TINJAUAN KEPUSTAKAAN
Dampak
Debu Industri pada Paru Pekerja
dan Pengendaliannya
Faisal Yunus
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Bagian Pulmonologi FKUI/Unit Paru RSUP Persahabatan Jakarta
PENDAHULUAN
Kemajuan sektor industri di Indonesia meningkat dari
tahun ke tahun, peningkatan ini sejalan dengan peningkatan
taraf ekonomi negara. Dengan majunya industri maka terbuka-
lah lapangan kerja buat masyarakat, daerah di sekitar per-
industrian juga berkembang dalam bidang sarana transpor-
tasi, komunikasi, perdagangan dan bidang lain. Semua hal
ini akan meningkatkan taraf ekonomi dan sosial masyarakat. Di
lain pihak kemajuan ekonomi perangsang timbulnya industri
baru yang mempunyai ruang lingkup yang lebih luas.
Meskipun perkembangan industri yang pesat dapat me-
ningkatkan taraf hidup, tetapi berbagai dampak negatif juga
bisa terjadi pada masyarakat. Salah satu dampak negatif ada-
lah terhadap paru para pekerja dan masyarakat di sekitar
daerah perindustrian. Hal ini disebabkan pencemaran udara
akibat proses pengolahan atau hasil industri tersebut. Ber-
bagai zat dapat mencemani udara seperti debu batubara, se-
men, kapas, asbes, zat-zat kimia, gas beracun, dan lain-lain.
Tergantung dari jenis paparan yang terhisap, berbagai
penyakit paru dapat timbul pada para pekerja. Pengetahuan
yang cukup tentang dampak debu terhadap paru diperlukan
untuk dapat mengenali kelainan yang terjadi dan melakukan
usaha pencegahan.
KARAKTERISTIK DEBU
Berbagai faktor berpengaruh dalam timbulnya penyakit
atau gangguan pada salurail napas akibat debu. Faktor itu
antara lain adalah faktor debu yang meliputi ukuran partikel,
bentuk, konsentrasi, daya larut dan sifat kimiawi, lama pa-
paran. Faktor individual meliputi mekanisme pertahanan paru,
anatomi dan fisiologi saluran napas dan faktor imuno logis
(1-6)
.
Debu industri yang terdapat dalam udara terbagi dua,
yaitu deposit particulate matter yaitu partikel debu yang
hanya berada sementara di udara, partikel ini segera meng-
endap karena daya tank bumi. Suspended particulate matter
adalah debu yang tetap berada di udara dan tidak mudah
mengendap
(7)
. Partikel debu yang dapat dihirup berukuran 0,1
sampai 10 mikron
(7,8)
.
Debu yang berukuran antara 5-10 mikron bila terhisap
akan tertahan dan tertimbun pada saluran napas bagian atas;
yang berukuran antara 3-5 mikron tertahan dan tertimbun
pada saluran napas tengah. Partikel debu dengan ukuran 1-3
mikron disebut debu respirabel merupakan yang paling ber-
bahaya karena tertahan dan tertimbun mulai dari bionkiolus
terminalis sampai alveoli. Debu yang ukurannya kurang dari
1 mikron tidak mudah mengendap di alveoli, debu yang
ukurannya antara 0,1-0,5 mikron berdifusi dengan gerak
Brown keluar masuk alveoli; bila membentur alveoli ia dapat
tertimbun di situ
(1,8,9)
.
Meskipun batas debu respirabel adalah 5 mikron, tetapi
debu dengan ukuran 5-10 mikron dengan kadar berbeda dapat
masuk ke dalam alveoli. Debu yang berukuran lebih dari 5
mikron akan dikeluarkan semuanya bila jumlahnya kurang
dari 10 partikel per miimeter kubik udara. Bila jumlahnya
1.000 partikel per milimeter kubik udara, maka 10% dari
jumlah itu akan ditimbun dalam paru
(9,10)
.
Debu yang nonfibrogenik adalah debu yang tidak me-
nimbulkan reaksi jaring paru, contohnya adalah debu besi,
kapur, timah. Debu ini dulu dianggap udak merusak paru
disebut debu inert. Belakangan diketahui bahwa tidak ada
debu yang benar-benar inert. Dalam dosis besar, semua debu
bersifat merangsang dan dapat menimbulkan reaksi walau-
pun ringan. Reaksi itu berupa produksi lendir berlebihan;
bila m terus berlangsung dapat terjadi hiperplasi kelenjar
mukus. Jaringan paru juga dapat berubah dengan terbentuk-
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 45
nya jaringan ikat retikulin. Penyakit paru ini disebut pneu-
mokoniosis nonkolagen
(8,10,11)
.
Debu fibrogenik dapat menimbulkan reaksi jaringan
paru sehingga terbentuk jaringan parut (fibrosis). Penyakit ini
disebut pneumokoniosis kolagen. Termasuk jenis ini adalah
debu siika bebas, batubara dan asbes
(7,9,12)
.
REAKSI PARU TERHADAP DEBU
Debu yang masuk ke dalam saluan napas, menyebabkan
timbulnya reaksi mekanisme pertahanan nonspesifik berupa
batuk, bersin, gangguan transport mukosilier dan fagositosis
oleh makrofag
(2,3,9,13)
. Otot polos di sekitar jalan napas dapat
terangsang sehingga menimbulkan penyempitan. Keadaan ini
terjadi biasanya bila kadar debu melebihi nilai ambang ba-
tas
(1,7,14)
.
Sistem mukosilier juga mengalami gangguan dan me-
nyebabkan produksi lendir bertambah. Bila lendir makin ba-
nyak atau mekanisme pengeluarannya tidak sempurna terjadi
obstruksi saluran napas sehingga resistensi jalan napas me-
ningkat
(3,9)
.
