Tabel 2. Nyamuk yang tertangkap di perangkap di daerah kontrol daerah percobaan.
Jumlah nyamuk yang tertangkap/m
2
/hari
Species
Maret 77
Kontrol Percobaan
April 77
Mei 77
Juni 77
Kontrol Percobaan
Juli 77
Kontrol Percobaan
***
Kontrol Percobaan
Kontrol Percobaan
C
bitaeniorrhynchus
1,22
2,44
3,66
3,05
3,66
-
2,44
-
0,61
-
C vishnui
1,22
3,05
3,05
1,83
2,44
0,61
1,83
0,61
1,83
-
An. annularis
0,61
1,22
1,22
1,83
1,22
-
-
-
-
-
An. vagus
0,61
0,61
1,83
1,22
1,83
-
1,22
-
0,61
-
An. indefinitus
0,61
0,61
1,83
1,22
1,83
-
1,22
-
0,61
-
An. aconitus
-
-
0,61
0,61
1,22
-
3,05
-
2,44
-
An. barbirostris
-
-
-
-
1,83
0,61
3,66
0,61
2,44
-
Hasil rata-rata 6 perangkap
Pengendalian air di daerah percobaan dimulai
Pengeringan total selama 3 minggu terakhir.
perbedaan dalam waktu pengeringan dan pengairan.
Selama percobaan ini dilakukan juga pengamatan terhadap
pengaruh pengeringan berkala pada hasil padi. Dengan cara
yang digunakan di dalam percobaan ini tidak kelihatan adanya
penurunan dalam hasil padi. Percobaan ini dilakukan dengan
supervisi yang ketat terhadap pelaksanaan irigasi dan penanam-
an bersama oleh pertanian (penanaman secara sinkron).
Dengan hasil yang diperoleh dalam percobaan ini diharap-
kan akan dapat dilakukan percobaan di daerah yang lebih luas.
Pelaksanaannya akan diserahkan kepada Pamong setempat,
sehingga mereka dapat dan mau melakukan pengeringan
berkala ini.
KESIMPULAN
Pengeringan berkala dapat dilakukan bila kriteria
berikut dipenuhi :
(a) Terdapat saluran irigasi teknis (adanya air cukup
adalah mutlak).
(b) Sawah berada dilereng (memudahkan pengeringan)
(c) Penanaman serentak harus dapat digalakkan karena
pengeringan baru dapat dilakukan sesudah padi ber-
umur 2 bulan.
(d) Pamong pertanian dan irigasi dapat dibina untuk mem-
bantu dalam pelaksanaannya.
Ucapan terima kasih
Dengan terlaksananya penelitian ini, ingin kami ucapkan terima
kasih kepada staf P3M Propinsi Jawa Tengah.
KEPUSTAKAAN
1. Soerono, Badawi, AS Muir, DA Soedomo, Siran M. Observations on
doubly resistent anopheles aconitus Donitz in Java, Indonesia,
including its amenability to treatment with malathion. Bull Wld
Hlth Org 1965; 33:453.
2. Bonnet DD, Johnson DR. Training and research requirements,
recommendations for Indonesia malaria control program 1974.
3. Joshi GP, Self LS, Salim Usman, Pant CP, Nelson MJ, Supalin.
Ecological studies on Anopheles aconitus in the Semarang azea
of Central Jawa, Indonesia. WHO/VBC/77.677, tahun 1977.
4. Smalt FN. Periodieke drooglegging van sawahs terbestrijding van
malaria. Meded Dienst Volksez 1937; XXVI : 284.
III. FILARIA
Filariasis (Penyakit Kaki Gajah) di Jawa
Tengah
Soebodro MPH
Kepada Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Propinsi
Jawa Tengah
1.
PENDAHULUAN
1.1. Riwayat penyakit
Beberapa jenis dari Nematoda parasitik dalam keluarga
Filaricidea mampu menimbulkan penyakit pada manusia.
Infeksi oleh cacing darah ini lebih dikenal dengan sebutan
filariasis. Penderita dapat memperlihatkan adanya pembeng-
kakan pada tungkai bawah (elephantiasis), hydrocele dan
chyluria.
1.2. Gejala-gejala klinis filariasis
Sebelum elephantiasis ataupun hydrocele nampak, maka
pada awal infeksi oleh mikrofilaria (larva dari pada cacing
yang infektif) timbul reaksi alergi pada tubuh penderita. Hal
ini dapat dideteksi dengan skin testing 0,01 ml pengenceran
1 : 8000 antigen filaria dan memperlihatkan adanya reaksi
yang kuat. Gejala demam berulang-ulang terjadi sebagai akibat
peradangan pada saluran dan kelenjar getah bening.
35
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Apabila bibit penyakit ini dibiarkan bersarang didalam tubuh
penderita maka akan terjadi peningkatan daripada kerusakan-
kerusakan jaringan. Belum dapat dikemukakan berapa per-
bandingan serta peningkatan besarnya kerusakan jaringan
sebagai akibat infeksi tunggal, reinfeksi maupun super infeksi.
Diduga bahwa beberapa puluh tahun (30 - 40 tahun) setelah
mendapat infeksi akan terjadi inflamasi dan fibrosis daripada
jaringan saluran dan kelenjar getah bening, diikutipenyumbat-
an sehingga terjadi pembengkakan jaringan otot sekitarnya.
