HASIL PENELITIAN
Pengobatan
Infeksi Saluran Napas Bawah
dengan Cefixime
Hadiarto Mangunnegoro*, Priyanti Zuswayudha*, Menaldi Rasmin*, Wibowo Suryatenggara*,
Soeharto**, Usman Chatib Warsa**
* Bagian Pulmonologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/UPF Paru RSUP Persahabatan, Jakarta
** Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
ABSTRAK
Telah dilaporkan hasil pengobatan 44 orang penderita infeksi saluran napas bagian
bawah yang diobati dengan cefixime. Penderita terdiri dan 21 orang dengan bronkiektasis
terinfeksi, 15 orang dengan pneumonia, 6 orang dengan pleuropneumonia, 1 orang de-
ngan eksaserbasi akut bronkitis kronik dan 1 orang dengan abses paru. Cefixime diberikan
per oral 200-400 mg/hari. Lama pengobatan 5-14 hari. Efektivitas pengobatan secara
keseluruhan didapatkan sebesar 90,9%, yaitu sembuh 6 1,4% dan perbaikan sebesar
29,5% sedangkan yang gagal sebesar 9,1%. Hasil terbaik dijumpai pada penderita dengan
pneumonia yaitu semuanya sembuh (100%). Sedangkan hasil pada penderita bronkiekta-
sis terinfeksi masih cukup baik yaitu sebesar 80,8%. Tidak didapatkan efek samping pada
penelitian ini.
PENDAHULUAN
Penyakit infeksi masih merupakan masalah utama di negara
berkembang seperti Indonesia. Survai Kesehatan Rumah Tangga
1986 yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan Indonesia
mendapatkan bahwa infeksi saluran napas bagian bawah me-
rupakan penyebab kematian nomor satu
(1)
. Melihat data ini jelas
bahwa infeksi saluran napas bagian bawah perlu mendapatkan
perhatian yang serius dalam penanganannya. Antibiotika go-
longan penisilin paling sering digunakan untuk mengatasi infeksi
ini, tetapi banyak laporan yang menyatakan bahwa saat ini
banyak kuman membentuk ensim beta-laktamase yang meng-
inaktifkan antibiotika golongan penisilin
(2-5)
. Pilihan lainnya
adalah antibiotika golongan sefalosporin. Para ahli terus
meningkatkan kemampuan antibiotika golongan sefalosporin
ini. Dikenal sefalosporin generasi pertama, kedua, dan ketiga.
Kebanyakan sefalosporin generasi ketiga tersedia dalam bentuk
injeksi. Cefixime adalah sefalosporin generasi ketiga yang dapat
diberikan secara oral. Obat ini mempunyai spektrum luas secara
invitro, aktif terhadap kuman Enterobacteriaceae, Haemophilus
influenzae, Streptococcus pyogenes, Streptococcus pneumoniae,
Branhamella catarrhalis, dan resisten terhadap hidrolisis ensim
beta-laktamase. Cefixime kurang aktif terhadap Staphylococcus
aureus dan Pseudomonas aeruginosa
(5)
.
Untuk menilai keampuhan obat ini maka di RSUP Persa-
habatan telah dilakukan penelitian terhadap obat ini pada pen-
derita infeksi saluran napas bagian bawah non tuberkulosis
yang dirawat di UPF Paru.
PENDERITA DAN CARA KERJA
Penderita yang diikut sertakan dalam penelitian ini adalah
penderita infeksi saluran napas bagian bawah non-tuberkulosis
yang dirawat di UPF Paru meliputi penderita pneumonia, bron-
kiektasis terinfeksi, abses paru, eksaserbasi akut bronkhitis
kronik. Keadaan penderita tidak terlalu buruk, hingga dapat me-
minum obat, dan dapat dilakukan tindakan bronkoskopi untuk
pengambilan bahan pemeriksaan mikroorganisme. Penderita ber-
sedia ikut dalam penelitian baik secara lisan atau tertulis.
Penderita yang tidak dimasukkan dalam penelitian:
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
40
1. Penderita alergi terhadap sefalosporin atau penisilin
2. Penderita dengan BTA positip
3. Wanita hamil atau menyusui
4. Penderita dengan infeksi di tempat lain yang Lebih aktif
dan tempat yang ditargetkan
5. Penderita diabetes mellitus
6. Peñderita kanker
7. Penderita dengan kelainan hati, jantung atau ginjal berat
8. Penderita yang sebelum pengobatan telah diketahui resisten
terhadap cefixime.