Partikel debu yang masuk ke dalam alveoli akan mem-
bentuk fokus dan berkumpul di bagian awal saluran limfe
paru. Debu ini akan difagositosis oleh makrofag. Debu yang
bersifat toksik terhadap makrofag seperti silika bebas me-
nyebabkan terjadinya autolisis. Makrofag yang lisis bersama
silika bebas merangsang terbentuknya makrofag baru. Ma-
krofag baru memfagositosis silika bebas tadi sehingga terjadi
lagi autolisis, keadaan ini terjadi berulang-ulang. Pembentuk-
an dan destruksi makrofag yang terus menerus berperan pen-
ting pada pembentukan jaringan ikat kolagen dan pengendap-
an hialin pada jaringan ikat tersebut. Fibrosis ini terjadi pada
parenkim paru, yaitu pada dinding alveoli dan jaringan
interstisial. Akibat fibrosis paru menjadi kaku, menimbulkan
gangguan pengembangan paru yalta kelainan fungsi paru
yang restriktif
(8,9)
.
Penyakit paru yang dapat timbul karena debu selain ter-
gantung pada sifat-sifat debu, juga tergantung pada jenis debu,
lama paparan dan kepekaan individual. Pneumokoniosis
biasanya timbul setclah paparan bertahun-tahun. Apabila ka-
dar debu tinggi atau kadar silika bebas tinggi dapat terjadi
silikosis akut yang bermanifestasi setelah paparan 6 bulan.
Dalam masa paparan yang sama seseozang thpat mengalami
kelainan yang berat sedangkan yang lain kelainnya ringan
akibat adanya kepekaan individual
(7,9,15)
. Penyakit akibat debu
antara lain adalah asma kerja, bronkitis industri, pneumoko-
niosis batubara, siikosis, asbestosis dan kanker paru.
DIAGNOSIS
Penyakit paru akibat debu industri mempunyai gejala dan
tanda yang mirip dengan penyakit paru lain yang udak di-
sebabkan oleh debu d tempat kerja
(16)
. Untuk menegakkan
diagnosis perlu dilakukan anamnesis yang teliti meliputi
riwayat pekerjaan, dan hal-hal yang berhubungan dengan pe-
kerjaan, karena penyakit biasanya baru timbul setelah paparan
yang cukup lama
(16-18)
.
Anamnesis mengenal riwayat pçkerjaan yang akurat dan
rinci sangat diperlukan, apalagi bila penderita sering berganti
tempat kerja. Riwayat pekerjaan yang berhubungan dengan
paparan debu dan lama paparan hendaklah diketahui secara
lengkap
(16-18)
. Berbagai faktor yang berhubungan dengan pe-
kerjaan dan lingkungan perlu diketahui secara nnci
(19)
. Pada
tabel 1 dapat diihat faktor kunci mengenal nwayat pekerja-
an dan lingkungan.
Tabel 1. Faktor Kunci Riwayat Pekerjaan dan Lingkungan
(19)
Penyakit sekarang: - Gejala-gejala yang berhubungan dengan pekerjaan.
- Pekerjaan
lain
yang
terkena
gejala
serupa.
- Paparan
saat
ini
terhadap
debu,
gas
bahan
kimia
- dan
biologi
yang
berbahaya.
- Laporan
terdahulu
tentang
kecelakaan
kerja.
Riwayat pekerjaan meliputi catatan tentang semua pekerjaan terdahulu,
hari kerja yang khusus, proses pertukaran pekerjaan.
Tempat kerja : - Ventilasi, higiene industri dan kesehatan, pemeriksaan
pekerja,
pengukuran
proteksi.
- Serikat kesehatan dan keamanan cahaya, hari-hari kerja
yang hilang tahun sebelumnya, penyebabnya, santun-
an kompensasi pekerja sebelumnya.
Riwayat penyakit dahulu : - paparan terhadap kebisingan, getaran, radi-
asi, zat-zat kimia. ubes.
Riwayat lingkungan : - Rumah dan lokasi tempat kerja sekarang dan
sebelumnya.
- Pekerjaan lain yang bermakna
- Sampah/limbah yang berbahaya
- Polusi udara
- Hobi : mencat, memahat, mematri, pekerjaan
yang
berhubungan
dengan
kayu.
- Alat pemanas rumah
- Zat-zat pembersih namah dan tempat kerja
- Paparan peptisida
- Sabuk
pengaman
- Alat pemadam kebakaran di rumah atau di
tempat kerja.
Tinjauan semua sistem organ
perhatian khusus : - Perubahan waktu kerja, kebosanan, riwayat re-
produksi.
Pemeriksaan penunjang yang penting untuk menegakkan
diagnosis dan menilai kecacatan paru pada penyakit paru
akibat debu adalah pemeriksaan radiologis dan pemeriksaan
faal paru.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pemeriksaan foto toraks sangat berguna untuk melihat
kelainan yang ditimbulkan oleh debu pada pneumokoniosis.
Klasifikasi standar menunit ILO dipakai untuk menilai ke-
lainan yang timbul. Pembacaan foto toraks pneumokoniosis
perlu dibandingkan dengan foto standar untuk menentukan
klasifikasi kelainan. Perselubungan yang timbul dibagi atas
perselubungan halus dan kasar
(20)
.
