background image
TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Fakta dan Tantangan
dalam Virologi Kedokteran
penekanan pada vaksinasi dan pengobatan
Agus Sjahrurachman
Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
PENDAHULUAN
Virologi merupakan salah satu cabang ilmu yang relatif
muda dibandingkan dengan ilmu kedokteran lain dan masih
belum banyak diminati oleh ilmuwan di Indonesia. Pada sisi
lain, virus sebagai jasad paling sederhana ternyata banyak
sekali menimbulkan masalah kesehatan. Masalah kesehatan
yang berkaitan dengan virus saat ini tidak hanya dikaitkan
dengan penyakit infeksi viral yang konvensional tetapi juga
dengan berbagai penyakit lain seperti keganasan, penyakit
otoimun, penyakit degeneratif, serta keterkaitannya dengan
industri bahan dan pelayanan kesehatan. Masalah kesehatan
tersebut diatas tidak hanya terjadi di negara berkembang, tetapi
juga pada banyak negara maju. Selain itu, jika ditelaah lebih
dalam ternyata hampir semua organisma dapat mengandung
virus atau komponen virus dalam dirinya.
SEJARAH AWAL VIROLOGI
Pada pertengahan abad ke 19, eksistensi dunia mikroba
dalam bentuk bakteri, jamur dan protozoa telah mampu di-
buktikan. Pada masa tersebut, pemakaian postulat Koch yang
menyatakan bahwa suatu penyebab penyakit harus : (i) dapat
ditemukan pada lesi penyakit, (ii) dapat dibuat biakan murni,
(iii) menimbulkan penyakit yang sama jika diinokulasikan pada
pejamunya, (iiii) dapat diisolasi kembali dari lesi eksperimental
tersebut, telah secara luas diterima ilmuwan sebagai dogma.
Pada periode tersebut, Jacob Henle mengajukan hipotesis
bahwa di dunia ini terdapat makhluk yang sangat kecil dan
tidak mampu diamati dengan mikroskop biasa serta mampu
menyebabkan penyakit; tetapi karena tiadanya bukti-bukti
ilmiah yang meyakinkan, hipotesis ini banyak sekali ditentang.
Pada akhir abad ke 19, Adolf Mayer dan Dimitri Ivanofsky
berhasil menginfeksi tembakau sehat dengan filtrat tembakau
sakit yang telah dilewatkan pada saringan yang mampu menah-
an bakteri. Walaupun demikian mereka tidak menyimpulkan
bahwa etiologi penyakit tersebut adalah organisma yang lebih
kecil dari bakteri.
Bukti awal bahwa etiologi penyakit tersebut merupakan orga-
nisma submikroskopik dideskripsikan oleh Martinus Bei-
jerinck. Beijerinck mmebuktikan bahwa infektifitas etiologi
penyakit mosaik tembakau yang telah berulang kali diencerkan
akan meningkat kembali jika dipasasi pada tanaman hidup.
Bukti ini diperkuat dengan Felix D'Herelle tentang titrasi virus
bakteri dengan cara esai plaque pada tahun 1917 dan keber-
hasilan memvisualisasikan virion dengan mikroskop elektron
pada tahun 1939.
Fase berikutnya dari perkembangan virologi adalah fase
pemahaman pada tingkat biokimiawi. Pada tahun 1947, Sey-
mour Cohen dan kawan melakukan penelitian tentang infeksi
bakteriofaga pada sintesis DNA dan RNA. Cohen menemukan
bahwa terjadi perubahan dramatik pada inetabolisme RNA,
DNA dan protein pada sel pejamu yang terinfeksi virus.
Penelitian ini menunjukkan bahwa infeksi virus mampu me-
nimbulkan tatanan baru dalam sintesa makromolekul oleh set
pejamu. Pada periode yang hampir bersamaan ditemukan tek-
nologi pembiakan virus pada biakan sel sebagai pengganti
binatang hidup dan telur berembrio. Temuan ini memung-
kinkan pengendalian variabel penelitian lebih baik. Temuan
dalam bentuk teknologi dan bahan serta ide yang dikem-
bangkan daripadanya terbukti berdampak luas, misalnya saja
dalam hal pembuatan vaksin. Jika antara tahun 1798-1949,
semua vaksin dibuat dalam telur berembrio, setelah periode
tersebut banyak vaksin dibuat dalarn biakan sel dengan scaling
up yang lebih efisien dan efek samping vaksin yang lebih kecil.
Pada sisi lain, pemakaian biakan sel memungkinkan virus V
dapat dipakai sebagai pelacak untuk mengetahui berbagai
fenomena biologis. Dengan menggunakan sel yang diinfeksi
oleh virus, dapat diketahui lebih jauh bagaimana pemrosesan
pascatranlasi protein, baik berupa pemecahan atau peng-
gabungan, penambahan gugus karbohidrat ataupun terjadinya
fosforilasi. Dengan kata lain, banyak pengetahuan tentang
inetabolisme sel baik yang normal maupun yang tidak normal
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 43
background image
berasal dari penelitian interaksi virus dan sel dan dengan dasar
itu pula terbuka kemungkinan untuk merekayasa fungsi sel.
FAKTA UMUM SAAT INI
Dengan berjalannya waktu, kita melihat keberhasilan
manusia dalam mengendalikan penyakit viral di masyarakat.
Penyakit cacar misalnya sudah terbasmi sejak tahun 1970-an.
Penyakit poliomyelitis diharapkan terbasmi pada abad 21.
