HASIL PENELITIAN
Evaluasi Hexachlorocyclohexane
0,5% EC terhadap Rhipicephalus
sanguineus
I G. Seregeg*', Supraptini*., Edhie Sulaksono**
* Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan
** Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan RI, Jakarta
Kekuatan racun BHC secara proporsional tergantung pada
PENDAHULUAN
Pedi Tox® (Hexachlorocyclohexane 0,5% EC) merupakan
insektisida dengan senyawa hidrokarbon berkhlor (chlorinated
hydrocarbon) yang termasuk dalam kelompok pestisida organo-
khlonn. Secara umum insektisida ini disebut benzene hexachlo-
ride, disingkat dengan BHC,
ABSTRAK
Rhipicephalus san guineus (Acarina: Ixodidae) umumnya merupakan parasit ternak/
hewan peliharaan pada anjing, kambing dan babi. Parasit ini kadang-kadang ditemukan
juga pada tikus-tikus luar. Informasi mengenai pengendalian parasit tersebut dengan
ak. Suatu uji coba untuk mengevaluasi Pedi
erhadap Rh. sanguineus telah dilakukan di
Mei 1993 di Jakarta. Hasilnya menunjukkan
LC terjadi pada dosis 12 ppm. Aplikasi Pedi
oleh perusahaan Combiphar (Bandung)
ambut manusia dievaluasi sebagal dosis yang
a pada manusia.
mempunyai rumus kimia C
6
H
6
Cl
6
(1, 2, 3, 4, 5, 6, -hexachlorocyclohexane)
(1)
. Insektisida ini per-
tamakali digunakan oleh Michael Faraday tahun 1825, yang
pada waktu itu belum mengetahui rumus kimianya. Tahun 1912
Van der Linden menemukan 4 isomer dari senyawa ini. Selan-
jutnya, penelitian-penelitian di Perancis berhasil menemukan
rumus kimia secar lengkap tahun 1942. Penelitian-penelitian di
Inggris berhasil mengisolasi bagian yang beracun yaitu : gamma
isomer dan untuk menghormati. Van der Linden, mereka mena-
makan insektisida ini Lindane. Di Indonesia masyarakat ilmiah
yang sering berkecimpung dengan insektisida menyebutnya
dengan nama gamma BHC.
bingungan. Insektisida ini juga beracun terhadap mamalia,
dengan dosis akut oral : LD
50
= 125 mg/kg (Sherman)
(1)
.
Rhipicephalus sanguineus (Acarina: Ixodidae) adalah se-
jenis caplak yang tersebar luas baik di daerah tropis maupun di
daerah subtropis. Di Indonesia penduduk setempat menyebut-
nya kutu anjing atau kutu babi, sedangkan di luar negeri disebut
kutu anjing coklat (brown dog tick). Caplak ini berhasil dikoleksi
dari kambing di Lhokseumawe, dari babi di Padangsidempuan,
dari anjing di sebagian besar kota-kota di Jawa, dari sapi di
Madura dan Menado, dari sapi dan anjing di Singaraja
(2)
. Saim
(1992) mendapatkan caplak ini dari kambing, anjing dan sambar
elemen beracunnya yaitu gamma isomer. Racun ini dapat sebagai
racun kontak, racun perut dan fumigen. Kekuatan racunnya dapat
5010.000 kali dibandingkan dengan isomer lainnya (Metca1f)
(1)
.
BHC mempunyai kemampuan penetrasi kutikula serangga se-
cara cepat sekali, mestimulir saraf pusat dan menimbulkan ke-
insektisida, di Indonesia belum begitu bany
Tox® (Hexachlorocyclohexane 0,5% EC) t
laboratorium pada bulan Maret, April dan
bahwa LC terjadi pada dosis 2,35 ppm dan
Tox® terhadap kutu rambut yang direkomendasi
dengan waktu papar selama semalam pada r
berlebihan, sehingga perlu diteliti dampakny
Makalah ini disajikan pada Seminar Parasitologi Nasonal VII dan Kongres
P4.1., 2325 Agustus 1993, di Denpasar, Bali.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 43
(Cervus unicolor equinus) di Lampung
(3)
.
Secara umum memang caplak tersebut ditemukan pada
anjing tetapi sering juga terdapat pada mamalia lainnya Audy
dkk (1960) menemukan tidak saja dan anjing bahkan dari ma-
nusia
(5)
; bahkan dan satwa yang lebih beraneka ragam yaitu dari
sapi (Bosfavanicus) dari kerbau (Bubalus bubalis), dari sambar
(C. unicolor equinus) dan dari ayam
(6)
.