Ini merupakan awal dari pembengkakan dengan ditandai kulit
menjadi tebal berwarna keabuan dan melipat-lipat tidak ter-
atur. Epidermis menjadi hiper-keratotik dan fibrasi jaringan
subkutan meningkat.
Jika pembengkakan ini terjadi ditungkai bawah timbullah
keadaan yang dikenal sebagai kaki gajah (elephantiasis cruris)
atau di scrotum (elephantiasis scrotalis) atau di kelenjar-
kelenjar getah bening pangkal paha. Gejala tersebut di atas
adalah tingkat terakhir filariasis, sehingga penderita akan
mengalami invaliditas selama hayatnya.
Perlu diutarakan bahwa elephantiasis bukanlah
diagnosa
untuk filariasis, karena sebab-sebab lain dalam tubuh dapat
menimbulkan penyumbatan saluran dan kelenjar getah bening
dan memperlihatkan hal yang sama dengan elephantiasis
seperti diuraikan diatas.
1.3. Epidemiologi filariasis
Filariasis adalah penyakit yang ditularkan oleh serangga
(insect born disease) yang dalam hal ini nyamuk memegang
peranan sangat utama seperti halnya penyakit malaria. Dengan
demikian terjadilah perputaran hidup parasit di dalam tubuh
penderita sebagai sumber infeksi dan di dalam tubuh serangga
penyebar penyakit (vektor).
1.3.1.Perputaran hidup cacing di dalam tubuh penderita
(intrinsic cycle)
Penderita filariasis mengandung cacing dewasa jantan
betina dalam tubuhnya. Tempat yang disukai adalah kelenjar
getah bening dalam rongga sekitar pinggul dan pangkal paha.
Telor-telor dieram dalam uterus cacing dewasa betina hingga
mencapai stadium embrio aktif yang kemudian dilepaskannya
ke dalam saluran getah bening menuju saluran darah dan
tumbuh menjadi embrio yang berbentuk lurus, bergerak aktif,
melepaskan selaput membran pembungkus dan lahir larva
cacing filaria (panjang 250-300,u serta diameter sama dengan
diameter butir darah merah). Mengembara mengikuti peredar-
an darah (satu minggu setelah lahir sampai dengan satu tahun).
Mikrofilaria (larva cacing) dapat berada dalam peredaran darah
perifer menurut waktu sesuai dengan jenis mikrofilaria itu.
Di Indonesia periodisitas ini terdapat di malam hari antara
jam 21.00 sore hari - 2.00 dini hari. Di dalam keadaan infeksi
berat periodisitas terjadi siang dan malam hari.
1.3.2.Perputaran hidup
cacing dalam tubuh vektor (extrin-
sic cycle).
Mikrofilaria yang berada di dalam darah perifer akan
terhisap oleh nyamuk pada waktu nyamuk menggigit. Di
dalam tubuh vektor larva-larva ini tidak memperbanyak diri.
Pertumbuhan larva semenjak dihisap oleh nyamuk hingga
menjadi infektif menelan waktu 10 - 40 hari. Migrasi ke mulut
(proboscis) nyamuk terjadi apabila telah menjadi larva infek-
tif, yang selanjutnya akan dimuntahkan masuk saluran darah
pada waktu nyamuk menggigit dan menghisap darah mangsa-
nya.
1.3.3. Distribusi filariasis
Filariasis merupakan penyakit daerah tropik, terutama
yang disebabkan oleh Wuchereria bancrofti. Periodisitas ter-
jadi malam hari, Tersebar di daerah tropis benua Afrika, di
Asia (India, RRC, Asia Tenggara), Australia Utara, Salomon,
New Hibrides dan daerah tropis Amerika Latin.
2.
FILARIASIS DI INDONESIA
2.1. Aspek epidemiologis
Beberapa daerah di negara kita telah menjadi endemis.
Pertama kali dilaporkan oleh Raga van Rocke (1889)
dengan diketemukannya kasus elephantiasis, hydrocele dan
chyluria baik di pedesaan maupun di daerah perkotaan sekitar
kota-kota Jakarta, Semarang, Cilacap dll. Diketahui cacing
penyebabnya adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi,
dan Brugia timori. Wuchereria bancrofti terdapat di daerah
perkotaan dengan vektor utamanya Culex p. fatigans; Brugia
malayi terdapat di daerah pedusunan dengan vektor utamanya
beberapa jenis anopheles (An. annularis, An. subpictus) dan
Mansonia (Ma. annulifera, Ma. indiana, Ma. uniformis); dan
Brugia timori di Pulau Timor dan sekitarnya ditularkan oleh
nyamuk An. barbirostris.
Anak terkecil yang pernah diketemukan mengandung bibit
penyakit ini berumur 6 bulan dan diketahui frekuensi filariasis
nampak meningkat sejalan dengan golongan umur. Pada
umumnya lebih banyak dijumpai pada laki-laki daripada
wanita. Prevalensi filariasis di Indonesia adalah 10%. Serangan
demam pada penderita di daerah endemis rata-rata 8 - 10 kali
dalam setahun dengan lama waktu serangan 3 - 5 hari. Hal ini
menunjukkan keadaan yang lebih parah di daerah endemis
dengan intensitas infeksi yang lebih tinggi.