Penderita yang dalam perjalanan penelitian dikeluarkan:
1. Penderita yang selanjutnya ditemukan hasil tahan asam
2. Penderita yang tidak menyelesaikan pengobatan dan/atau
menghentikan pengobatan sebelum waktunya.
CARA KERJA
Pada setiap penderita infeksi saluran napas bagian bawah
yang dirawat di UPF Paru RSUP Persahabatan dilakukan anam-
nesis dan pemeriksaan fisik yang teliti. Selain itu dibuat foto
toraks dan pemeriksaan laboratorium yang meliputi pemeriksa-
an Hb, lekosit, hitung jenis lekosit, laju endap darah, eritrosit,
hematoldit, trombosit, waktu pembekuan, waktu perdarahan,
ureum, kreatinin, SGOT, SGPT, bilirubin total, glukosa darah,
urin lengkap, sputum BTA 3 hari berturut-turut. Bahan dari
saluran napas bagian bawah diambil dengan sikat bronkus ter-
lindung ganda melalui bronkoskop serat optik lentur. Lokasi
pengambilan sesuai dengan lesi yang terlihat pada foto toraks.
Sikat bronkus yang telah digunakan ini langsung dimasukkan
ke dalam medium BHI dengan cara memotong sikat tersebut.
Medium yang berisi sikat ini langsung dikirim ke Bagian
Mikrobiologi FKUI untuk pemeriksaan kultur dan resistensi.
Pengobatan dengan cefixime diberikan segera setelah di
lakukan bronkoskopi. Dosis obat berkisar antara 200 400 mg
tiap hari diberikan dalam dua kali pemberian. Lama
pengobatan berkisar antara 5 15 hari.
Evaluasi penderita dilakukan setiap hari meliputi
pemeriksaan fisik, frekuensi nadi, napas, suhu ketiak, jumlah
sputum, dan efek samping obat. Pemeriksaan laboratorium
diulang pada akhir pengobatan. Foto toraks diulang pada
pertengahan dan akhir pengobatan.
PENILAIAN HASIL PENGOBATAN
Hasil pengobatan dinilai dan respons klinik dan gambaran
radiologik.
1) Sembuh: Bila tidak ada lagi gejala klinik dan tanda infeksi
serta gambaran radiologik menunjukkan perbaikan nyata atau
tidak tampak kelainan lagi.
2) Perbaikan : Gejala klinik dan tanda infeksi menunjukkan
perbaikan pada akhir pengobatan tetapi tidak seluruhnya meng-
hilang. Gambanan radiologik menunjukkan perbaikan.
3) Gagal : Gejala klinik dan tanda infeksi saluran napas me-
netap atau membumk pada akhir pengobatan atau setelah tiga
hari pengobatan. Gambaran radiologik tidak menunjukkan per-
baikan atau malah terjadi perburukan.
HASIL
Sejak bulan Juni 1992 s/d Mei 1993 telah dilakukan
penelitian pada 51 orang penderita infeksi saluran napas bagian
bawah. Tujuh orang penderita dikeluarkan karena kemudian
ternyata menderita tuberkulosis. Jumlah penderita yang dapat
dievaluasi berjumlah 44 orang penderita terdiri dan 24 laki-laki
dan 20 orang perempuan dengan umur rata-rata 39.1 tahun.
Umur penderita berkisan antara 13 17 tahun. Dan 44 orang
yang dapat di evaluasi, seorang penderita hanya minum obat
selama 4 hari karena penderita keluar dan rumah sakit, tetapi
waktu kontrol di poliklinik pada hari ke-14 hasilnya baik.
Tabel 1. Diagnosis Penderita
Jenis kelamin
Diagnosis
Laki-laki Perempuan
Jumlah
Bronkiektasis terinfeksi
Pneumonia
Pleuro-pneumonia
Eksaserbasi akut bronkitis kronik
Abses paru
12
6
5
1
9
9
1
1
21
15
6
1
1
Total 24
20
44
Pengamatan data klinik
Suhu tubuh
Pada 13 orang penderita suhu tubuh sebelum pengobatan
kurang dari 3 7°C. Pada 29 orang penderita suhu di atas 37°C
dan turun di bawah 37°C setelah pengobatan. Penurunan suhu
rata-rata hari ke 4.73. Pada dua orang penderita suhu tetap di
atas 37°C.
Hitung lekosit
Pada 30 orang penderita hitung lekosit menjadi normal se-
telah pengobatan. Pada 14 orang penderita hitung lekosit tidak
menurun tetapi pada 8 orang penderita diantaranya hitung
lekosit masih dalam batas normal.
Jumlah riak
Pada 21 orang penderita bronkiektasis infeksi, terjadi
penurunan jumlah nak pada 19 orang penderita tetapi secara
statistik tidak bermakna. Pada 2 orang penderitajumlah riaknya
tidak berkurang.