Selanjutnya disebutkan bahwa R. sanguineus adalah parasit
penghisap darah, merupakan ektoparasit yang kosmopolitan.
Parasit ini dapat menularkan beberapa penyakit, di antaranya
Boutonneus fever, tick typhus pada manusia, rickettsiosis dan
anaplosmosis pada binatang. Peranannya sebagai parasit ternak
menduduki peringkat kedua sesudah Boophilus microplus
(2)
.
Penelitian mengenai upaya pengendalian R. sanguineus
dengan bermacam-macam insektisida, khususnya dengan Pedi
Tox® belum ada. Yang sudah ada, informasi hasil penelitian
Rhodiocide 60 EC (etion) terhadap Boophilus spp
(7)
.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi Pedi Tox®
(hexachiorocyclohexane 0,5% EC) terhadap R. sanguineus di
laboratorium.
BAHAN DAN CARA KERJA
Rhipicephalus sanguineus dikoleksi dan anjing peliharaan
yang ditempatkan di atas lantai porselin putih. Tempat koleksi
adalah di daerah Sunter Jaya, Jakarta Utara. Anjing disikat
dengan sikat ijuk kasar, sehingga R. sanguineus berjatuhan di
lantai dan dapat dilihat dengan jelas. Kemudian disendok dengan
kertas dan dimasukkan ke dalam botol air bekas, ukuran 0,5 liter,
yang sebelumnya dipotong di bagian bawah lehernya, dilengkapi
dengan kain kasa putih dan karet gelang yang berfungsi sebagai
tutup. Tidak kurang dari 50 caplak berhasil dimasukkan ke dalam
satu botol, kemudian ditutup dengan kain kasa dan karet gelang.
Dari 2 ekor anjing yang selalu bersama-sama, berhasil dikoleksi
4 botol caplak, kemudian dibawa ke laboratorium Puslit Ekologi
Kesehatan, Jakarta. Di laboratorium caplak-caplak ini diberi ma-
kan darah tikus putih yang belum tumbuh bulu (suckling mice),
dengan jalan memasukkan 2 ekor suckling mice (ke dalam tiap
botol. Caplak-caplak yang sudah makan darah (berwarna coklat
tua) kemudian digunakan untuk percobaan. Sebanyak 15 caplak
ditempatkan dalam 1 tabung reaksi dengan menggunakan kuas
kecil. Jumlah tabung reaksi yang diperlukan disesuaikan dengan
beban percobaan per hari.
Percobaan di laboratorium dilakukan dalam 3 tahap. Tahap
pertama, keanekaan dosis adalah sama untuk semua perlakuan
yaitu 0,5%. Keanekaan pemaparan, didasarkan pada waktu papar,
yaitu: 1 jam, 0,5 jam, 15 menit dan 8 menit. Tahap ke dua, waktu
papar disamakan untuk semua perlakuan, yaitu pengamatan
setelah 1 jam pemaparan dan setelah 24 jam pemaparan; tetapi
dosis pada tahap ini dibuat 4 macam, dosis diencerkan menjadi:
250 ppm, 125 ppm, 65 ppm, 40 ppm. Tahap ke tiga, waktu
papar tetap seperti tahap ke dua, namun dosis lebih diencerkan lagi
menjadi 20 ppm, 10 ppm, 5 ppm dan 2,5 ppm. Pada tahap ini
sudah mungkin untuk menanik garis regresi sehingga tidak di-
perlukan pengenceran selanjutnya.
Untuk mencegah kontaminasi, pemaparan dilakukan tidak
dalam tabung rčaksi melainkan dalam kertas saring yang sudah
dibasahi dengan cairan Pedi Tox® sesuai dosis yang diinginkan;
setelah waktu papar selesai (1 jam untuk tahap ke ciua dan tahap
ke tiga) semua caplak dimasukkan kembali ke dalam tabung
reaksi semula. Untuk kontrol diambil jumlah caplak yang sama
yaitu 15 ekor dan ditempatkan agak jauh dan perlakuan. Peng-
amatan dilakukan 1 jam setelah penempatan kembali caplak ke
tabung semula, dan setelah dibiarkan selama semalam. Kemu-
dian dilakukan perhitungan mortalitas dalam persen. Hasil per-
hitungan di plot dalam kertas logaritmis, dibuat garis regresinya
dan dicari posisi LC dan LC sesuai dengan petunjuk dalam
brosur-brosur standar WHO.
HASIL
Hasil penelitian menunjukkan bahwa LC terjadi pada dosis
2,35 ppm dan LC terjadi pada dosis 12 ppm. Rincian hasil
percobaan yang menyangkut mortalitas dapat dilihat pada Tabel
1, Tabel 2 dan Tabel 3. Garis regresi dalam skala logaritma dapat
dilihat pada Gambar 1.
