background image
HASIL PENELITIAN
Perbandingan Sensitifitas beberapa
Metoda Pemeriksaan Tinja Manusia
terhadap Telur Cacing Usus
Sahat Ompusunggu*, Budi**
* Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
** Akademi Analis Kesehatan Yayasan Rumah Sakit Moh. Husni Thamrin, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilakukan suatu pemeriksaan tinja dengan metoda langsung, pengapungan
dan sedimentasi yang bertujuan untuk mengetahui metoda yang paling sensitif dalam
mendeteksi adanya telur cacing. Penelitian dilakukan atas murid-murid Sekolah
Madrasah Ibtidaiyah Alhidayah Sukatani bulan Juni-Juli 1992, dengan jumlah seluruh
sampel 130.
Hasil menunjukkan bahwa metoda yang paling tinggi sensitifitasnya adalah metoda
sedimentasi, lalu metoda pengapungan dan yang paling rendah adalah metoda langsung.
Terdapat empat species cacing yang menginfeksi penderita dengan prevalensi sebesar
57,5% Ascaris lumbricoides, 42,3% Trichuris trichiura, 20,8% cacing tambang dan
3,1% Enterobius vermicularis.
PENDAHULUAN
Dalam diagnosis infeksi cacing usus secara parasitologis,
bahan yang diperiksa adalah tinja penderita. Kepekaan suatu
metoda diagnosis sangat penting tidak hanya untuk menentu-
kan ada tidaknya infeksi, namun juga untuk menguji keber-
hasilan penggunaan obat cacing yang dipakai dalam peng-
obatan.
Ada beberapa metoda pemeriksaan tinja yang sudah di-
kenal. Pemeriksaan tinja metoda langsung merupakan
metoda yang paling murah, sederhana dan cepat. Metoda ini
biasa dilakukan untuk diagnosis rutin di laboratorium klinik.
Namun kelemahannya, metoda langsung kurang sensitif
mendeteksi keberadaan telur cacing sebab volume tinja yang
diperiksa lebih sedikit sehingga terhadap tinja yang me-
ngandung sedikit telur cacing bisa memberi hasil negatif.
Metoda konsentrasi, baik sedimentasi maupun peng-
apungan lebih sensitif dibanding pemeriksaan langsung sebab
volume tinja yang diperiksa bisa lebih banyak. Dengan demi-
kian, hasil negatif dengan pemeriksaan langsung bisa menun-
jukkan hasil positif bila diperiksa dengan metoda konsentrasi.
Metoda pengapungan lebih baik daripada sedimentasi ter-
hadap telur cacing serta sediaan yang dihasilkanpun menjadi
lebih bersih, namun beberapa telur cacing yang beroperkulum,
telur Schistosoma sp. dan telur Ascaris lumbricoides yang tidak
dibuahi tidak dapat dikonsentrasikan dengan baik
(1)
.
Apabila harus dipilih salah satu dari kedua metoda
sedimentasi dan pengapungan untuk digunakan secara rutin,
maka dianjurkan agar metoda sedimentasi yang digunakan,
dengan alasan meskipun pada sediaan metoda sedimentasi
terdapat partikel-partikel tinja, namun semua protozoa, telur
dan larva yang ada akan terdeteksi dan metoda ini juga me-
rupakan metoda yang lebih kecil kemungkinannya menjadi
subjek kesalahan teknik
(2)
.
Untuk mengetahui metoda yang paling sensitif dari ketiga
metoda pemeriksaan tinja: langsung, pengapungan dan sedi-
mentasi, telah dilakukan suatu penelitian pemeriksaan tinja
dengan ketiga macam metoda tersebut pada murid-murid
Sekolah Madrasah lbtidaiyah Alhidayah Sukatani Bogor.
BAHAN DAN CARA KERJA
Survei dilakukan di Sekolah Madrasah lbtidaiyah Al-
hidayah Sukatani Bogor kelas satu sampai kelas lima dengan
jumlah 130 sampel. Survei dilakukan pada bulan Juni-Juli
1992.
Kepada murid-murid yang bersedia diperiksa tinjanya
diberikan masing-masing satu buah pot plastik untuk me-
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 37
background image
nampung tinja. Besok paginya seluruh spesimen tinja dikum-
pulkan lalu dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Institusi
Pendidikan Tenaga Kesehatan RS Moh. Husni Thamrin Jakarta
untuk diawetkan dan diperiksa.
