TEKNIK
Osteopunktur
Dharma K. Widya
KSMF Akupunktur Rumah Sakit Umum Pusat Dr Cipto Man gunkusurno, Jakarta
PENDAHULUAN
Osteopunktur merupakan suatu cara pengobatan melalui
penusukan pada periosteum tulang. Pada beberapa keadaan ter-
tentu, penusukan pada periosteum memberikan hasil yang lebih
memuaskan dibandingkan dengan cara penusukan dengan pem-
benaman dan pemutaran jarum yang biasa dilakukan dalam
terapi akupunktur. Teknik ini dapat dipertimbangkan apabila
ditemukan titik akupunktur dengan nyeri tulang yang dalam
atau apabila dengan cara terapi akupunktur biasa tidak dicapai
hasil yang memuaskan.
Cara pengobatan ini telah lama digunakan baik secara
tersendiri atau dikombinasikan dengan akupunktur biasa dan
penusukan titik trigger untuk menghilangkan nyeri. Diperkira-
kan osteopunktur meniberikan manfaat dalam pengobatan ka-
rena periosteum kaya akan pleksus saraf yang bersinaps dengan
saraf menuju susunan saraf pusat. Pengobatan 1089 pasien de-
ngan teknik perangsangan periosteum ini menghasilkan 885
pasien mendapat perbaikan nyata, 117 pasien mendapat perbaik-
an dan 87 pasien tidak mengalami perubahan. Jenis penyakit
yang diobati bervariasi dengan kasus terbanyak adalah artritis
khususnya osteoartritis
(1)
.
METODE
Osteopunktur dilakukan dengan penusukan beberapa kali
pada periosteum di daerah yang ditentukan. Jarum yang diguna-
kan adalah jarum akupunktur berukuran tebal dan panjangnya
disesuaikan dengan daerah yang terkena pada titik nyeri, sering
di sekitar suatu sendi, dan jarum tersebut cukup panjang untuk
menimbulkan rasa penjaruman. Tindakan osteopunktur harus
dilakukan secara lembut dan mantap sehingga tidak menimbul-
kan reaksi berlebihan pada pasien.
Terapi osteopunktur diberikan sekali atau dua kali dalam
seminggu. Biasanya diperlukan antara empat sampai delapan
kali pengobatan, walaupun reaksi pengobatan dapat terlihat
setelah satu sampai empat kali pengobatan. Apabila tercapai
hasil yang memuaskan, pengobatan dapat dilakukan seminggu,
dua minggu atau satu bulan sekali. Sedangkan apabila tidak di-
dapat perbaikan setelah empat kali pengobatan, cara pengobatan
ini dapat dianggap tidak berhasil dan pasien diberi cara peng-
obatan lain. Pengobatan dengan osteopunktur mungkin dirasa-
kan tidak menyenangkan bagi pasien. namun hal ini hanya ber-
langsung antara setengah satnpai satu menit, walaupun kadang-
kadang sampai lima sampai delapan menit. Ketidaknyamanan
tersebut pada umumnya tidak menyebabkan penolakan pasien
terhadap cara pengobatan ini.
INDIKASI
Osteopunktur dapat digunakan untuk berbagai keadaan
seperti kelainan sendi, kelainan yang mungkin memerlukan
stimulasi kuat seperti pada beberapa keadaan akut dan keadaan
keadaan lainnya sebagaimana tercantum sebagai berikut:
·
Migren : Pai Hui (XIV,20), lay Cung (X1I,3)
·
Tic Douloureux : prosesus transversus C7 (1 - 1,5 inci lateral
garis tengah)
·
Neuralgia fasialis : titik nyeri. 0,5 inci lateral Ying Siang
(II,20), foramen mentale. sudut ramus mandibula. kondilus sendi
temporomandibularis
·
Sinusitis: Se Pai (III,2), Ia Cui (XIV, 14). Sen Ting (XIV,24),
sinus frontalis :0.5 inci di bawah Yang Pai (XI. 14) di atas nervus
supraorbitalis
·
Sendi temporomandibularis : Ting Kung (VI,19)
·
Leher: Tien Cuarig (VI,16)
·
Dada : daerah kostokondrium, iga. sternum
·
Asma : Can Cung (XIII,l7)
·
Bahu : Cung Fu (I,1)
·
Lengan : Cien Cing (XI,2l), lien Cuang (V1,l6), Cung Fu
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999 45
·
(I,1). Sang Lien (II,9)
·
Siku Sang Lien (II,9). Ceu Liao (II,12). Siao Hai (VI,8)
·
Pergelangan tangan Yang Si (II,5). Yang Ku (VI,5)
·
Tangan atau jari : pangkal ibu jari ruas jari pada sisi sendi.
