G
iu
Penanggulangan
Kekura
angguan Akibat
m di Indonesia
ngan Iod
u
eh
Yuyus Rusiawati, S mengen Sutomo
atan Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Badan Penelitian dan Pengembangan Kes
PENDAHULUAN
Gangguan akibat kekurangan iodium (Gaki) merupakan
salah saw masalah kesehatan masyarakat yang perlu ditang-
gulangi secara sungguh-sungguh. Penduduk yang tinggal di
daerah kekurangan iodium akan mengalami Gaki kronis yang
menyebabkan pertumbuhan fisik terganggu dan keterbelakang-
an mental yang tidak dapat disembehkan sehingga menjadi
beban masyarakat. Gaki mengakibatkan penurunan kecerdasan
dan produktivitas penduduk sehingga menghambat pengem-
bangan sumber daya manusia. Penyebab, teknologi dan cara
penanggulangan Gaki telah diketahui. Pengalaman di berbagai
negara seperti Amerika, Perancis, Italia dan Thailand
membuktikan bahwa Gaki dapat ditanggulangi. Oleh karena itu
Gaki harus segera dibasmi agar bangsa Indonesia dapat
memasuki tahapan tinggal landas.
Upaya penanggulangan Gaki sudah dimulai sejak jaman
penjajahan Belanda, akan tetapi masih sangat terbatas. Pada
jaman kemerdekaan upaya ditingkatkan dan dewasa ini men-
dapat prioritas yang lebih memadai. Upaya penanggulangan
Gaki dilaksanakan melalui program jangka pendek, dengan
suntikan minyak beriodium (lipiodol) di daerah endemik berat
dan program jangka panjang, distribusi garam beriodium.
Walaupun demikian program masih belum mencapai hasil yang
optimum. Di beberapa propinsi terdapat kenaikan prevalensi
gondok dan kretin.
Mengapa program Gaki di Indonesia masih belum mencapai
hasil yang optimum? Masalah dan hambatan apa yang timbul
dalam penyelenggaraan program Gaki? Upaya apa yang dapat
dilakukan untuk dapat meningkatkan pelaksanaan program
Gaki?
Pada kesempatan ini disampaikan informasi mengenai
program Gaki secara garis besar. Beberapa topik yang dibahas
termasuk macam Gaki, penyebab, prevalensi dan penanggulang-
annya. Selain itu informasi mengenai beberapa altematif untuk
meningkatkan upaya penanggulangan Gaki.
GAKI
Gangguan akibat kekurangan iodium (iodine deficiency
disorder) adalah gangguan tubuh yang disebabkan oleh keku-
rangan iodium sehingga tubuh tidak dapat menghasilkan hormon
ABSTRAK
Gangguan akibat kekurangan iodium (Gaki) masih merupakan masalah kesehatan
masyarakat yang perlu ditanggulangi karena menghambat pembangunan nasional. De-
wasa ini penanggulangan Gaki melalui program distribusigaram beriodium dan suntikan
lipiodol. Program tersebut masih belum mcncapai hasil optimum karena mengalami
banyak masalah.
Sehubungan dengan itu masih perlu dicari alternatif lain untuk meningkatkan
program Gaki. Beberapa upaya yang masih dalam penelitian dan pengembangan yaitu
pemberian minyak beriodium melalui oral dan distribusi iodium melalui air. Upaya ini
diharapkan dapat mendukung program Gaki dengan efektif dan efisien.
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 47
tiroid. Kekurangan hormon tiroid mengakibatkan timbul gon-
ok, hipotiroid, kretin, gangguan reproduksi, kematian bayi dan
eterbelaka
Gon
normal.