2.2. Aspek sosial dan ekonomi
Peradangan saluran dan kelenjar getah bening menyebabkan
penderita tidak dapat bergerak dalam waktu rata-rata satu
minggu. Gejala ini sangat menonjol dan nampak lebih dini
apabila infeksi terjadi di antara penduduk di daerah non-
endemis. Dari uraian diaatas akan nampak gambaran bahwa di
daerah endemis (Jawa-Bali) filariasis belum dirasakan sebagai
masalah penyakit yang mendapat tempat di kalangan masya-
rakat. Namun di luar Jawa - Bali, terutama daerah perluasan
pembangunan ekonomi pedusunan di daerah baru dari pro
gram transmigrasi, di mana tenaga manusia merupakan faktor
penentu dalam tatanan peri-kehidupan masyarakat di daerah
tersebut, maka filariasis menempati salah satu urutan prioritas
penyakit yang perlu ditanggulangi. Berkurangnya waktu untuk
bekerja serta menurunnya daya kerja akibat sakit dan invali-
ditas akan menentukan nasib hidup bagi keluarga penderita
di hari kemudian.
2.3.
Usaha pemberantasan.
2.3.1.Tujuan.
Pemberantasan filariasis di Indonesia adalah untuk me-
lindungi penduduk dari menurunnya daya kerja, hilangnya
jumlah hari kerja dan timbulnya cacad akibat penyakit ini.
2.3.2. Strategi pelaksanaan
Usaha pemberantasan diarahkan kepada pemberantasan
Simposium Masalah Penyakit Parasit
3 6
parasitnya dengan pengobatan penduduk. Obat yang diguna-
kan adalah diethylcarbamazine citrat (DEC). Dengan peng-
obatan ini diharapkan adanya penurunan gejala penyakit
di kalangan penduduk di samping juga menurunkan jumlah
bibit penyakit di dalam tubuh penderita sehingga penderita
tidak menjadi sumber penularan.
Langkah berikutnya adalah menentukan vektor utamanya
guna menentukan cara pemberantasan vektor yang lebih ber-
hasil guna dan berdaya guna.
2.3.3.Prioritas pemberantasan
Prioritas daerah pemberantasan dengan kegiatan pengobat-
an penduduk diperuntukkan daerah endemis yang berdekatan
dengan daerah pemukiman baru, daerah produksi dengan
endemisitas tinggi dan daerah yang telah dicakup pada tahun-
tahun sebelumnya yang membutuhkan pengobatan ulang.
2.3.4. Evaluasi pemberantasan
Untuk dapat menilai hasil pemberantasan perlu ditentukan
beberapa indikator antara lain :
4.I. Acute Disease Rate (%).
Jumlahpenduduk dengan gejala akut filariasis
X 100%
Jumlah penduduk diperiksa
Gejala akut penyakit filaria :
-- demam filaria
- retrograde lymphangitis
-- Iymphadenitis
-- abses dan early lymphedema.
4.2.
Microfilaria rate (M.f. rate : %).
Jumlahpenduduk mengandung m.f. per 20 mm
3
darah tepi x 100%
Jumlah penduduk diperiksa
4.3.
Median microfilaria count (=MfD50).
Angka rata-rata jumlah mikrofilaria per 20 mm
3
darah
yang diperiksa pada 50% kumulatif penderita.
3.
FILARIASIS DI JAWA TENGAH
3.1. Distribusi dan prevalensi penyakit filaria
Filariasis telah Iama dikenal di daerah Jawa Tengah. Bebe-
rapa daerah ini telah diselidiki sejak masa penjajahan antara
lain di daerah muara sungai Serayu dan sekitarnya (Kecamatan
Maos, Adipala, sekitar kota Cilacap), di daerah Kab. Semarang
(sekitar rawa Pening, Kecamatan Ambarawa), sekitar kota
Tegal dll. Namun filariasis ini tidak menjadi masalah kesehat-
an, antara lain dikarenakan filariasis bukan wabah; insidensi
filaria relatif rendah dibanding penyakit menular lain yang
membawa kematian cukup tinggi (kholera, cacar, malaria).
Adanya daya kerja yang menurun akibat invaliditas dan tim-
bulnya sakit belum dirasakan merupakan gangguan bagi
masyarakat yang hidupnya bercocok tanam. Usaha-usaha
selain bercocok tanam dalam keadaan seperti tersebut di atas
masih dapat dijangkau untuk meinberi penghidupan sehari-
hari.
Data filariasis yang mulai digarap secara rutin lewat laporan
bulanan hasil kegiatan program P3M sejak tahun 1977/1978
memberi gambaran sebagai berikut :
Tabel I : Distribusi penderita baru penyakit filaria di Jawa Tengah.
T a h u n
Jumlah Dati II dengan
kasus filaria baru
Jumlah kasus
1977/1978
7
26
1978/1979
9
50
1. 979/1980
6
22
Jumlah
98
Kasus ini pada umumnya telah memperlihatkan gejala klinis
dari stadium akhir (elephantiasis). Pengobatan belum ditangani
secara sungguh-sungguh. Pada umumnya Dati II yang telah
pernah melaporkan diketemukannya kasus filariasis tidak
mendapatkan kasus elephantiasis baru pada tahun berikutnya.
