background image
Perilaku Petugas dalam Pengelolaan
Makanan di Rumah Sakit
D. Anwar Musadad
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Fungsi utama rumah sakit (RS) adalah menyelenggarakan
upaya penyembuhan dan pemulihan penyakit. Pengelolaan
makanan RS, sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan di
RS mempunyai tugas mendukung upaya penyembuhan dan
pemulihan penyakit melalui penyelenggaraan makanan yang
higienis dan sehat.
Prinsip-prinsip dasar sanitasi penyelenggaraan makanan di
RS pada dasarnya tidak berbeda dengan tempat-tempat penye-
lenggaraan makanai lain, tetapi standar kebersihan dan higiene
pelayanan makanannya lebih tinggi karma rentannya pasien
yang masuk RS dan ancaman penyebaran kuman pathogen yang
tinggi di lingkungan RS
(1)
. Makanan yang tidak dikelola dengan
baik dan benar dapat menimbulkan dampak negatif seperti pe-
nyakit dan keracunan akibat bahan kimia, mikroorganisme, tum-
buhan atau hewan, serta dapat pula menimbulkan alergi.
Terdapat 4 (empat) faktor yang memungkinkan terjadinya
penularan penyakit di RS melalui makanan, yakni perilaku yang
tidak higienis, adanya sumber penyakit menular, adanya media
(makanan, minuman), dan resipien
al
. Dalam tulisan ini hanya
dikemukakan satu sisi saja, yakni perilaku petugas dalam pe-
nyehatan makanan di RS, yang mefiputi kebiasaan cuci tangan,
kebersihan tangan, penggunaan pakaian pelindung, dan pember-
sihan peralatan masak/makan.
Seperti diketahui peran dan perilaku tenaga pengolah ma-
kanan sangat berpengatuh terhadap kualitas makanan, sehingga
baik secara langsung maupun tidak langsung dapat berpengaruh
terhadap penyebaran penyakit.
BAHAN DAN CARA
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian aspek
sosiologis sanitasi RS yang dilaksanakan di TRS Umum peme-
rintah di DKI Jakarta tahun 1989. Sebagai responden adalah
tenaga pengelola makanan RS, yang terdiri dari penanggung
jawab gizi, pengawas, pengolah dan/atau penyaji makanan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara
menggunakan kuesioner terhadap petugas dapur RS serta peng-
amatan sesaat pada waktu petugas tersebut melakukan proses
pengolahan makanan. Jumlah sampel keseluruhan 29 orang
petugas.
HASIL DAN DISKUSI
Responden yang berhasil diwawancarai terdiri dari 11 orang
(37,9%) laki-laki dan 18 orang (62,1%) perempuan dengan
pendidikan rata-rata tamat SLTA (Tabel 1).
Tabel 1. Jumlah Petugas Pengelola Makaoan RS menurut Umur dan
Status
Pendidikan
Jumlah
Karakteristik Rcsponden
n %
Umur : (tahun)
­ 24
25 ­ 29
30 ­ 34
35 ­ 39
40 ­ 44
45 ­ 49
50 ­
Pendidikan :
­ Tidak
sekolah
­ Tak Tamat SD
­ Tamat
SD
­ Tamat SLTP
­ Tamat SLTA
­ Tamat PT/Akd
2
8
3
5
4
3
4
1
2
6
3
16
1
6,9
27,5
10,3
17,2
13,7
10.3
13,7
3,4
6.9
20,7
10,3
55 2
3,4
Kebiasaan Cuci Tangan
Pencucian tangan petugas sebelum melakukan pekerjaan
pengolahan makanan adalah mutlak dilaksanakan. Seperti
diketahui tangan tidak pernah bebas dari berbagai macam
kuman, baik yang berasal dari kontaminasi benda atau alat
yang terkontaminasi, maupun yang tinggal secara menetap
pada tangan
(3)
.
background image
Hasil wawancara terhadap petugas pengelola makanan di
RS menunjukkan bahwa seluruh petugas sebelum melakukan pe-
kerjaan pengelolaan makanan mengaku selalu mencuci tangan.