buat cuku
tiroid, kelen
timulating
upaya bekerja lebih aktif menghasilkan hormon tiroid. Penam-
bahan hormon TSH merupakan proses adaptasi yang normal,
akan tetapi kondisi yang kronis mengakib
duduk yang menderi
mengalami kekuranga
Hipotiroidi adalah kondisi di mana tubuh tidak memperoleh
ukup hormon tiroid. Kondisi ini mengakibatkan penderita
enjadi malas, mengantuk, kulit kering, tidal( tahan dingin dan
onstipasi. Honnon tiroid berperan dalam proses pertumbuhan
tak dan sistim saraf. Oleh karena itu anak penderita hipotiroidi
engalami hambatan dalam pertumbuhan fisik dan keterbe-
kangan mental. Keterbelakangan fisik dan mental yang berat
mudah dikenal, akan tetapi seringkali kondisi ini ringan
hingga sulit diketahu ke
Kretin merupakan a
tiroidi yang terjadi
permulaan kelahira
mental yang tidak da
seperti buta, tuli da
pertumbuhan otot. Se-
bagian kretin disertai go
iodium yang menye
lum seberat kretin di
Wanita yang ti
ng mengalami keguguran daripada mereka yang tinggal di
aerah tidak kekurangan iodium. Keguguran dan kematian dini
ang sering terjadi membahayakan kesehatan ibu dan menu-
nkan fertilitas penduduk.
men
pert
rugikan penduduk.
odium,
n oleh
silkan
u terletak
lah kanan
dan kiri saluran napas yang dihubungkan oleh isthmus.
Hormon tiroid yang dihasilkan masuk ke dalam darah dan
roses kimia di berbagai bagian tubuh.
mbuhan serta fungsi
tubuh. Kelenjar tiroid
di dalam darah mempengaruhi reaksi kimia di otak, hati, jantung,
ginjal dan untuk pertumbuhan otak. Hormon tiroid juga mem-
pengaruhi kelenjar hipofisis yang menghasilkan hormon TSH.
Apabila tubuh kekurangan hormon tiroid, kelenjar hipofisis
bekerja lebih aktif untuk menghasilkan hormon tiroid.
Unsur iodine terdapat dalam jumlah relatif besar di air laut.
aman yang jauh dari lautan memiliki risiko lebih
k kemungkinan untuk kekurangan iodium. Kekurangan
gan dimana iodium
n banjir. Ini tidak
tetapi dapat juga di
jir.
PREVALENSI GAKI
jak zaman dahulu
prasasti di Bangli,
di pulau Jawa dan
an kemerdekaan banyak penelitian
yang melaporkan gondok endemik di ber
daerah baik di
pulau Jawa maupun di pulau Sumatera.
Pada permulaan tahun 1900 seorang dokter melaporkan
gondok endemik tinggi di Aceh. Pada tahun 1922 dilaporkan
dium 0-0,2 ugI/1, beras 0-10 ugI/kg dan ikan asin 0-333
ahun 1933 di
dan Alas dilaporkan 90% gondok, insiden kretin 0,73%
Sum
d
ngan sosial.
dok adalah pembesaran kelenjar timid yang melebihi
Penduduk yang kekurangan iodium tidak dapat mem-
p honnon tiroid. Untuk mencukupi kebutuhan hormon
jar hipofisis membuat hormon yang disebut thyroid
hormone (TSI-I) untuk merangsang kelenjar tiroid
PENYEBAB GAKI
Tubuh manusia membutuhkan unsur kimia seperti i
kalsium, oksigen, sodium dan hidrogen. Iodium dibutuhka
tubuh untuk membentuk hormon tiroid. Hormonini diha
oleh kelen jar tiroid yang bentuknya seperti kupu-kup
di bagian depan leher terdiri dari dua benjolan di sebe
k
s
s
atkan gondok. Pen-
mengawasi banyak p
ta gondok menandakan bahwa mereka
n iodium.
Hormon ini sangat penting untuk pertu
otak, sistem saraf dan memelihara panas
c
m
k
o
m
se-
Di daerah pedal
banya
i,
cuali dengan diagnosis yang baik.
kibat yang lebih berat daripada hipo-
selama bayi masih dalam kandungan atau
n. Kretin mengakibatkan keterbelakangan
pat disembuhkan. Selain itu terdapat gejala
n gangguan dalam
iodium biasanya terjadi di daerah pegunun
di dalam tanah tersapu oleh hujan, erosi da
hanya terjadi di daerah pegunungan akan
daerah lain, misalnya di daerah yang sering ban
ndok dan yang lain tidak. Kekurangan
babkan kemunduran kecerdasan tetapi be-
sebut subkretin akibat dari hipotiroidi.