Hasil kultur sikatan bronkus
Yang terbanyak adalah P. aeruginosa (tabel 2). Hasil kultur
sikatan bronkus positip didapatkan kuman pada 20 orang.
Respon klinik
Respon klinik pada penelitian ini adalah 27 orang sembuh
(61,4%), perbaikan 13 orang (29,5%) dan gagal 4 orang (9,1%).
Efektivitas pengobatan yaitu yang sembuh dan mengalami per-
baikan adalah 40 orang atau sebesan 90,9% (tabel 3).
Lama pengobatan
Lama pengobatan rata-rata pada keseluruhan penderita
9.66 hari. Lama pengobatan pada penderita bronkiektasis
terinfeksi 10.25 hari, pada penderita pneumonia 8.4 hari,
penderita pleuropneumonia 11.4 hari.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 41
Tabel 2. Hasil Kultur Sikatan Bronkus
Mikroorganisme
Jumlah galur
Tes resistensi
P. aeruginosa
P. pseudomalei
S. a1fa hemolitjkus
S. epidermidis
P. stutzeri
P. putida
P. fluorescens
A. antiratus
A. caviae
P. mirabilis
K. pneumoniae
Moraxella sp
S. marcescens
4
3
2
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2S
1S
2S
1S
1S
1S
-
1S
1S
1S
-
-
-
2R
2R
-
1R
-
-
1R
-
-
-
1R
1R
1R
Jumlah 20
11S
9R
Keterangan :
S = Sensitif; R = Resisten
Tabel 3. Respon Klinik Pengobatan Cefixime Berdasarkan Jenis Pe-
nyakit
Diagnosis Sembuh
Perbaikan
Gagal
Jumlah
Bronkiektasis terinfeksi
Pneumonia
Pleuro-pneumonia
AbsesParu
Eksaserbasi akut bronkitis
7
15
5
10
1
1
1
4
21
15
6
1
1
Total 27
13
4
44
Efek samping pengobatan
Pada semua penderita tidak ditemukan efek samping.
DISKUSI
Hasil penelitian pengobatan infeksi saluran napas bagian
bawah dengan cefixime di RSUP Persahabatan menunjukkan
efektivitas sebesar 90.9%. Hasil ini sesuai dengan hasil pene-
litian Wang yang mendapatkan keberhasilan klinik sebesar 90%
pada 20 orang penderita infeksi akut saluran napas bagian bawah
yang diobati dengan cefixime. Kegagalan didapatkan pada 2
orang penderita, seorang dengan infeksi kuman Pseudomonas
aeruginosa dan seorang lagi penderita abses paru dengan kuman
penyébab Step tococcus viridans dan Bacteroides
(7)
. Tay Luh
(8)
mendapatkan angka keberhasilan klinik pengobatan dengan
cefixime pada penderita pneumonia sebesar 81.8%, penderita
bronkiektasis sebesar 94,1%, dan penderita bronkitis kronik
sebesar 88,9%. Penelitian di RSUP Persahabatan menunjukkan
hasil yang baik sekali pada penderita pneumonia yaitu 100%
sembuh, sedangkan pada penderita bronkiektasis terinfeksi efek-
tifitas hanya sebesar 80,9%. Hal ini dapat dimaklumi karena
pada penderita bronkiektasis terinfeksi sudah terjadi infeksi
yang berulang dan penderita sering mendapat macam-macam
antibiotika sebelumnya. Seringkali dijumpai infeksi yang di-
sebabkan oleh kuman golongan Pseudomonas. Pada penelitian
ini dijumpai infeksi oleh Pseudomonas aeruginosa pada 4 orang
penderita, sedangkan infeksi 3 Pseudomonas spesies lainnya
dijumpai pada 6 orang penderita.