Di laboratorium, setiap tinja diawetkan dengan 10%
formalin dengan cara mencarnpur satu bagian volume tinja
dengan satu bagian volume formalin 10%. Setiap specimen
yang sudah diawetkan diperiksa dengan 3 macam metoda pe-
meriksaan. yaitu pemeriksaan langsung, sedimentasi dan peng-
apungan. Prosedur pemeriksaan masing-masing metoda peme-
riksaan sesuai dengan prosedur standar yang sudah dikenal.
Pada metoda pemeriksaan langsung, sediaan diwarnai
dengan pewarna Lugol. Pada metoda sedimentasi, specimen
lebih dulu disaring dengan kain kasa, lalu dicuci dengan cara
mengencerkannya dengan air, dibiarkan mengendap dengan
gaya gravitasinya selama satu jam; bila perlu pencucian diulang
hingga supernatan menjadi jernih, lalu bagian endapannya
diperiksa. Pada metoda pengapungan, digunakan metoda Willis
dengan memakai larutan brine (larutan garam jenuh).
HASIL
Hasil pemeriksaan tinja yang positif telur cacing tanpa
melihat jenis cacing ususnya dapat dilihat pada Tabel 1.
Terlihat bahwa jumlah yang positif telur cacing berbeda antar
metoda pemeriksaan, dengan jumlah positif yang paling kecil
hingga yang paling besar berturut-turut adalah metoda lang-
sung, pengapungan dan sedimentasi. Dengan gabungan ketiga
metoda pemeriksaan tersebut ternyata jurnlah yang positif telur
cacing dapat ditingkatkan dari 76,1% dengan pemeriksaan
sedimentasi (jumlah yang positif paling tinggi) menjadi 77,7%.
38
Tabel 1. Distribusi tinja yang positif telur racing menurut metoda
pemeriksaan pada murid Sekolah Madrasah lbtidaiyah
Alhidayah Sukatani Bogor, 1992.
Yang positif
Metoda
Jumlah
yang
diperiksa
Jumlah Persentase
Langsung 130 72 55,4
Pengapungan 130
86 66,1
Sedimentasi 130 99 76,1
Gabungan 130 103 77,7
Perbandingan sensitifitas antara metoda langsung dengan
sedimentasi dapat dilihat pada Tabel 2. Dari 98 tinja yang
positif dengan metoda sedimentasi ternyata hanya 72 tinja yang
positif dengan metoda langsung dan dari 31 tinja yang negatif
dengan metoda sedimentasi, seluruhnya juga dinyatakan ne-
gatif dengan pemeriksaan langsung. Dengan demikian, besar-
nya sensitifitas dan spesifisitas adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Jumlah tinja yang positif menurut pemeriksaan metoda langsung
dan sedimentasi pada murid Sekolah Madrasah Ibtidaiyah
Alhidayah Sukatani Bogor, 1992.
Metoda sedimentasi
Metoda langsung
Positif Negatif
Positif
Negatif
72
26
0
31
Jumlah 98
31
Perbandingan sensitifitas antara metoda langsung dengan
metoda pengapungan dapat dilihat pada Tabel 3. Dari 96 tinja
yang positif dengan metoda pengapungan sensitifitas antara
metoda langsung dengan metoda pengapungan dapat dilihat
pada Tabel 3. Dari 86 tinja yang positif dengan metoda peng-
apungan ternyata hanya70 tinja yang positif dengan metoda
langsung dari 41 tinja yang negatif dengan metoda sedimentasi,
hanya 36 tinja yang dinyatakan negatif dengan pemeriksaan
langsung. Dengan demikian, besarnya sensitifitas dan spe-
sifisitas pemeriksaan metoda langsung terhadap metoda sedi-
mentasi adalah sebagai berikut :
Positif
Sejati
Sensitifitas =
x 100%
Positif Sejati + Negatif Palsu
70
=
x 100% = 81,4%
70 + 16
Negatif
Sejati
Spesifisitas =
x 100%
Negatif Sejati + Positif Palsu
38
=
x 100% = 92,7%
38 + 3
Tabel 3. Jumlah tinja yang positif menurut pemeriksaan metoda langsung
dan flotasi pada murid Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Alhidayah
Sukatani Bogor, 1992.
Metoda sedimentasi
Metoda langsung
Positif Negatif
Positif
Negatif
70
16
3
38
Jumlah 86
41
Positif
Sejati
Sensitifitas =
x 100%
Positif Sejati + Negatif Palsu
84
=
x 100% = 85,7%
84 + 14
Negatif
Sejati
Spesifisitas =
x 100%
Negatif Sejati + Positif Palsu
28
=
x 100% = 92,7%
28 + 2
Perbandingan sensitifitas antara metode pengapungan
dengan metoda sedimentasi dapat dilihat pada Tabel 4. Dari 98
tinja yang positif dengan metoda sedimentasi ternyata hanya 84
tinja yang positif dengan metoda pengapungan dan dari 30 tinja
yang negatif dengan metoda sedimentasi, hanya 28 tinja yang
di nyatakan negatif dengan pemeriksaan pengapungan. Dengan
demikian, besarnya sensitifitas dan spesifisitas pemeriksaan
metoda pengapungan terhadap metoda sedimentasi adalah :
Tabe14. Jumlah tinja yang positif menurut pemeriksaan metoda langsung
dan sedimentasi dan flotasi pada murid Sekolah Madrasah
Ibtidaiyah Alhidayah Sukatani Bogor, 1992.
