background image
ULASAN
Efek Merokok
terhadap Rongga Mulut
Gupran Ruslan
Rumah Sakit Umum Daerah Muara Teweh, Kalimantan Tengah
PENDAHULUAN
Merokok merupakan kebiasaan yang memiliki daya meru-
sak cukup besar terhadap kesehatan. Hubungan antara merokok
dengan berbagai macam penyakit seperti kanker paru, penyakit
kardiovaskuler, risiko terjadinya neoplasma larynx, esophagus
dan sebagainya, telah banyak diselidiki
(1-3)
.
Kebiasaan merokok juga diasosiasikan dengan berbagai
macam perubahan yang berbahaya dalam rongga mulut seperti
kaitannya dengan kanker mu1ut
(2,4)
. Penelitian-penelitian me-
ngenai hubungan merokok dengan penyakit periodontal juga
sudah dilaporkan; perokok menderita periodontitis yang lebih
parah dan mempunyai insidens acute ulcerative gingivitis yang
lebih tinggi daripada bukan perokok
(5)
.
Tulisan ini dimaksudkan untuk mengulas efek merokok
terhadap mukosa mulut, bakteri mulut, kebersihan mulut dan
periodontium; sebelumnya diuraikan lebih dahulu karakteristik
komponen tembakau rokok.
KARAKTERISTIK KOMPONEN TEMBAKAU ROKOK
Asap rokok tembakau mengandung gas dan bahan-bahan
kimia yang bersifat racun dan atau karsinogenik
(5,6)
. Komposisi
kimia dan asap rokok tergantung pada a) jenis tembakau,
b) disain rokok, seperti ada tidaknya filter, bahan-bahan tam-
bahan, dan sebagainya, c) pola merokok individu
(6)
.
Dari satu batang rokok yang dibakar/disulut, dihasilkan
kira-kira 500 mg gas (92%) dan bahan-bahan partikel padat
(8%)
(4)
. Sebagian besar fase gas adalah karbondioksida, oksigen
- dan nitrogen
(4)
. Meskipun persentase karbonmonoksida rendah,
tetapi menaikkan tekanan darah secara bermakna yang akan
berpengaruh pada sistem pertukaran hemoglobin
(4)
. Tar (hidrokar-
bon aromatik) berkisan antara < 1 ­35 mg dan dalam kelompok
ini terdapat bahan karsinogen yang paling poten
(4)
. Kandungan
nikotin berkisar dari <1 ­ 3 mg, mempunyai efek farmakologis
yang mendorong faktor habituasi atau ketergantungan psikis
(4,7,8)
,
yang merupakan suatu sebab mengapa seorang perokok sulit
untuk berhenti merokok
(7)
. Filter yang baik sudah tentu dapat-
mengurangi bahan-bahan ini.
Nikotin berbentuk cairan, tidak berwarna, merupakan basa
yang mudah menguap
(8)
. Nikotin berubah warna menjadi coklat
dan berbau mirip tembakau setelah bersentuhan dengan udara;
kadannya dalam tembakau antana 1­2%
(8)
. Nikotin mendorong
terjadinya adhesi platelet yang diasosiasikan dengan penyakit
kardiovaskuler dan hipertensi
(4)
. Nikotin merupakan bahan yang
mempunyai aktifitas biologi yang poten yang akan menaikkan
tingkat epinefrin dalam danah, menaikkan tekanan darah, me-
nambah denyut jantung dan menginduksi vasokonstriksi peri-
fer
(8,9)
. Nikotin selain dimetabolisme di hati, paru-paru dan ginjal,
juga diekskresi melalui air susu. Pada perokok berat, kadar
nikotin dalam air susu dapat mencapai 0,5 mg/l
(8)
.
Kandungan Tar dalam rokok di negara-negana yang sedang
berkembang cukup tinggi
(6)
. Di Cina, Indonesia dan India mi-
salnya, kandungan Tar berkisar antana 19 ­ 33 mg, sedang di
negara-negara industri, kandungan Tar berkisar antara 0,5 ­20
mg
(10)
. Kandungan Tar dan- -nikotin di pasaran Inggris dan
Amerika Serikat telah menurun
(6)
, sedangkan salah satu merek
rokok di Indonesia mengandung 55 mg Tar/batang rokok
(6)
.