A. Perselubungan Halus (Small Opacities)
Perselubungan ini digolongkan menurut bentuk, ukuran,
banyak dan luasnya. Menurut bentuk dibedakan alas perselu-
bungan halus bentuk lingkar dan bentuk ireguler. Perselubung-
an lingkar dibagi berdasarkan diameternya, yaitu:
p = diameter sampai 1,5 mm
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
46
q = diameter antara 1,5-3 mm
r = diameter antara 3-10 mm
Bentuk ireguler dibagi berdasarkan lebarnya, yaitu:
s = lebar sampai 1,5 mm
t = lebar antara 1,5-3 mm
u = lebar antara 3-10 mm
Untuk pelaporan bentuk dan ukuran kelainan digunakan
dua huruf. Huruf pertama menunjukkan kelainan yang lebih
dominan, contoh p/s. ini berarti perselubungan lingkar ukuran
p lebih banyak, tetapi juga ada perselubungan ireguler ukur-
an s tetapi jumlahnya sedikit.
Kerapatan (profusion) kelainan didasarkan pada konsen-
trasi atau jumlah perselubungan halus persatuan area. Dibagi
atas 4 kategori, yaitu:
Kategori 0 = Tidak ada perselubungan atau kerapatan ku-
rang dari 1.
Kategori 1 = Ada perselubungan tetapi sedikit.
Kategori 2 = Perselubungan banyak, tetapi corakan paru
masih tampak.
Kategori 3 = Perselubungan sangat banyak sehingga corakan
paru sebagian atau seluruhnya menjadi kabur.
Foto toraks pada pneumokoniosis mempunyai 12 kategori,
yaitu :
0/- 0/0 0/1
1/0 1/1 1/2
2/1 2/2 2/3
3/2 3/3 3/+
Angka pertama menunjukkan kerapatan yang lebih do-
minan daripada angka dibelakangnya. Kerapatan adalah pe-
tunjuk penting .untuk menentukan beratnya penyakit.
Luasnya distribusi perselubungan didasarkan atas area
yang terkena. Lapanan paru dibagi atas 6 area, masing-masing
belahan paru mempunyai 3 area yaitu lobus atas, lobus tengah
dan lobus bawah.
B. Perselubungan Kasar (Large Opacities)
Perselubungan kasar dibagi atas 3 kategori yaitu A, B
danC.
Kategori A = Satu perselubungan dengan diameter antara 1-5
cm, atau beberapa perselubungan dengan dimater masing-
masing lebih dari 1 cm, tapi bila diameter semuanya di
jumlahkan tidak melebihi 5 cm.
Kategori B = Satu atau beberapa perselubungan yang lebih
besar atau lebih banyak dari A dengan luas perselubungan tidak
melebihi luas lapangan paru kanan atas.
Kategori C = Satu atau beberapa perselubungan yang jumlah
luasnya melebihi luas lapangan paru kanan atas atau sepertiga
lapangan paru kanan.
PEMERIKSAAN FAAL PARU
Pemeriksaan faal paru yang sederhana, cukup sensitif dan
bersifat reprodusibel serta digunakan secara luas adalah pe-
meriksaan kapasitas vital (1(V) dan volume ekspirasi paksa
detik pertama (VEP
1
) selain berguna untuk menunjang
diagnosis juga perlu untuk melihat lajunya penyakit, efekti-
vitas pengobatan dan menilai prognosis. Pemeriksaan se-
belum seseorang bekerja, dan pemeriksaan berkala setelah
bekerja dapat mengidentifikasi penyakit dan perkembangan-
nya pada pekerja yang sebelumnya tidak mempunyai
geja1a
(16,21-23)
.
Pemeriksaan faal paru lain yang lebih sensitif untuk
mendeteksi kelainan di saluran napas kecil adalah pemerik-
saan Flow Volume Curve dan Volume of Isoflow. Pengukur-
an kapasitas difusi paru (DLCO) sangat sensitif untuk men-
deteksi kelainan di interstisial; tetapi pemeriksaan ini rumit
dan memerlukan peralatan yang lebih canggih, dan tidak di
anjurkan digunakan secara rutin. Pekerja yang pada pemerik-
saan awal tidak menunjuickan kelainan, kemudian menderita
kelainan setelah bekerja dan penyakitnya terus berlanjut, di-
anjurkan untuk menukar pekerjaannya
(16)
.
PNEUMOKONIOSIS PEKERJA TAMBANG BATU-
BARA
Penyakit terjadi akibat penumpukan debu batubara di
paru dan menimbulkan reaksi jaringan terhadap debu ter-
sebut. Penyakit ini terjadi bila paparan cukup lama, biasanya
setelah pekerja terpapar lebih daii 10 tahun. Berdasarkan
gambaran foto toraks dibedakan atas bentuk simple dan com-
plicated
(2,17,24,25)
.
Simple Coal Workers Pneumoconiosis (Simple CWP)
terjadi karena inhalasi debu batubara saja. Gejalanya hampir
tidak ada; bila paparan tidak berlanjut maka penyakti ini
tidak akan memburuk. Penyakit ini dapat berkembang men-
jadi bentuk complicated. Kelainan foto toraks pada simple
CWP berupa perselubungan halus bentuk lingkar, perselu-
bungan clapat terjadi di bagian mana saja pada lapangan paru,
yang paling sering di lobus atas. Senng ditemukan perselu-
bungan bentuk p dan q. Pemeriksaan faal paru biasanya tidak
menunjukkan kelainan. Nilai VEP
1
dapat sedikit menurun
sedangkan kapasitas difusi biasanya normal
(2,16,17,24)
.
Complicated Coal Workers Pneumoconiosis atau Fibrosis
Masif Progresif (PMF) ditandai oleh terjadinya daerah fibro-
sis yang luas hampir selalu terdapat di lobus atas
(17)
. Fibrosis
biasanya terjadi karena saw atau lebih faktor berikut
(16)
:
1 . Terdapat silika bebas dalam debu batubara.
