Infeksi pada Transplantasi Ginjal dan
Pencegahannya
R.P. Sidabutar, Suhardjono
Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Rumah Sakit Dr Cipto Mangunkusumo, Jakarta
PENDAHULUAN
Pada masa lalu, yaitu tahun 1960-an infeksi masih me-
rupakan penyebab kematian yang utama pada transplantasi
ginjal
(1)
; lebih dari 50% penderita transplantasi meninggal karena
infeksi, baik bakteri konvensional ataupun infeksi opurtunistik
dan jamur. Dalam masa kurang dari 1 bulan pasca operasi, angka
kematian akibat infeksi mencapai 25% dari seluruh kematian
(1)
.
Semakin lama mortalitas akibat infeksi dengan jelas menunjuk-
kan penurunan
(2)
; hal ini disebabkan oleh semakin majunya
teknik pembedahan, pencegahan dan pengobatan infeksi serta
imunosupresi.
Walaupun sudah banyak kemajuan yang didapat pada masa
ini, infeksi pada transplantasi ginjal masih menjadi masalah.
Sering resipien pada suatu saat, dirawat kembali oleh karena
infeksi yang dialaminya yang membahayakan jiwa dan ginjal-
nya.
Transpiantasi ginjal hanya dapat berhasil baik apabila kita
dapat memberikan dosis obat yang cukup mensupresi meka-
nisme rejeksi, akan tetapi tidak menurunkan kemampuan imu-
nitas tubuh untuk mengatasi infeksi.
INFEKSI PADA TRANSPLANTASI GINJAL
Pada dasarnya ada 2 jenis infeksi yang sering terjadi yaitu
infeksi bakteri konvensional dan infeksi yang tidak konven-
sional. Infeksi pada 4 minggu pertama transplantasi umumnya
adalah konvensional oleh karena tindakan operasi.
Apabila terjadi infeksi tidak konvensional seperti infeksi
virus yang jarang, jamur, protozoa atau tuberkulosis, kemungkin-
an memang penderita sudah mengidap penyakit tersebut sebe-
lumnya. Pemberian dosis tinggi imunosupresi memungkinkan
eksaserbasi dan diseminasi infeksi-infeksi ini. Kemungkinan
Dipresentasikan pada : Simposium Infekri Nosokomiat pada Pasien Imuno-
kompromi, Jakarta 8 Februari 1992.
yang lain adalah akibat infeksi nosokomial.
Infeksi bakteri pada 1 bulan pertama biasanya terdapat pada
saluran kencing, luka operasi, sistim pernapasan, dan akses
vaskuler. Infeksi ini dapat berlanjut menjadi septikemia yang
berakibat fatal. Infeksi bakteri yang tidak konvensional seperti
listeria, mikobakteria, legionella dapat terjadi kemudian. Virus
herpes simplex cukup sering terjadi dan awal, akan tetapi
umumnya self limiting. CMV cukup sering didapat, dan
menimbulkan banyak masalah, biasanya terdapat sesudah 1
bulan. Herpes zoster dapat terjadi setelah bulan-bulan awal
transplantasi. Infeksi nocardia, jamur, protozoa, lebih jarang
didapatkan. Infeksi jamur mencapai puncak tertinggi pada 2 - 3
bulan pasca transplantasi ketika dosis prednison masih sekitar
60 mg/hari
.
(Gambar 1).
PREDISPOSISI INFEKSI
Penderita transplantasi ginjal lebih mudah mendapat
infeksi oleh karena beberapa faktor
(3)
:
1.
Penderita sudah lama dalam keadaan uremia, anemia yang
membuat sistim kekebalan rendah.
2.
Faktor obat-obat imunosupresi, selain itu Alga prednison
memperlambat penyembuhan luka.
3.
Operasi yang meliputi vaskuler dan saluran kemih,
kemungkinan kontaminasi.
Selain dosis steroid yang tinggi, infeksi dimudahkan dengan
adanya netropenia, hiperglikemia, fungsi ginjal yang kurang,
hepatitis, splenoktomi.
Infeksi pada luka dipengaruhi oleh adanya hematom, fistula
urin, ada tidaknya diabetes dan asal ginjalnya
(4)
. Jadi pengalaman
dan kemahiran ahli bedah amat berperan terhadap timbulnya
infeksi pada luka operasi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
36
Gambar 1. Waktu terjadlnya Infeksi pada penderita transplantasi ginjal.
PENCEGAHAN INFEKSI PADA TRANSPLANTASI
GINJAL
Untuk mencegah infeksi, dalam pemeriksaan awal telah
dibuat suatu prosedur untuk mencari kemungkinan adanya in-
feksi. Hal ini meliputi anamnesis, pemeriksaan fisik dan labora-
torium baik dari calon donor maupun resipiennya. Kemudian
dilakukan usaha-usaha untuk menekan kemungkinan terjadinya
infeksi dari luar maupun dari dalam tubuh penderita sendiri
(Tabel 1).