nggal di daerah kekurangan iodium lebih
Di Indonesia gondok sudah dikenal se
melalui tulisan tertua yang terdapat pada
Bali. Gondok dilaporkan sering ditemukan
luar Jawa. Sebelum zam
la
bagai
seri
d
y
ru
Gald mengakibatkan kematian anak. Anak-anak yang
derita Gaki kurang memiliki daya tahan tubuh terhadap
infeksi dan derajat nutrisinya lebih rendah. Ibu hamil yang
memperoleh iodium melahirkan anak yang lebih berat, sehat
dan kemungkinan hidup lebih besar daripada ibu yang tidak
memperoleh iodium. Ibu hamil yang memperoleh iodium
melahirkan anak yang lebih besar kemungkinannya mencapai
umur 15 tahun daripada anak dari ibu yang tidak memperoleh
iodium (Dunn & Van Der Haar 1990).
Gaki mengakibatkan masalah sosial dan kerugian ekonomi.
Penduduk menjadi bodoh, lamban dan kurang semangat bekerja.
Mereka sulit dididik untuk menjadi cerdas dan sulit dimotivasi
untuk bekerja sehingga tidal( produktif. Gaki mengakibatkan
lebih banyak penduduk menderita cacat sehingga menjadi
beban masyarakat. Di daerah yang kekurangan iodium sektor
anian merupakan sumber perekonomian penduduk. Bina-
tang piaraan seperti kerbau, sapi, ayam dan kambing mengalami
kekurangan iodium dan pertumbuhannya terganggu sehingga
kurang menghasilkan daging, telur dan makanan yang bergizi.
Mereka juga lebih banyak menderita keguguran sehingga me-
bahwa dari pasien yang datang di poliklinik Alas Sumatera
Utara 60% di antaranya menderita gondok. Di berbagai daerah
dilaporkan gondok dengan prevalensi yang tinggi balk pada
pria maupun wanita. Di antara anak-anak umur 1-12 tahun
banyak yang menderita kretin.
Pada tahun 1927 di daerah transmigrasi Deli dilaporkan
bahwa 66,2% anak Batak dan 7,7% anak transmigran asal Jawa
menderita gondok. Kadar iodium dalam air di daerah Batak 0-
0,8 ugI/1, rata-rata 0,25 ugI/l. Air dari rumah sakit mengan-
dung io
ugI/kg. Survai penduduk di Deli, Langkat dan Serdang pada
4154 orang dari 48 desa mendapatkan 88% pria dan 92,5%
wanita menderita gondok dan 1,1% kretin.
Pada tahun 1930 dilaporkan di Alas terdapat 61% pria, 83%
wanita gondok dan 57% anak-anak }cretin. Pada t
Gayo
dan 60% dari kretin menderita bisu dan tuli. Di Bengkulu
atera Selatan 41-90% menderita gondok. Kadar iodium air
minum di Gayo-Loeos 0,6-2,8 ugI/1; dalam beras, 10 ugI/kg.
Di Kediri dilaporkan 49-88% gondok pada anak sekolah
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
48
pada tahun 1928-1932. Survai di Kediri, Tulung Agung dan
Blitar dari beberapa ribu anak sekolah 60% gondok, di beberapa
desa di Pulosari 88% gondok. Prevalensi gondok di Wonosobo,
Dien
sejak lama dan ditemui pre-
vale
386
(39%
I Jakarta dan Irian Jaya. Prevalensi
gon
wa Tengah,Yogyakarta,
Jaw
AN GAKI
paya penanggulangan Gaki di Indonesia sudah dimulai
landa. Pemerintah menanggulangi Gaki
mel
men-
dapa
i, distribusi,
pem saran dan pengawasan mutu garam beriodium baik di
n konsumen. Kegiatan ini dilakukan
oleh
andard mutu. Pihak
swa
tentang tata niaga garam ber--
iodi
kemasan plastik
bar-
,
Men
g dan Garung, Jawa Tengah 40-56% pria dan 71-87%
wanita. Kadar iodium dalam urine yang diperiksa di Wonosobo
43,5-55 ugI/l, sedangkan di daerah non gondok di Dieng 135
ugI/l. Pada tahun 1932 diperiksa kadar iodium dalam urine
penduduk di daerah gondok Garung, Siwaran, Kuripan dan
Kejajar di Jawa Tengah terdapat 41-58 ugI/1; di daerah non
gondok 135 ugI/1.
