background image
HASIL PENELITIAN
Pengaruh Residu Pyripropoxyfen 0,5%
terhadap Pertumbuhan
Larva Aedes aegypti pada Berbagai
Simulasi Wadah Air
Amrul Munif
Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Pemberantasan Aedes aegypti sebagai vektor utama demam
berdarah dapat dilakukan dengan herbagai metode di antaranya
dengan sanitasi lingkungan, yang bertujuan untuk mengurangi
habitat larva (source reduction), pemberantasan dengan meng-
gunakan insektisida baik ditujukan pada dewasa maupun larva.
Pemberantasan dengan menggunakan insektisida mula-mula di-
lakukan di Amerika dan insektisida yang digunakan dan golong-
an hidrokarbon berklor yaitu dikloro difenil trikloroetana (DDT)
dan terbukti hasilnya baik. Selain itu digunakan pula senyawa
golongan fosfor organik yaitu temephos.
Sejak tahun 1973 di Indonesia penggunaan temephos dalam
usaha pemberantasan vektor demam berdarah telah dilaksanakan
secara luas khususnya di daerah-daerah yang terjangkit demam
berdarah. Suroso (1983) menerangkan bahwa sampai saat ini
temephos masih efektif dalam pemberantasan larva Ae. aegypti
di tempat-tempat penampungan air penduduk. Hal ini dilakukan
untuk mencegah penularan penyakit demam berdarah dan dilak-
sanakan oleh masyarakat secara serentak dan sering kegiatan ini
disebut Abatisasi masal. Cara pemberantasannya adalah dengan
membubuhkan temephos 1 % butiran pada semua tempat pe-
nampungan air sepefti bak mandi, tempayan, drum dan plastik.
Takaran yang dianjurkan adalah 1 gram bahan aktif per 10 liter
air. Apabila tempat penampungan air tersebut tidak digosok pada
saat menguras, efektifitas residu temephos berlangsung tiga
bulan. Akan tetapi kalau selama tiga bulan tidak dikuras, air akan
menjadi kotor dan berbau. Telah dilaporkan oleh WHO (1978)
bahwa di Karibia dan daerah sekitarnya larva Ae. aegypti telah
ABSTRAK
Pengujian Pyriproxyfen 0,5% (Adeal 0,5 G) sebagai zat pengatur pertumbuhan
serangga telah dilakukan terhadap larva Ae. aegypti pada berbagai macam wadah air di
antaranya bejana kaca, drum, tempayan, plastik dan semen. Umumnya wadah ini terdapat
di pemukiman sebagai tempat penampungan air yang dapat berfungsi sebagai tempat
perkembangbiakan larva Ae. aegypti. Pemberian pyriproxyfen dilakukan pada setiap
wadah terisi 500 ml air dengan pengurangan konsentrasi setiap harinya 25% dan isi dan
penambahan air baru. Konsentrasi yang diberikan terdiri dari 0,01; 0,02; 0,03 dan 0,04
ppm pada setiap wadah dengan masing-masing wadah diulang 4 kali. Rancangan yang
digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan faktorial; menunjukkan umur residu
pyriproxyfen yang berbeda nyata (p = 0,05). Pada wadah air yang terbuat dari bahan semen
umur residu pyriproxyfen akan lebih lama dibandingkan wadah air yang terbuat dari
bahan tanah (tempayan), logam, plastik dan kaca.
Telah disajikan dalam Seminar Parasitologi VIII di Denpasar, Bali, 23­25
Agustus 1993
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
42
background image
resisten terhadap malathion, fenitrothion, fenthion dan temephos
yang digunakan dalam usaha pemberantasan penyakit demam
berdarah secara luas sejak tahun 1973.
Pemberantasan menggunakan zat kimia banyak menimbul-
kan masalah seperti yang telah disebut di atas yaitu meningkatnya
resistensi, pencemaran lingkungan, keracunan, kematian hewan
bukan sasaran dan residu Mengingat hambatan-hambatan dalam
penggunaan insektisida, sedangkan masyarakat mengalami ke-
sulitan dalam penyediaan air bersih, maka untuk menanggulangi
larva Ae. aegypti perlu mencari alternatif lain. Salah satu alter-
natif adalah penggunaan zat pengatur pertumbuhan serangga
(IGR) yang tidak mempengaruhi kebersihan air, aman dan tidak
meningkatkan resistensi.
