background image
Penelitian Pemberantasan Malaria
di Kabupaten Sikka, Flores
Penelitian Entomologi ­ 1
Harijani A.M *, Sahat Ompusunggu*, Suyitno**, Mursiatno*
* Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
** Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan,
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Dengan penangkapan secara landing-collection dan penangkapan di kandang dari
bulan April s/d Agustus 1990, diketemukan Anopheles tersangka vektor malaria sbb.: An.
subpictus (259), An. aconitus (143), An. barbirostris (91), An. vagus (27), An. sundaicus
(15), dan An. maculatus (11). Dari pemeriksaan untuk sporozoit secara ELISA diketemu-
kan An. barbirostris dan An. sundaicus positif dan dengan cara pembedahan diketemu-
kan sporozoit pada An. sundaicus.
Untuk daerah pantai selatan dengan tempat perindukan utamanya lagoon, Anopheles
yang banyak diketemukan adalah An. subpictus. Sedangkan di daerah pantai selatan yang
tempat perindukan utamanya persawahan, banyak diketemukan An. aconitus dan An.
barbirostris. Di daerah pedalaman yang tempat perindukan utamanya berupa kantong
sungai dan persawahan, banyak diketemukan An. aconitus dan An. barbirostris juga. Di
daerah pantai utara yang tempat perindukannya hanya berupa lagoon, banyak diketemu-
kan An. subpictus; An. sundaicus dan An. barbirostris.
PENDAHULUAN
Dalam rangka penelitian pemberantasan malaria di Kabu-
paten Sikka ­ Flores ini telah dilakukan pengumpulan data dasar
parasitologis, entomologi dan data penunjang lain. Dalam ka-
rangan ilmiah ini akan dilaporkan mengenai hasil penelitian di
bidang entomologi dari bulan April s/d Oktober 1990.
Penelitian entomologis ini untuk mengetahui jenis vektor
malaria di daerah yang bersangkutan, fluktuasi populasi vektor,
tempat perindukan yang potensial maupun sebagai data dasar
untuk penentuan/evaluasi pemberantasan vektor yang akan di-
lakukan nanti.
Seperti telah disebutkan dalam karangan ilmiah terdahulu
(hasil survai pendahuluan), insektisida yang akan dipakai dalam
pemberantasan vektor nanti adalah Bendiocarb® dan sebagai
larvisida adalah Teknar®Pemberantasan vektor akan dilakukan
± 2 bulan sebelum puncak populasi vektor tercapai.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan di 6 desa yang terletak di Kabupaten
Sikka ­ Flores, 2 desa terletak di pantai selatan, 2 desa di pe-
dalaman dan 2 desa yang lain di pantai utara dari pulau Flores.
Penangkapan nyamuk dewasa dilakukan dengan cara land-
ing-collection dan penangkapan di sekitar kandang, dari pukul
18.00 sampai puku124.00, satu bulan sekali dan dari puku118.00
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992 47
background image
sampai puku106.00 2 bulan sekali. Landing-collection dilaku-
kan di dalam rumah (indoor) dan di luar rumah (outdoor). Pe-
nangkapan juga dilakukan di tempat peristirahatan nyamuk di
dalam maupun di luar rumah, dari pukul 06.30 -09.00, satu bulan
sekali; sedangkan penangkapan larva dilakukan di tempat per-
indukan, dengan menggunakan gayung.
Semua nyamuk/larva yang tertangkap diidentifikasi, larva
stadium I­II dipelihara sampai identifikasi dapat dilakukan.
Pemeriksaan sporosoit dilakukan dengan pembedahan maupun
secara ELISA.
Setiap kali dilakukan penangkapan, data pelengkap seperti:
kelembaban udara, curah hujan, temperatur minimum dan mak-
simum, cuaca angin, hujan dan pasang-surut air laut, dicatat.
Penangkapan rutin akan diulang, bila terjadi hujan dan angin
besar yang akan mempengaruhi keberadaan nyamuk.
HASIL DAN DISKUSI
Dari pengamatan yang dilakukan dari bulan April sampai
dengan bulan Agustus, diketemukan 11 species Anopheles, 9 di
antaranya adalah nyamuk Anopheles yang dapat berlaku
sebagai vektor malaria/tersangka vektor malaria (tabel 1). Yang
terbanyak diketemukan adalah: (1) An. subpictus sebanyak 259
ekor, yang semuanya diketemukan di daerah pantai (pantai
selatan maupun pantai utara), sedangkan larvanya juga hanya
diketemukan di lagoon yang terdapat di daerah pantai. Nyamuk
ke dua terbanyak adalah An. aconitus sebanyak 143 ekor, yang
diketemukan di daerah pantai maupun pedalaman. Larva dari
nyamuk ini hanya diketemukan di sawah. (3) An. barbirostris
diketemukan sebanyak 91 ekor. Nyamuk ini diketemukan di
daerah pantai maupun pedalaman, dan larvanya diketemukan di
beberapa macam tempat perindukan yaitu di lagoon, sawah
maupun sungai/anak sungai.
An. sundaicus yang di p. Jawa merupakan vektor utama
malaria untuk daerah pantai, di Kabupaten Sikka ini hanya
(baru ?) sedikit diketemukan, yaitu di daerah pantai utara di
mana larvanya diketemukan di lagoon, seperti juga di p. Jawa.