Beberapa penyakit viral lainnya sudah lebih terkendali terbukti
dengan menurunnya kekerapan penyakit di masyarakat. Namun
kitapun tetap melihat ditemukannya penyakit viral baru dan
meningkatnya kembali kekerapan penyakit viral tertentu di
masyarakat, yang populer disebut sebagai new emerging and
reemerging infectious viral diseases. Virus penyebab penyakit
tersebut diantaranya adalah virus dengue. HIV, cytomegalo-
virus, virus herpes simplex, virus hepatitis, virus Hanta, virus
Japanese B encephalitis, herpes virus 6, dan sebagainya.
Di samping menghadapi penyakit infeksi viral yang
"konvensional", kita sekarang dihadapkan juga pada inveksi
viral yang tidak "konvensional". Yang dimaksud penyakit
infeksi viral tidak konvensional disini adalah infeksi virus, baik
endogen maupun eksogen, yang manifestasi kliniknya ber-
gantung pula pada etiologi atau proses lain dan seringkali pada
saat terjadinya manifestasi klinik, virus tidak dapat ditemukan
lagi pada lesinya. Retrovirus endogen misalnya jarang sekali
terdapat dalam bentuk virion infektif. Retrovirus endogen
seringkali berintegrasi dengan genon pejamu. Retrovirus endo-
gen dalam sel pejamunya dapat berupa transkrip provirus
defektif pada gen tertentu sehingga tidak replikatif secara
penuh atau kadang-kadang secara sponan berekspresi atau
dirangsang untuk berekspresi oleh iradiasi, inhibitor sintesis
protein, steroid dan sitokin. Kaitan antara retrovirus endogen
dengan berbagai penyakit pada manusia memang belum jelas,
namun berbagai penelitian menunjukkan kemungkinan kaitan
antara retrovirus endogen dengan berbagai gangguan imuno-
globulinopati, artritis reumatoid, lupus eritematosus, sindrom
Sjorgen, penyakit jaringan ikat, gangguan saraf pusat, psoriasis,
dan sebagainya. Selain itu telah pula dikaitkan antara : (i)
kelainan jiwa seperti schizophrenia dan gangguan mental
bipolar dengan golongan virus herpes, virus borna, arenavirus
dan myxovirus, (ii) sarkoma Kaposi, limfoma karsinoma
nasofaring, aterosklerosis dengan virus herpes, (iii) hepatoma
dengan virus hepatitis, (iiii) papilomatosis kulit dan mukosa,
karsinoma kulit dan genitalia dengan HPV.
Fenomena infeksi yang tidak konvensional tersebut juga
telah mengilhami berbagai peneliti untuk menetapkan kriteria
baru bagi penetapan hubungan sebab-akibat pada penyakit
infeksi, sebagai pengganti postulat Koch. Evan misalnya pada
tahun 1976, mengajukan satu set kriteria yang komprehensif
pada tingkat populasi dan sel atau organisme sehingga secara
biologis dan epidemiologis untuk menyatakan hubungan
sebab-akibat. Dengan ditemukannya patogenesis penyakit yang
bertingkat atau multifaktorial dan berkembangnya teknologi
sampai tingkat molekuler seperti teknologi reaksi rantai poli-
merasa, teknologi sekuensing gen, dan sebagainya terbuka
kemungkinan baru untuk menetapkan etiologi penyakit akibat
infeksi virus ditetapkan dengan kriteria-kriteria molekuler.
Walau masih diperdebatkan, Fedrik dan Relman pada tahun
1996 mengajukan kriteria yang intinya adalah menggabungkan
distribusi dan jumlah rantai asam nukleat patogen, sifat
biologis patogen dan respon pejamunya.
FAKTA DAN TANTANGAN DALAM BIDANG VAKSI-
NASI
Sudah merupakan pengetahuan umum bahwa upaya men-
cegah penyakit, termasuk penyakit viral, baik daripada upaya
mengobatinya dan salah satu teknik pencegahan terbaik adalah
dengan jalan melakukan vaksinasi. Pada saat ini berbagai
vaksin virus, seperti terlihat pada tabel 1, sudah tersedia di
pasaran. Beberapa vaksin lain yang masih dalam uji klinik
adalah vaksin rotavirus, dan vaksin virus dengue. Vaksin yang
telah dikembangkan tersebut sejak awal dirancang dan dikaji
untuk dipakai oleh individu dengan sistim kekebalan normal.
Pada sisi lain, kita mengamati peningkatan individu yang
mengalami gangguan sistem kekebalan, baik karena penyakit-
nya yang primer mengenai sistem kekebalan seperti AIDS
ataupun sekunder akibat keganasan atau akibat tindakan medis.
Penggunaan vaksin virus infektif untuk penderita tersebut
sampai tahap tertentu merupakan hal yang kontradiktif dengan
rancangan pengembangan vaksin itu sendiri. Vaksin berupa
virus infektif akan berkembang biak dalam tubuh sampai
timbulnya respon kekebalan dari pejamunya. Pada penderita
dengan gangguan kekebalan, respon kekebalan yang akan
menghambat replikasi virus mungkin tidak memadai. Karena
itu vaksin virus infektif yang diberikan pada penderita dengan
gangguan kekebalan selalu membawa risiko lebih besar
dibandingkan dengan pada orang sehat. Dan karena mekanisme
proteksi terhadap penyakit viral satu sama lain tidak sama serta
banyak yang belum dapat dipastikan, efek proteksi dari
vaksinasi pada penderita dengan gangguan kekebalan juga
dapat berbeda dengan pada orang sehat. Pemahaman lebih
mendalam tentang peran kekebalan humoral dan kekebalan
seluler dalam hal proteksi terhadap infeksi viral tertentu
diharapkan akan menghasilkan strategi baru untuk mengatasi
kelemahan yang mungkin terjadi pada salah satu aspek
kekebalan di atas dengan jalan meningkatkan peran aspek
lainnya. Atas dasar itu, penelitian multidisiplin yang melibat-
kan klinisi, ahli ilmu biomedik dan ahli epidemiologi yang
berkaitan dengan masalah ini perlu terus ditingkatkan.