Gondok endemik juga dilaporkan di kepulauan lain ter-
masuk Bali, Sulawesi, Kalimantan dan Irian Jaya. Di Bali
adanya gondok sudah diketahui
nsi yang tinggi di berbagai daerah. Di Sulawesi ditemui di
Majene, Maros, Pangkajene, Kotamobagu, Mojang dan Popo.
Di Kalimantan Barat, Tengah dan Tenggara ditemukan gondok
endemik di daerah Kapuas, lembah Malawi sepanjang sungai
Sekayan dan Sepauk, dataran tinggi Apokayan, sepanjang
sungai Kutai, Mahakam dan Martapura.
Dengan demikian dapat diperoleh gambaran bahwa pre-
valensi gondok endemik di berbagai kepulauan baik di Jawa
maupun di luar Jawa sangat tinggi berkisar antara 41-90%.
Sesudah kemerdekaan semakin bertambah informasi
mengenai gondok endemik. Survai anak sekolah di Jawa Timur
melaporkan prevalensi gondok 25-95% pada 1966. Pada tahun
1971, Djumadias dkk. melaporkan dari 6703 anak sekolah pada
46 sekolah dasar di 39 desa di Sumatera Utara, Barat, Jawa
Timur terdapat 62,2-89,4% menderita gondok. Hasil survai Dit.
Gizi tahun 1980-82 di 966 kecamatan, ditemukan 660 (68,3%)
merupakan daerah endemik gondok, dengan perincian
) daerah endemik berat, 120 (12,4%) daerah endemik
sedang dan 155 (16%) daerah endemik ringan.
Pemetaan gondok endemik pertama dilakukan oleh Direk-
torat Gizi, Departemen Kesehatan pada tahun 1980-82 di 25
propinsi tidak termasuk DK
dok endemik di banyak desa 80%, kretin lebih dari 10%
dan di beberapa desa mencapai 15% merupakan angka yang
tertinggi di dunia. Berdasar pemetaan ini diperkirakan 30 juta
penduduk tinggal di daerah kekurangan iodium, l0 juta di
antaranya menderita gondok, 750 kretin endemik dan 3,5 juta
menderita Gaki lain.
Pada tahun 1987/88 Direktorat Bina Gizi Masyarakat
mengadakan evaluasi prevalensi gizi di 12 propinsi termasuk
Sumatera Utara,Lampung,Jawa Barat,Ja
a Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sulawesi
Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Timor Timur.
Evaluasi menggunakan kriteria total goiter rate (TGR) dan
visible goiter rate (VGR). Pada tahun 1980-1982 TGR berkisar
17,3-59,3% dengan rata-rata 37,2%, VGR 1,9-24,2% rata-rata
9,2%. Survai gondok pada tahun 1987/88 pada 46401 dari 585
sekolah dasar di 363 desa, 39 kecamatan, 12 propinsi diperoleh
prevalensi gondok TGR berkisar antara 5,9-59,3% rata-rata
23,2%, VGR berkisar 0,2-31,5% dengan rata-rata 4,6%. Dari
data tersebut terlihat penurunan prevalensi gondok endemik rata-
rata TGR 37,6% dan VGR 4,6% (Dit. Bina Gizi Masy. 1988).
PENANGGULANG
U
sejak pemerintah Be
alui distribusi garam iodium di daerah endemik berat. Pada
tahun 1927 dimulai distribusi dan pembagian garam beriodium
di pegunungan Tengger dan dataran tinggi Dieng. Kemudian
pada tahun 1940 distribusi garam beriodium dengan dosis yang
lebih tinggi dilakukan di Kediri.
Sesudah kemerdekaan upaya penanggulangan Gaki
t perhatian yang lebih baik. Prioritas pcnanggulangan Gaki
dimulai sejak tahun 1972 dengan melaksanakan program jangka
pendek melalui suntikan larutan minyak beriodium di daerah
endemik berat dan pelaksanaannya oleh Departemen Kesehatan.
