KESEHATAN
MASYARAKAT
G I Z I
GENETIKA
ABSTRAK-ABSTRAK
HEPATITIS B SEBAGAI S.T.D. (sexually transmitted disease) BARU.
Hasil penyelidikan Papaevangelou dkk. menyokong hipotesa bahwa hepatitis-B
dapat ditularkan melalui hubungan kelamin. Ia mendapatkan antigen pada 4,4%
prostitut dan 3,4% wanita hamil sebagai kontrol. Meskipun secara statistik perbedaan
ini tidak bermakna, dari 293 prostitut dan 379 wanita hamil tadi ditemukan antibody
terhadap virus pada 56,7% prostitut dan 24,5% kontrol. Persentasi akan naik sesuai
dengan makin lamanya praktek prostitusi dari yang bersangkutan.
M.D. Pacific 7 (9) : 14, 1974.
SDMD.
HARAPAN PASIEN PADA DOKTERNYA DALAM PENGOBATAN OBESITAS
Pandangan seorang dokter sering berbeda dari pasiennya. Untuk mengetahui
pandangan pasien terhadap sikap dokter dan cara pengobatan obesitas yang pernah
mereka alami, telah dilakukan suatu survey. 2333 orang pasien ikut memberi jawaban.
Umumnya pasien pasien cukup puas dengan cara pengobatan dan sikap dokternya.
Pasien laki-laki lebih mudah puas dari pada wanita. Pasien-pasien cenderung untuk
tidak puas bila :
-- tidak diberi diet khusus oleh dokternya, tetapi hanya dianjurkan untuk me-
ngurangi makanan secara umum.
diberi nasehat agar tidak mengkhawatirkan obesitasnya. Bagi pasien, obesitasnya
merupakan problema yang riel. Usaha untuk memperkecil persoalan ini me-
nunjukkan bahwa sang dokter kurang memahami kehidupan perasaan pasiennya.
--. tidak diberi pil untuk menguruskan badan.
tidak diminta datang secara teratur untuk menilai kemajuan yang didapat.
Perjuangan untuk mengurangi berat badan akan memakan waktu yang lama.
Rupanya dorongan secara berkala teratur dari seorang dokter sangat dibutuhkan
untuk membangun semangat pasien.
THE PRACTITIONER 211 : 653--658, 1973.
E.N.
PERKAWINAN ANTAR SAUDARA KEMBAR
Meskipun beberapa kelompok orang memperbolehkan adanya perkawinan antar
keluarga, namun ajaran-ajaran agama serta banyak undang-undang perkawinan dari
berbagai negara melarang adanya perkawinan antar keluarga. Salah satu kejelekan per-
kawinan antar keluarga (consanguineous marriage) ialah akan memberi peluang untuk
bertemunya faktor genetik resesip yang abnormal, membentuk allel homozygote,
yang mengakibatkan munculnya fenotip abnormal.
Dilaporkan satu kasus tentang perkawinan saudara kembar yang menurunkan 3 X
anak kembar dari 5 X kehamilan.
Perkawinan seperti diatas dapat terjadi oleh karena kedua anak kembar ini sejak lahir
dipisahkan jauh jauh dan dianggap sebagai anak orang-orang lain. Menurut adat orang
tua mereka: "orang kembar lelaki dan perempuan dihari kemudian harus menjadi
jodohnya".
Kasus ini terjadi pada tiga generasi sebelum generasi sekarang.
Tidak dilaporkan tentang muncul atau tidaknya fenotip abnormal pada keturunan
mereka.
E.N.
KUNTJORO SUHADI dan I.G.B. AMITABA: Majalah Kedokteran Surabaya XI (1): 26 -- 28, 1974.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
3 3
KELUARGA
BERENCANA
DERMATOLOGI
PEDIATRI
PIL PENCEGAH KESUBURAN PADA PRIA YANG MANIS RASANYA ??
Dalam usaha mendapatkan pil untuk membuat seorang pria mandul sementara
waktu, Dr. R.L.
WHISTLER,
seorang profesor ilmu biokimia dari universitas Purdue,
A.S, melaporkan sbb :
5 thio-dextro-glukosa, suatu zat yang mirip sekali dengan glukosa dan juga manis
rasanya, besar kemungkinan dapat mengatur kesuburan pada pria tanpa penggunaan
hormon-hormon atau lain-lain zat yang toksik. 5 thio-dextro-glukosa menghambat
masuknya dextro-glukosa (=bentuk glukosa yang normal dan yang terdapat dalam alam/
tubuh) kedalam sel, padahal testis adalah organ yang membutuhkan glukosa dalam
jumlah besar dan cepat rusak bila tak memperoleh zat ini.
