggi dan masing-masing kota. Pemilihan sampel
dilakukan secara acak bertahap untuk memilih cluster terkecil
(sekolahljurusan) sebanyak 50 SLTA dan 50 jurusan dan tiap
Kota Propinsi. Kemudian dan tiap SLTA dan jurusan dipilih
secara acak dan proporsional 20 orang siswa/mahasiswa dari
siswa kelas I, II, dan III, dan dan mahasiswa angkatan 1986,
1987, 1989 dan 1990. Pengumpulan data dilakukan dengan cara
angket menggunakan kuesioner. Kuesioner diisi sendiri oleh
responden tanpa nama (anonim) dengan ditunggui oleh petugas/
peneliti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian memberikan informasi bahwa dan 3676
responden yang menjawab untuk kedua daerah DKI Jakarta dan
DI Yogyakarta terdapat 2986 orang (81,2%) yang bersikap suka
memperhatikan keadaan kebersihán Iingkungan di sekitarnya
(Tabel 1). Di antara mereka terdapat 87,7% bersikap suka mem-
perhatikan dengan alasan setiap warga negara ikut bertanggung
jawab terhadap kebersihan lingkungan dan 8,7% dengan alasan
sudah seharusnya pemuda berkewajiban menjadi pelopor me-
melihara kebersihan lingkungan (Tabel 2).
Tabel 1. Sikap pemuda terhadap keadaan kebersihan lingkungan di
sekitarnya di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, tahun 1990
DKI Jakarta DI Yogyakarta
DKI + DIY
No.
Sikap suka
memperhatikan
Jumlah % Jumlah
% Jumlah %
2
Tidak suka
Suka
Ragu-ragu
212
1528
79
11,7
84,0
4,3
380
1458
19
205
78,5
1,0
592
2986
98
16,1
81,2
2,7
Jumlah
1819
100
1857
100
3676
100
Jumlah yang
tidak mengisi
181 143 324
Tabel 2. Alasan/faktor yang melatarbelakangi sikap positif (suka) dan
pada pemuda terhadap kebersihan lingkungan di DKI Jakarta
dan
DI
Yogyakarta,
tahun
1990.
DKI Jakarta DI Yogyakarta
DKI + DIY
No.
Alasan/faktor yang
melatarbelakangi
sikap positif
n % n % N %
1.
2.
3.
Setiap warga negara
ikut bertanggung
jawab terhadap ke
bersihan lingkungan
Pemuda berkewajib-
an menjadi pelopor
memelihara keber
sihan lingkungan
Lain-lain: kebersih-
an sebagian dari
pada iman
1404
153
50
874
9,5
3,1
1301
114
62
88,1
7,7
4,2
2705
267
112
87,7
8,7
3,6
Jumlah
1607 100 1477 100 3084 100
Jawaban sikap seperti itu menunjukkan sikap yang positif
terhadap kesehatan lingkungan dan sebagian besar pemuda
tingkat SLTA dan Perguruan Tinggi, baik di DKI Jakarta maupun
di DI Yogyakarta. Sikap positif tersebut menunjukkan adanya
kesiapan mental dan dapat merupakan modal yang besar dalam
mengikutsertakan peranserta pemuda pada upaya perbaikan dan
peningkatan kesehatan lingkungan masyarakat sekitarnya, sebab
perilaku atau tindakan seseorang cenderung ditentukan oleh
sikapnya. Jadi adanya sikap yang positif secara potensial dapat
mendorong seseorang untuk bertindak atau berperilaku positif
pula dalam aspek kehidupan yang diyakininya. Dengan demi-
kian bagi pelaksana program, tinggal bagaimana memotivasi dan
rnenggalang serta memanfaatkan potensi sikap yang meng-
untungkan, sehingga benar-benar menjadi kenyataan perilaku
yang dapat memotivasi masyarakat sekitarnya dalam upaya
meningkatkan kesehatan lingkungan masyarakat. Sikap positif
tersebut terwujud dalam banyak hal yang berkaitan dengan
kesehatan lingkungan antara lain : sikap setuju terhadap keha-
rusan membuang air besar di jamban 94,1%, sikap segera me-
mungut sendiri sampah yang berserakan di halaman sekolah/
rumah dan membuangnya ke tempat sampah 58,5%/88,1%,
sikap setuju terhadap keharusan menggunakan air bersih 98,1 %
dan sikap setuju terhadap keharusan mencegah kepadatan peng-
huni rumah 91,6%.