Kelangkaan dapat diketemukannya penderita filariasis, walau-
pun data jumlah dan distribusi kasus sangat minim, memberi
petunjuk bahwa daerah Jawa Tengah· dapat diakui sebagai
daerah endemis filariasis.
3.2. Kegiatan pemberantasan
Sesuai dengan strategi pelaksanaan program pemberantasan
yang sifatnya masih merupakan program Pusat, pelaksanaan
operasional sangat tergantung pada biaya yang tersedia yang
prioritasnya diarahkan kepada pemberantasan parasit dengan
pengobatan. Sebagai akibat urbanisasi sejalan dengan lajunya
pembangunan maka masalah lingkungan yang belum cukup
memenuhi syarat-syarat
kesehatan
mengundang tumbuh
suburnya kehidupan beberapa vektor penyakit menular antara
lain nyamuk, baik yang hidup di tempat-tempat dan genangan-
genangan air kotor (Culex) maupun yang hidup di genangan
dan simpanan air bersih yang terbuka (Aedes).
Pada akhir tahun 1976 didapatkan mikrofilaria pada sediaan
darah petugas malaria dalam pemeriksaan mikroskopis berasal
dari daerah Kecamatan Semarang Barat. Peristiwa ini merupa-
kan awal dari pada kegiatan pemberantasan filariasis di Jawa
Tengah yang dirupakan dalam bentuk program. Langkah ke-
giatan operasional yang dilakukan antara lain ada1ah :
3.2.1. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
Kegiatan ini dimaksud untuk mengurangi hambatan yang
timbul didalam pelaksanaan operasional (dikerjakan di waktu
malam hari). Baik masyarakat, Pemda setempat, dinas/organi-
sasi pemerintah dan swasta serta petugas pelaksana perlu
dimotivasi sesuai dengan tujuan dan maksud program. Ter-
utama sekali diharapkan adanya partisipasi masyarakat yang
merupakan obyek penyelidikan.
3.2.2.Penyelidikan mikrofilaria dan vektor.
3.2.2.1. Penyelidikan mikrofilaria.
Untuk menentukan seseorang adalah penderita filariasis maka
program menegakkan diagnosa dengan pemeriksaan darah
periferi sekelompok penduduk yang telah dipilih secara
random di waktu malam hari (mikrofilaria penyebab adalah
Wuchereria bancrofti).
Hasil survey th 1977 dan 1978 dapat dilihat pada tabel II :
3 7
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Tabel 2
Survey darah filaria (darah jari) di Kec. Semarang Barat
Kodya Dati II Semarang.
-------------------------------------------------------
Tgl.
periksa
Lokasi
(desa)
Jiwa
desa
Jiwa
dipe
riksa
Pos.
m.f.
Rata-rata mf. count
dlm 20 mm
3
drh.
ja
ri
per pos
film
per total
film
18-1-1977
Bojong
7.857
salaman (I)
1.050
58
(5,5%)
12,6
0,7
-----------------------------------------
7-10-1977
Cabean
3.656
157
14
(8,7%)
9,4
0,8
- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -
3- 1-1978
1. Boj.sa
7.857
1.496
48
I6,0
0,5
3- 2-1979
laman
(II)
2. Cabean 3.656
1.376
59
16,0
0,6
(4,3%)
3. Demang- 3.268
I.142
22
16,7
0,3
an
(1,9%)
....
.................................................
Pemeriksaan darah filaria tahun 1977 menunjukkan mf. rate
5,96% sedang pada tahun 1978 mf rate 3,69%. Penyelidikan
pada bulan Januari I977 di desa Bojongsalaman di mana
penanganannya dilakukan oleh petugas Dit Jen P3M (Pusat)
menunjukkan pada bahwa dari 1.050 orang yang diperiksa :
-- maximum jumlah Mf. dalam 20 mm
3
: 108
-- 67,2% dari 58 sediaan darah positif mengandung tidak
lebih dari I0Mf. per sediaan darah
-- infeksi pada laki-laki
:
26 (=45%)
-- infeksi pada wanita
:
32 (=55%)
-- tidak dijumpai adanya gejala klinis filariasis.
3.2.2.2. Penyelidikan vektor
Kegiatan ini belum dapat dilaksanakan oleh program Pem-
berantasan Filariasis Jawa Tengah satu dan lain hal karena
masalah tenaga dan sarana belum mencukupi, Namun adanya
kegiatan survey entomologi dari Bagian Parasitologi U.G.M.
Yogyakarta yang dilaksanakan oleh dr. F.A. Sudjadi dkk.
antara bulan Desember 1979 sampai dengan bulan Maret 1980
sangat membantu adanya indikasi bahwa Culex pipiens fati-
gans merupakan salah satu vektor penyebar filariasis di daerah
Kotamadya Semarang. Dari species nyamuk ini yang dikum-
pulkan dengan methoda penangkapan di dalam ataupun di
luar rumah dengan light trap didapatkan species ini positip
mengandung
larva,
yang masing-masing didapatkan di
desa Petompon (Semarang Barat; 1 diantara 39 nyamuk),
di desa Sendang guwo (Semarang Timur; 1 diantara 38 nya-
muk), dan di desa Ngemplak (Semarang Barat; 1 diantara 31
nyamuk).