San Cien (II,3). Heti Si (VI,3), Heherdens nodes
·
Nyeri pinggang Kuan Yen Su (VII,26) (ligamentum sa-
kroiliakal). Huan Tiao (XI,30), prosesus laminaris dan spinosus
L3-5
·
Panggul : Huan Tiao (XI,30)
·
Sakrokoksigeus : Yao Su (XIV,2)
·
Lutut: Yin Ling Cuen (IV,9)
·
Gout(hallux) Tay Pai (IV,3)
·
calcaneus spur : titik yang paling nyeri.
MEKANISME KERJA
(I)
1) Teknik perangsangan periosteum tulang menimbulkan efek
analgesia hiperstimulasi. Efek neurofisiologi ini telah dibahas
secara terinci oleh Melzack. Dari penelitian didapatkan bahwa
periosteum tulang kaya akan serabut saraf C tidak bermielin
dengan sangat sedikit supply sensori klasik dari serabut saraf
besar alfa-delta bermyelin. Dengan merangsang periosteum, ter-
jadi perangsangan yang lebih langsung kepada susunan saraf
pusat terutama pada sistem paralel sebagaimana diterangkan
oleh Mark dan Erwin. Dengan demikian terjadi pembebanan
berlebihan dalam thalamus. Diperkirakan pula terjadi gangguan
pada jalur yang telah ada yang dihasilkan oleh sindrom nyeri
kronis. Hal ini juga mengurangi mekanisnie pembentukan nyeri
yang sebelumnya telah ada.
2) Efek terpenting perangsangan periosteum adalah meng-
hasilkan aksi melalui sistem saraf otonom, terutaina melalui
bagian simpatis sistem itu. Tampak pada kebanyakan kasus,
khususnya dalain pengobatan artritis, terdapat pengurangan
segera dalam pembengkakan di daerah nyeri seperti juga per-
uhahan vasomotor yang mudah terihat dalam waktu yang singkat.
Efek ini hanya dapat dihasilkan oleh perubahan dalam sistem
sarat otonom. Sering pasien yang telah lama menderita pem-
bengkakan pada sendi dan memiliki ecchymosis yang nyata dan
perubahan pembuluh darah di sekitar daerah nyeri mengalami
perubahan yang bermakna dan keadaan pembengkakan dan
keadaan pembuluh darah kulit dalam waktu tidak lebih dari dua
puluh empat jam sesudah pengobatan.
Hubungan antara sistem saraf otonom dengan etiologi nyeri
kini sedang diteliti secara luas. Kebanyakan ahli merasa bahwa
terdapat huhungan langsung antara fungsi sistem otonom dan
terjadinya nyeri. Periosteum tulang yang memiliki hubungan
dengan sistem sarat otonom, apabila dirangsang akan meng-
akibatkan perubahan dalam status kimia listrik dan sistem saraf
ini.
PENUTUP
Secara umum dapat dikatakan bahwa teknik pengobatan
osteopunktur paling bermanfaat dalam pengobatan nyeri kronis
dan pengobatan artritis degeneratif (osteoartritis). Banyaknya
pengobatan yang diperlukan relatif lebih sedikit dibandingkan
dengan cara pengobatan akupunktur biasa dan hasil pengobatan
pun berlangsung lebih lama. Meskipun terdapat kemungkinan
bahaya infeksi, namun selama ini belum pernah dilaporkan ada-
nya infeksi setelah pengobatan. Pengamatan selama beberapa
tahun menunjukkan tidak adanya perubahan atau efek samping
pada tempat penusukan. Cara pengobatan ini aman dan dapat
dilakukan oleh semua dokter yang mendapat latihan. Dengan
demikian teknik pengobatan osteopunktur ini kiranya dapat
menjadi salah satu pilihan dalam upaya penanggulangan nyeri.
KEPUSTAKAAN
1. Lawrence RM. A New Method of Pain Control by Stimulation of the
Periosteum of the Bone. Am .J Acupunc 1976: 4(1): 3740,
2. Lee iF & Cheung CS. Current Acupuncture Therapy. Hong Kong: Medical
Interflow Publishing House. 1978.
3. Schneideman I. Medical Acupuncture. Hong Kong MayfairMedical
Supplies Ltd., 1988.
As a field, however fertile, can yield no fruit without culture,
so neither can the mind of man without education
(Seneca)
Cermin Dunia Kedokteran No. 123, 1999
46