Pengatur pertumbuhan serangga (IGR) ini terbagi dalam
tiga katagori di antaranya Juvenile Hormone Mimics
(Methoprene); Chitin Synthesis Inhibitor (Diflubenzuron) dan
Anti Juvenile Hormon Mimics. Juvenile Hormon Mimics me-
rupakan agen pengendali serangga yang paling spesifik, karena
ditujukan hanya pada serangga yang mempunyai sifat metamor-
phosis sempurna. Dari tiga jenis hormon ini dua di antaranya
telah diuji cobakan pada larva Cx. p. quinquefasciatus di selokan
yang terletak pada pemukiman penduduk
(4)
.
BAHAN DAN CARA
Adeal 0,5 G merupakan larvasida yang mengandung hormon
penghambat pertumbuhan serangga, berbentuk butiran yang
dapat larut di dalam air dengan bahan aktif Pyriproxyfen 0,5%,
diperoleh dan PT Indargo. Dosis yang digunakan dalam peneliti-
an ini adalah 0,01; 0,02; 0,03 dan 0,04 ppm. Wadah air yang di-
gunakan yang umum ditemukan di pemukiman masyarakat yaitu
dan bahan tanah (tempayan), bak semen, logam, plastik, dan
kaca dengan masing-masing 4 ulangan. Setiap wadah diisi air
sebanyak 500 mililiter, kemudian ke dalamnya dilarutkan Adeal
0,5 G dengan dosis tersebut di atas. Setiap wadah diisi dengan 25
larva nyamuk Ae. aegypti instar III dan IV demikian juga bak
kontrol diisikan larva tanpa pemberian larvasida.
Pengujian dilakukan setiap satu minggu pada hari yang
sama. Sebanyak 125 ml (25%) air pada setiap wadah diganti
setiap hari. Air pengganti diambil dari air kran yang telah di-
endapkan selama 24 jam. Pengamatan pertumbuhan larva nyamuk
pada setiap dosis dan macam penampungan air diamati sampai
menjadi pupa (kepompong). Pupa yang terbentuk diambil, di-
pindahkan ke dalam paper cup ditutup dengan kain kasa dan di
atasnya diberi kapas berair gula. Dilakukan juga pengamatan
perkembangan pupa menjadi bentuk dewasa. Dihitung dan di-
catat jumlah pupa mati (PM), jumlah dewasa mati (DM) dan
jumlah dewasa hidup (DH). Larva nyamuk Ae. aegypti yang diuji
berasal dari pembiakan di laboratorium dan yang digunakan
larva umur 4 hari.
Data yang diperoleh dianalisis menggunakan rancangan
faktonial, bila ada perbedaan dianalisis dengan beda nyata ter-
kecil (BNT), sehingga akan diperoleh efektifitas dari setiap
wadah air. Persentase efikasi larvasida untuk masing-masing
ulangan pada setiap perlakuan per siklus (satu minggu) dihitung
dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
100%
X
DH
DM
PM
DM
PM
%efikasi
+
+
+
=
Keterangan:
PM ada pupa mati
DM adalah jumlah dewasa mati
DH adalah jumlah dewasa hidup
Selanjutnya efikasi masing-masing perlakuan setiap siklus
(satu minggu) diperoleh dari jumlah persen efikasi masing-ma-
sing ulangan dibagi empat. Persistensi efikasi larvasida Adeal
0,5 G, dilihat dan persentase efikasi perlakuan dari hasil peng-
amatan persentase efikasi per siklus (1 minggu). Analisis regresi
digunakan untuk mendapatkan waktu penghambatan 95% dan
50% pada setiap wadah air.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian ini ternyata larvasida mampu mem-
bunuh pupa Ae. aegypti dan dosis paling rendah yaitu 0,01 ppm
bahan aktif pyripoxyfen 0,5% pada berbagai wadah air, me-
nunjukkan persentase efikasi yang berbeda nyata (p = 0,05).
Persentase efikasi mulai dan minggu pertama sampai minggu
ke 18 menunjukkan kemampuan daya menghambat 100% per-
tumbuhan pradewasa paling lama pada wadah air yang terbuat
dan bak semen mencapai 13 minggu (Tabel 1). Kemudian rata-
rata efikasi terendah ditemukan penghambatan 60% pertum-
buhan pada minggu ke 18.