Program jangka panjang dilaksanakan melalui fortifikasi dan
distribusi garam beriodium di semua daerah endemik dan pe-
laksanaannya oleh Departemen Perindustrian.
Distribution Garam Beriodium
Distribusi garam beriodium dilaksanakan sejak Pelita II,
tahun 1976/77 melalui proyek iodisasi garam oleh Dit. Jen.
Perindustrian Kimia. Tujuan proyek adalah untuk menanggu-
langi Gaki melalui distribusi garam beriodium. Menurut SK
Menteri Kesehatan No. 165/MenKes/SK/II/1986 bahwa garam
konsumsi yang beredar harus mengandung iodium 40 ppm ±
25%. Kegiatan yang dilakukan terdiri dari produks
a
tingkat produsen maupu
PN Garam dengan bantuan dari Unicef berupa mesin iodi-
sasi dan kalium iodat. Pada tahun 1978/88 program iodisasi
diserahkan kepada Dit. Jen. Aneka Industri. Dalam Pelita III
1981/82 pihak swasta dan koperasi/KUD diikutsertakan dalam
program iodisasi garam untuk menjamin tersedianya garam
beriodium yang cukup dan memenuhi st
sta dibantu dalam biaya proses iodisasi, tepung KI0
3
, larut-
an penguji dan latihan tenaga. Pada tahun 1985/85 bantuan di-
kurangi secara bertahap.
Dalam rangka menunjang pengadaan dan distribusi garam
beriodium kepada masyarakat, pemerintah menerbitkan SKB 3
Menteri yaitu Menteri Perindustrian, Perdagangan dan Ke-
sehatan tanggal 23 Maret 1982
um di 15 propinsi. Di samping itu diadakan kegiatan
program pemasyarakatan garam beriodium melalui promosi,
informasi dan edukasi menggunakan film, ceramah, siaran
radio dan lain-lain.
Pada akhir Pelita III diadakan evaluasi program dan di-
temukan banyak masalah antara lain garam tidak beriodium
masih banyak ada di pasaran, garam konsumsi di pasaran belum
memenuhi kadar iodium yang ditentukan,
label gamin beriodium tetapi isinya tidak, masyarakat lebih
menyukai garam tidak beriodium karena harganya relatif murah.
Pada Pelita IV diikutsertakan Departemen Dalam Negeri
untuk lebih mensukseskan program iodisasi garam sampai pada
tingkat kecamatan dan dew. Pemerintah menerbitkan SKB 4
Menteri termasuk Menteri Perindustrian No. 185/M/SK/5/85
teri Kesehatan No. 242 a/MenKes/SKB/, Menteri No. 756 a/
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 49
KPB/V/85 dan Menteri Dalam Negen No. 22 tahun 85 tentang
garam beriodium yang diberlakukan di seluruh propinsi. Se-
hubungan dengan ini Menteri Perindustrian mengeluarkan pe-
doman pelaksanaan No. 444/M/SK/11/86 tangga122 November
1985 tentang petunjuk pelaksanaan dalam rangka pengaturan,
pembinaan dan pengembangan industri garam beriodium. Men-
teri Perindustrian juga menerbitkan SK No. 323/M/SK/8/1986
tanggal 20 Agustus 1986 membentuk tim pengarah dan tim
teknis iodisasi garam beriodium yang anggotanya terdiri dari
para eselon I dan II dari masing-masing instansi terkait SKB 4
men
nsumsi nasional pada
akhi
ram
brik
n belum dapat
diat
dusen. Masalah pada konsumen terutama
kare
i
ukan. Ini merupakan proyek
jang
satu kali suntikan. Di daerah
ende
ilisasi jarum dan
alat suntik tidak sedikit. Kondisi ini diperburuk dengan lokasi
enduduk yang masih rendah
(Pad
anggulangan Gaki di Cina dilaksana-
kan
u diberikan masih perlu dikaji. Pengalaman
di C
sana
teri.