Selain bahan-bahan tersebut di atas, masih banyak terdapat
zat-zat kimia lainnya yang berefek buruk yang dihasilkan pada
pembakaran tembakau di antaranya : piridin, fenol, hidrogen
sianida, amonia, benzene, benz(a) anthracene, benzo(a) pyrene,
dan sebagainya
(6,8)
. Bahan-bahan ini tentu menambah sifat toksik
dan asap rokok
(8)
. Lebih dari 1000 macam bahan telah diidenti-
fikasi dalam tembakau
(4)
.
Banyak penelitian labocatoris mengungkapkan bahwa bebe-
rapa hidrokarbon yang diisolasi dari hasil produk tembakau
dapat menginduksi karsinoma bukal pada binatang-binatang
percobaan dalam kondisi-kondisi ekspenimen tertentu
(4)
. Telah
diketahui bahwa benz(a) anthracene merupakan hidrokarbon
yang bersifat karsinogenik
(11,12)
. Sementara itu, benzo(a) pyrene-
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 41
background image
selain bersifat mutagenik, juga karsinogenik
(4,12)
mengikat diri
ke nukleoprotein. Di samping itu, enzim AHH (Aryl Hydro-
carbon Hydroxylase) yang terutama dihasilkan pada lekosit
manusia dalam jumlah yang berbeda-beda, menambah sifat
karsinogenik dan benzo(a) pyrene
(4)
. Karena itu, perokok yang
mempunyai enzim ini dalam jumlah banyak mungkin mem-
punyai risiko yang lebih besar untuk terkena kasus keganasan
pada bagian-bagian "zona tembakau" dalam mu1utnya
(4)
.
Dari setiap kepu Ian asap rokok, perokok menghirup kira
kira 50 mg bahan, 18 mg darinya berupa bahan partikel padat
yang berupa droplet aerosol cair dan partikel Tar padat sub-
mikroskopik dengan diameter mikron atau lebih kecil. Sisanya
terdini dari karbondioksida dan sampai 5% karbonmonoksida,
tercampur déngan oksigen dan nitrogen dan udara
(5)
.
EFEK MEROKOK TERHADAP MUKOSA MULUT
Bahan-bahan kimia dan gas dalam asap rokok, seperti :
amonia, hidrogen Sianida, nikotin, dan sebagainya, merangsang
infeksi mukosa. Merokok dapat memperlambat penyembuhan
luka. Dry Socket terjadi empat kali lebih banyak pada perokok
daripada bukan perokok
(13)
.
Merokok menyebabkan perubahan panas pada jaringan
mukosa mulut
(14)
. Initasi kronis dan panas menyebabkan per -
ubahan vaskularisasi dan sekresi kelenjar liur
(14)
. Rangsangan
asap rokok yang lama dapat menyebabkan perubahan-per-
ubahan yang bersifat merusak bagian mukosa mulut yang ter -
kena, yang bervariasi dan penebalan menyeluruh bagian epitel
mulut (smoker's keratosis) sampai bercak putih keratotik yang
menandai leukoplakia dan kanker mulut
(5)
. Leukoplakia ber-
variasi dan lesi putih yang rata/halus sampai lesi yang tebal dan
keras. Kira-kira 3% ­ 5% kasus yang didiagnosis leukoplakia
akan berkembang menjadi kanker
(13)
. Oral leukoplakia merupa-
kan lesi prekanker
(4)
.
Tembakau merupakan penyebab keratosis yang paling
sering dalam mulut. Pasien sering kali mempunyai kebersihan mulut
yang buruk dan berada pada dekade kehidupan ke lima atau
enam. Lebih sering menyerang pria daripada wanita dan ada
hubungan antara jumlah rokok dan jumlah serta keparahan
lesi
(15)
. Jumlah rokok yang dihisap lebih penting daripada lama-
nya merokok. Kerentanan individu tampaknya menjadi faktor
yang penting dalam menentukan derajat dan sifat dan hiperkera-
tosis
(16)
.