Tabel 1. Persentase efikasi rata-rata dan persistensi Pyriproxyfen 0,5%
(Adeal
0,5
G)
dengan
dosis
0,01 ppm bahan aktif terhadap larva
Ae. aegypti pada berbagal macam wadah air
Persentase efikasi rata-rata dan persistensi pada
Pengamatan
minggu ke
Plastik Drum
Tempayan Bak
semen
Kaca
I
II
III
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
XVII
XVIII
100
100
100
100
100
99
99,6
98
96
88
87
82,5
78
75,5
70
66
60,5
45
100
100
100
100
100
95
85
88
89
84
77
76
72
70
60
58
51
39
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
90
100
89
8
85
83
92
55
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
98
95
88,5
81
60
100
100
99
100
100
100
89
87
76
69
64
78
81
56
46
48
43
34
Rata-rata 85,84
a
80,2
a
93,4
b
95,7
b
76,11
a
Keterangan:
1) Pada kolom rata-rata, angka-angka yang bertanda huruf tidak sama
berbeda sangat nyata pada taraf = 0,01
2) Setiap ulangan terdiri dari 4 pengamatan dan setiap pengamatan terdiri
atas 25 ekor larva Ae. aegypti.
Pada wadah air yang terbuat dari bahan tanah (tempayan)
penggunaan 0,01 ppm bahan aktif pyripoxyfen 0,5% menunjuk-
kan penghambatan 100% pertumbuhan pradewasa berlangsung
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997 43
background image
selama 10 minggu. Selanjutnya untuk menghambat 55% per-
tumbuhan pradewasa ditemukan pada minggu ke 18.
Pada air yang tertampung dalam drum kaleng umur efikasi
serta persistensi untuk menghambat 100% pertumbuhan pra-
dewasa hanya dicapai pada minggu ke 5. Penghambatan 58%
pertumbuhan pradewasa nyamuk Ae. Aegypti dicapai pada minggu
ke 18. Pada wadah air yang terbuat dari bahan plastik ternyata
umur rata-rata efikasi dan persistensi penghambatan 100% per-
tumbuhan pradewasa dicapai selama 5 minggu, terendah meng-
hambat 45% pertumbuhan pradewasa pada minggu ke 18.
Pada wadah air yang terbuat dari bahan kaca tampaknya
umur efikasi dan persistensinya sangat singkat yaitu untuk
menghambat 100% pertumbuhan dicapai hanya 5 minggu dan
terendah pada penghambatan 34% pertumbuhan pradewasa di-
capai selama 18 minggu. Tampaknya berbagai macam wadah
air memberikan umur residu efikasi dan persistensi pyriproxyfen
0,5% dalam bentuk granula yang saling berbeda nyata pada
taraf = 0,05 (Gambar 1).
Kejadian ini terlihat pada penggunaan Altosid yang
mengandung Methoprene dengan dosis 0,01 mg AI/l hanya
mampu menghambat 100% pertumbuhan pradewasa Ae. albo-
pictus pada bambu, selama satu minggu
(5)
. Ternyata Adeal 0,5 G
ini lebih efektif karena dengan dosis paling kecilpun mempunyai
umur residu yang lama dibandingkan Altosid yang sama-sama
mengandung zat penghambat pertumbuhan pradewasa nyamuk.
Dari hasil analisis regresi ternyata lamanya persistensi efek-
tivitas Adeal 0,5 G yang mampu menghambat 95% dan 50%
pertumbuhan pradewasa dengan dosis 0,01 ppm bahan aktif pada
setiapjenis wadah air dengan pergantian air setiap hari, menun-
jukkan hasil yang bervariasi (Tabel 2). Persistensi Adeal 0,5 G
paling lama pada wadah bak semen dan tempayan kemudian
berturut-turut plastik, drum dan kaca (Tabel 2). Analisis lebih
lanjut dengan beda nyata terkecil menunjukkan adanya pengaruh
wadah yang sangat nyata pada taraf = 0,01 terhadap persistensi
Adeal 0,5 0 dalam menghambat pertumbuhan pradewasa Ae.
aegypti (Tabel 3).
Tabel 2. Rata-rata lamanya persistensi Pyniproxyfen 0,5% (Adeal 0,5 G)
yang mampu menghambat 95% dan 50% pertunibuhan pra
dewasa nyamuk Ae. aegypti pada berbagai jenis wadah air
No.
Jenis wadah
air
Persamaan regresi
LI 95
(Minggu)
LI 50
(Minggu)
1
2
3
4
5
Plastik
Bak semen
Kaca
Drum kaleng
Tempayan
Y = 113,16 ± 2,88 X
Y = 105,48 ±1,03 X
Y = 114,28 ±4,019 X
Y = 112,2 ± 3,37 X
Y = 107,84 ± 1,52 X
6,31
b
10,18
c
4,79
a
5,10
a
8,45
c
21,901
d
53,86
e
15,99
d
18,46
d
38,1
e
Rata-rata
6,96 29,67
Keterangan:
1) Pada lajur kolom angka-angka yang bertanda huruf tidak sama berbeda
nyata pada taraf a = 005.