Tabel 1. Vaksin virus yang tersedia di pasaran.
Vaksin
Jenis vaksin
Cara pemberian
Hepatitis B
Sub unit virus, tak infeksi
Suntikan
Cacar air
Varian virus, infektif
Suntikan
Campak Varian
virus, infektis
Suntikan
Campak Jerman
Varian virus, infektif
Suntikan
Gondongan
Varian virus, infektif
Suntikan
Poliomyelitis Varian
virus, infektif
Oral
Demam kuning
Varian virus, infektif
Suntikan
Adenovirus
Varian virus, infektif
Suntikan
Influenza
Sub unit virus, tak infektif
Suntikan
Hepatitis A
Varian virus, tak infektif
Suntikan
Selain masih terbatasnya jenis vaksin untuk penyakit viral,
ajuvan yang terdapat dalam sediaan vaksin sendiri masih sangat
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
44
background image
terbatas. Hampir semua ajuvan yang terdapat dalam sediaa
vaksin yang dipakai pada manusia pada saat ini adalah alum.
Pada sisi lain telah diketahui bahwa alum adalah : (i) suatu
senyawa yang tidak stabil, (ii) kadang-kadang membentuk
granuloma pada tempat penyuntikan dan (iii) kurang meng-
induksi kekebalan seluler. Karena peran ajuvan yang penting
dalam proses induksi kekebalan, baik untuk menimbulkan efek
deposisi antigen maupun efek perbaikan presentasi antigen
kepada sel sistim kekebalan, perlu terus dicari senyawa lain
berupa ajuvan baru atau senyawa lain yang sinergis dengan
ajuvan. Dari berbagai penelitian telah diidentifikasi beberapa
senyawa yang potensial dipakai sebagai ajuvan atau imuno-
modulator. Di antaranya adalah senyawa yang berasal atau
derivat hasil sintesis in vitro dari komponen mikroorganisma
seperti : lipopolisakarida (LPS) atau analog, muramil dipeptida
atau analog, analog poliribonukleotida. Senyawa yang tidak
berasal dari mikroorganisme yang juga potensial dipakai antara
lain: sitokin, saponin dan hormon. Bagaimana formulasinya
dalam sediaan vaksin masih perlu diteliti lebih mendalam.
Sebagai buah dari pengembangan teknologi biologi mole-
kuler yang pesat, dalam beberapa tahun terakhir telah
dikakukan berbagai penelitian pengembangan vaksin pada
tingkat genetik. Perkembangan yang relatif baru dalam vaksi-
nologi ini dimulai dari upaya pemindahan gen dalam vektor
plasmid untuk pengembangan pengobatan kelainan genetika
pada tahun 1991 oleh William dan kawan-kawan. Pengamatan
dari penyuntikan intramuskuler DNA sirkuler menunjukkan
bahwa DNA tersebut dengan mudah masuk ke dalam sel dan
tetap berada dalam status episomal untuk jangka panjang. Dari
berbagai penelitian yang dilakukan setelah itu, terbukti bahwa
inokulasi intramuskular, intradermal atau intravena plasmid
yang membawa gen penyandi protein asing, baik protein virus
atau hormon, mampu menginduksi kekebalan hurnoral dan
kekebalan seluler.
Dibandingkan dengan vaksin konvensional, vaksin genetik
mempunyai kekurangan dan kelebihan. Vaksin genetik me-
mang menguntungkan jika ditinjau dari sisi kemudahan
pembuatan, stabilitasnya terhadap pengaruh suhu, dosisnya
yang kecil, tiadanya risiko terjadinya penyakit serupa dengan
penyakit alaminya dan kemampuannya menginduksi berbagai
spektrum sistim kekebalan. Namun di sisi lain, masih banyak
hal yang perlu diklarifikasi agar teknologi ini dapat dipakai
untuk pencegahan berbagai penyakit manusia. Perlu pembukti-
an lebih lanjut bahwa (i) tidak akan terjadi integrasi gen dalam
plasmid ke dalam kromosom yang berdampak negatif, (ii) tidak
akan terjadi perangsangan penyakit otoimun sebagai akibat
timbulnya antibodi anti DNA, (iii) tidak menimbulkan toleransi
akibat lamanya ekpresi antigen dari sel yang tidak membawa
costimulatory signals.
Pada akhirnya, sekalipun potensi vaksin genetik untuk
pencegahan berbagai penyakit manusia belum terbukti, dengan
teknologi vaksinasi genetik para ilmuwan telah mampu
melakukan penelitian yang lebih mendalam dan rinci tentang
proses timbulnya kekebalan. Dengan jalan memodifikasi gen
yang terdapat pada vektor melalui antara lain memungkinkan
pendalaman pengetahuan yang lebih baik tentang lokalisasi dan
struktur antigen oleh beberapa ilmuwan diibaratkan sebagai
temuan biologis yang setara dengan temuan fusi dingin pada
teknologi nuklir.