Pada perokok yang menggunakan pipa, sering dijumpai
adanya stomatitis nikotina
(13)
. Gejalanya antara lain adanya
kemerahan di daerah palatum, yang akhirnya menjadi keabu-
abuan dan kemungkinan mengkerut. Pada waktunya, terlihat
pertumbuhan bercak putih yang kecil pada palatum molle dekat
duktus kelenjar liur. Stomatitis seperti in janang berkembang
menjadi kanker. Menghentikan kebiasaan merokok dengan pipa,
biasanya akan menyelesaikan masalah ini
(13)
.
Pada perokok sigaret, perubahan mulut biasanya lebih luas.
Mukosa bukal pipi tampak berwanna putih susu, terutama pada
daerah cominisura, dan menghilang ke daerah gigi geraham
besar. Pasien yang sering membiarkan sigaret tetap tergantung
di bibir sering mengalami pembentukan groove yang dapat ter-
keratinisasi
(15)
.
Karsinoma mukosa mulut terutama disebabkan oleh karsi-
nogen bahan kimia di samping fisik dan virus
(17,18)
. Berkembang-
nya neoplasma pada individu akibat stimulus karsinogenik ini
dipengaruhi oleh banyak faktor seperti keturunan/genetik, diet,
hormonal, jenis kelamin, dan sebagainya
(18)
. Merokok mem-
punyai efek karsinogenik pada mukosa mulut
(15)
. Tembakau me-
ngeluarkan efek karsinogenik yang tampaknya bersifat kimia
(15)
.
Terdapat hubungan yang bermakna antara merokok dengan
kanker di berbagai bagian mulut
(19)
. Keller (1967) mengungkapkan
adanya asosiasi yang bermakna antara merokok dengan kanker
mulut (tidak termasuk bibir)
(19)
, juga melaporkan adanya asosiasi
yang bermakna secara statistik antana merokok dengan kanker
bibir
(6)
.
Merokokdiperkirakandapatmeningkatkan terjadinyakanker
mulut sebanyak dua sampai empat kali
(20)
. Sementara itu, peneli-
tiän prospektif di Universitas California, San Fransisco meng-
ungkapkan bahwarisiko terkena kanken mulut bagi perokok kira-
kira lima kali daripada bukan perokok
(4)
.
EFEK MEROKOK TERHADAP BAKTERI MULUT
Perubahan variasi potensial reduksi-oksidasi (Eh) di daerah
gingivadan rongga mulut merupakan indikasi adanya anaenobio-
sis. Merokok dapat menyebabkan penurunan Eh dan ini akan
mengakibatkan peningkatan bakteri plak yang anaerobik. Hipo-
tesis ini telah diuji oleh Kenney et al. pada tahun 1975. Kenney
melaporkan adanya penurunan nilai potensial reduksi-oksidasi
yang bermakna, baik pada regio gingiva molar pertama rahang
atas maupun pada dasar mulut dan 19 orang perokok dan 19
orang bukan perokok, Iangsung setelah merokok sebatang siga -
ret
(9)
. Efek penurunan tersebut tampaknya mendorong pertum-
buhan mikro-organisme yang anaerobik
(5)
.
Colman et at. 1976, menemukan bahwa Neissena (Gram-
negatif aerob) lebih sedikit jumlahnya pada plak, lidah dan
palatum dari 5 orang sampel laki-laki muda yang merokok lebih
dari 20 batang sigaret sehani bila dibanding dengan 4 orang
sampel lainnya yang tidak merokok
(9)
. Mereka meny bahwa
perubahan-penubahan tersebut mungkin akibat kondisi anaero-
bik yang lebih banyak tendapat pada perokok atau sifat anti-
bakteri dan asap rokok tembakau. Asap rokok tembakau
mengandung fenol dan sianida yang berpengaruh terhadap sifat-
sifat toksik dan anti-bakteri
(9)
.
Bastian dan Waite (1978) melaporkan jumlah proporsi bakteri
pewarnaan Gram pada perkembangan plak d 10 perokok dan
10 bukan perokok. Dilaporkan bahwa pada hari ke 3 tahap awal
pembentukan plak, pada kelompok perokok terdapat pening-
katan persentase bakteri Gram-positif terhadap bakteri Gram-
negatif yang bermakna secara statistik daripada kelompok bukan
perokok. Sedang pada hari ke 7 dan ke 10 pembentukan plak,
persentase bakteri Grain positif terhadap persentase bakteri
Gram negatif tidak berbeda bermakna pada kedua kelompok
tersebut
(21)
.