Tabel 1. Hasil pemaparan R. sanguineus, dalam angka mortalitas ter-
hadap
Pedi
Tox®
dalam dosis 0,5% (sesuai lebel).
Mortalitas
Waktu
papar
Jumlah
yang
dipapar
Pengamatan
setelah 1 jam
pemaparan
Pengamatan
setelah 24 jam
pemaparan
Kontrol
1 jam
0,5 jam
15 menit
8 menit
15
15
15
15
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
0 (0%)
0 (0%)
0 (0%)
0 (0%)
Tabel 2. Hasil pemaparan R sanguineus, dalam angka mortalitas, ter-
hadap Pedi Tox® dalam waktu papar i jam dengan keanekaan
dosis:
250
ppm,
125 ppm, 65 ppm dan 40 ppm.
Mortalitas
Dosis
papar
Jumlah
yang
dipapar
Pengamatan
setelah 1 jam
pemaparan
Pengamatan
setelah 24 jam
pemaparan
Kontrol
250 ppm
125 ppm
65 ppm
40 ppm
15
15
15
15
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
15 (100%)
0 (0%)
0 (0%)
0 (0%)
0 (0%)
Tabel 3. Hasil pemaparan K sanguineus, dalam angka mortalitas, ter-
hadap Pedi Tox® dalam waktu paper 1 jam dengan keanekaan
dosis: 20 ppm, 10 ppm, 5 ppm, dan 2,5 ppm.
Mortalitas
Dosis
papar
Jumlah
yang
dipapar
Pengamatan
setelah I jam
pemaparan
Pengamatan
setelah 24 jam
pemaparan
Kontrol
20 ppm
15
10(66,6%)
15000%)
0(0%)
10 ppm
15
7(46,6%)
15000%)
0(0%)
5 ppm
15
5(33,3%)
11 (77,06%) '
0(0%)
2,5 ppm
15
0(0%)
8(53,3%)
00%)
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
44
Gambar 1. Garis regresi dalam skala logaritma untuk mendapatkan LC
50
dan LC
95
.
Percobaan tahap 1 dan tahap 2 memberikan angka mortali-
tas 100% pada semuajenis pengamatan yang berarti dosis masih
sangat pekat sehingga dosis lebih rendah pada percobaan tahap
3. Dalam percobaan ini adaperbedaan mortalitas pada pengamat-
an setelah 1 jam dan pada pengamatan setelah 24jam; menunjuk-
kan bahwa proses kematian R. sanguineus memenlukan waktu
cukup panjang. Mortalitas 77,06% pada dosis 5 ppm dan mortali-
tas 53,3% pada dosis 2,5 ppm adalah dasar membuat garis
regresi.
PEMBAHASAN
Pedi Tox® yang digunakan dalam penelitian ini terjual
secara bebas di apotik dan di toko-toko obat. Pada labelnya ter-
tulis untuk kutu manusia dengan aturan pakai: digosok-gosokkan
di kepala dan dibiarkan selama semalam. Bila dikaitkan dengan
informasi dan literatur, bahwa senyawa yang terkandung di
dalamnya adalah gamma BHC (hexachiorocyclohexane) yang
dapat bersifat racun kontak, fumigen dan racun perut, baik untuk
serangga maupun mamalia; jelas bahwa pemakaian insektisida
tersebut akan memberi risiko keracunan pada pemakainya. Risiko
keracunan yang bersifat oral, tentunya akan mudah dihindarkan
kecuali ketidak sengajaan atau upaya bunuh diri, tetapi sifat
racun kontak dan fumigan kiranya risiko tidak mungkin dapat
dihindarkan. Besarnya risiko ini akan tergantung kepada lama-
nya waktu papar dan tingkat pengenceran racun serangga ter-
sebut.
Bila dikaitkan dengan hasil penelitian tersebut di atas, kira-
nya waktu papar tidak perlu harus selama semalam dan dosis
cukup 12 ppm dengan waktu papar 1 jam; diperkirakan semua
caplak akan terlepas dan induk semangnya. Seandainya masih
ada yang hidup kondisinyapun sudah sangat lemah, sehingga
akan terhanyut bersama-sama dengan air yang digunakan untuk
memandikan induk-semangnya. Dengan demikian untuk pe-
ngendalian R. sanguineus pada hewan, Pedi Tox® jelas dapat
digunakan.