3.2.3.Pengobatan penduduk dan pengendaliannya
3.2.3.1. Pengobatan penduduk (termasuk penderita).
Obat yang dipergunakan adalah diethylcarbamazine citrate
(DEC), berupa tablet 100 mg dengan dosis 5 mg / Kg berat
badan. Tiap hari (diminum setelah makan malam) selama 20
hari berturut-turut. Pengobatan diberikan secara masal (Mf
rate diatas 2%), terutama penderita filariasis (mikrofilaria
positif). Output pengobatan dengan kunjungan rumah demi
rumah 100 jiwa (20 rumah) per hari tiap petugas.
3.2.3.2. Evaluasi (pengendalian) pengobatan.
Dari sebagian penduduk desa Bojongsalaman (2 RK) dengan
2.000 jiwa dapat diobati pada awal kegiatan 1.884 jiwa
(= 94,2%); 245 orang (=13,0%) mendapat efek sampingan
seperti mual dan muntah. Sakit kepala, pusing, panas badan
dan lain-lain, tidak dijumpai.
Pada akhir pengobatan (20 hari) dapat dicatat bahwa :
-- yang dapat diobati sampai 14 hari = 96,2%
-- yang dapat diobati penuh (20 kali) = 3,8% = 72 orang
(termasuk semua penderita Mf. positif).
Hasil pengobatan 58 kasus Mf. positif (1977) diperiksa kemba-
li darah perifernya pada tahun 1978. Hanya 24 orang dapat
diketemukan kembali di antaranya 8 masih positip (33,3%).
Selebihnya (34 orang penderita menolak untuk diperiksa dan
sebagian pindah tempat).
Pada tahun 1978 di samping pengobatan 8 penderita yang
masih positif di desa yang sama tetapi lain RK yang selanjut-
nya disebut daerah Bojongsalaman II, dilakukan survey filaria
dengan mendapatkan 48 positif Mf. di antara 1,496 orang di-
periksa. Pengobatan pada tahun 1979 dengan cara bersama
dengan daerah Bojongsalaman I (20 hari) memperlihatkan
bahwa masih terdapat 11 orang positif Mf. Sedang 8 orang sisa
Tabel 3.
Survey darah pengobatan masal/penderita
di Kodya. Dati I1 Semarang
1977/1978 -- I980/I981.
Tahun
Lokasi
Jiwa
diperiksa
Jiwa
posi-
tif
Diobati
Hasil pengobat-
an
Gejala
klinis
Dipe- Pos.Mf.
riksa
filaria
1977/
Bqjong
1.050
58
58 (I)
--
--
nihil
1978. Salaman
I
.
1978/
1.Bojong a.......... ........
.............
24
8
x)
nihil
1979.
Salam- b.1.496
48
48 + 8
X)
--
--
nihil
an II.
(I) (II )
= 56
2.Cabean
1.376
59
--
--
--
nihil
3.Dema-
ngan
1.142
22
nihil
1979/
Bojong
)
1980 Salaman )
I
)
.......
......... ............
56
11
xx)
nihil
Bojong
)
Salaman )
II
)
1980/
Bojong . ........
........
ll
xx
)
nihil
1981
Salaman
(II)
II
KETERANGAN : 1. Evaluasi hasil pengobatan berselang 1 tahun ber-
ikutnya.
2. Penderita yang pos. pada pengobatan I diterus-
kan bersama pengobatan hasil Survey pada
tahun bersangkutan.
3. 81 orang kasus dengan Mf. di desa Cabean
Demangan belum dilaksanakan pengobatannya.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
38
penderita yang positif pada pengobatan tahun 1977 telah
menjadi negatif pada tahun 1979. Sebelas orang yang masih
positif pada pengobatan I diteruskan dan akan dimonitor
(diperiksa darahnya) pada akhir tahun 1980 (periksa tabel 3,
4, 5).
Tabel 4
.
Distribusi penderita pos. Mf. menurut goL umur dan kelamin ds.
Bojongsalaman (1) th. 1977/1978
Kodya Semarang.
Golongan umur
Jumlah diperiksa
Jumlah pos. Mf.
Lk.
Pr.
Lk.
Pr.
0--
4
45
41
0
1
5--
9
100
127
6
6
I0 -- 14
126
109
5
10
I5 -- 19
53
77
3
6
20 -- 24
23
49
4
1
25 -- 29
14
36
1
1
30 -- 34
16
38
1
1
35 -- 39
14
32
0
1
40 -- 44
14
32
1
0
45 -- 49
20
19
1
1
50 -- 54
8
18
4
2
55 -- 59
6
12
0
0
60 -- 65
4
11
0
2
65 +
3
3
0
1
JUMLAH
446
604
25
32
Tabel
5
Jumlah penderita (Pos. Mf) menurut jumlah Mf/20 mm
3
desa Bojongsalaman -- Kodya Semarang.
Jumlah Mf.
Bojongsalaman I
Bojongsalaman 11
1977/1978
1978/1979
1
10
9
2
2
2
3
6
2
4
7
6
5
5
10
6
2
3
7
3
5
8
3
0
9
0
4
10
1
5
11 -- 20
8
0
2I -- 30
5
0
31 -- 40
3
2
41 -- 50
1
0
51 -- 60
0
0
61 -- 70
0
0
71 -- 80
0
0
81 -- 90
1
0
91--100
0
0
101 -- 110
1
1
110 +
0
0
JUMLAH
58
48
4. LAIN--LAIN
Penyelidikan yang dilaksanakan oleh Bagian Parasitologi
Universitas Gadjah Mada dan Universitas Indonesia (oleh dr.