2. Konsentrasi debu yang sangat tinggi.
3. Infeksi Mycobacterium tubeivulosis atau atipik.
4. Imunologi penderita buruk.
Pada daerah fibrosis thpat timbul kavitas dan ini bisa
menyebabkan penumotoraks; foto toraks pada PMF sering
miriptüberkulosis, tetapi senng ditemukan bentuk campuran
karena terjadi emfisema. Tidak ada korelasi antara kelainan
faal paru dan luasnya lesi pada foto toraks. Gelaja awal
biasanya tidak khas. Batuk dan sputum menjadi lebih sering,
dahak berwarna hitam (melanoptisis). Kenisakan yang luas
menimbuikan sesak napas yang makin bertambah, pada sta-
dium lanjut terjadi kor hipertensi pulmonal, gagal ventrikel
kanan dan gagal napas
(2,17,24)
.
Penelitian pada pekerja tambang batubara di Tanjung
Enim lahun 1988 menemukan bahwa dari 1735 pekerja di-
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 47
temukan 20 orang atau 1,15% yang foto toraksnya menunjuk-
kan gambaran pneumokoniosis
(26)
.
SILIKOSIS
Penyakit ini terjadi karena inhalasi dan retensi debu
yang mengandung kristalin silikon dioksida atau silika be-
bas (S
1
S
2
). Pada berbagai jenis pekerjaan yang berhubungan
dengan silika penyakit ini dapat terjadi, seperti pada pe-
kerja
(6,16,17,27)
.
1. Pekerja tambang logam dan batubara
2. Penggali terowongan untuk membuat jalan
3. Pemotongan batu seperti untuk patung, nisan
4. Pembuat keramik dan batubara
5. Penuangan besi dan baja
6. Industri yang memakai silika sebagai bahan misalnya
pabrik amplas dan gelas.
7. Pembuat gigi enamel
8. Pabrik semen
Usaha untuk menegakkan diagnosis silikosis secara dini
sangat penting, oleh karena penyakit dapat terus berlanjut
meskipun paparan telah dihindari. Pada penderita silikosis
insidens tuberkulosis lebih tinggi dari populasi umum
(2,17)
.
Secara klinis terdapat 3 bentuk silikosis, yaitu si likosis
akut, silikosis kronik dan silikosis terakselerasi
(6,16,27)
.
Sitikosis Akut
Penyakit dapat timbul dalam beberapa minggu, bila
seseorang terpapar silika dengan konsentrasi sangat tinggi.
Perjalanan penyakit sangat khas, yaitu gejala sesaic napas
yang progesif, demam, batuk dan penurunan berat badan se-
telah paparan silika konsentrasi tingi dalam waktu relatif
singkat. Lama paparan berkisar antara beberapa minggu sam-
pai 4 atau 5 tahun. Kelainan faal paru yang timbul adalah
restriksi berat dan hipoksemi disertai penurunan kapasitas di
fusi.
Pada foto toraks tampak fibrosis interstisial difus, fibrosis
kemuclian berlanjut dan terdapat pada lobus tengah dan bawah
membentuk djffuse ground glass appearance mirip edema
paru
(6,27)
.
Silikosis Kronik
Kelainan pada penyakit ini mirip dengan pneumokoniosis
pekerja tambang batubara, yaitu terdapat nodul yang biasa-
nya dominan di lobus atas. Bentuk silikosis kronik paling se-
ring ditemukan, terjadi setelah paparan 20 sampai 45 tahun
oleh kadar debu yang relatif rendah. Pada stadium simple,
nodul di paru biasanya kecil dan tanpa gejala atau minimal.
Walaupun paparan tidak ada lagi, kelainan paru dapat men-
jadi progresif sehingga terjadi fibrosis yang masif
(6,27)
.
Pada silikosis kronik yang sederhana, foto toraks menun-
jukkan nodul terutama di lobus atas dan mungkin disertai
klasifikasi. Pada bentuk lanjut terthpat masa yang besar yang
tampak seperti sayap malaikat (angel's wing). Sering terjadi
reaksi pleura pada lesi besar yang padat. Kelenjar hilus biasa-
nya membesar dan membentuk bayangan egg shell calcifica-
tion
(16)
.
Jika fibrosis masif progresif terjadi, volume paru ber-
kurang dan bronkus mengalami distorsi. Faal paw menunjuk-
kan gangguan restriksi, obstruksi atau campuran. Kapasitas
difusi dan komplians menurun. Timbul gejala sesak napas,
biasa disertai batuk dan produksi sputum. Sesak pada awal-
nya terjadi pada saat aktivitas, kemudian pada waktu istirahat
dan akhirya timbul gagal kardiorespirasi
(16)
.
Di pabrik semen di daerah Cibinong (1987) dan 176 pe-
kerja yang diteliti ditemukan silikosis sebanyak 1,13% dan
diduga silikosis 1 ,7% Pada tahun 1991 penelitian pada 200
pekerja pabrik semen ditemukan dugaan silikosis sebanyak 7%.
Perbedaan angka yang didapat diduga karena perbedaan
kualitas foto toraks, dan kadar silika bebas dalam debu yang
memapari pekerja
(29)
.
Silikosis Terakselerasi
Bentuk kelainan ini serupa dengan silikosis kronik, hanya
perjalanan penyakit lebih cepat dari biasanya, menjadi fi-
brosis masif, sering terjadi infeksi mikobakterium tipikal atau
atipik. Setelah paparan 10 tahun sering terjadi hipoksemi yang
berakhir dengan gagal napas
(6,16)
.