Pemakaian untuk kutu kepala manusia (Pediculus humanus
var capitis) kiranya perlu penelitian selanjutnya. Namun perlu
diingat untuk mendapatkan kutu manusia dewasa ini sudah
sangat sulit, mungkin akan memerlukan survai yang cukup lama
ke desa-desa atau daerah-daerah kumuh yang higiene perse
orangannya masih rendah. Bila penelitian ini berhasil dilaksana-
kan, selain studi kepekaan terhadap kutu manusia, perlu dikaji
pula dampak Pedi Tox® pada manusia.
Sementara ini, bilapolapikirdidasarkan padaprinsip analogi
bahwa baik kutu kepala manusia maupun kutu anjing sama-sama
adalah ektoparasit, maka perbedaan reaksinya terhadap suatu
jenis pestisida tentunya tidak akan menyolok. Namun bila di-
bandingkan aturan pakai Pedi Tox® terhadap kutu manusia dan
pengaruh Pedi Tox® terhadap R. sanguineus, terdapat perbeda-
an yang sangat menyolok baik waktu papar maupun dosisnya.
Waktu paparnya: semalam (± 10 jam) berbanding 1 jam dan do-
sisnya 500 ppm (0,5%) berbanding 12 ppm. Kekuatan racunnya
(gamma isomer) jauh Iebih kuat dibandingkan dengan isomer
lain, 5010.000 kali (Metcalf dalam Matsumura, 1976), yang
berarti risiko keracunannyapun akan jauh lebih tinggi diban-
dingkan dengan pemakaian pestisida lain. Dengan dasar inilah
dievaluasi bahwa pemakaian Pedi Tox® untuk kutu manusia
dengan dosis 0,5% dan waktu papar semalam, sebagai suatu
dosis yang berlebihan.
Peluang resistensi memang ada, tetapi seandainya telah ter-
jadi tentunya R. sanguineus akan lebih resisten dibandingkan
dengan kutu manusia mengingat kehidupan R. sanguineus ku-
rang higienis, lebih banyak terpapar insektisida rumah tangga
karena anjing berada pada zonasi ruang yang lebih di bawah
(tempat mengendapnya/turunnya pancaran insektisida) diban-
dingkan dengan zonasi ruang kepala manusia.
KESIMPULAN
1) Hasil percobaan membuktikan bahwa Pedi Tox® cukup
efektif terhadap R. sanguineus (LC = 2,35 ppm, LC = 12 ppm).
2) Hasil evaluasi memperkirakan bahwa dosis Pedi Tox®
0,5% untuk kutu manusia dan waktu papar selama semalam
dirasa berlebihan.
SARAN
1) Diperlukan penelitian selanjutnya mengenai pengaruh Pedi
Tox® pada kutu manusia (Pediculus humanus var capitis).
2) Disarankan pula melakukan penelitian mengenai dampak-
nya pada manusia berdasarkan dosis dan waktu papar dalam
labelnya.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Drh. Ima Nurisa M.Sc.
yang telah banyak membantu dalam kepustakaan dan fasilitas lainnya.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997 45
KEPUSTAKAAN
1. Matsumura F. Toxicology of Insecticides. Department of Entomology.
University of Wisconsin-Madison. Plenum Press. New York 1976. p. 57.
Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
46
2. Anastos G. The Scutate Ticks or Ixodidae of Indonesia. Entomologica
Americana 1950; XXX/new series (14): 144.
3. Saim A. Caplak Stadia Parasitik (Acarina: Ixodidae) pada sambar, Cervus
unicolor di Indonesia. Buletin Peternakan 1992; 16: 129.
4. Wilson N. New Distributional Records of Ticks fmm Southeast Asia and
Pacific (Metastigmata: Argasidae, Txodidae). Oriental Insect, Vol 4(1).
Department of Zoology University of Delhi, India. 1970. p. 3746.
5. Audy JR, Nadchatram M, Lim Boo Liat. Malaysian Parasites XLLX. Host
Distribution of Malayan Ticks (Ixodoidea) B.T. Fudge, Government Printer,
Federation of Malaya 1960. p. 237.
6. Munaf HB. Tick Fauna of Baluran. Wildlife Reserve, Indonesia. HemeraZoa
1978; 70(1).
7. Anonymous. Pestisida untuk Pertanian dan Kehutanan. Direktorat Perlin-
dungan Tanaman Pangan. Ditjen. Pertanian Tanaman Pangan. Jakarta 1988.
p.93.
8. Munaf HB. Caplak Anjing, Rhipicephalus sanguineus. Buletin Kebun Raya
1977; 3(2): 4346.
9. Saim A. Hubungan antara Caplak (Acarina: Ixodidae) pada kambing dan
hewan budidaya lainnya di beberapa daerah propinsi Lampung. Prosiding
Sarasehan Usaha Ternak Domba dan Kambing Menyongsong PJPT II.