FA. Sudjadi, dr. Djakaria dkk.) di daerah sekitar muara
lembah daripada Kali Serayu pada tahun 1979 (desa-desa
Bunton, Wlahar, Penggalang, Karangsari dan Gombol) mem-
berikan gambaran antara lain bahwa :
masih didapatkan 4 orang yang mengandung Mf. (carrier),
semuanya adalah Brugia malayi dari 1.514 orang yang
diperiksa darah jari pada malam hari,
masih dijumpai I0 orang penderita elephantiasis dari
desa-desa yang diperiksa seperti tersebut diatas,
diduga penyebab utamanya adalah Brugia malayi (infeksi
autochtoneous) di samping diketemukannya W. bancrofti
dari seorang (desa Karangsari, Rawalo) yang pernah ber-
tempat tinggal di daerah endemis W. bancrofti di Jakarta
selama tiga tahun (sebelum kembali ke desanya),
Periodisitas Brugia malayi di daerah ini adalah jam 18.00 -
06.00 hari berikutnya (waktu setempat), (tabel 8)
tidak dapat diketemukan sediaan darah positif malaria dari
1.514 orang diperiksa,
walaupun tidak dapat diketemukanvektor yang mengandung
Iarva dalam disection semua jenis nyamuk yang dikumpulkan
(dengan cara penangkapan dalam rumah, diluar rumah, di
semak, dengan light traps) memberi indikasi bahwa jumlah
yang relatif tinggi dapat dikumpulkan dengan cara seperti
di atas adalah dari species :
Cx.p.fatigans(228), Ma. indiana (8) dan Cx. annulus (7).
Selebihnya adalah species lain di antara 256 nyamuk
terkumpul, memberi petunjuk bahwa Cx. fatigans sangat
mungkin merupakan vektor utamanya seperti di Kota-
madya Semarang.
Hasil penyelidikan ini merupakan perbendaharaan data filaria-
sis di Jawa Tengah dewasa ini, karena daerah sekitar lembah
daripada muara Kali Serayu telah lama dikenal sebagai daerah
endemis filaria (prevalensi elephantiasis pada tahun 1933 =
1,62% atau 50 orang elephantiasis dari 3.078 orang diperiksa.
Keadaan prevalensi elephantiasis di daerah ini menunjukkan
angka 0,66% sangat mungkin disebabkan antara lain adanya
pengurangan penderita karena meninggal, pindah tempat, lam-
batnya penularan karena kepadatan vektor menurun akibat
penggunaan insektisida yang intensif dalam rangka pemberan-
tasan malaria (1952 - 1964) di samping penggunaan larvasida
(tahun 1952 - 1954) di breeding places daerah rawa di wilayah
tersebut d atas. Pada dewasa ini luas rawa telah banyak ber-
ubah menjadi persawahan yang subur yang semula merupakan
rawa enceng gondok yang merupakan habitat jenis mansonia
(tabel 6, 7).
5. KESIMPULAN
5.I.
Dilaporkan pende.rita elephantiasis di sementara Dati II
sejak akhir pelita II dan diketemukannya insidensi filaria dari
hasil berbagai survey dan kejadian munculnya filariasis di
beberapa daerah memberi petunjuk bahwa Jawa Tengah adalah
daerah endemis untuk penyakit kaki gajah (filariasis).
5.2.
Belum dirasakannya filariasis sebagai masalah kesehatan
masyarakat dikarenakan sifat penyakit ini yang pada awal
infeksi tidak menimbulkan keluhan/gangguan kesehatan dari
pada penderita, sehingga filariasis belum secara nyata mem-
3 9
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Tabel : 6
Jumlah sedlaan darah filaria dan distribusi penderita
menurut gol. umur dan kelamin daerah lembah muara
K. Serayu-1979 Kab. Dati II Cilacap (Jawa Tengah).
Golongan
Umur.
-
Jumlah di-
periksa.
Jumlah positip
Jumiah diperiksa
Hf.
Lk.
Pr.
Lk.
Pr.
Lk. + Pr. Pos. Hf.
0 4
59
59
0
0
118
0
5 9
135
131
0
0 266
0
10 14
120
114
0
0
234
0
1 5 19
75
36
1
0
111
1 (0,9%)
20 24
52
72
0
0
124
0
25 29
59
61
0
0
120.
0
30 39
100
83
0
1
183
1 (0,54%)
40 49
77
104
1
0
181
1 (0,55%)
50 59
69
43
0
0
112
0
60+
38
27
1
0
65
1 (1,53%)
JUMLAH :
784
730
3
1
1.514
4 (0,26%)
Tabel :
7
Prevalensi (elephantiasis) didaerah lembah
muara K. Serayu - 1979 Kab. Dati II
Cilacap (Jawa Tengah).
1933
1979(UGMUI.)
Lokasi/desa
Juml. di- Mf. Elephantiasis Juml. di- Mf. Elephantlasis
periksa.
periksa.