Sementara itu, penetitian Bandell secara in vitro mengkon-
firmasikan bahwa bakteri Gram positif tampaknya kurang rentan
terhadap asap rokok tembakau danipada bakteri Gram negatif
(5)
.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996
42
background image
KESIMPULAN
Dilaporkan bahwa tiga spesies bakteri Gram negatif yaitu
Branhamella catarrhalis, Neisseriaperiava dan Neisseria sicca
lebih rentan terhadap asap rokok daripada tiga spesies bakteri
Gram positif, yaitu Streptococcus mitis, Streptococcus salivarius
dan Streptococcus sanguis
(9)
.
Kandungan asap rokok tembakau terdiri dari gas dan
bahan- bahan kimia yang bersifat toksik dan atau karsinogenik.
Merokok dapat menimbulkan efek yang merugikan pada
jaringan di dalam rongga mulut, di samping kesehatan secara
umum.
Dokter gigi sebagai pemberi pelayanan kesehatan gigi dan
mulut, tentunya dapat memainkan peranan yang penting dalam
menyadarkan masyarakat terhadap bahaya merokok, khususnya
untuk alasan-alasan kesehatan mulut.
EFEK MEROKOK TERHADAP KEBERSIHAN MULUT
DAN PERIODONTIUM
Pindborg et al. menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
antara konsumsi tembakau dan deposisi ka1ku1us Analisis
selanjutnya dan data yang sama oleh Kowalski menunjukkan
bahwa bukan perokok mempunyai kalkulus supragingival yang
lebih kecil
(9)
.
Arno et al. (1958) dan Sumners dan Oberman (1968), me-
laporkan bahwa frekuensi merokok berkorelasi positif dengan
penyakit periodontal. Pada penelitian selanjutnya, diketahui
bahwa kehilangan tulang alveolar bertambah dengan bertam-
bahnya penggunaan tembakau
(9)
.
KEPUSTAKAAN
1. Ismail Al, Burt BA, Ekiund SA. Epidemiologic patterns of smoking and
periodontal disease in the United States. JADA, 1983; 106: 617­21.
2. Knight JF. Jantung Sehat; tezj. Panjaitan M. Bandung: Indonesia Pubi.
House, 1990: 109­15.
Preber dan Kant (1973), meneliti efek merokok pada anak
sekolah usia 15 tahun dan melaporkan peningkatan indeks keber-
sihan mulut pada perokok bila dibanding dengan kontrol bukan
perokok.
3. Solomon HA, Piiore RL, Bross IDJ. Cigarette smoking and periodontal
disease. JADA 1968; 77: 1081­4.
4. Silverman Sir, Shillitoe EJ. Etiology and Predisposing Factors. Dalam:
Silvennan Sir, ed. Oral Cancer. 2nd ed., Ch 2. New York: The American
Cancer Society, 1985: 7­36.
Orang yang merokok lebih dari 10 batang sigaret per hari
mempunyai kesempatan 10 kali lebih besar untuk mendapat
acute necrotizing ulcerative gingivitis. Ulkus ini diakibatkan
oleh pengurangan aliran darah ke daerah jaringan gingiva, atau
seringkali akibat gabungan efek nikotin, stres dan pengabaian
kesehatan mulut
(13)
.
5. Macgregor 1DM. Effects of Smoking on Oral Ecology. Dalam: Lyon HE,
ed. Dental Review. Hong Kong : Dental Review Asia, 1990; 2: 4­8.
6. World Health Oitganization. LARC Monographs On The Evaluation Of
The Carcinogenic Risk Of Chemicals To Humans, Tobacco Smoking- Vol.
38. Lyon, France, WHO, 1985; 65, 81, 86, 87, 271­274, 309, 313.
7. Ciancio SG, Bourgault PC. Clinical Pharmacology For Dental Pmfessio
nals. 3rd ed. Chicago: Year Book Medical Publ. Inc. 1989: 362­366.