Metoda sedimentasi
Metoda pengapungan
Positif Negatif
Positif
Negatif
84
14
2
28
Jumlah 98
30
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
background image
Distribusi sampel yang positif telur cacing menurut jenis
cacingnya dapat dilihat dalam Tabel 5. Ternyata persentase
paling tinggi adalah Ascaris lumbricoides dan terendah adalah
Enterobius vermicularis.
Tabel 5. Distribusi sampel yang positif telur cacing menurut species
cacingnya pada murid Sekolah Madrasah Ibtidaiyah Alhidayah
Sukatani Bogor, 1992.
Yang positif
Jenis cacing
Jumlah yang
diperiksa
Positif Negatif
Ascaris lumbricoides
130 75
57,7
Trichuris trichiura
130 55
42,3
Cacing tambang
130
27
20,8
Enterobius vermicularis
130 4 3,1
Hasil masing-muasing metoda pemeriksaan terhadap
masing-masing species cacing dapat dilihat pada Tabel 6.
Ternyata jumlah spesimen yang positif telur cacing selalu
tertinggi dengan metoda sedimentasi dan terendah dengan
metoda langsung pada masing-masing species cacing yang
ditemukan.
Tabel 6. Jumlah spesimen yang positif telur cacing menurut metoda
pemeriksaan dan species cacing pada murid Sekolah Madrasah
Ibtidaiyah Alhidayah Sukatani Bogor, 1992.
Jumlah dan persentase yang positif
Species cacing
Gabungan* Sedimentasi Flotasi Langsung
Ascaris lumbricoides
75
(100)
(a)
75
(100)
61
(81,3)
58
(77,3)
Trichuris trichiura
55
(100)
55
(100)
32
(58,2)
23
(41,0)
Cacing tambang
55
(100)
55
(100)
32
(100)
23
(66,7)
Enterobius vermicularis
3 3
1
1
* Gabungan (kombinasi) hasil pemeriksaan ketiga metoda;
(a)
Persen terhadap
gabungan.
Distribusi penderita menurut jumlah jenis cacing yang
dikandungnya dapat dilihat pada Tabel 7. Ternyata bahwa
meskipun sebagian besar (42,6%) penderita hanya mengandung
satu jenis cacing namun ada juga yang mengandung tiga jenis
cacing (15,8%).
Tabel 7. Distribusi penderita cacingan menurut banyaknya jenis cacing
yang dikandungnya pada murid Sekolah Madrasah Ibtidaiyah
Alhidayah Sukatani Bogor, 1992.
Banyaknya jenis cacing
Jumlah penderita
Persentase penderita
Satu jenis
45
43,7
Dua jenis
42
40,8
Tiga jenis
16
15,5
Jumlah 103
100
PEMBAHASAN
Hasil diagnosis yang positif dalam pemeriksaan parasito-
logis memberi gambaran yang pasti bahwa sedang terjadi
infeksi yang aktif (kecuali parasit spuriosa). Dalam hal pe-
meriksaan infeksi cacingan, adanya telur cacing dalam tinja
seseorang berarti terdapat cacing dewasa dalam ususnya yang
selanjutnya memerlukan pengobatan.
Bila sensitifitas ketiga metoda pemeriksaan tersebut di-
bandingkan secara keseluruhan (tabel 1) maupun secara
sendiri-sendiri (tabel 2, tabel 3, dan tabel 4), ternyata metoda
yang paling sensitif mendeteksi adanya telur cacing dalam tinja
adalah metoda sedimentasi, disusul dengan metoda langsung.
Hal ini bisa dijelaskan karena faktor banyaknya volume tinja
yang diperiksa. Dari ketiga metoda tersebut, volume paling
kecil tinja yang diperiksa adalah metoda langsung sehingga
tentu saja kemungkinan menemukan adanya telur cacing adalah
lebih kecil. Banyaknya tinja yang diperiksa dalam pemeriksaan
konsentrasi adalah 1 gram sedangkan dalam metoda langsung
hanya beberapa miligram saja
(3)
. Memang cara konsentrasi
biasanya dilakukan bila hasil pemeriksaan cara langsung me-
nunjukkan hasil negatif, sebab parasit lebih mudah ditemukan
dengan metoda konsentrasi
(4)
. Metoda sedimentasi mempunyai
kelebihan dengan metoda konsentrasi lain, misalnya dengan
metoda pengapungan, sebab telur-telur cacing tetap utuh dan
tidak terdistorsi mengendap di dasar lubang
(5)
.