Banton
1.675
41%
1,49% (24)
303
0%
0,66% (
=
2)
Wlahaz
553
29% 3,25% (=17)
266
0,75% 1,50% (=4)
Penggalang
247
0%
0,40% (
=
1)
Karangsari
( Sewale )
850
33%
1,06% (= 9)
374
0,50% 0,80% ( 3)
Gombol
324
0%
JUMLAH : 3.078
50%
1.524
10%
punyai efek terhadap tata kehidupan masyarakat di Jawa
Tengah.
5.3. Memperhatikan butir-butir 5.1. dan 5.2. di atas, dan
mengingat bahwa dari Jawa Tengah tiap tahunnya ribuan
penduduk dipindahkan ke daerah permukiman baru (program
transmigrasi), bukan tidak mungkin filariasis akan menjadi
masalah kesehatan yang sangat mengganggu perikehidupan
masyarakat di daerah tersebut. Untuk itu masalah filariasis
di daerah ini perlu segera ditangani secara sunguh-sungguh.
5.4. Kegiatan penyelidikan yang intensif untuk mengetahui
besarnya masalah (prevalensi dan vektor) dapat digunakan
sebagai masukan (input) dalam feasibility study yang merupa-
kan landasan pokok dari pada kemantapan penentuan program
pemberantasan filariasis.
6. KESAN DAN SARAN
Dari fakta dan pengalaman yang diperoleh selama ini dalam
menanggapi masalah filariasis di negara kita dan khususnya di
Jawa Tengah dan yang merupakan daerah endemis filariasis
serta menjadi salah satu daerah yang banyak memindahkan
penduduknya ke daerah pemukiman baru di luar Jawa - Bali
maka faktor-faktor :
6.1.
masih adanya sumber penyakit yang tidak menampakkan
gejala kaki gajah dan masih adanya vektor yang potensiil
untuk menyebarluaskan penyakit ini di kalangan penduduk.
6.2.
bukan tidak mungkin adanya pembangunan di bidang
industri dan pertanian akan mengakibatkan suburnya
vektor penyebar penyakit yang dapat menyebarluaskan
penyakit ini yang tanpa disadari (karena pada tingkat
pertama filariasis tidak menimbulkan keluhan) akan men-
jadi masalah yang lebih parah di hari kemudian, baik di
daerah asal (Jawa Tengah) maupun di daerah pemukiman
baru,
6.3.
berkaitan dengan butir 6.1. dan 6.2. di atas kiranya
tidaklah serasi di alam pembangunan yang bertujuan
menyejahterakan rakyat, terlihat adanya kelompok masya-
rakat yang memiliki cacad tubuh akibat penyakit yang
dapat dikendalikan (diberantas).
Dengan tidak mengurangi kebijaksanaan pemerintah dalam
melaksanakan pembangunan kesehatan di negara kita,
khususnya program-program pemberantasan penyakit me-
nular perlu diperhitungkan dan dipertimbangkan adanya
penanganan
pemberantasan filariasis
dengan langkah-
langkah antara lain :
Tabel : 8
Periodisitas Brugia malayi pada 4 penderita dan jumlah
Mf. dari darah jari dan darah vena didaerah lembah
sekitar muara Kl. Serayu - 79 Kab. Dati II Cilacap (Jawa
Tengah).
Jam setempat
Juml. Mf./30 mm
3
(darah jari)
Jumlah Mf./2 ml.
(dazah vena)
( W. I. B. )
Keterangan
1.
2.
3.
4.
1.
2.
3.
4.
14.00
0
0
0
0
1. Tupin
16.00
0
0
0
0
2. Tamiardja.
18.00
0
1
0
0 204 47
3
7
3. Sikem.
20.00
1
0
4
0
-
4. Satagalwan
22.00
1
2
3
0
darah vena
24.00
1
1
2
0 238 43
29
22
tidak di-
02.00
1
0
3
0
periksa.
04.00
1
2
3
0
06.00
3
4
3
0 160
54
93
8
08.00
2
1
0
0
10.00
0
0
0
0
12.00
0
0
0
0
0
0
0
0
JUMLAH : 10
11
18
0 602 144 125
37
6.3.1.Penyelidikan penyakit filaria yang terarah, terutama
penentuan jenis penyebab dan vektor penyebar penyakit
(tabel VIII - lamp. 4).
6.3.2.cara pengobatan yang lebih sederhana dan dapat di-
terima oleh masyarakat yang telah dimotivasi secara ter-
koordinasi.
6.3.3.penanganan pemberantasan dengan suatu program yang
mantap disertai sarana dan biaya yang memadai.
KEPUSTAKAAN
1.Arbain Joesoef. Masalah dan Penanggulangan Penyakit Filaria di
Indonesia. Seminar Nasional Parasitologi ke I- Bogor, 8 - 10 Desem-
ber 1977.
2.Petunjuk Pelaksanaan : Pemberantasan Pazasit Filaria di Indonesia,
Direktorat Jenderal Depaztemen Kesehatan RI di Jakarta - 1979.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
40
3. Laporan tahunan Direktorat Daerah P3M /Din Kes Tk. I Prop Jawa
Tengah, tahun 1977/1978 s/d I979/1980.
4. Laporan Penyelidikan Filaria dan Malaria di Kabupaten Dati II
Cilacap - oleh : dr. F A Sudjadi (Bagian Parasitologi UGM, Yogya-
karta) dan dr. Djakaria (Bagian Parasitologi UI, Jakarta) Desember
1978 - Maret 1979.