Pada tahun 1987 program iodisasi garam dialihkan kepada
DitJen Industri Kimia Dasar. Selama Pelita IV telah
dilaksanakan peningkatan pengawasan mutu garam beriodium,
peningkatan kemampuan aparat pelaksana iodisasi untuk
pembinaan produsen dan pengawasan mutu. Sampai akhir
Pelita IV ditemui masalah berikut. Perusahaan industri garam
beriodium terdaftar 238 buah dengan kapasitas produksi
900.600 ton/tahun. Kebutuhan garam ko
r Pelita IV 510.000 ton. Kuantitas kebutuhan dapat
dipenuhi, akan tetapi kualitas kandungan kalium iodat belum
memenuhi syarat yang ditentukan. Larangan produksi ga
et belum sepenuhnya diikuti oleh produsen karena
pennintaan pasar cukup tinggi, pengangkutan dan penyimpanan
mudah dilaksanakan. Di lain pihak stabilitas KI0
3
dalam garam
briket kurang terjamin. Selain itu belum semua produsen
memiliki laboratorium untuk test kadar iodium. Proses iodisasi
memerlukan biaya mahal karena adanya proses pembersihan
dan pengeringan dari bahan baku dalam negeri, sedang bahan
baku impor harganya mahal. Produsen masih belum semuanya
menyadari pentingnya misi garam beriodium. Sampai dengan
Pelita V masalah tersebut masih berlanjut da
asi dengan efektif (DitJen Industri Kimia Dasar 1989).
Dengan demikian masalah pelaksanaan program iodisasi
garam dapat berasal dari produsen, konsumen dan penyelenggara
program. Masalah pada produsen antara lain mutu bahan baku
garam belum memenuhi syarat, penyediaan KIO
3
belum merata
ke seluruh industri, dan sebagian masih diimpor dari Jepang,
teknologi iodisasi garam belum memenuhi standar, pungutan
PPn 10% menjadi beban industri, belum ada landasan hukum dan
kurang kesadaran pro
na kurang adanya pengetahuan manfaat garam iodium,
kesulitan untuk mengenal garam beriodium atau tidak, kesulitan
untuk mendapatkan garam beriodium dan harga yang relatif
mahal. Masalah pada pengelola program terutama di tingkat
pusat belum ada tenaga profesional yang fulltime memimpin
program penanggulangan Gaki, koordinasi dan kerjasama
antara pelaksana program di daerah belum efektif, perencanaan
program kurang efektif, penyuluhan Gaki belum dilaksanakan
secara terencana, kurang adanya fasilitas penyuluhan terutama
di tingkat daerah dan dukungan hukum belum ada.
Penyuntikan Minyak Beriodium
Penyuntikan dengan minyak beriodium dilaksanakan mulai
Pelita.II, tahun 1974 di daerah hiperendemik di mana iodisas
garam tidak praktis untuk dilak
ka pendek dalam rangka menanggulangi Gaki. Tujuannya
adalah untuk memberantas dan mencegah Gaki. Sasaran suntik-
an adalah pria umur 014 tahun dan wanita umur 035 tahun.
Preparat yang digunakan adalah minyak beriodium yang me-
ngandung kadar iodium 0,48 gram per 1 ml. Preparat ini me-
miliki sifat yang unik dan efek depotnya dapat memberikan
perlindungan 3 4 tahun dengan
mik berat memiliki efektifitas yang dapat menghilangkan
dan mencegah kretin serta cacat bayi yang dilahirkan. Sampai
dengan tahun 1987/88 suntikan ini telah diberikan pada sekitar
11,3 juta penduduk.
Berbagai masalah yang dihadapi dalam penyuntikan ter-
masuk biaya obat suntik relatif mahal, tenaga penyuntik yang
profesional kurang, alat suntik dan biaya operasional mahal,
daerah terpencil sulit dicapai petugas, biaya ster
daerah yang sulit dan kesadaran p
a 1989, Dit Jen Pem Kes Mas 1989). Masalah ini menye-
babkan target yang ditentukan dalam Pelita IV untuk penyuntik-
an 10 juta penduduk tidak tercapai karena hanya tersedia larutan
minyak beriodium sebanyak 6 juta dosis dan dari jumlah ini
hanya tercakup 80%. Dalam Pelita V penyuntikan dilanjutkan
di daerah endemik berat. Pengalaman dari Pelita sebelumnya,
nampak perlu adanya alternatif cara intervensi lain sehingga
tujuan program penanggulangan Gaki dapat dicapai dalam
waktu yang tidak terlalu lama (Dit Jen Pem Kes Mas 1989).