FAKTA DAN TANTANGAN DALAM PENGOBATAN
Salah satu sisi penting lain dalam virologi adalah peng-
obatan infeksi virus. Sampai saat ini tujuan tersebut dicapai
dengan penggunaan analog nukleosida, imunoglobulin dan
imunomodulator.
Pengembangan obat antivirus yang berupa analog nukleo-
sida dimulai pada tahun 1950-an, saat berbagai penelitian
pengembangan obat antitumor yang berbasis penghambatan
sintesis DNA menghasilkan senyawa yang juga mampu meng-
hambat sintesis DNA virus. Adapun penggunaan obat antivirus
pertama pada manusia terjadi pada tahun 1960-an, yaitu saat
dibuktikan oleh Bauer bahwa tiosemikarbason dapat dipakai
untuk mencegah cacar dan pemakaian idoksuridin oleh
Kaufman untuk pengobatan topikal keratitis herpetika. Bebe-
rapa obat antivirus yang digunakan untuk pengobatan saat ini
dapat dilihat pada Tabel 2.
Pengobatan infeksi virus lain dilakukan dengan imuno-
globin yang tersedia dalam bentuk suntikan intramuskular
ataupun intravena. Walaupun demikian kenyataan menunjuk-
kan bahwa sampai saat ini imunoglobulin lebih banyak berguna
untuk pencegahan dibandingkan untuk pengobatan dan keter-
sediaannya masih terbatas untuk beberapa virus saja seperti
untuk Hepatitis A, Hepatitis B, Varicella, Rabies dan Cyto-
megalovirus.
Imunomodulator digunakan untuk memperkuat atau me-
ngembalikan respon imun sehingga mempercepat penyembuh-
an. Beberapa waktu lalu levamisole, isoprinosin dan faktor
transfer telah digunakan dalam pengobatan infeksi viral. Efek
kliniknya sampai saat ini tetap tidak meyakinkan. Sebagai salah
satu sitokin, interferon in vitro mempunyai aktivitas antiviral
yaitu melalui perangsangan pembentukan ensim penghancur
mRNA virus pada sel yang tidak terinfeksi atau melalui
penghambatan morfogenesis virus pada sel terinfeksi. In vivo,
efek interferon lebih komplek karena juga mampu merangsang
natural killer cells, proliferasi limfosit B, ekspresi reseptor
HLA dan menghambat blastogenesis limfosit. Manfaatnya
untuk pengobatan telah dibuktikan pada hepatitis B dan
hepatitis C kronis serta condyloma accuminata.
Memperhatikan uraian di atas, jelas bahwa ketersediaan
obat antiviral masih sangat memprihatinkan, tidak hanya kare-
na banyak sekali penyakit viral yang belum ada obatnya,
namun juga telah banyaknya virus yang menjadi resisten
terhadap obat yang ada; adanya mekanisme infeksi laten oleh
virus tertentu seperti HIV HPV, HSV dan adanya efek anti-
proliferasi sel boleh beberapa obat antiviral yang memungkin-
kan terjadinya imunosupresi. Karena itu perlu terus dikembang-
kan obat antiviral baru yang lebih poten, stabil dan tidak toksis
bagi sel pejamunya. Untuk itu pengetahuan dasar tentang taha-
pan dan senyawa kimia yang terkait dengan kembang biak
virus mulai dari perlekatan, penetrasi, pelepasan selubung,
transkripsi dan translasi awal, sintesis asam nukleat dan protein
struktural, perakitan dan pelepasan virus dari sel perlu terus
diteliti karena dengan pemahaman atas proses tersebut dapat
diketahui tahapan replikasi virus yang paling bebas dari
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 45
background image
pengaruh metabolisme sel.
Dalam berbagai literatur telah dilaporkan berbagai upaya
penelitian tentang cara-cara baru pengobatan infeksi viral,
misalnya melalui pengembangan carrier obat dari imuno-
modulator, pengembangan obat baru dengan jalan compu-
terized drug design, pengembangan terapi genetik dan peman-
faatan obat yang ada melalui terapi kombinasi.
Dengan tujuan meningkatkan efikasi, mengurangi efek
toksik obat dan mengurangi kemungkinan timbulnya virus
resisten terapi dengan kombinasi obat antiviral yang ada telah
dicobakan pada pasien. Penelitian telah banyak dilakukan pada
penderita AIDS, seperti pemakaian kombinasi obat bukan
nukleosida dan analog nukleosida. Walaupun hasilnya belum
memuaskan, hasil sementara menunjukkan bahwa kombinasi
lebih baik dalam hal mengurangi efek toksik obat atau bahkan
memperbaiki kondisi kekebalan tak spesifik seperti ditunjukkan
dengan meningkatkan lekosit atau makrofag.
Penelitian tentang carrier berbagai senyawa yang secara
biologis aktif termasuk obat antiviral misalnya telah dilakukan
dengan menggunakan liposom atau dengan menggabungkan
komplek liposom-obat dengan antibodi spesifik, sehingga
liposom dapat diarahkan menuju ke jaringan terinfeksi saja.
Penelitian pada binatang percobaan membuktikan bahwa
pemakaian liposom dapat menaikkan permeabilitas sel terhadap
foscarnet, memperpanjang waktu paruh dideoksitildin pada
otak tikus dan mengurangi infektifitas HIV.
Tabel 2. Beberapa obat anti viral yang tersedia di pasaran.