Dari pemeriksaan sporosoit diketemukan bahwa An. sun-
daicus positif baik secara ELISA maupun dengan cara pembe-
dahan kelenjar ludah. Sehingga meskipun jumlah nyamuk yang
diketemukan hanya sedikit, tetapi perannya sebagai vektor ma-
laria di daerah pantai Sikka ini cukup besar. Dari pemeriksaan
sporosoit secara ELISA, juga diketemukan bahwaAn. barbiros-
tris positif. Seperti telah disebutkan di atas, nyamuk ini ter-
masuk nyamuk tersangka vektor yang banyak diketemukan
selama penelitian ini dilakukan. Lien dkk.
(1)
dalam penelitiannya
yang dilakukan di Kabupaten Belu­Timor, yang juga berdekatan
dengan Flores, menemukan oocyst dan sporosoit pada An. bar-
birostris dan An. subpictus; sehingga dapat ditarik kesimpulan
bahwa peran An. barbirostris sebagai vektor malaria di Ka-
bupaten Sikka memang besar.
Tetapi pencliti sampai saat ini belum menemukan sporosoit
baik secara ELISA maupun dengan pembedahan kelenjar liur
pada An. subpictus seperti yang telah dikctemukan oleh Lien dkk.
tersebut di atas, meskipun nyamuk ini juga merupakan nyamuk
tersangka vektor yang banyak diketemukan di daerah penelitian
Ini.
Tabel 1. Anopheles yang diketemukan di Kabupaten Sikka - Flores,
April
-
Agustus
1990
Cara
penangkapan
Landing
collection
Species
indoor outdoor
Sekitar
kandang
Jumlah
tertangkap
Larval
collection
1. An. subpictus*
2. An. aconitus*
3. An. barbirostris*
4. An. vagus**
5. An. sundaicus*
6. An. maculatus**
7. An. minimus**
8. An. flavirostris**
9. An. annularis**
10. An. kochi
11. An. indefnitus
55
23
47
1
1
3
­
­
­
­
6
193
92
34
19
14
­
­
­
­
­
10
11
28
10
7
­
8
­
­
­
1
­
259
143
91
27
15
11
­
­
­
1
16
+ lagoon
+ sawah
+ lagoon,
sawah,
sungai
+ lagoon,
sawah,
sungai
+ lagoon
+ lagoon,
sawah,
sungai
+ sungai/
parit
+ lagoon,
parit
+ parit
­
+ parit
* vektor utama
** vektor kedua/tersang.ka vektor
An. vagus, yang secara ELISA pernah diketemukan positif
dengan sporosoiP, An. maculatus, An. minimus dan An. flavi-
rostris yang di tempat lain dikenal sebagai secondary vector,
dalam penelitian ini juga hanya (baru?) sedikit diketemukan.
Dalam tabel 1 juga terlihat bahwa An. subpictus dan An.
aconitus lebih banyak diketemukan di luar rumah, yang dapat
diartikan bahwa nyamuk tersebut lebih cenderung bersifat
exophagic. Sedangkan An. barbirostris tidak menunjukkan sifat
seperti itu, melainkan sama saja di dalam dan di luar rumah
banyak diketemukan. Penelitian ini masih akan dilanjutkan,
sehingga akan lebih banyak data yang akan dapat mendukung
penemuan di atas.
Dari hasil survai larva selama ini, terlihat bahwa An. sub-
pictus seperti juga An. sundaicus kelihatannya merupakan
vektor yang khas untuk daerah pantai, dan perindukannya berupa
lagoon di Kabupaten Sikka ini. Sedangkan An. aconitus seperti
juga yang terlihat di daerah lain, merupakan vektor untuk daerah
persawahan, meskipun nyamuk tersebut juga diketemukan di
daerah pantai di Flores ini, tetapi yang juga ada persawahannya.
An. barbirostris dapat mempunyai tempat perindukan yang lebih
macam-macam, yaitu dapat di lagoon, sawah maupun sungai/
parit; berarti pengaruh kadar garam tidak begitu besar untuk
nyamuk ini.
Dalam penelitian ini (sampai dengan bulan Agustus 1990)
fluktuasi dari nyamuk tersangka vektor belum dapat dilaporkan,
hal ini akan dilaporkan pada kesempatan yang akan datang.
Tetapi dari laporan kasar yang disampaikan oleh petugas di
Cermin Dunia Kedokteran No. 79, 1992
48
background image
lapangan, diperkirakan puncak populasi dari vektor di daerah
penelitian ini terjadi sekitar bulan Nopember, mengingat
banyaknya nyamuk yang tertangkap pada bulan-bulan ter-
sebut. Penentuan puncak populasi vektor ini sangat penting,
mengingat pelaksanaan pemberantasan sebaiknya dilakukan
1­2 bulan sebelum puncak tercapai.
UCAPAN TERIMAKASIH :
Penulis mengucapkan terimakasih kepada sdr. Ishak BSc Jung telah
membantu dalam pelaksanaan penelilian entomologis di lapangan, maupun
kepada Ka. Dinar Kesehatan Tingkat II yang selama ini telah membantu
sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan lancar.
KEPUSTAKAAN
1. Lien JG, Atmosoedjono S. Unsifit AU, Gundelfinger BF. Observation on
natural Plasmodial infection in mosquitoes and a brief survey on mosquito
fauna in Belu regency, Indonesia Timor. J. Med Entomol. 12(3) : 333-7.
2. Atmosoedjono S. Personal communication.