ASBESTOSIS
Penyakit ini terjadi akibat inhalasi debu asbes, menimbul-
kan penumokoniosis yang ditandai oleh fibrosis paru. Papar-
an dapat terjadi di therah industri dan tambang, juga bisa
timbul pada daerah sekitar pabrik atau tambang yang udara-
nya terpolusi oleh debu asbes. Pekerja yang dapat terkena
asbestosis adalah yang bekerja di t ambang, penggilingan,
transportasi, pedagang, pekerja kapal dan pekerja penghancur
asbes
(16,17,30,31)
.
Pada stadium awal mungkin tidak ada gejala meskipun
foto toraks menunjukkan gambaran asbestosis atau penebal-
an pleura. Gelaja utama adalah sesak napas yang pada awal-
nya terjadi pada waktu aktivitas. Pada stadium akhir gejala
yang umum adalah sesak pada saat istirahat, batuk dan pe-
nurunan berat badan. Sesak napas terus memburuk meskipun
penderita dijauhkan dari paparan asbes; 15 tahun sesudah
awal penyakit biasanya terjadi kor pulmonal dan kematian.
Penderita sering mengalami infeksi saluran napas; keganasan
pada brunkus, gastrointestinal dan pleura sering menjadi pe-
nyebab kematian
(16,17,30,31)
.
Pada stadium awal pemeriksaan fisis tidak banyak me-
nunjukkan kelainan, akibat fibrosis difus dapat terdengar
ronki basah di lobus bawah bagian posterior. Bunyi ini makin
jelas bila terjadi bronkiektasis akibat distorsi paw yang luas
karena flbrosis. Jan tabuh ((clubbing) senng ditemukan pada
asbestosis
(17,30,31)
.
Perubahan pada foto toraks lebih jelas pada bagian tengah
dan bawah paw, dapat berupa bercak difus atau bintik-bintik
yang patht, bayangan jantung sering menjadi kabur. Diafagma
dapat meninggi pada stadium lanjut karena paw mengecil.
Penebalan pleura biasanya terjadi biral, terlihat di daerah
tengah dan bawah terutama bila timbul kalsifikasi. Bila proses
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
48
lanjut terlihat gambaran sarang tawon di lobus bawah. Mung-
km ditemukan keganasan bronkus atau mesotelioma. Berbeda
dengan penumokoniosis batubara dan silikosis yang pende-
ritanya dapat mempunyai gejala sesak napas tanpa kelainan
foto toraks
(16,17,30,31)
.
Pemeriksaan faal paru menunjukkan kelainan restriksi
meskipun tidak ada gejala pada sebagian penderita terdapat
kelainan obsiruksi. Kapasitas difusi dan komplians paru me-
nurun, pada tahap lanjut terjadi hipoksemia
(17,30,31)
.
Biopsi paru mungkin perlu pada kasus tertentu untuk
menegakkan diagnosis. Biopsi paru transbronkial hendaklah
dilakukan untuk mendapakatan jaringan paru. Pemeriksaan
bronkoskopi juga berguna menyingkirkan atau mengkonfir-
masi adanya karsinoma bronkus yang terdapat bersamaan
(17)
.
BRONKITIS INDUSTRI
Berbagai debu industri seperti debu yang berasal dari
pembakaran arang batu, semen, keramik, besi, penghancuran
logam dan batu, asbes dan silika dengan ukuran 3-10 mikron
akan ditimbun di paru. Efek yang lama dali paparan ini me
nyebabkan paralisis silia, hipersekresi dan hipertrofi kelenjar-
mukus. Keadaan ini meyebabkan saluran napas rentan ter-
hadap infeksi dan timbul gejala-gejala batuk menahun yang
produktif. Pada pekerja tambang batubara bila paparan meng-
hilang, gejal klinis dapat hilang. Pada pekerja yang berhu-
bungan dengan tepung keadaanya Iebih kompleks. Berbagai
komponen debu padi-padian (antigen padi-padian, jamur
kumbang padi, tungau, endotoksin bakteri, antigen binatang,
dan debu inert) berperan menimbulkan bronkitis
(1,6,32)
.
Berbagai zat telah dipastikan sebagai penyebab terjadi-
nya bronkitis industri sedangkan zat-zat lain kemungkinan
besar atau diduga sebagai penyebab. (Tabel 2)
Pada bronkitis industri atau bronkitis kronik foto toraks
dapat normal, atau menunjukkan peningkat.an corakan bron-
kopulmoner terutama di lobus bawah
(17,33)
. Pada awal pe-
nyakit pemeriksaan faal paru tidak menunjukkan kelainan.
Karena meningkatnya resistensi pemapasan, pada stadium
lanjut terjadi obsiruksi saluran napas yang thpat menjadi
ireversibel
(23,33)
. Apabila telah timbul obstruksi yang irever-
sibel, penyakit akan berjalan secara lambat dan progresif
Pemeriksan faal paru berguna untuk menentukan tahap per-
jalanan penyakit, manfaat bronkodilator, perburtikan fungsi
paru dan menentukan pmgnosis
(22,23)
.