Tabel 1. Protokol pencegahan Infeksl transplantasi ginjal
Pemerlksaan awal Calon Resipien
Foto thorax: tbc, bronkiektasis.
Pemeriksaan gigi, THT; fokus infeksi.
Pemeriksaan ginekologik
Urin; kultur dan pemeriksaan Antibidy Coated Bacteria
Darah: Virus; CMV, HSV, Hepatitis B, C
(WR,
VDRL,
HIV)
Kultur kulit, hidung, tenggorokan
* Infeksi yang aktif harus diobati terlebih dulu.
Pemeriksaan Awal Calon Donor
Foto thorax
Pielografi Intra Vena
Urin, kultur, Antibody Coated Bacteria
Darah: CMV, HSV, Hepatitis B, C.
(TPHA,
VDRL,
WR,
HIV)
Pra operasi
Sterilisasi kamar perawatan resipien; fogging dengan Resiguard, UV 24 jam
Penderita mandi dengan antiseptik
Daerah operasi dikompres betadin
Dekontaminasi usus; Neomisin/Polymixin
Oral Tobramycin/Colistin
Mycostatin/Amphotericine B
Antibiotika profilaksis
Pasca Operasi
Luka operasi tiap hari dibersihkan
CVP line: hari ke-2 dicabut
Kateter hari ke 3 - 5 dicabut
Suction drain secepatya dicabut
Antibiotika 3 - 5 hari
Kultur darah, urin, drain, luka setiap hari selama 2 minggu.
* Acydovir apabila ada indikasi (2 minggu atau lebih lama).
Evaluasi calon donor amat penting karena penularan pe-
nyakit melalui ginjal yang ditransplantasikan mungkin terjadi.
Di Indonesia semua transplantasi dilakukan dengan donor hidup,
sehingga lebih menguntungkan oleh karena kita mempunyai
cukup waktu untuk memerilcsa donor dan memilih yang sehat.
Pemeriksaan serologik HIV akhir-akhir ini mulai dilakukan.
PENCEGAHAN INFEKSI PADA SAAT OPERASI
Angka infeksi amat menurun dengan membaiknya teknik
pembedahan, antara lain dengan menghindari terjadinya he-
matom, kebocoran urin dan pengumpulan limfe. Untuk meng-
hindari pengumpulan darah, limfe atau pembentukan ruang yang
menyebabkan infeksi bakteri, dipakai suction drain, walaupun
dikatakan bahwa pemasangan drain menambah kemungkinan
terjadinya infeksi. Operasi ulangan oleh karena sesuatu hal se-
perti perdarahan, kebocoran urin, akan menambah kemungkinan
infeksi.
Tak semua senter memberikan antibiotika profilaksis, wa-
laupun banyak yang menganjurkan hal Mi. Kami di sini mem-
berikan cephalosporin generasi ke-3 atau ampisilin selama 5
hari.
PENCEGAHAN INFEKSI SESUDAH TRANSPLANTASI
Penderita transplantasi sebaiknya dirawat di ruang yang
semi steril, dengan prosedur yang biasa dilakukan di ruang steril.
Setiap yang masuk memakai baju khusus, mencuci tangan
dengan antiseptik, memakai masker.
Selama minggu pertama dan kedua dilakukan pemeriksaan
laboratorium setiap hari; Hb, lekosit dan lain-lain kultur, darah,
min, drain, luka operasi, dilakukan setiap hari. Setiap dilakukan
pengangkatan kateter atau drain atau i.v. line, selalu dilakukan
pemeriksaan kultur pada ujung atau puntung alat-alat tersebut.
Setelah minggu ke-2 apabila tidak ada indikasi lain kultur di-
lakukan 1 kali seminggu sampai penderita pulang. Pada umum-
nya penderita dipulangkan pada minggu ke-3 atau ke-4 pasca
operasi.
Antibiotika diberi apabila ada demam, sesuai dengan hasil
kultur terakhir dan organ yang terkena.
PENGALAMAN DI JAKARTA
Dalam 12 tahun terakhir, 27% kematian pada transplantasi
ginjal di RSCM dan RS Cikini, disebabkan oleh infeksi (Gam-
bar 2).
Dengan prosedur yang kami lakukan sampai saat ini, infeksi
pada saat perawatan jarang terjadi. Pada perawatan pasca trans-
plantasi kemungkinan tersering adalah terjadinya infeksi pada
luka operasi; biasanya disebabkan oleh Stafilokokus aureus/
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993 37
Gambar 2. Penyebab kematian pada Transplantasi Ginjal dalam kurun
waktu
12
tahun
d
Jakarta
Gambar 3. Keseringan Inreksi dari 100 Transplantasl Ginjal dl Jakarta
(Sidabutar, Suhardjono dan Sumardjono 1990).
albus yang masih sensitif terhadap ampisilin. Kami mendapatkan
seorang penderita dengan abses yang cukup besar di bekas luka
operasi dengan febris yang tinggi, setelah hampir 2 bulan pasca
bedah. Dengan insisi dan pemberian ampisilin penderita ini dapat
sembuh. Dalam kepustakaan pernah dilaporkan tetjadinya in-
feksi pada daerah bekas luka operasi pada 2 penderita setelah
transplantasi ginjal 4½ dan 17 tahun
(5)
. Pada satu kasus terdapat
sisa benang nilon dan pada kasus yang kedua tidak diketemukan.