background image
Alasan sikap setuju terhadap keharusan menggunakan air
bersih adalah 98,8% untuk menjaga kesehatan sendiri dan masya-
rakat, suatu alasan yang didasari pada kepentingan masyarakat
umum. Sedangkan alasan sikap setuju terhadap keharusan
mencegah kepadatan penghuni rumah adalah untuk menjaga
kesehatan 8,4%, agar udara dalam rumah tetap bersih dan segar
3,2%, ketenangan/kenyamanan dapat terpelihara 24,6%, men-
didik setiap orang untuk mandiri 6,7% dan gabungan dan ke-
empat alasan tersebut 57,1% (Tabel 3). Kesemua alasan yang
dikemukakan itu sangat positif dan berkaitan dengan upaya
pemeliharaan serta peningkatan kesehatan sendiri dan kesehatan
lingkungan.
Tabel 3. Alasan yang melatarbelakangi sikap positif terhadap keharusan
mencegah kepadatan penghuni rumah di kalangan pemuda di
DKI
Jakarta
dan
D
Yogyakarta,
tahun
1990
DKI Jakarta DI Yogyakarta
DKI + DIY
No.
Alasan yang
melatarbelakangi
sikap positif
n % n % N %
1.
2.
3.
4.
5.
Menjaga kesehatan
Udara dalam rumah
tetap bersih dan
segar
Ketenangan,
kenyamanan
terpelihara
Mendidik setiap
orang untuk mandiri
Gabungan 1-4
159
64
396
114
943
9 5
3,8
23,6
6,8
56,3
126
45
441
116
1005
7,3
2,6
254
6,7
580
285
109
837
230
1948
8 4
3,2
24,6
6,7
571
Jumlah
1676
100
1733
100
3409
100
Di lain pihak, responden yang bersikap tidak setuju atau
negatif termasuk yang bersikap ragu-ragu terhadap keharusan
mencegah kepadatan penghuni rumah sebanyak 8,4% (310 orang
dan 3708 responden) mengemukakan alasan yang bervariasi,
cenderung bersifat kekeluargaan dan mengikuti tradisi orang
Timur 11,6% dan kewajiban menolong keluarga/sahabat yang
memerlukan pondokan 43,9%. Di sini terlihat dominannya sifat
kegotongroyongan dan sifat ingin menolong sesama keluarga
atau sahabat. Sifat senasib dan sependeritaan atau kesetiaka-
wanan sosial masih cukup besar, lebih menonjol daripada alasan
kesehatan.
Bila dikaitkan dengan pendapat kalangan pemuda terhadap
rumah sehat, yaitu adanya ventilasi udara yang cukup, penca-
hayaan cukup terang, tidak padat penghuni, cukup air dan ada
jamban sebanyak 98,6%, kelihatannya ada hubungannya dengan
sikap setuju terhadap keharusan mencegah kepadatan penghuni
rumah (9 1,6%). Dalam hal ini terdapat relevansi antara pema-
haman, pengertian atau pengetahuan yang positif terhadap ru-
mah sehat dengan hasil yang positif pula terhadap keharusan
rnencegah kepadatan penghuni rumah.
Sikap mental yang positif dan para pemuda, juga tercermin
dalam sikap setuju terhadap keharusan membantu upaya peme-
rintah melestarikan lingkungan yang sehat dan segar serta upaya
pencegahan pencemaran. Dalam hal ini 98,0% responden pemuda
di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta memberikan persetujuannya.