Obat Sediaan
Indikasi
Asiklovir
Oral, injeksi atau
topikal
Herpes genitalis dan mukokutan
Varicella-Zoster
Ensefalitis herpetika
Herpes neonatorum
Gansiklovir
Injeksi
Retinitis cytomegalovirus
Zidovudine Oral
Infeksi
HIV
Vidarabine
Injeksi, topikal
Ensefalitis herpetika
Herpes neonatorum
Varicella-Zoster
Keratitis herpetika
Amantadine Oral
Influenza
A
Ribavirin
Aerosol, Injeksi
Infeksi Respiratory synctitial virus berat
Demam Lassa
Interferon
Injeksi
Hepatitis viral kronik
Condyloma accuminata
Foscarnet
Injeksi
Retinitis cytomegalovirus
Varicella-Zoster
Didanosine Oral
Infeksi
HIV
Trifluridine Tetes
Keratitis
herpetika
Idoxuridine
Tetes
Keratitis herpetika
Pengembangan obat antiviral lainnya dilakukan dengan
teknologi computerized drug design. Penetapan teknologi ini
diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih baik dibanding-
kan dengan pengembangan antiviral tradisional yang biasanya
dimulai dengan melakukan penapisan sediaan yang dilakukan
secara acak melalui pengujian daya hambat replikasi virus dari
sediaan tersebut pada biakan sel dan dilanjutkan dengan
identifikasi senyawa yang paling poten dan upaya modifikasi
struktur kimianya. Dengan teknologi baru seperti kristalografi
sinar X dimungkinkan pemetaan struktur tiga dimensi dari
molekul protein penyusun virus dan dengan bantuan perhitung-
an termodinamik dimungkinkan indentifikasi hubungan antar
atom dalam molekul tersebut. Dengan cara ini dapat diper-
kirakan lokasi makro molekul virus yang potensial dihancur-
kan/diganggu. Dengan cara ini Rossmann dan kawan berhasil
mengidentifikasi bagian makromolekul rhinovirus yang dapat
berinteraksi dengan senyawa WIN 51711 dan menyebabkan
rhinovirus kehilangan infektivitasnya. Beberapa turunan
senyawa tersebut saat ini sedang dalam uji klinik. Selain itu
telah pula dilakukan penelitian serupa untuk menghambat
hemaglutinin dan neuraminidasa virus influenza dan peng-
hambat reverse transcriptase HIV. Walaupun teknologi ini
masih baru, teknologi ini terus berkembang pesat dan memberi
harapan dalam pengembangan obat antiviral baru yang lebih
baik.
Pendekatan pengembangan yang berbeda juga layak
dipertimbangkan. Telah diketahui bahwa apoptosis merupakan
salah satu mekanisme tubuh untuk tetap mempertahankan
tingkat kesehatannya. Karena itu gangguan pada mekanisme
apoptosis berperan pula pada berbagai penyakit viral karena
dengan tetap hidupnya sel pejamu, replikasi virus dimungkin-
kan terus berlangsung. Virus Epstein-Barr, penyebab mononuk-
leosis infeksiosa, membawa gen penyandi molekul yang mirip
dengan molekul Bel-2 suatu senyawa penghambat apoptosis.
Selain itu virus Epstein-Barr juga merangsang sel yang
diinfeksinya untuk meningkatkan produksi Bel-2. Virus Papil-
loma, yang dikaitkan dengan banyak neoplasia, sebaliknya
menginaktivasi molekul p53, suatu penginduksi apoptosis.
Virus cacar sapi (cowpox) juga menghalangi apoptosis dengan
jalan lain lagi, yaitu menyandi protein yang menghambat
protease yang penting dalam proses apoptosis. Penelitian untuk
merangsang apoptosis pada penyakit viral tertentu telah
berlangsung, walaupun belum memberikan hasil memuaskan.
Penelitian perlu terus diperluas dan ditingkatkan dengan lebih
mengarahkan calon obat hanya pada sel terinfeksi (targetted
drugs).
Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian sangat
tinggi dalam pengobatan infeksi virus adalah pengobatan
genetik. Dalam hal ini diharapkan dengan memasukkan gen
yang secara spesifik menghambat atau menghalangi ekspresi
atau fungsi produk gen viral tertentu akan menyebabkan
replikasi virus di dalam sel terhalang atau dibatasi. Selain itu
mungkin pula sel direkayasa agar mampu mensekresi senyawa
yang menghambat infektivitas virus yang berada ekstra seluler.
Teoretis keberhasilan terapi genetik ini akan tergantung pada :
(i) ketetapan seleksi sel atau jaringan, (ii) efisiensi delivery
system, (iii) ketepatan ekspresi, regulasi dan stabilitas produk
gen dan (iv) efisiensi penghambatan replikasi virus oleh produk
gen tersebut. Adapun penelitian yang telah dilakukan adalah
dengan : (i) pendekatan asam nukleat seperti pemakaian anti-
sense DNA atau RNA, RNA decoys atau RNA katalitik
(Ribozim), (ii) pendekatan protein seperti Transdominant
Negative Protein (TNP) atau antibodi rantai tunggal, (iii) pen-
dekatan imunoterapi yang melibatkan vaksin genetik atau
limfosit yang spesifik untuk virus tertentu.