Pada penduduk yang tinggal di sekitar pabnk semen
kekerapan bronkitis kronik jauh lebih tinggi dali penduduk
yang tinggalnya jauh. Pada penduduk yang tinggalnya 25 km
dari pabrik semen, terdapat kekerapan bronkitis kronik
14,66% pada laki-laki dan 23,46% pada perempuan. Pada
daerah yang terletak 5 km dari pabrik didapatkan angka ke-
kerapan penyakit ini 33,33% pada laki-laki dan 22,35% pada
perempuan
(34)
. Penelitian pada pekerja pabrik semen di daerah
Cibinong pada tahun 1987 tidak menemukan penyakit bron-
kitis kronik Penelilian yang dilakukan pada tahun 1991
menemukan kekerapan bronkitis kronik yang sangat rendah
yaitu 0,5%; prevelensi bronkitis kronik pada para pekerja
Tabel 2. Zat Penyebab Bronkitis Industri
(33)
Dipastikan
Kcmungkinan
besar
Diduga
Aldehid (akrolein formaldehid)
+
Ammonia +
Debu batubara
Kalium (emfisema)
+
+
Khlorin
+
Khlormetil eter
+
Khrom
+
Debu tambang batubara
(bronkitis, emfisema)
+
Kobalt
+
Pembakaran arang batu
+
Debu kapas
+
Gas diesel
+
Endotoksin +
Debu tepung (gandum, barley)
+
N02
+
Paraquat
Fosgen
+
+
Polikhlorinat bifenil
+
Debu keramik
+
NaOH +
Toluen diisosianat
+
Tungsten karbid
+
Vanadium
+
Vinil khlorida monomer
+
Western red cedar
+
Debu wol
+
tersebut rendah bila dibandingkan dengan prevalensi di ka-
langan penduduk yang tinggal di sekitar pabrik semen.
ASMA KERJA
Asma kerja adalah penyakit yang ditandai oleh kepekaan
saluran napas terhadap paparan zat di tempat kerja dengan
manifestasi obstruksi saluran napas yang bersifat reversibel.
Penyakit mm hanya mengenal sebagian pekerja yang terpapar,
dan muncul setelah masa bebas gejala yang berlangsung
antara beberapa bulan sampai beberapa tahun. Pada tiap indi-
vidu masa bebas gejal dan berat ringannya penyakit sangat
bervariasi
(35)
.
Berbagai debu dan zat di tempat kerja thpat menimbul-
kan asma kerja. Zat itu thpat berasal dali tumbuh-tumbuhan
seperti tepung gandum, debu kayu, kopi, buah jarak, colo-
phony, binatang seperti binatang pengerat, anjing, kucing,
kutu ganchim, ulat sutra, kerang; zat kimia seperti isosionat,
garam platina, khrom, enzmm seperti iripsin dan papain. Dapat
juga berasal dali obat-obatan seperti pada pmduksi piperazin,
tetrasiklin, spinamisin dan penisilin sintetik
(36)
.
Pada individu atopik keluhan asma timbul setelah be-
kerja 4 atau 5 tahun, sedangkan pada individu yang nona-
topik keluhan ini muncul beberapa tahun Iebih lama. Pada
tempat yang mengandung zat paparan kuat seperti isosionat
dan colophony gejala dapat timbul lebih awal bahkan ka-
dang-kadang beberapa minggu setelah mulai bekerja. Keluhan
asma yang khas adalah mengi yang berhubungan dengan
pekerjaan. Gejala pada tiap individu bervaliasi, kebanyakan
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 49
membaik pada akhir pekan dan waktu libur. Ananinesis ri-
wayat penyakit yang rinci penting untuk menegakkan diag-
nosis. Ada individu yang terserang setelah paparan be-
berapa menit, pada individu lain sering timbul beberapa jam
sesudah paparan dengan gejala yang mengganggu pada malam
berikutnya
(35)
.
Pemeriksaan faal paru di luar serangan dapat normal.
Pada waktu serangan terlihat tanda obstruksi. Pemeriksaan
arus puncak ekspirasi menunjukkan penurunan lebih dari
15% pada waktu serangan. Bilafaal paru normal dan pasien
dicurigai menderita asma, pemeriksaan uji provokasi bronkus
merupakan pemeriksaan yang menunjang. Indikasi utama uji
provokasi bronkus adalah
(35)
.
1.) Bila pekerja diduga menderita asma kerja tapi tidak
diketahui zat yang menyebabkannya.
2.) Bila pekerja terpapar oleh lebih dari satu zat yang dapat
menyebabkan asma kerja.
3.) Bila konfirmasi mutiak untuk diagnosis penyakit di
perlukan, misalnya sebelum menyuruh penderita berhenti
bekerja.
Pemeriksaan lain yang tidak spesifik tapi dapat mem-
berikan informasi adalah uji kulit, yaitu dengan tes goresan.
Sebagian penderita yang tidak mempunyai gejala akan me-
nunjukkan reaksi positif seget sesuthh uji kulit. Tidak ada
hubungan yang pasti antara pekerjaan kulit dan bronkus
(35)
.
KANKER PARU AKIBAT KERJA
Mekanisme terjadinya kanker akibat paparan zat belum
diketahui secara tuntas. Para ahli sepakat paling kurang
ada 2 stadium terjadinya kanker karena bahan karsinogen.
Pertama adalab induksi DNA sel target oleh bahan karsi-
nogen sehingga menimbulkan mutasi sel, kemudian terjadi
peningkatan multiplikasi sel yang merupakan manifestasi
penyakit
(37)
.
Zat yang bersifat karsinogen dan dapat menimbulkan
kanker paru antara lain adalah asbes, uranium, gas mustard,
arsen, nikel, khrom, khlor metil eter, pembakaran arang,
kalsium kiorida dan zat radioaktif serta tar batubara
(16,37,38)
.
Pekerja yang berhubungan dengan zat-zat tersebut dapat
mendenta kanker paru setelah paparan yang lama, yaitu
antara 15 sampai 25 tahun. Pekerja yang terkena adalah
mereka yang bekerja di tambang, pabrik, tempat penyulingan
dan industri kimia
(16.37)
.