B kesiapan pemuda untuk ikut berperanserta dalam setiap
upaya pelestarian lingkungan cukup besar dan potensial, demi
untuk kepentingan kesehatan lingkungan masyarakat. Jika sikap
seseorang terhadap sesuatu hal positif, maka tindakan atau pen-
laku orang itu mengenai hal tersebut, cenderung positif pula.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hipotesis kecende-
rungan yang disebutkan di atas mengandung kebenaran. Jumlah
prosentase pemuda yang bersikap setuju terhadap keharusan
buang air besar di jamban di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
adalah 94,1%. Sikap tersebut terwujud dalam perilaku kebiasaan
buang air besar di kalangan pemuda di dua daerah penelitian,
yang sebagian besar dilakukan di jambanlWC, yaitu sebanyak
98,5%. Demikian pula kebiasaan membuang sampah di bak/
keranjang sampah sebesar 91,5% adalah pencerminan sikap se-
bagian besar pemuda yang suka memperhatikan keadaan keber-
sihan lingkungan sekitar (81,2%), dengan alasan setiap warga
negara ikut bertanggung jawab terhadap pemeliharaan keber-
sihan lingkungan (87,7%).
Perilaku kebiasaan membedakan/memisahkan air untuk
mandi dan mencuci dengan air untuk minum di kalangan pemuda
di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta sebanyak 92,9%, juga ada
hubungannya dengan sikap setuju sebesar 98,1 %, terhadap keha-
rusan menggunakan air bersih. Dalam kaitan dengan sikap
penggunaan air bersih, sebagian besar para pemuda dalam peneli-
tian ini telah biasa menggunakan air untuk mandi dan cuci yang
berasal dan air PAM (35,0%), air sumur gali (32,7%) dan air
sumur pompa (30,1%) (Tabel 4).
Tabel 4. Sumber air yang digunakan untuk mandi/cuci di kalangan
pemuda di DKI Jakarta dan UI Yogyakarta, tahun 1990
DKI Jakarta DI Yogyakarta DKI + DIY
No.
Sumber air
yang digunakan
untuk mandi/cuci
n % n % n
%
I . Air PAM
893
45,6
485
245
1378
350
2
Air sumur gali
195
9 9
1093
55,2
1288
32,7
3. Air sumur pompa
847
43,2
338
17,1
1185
30,1
4. Air kali/sungai
2
0,1
8
0 4
10
0 2
5
Air hujan
2
01
10
0 5
12
0,3
6 Gabungan
1-5
21 1,l 45 2,3
66
17
Jumlah
1960
100
1979
100
3939
100
Jumlah
yang
tidak 40 21 61
mengisi
Alasan yang melatarbelakangi perilaku membedakan tem-
pat air untuk mandi/cuci dengan air untuk minum adalah semua-
nya atas dasar alasan kesehatan, yaitu menjaga kebersihan
25,2%, air minum supaya tidak tercemar kotoran/kuman penya-
kit 12,2% dan menjaga kesehatan dan lain-lain 62,6%. Dengan
jawaban seperti itu, terlintas adanya kesan umum, bahwa para
pemuda yang menjadi responden penelitian ini pada umumnya
atau sebagian besar bersikap dan berperilaku positif terhadap
masalah kesehatan lingkungan.
Dari mereka yang berperilaku tidak memisahkan tempat air
untuk mandi/cuci dengan air untuk minum (7,1% - 237 orang
dan 3335 nesponden yang Inenjawab), terbanyak mengemukakan
alasan ekonomi daripada alasan kesehatan, yaitu tempat khusus
untuk menyimpan air minum tidak ada 57,0%, kalau jadi satu
lebih hemat dan praktis 13,1% dan tidak ada pengaruhnya ter-
hadap kesehatan 10,5%, serta alasan lain-lain 19,4% (Tabel 5).
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
44
background image
Tabel 5. Alasan yang melatarbelakangi perilaku tidak membedakan/
memisahkan
antara
air
untuk mandilcuci dengan air untuk mi-
num di kalangan pemuda di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta,
tahun
1990
DKI Jakarta DI Yogyakarta
DKI + DIY
No.
Alasan yang me-
melatarbelakangi
perilaku tidak
membedakan air
mandi/cuci dengan
air minum
n % n %
n %
1. Tempat
khusus
55 57,3 80
56,7
135 57,0
2.
menyimpan air
minum tidak ada
Kalau jadi satu lebih
16 167 15
10,6
31
13,1
3.
hemat dan praktis
Tidak ada
14 14,6 11 7,8
25 10,5
4.
pengaruhnya
terhadap kesehatan
Lain-lain
11 11,4 35 24,8
46 19,4
Jumlah
96
100 141
100 237
100
Sebagian besar responden sudah berperilaku positif (benar)
terhadap penggunaan air minum, yaitu 97,7% (3883 dan 3973
responden) selalu menggunakan air minum yang sudah dimasak.