Pendekatan antisense nucleic acid memanfaatkan model
pasangan basa asam nukleat dari Watson dan Crick untuk
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
46
background image
menghalangi ekspresi gen. Dalam hal ini transkrip antisense
dapat dirancang agar spesifik untuk target pada gen penyebab
infeksi. Penelitian dengan menggunakan berbagai DNA anti-
sense terhadap HIV, HCV, HPV telah dilakukan. Sayangnya
hasil yang didapat sampai saat ini masih menunjukkan bahwa
penghambatan ekspresi gen masih terbatas karena masih
kurangnya DNA antisense yang mampu masuk ke dalam sel
dan terjadinya degradasi DNA antisense di dalam sel. Karena
itu dicoba pula diteliti pemanfaatan RNA antisense yang ber-
sifat katalitik, yaitu ribozim. Dengan kemampuannya ber-
hibridisasi dengan untai komplementer dari gen virus penyebab
infeksi dan dilanjutkan dengan pembentukan ikatan fosfo-
diester, maka satu ribozim akan mampu menginaktivasi banyak
gen sehingga memungkinkan penghambatan pada berbagai
tahap replikasi virus. Selain itu pemanfaatan berbagai jenis
ribozim pada satu vektor menungkinkan untai nukleotida
sasaran pada penyebab infeksi menjadi banyak. Karena ribozim
rentan terhadap inaktifasi oleh RNAse yang banyak terdapat
intraseluler, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk
mendapatkan ribozim yang lebih stabil. Senyawa lain yang
diteliti pemakaiannya aalah molekul RNA pendek yang penting
dalam elemen pengatur cis yang dapat digunakan sebagai
umpan (decoy) untuk menghambat pengikatan antara aktivator
trans dengan elemen cis-nya. Walaupun RNA decoy ini hampir
tak dipengaruhi oleh variabilitas etiologi infeksi, masih belum
jelas apakah hasil akhirnya bersifat toksik bagi sel atau tidak.
Masa depan terapi genetik juga telah diteliti melalui
pendekatan protein. Dalam hal ini sel direkayasa secara genetik
sehingga mampu menghasilkan protein dimaksud dan sampai
saat ini telah diteliti melalui beberapa pendekatan yang dipakai
yaitu : Transdominant Negative Protein atau TNP dan protein
seluler anti infeksi. TNP yang merupakan mutan dari protein
pengatur atau protein struktural mampu menghambat replikasi
penyebab infeksi melalui cara kompetisi substrat esensial atau
ko-faktor yang tersedia dalam jumlah terbatas atau menginak-
tivasi fungsi protein asli melalui pembentukan polimer, intra-
bodi dan suicide gene karena terdapat kemungkinan terjadinya
respon imun pada TNP yang diekspresikan pada sel pejamu
yang mungkin akan mengurangi efek terapeutiknya, alternatif
merekayasa sel agar menghasilkan anti infectious cellular
protein lebih memberi harapan. Dalam hal ini perlu terus dicari
protein seluler yang langsung mengikat protein pengatur atau
protein struktural virus atau secara tak langsung melalui peng-
aruhnya pada ekspresi genom virus. Karena protein tersebut
merupakan protein hospes, maka kecil kemungkinan sel yang
direkayasa akan dieliminasi oleh sistem kekebalannya sendiri.
Pendekatan lain yang direkayasa akan dieliminasi oleh sistem
kekebalannya sendiri. Pendekatan lain yang relatif lebih baru
adalah pendekatan intrabodi dan suicide gene. Pada pendekatan
intrabodi, sel direkayasa agar menghasilkan antibodi rantai
tunggal yang tetap terikat pada retikulum endoplasmik dan
tidak dieksresikan keluar sel. Intrabodi diharapkan mampu
mengikat dan menghambat fungsi gen tertentu atau membuat
kompartemenisasi protein virus tidak tepat sehingga akhirnya
memutus rantai replikasi virus. Dibandingkan dengan tiga pen-
dekatan di atas, pendekatan suicide gene berbeda objeknya.
Pada pendekatan suicide gene, yang menjadi objek adalah sel
yang terinfeksi dan bukan replikasi virusnya. Pada pendekatan
suicide gene, sel direkayasa agar mampu mengekspresikan
faktor yang langsung menyebabkan kematian sel, misalnya saja
dengan merekayasa gen sel dengan gen toksin difteri atau gen
sitosin deaminasa. Cara lainnya adalah merekayasa sel sede-
mikian rupa sehingga pasca pemaparan terhadap senyawa
tertentu menyebabkan sel terinfeksi akan mati, misalnya sel
yang direkayasa oleh gen timidin kinasa virus Herples simplex
akan mati setelah sel terpapar dengan nukleosida analog
antiherpes seperti gansiklovir dan lain-lain.
Salah satu potensi lain, paling tidak sebagai adjunct the-
rapy yang juga sedang dikembangkan adalah adoptive cell
therapy. Pendekatannya dilakukan dengan membiakkan dan
"mendidik" sel limfosit dan atau sel sistim kekebalan lain dari
subset tertentu in vitro dan menginfuskannya kembali pada
penderita. Sehubungan dengan hal tersebut perlu terus dikem-
bangkan teknologi "mendidik" subset sel-sel tersebut di atas
yang tepat guna, termasuk kemungkinan mengeksplorasi pere-
kayasaan sel in vitro dengan tehnik DNA rekombinan.
Pada sisi lain perlu pula terus ditingkatkan pemahaman
penggunaan antiviral untuk penderita karena obat antiviral ter-
tentu, khususnya dari analog nukleosida, hanya efektif untuk
virus tertentu pada kondisi replikasi tertentu. Pendalaman
pemahaman spektrum dan cara kerja antiviral diharapkan
mampu mengurangi pemakaian antiviral yang tidak rasional.