Alternatif Lain
Penanggulangan Gaki tidak hanya berharap dari kedua
upaya yang sedang dilaksanakan, akan tetapi juga dicari alter-
natif lain; beberapa altematif yang masih dalam penelitian dan
pengembangan adalah pemberian minyak beriodium oral dan
iodisasi air minum.
Pemberian minyak beriodium oral dapat mengganti suntik-
an minyak beriodium. Pen
menggunakan minyak yang mengandung iodium 38%. PT
Kimia Farma sedang mengembangkan minyak beriodium
yodiol berasal dari kacang tanah, dengan kadar 25% iodium.
Sasaran distribusi minyak beriodium sementara adalah daerah
yang belum terjangkau oleh suntikan lipiodol atau untuk
mempertahankan status iodium yang normal; dalam jangka
panjang dapat menggantikan suntikan iodium.
Dosis yang perl
ina dan kajian sementara di Semarang menggunakan 1,0
gram minyak beriodium per tahun dan sasaran daerah endemik
berat. Di daerah endemik ringan dan sedang dapat diberikan 2
tahun sekali. Studi ini masih dilakukan untuk menguji dampak
biologis dan efek samping yang mungkin timbul.
Studi iodisasi air minum di daerah endemik telah dilak-
kan oleh Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan bersama
Direktorat Bina Gizi Masyarakat. Studi dilaksanakan di 3 desa
yang terletak di daerah endemik berat di propinsi Jawa Barat,
Jawa Timur dan Sumatera Barat. Tujuannya adalah mencoba
apakah pelaksanaan iodisasi air minum di daerah endemik dapat
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993
50
dilakukan dan diterima penduduk atau tidak.
Penduduk diberi larutan iodium untuk dimasukkan ke dalam
air yang sudah siap diminum. Iodium diberikan melalui 2 tetes
larutan iodium (150 ug 1/0,03 ml) dimasukkan ke dalam 10
liter air minum. Sebelum diberikan larutan penduduk diberi pe-
nyuluhan mengenai manfaat iodium dalam mencegah Gaki, dan
untuk melaksanakan sendiri dengan supervisi petugas. Dalam
beberapa minggu kemudian diadakan evaluasi mengenai kadar
iodium dalam air yang telah diberi larutan iodium. Kesimpulan
penelitian adalah iodisasi air minum dapat diterima dan di-
lakukan oleh penduduk. Selanjutnya perlu dikembangkan
prog
990; 151.
11.
D
ta-
bolism 1986; 63: 386-75.
tzel S. Endemic Goiter and Endemic Critinism. Iodine
ram iodisasi air minum di beberapa daerah sebelum di-
terapkan secara luas. Dewasa ini pengembangan program ter-
sebut sedang dilaksanakan di propinsi Bali, Jambi, Sumatera
Barat dan Sulawesi Tengah.
Selain itu perlu dipikirkan cam lain karena masyarakat me-
miliki budaya makan beraneka ragam. Dalam mencari cam ini
perlu dipertimbangkan berbagai faktor termasuk faktor sosial
budaya penduduk dan persyaratan tertentu sehingga iodium
yang ditambahkan dapat mencapai sasaran yang dituju tanpa
mengganggu pola kehidupan yang sudah ada.
KEPUSTAKAAN
1.
Hetzel BS, Dunn JT, Stanbury JB. Major Health Issues. The Prevention
and Control of Iodine Deficiency Disorders. Amsterdam: Elsevier 1987.
2.
Beckers CH, Delange F. Iodine Deficiency. Endemic Goiter and Endemic
Cretinism. New Delhi: Wiley Eastern Ltd. 1985.
3.
Departemen Perindustrian RI. Program Iodisasi Garam dalam Pelita V.
Pertemuan Nasional Gaki Jakarta 710 Agustus 1989. Dit Jen Industri
Kimia Dasar, Dit Jen Industri Kimia Organik; 1989: 110.