PENGOBATAN DAN PENCEGAHAN
Tidak ada pengobatan spesifik dan efektif pada penyakit
paru yang disebabkan oleh debu industri. Penyakit biasanya
memberikan gejala bila kelainan telah lanjuL Pada silikosis dan
asbestosis bila diagnosis telah ditegakkan penyakit dapat terus
berlanjut menjadi fibrosis masif meskipun paparan di-
hilangkan. Bila faal paru telah menunjukkan kelainan obstruksi
pada bronkitis industri, berarti kelainan telah menjadi
ireversibel
(6,24,30)
.
Pengobatan umumnya bersifat simptomatis, yaitu mengu-
rangi gejala. Obat lain yang diberikan bersifat suportif
(6,24,30)
.
Tindakan pencegahan merupakan tindakan yang paling
panting pada penatalaksanaan penyakit paru akibat debu
industri. Berbagai tindakan pencegahan perlu dilakukan
untuk mencegah timbulnya penyakit atau mengurangi laju
penyakit. Perlu diketahui apakah pada suatu industri atau
tempat kerja ada zat-zat yang dapat menimbulkan kelainan
pada paru. Kadar debu pada tempat kerja diturunkan serendah
mungkin dengan memperbaiki teknik pengolahan bahan,
misalnya pemakaian air untuk mengurangi debu yang ber-
terbangan. Bila kadar debu tetap tinggi pekerja diharuskan
memakai alat pelindung. Pemeriksaan faal paru dan radiologi
sebelum seorang menjadi pekerja dan pemeriksaan secara
berkala untuk deteksi dini kelainan yang timbul. Bila sese-
orang telah mendenita penyakit, memindahkan ke tempat yang
tidak terpapar mungkin dapat mengurangi laju pe-
nyakit
(6,24,30,32,35)
.
Pekerja hendaklah berhenti merokok terutama bila be-
kerja pada tempat-tempat yang mempunyai risiko terjadi pe-
nyakit bronkitis idustri dan kanker paru, karena asap rokok
thpat meninggikan risiko timbulnya penyakit
(6,30,37)
.
Penderita yang atopik idealnya dianjurkan menghindari
tempat yang jelas thpat mencetuskan serangan asma, seperti
produksi sutra, deterjen, dan pekerjaan yang mempunyai
paparan garam platinum. Industri dan tempat kerja yang
mempunyai risiko tinggi menimbulkan serangan asma hen-
daklah tidak menenima pegawai yang atopik. Pekerja yang
mendenita asma kerja hendaklah dihindari dan paparan zat di
tempat kerja
(35)
.
PENUTUP
Debu industri di tempat kerja dapat menimbulkan ke-
lainan dan penyakit paru. Berbagai faktor berperan pada
mekanisme timbulnya penyakit, diantaranya adalah jenis,
konsentrasi, sifat kimia debu, lama paparan dan faktor individu
pekerja.
Untuk menegakkan diagnosis penyakit paru akibat debu
industri perlu dilakukan anamnesis yang teliti mengenai
riwayat pekerjaan, identifikasi debu di tempat kerja, dan
pemeriksaan penunjang seperti uji faal paru dan pemeriksa-
an radiologis. Diagnosis kadang-kadang sukar ditegakkan oleh
karena sering butuh waktu yang lama antara terjadinya pa-
paran dan timbulnya penyakiL Di samping itu penyakit paru
akibat debu industri mempunyai gejala yang sama dengan
penyakit paru yang tidak disebabkan oleh debu.
Pengobatan penyakit paru akibat debu industri bersifat
simptomatis dan suportif. Usaha pencegahan merupakan
langka penatalaksanaan yang panting. Tindakan pencegahan
meliputi pengurangan kadar debu, memakai pelindung diri,
deteksi dini kelainan dan pemeriksaan sebelum .penerimaan
pegawai.
Pemeriksaan faal paru dan radiologis secara berkala
perlu pada jenis kerja tertentu. Pekerja yang telah terkena
penyakit akibat debu hendaklah dihindani dani paparan lebih
lanjut.
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997
50
KEPUSTAKAAN
1. Bates DV. Air pollutans and the human lung. Am Rev Respir Dis 1972;
105 : 1-13.
2. Crofton J. Douglas A. Occupational Lung Diseases, In: Respiratoty
Diseases, Oxford, Blackwell Sceintific Publications, 1980; 164-84.
3. Bneger H. The fate of inhaled particles, Arch Env HIth 1963; 1: 57-60.
4. Davie CN. The handling of particles in human lung. Brigd Med Bull
1963; 83: 49-52.
5. Ehrlich R. Effect of air pollutans on respiratoly function. Arch Env
HIth 1963; 6: 638-42.
6. Seaton A. Siicosis. In: Occupational Lung Diseases. eds Morgan WKC,
Seaton A. Philadelphia; WB Saunders CO, 1984; 250-4.
7. Petty FA. Industrial Hygiene and Toxicolugie, New York. lntercience
Publis mc, 1958.
8. World Health Organization, Technical Report Series 734, Recommended
Health Based limits in Occupational Exposure to selected mineral dust
(silica, coal). Geneva: World Health Organization, 1986; 82.
9. Parkes WR. Occupational Lung Disorders. London: Butterworth, 1982;
17-26, 45-53, 136-74.
10. World Health Organization. Effect of Air Pollutans on Human Health,
WHO monograph series 1961; 46.
11. Churg A. Wright JL, Wiggs B, Pare PD, Lazar M. Small airways
diseases and mineral dust exposure. Am Rev Respir Dis 1985; 131:
139-43.
12. World Health Organization. Early Detection of Occupational Diseases.
Singapore, World Health Organization, 1986; 272.
13. Stuart OB. Richland N, Deposition of inhaled aerosols, Arch Intern
Med 1973; 131: 60-72.