Sisanya ada yang kadang-kadang (1,8%) dan sama sekali tidak
menggunakan air masak (0,5%).
Perilaku hidup sehat tercermin pula dalam cara memilih
tempat tinggal atau tempat kost. Pada penelitian ini pemuda di
DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dalam memilih tempat tinggal/
kost terbanyak mengemukakan pertimbangan rumah yang sehat
walaupun harganya sedikit mahal 61,7%. Kemudian menyusul
pertimbangan rumah yang agak sehat dan terjangkau harganya
36,8%, dan paling sedikit yang mengemukakan pertimbangan
harga murah walau kurang sehat 1,5% (Tabel 6).
Tabel 6. Pertimbangan yang mendasari pemilihan tempat tinggal/kost
dari para pemuda di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta, tahun
1990
DKI Jakarta DI Yogyakarta
DKI + DIY
No. Pertimbangan
n % n % n %
1. Harga
murah
walaupun kurang
sehat
36
1 8
22
1,1
58
1 5
2. Rumah sehat, walau
harganya sedikit
murah
1159 593
1266 640
2425 61,7
3. Rumah
yang
agak
sehat dan terjangkau
harganya
760 389 689 349 1449 36,8
Jumlah
1955 100 1977 100 3932 100
Jumlah yang tidak
mengisi
45 23 68
Data tabel 6 menunjukkan bahwa sebanyak 61,7% respon-
den mengutamakan pertimbangan alasan kesehatan yang pokok
dalam memilih tempat tinggalfkost, dan 36,8% dengan pertim-
bangan alasan kesehatan dan ekonomi. Hanya 1,5% responden
yang mengutamakan pertimbangan alasan ekonomi/kemampu-
an (harga murah) walau akan mendapatkan tempat kost yang
kurang sehat.
Hasil penelitian ini memberikan gambaran secara umum
baik antara siswa SLTA dan mahasiswa Perguruan Tinggi, mau-
pun antara kedua daerah penelitian DKI Jakarta dan DI Yogya-
karta, menunjukkan hasil yang hainpir sama atau tidak banyak
berbeda.
Data hasil penelitian secara keseluruhan menunjukkan ada-
nya sikap dan penilaku positif yang merupakan potensi yang
cukup besar di kalangan pemuda yang dapat dimobilisir dalam
upaya pembangunan kesehatan lingkungan masyarakat pada
masa Pembangunan Jangka Panjang II.
KESIMPULAN
a) Sebagian besar pemuda di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta
(sekitar 80-98%) bersikap positif terhadap upaya pemeliharaan
kesehatan lingkungan dan pencegahan pencemaran, antara lain
suka memperhatikan kebersihan lingkungan sekitar 81,2%, setuju
keharusan membuang air besar di jamban 94,1% dan meng-
gunakan air bersih 98,1%.
Hal itu menunjukkan adanya kesiapan mental pemuda
berperan serta dalam upaya pembangunan kesehatan lingkungan.
b) Terdapat adanya relevansi positif antara sikap dan perilaku
dalam cara hidup sehat, khususnya yang berkaitan dengan ke-
sehatan lingkungan, dalam arti bahwa sikap positif yang dimiliki
cenderung akan diikuti oleh tindakan/perilaku yang positif pula.
c) Sikap dan perilaku positif dan sebagian besar kalangan
pemuda adalah merupakan potensi yang cukup besar yang dapat
dimobilisir dalam upaya pembangunan kesehatan lingkungan
masyarakat pada masa Pembangunan Jangka Panjang II.
SARAN
Upaya penyuluhan kesehatan dan pembinaan kepada ge-
nerasi muda perlu digalakkan dan ditingkatkan secara teratur dan
berkesinambungan, agar dapat dimobilisir dan dimanfaatkan se-
cara maksimal dalam upaya pembangunan kesehatan lingkung-
an.