Pencucian tangan dilakukan dengan menggunakan sabun (93,1%)
dan cara pencuciannya sebagian besar meliputi jari sampai
lengan (65,5%). Begitu pula dalam hal pencucian tangan
setelah buang air besar, kebanyakan mengaku selalu
menggunakan sabun (89,7%). Mereka beranggapan bahwa
mencuci tangan dapat menghilangkan bakteri/kuman penyebab
penyakit seperti penyakit perut.
Tampaknya pengakuan atau sikap petugas pengolah ma-
kanan di RS dalam hal cuci tangan sudah baik. Hal ini sesuai
dengan tingkat pendidikan mereka yang rata-rata SLTA ke
atas. Akan tetapi dalam kenyataan praktek sehari-hari belum
tentu demikian mengingat tidak dilakukan pengamatan secara
terus menerus. Seringkali berbeda antara pengakuan dengan
kenyataan sehari-hari. Walaupun demikian sikap tersebut perlu
dipertahankan dan didukung oleh sarana dan prasarana cuci
tangan, serta sistem pengawasan yang kontinyu sehingga
perilaku cuci tangan petugas menjadi suatu kebiasaan. Apalagi
hasil pengamatan menunjukkan bahwa terdapat 7 orang
(24,1%) yang keadaan kukunya panjang. Kuku haruslah
terpotong pendek, terawat baik, dan bersih
(4)
.
Mengingat RS merupakan tempat berkumpulnya segala
macam penyakit, baik menular maupun tidak menular, maka
bukan hal yang mustahil keadaan tersebut dapat mencemari
makanan yang dapat berakibat buruk terhadap kesehatan, ter-
utama pasien. Hasil penelitian Pudjarwoto
(5)
di pelbagai RS di
Jakarta menunjukkan beberapa jenis makanan di RS mengan-
dung bakteri gram negatif E. coli, Staphylococcus,. Pseudo-
monas, Proteus, Klebsiella, dan jamur. Begitu pula air yang di-
sajikan untuk pasien 37,5% tidak memenuhi syarat sebagai air
minum.
Penggunaan Tutup Kepala dan Cincin
Penggunaan tutup kepalapadatenagapengolah makanan di-
maksudkan untuk mencegah jatuhnya rambut ke dalam makanan
yang sedang diolah
(1)
.
Pada waktu melakukan pengolahan makanan, sebagian
besar (65,5%) menyatakan menggunakan tutup kepala. Mereka
yang menggunakan menyebutkan penggunaan tutup kepala
tersebut untuk menghindari terkontaminasinya makanan,
sedangkan mereka yang tidak menggunakan, 1 orang (10,0%)
mengemukakan alasan karena repot, 2 (18,2%) karena panas, 3
(27,3%) karena alatnya tidak ada, 3 (27,3%) merasa rambutnya
pendek, dan 2 (18,2%) karena memang tidak langsung
menngani pengolahan makanan.
Dari keadaan di atas tampak bahwa penggunaan tutup ke-
pala bagi petugas pengolah makanan di RS belum menjadi
kebiasaan. Walaupun sebagian besar mengaku menggunakan,
tetapi dalam prakteknya banyak yang tidak digunakan, baik
karena kurang praktis, panas, atau merasa tidak perlu karena
rambutnya pendek. Selain mencegah terkontaminasinya ma-
kanan oleh rambut, yang secara aestetika sering menunjukkan
cara penanganan makanan yang kurang bersih, penggunaan
tutup kepala juga dapat mencegah rambut dan kulit kepala
petugas dari pengaruh buruk uap panas, uap lemak, dan
tepung
(4)
.
Begitu pula dari 29 orang yang diamati, terdapat 9 orang
yang menggunakan cincindi jari tangannya, 6 orang di antara-
nya tetap digunakan walaupun sedang melakukan pengolahan
makanan. Cincin di jari tangan dan jam tangan pada waktu
melakukan pekerjaan pengolahan makanan harus dilepas
(4)
.