PENUTUP
Jelas bagi kita bahwa dengan makin majunya ilmu
pengetahuan dan teknologi, terjadi perubahan pola penyakit
termasuk penyakit infeksi viral. Tantangan-tantangan baru
terus kita hadapi, tidak hanya dari segi pencegahan dan peng-
obatan. Tantangan baru juga kita hadapi pada pengendalian
penyakit dan rehabilitasinya, dimana faktor lingkungan baik
lingkungan mati dan lingkungan mahluk hidup, berperan besar
khususnya dalam hal infeksi oleh arbovirus yang ternyata kian
meluas sebarannya. Tantangan-tantangan tersebut menuntut
kita untuk selalu mawas diri dan selalu mencari pemecahannya
yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan.
Ilmu pengetahuan di masa datang, seperti telah diramalkan oleh
banyak ilmuwan akan didominasi oleh pemanfaatan hasil riset
yang pesat dalam tiga bidang utama, yaitu : (i) teknologi infor-
matika dan telekomunikasi, (ii) ilmu bahan dan (iii) biotek-
nologi. Beberapa hal yang dapat dihubungkan dengan hal
tersebut telah tergambar dengan makin dekatnya penggunaan
terapi gen untuk kanker, makin banyak produk barang hasil
riset bioteknologi yang tersedia di pasaran yang dapat dipakai
baik untuk pengobatan, diagnostikum, pencegahan penyakit
ataupun dalam penyediaan papan, pangan dan bahan industri
lain bahkan dalam penanganan limbah yang membahayakan
manusia. Kita juga melihat makin besarnya kemungkinan pe-
ngembangan tiruan/duplikat dari jaringan atau organ yang
dapat ditransplantasikan tanpa perlu khawatir dengan reaksi
penolakan jaringan. Juga telah diramalkan tersedianya lensa
kontak yang dapat tersambung dengan komputer dan memung-
kinkan membaca pesan internet tanpa membuka mata pada
awal abad 21, ramalan terindentifikasinya dasar genetika dari
semua penyakit juga pada awal abad 21 atau kemampuan
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001 47
background image
mereproduksi manusia secara penuh in vitro bahkan kemung-
kinan pembekuan semua fungsi badan secara temporer ataupun
penyambungan langsung komputer dengan otak sehingga
berbagai hasil pemikiran dapat dirobotisasi. Karena sangat luas
dan dalamnya tantangan ilmu pengetahuan den teknologi yang
selayaknya dikuasai, ada baiknya jika kita renung ulang apakah
materi dan cara belajar yang kita jalani sudah pada jalan yang
tepat atau belum. Selayaknya selalu kita ingat bahwa dengan
makin canggihnya teknologi informasi, telekomunikasi den
robotik, kompetisi yang kita hadapi akan makin ketat den men-
dunia sifatnya. Molecular, robotic and telemedicine rasanya
sudah berada di pelupuk mata kita.
21. Hatalski CG, Lewis AJ, Lipkin WI. Borne disease. Emerg. Infect. Dis.
1998 ; 3 : 129-35.
22. Hierholzer JC. Adenovirus in the immunocompromised host. Clin.
Microb. Rev. 1992; 5 : 262-74.
23. Hyde B. Infectious diseases : Whether or not? ASM News. 1998; 64 :
317-8.
24. Johnson AG. Molecular ajuvants and immunomodulators : New
approaches to immunization. Clin. Microb. Rev. 1994; 7 : 277-89.
25. Jones TC, Stern A, Lin R. Potential role of granulocyte-macrophage
colony stimulating as vaccine adjuvant. Eur. J. Clin. Microb. Infect. Dis.
1994; 13, Supl 2, 47-53.
26. Lam SK. Emerging infectious diseases-South East Asia. Emerg. Infect.
Dis. 1998; 4 : 145-8.
27. Levine A. The origin of virology. In : Virology. Field, BN. Knipe DM,
Howley PM. et al. Lippincott-Raven Publ. Philadelphia, 1996 ; p 1-15.
28. Lin R, Tarr PD, Jones TC. Present status of the use of cytokines as
adjuvants with vaccines to protect against infectious diseases. Clin.
Infect. Dis. 1995 ; 21 : 1439-49.
KEPUSTAKAAN
29. Lorber B. Are all disease infectious?. Ann. Int. Med. 1996 ; 125 : 844-51.
30. Midthun K, Kapikian AZ. Rotavirus vaccines : An overview. Clin.
Microb. Rev. 1996 ; 9 : 423-34.
1.
Agus S, Simanjuntak G, Widodo, Suroso T. Current situation on dengue
haemorrhagic fever and diarheal diseases in Indonesia. WHO SEARO
Symposium on Emerging Infectious Diseases. New Delhi, 1996.
31. Nevins JR, Oldstone MBA. Cell transformation by viruses. Ih : Field's
Virology. Fields BN, Knipe DM, Howley PM. et al. (eds). Lippincott-
Raven. Publ. Philadelphia, USA, 1996 ; p 301-45.
2.
Amann RI, Ludwig W, Scheifer KH. Phylogenetic identification and in
situ detection of individual microbial cells without cultivation. Microbiol.
Rev. 1995; 143-69.
32. Niklasson B, Hornfeldt B, Lundman B. Could myociditis,
insulindependent diabetes mellitus and Gullaln-Barre syndrome be caused
by one or more infectious agents carried by rodents ?. Emerg. Infect. Dis.
1998 ; 4 : 187-93.
3.
Barlett JG. Infectious disease. JAMA South East Asia Ed 1997; 13 : 27-8.
4.
Bean B. Antiviral therapy : Current concept and practices. Clin. Microb.
33. Rev. 1992; 5:146-82.
33. Paya CV. Infections is solid-organ transplant recepients. Clin. Microb.
Rev. 1997 ; 10 : 86-124.
5.