Tabel 3. Analisa sidik ragam pengaruh wadah air terhadap persistensi
Pyniproxyfen
0,5%
dalam
menghambat
pertumbuhan
larva
Ae.
aegypti
Sumber
Derajat
bebas
Jumlah
kuadrat
Kuadrat
tengah
F
hitung
F
tabel
0,05 0,01
Tipe wadah
4
592,29
148,04
4,278**
3,32 2,47
Lethal Inhibition
2
25559,09 1279,55 36,97 **
2,67 2,30
Interaksi 8
1831,4
228,93
6,61
**
2,27
2,12
Galat 75
2595,5
34,61
Total koreksi
89
7578,28
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa pada minggu
Gambar 1. Perbandingan persistensi Propoxyfen 0,5% bentuk granula pada kelima jenis wadah air
terhadap
persentase
kematian
pupa
Aedes aegypti selama pengamatan delapan belas minggu.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
44
background image
ke 10, 18 atau 72 hari, Adeal 0,5 G masih mampu menghambat
95% pertumbuhan pradewasa pada bahan wadah air dan bak
semen. Kemampuan menghambat 50% pertumbuhan pradewasa
terlihat lebih lama lagi yaitu mencapai 53,9 minggu atau kurang
lebih 14,7 bulan. Penghambatan pertumbuhan pradewasa paling
rendah ditemukan pada wadah air asal bahan kaca hanya mampu
menghambat 95% pertumbuhan pradewasa sampai minggu ke 5.
Sedangkan penghambatan 50% pertumbuhan pradewasa hanya
mencapai 16 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa dalam ke-
mampuan yang sama lamanya daya kerja persistensi Adeal 0,5 G
pada kedua wadah tersebut mempunyai perbedaan yang cukup
besar yaitu 5,4 minggu atau 38 hari untuk penghambatan 95%
pertumbuhan pradewasa. Selanjutnya penghambatan 50% per-
tumbuhan pradewasa mempunyai perbedaan yang cukup besar
yaitu 55 hari.
Melihat kenyataan ini sudah seharusnyajarak waktu aplikasi
ulangan untuk penggunaan Adeal 0,5 G ini, pada setiap jenis
wadah air tidak dapat disetarakan. Kejadian ini diperlihatkan
dan hasil analisis sidik ragam ternyata jenis wadah mempunyai
interaksi terhadap lamanya kemampuan pyriproxyfen 0,5% dalam
menghambat pertumbuhan larva Ae. aegypti (Tabel 4).
Dari hasil keseluruhan tampaknya dosis yang diberikan ter-
nyata mempunyai kaitan dengan persistensi, dengan persentase
efikasi yang berbeda pada setiap jenis wadah air (Tabel 4). Wa-
dah air yang terbuat dari bahan semen umur residunya paling
panjang dibandingkan dengan bahan kaca; ini mungkin disebab-
kan bahan yang terbuat dari tanah yaitu tempayan dan bak semen
dapat menyerap air yang mengandung bahan aktif, kemudian
dilepas sedikit demi sedikit sampai habis. Sebaliknya pada bahan
wadah air yang terbuat dan plastik, logam/drum maupun kaca
pada umumnya persistensinya lebih pendek, mungkin karena
bahan tensebut tidak dapat menyerap air yang mengandung
bahan aktif. Di samping kemungkinan lain adanya penbedaan
permukaan wadah air, misalnya pada bak semen dan tempayan
mempunyai permukaan yang cukup kasar sehingga mudah
mengikat bahan aktif yang tenkandung dalam air lebih kuat
dibandingkan wadah air plastik, kaca dan drum kaleng yang
mempunyai permukaan yang relatif halus. Kejadian ini terlihat
dan hasil analisis beda nyata jujur terkecil; bak semen dan
tempayan berbeda sangat nyata dengan jenis wadah air yang
terbuat dan bahan plastik, logam dan kaca (= 0,05).
KESIMPULAN
1) Jenis bahan wadah dengan pola pergantian air setiap hari
sebanyak 25% dari jumlah air yang tersedia, mempunyai pe-
ngaruh terhadap persistensi efikasi Adeal dalam menghambat
pertumbuhan larva Ae. aegypti; penghambatan terjadi pada tingkat
stadium pupa, sehingga tidak mampu menjadi bentuk dewasa.
2) Adeal pada wadah air di bak semen dan tempayan mem-
punyai daya kemampuan menghambat larva Ae. aegypti yang
paling lama dibanding tiga jenis wadah lainnya: plastik, kaca
dan drum kaleng.