4.
Departemen Kesehatan RI (1989). Program Penanggulangan Gaki. Per-
temuan Nasional Gaki. Dit Jen Pembinaan Kesehatan Masyarakat. Jakarta
710 Agustus 1989; 17.
5.
Departemen Kesehatan, FK Undip, FKM UI & Unicef. Hasil Evaluasi
Dampak Program Penanggulangan Gaki di Indonesia. Dit Jen Pembinaan
Kesehatan Masyarakat 1988; 1-27.
6.
Dept of Industry, Dept of Health, Dept of Trade, Dept of Home Affairs
Unicef and W1IO. The Results of The Interdepartmental Consultative
Meeting of Iodine Deficiency Disorders Control 1985; 1-36.
7.
Dircktorat Bina Gizi Masyarakat. Pros Pertemuan Nasional Gaki Jakarta
710 Agustus 1989.
8.
Djokomoeljanto Sri RRJ. Akibat Defisiensi Yodium Berate Suatu Pene-
litian pada Sekelompok Penduduk di Jawa Tengah, Indonesia. Disertasi
untuk Memperoleh Gelar Doktor dalam L Kedokteran UNDIP, PAPDI
Semarang 1974; 1-60.
9.
Djumadias Abunain dkk. Tinjauan Masalah Gizi di Indonesia Sampai
Dewasa Mi. Widyakarya Pangan dan Gizi. UPI 1989; 144-8.
10.
Dunn IT, Fritz Van Der Haar. A Practical Guide to the Correction of
Iodine Deficiency. Technical Manual No. 3. ICCIDD, UNICEF, WHO,
ICCIDD, Nederland 1
unn H. Alternatives to Salt and Oil for Iodine Suplementation. Depart-
ment of Internal Medicine, University of Virginia Medical Center. Cha-
lottesiville VA USA 1987; 135138.
12.
Dunn IT, Medeiros-Neto GA. Endemic Goiter and Cretinism: Continuing
Threats to World Health. Report of the Meeting of the PAHO Technical
Group on Endemic Goiter. PAHO Washington DC 1974.
13.
Government of Indonesia Unicef. Situation Analysis of Children and
Woman in Indonesia. Unicef 59-62. 1989.
14.
Hetzel BS. The Story of Iodine Deficiency. An International Challenge in
Nutrition. Oxford University Press Delhi Bombay 384; 1989; 105145.
15.
Yasin F. Evaluation of an Iodization Program in Pregnant Women and
Their Babies in Dukun Subdistrict Java, Indonesia. A Thesis Submitted to
the University of Western Australia for the Degree of MSc Med. 1989;
3141.
16.
Program for Appropriate Technology in Health, Departemen Kesehatan
RI. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (Gaki). Teknologi Taps' Guna
Sehat 1989; 1(1): 112.
17.
Squatrito S dkk. Prevention and Treatment of Endemic Iodine Deficiency
Goitre by Iodination of Municipal Water Supply. J Clin Endocrin Me
18.
Stanbury JB, He
Nutrition in Health and Disease. A Wiley Medical Publ John Wiley &
Sons, Inc. 1980.
19.
Sutomo S, Maspaitella FJ, Kumoro Palupi, Hemo Sukirno, Djasmidar,
Sudarsono. Studi Kelayakan Iodisasi Air Minum di Beberapa Desa Ke-
kurangan Indium di Indonesia. Puslit Ekologi Kesehatan dan Direktorat
Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatah Jakarta 1990; 154.
Kalender Kegiatan llmiah
5 9 Juli 1993 SEMILOKA
RSAB Harap
Jakarta, Indo
Pembicara :
v
a
n
A
S
Y
H
Secr.: Unit D
l. S. P
rta
56
. 5
GENETIKA KLINIK
n Kita,
esia
.l. Prof. YE Hsin MD, Uni-
ersity of Hawaii, Prof. Grant
utherland DSc, Australia,
uliet Yuen, University of
awaii
iklat RSAB Harapan Kita
arman kay. 87, Slipi
11420 INDONESIA
68284 ext. 418, 425
601816
J
Jaka
Tel.
Fax
Cermin Dunia Kedokteran No. 85, 1993 51