Pada tikus-tikus, dosis sebesar 33 mg/kg berat badan sudah menyebabkan perubahan-
perubahan histblogik pada testis, disertai pengurangan berat testis.
5 thio-dextro-glukosa selain dapat diberikan peroral, juga efektip secara suntikan I.V.
Tidak ditemukan pengurangan libido pada binatang-binatang percobaan dan pada
semua tikus jantan kesuburan pulih kembali dalam 4 minggu setelah pemberian obat
ini dihentikan.
Medical World News,
Oktober 1974, hal. 4.
OLH
CARA MENGHILANGKAN TATUAGE.
Tehnik baru yang sederhana untuk menghilangkan tatuage telah dikemukakan
oleh Manchester dari San Diego -- California.
Tatuage mula-mula dicukur kemudian digosok dengan spons yang telah dicelup pada
garam. Abrasi diteruskan selama 30 -- 40 menit, hingga kulit tampak seperti jaringan
granulasi, Kemudian ditutup dengan salep antibiotik dan diperban selama 3 hari.
Daerah bergaram ini akan terlepas dalam 7 -- I2 hari. Kira-kira separuh tinta tatuage
akan ikut terlepas, dan sebagian tinta lagi akan ikut keluar dalam eksudat selama luka
menyembuh. Bekasnya tetap tampak eritematus selama kurang lebih 6 minggu.
Kalau perlu prosedur ini diulangi sesudah 6 -- 8 minggu.
MANCHESTER,' G.H.: California Med 118 : 10,
1973.
SDMD
PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN PENYAKIT DEFISIENSI
VITAMIN A DENGAN VITAMIN A DOSIS BESAR PERORAL.
Angka kebutaan (rate of blindness) untuk Indonesia cukup tinggi. Di Jawa Timur
angka ini dilaporkan sebesar 250/100.000 penduduk, dan pada anak-anak sebagian
besar disebabkan oleh keratomalacia.
Mengingat pentingnya peranan vitamin A dalam kebutaan ini, telah dilakukan suatu
penyelidikan mengenai pencegahan dan pengobatan defisiensi vitamin A di Cibatok,
Bogor. Orang-orang percobaan ialah anak-anak prasekolah (berumur 1 -- 6 tahun)
yang terdiri dari penderita-penderita defisiensi vitamin A dan anak-anak normal
sebagai kontrol. Vitamin A dalam dosis 300.000 IU bersama-sama vitamin E
50 IU
diberikan satu kali secara oral dalam bentuk emulsi.
6 bulan kemudian hasil percobaan dinilai. Ternyata 90% penderita penyakit
defisiensi vitamin A yang mendapat pengobatan menjadi sembuh, sedangkan 88,9%
penderita yang mendapat plasebo masih tetap menderita defisiensi vitamin A.
Pemberian vitamin A dengan cara tersebut juga dapat mencegah timbulnya defisiensi
vitamin A dengan hasil yang memuaskan (I00%).
Disimpulkan bahwa pemberian kombinasi vitamin A dan vitamin E dalam dosis
besar, secara oral, dapat mencegah dan mengobati penyakit defisiensi vitamin A pada
anak-anak prasekolah dalam waktu 6 bulan.
E.N.
DARWIN KARYADI
et al :
Bulletin Penelitian Kesehatan
II (l) : 33-38, 1974.
3 4
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
FAAL
AKUPUNKTUR
TOKSIKOLOGI
JONGKOK ATAU DUDUK ?
Sikap defekasi, yaitu jongkok atau duduk dikursi toilet, tergantung dari banyak
faktor: adat kebiasaan setempat, tingkat hidup masyarakat, pilihan pribadi dsb. Cara
mana yang lebih baik untuk kesehatan masih sukar untuk ditentukan karena sedikitnya
penyelidikan dilapangan ini. Akan tetapi, secara teoritis, ada beberapa kekurangan
sikap duduk dibandingkan dengan sikap jongkok:
1 Sewaktu defekasi, terjadilah tindakan Valsava. Kenaikan tekanan dalam abdomen
dan thorak membawa pengaruh yang besar pada sirkulasi darah. Aliran darah
kembali kejantung (venous return) dihambat dengan akibat penurunan 'cardiac
output'. Dengan duduk dikursi toilet, hambatan ini makin diperbesar karena tekanan
kursi pada paha juga menyebabkan tekanan vena-vena daerah paha.