Meskipun pemeriksaan metoda langsung kurang sensitif,
namun umumnya paling populer karena lebih sederhana dan
lebih cepat. Untuk suatu survai di masyarakat yang jumlah
spesimennya sangat banyak dan tujuan survei hanya untuk
mengetahui hasil kualitatif saja, memang metoda langsung
merupakan pilihan utama. Akan tetapi di rumah-rumah sakit
dan laboratorium klinik yang jumlah spesimen yang akan
diperiksa hanya sedikit dan biasanya bertujuan untuk men-
diagnosis penyakit pasien secara pasti, maka pilihannya harus
cara konsentrasi, apalagi bila hasil pemeriksaan metoda
langsung memberi hasil negatif. Hal ini penting mengingat
bahwa pengobatan pasien tergantung pada diagnosis.
Ternyata urutan sensitifitas ketiga metoda pemeriksaan
tersebut tidak berubah pada masing-masing species cacing
yang ditemukan. Dalam tabel 6 terlihat bahwa baik pada
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, cacing tambang
maupun pada Enterobius vermicularis, metoda sedimentasi
tetap sebagai metoda yang paling sensitif. Bahwa Ascaris
lumbricoides merupakan jenis cacing yang paling banyak
penderitanya (tabel 5 dan tabel 6) sesuai dengan keadaan yang
umum ditemukan di Indonesia. Telah banyak survei yang
menunjukkan bahwa jenis cacing ini selalu menempati urutan
tertinggi sebagai penyebab infeksi cacing usus. Adapun
Enterobius vermicularis sangat kecil angka infeksinya diban-
dingkan dengan ketiga jenis cacing lainnya, bisa dijelaskan
karena kebiasaan bertelur cacing ini bukan di usus melainkan
di kulit anus. Untuk mendiagnosis enterobiasis biasanya di-
gunakan alat apus anus dan bahan pemeriksaan yang diperiksa
bukan tinja.
Dalam tabel 7 diperlihatkan bahwa sebagian kecil pen-
derita mengandung lebih dari satu jenis cacing usus, yang
berarti bahwa infeksi pada penderita-penderita tersebut ke-
mungkinan terjadi tidak hanya dengan menelan telur cacing
(pada Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Enterobius
vermicularis) akan tetapi juga melalui penembusan kulit oleh
larva filariform (pada cacing tambang).
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999 39
background image
KESIMPULAN
KEPUSTAKAAN
1.
Brown HW. Dasar Parasitologi Klinis. Diterjemahkan oleh Wita Pribadi
(Ed). Edisi ketiga, Jakarta : PT. Gramedia, 1983 ; 507.
1. Di antara tiga macam metoda pemeriksaan tinja yang
diamati, metoda yang paling tinggi sensitifitasnya adalah meto-
da sedimentasi, lalu metoda pengapungan dan yang paling
rendah adalah metoda langsung.
2.
Adnan TR. Perbandingan Sensitifitas Beberapa Metoda Diagnosa Telur
Cacing Parasit terhadap Berbagai Jenis Telur Parasit Pada Tinja Manusia.
Laporan penelitian, 1988
3. World Health Organization. Basic Laboratory Methods in Medical
Parasitology. Geneva : World Health Organization, 1991 ; 16.
2. Terdapat empat jenis racing usus, (Ascaris lumbricoides,
Trichuris trichiura, cacing tambang dan Enterobius vermi-
cularis) yang menginfeksi murid-murid Sekolah Madrasah
Ibtidaiyah Alhidayah Sukatani Bogor dengan prevalensi
berturut-turut untuk masing-masing species tersebut sebesar
57,7%, 42,3%, 20,8% dun 3,1%.
4. King M. A Medical Laboratory for Developing Countries. London:
Oxford University Press, 1913.
5.
Faust EC, Russell PF. Jung RC. Craig and Faust's Clinical Parasitology.
Eighth ed. Philadelphia : Lea and Febiger. 1970 ; 787.
Suatu kasus pertama kali
di dunia, di pantai Queensland, Australia ......
Melalui cakaran kalong --- kuman
liza virus
menularkan penyakit ke otak manusia !
Cermin Dunia Kedokteran No. 124, 1999
40