Penelitian-penelitian epidemiologis lainnya juga menun-
jukkan bahwa deposisi kalkulus, debris dan stain makin bertam-
bah pada perokok daripada bukan perokok
(9)
. Akumulasi plak
dalam rongga mulutjuga lebih besar pada perokok daripada bu-
kan perokok
(1,22)
. Perokok juga lebih mudah mengalami gingivi-
tis daripada orang yang tidak merokok
(2)
.
8. Gan 5, Darmansjah I. Obat Ganglion. Dalam: Gan S, ed. Farmakologi Dan
Terapi. ed. 3. Jakarta: Bagian Farmakologi FKUI, 1987: 97­102.
9. Rivera - Hidalgo F. Smoking and Periodontal Disease. J Periodontol 1986;
57: 6 17­24.
10. Setiadi L. Smokii in Saraphee District, Chiang Mai, Thailand. Major -
Paper. Bangkok: l Mahidol University, 1988:6­10. 11: Basmajian JV e al.
(eds.) Stedman's Medical Dictionary. 27th ed. Balti more: Williams &
Wilkins, 1982: 165.
Merokok tampaknya memperburuk status kebersihan mulut
seorang individu dan bersama-sama dengan kebersihan mulut
yang buruk, ia bertindak sebagai ko-faktor untuk terjadinya
gingivitis dan periodontitis
(9)
.
12. Whelan E. Preventing Cancer. New York: WW Norton & Co. 1980:64­69.
13. McCann D. Tobacco use and oral health. JADA, 1989; 118: 19­25.
14. Goldman HM, Cohen DW. Periodontal Therapy. 6th ed. St. Louis: CV
Mosby Co. 1980: 142­144, 231,232.
15. Gayford ii, Haskell R. Penyakit Mulut; teij. Yuwono L. Jakarta: EGC,
1990: 79­82, 133­140.
Banyak penelitian sebelumnya tidak mempertimbangkan
perbedaan status kebersihan mulut perokok dan bukan perokok,
sehingga hasil penelitian-penelitian tersebut meragukan.
Bradtzaeg, Jamison, Sheiham dan Ainamo, semuanya menyim-
pulkan bahwa orang-orang yang merokok mempunyai lebih
banyak kalkulus, debris, gingivitis dan periodontitis daripada
orang-orang yang tidak merokok, tetapi bila perokok dan bukan
perokok dengan tingkat kebersihan mulut yang sama dibanding -
kan maka tidak ditemukan perbedaan yang bermakna secara
statistik antara status periodontal mereka
(1)
.
16. Burket LW. Oral Medicine. Diagnosis and Treatment. 6th ed. Philadelphia:
JB Lippincott, 1971: 100.
17. Boyd NM, Reade PC. Mechanisms of carcinogenesis with particular
reference to the oral mucosa. J Oral Pathol 1988; 17: 193­201.
18. Boyd NM. Reade PC. Factors associated with the development of neo
plasm. JOral Pathol 1988; 17: 202­207.
19. Smith Ci. Global Epidemiology and Aetiology of Oral Cancer. Dalam: A
Symposium On The Early Diagnosis of Oral Cancer. London: Federation
Dentaire Inteniationale, 1973: 82­7.
20. Bolden TE. Epidemiology of and Factors Related to Oral Cancer. Dalam:
Stallard RE. ATextbookofPi Dentistry. 2nded. Philadelphia: WB Saunders
Company, 1982: 7 1­89.
Ismail et al. melaporkan adanya asosiasi negatif antara me-
rokok dengan penyakit periodontal pada populasi penelitian
sebanyak kurang lebih 3000 individu dengan usia antara 25 ­74
tahun. Asosiasi ini juga masih jelas setelah penyesuaian variabel
usia, jenis kelamin, ras, kebersihan mulut dan status ekonom
(1)
.
21. Bastiaan Ri, Waite IM. Effects of tobacco smoking on plaque development
and gingivitis. J Periodontol 1978; 49: 480­82.
22. Osterberg T, Mellstmm D. Tobacco Smoking: a major risk factor for loss
of teeth in three 70-year-old cohorts. Community Dent Oral Epidemiol
1986; 14: 367­70.
Cermin Dunia Kedokteran No. 113, 1996 43