KEPUSTAKAAN
1. Garis-garis Besar Haluan Negara Tahun 1988.
2. Loedin AA. Pendekatan Baru dalam Penelitian Kesehatan, Badan Litbang
Kesehatan, Depkes, Jakarta, 1981.
3. Mayor Polak JBAF. Sosiologi Suatu Buku Pengantar Ringkas, Cetakan ke-
delapan. Jakarta: lchtiar, 1976.
4. Paxman JM, Zuckerman RJ. Laws and policies as affecting adolescent
health. Geneva: WHO 1987, 1-5.
5. Bandy MR. Laporan akhir Hasil Penelitian Pengetahuan. Sikap dan Perilaku
Pemuda Mengenai Masalah Kesehatan di DKI Jakarta dan Dl Yogyakarta,
Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehatan Depkes, Jakarta, 1990.
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996 45
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 109, 1996
46
Lampiran I
SIKAP DAN PERILAKU PEMUDA MENGENAI MASALAH KESE-
HATAN LINGKUNGAN DI DKI JAKARTA DAN UI YOGYAKARTA
Sikap positif (setuju) pemuda DKI dan DIY terhadap berbagal hal yang
berkaitan dengan kesehatan lingkungan
DKI n = 2.000 DIY n = 2.000 Total n = 4.000
No. Sikap
n o
n %
N %
1.
Suka
memperhatikan 1528 84,0 1458 78,5 2986 81,2
2.
kebersihan lingkung-
an
Setuju terhadap keha- 1726
92,6 1814
957
3540
941
3.
rusan buang air besar
di jamban
Sikap segera me-
1235
62,8 1078
54,8
2313
58,5
4.
mungut dan mem
buang sampah yang
berserakan di
halaman sekolah ke
tempat sampah
s.d.a. 1705
862
1781
90,0
3486
88,1
5.
terhadap sampah di
halaman rumah
sendiri
Sikap setuju terhadap 1822
974 1886
98,8
3708
98,1
6.
keharusan mengguna
kan air bersih
Sikap setuju terhadap 1666
914 1732
91,8
3398
.91,6
7.
keharusan mencegah
kepadatan penghuni
rumah
Sikap setuju terhadap 1809 (97,7) 1858
98,4
3667
98,9
keharusan
membantu
upaya pemerintah
melestarikan ling
kungan sehat dan
segar, mencegah
pencemaran.
Lampiran II
SIKAP DAN PERILAKU PEMUDA MENGENAI MASALAH KESE-
HATAN LINGKUNGAN DI DKI JAKARTA DAN DI YOGYAKARTA
Perilaku positif (hidup sehat) pemuda DKI dan DIY terhadap berbagai
hal yang berkaitan dengan kesehatan lingkungan
DKI n = 2.000 DIY n = 2.000 Total n = 4.000
No.
Perilaku
n o n % n %
1.
Buang air besar di
1956
991
1943
978
3899 98,5
2.
jamban (WC)
Kebiasaan mem-
1866
944
1763
88,6
3629 91,5
3.
buang sampah di
bak/
keranjang sampah
gunakan air bersih :
a. Air PAM
893 45,6
485
24,5
1378 35,0
b. Air sumur pompa
847
432
338
17,1
1185 30,1
c. Air sumur gali
195
9,9
1093
552
1288 32,7
d. Air hujan
2
0,1
10
0,5
12
0,3
1937
98,8 1926 97,3
3836
98,1
4.
Kebiasaan
518 940 1580 91,8
3098 92,9
5
kan/memisahkan air
untuk mandi dan
cuci
dengan air untuk
minum
Penggunaan air
1932
97,6
1951
97,8
3883 97,7
6.
minum yang sudah
dimasak
Pertimbangan
men
dasari pemilihan
tempat kost
- Rumah sehat,
1159 593 1266 64,0
2425 617
walau harganya
sedikit mahal
- Rumah yang agak
760 38,9 689 34,9
1449 36,8
sehat dan ter
jangkau harganya
98,2
989
98,51
Difficulties strengthen the mind as labour does to the body
(Seneca)