3) Efikasi IGR Adeal 0,5 F terhadap larva Ae. aegypti adalah
sebagai berikut :
a) Penggunaan dosis 0,01 ppm bahan aktif efektif sampai
dengan minggu ke XVII setelah aplikasi. Setelah minggu ke
VIII kurang efektif karena efikasinya kurang dari 50% pada
bejana kaca.
b) Dosis 0,02 ppm bahan aktif; 0,03 ppm dan 0,04 ppm bahan
aktif masih efektif sampai minggu ke 29 dengan efikasi lebih
besar dari 50% pada semua jenis wadah air.
4) Pada uji coba ini IGR Adeal 0,5 G efektif, walaupun efikasi
dan persistensi pada berbagai jenis wadah akan berbeda umur
Tabel 4. Persentase efikasi rata-rata dan persistensi serta umur residu larvasida pyriproxyfen 0,5% (Adeal 0,5 G) terhadap Ae. aegypti pada berbagai
jenis wadah air, yang setiap harinya dilakukan penambahan dan pengurangan air sebanyak 25%
Persentase efikasi dan perisistensi rata-rata setiap dosis pada wadah air
Plastik Drum/kaleng
Tempayan/tanah
Bak
Semen Kaca
Kontrol
Pemaparan
minggu ke
0,04 0,03 0
02 0,01 0,04 0,03 0,02 0
01 0,04 0,03 0,02 0,01 0,04 0,03 0,02 0,01 0,04 0,03 0,02 0,01 P1 Dr Tem Se Kc
I
II
111
IV
V
VI
VII
VIII
IX
X
XI
XII
XIII
XIV
XV
XVI
XVII
XVIII
99,54
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
99,7
100
100
100
100
98
93
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100 _
100
100
100
100
95,4
94
80
78
4
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
94
92,4
90
91
86
80
100
100
100
100
100
99
996
98
96
88
87
82,5
78
75,5
70
66
60,5
45
100
100
100
100
100
100
100
100
92
100
100
98,5
99
100
92
91
90
85
100
100
100
100
100
100
100
98
96
90
87
87
86
89
78
77
75
67
100
100
100
100
100
99
98
92
87
86
83
84
83
78
76
75
69
58
100
100
100
100
100
95
85
88
89
- 84
77
76
72
70
60
58
51
39
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
98
97
94
90
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
98
97
81
80
79
72
100
100
100
100
99,2
100
100
100
100
82
80
80
97
89
71
70
69
65
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
90
100
89
88
85
83
92
55
100
100
100
100
100
99,6
100
100
100
100
100
100
100
98
99
100
90
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
98,6
100
98
97
99
98
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
90
100
96
95
94
90
77
61
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100
98
95
88,5
81
60
00
100
100
100
100
100
100
100
97
99
98
96
100
90
76
74
82
70
100
100
100
100
100
97
100
100
96
95
94
89
97
92
75
77
74
61
100
100
100
100
100
96
98
91
85
82
81
83
90
76
72
71
68
58
00
100
99
100
100
100
89
87
76
69
64
78
81
56
46
48
43
14
0
0
0,2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0 2
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0,2
0
0
0
0
0
0
0
0'
0
0
0
0,~
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Rata-rata 99,5 97,2 96,3 85,84 97,1 906 87 1 80 2 98 83 94,8 89,1 93,4 99,3 99,47 94,6 95,7 93,9 80,4 86,2 76,11 0,01 0,01 0 0 01 0,0
Keterangan : P1 = plastik; Dr = Drum kaleng; Tem = Tempayan; Se = Bak semen; Kc = Kaca.
Setiap
perlakuan
dilakukan
4
kali
ulangan
background image
nya. Sehingga dalam aplikasi lapangan perlu dipertimbangkan
jenis bahan wadah yang akan diberi Adeal granul.
KEPUSTAKAAN
1. Suroso. Tinjauan kcadaan dan dasar-dasar pemikiran dalam pemberantasan
demam berdarah di Indonesia 1968­ 1981. Dit. Jen. P3M, Dep Kes Jakarta;
1983. 21 hal.
2. Seminar on the ecology biology control and eradication of Ae. aegypti Bull.
WHO 1987; 36: 519.
3. Biological Control of Vextor of Disease. Geneva: WHO Technical Report
Series 679. WHO 1982. 39 hal.
4. Field trials with the insect growth regulator OMS 1697 (Altosid®) against
Cx. p. quinquefasciatus in Jakarta. Monthly Report September-Oktober, VRCRU/
WHO 1975.
5. Ten Houten et al. Effectivenes of three insect growth regulators against Aedes
albopictus in bamboo, WHOIVBC/l980; 80: 789.
Cermin Dunia Kedokteran No. 119, 1997
46