"Giant Nevus Verrucosus
dr.
Hamma Halim,
dr.
Moh. Usman Atmaprawira,
dr.
Osmina Cherani,
dr. Ronny P., dr.
Handoko
Bagian Ilmu Penyakit Kulit
Kelamin RSCM,
Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia, Jakarta.
Giant nevus verrucosus sangat jarang ditemukan. Nevus verru-
cosus sendiri merupakan bagian tumor permukaan epidermis
(surface epidermis). Seperti lazimnya, tumor-tumor epidermis
dibagi atas tumor yang berasal dari permukaan epidermis dan
yang berasal dari apendiks epidermis. Kelainan ini juga sering
dinamakan Nevus Unius Lateralis atau Nevus Lateralis saja,
Localised Linear Epidermal Nevus dan Nevus Systematicus.
Kelainan ini biasanya dijumpai sejak lahir atau tidak lama
sesudah lahir dan sering ditemukan di tungkai atau di lengan
terutama di bagian fleksor, tetapi dapat juga di bagian lain
tubuh dan lebih sering unilateral.
Secara histopatologik tumor-tumor permukaan epidermis
dibagi dalam tiga bentuk : (1) Tipe yang lokalisata dengan
gambaran histopatologik papiloma, (2) Tipe inflamasi dengan
gambaran dermatitis,
(3)
Tipe sistemik dengan gambaran his-
topatologik papiloma yang sering disertai degenerasi granuler.
Jika terdapat bilateral simetris, tumor ini sering dinamakan
juga Ichtyosis Hystrix dan bentuk ini sering dihubungkan
dengan kelainan tulang dan susunan saraf pusat seperti Nevus
verrucosus yang meliputi daerah yang luas dan bentuk per-
tumbuhan yang menyerupai tumor verukus disebut sebagai
Giant Nevus Verrucosus. Di bawah ini dilaporkan satu kasus
seperti yang tersebut di atas.
Laporan kasus
Penderita seorang wanita, umur 16 tahun, bangsa Indonesia
dirawat di bagian Kulit dan Kelamin Rumah Sakit Dr. Cipto
Mangunkusumo sejak tanggal 27 Oktober 1978. Dalam alo-
anamnesa (penderita tidak mengerti bahasa Indonesia) sejak
lahir di tungkai bawah dan atas kiri ditemukan kutil-kutil
berwarna kemerahan yang lambat laun berubah menjadi abu-
abu kehitaman. Kelainan ini meluas sampai ke daerah pusar
dan kira-kira satu tahun yang lalu tungkai membengkak, pegal
dan timbul borok kecil di kaki kiri. Pengobatan oleh dokter
berupa pil, kapsul dan suntikan tidak memberikan perbaikan.
Dalam pemberiksaan status internus didapatkan seorang
penderita yang tidak tampak sakit, tidak anaemik, kompos
mentis, gizi sedang, tensi 120/80 mm Hg, nadi 80/menit, suhu
axila
36 C
dan berat badan 50 kg. Tidak didapatkan kelainan
jantung, paru-paru, hati maupun limpa. Dalam pemeriksaan
status dermatologikus di seluruh tungkai dan kaki kiri, labium
mayus kiri, gluteal kiri, abdomen kuadrant kiri bawah sampai
setinggi umbilikus tampak efloresensi berupa papula-papula
yang verukus dan berwarna keabu-abuan serta menunjukkan
hiperkeratotik. Di kaki kiri ditemukan edema dan di per-
tengahan tungkai bahwah kiri didapati ulkus yang bulat
dengan diameter 2,5 cm, dinding tidak bergaung, dasarnya rata
ditutupi pus dan berbau busuk. Kelenjar inguinal lateral kiri
serta femoralis kiri tidak menunjukkan pembesaran atau
tanda-tanda radang.
Pemeriksaan laboratorium rutin untuk urin feces dan darah
tepi masih dalam batas-batas normal, sedangkan LED 70/110
(60 /120 )
cara Westergren. Pemeriksaan parasitologik dilaku-
kan tgl. 7 November 1978 tiga malam berturut-turut; tidak di-
temukan mikrofilaria di dalam darah. Pemeriksaan sinar
tembus tgl.
30
Oktober 1978 tampak pembengkakan soft
tissue tidak merata, berbenjol banyak, tulang intact.
Hasil pemeriksaan histopatologik
1).Sediaan kesatu (jaringan kulit
yang
verukus). Jaringan kulit
dengan epidermis hiperkeratotik akantosis hebat. Dermis
sembab, pembuluh darah melebar, terlihat proliferasi sel-sel
fibroblast dan sebukan sel-sel radang menahun. Tidak
tampak kelainan khas atau tanda-tanda keganasan. Gambar-
an histologik lebih menyerupai Nevus verrucosus.
2).Sediaan kedua (jaringan kulit yang ulceratif). Jaringan kulit
dengan epidermis akantotik hebat, terdapat exositosis.
Dermis sembab, pembuluh darah melebar. Terlihat sebukan
sel-sel radang menahun dan sel-sel PMN. Tidak tampak
tanda-tanda khas atau keganasan.. Bambaran histologik
sesuai dengan proses kronik non-spesifik dengan infeksi
sekunder.