Pada penelitian ini dijumpai 9 galur kuman yang resisten
sedangkan kegagalan klinis hanya pada 4 orang penderita. Hal
ini menunjukkan bahwa tidak selalu hasil pemeriksaan labora-
torium sesuai dengan hasil yang diperoleh di klinik, karena
kriteria resisten di laboratorium didasarkan pada konsentrasi
tertentu dan antibiotik tersebut, sedangkan dapat terjadi bahwa
kadar antibiotik di jaringan yang sakitjauh melebihi konsentrasi
yang dianggap resisten di laboratorium. Hal ini dapat mene-
rangkan mengapa tetap didapatkan hasil klinis yang baik walau
pun secara laboratorik dikatakan kuman resisten. Limson men-
dapatkan keberhasilan sebesar 86.6% pada penderita infeksi sa-
luran napas bagian bawah yang disebabkan oleh infeksi kuman
gram negatip yang diobati dengan cefixime
(9)
. Kwak
(10)
yang
meneliti hasil pengobatan infeksi saluran napas bagian bawah
pada 95 orang anak dengan cefixime mendapatkan hasil sebesar
85.3%, sedangkan efek samping yang didapatkan adalah diare
ringan pada 10 orang (10,5%) muntah pada 4 orang anak
(4,2%), dan kelainan fungsi hati pada seorang anak (12%); Tay
Luh mendapatkan efek samping nyeri epigastrium dan
kemerahan pada kulit sebesar 6.5%. Limson tidak mendapatkan
efek samping pada 30 orang penderita yang ditelitinya.
Pada penelitian di RSUP Persahabatan juga tidak didapatkan
efek samping cefixime. Dan penelitian tersebut terlihat bahwa
cefixime sangat baik untuk penderita pneumonia, juga baik untuk
penderita bronkiektasis terinfeksi. Keuntungan lain dari cefixime
adalah bahwa obat ini diberikan per oral hingga penderita tidak
perlu dirawat; oleh karena itu biaya pengobatan dapat ditekan.
RINGKASAN DAN KESIMPULAN
Telah dilaporkan hasil pengobatan 44 orang penderita in-
feksi saluran napas bagian bawah yang diobati dengan cefixime.
Penderita terdiri dan 21 orang dengan bronkiektasis terinfeksi,
15 orang dengan pneumonia, 6 orang dengan pleuro-pneumonia,
1 orang dengan eksaserbasi akut bronkitis kronik dan 1 orang
dengan abses paru. Efektifitas pengobatan secara keseluruhan
didapatkan sebesar 90,9%, yaitu sembuh 61,4% dan perbaikan
sebesar 29,5% sedangkan yang gagal sebesar 9,1%. Hasil terbaik
dijumpai pada penderita dengan pneumonia yaitu semuanya
sembuh (100%), sedangkan hasil pada penderita bronkiektasis
terinfeksi masih cukup baik yaitu sebesar 80.9%. Tidak di-
dapatkan efek samping pada penelitian ini. Dan penelitian ini
dapat disimpulkan bahwa cefixime sangat baik untuk meng-
atasi penderita pneumonia, cara pemberian mudah karena dapat
diberikan per oral, tidak ada efek samping dan biaya peng-
obatan dapat ditekan karena penderita dapat berobat jalan.
KEPUSTAKAAN
1. Budiarso LR, Bakri Z, Soesanto SS et al. Survai kesehatan rumah tangga.
Badan Litbangkes Jakarta, 1986.
2. Sirot D, Sirot J, Saulnier Petal. Resistance to betalactams in Enterobacte-
riaceac: Distribution of phenotypes related to beta-laktamase production. J
Int Med Res 1986; 14: 1939.
3. Gillespie MT, May JW, Sukray RA. Antibiotic resistance in Staphylo-
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995
42
coccus aureus isolated at an Australian hospital between 1946 and 1981. J
Med Microbiol 1985; 19: 13747.
7. Wang FD, Liu CY, Hu BS. Cefixime in the treatment of acute lower
respiratory tract and urinary infections. Drug Invest 1992; 4: 349.
4. Syriopoulou V, Scheifele D. Smith AL, Perry PM, Howie V. Increasing
incidence of ampicillin resistance in Haemophilus influenzae. J. Pediatr.
1979; 33: 6357.
8. Tay Luh K. Efficacy and safety of cefixime in the treatment of lower
respiratory tract infections: Experience in Taiwan. Third Western Pacific
Congress on Chemotherapy and Infectious Diseases, Bali 1992.
5. Slocombe B. Beta-lactamases: Occurence and classification. In: Rollinson
ON, Watson A. eds. Augmentin clavulanate-potentiated amoxycillin.
Amsterdam: Exerpta Medica 1980 : 817.
9. Limson BM, Go VM. Oral cefixime therapy of gram negative lower
respiratory tract infections. Third Western Pacific Congress on Chemo-
therapy and Infectious Diseases, Bali 1992.
6. Brogden RN, Richard DMC. Cefixime are viewed of its antibacterial
activity. Pharmacokinetic properties and therapeutic potential. Drugs 1989;
38: 52450.
10. Kwak H, Choi SH, Yoo KH, Tackgo YC. Clinical evaluation of cefixime
(Suprax®) in pediatric respiratory tract infections. Third Western Pacific
Congress on Chemotherapy and Infectious Diseases, Bali 1992.
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 43