Bernstein DI. Miller RL, Harrison CJ. Adjuvant effect of imiquimod on a
Herpes simplex virus type 2 glycoprotein vaccine in guinea pig. J. Infect.
Dis. 1993; 167 : 731-5.
34. Pirofski LA, Casadevall A. Use of licensed vaccines for active
immunization of the immunocompromised host. Clin. Microb. Rev. 1998
; 11 : 1-26.
6. Boller K, Konig H, Sauter M, et al. Evidence that HE RV-K is
endogenous retrovirus sequence that code for teratocarcinoma-derived
retrovirus HTCV. Virol 1993; 196 : 349-353.
35. Plotkin SA. Vaccination in the 21
st
century. J. Infect. Dis. 1993; 168 : 29-
37.
7. Braun DK, Dominguez D, Pellet PE. Human Herpes Virus 6. Clin.
Microb. Rev. 1995; 6 : 521-67.
36. Relman DA. The identification of uncultured microbial pathogens. J.
Infect. Dis. 1993 ; 168 : 1-8.
8. Bunnell BA, Morgan RA. Gene therapy for infectious disease. Clin.
Microb. Rev. 1998; 11 : 42-56.
37. Shah KV and Howley PM. Papillomaviruses. In: Field's Virology. Fields
BN, Knipe DM, Howley PM, Chanock RM, Monath TP, Melnick, JL,
Roiizman B. and Strauss SE. (eds). Lippincott-Raven. Publ. Philadelphia,
USA. 1996 ; p 2077-110.
9.
Carpenter CCJ, Fischl M, Hammer SM. el al. PA. Antiretroviral therapy
for HIV infection in 1997 : Up dated recommendation of the international
AIDS society-USA panel. JAMA 1997; 1962-9.
38. Scheffner M, Romanczuk, H. Munger, K. Huibregtse JM, Mietz JA,
Howley PM. Functions of human papillomavirus proems. Curr. Top.
Microbiol. Immunol. 1994 ; 186 : 83-99.
10. Chang Y, Cesarman E, Pessin MS, et al. Identification -of Herpes-like
DNA sequencesin AIDS-associated Kaposi's sarcoma. Science 1994; 266
: 1865-9.
39. Talal N, Flescher E, Dang H. Evidence for retroviral involvement in
autoimmune diseases. Ann. Allergy 1992 ; 69 : 221-4.
11. Chars Y, Molrine DC, George S, et al. Pneumococcal conjugate vaccine
primes for antibody response to polysaccharide pneumococcal vacoipe
after treatment of Hodgkin's disease. J. Infect. Dis. 1996; 173: 256-8.
40. Urnovitz HB, Murphy WH. Human endogenous retroviruses : Nature,
occurence and clinical implication in human diseases. Clin. Microb. Rev.
1996 ; 9 : 72-99.
12. Clemens R, Safary A, et al. Clinical experience with an inactivated
hepatitis A vaccine. J Infect. Dis. 1995; 171, supl 1.
41. Van Damme P Mathei C, Thoelen S, Meheus A, Safary A, Andre FE.
Single dose inactivated hepatitis A vaccine : Rationale and clinical
assesment of the safety and immunogenecity. J. Med. Viral. 1994 ; 4435-
441.
13. Callen BR. Mechanism of action of regulatory proteins encoded by
complex retrovirus. Microb. Rev. 1992; 56 : 375-94.
14. Cuthbert JA. Hepatitis C : Progress and problems. Clin. Microb. Rev.
1994 ; 7 : 505-32.
42. Viscidi RP, Sun Y, Tsuki B, Bosch FX, Munoz M, Shah KV Serologic
response in human papillomavirus-associated invasive cervical
carcinoma. Int. J. Cancer, 1993 ; 55 : 780-4.
15. Desmyter J, Colaert J, DeGroote G, et al. Efficacy of heat-inactivated
hepatitis B vaccine in haemodialysis patients and staff. Lancet 1993; ii :
1323-7.
43. Ullmer JB, Donnelly JJ, Parker SE, et al. Heterologous protection against
influenza by injection of DNA encoding a viral protein. Science 1993 ;
259 : 174-50.
16. Duke RC, Ojcius DM, Young JDE. Cell suicide in health and disease.
Scient. Am. 1996. 275 : 48-55.
17. Ertl HCJ, Xiang ZO. Genetic immunization.Viral. Immunol 1996; 9 : 1-9.
44. Wolfe ND, Escalante AA, Karesh WB, Kilbourn A, Spielman A, Lal AA.
Wild primate populations in emerging infection disease research : The
Missing Link? Emer. Infect. Dis. 1998 ; 4 : 149-58.
18. Farber C, Barath AA, Dieye T. The effects of immunization in human
immunodeficiency virus type 1 infection. N Engl J. Med. 1996; 335 :
817-8.
45. Yolken RH, Torrey ER Viruses, schizophrenia and bipolar disolder. Clin.
Microb. Rev. 1995 ; 8 : 131-45.
19. Field AK, Biron KK. "The end of innocence" revisited : Resistance of
herpesvirus ti antiviral drugs. Clin. Microb. Rev. 1994 ; 7 : 1-13.
46. Dominant communicable disease : South East Asia Regions. WHO
Regional Office for South East Asia 1997.
20. Fredricks DN, Relman D. Sequence-based identification of microbial
pathogens : a Reconsideration of Koch Postulates. Clin. Microb. Rev.
1996; 9 : 18-33.
47. Hepatitis A Vaccine. Med. Progres, 1997 ; 24 : 8-10.
Cermin Dunia Kedokteran No. 130, 2001
48