Cermin Dunia Kedokteran
No. 21, 1981 5 1
Pengobatan
Penderita menolak cara pengobatan yang dianjurkan dan ke-
luar rumah sakit tanggal 5 Desember 1978. Rencana pengobat-
an berupa dermabrasi bertahap dan pemberian 5-fluorouracil
2 - 5% sesudah operasi untuk mencegah residif.
.
setempat ataupun yang luas dianjurkan untuk dilakukan der-
Diskusi
Giant nevus verrucosus seperti kasus ini sangat jarang
di-
temukan. Pada kasus ini dadapatkan peradangan sebuah ulkus
yang diduga mungkin merupakan degenerasi maligna dari Ne-
vus verrucosus tersebut, tetapi pemeriksaan histopatologiktidak
menunjukkan keganasan. Oleh Dogliotti MA dkk. dilaporkan
suatu kasus degenerasi maligna di mana timbul suatu karsino-
ma planocellulare (1). Perubahan ini sangat jarang di laporkan
di dalam kepustakaan. Untuk pengobatan Nevus verukus yang
mabrasi sekaligus/ataupun bertahap. Prof. Makuto Seiji di
Jepang (2) banyak melakukan tindakan ini dengan hasil yang
cukup memuaskan. Sesudah dermabrasi diberikan salep
5-fluorouracil 2 - 5% untuk mencegah residif. Jika residif
dapat dilakukan dermabrasi ulangan. Selain dermabrasi, bebe-
rapa penulis menganjurkan pengobatan dengan salep methotre-
xate 5% yang dioleskan beberapa kali sehari dengan hasil yang
cukup baik. Pengobatan lain yang dianjurkan di dalam ke-
pustakaan ialah pemberian retinoic acid yang diberikan secara
oral dengan hasil yang juga memuaskan.
KEPUSTAKAAN
1.Dogliotti MA, Frenkei. Malignant change in a verrucous nevus.
Inter J Derm 1978; 17 : --
2. Seiji M. Personal Communication.
FISIOLOGI PERNAFASAN
DAN PATHOFISIOLOGINYA
Oleh :
Dr.
Hasjim
Effendi dr.
Jasmeiny Jazir,
128
halaman.
Bandung,
Penerbit
Alumni, 1980.
Rp. 2.650,
Buku Fisiologi Pernafasan dan Pathofisiologinya ini merupa-
kan karya kedua usaha penulisan kembali topik demi topik
dari Diktat Ilmu Faal Kedokteran, yang pertama kali diterbit-
kan tahun 1960, yang merupakan hasil karya penulis bersama-
sama dengan Prof. RA Kenney. Buku pertama mengambil
topik "Fisiologi
Kardiovaskuler dan Pathofisiologinya".
Dalam buku ini dibahas (1) Ventilasi Pulmonal, (2) Sirku-
lasi Pulmonal, (3) Perbandingan Ventilasi Perfusi, (4) Prinsip
Dasar Pertukaran Gas dan Peristiwa Difusi
02
dan
CO2
di
paru-paru, (5) Pengaturan Peristiwa Pernafasan, (6) Penyesuai-
an Pernafasan dalam keadaan Sehat dan Sakit, (7) Berbagai
penyebab Gangguan Fungsi Paru-paru dan Pathofisiologinya,
dan (8) Penanggulangan Fisiologis Kelainan-kelainan Pulmonal
dan Kardiopulmonal.
Pembaca buku ini diharapkan oleh penulisnya bukan hanya
mahasiswa, tetapi juga dokter umum maupun dokter ahli.
Karena itu disadari bahwa bahan-bahan yang disajikan di sana
sini ada yang terlalu sukar atau terlalu mudah bagi kalangan
yang berbeda tingkatannya itu.
Seperti banyak buku terbitan Indonesia lainnya, kelemahan
utama yang segera tampak ialah tehnik penyuntingannya
(editingnya). Mencetak buku yang baik dan yang buruk sama
mahalnya. Oleh karena itu alangkah baiknya bila hal-hal yang
sederhana itu diperhatikan.
Belum banyak buku mengenai ilmu faal yang diterbitkan
di Indonesia ini. Oleh sebab itu buku ini patut disambut
dengan gembira.
DOI :
Data Obat di Indonesia. Edisi 3, I98I.
Oleh :
SL
Purwanto, Mursito, Sumantri
HS. 1069
halaman.
Jakarta,
Grafidian
Jaya, 1981.
Tidak banyak buku bagi kalangan kedokteran Indonesia yang
mampu mencapai edisi ke 3. Salah satu ialah DOI ini, yang
membuktikan dirinya bermanfaat bagi pembacanya.
Pada edisi ke 3 ini pengindonesiaan diperluas ke semua
bagian buku. Semua indeks dan keterangan produk disajikan
dalam bahasa Indonesia. Oleh redaksinya juga diusahakan
mencantumkan harga obat yang mutakhir. Dengan demikian
dokter dapat memperkirakan biaya yang harus dikeluarkan
seorang penderita untuk obat-obat yang dimakannya.
Humor itu penting sekali. Dari 54 pemimpin per-
usahaan yang disurvei, 47 menyatakan: bila semua
persyaratan sama-sama dipenuhi, mereka selalu me-
milih pelamar pekerjaan (manajer) yang menunjukkan
kemampuan berhumor. Anjuran : untuk sukses,
tertawalah selalu.
Executive s Personal Development Letter, Jan. 1981.
5 2 Cermin Dunia Kedokteran No. 21, 1981