S.Kazsner HT. Human Pathology, 8 ed. Philadelphia Montreal :
JB Lippincott Co, pp 216 - 218.
6.Flu PC. Voordrachten over aethiologie, Epidemiologie en spicieole
prophylaxis van de infectie en parasitaire ziekten van den mensch
Harlem - De Erven F. Bohn N.V.
Pengobatan Brugia timori dengan
Pemberian DEC Takaran Rendah oleh
Penduduk kepada Penduduk.
F. Partono , Purnomo , A Soewarto
, Sri Oemiyati
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UI., NAMRU-2
Jakarta,
Dokter di Ruteng, Flores
Ringkasan
Pemberantasan
Brugia timori
telah dilakukan sejak tahun
1977 di tiga desa di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai,
di Flores Barat, Propinsi NTT. Sebelum pemberantasan dimu-
lai, diadakan survey pendahuluan dengan melakukan sensus
penduduk dan mencatat dari setiap penduduk yang hadir,
nama, umur, jenis kelamin dan hubungan keluarganya. Semua
penduduk diperiksa secara klinis dan semua gejala dan tanda-
tanda filariasis dicatat. Darah malam untuk filariasis diambil
dari ujung jari sebanyak 20 pl antara jam 8.00 dan 12.00
malam dan pada waktu yang sama diambil pula darah vena
sebanyak I ml sebelum pengobatan dan 3 ml setelah pemberi-
an obat. Darah vena disaring dengan Nuclepore yang mem-
punyai lubang saring 5 u. Semua contoh darah dipulas dengan
Giemsa dengan cara yang telah diuraikan oleh Partono dan
Idris (1977) dan jenis dan jumlah mikrofilaria dihitung.
Diethylcarbamazine (DEC) diberikan dengan takaran rendah
sebanyak 50 mg untuk anak sama atau lebih dari 10 tahun dan
25 mg untuk anak di bawah umur 10 tahun, diberikan 1 x
seminggu selama 1½
tahun. Pemberian obat dilakukan oleh
guru sekolah atau pemuka desa di masing-masing desa dan
jumlah pemberian obat dan reaksi samping obat dicatat secara
terperinci. Setiap tahun semua penduduk diperiksa ulang
secara klinis maupun parasitologis dengan cara yang sama.
Hasil pemberantasan filariasis atas dasar "oleh penduduk
kepada penduduk" ini sangat memuaskan. Setelah tiga tahun
hanya tinggal tiga orang pengandung mikrofilaria di tiga desa
tersebut dan jumlah mikrofilarianya tinggal beberapa mikro-
filaria dalam 3 ml darah malam.
Gejala-gejala klinik filariasis akut maupun menahun berkurang
secara menyakinkan. Efek samping DEC dengan takaran
rendah ini dapat dikatakan tidak ada.
lmmunity in Filariasis
D.A. Higgins
Australian-Indonesian Immunology Project, Pusat Penelitian
Bio Medis, Badan Peneltian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI.
INTRODUCTION
In Indonesia three parasites of the order Filarioidea are
known to affect man :
Wuchereria bancrofti, Brugia malayi
and
Brugia timori.
They are lymph-dwelling and hence develop an uniquely
intimate relationship with the immune system of the host.
Clinical expressions of filariasis are manifold and include
recurrent febrile episodes associated with lymphangitis and
lymphadenitis,
lymphoedema,
elephantiasis,
hydrocoele,
asymptomatic infections demonstrable by microfilaraemia,
and tropical eosinophilia. In addition a significant proportion
of any exposed community will never develop signs of disease
or parasitism.
Filarial Parasite Antigens
There are three important life cycle stages: the adult worm,
the microfilariae produced by female adult worms, and the
third stage infective larvae (L3) which develop within the
mosquito vector. These worms do not possess secretory glands
such as those shown to be a source of potent antigens in the
intestine-dwelling nematodes (1). Thus the major degree of
host exposure is to the antigens associated with the cuticle or
sheath of these parasites. It is towards these antigens that
attention has been focused and, although crude antibody-
antigen analysis has shown considerable cross reaction between
life cycle stages, between the various species of filarial para-
sites, and between filarial and other nematodes, it now seems
probable that parasites and their life cycle stages possess
highly specific antigens (2). The importance of these stage-
specific antigens in the stimulation of protective immunity or
in the immunopathogenesis of filariasis remains to be proven,
but protection and pathogenesis might be closely linked to
stage-specific reactions.
In addition to antigens associated with the body wall of the
parasite, the possibility of soluble antigens cannot be ruled
out. These could be actively secreted, or metabolic and ex-
cretory products, and could explain the observations of
circulating immune complexes in filariasis (3). In some diseases
secretory products protect the parasite by "diverting" the
host s immune response away from the parasite itself. This
concept is certainly worthy of examination as a mechanism of
survival of the filarial parasites.
Animal Models
Research into the immunobiology of human filariasis is
limited by practical and ethical considerations. Considerable
effort has therefore been expended in the development and
examination of animal models of filariasis. The usefulness of
many of these animal models in immunological research is
sometimes questionable. In many cases no clinical signs of
infection develop, microfilaraemia being used as the sole index
of successful infection. Obviously it is difficult to transpose
results obtained in an unnatural host/parasite relationship to
4 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980