Untuk profilaksis di awal program transplantasi ginjal kami
memakai cephalosporin generasi ke-3 selama 7 hari. Dengan
dimulainya pemakaian cyclosporin, kami mencurigai adanya pe-
ningkatan nefrotoksitas akibat kombinasi obat-obat ini, sehingga
antimikroba ini kami hindari. Dari kesan yang kami alami selama
ini, pemakaian antimikroba yang mempunyai spektrum lebar
dalam jangka lama sering meningkatkan terjadinya infeksi virus
atau jamur. Saat ini untuk profilaksis kami hanya memakai
ampisilin selama 5 hari. Banyak pusat transplantasi di Amerika
memakai Trimetoksasol-SMZ sebelum dan sesudah operasi untuk
jangka yang amat lama
(6)
. Akan tetapi angka infeksi yang terjadi
ternyata masih lebih besar apabila dibandingkan dengan yang
terjadi di sini. Penderita yang mengalami infeksi Legionella paru
dapat tertolong dengan pemberian Siprofloksasin, tetapi kemu-
dian meninggal karena residif dengan infeksi yang amat luas dan
distres pernapasan.
Obat anti virus tidak diberikan secara rutin sebagai profilak-
sis. Apabila terdapat tanda yang jelas dari infeksi virus, kami
memberi Acyclovir parenteral atau oral; semua kasus Herpes
Zoster menunjukkan perbaikan dalam waktu singkat dengan obat
ini. Untuk pencegahan infeksi, calon donor yang menunjukkan
infeksi CMV, HSV, tidak dianjurkan mendonorkan ginjal ke-
pada resipien dengan hasil tes serologi yang negatif.
Pada tiga orang yang mengalami infeksi jumur sistemik
kami berikan Ampoterisin B. Obat ini menyebabkan toksisitas
dan akhirnya penderita talc tertolong. Walaupun saat ini sudah
ada obat anti jamur yang lebih aman, kami selalu ekstra hati-hati
terhadap kemungkinan infeksi jamur.
PENUTUP
Infeksi pada transplantasi ginjal amat menentukan survival
penderita dan ginjal cangkoknya. Oleh karena itu tindak pen-
cegahan dan pengobatannya perlu terus diperbaiki. Sampai saat
ini angka kejadian infeksi yang didapat di Indonesia tak berbeda
dengan di negara maju. Hal ini juga membuktikan bahwa tidak
selalu hal-hal yang dilakukan di luar negeri harus selalu diterap-
kan di sini. Banyak biaya yang dapat dihemat oleh karenanya.
KEPUSTAKAAN
1.
Hill RB, Dahrling BE, Starzl TE, Rifkind D. Death after transplantation. An
analysis of sixty cases. Am J Med. 1967; 42: 327-33.
2.
Hill MN, Grossman RA, Feldman HI, Hurwitz SH, Dafoe DC. Changes in
casse, of death after renal transplantation, 1966 to 1987. Am J Kidney Dis.
1991; 17: 512-S.
3.
Winearls CG, Lane DJ, Kurtz J. Infectious complications after renal trans-
plantation. Dalam Morris PJ (Ed.). Kidney Transplantation. Principles and
Practice. 2nd ed. London, Grune & Stratton, 1984.
4.
Kyrriakides GK, Simmons RL, Najarian JS. Wound infections in renal
transplant wounds. Padaogenetic and prognostic factor. Ann. Surg. 1975;
182: 770.
5.
Francis DMA, d'Apice AJ, Clunie GJA. Wound infections presenting several
years after successful renal transplantation. Transpl. Proc. 1988; 20: 128-30.
6.
Migliori RJ, Simmons RL. Infection prophylaxis after organ transplantation.
Transplantation Proc 1988; 20: 396-399.
7.
Rubin RH. Infection in the renal transplan patient. Dalam: Rubin RH, Young
LS (eds). Clinical Aproach to Infection in Compromised Host. New York:
Plenum, 1981. p 553-605.
8.
Sidabutar RP, Suhardjono, Sumardjono. Transplantasi ginjal, pengalaman
dan beberapa aspek khusus di Indonesia. Proc. Simposium Beberapa Aspek
Penatalaksanaan Penyakit Ginjal, Jakarta 1990: 111-125.
Cermin Dunia Kedokteran No. 82, 1993
38