14. Bode FR, Dosman J, Martin RR, Mc Men PT. Reversibility of pul-
monary function abnormality in smokers. Am I Med 1975; 59: 43-51.
15. Ziskind M, Jones RM. State of art; Silicosis Am Rev Respir Dis 1976;
113: 643-5.
16. Mason RI. Occupational Lung Diseases. In: Wyngaarden JB, Smith
LH eds. Cecils Texbook of Medicine, Philadelphia, WE Saunders 1985;
2279-87.
17. Crompton GK. Occupational Lung Diseases. In: Diagnosis and Mana-
gement of Respirastoiy Diseases. Oxford: Blackwell Scien Public,
1980; hal 164-84.
18. Scaton C. Clinical approach. In: MorganEKC, Seaton A(eds). Occupa-
tional lung diseases, Philadelphia; WE Saunders 1984: 9-17.
19. Becker CE. Principles of Occupational Medicine. In: Wyngaarden JB,
Smith LH (eds). Cecil Textbook of Medicine, Philadelphia, WB
Saunders Co 1985; 2277-9.
20. ILO 1980. International Classification of Radiographs c the Pneumo-
ccssiosis. In: Guidelines for the use of ILO International Classification
of Radiographs of Pneumoconiosis. Geneva: International Labour
Office, 1980: 1-20.
21. Yeung MC, Lam S, Enarson D. Pulmonary function measurement in
the industrial setting. Chest 1985; 88: 270-4.
22. Faisal Yunus. Peranan faal paru pads penyakit pans obstnjksi me-
nahun. Dalam: Penyakit p.m obstruksi menahun. Balai penerbit FKUI,
1989: 33-34.
23. Faisal Yunus. Peranan pemeriksaan faal paru pads peyakit paru
obstruksi. Dalam: Pulmonologi Klinik. ed. Faisal Y, Menaldi R,
Achmad H, Achmad M, Boedi S, Jakarta, Bagian Pulmonologi FKUI.
1992; 167-75.
24. Morgan WKC. Coal Workers Pneumoconiosis. In: Morgan WKC,
Seaton A (eds). Occupational Lung Diseases, Philadelphia; WB
Saunders 1984: 3770-448.
25. Merchant JA, Taylor G, Hodous TK. Coal workers paeumoconiosis
and exposure to other carbonaceous dusts. In: Merchant JA<Boehlecke
BA, Taylor G, Piccket-Hamer M, edt: Occupational respiratory
diseases. Washington DC, US Department of Health and Human Ser-
vice, 1986: 329-84.
26. Raharjo Darmanto D. Faal Pant Pekerja Tambang di PT Tambang
Batubara Buldt Asam (Persero) Tanjung Enim, Skripsi Bagian Pulmo-
nologi Fakultas Kedoktcran Univesitas Indonesia Jakarta, 1988.
27. Peters SM. Silicosis. In: Merchant JA, Bochlecke BA, Taylor G,
Pickett-Hamer M (edt). Occupational respiratory diseases, Washington
DC: US Department of Health and Human Service, 1986: 219-37.
28. Mariana Kasmara. Penyakit pare dan gangguan faal paru pada tenaga
kerja di pabrik semen. Teals Megistersains Hiperkes, Fakultas Kedok-
teran Universitas Indonesia Jakarta, 1988.
29. Meily Widjaja. Penilaian dampak debu di lingksmgan kerja pabrik
semen terhadap pans pekerja. Tesis Fakultas Pasca Sarjana Univetsitas
Indonesia, Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja Jakarta,
1992.
30. Seaton A. Asbestos-related diseases. In: Morgan WKC, Seaton A (eds).
Occupational lung diseases. Philadelphia; WE Saunders Co 1984; 323-
76.
31. Dement JM, Merchant IA, Green FHY. Asbestosis. In: Merchant JA,
Bochieck BA, Taylor G, Picket-Hamer M (edt). Occupational respi-
ratory diseases, Washington DC, US Dpartment of Health and Human
Service, 1986; 287-327.
32. Morgan WKC. Industrial bronchitis and other non-specific conditions
affected the airways. In: Morgan WKC, Seaton A (edt). Occupational lung
diseases, Philadelphia: WE Saunders Co 1984; 521-40.
33. Kilbun KH. Chronic bronchitis and emphysema. In: Merchant JA,
Boehieck BA. Taylor G, Picken-Harner M (eds). Occupational respi-
ratosy diseases, US Department of Health and Human Service,
Washington DC, 1986; 503-29.
34. Musawaris. Kekerapan bronkitis kronik pads penduduk yang ber-
domisili di sekitar pabrik semen. Skripsi Bagian Pulmonologi Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, 1985.
35. Seaton A. Occupational asthma. In: Morgan WKC, Seaton A (eds).
Occupational lung diseases, Philadelphia: WE Saunders Co 1984; 498-
520.
36. Salvaggio JE, Taylor G, Weil H. occupational asthma and rhiniti. In:
Merchant JA, Boehleck BA, Taylor C, Pickeit-Hamer M (eds). Occu-
pational respiratory diseases. US Department of Health and Human
Services, Washington DC, 1986; 461-77.
37. Seaton A. Occupational pulmonary neoplasm. In: Morgan WKC,
Seaton A (eds). Occupational lung diseases, Philadelphia: WB Saunders
Co 1984; 659-75.
38. Lemen RA. Occupational induced lung cancer epidemiology. In:
Merchant JA, Boehleck BA, Taylor G, Pickett-Hamer M (eds). Occu-
pational respiratory diseases, US Department ci Health and Human
Services, Washington DC, 1986; 533, 629-56.
Everybody is wise after the event
Cermin Dunia Kedokteran No. 115, 1997 51