Penggunaan barang tersebut dapat mencemari makanan.
Penggunaan cincin pada jari tangan petugas tingkat kebersihan-
nya kurang terjamin mengingat kemungkinan tersimpan
kotoran atau sisa makanan pada sela antara cincin dan jari
tangan sehingga dapat mengkontaminasi makanan.
Pembersihan Peralatan Masak/Makan
Dalam pencucian peralatan makan pasien seperti piring,
gelas, dan sendok qmumnya (82,6%) dipisah. Untuk penangan-
an peralatan makan bekas pasien penyakit menular, 42,1% di-
lakukan disinfeksi, 47,4% dengan cara direbus atau dibilas
dengan air panas, dan sisanya hanya dicuci dengan air biasa.
Untuk penanganan peralatan makan bekas pasien, sebagian besar
(89,7%) menyatakan perlu dilakukan disinfeksi. Pencucian per-
alatan bekas makan menggunakan air panas dilakukan selain
untuk membunuh bakteri, juga untuk membersihkan sisa-sisa
makanan atau lemak yang menempel.
Peralatan makanan bekas pasien sebaiknya dibersihkan di
dapur ruang perawatan, sehingga tidak tercampur dengan per-
alatan makan dari bagian lainnya, sedangkan peralatan masak
dibersihkan di dapur pusat. Hal ini dimaksudkan untuk meng-
hindari terjadinya infeksi atau penularan penyakit melalui per-
alatan makan yang sistem pencuciannya kurang memadai.
Sebagian besar dari mereka (65,5%) menyatakan apabila
dalam keadaan sakit tidak melakukan pekerjaan pengolahan
makanan atau mengirimkan makanan kepada pasien. Penye-
lenggara makanan yang menderita sakit, terutama penyakit
menular sebaiknya tidak terjun langsung menangani makanan
untuk menghindari terjadinya kontaminasi.
PENUTUP
Perhatian tenaga pengolah makanan (TPM) terhadap aspek
sanitasi dan sikapnya dalam penanganan makanan merupakan
hal yang sangat penting dalam berperilaku saniter. Perilaku
petugas pengolah makanan di RS, baik secara langsung
maupun tidak langsung dapat mempengaruhi kualitas makanan
yang dikelola.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tampaknya sikap pe-
tugas dalam cuci tangan relatif baik. Begitu pula dalam hal
pencucian peralatan makan. Akan tetapi dalam prakteknya
masih terdapat petugas yang berperilaku kurang saniter.
Untuk itu perlu adanya dukungan sarana dan prasarana
sanitasi, serta sistem pengawasan yang kontinyu dari pihak RS
sehingga upaya penyehatan makanan dapat mendukung upaya
penyembuhan dan pemulihan kesehatan.
42
Cermin Dunia Kedokteran No. 100, 1995
background image
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Ir. Ny. H. Sri Soewasti
Soesanto, MPH, Kepala Puslit Ekologi Kesehatan yang telah memberikan
kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian, serta para direktur
dan staf RS yang telah membantu kelancaran pelaksanaan penelitian.
KEPUSTAKAAN
1. Freedman B. Sanitarian's Handbook, 4th Ed. New Orleans-Lousiana: Peerles
Publ Co, 1977.
2. Departemen Kesehatan RI. Pedoman $anitasi Rumah Sakit di Indonesia.
Ditjen PPMPLP, Jakarta; 1988.
2.
Maurer IM. Hospital Hygiene, Third Ed. London: Edward Arnold Ltd,
1985.
3.
Northern Ireland Ministry of Health and Social Services; Clean Catering a
Handbook on Premises, Equipment and Practices for the Promotion, of
Hygiene in Food Establishments. London: Her Majesty's Stationery Office,
1972.
4.
Triatmodjo P. Tinjauan Mikrobiologi Makanan, Minuman, dan Air pads
Beberapa Rumah Sakit di Jakarta. Cermin Dunia Kedokt 1993; 83: 37-40.
42
Cermin Dunia Kedokteran No. 100, 1995