Disamping itu gaya gravitasi/gaya hidrostatik yang bekerja terhadap cairan darah
juga lebih besar (gaya hidrostatik tergantung dari tinggi kolom cairan).
2 Sudut antara sigmoid, rectum dan anus mempengaruhi kelancaran proses defekasi.
Dalam sikap duduk, sudut tersebut kurang menguntungkan dibandingkan dengan
sikap jongkok.
Pengaruh kedua faktor diatas mungkin kurang dirasakan oleh orang-orang normal,
akan tetapi untuk orang yang lemah jantungnya atau untuk orang-orang tua mungkin
lain akibatnya. Penyelidikan lebih lanjut masih harus dilakukan. (Jongkok terlalu lama
dapat menyebabkan kesemutan pada kaki -- Red.).
E.N.
Editorial :
Lancet ii :
18-19, 1975.
PENGOBATAN ALOPECIA / KEPALA BOTAK
Kobos R. dari Warsawa dalam penyelidikannya terhadap 713 kasus berambut tipis
atau botak yang progresip, telah mengambil kesimpulan bahwa akupunktur mempunyai
efek langsung terhadap pertumbuhan rambut, dan bila dikerjakan lebih awal akan
menghentikan rontoknya rambut, tumbuhnya kembali rambut dan akan menyingkir-
kan interferensi chirurgis.
SDMD .
KOBOS,
R.: Am J Acupuncture
1 :
23,
1973.
NORIT UNTUK PENGOBATAN KERACUNAN.
Norit (arang aktip = activated charcoal) adalah obat yang memang berbentuk
kurang menarik (=hitam), akan tetapi merupakan pemunah racun yang ampuh dan
aman untuk berbagai macam keracunan.
Untuk obat-obat seperti aspirin, luminal, diphenylhydantoin dan amphetamine
penyerapan oleh norit berkisar antara 60 -- 20 %. Bila diberikan dalam waktu 30 menit
setelah memakan 'racun' maka norit efektip sekali, akan tetapi masih juga berkhasiat
bila diberikan setelah 1 jam atau lebih.
Dianjurkan untuk memberi norit dalam bentuk bubuk, dicampur sedikit air.
Penambahan suatu zat yang sedap rasanya akan mempermudah peminuman obat ini
untuk anak-anak.
Dosis optimal paling sedikit 8 x jumlah 'racun' yang ditelan.
OLH.
CORBY D. and DECKER W.F.
Pediatrics 54 : 324 -- 328,
1974.
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.
3 7
BIOLOGI
GASTRO -
ENTEROLOGI
PENGARUH DEMAM TERHADAP DAYA TAHAN TUBUH
Ada suatu hipotesa yang menyatakan bahwa DEMAM merupakan reaksi yang
berguna dalam menghadapi infeksi bakteri. Untuk menguji kebenarannya, telah di-
lakukan suatu percobaan pada sejenis kadal (Dipsosaurus dorsalis).
Diambil kadal sebagai binatang percobaan karena ia adalah binatang yang 'berdarah
dingin' sehingga suhu tubuhnya tergantung dari suhu sekitarnya. Jadi suhu tubuhnya
dapat dikontrol dalam laboratorium. Dalam keadaan normal, suhu kadal dapat berubah-
ubah sebesar 8°C tanpa pengaruh yang berarti bagi kadal tersebut. Sebagai bakterinya,
diambil Aeromonas hydrophylia yang patogen bagi kadal tersebut.
141 ekor kadal disuntik dengan suspensi A. hydrophylia yang masih virulen. Bebe-
rapa kadal dipertahankan suhunya pada 34°C, sebagian lain pada suhu 36°, 38°, 40°
dan 42°C. Ternyata kadal yang suhunya 42°C menunjukkan persentasi hidup yang
terbanyak. Makin rendah suhunya, makin banyak yang mati. Kadal yang suhunya
34°C mati semua dalam beberapa hari. Karena growth-rate dari A: hydrophylia pada
34° -- 42°C kurang lebih konstan, kematian kadal yang suhunya rendah hanya
dapat diterangkan dengan menurunnya daya-tahan tubuh terhadap serangan bakteri
tersebut.
Hasil percobaan ini menyokong hipotesa diatas, yaitu: suhu tubuh ikut menentukan
daya-tahan terhadap serangan bakteri.
KLUGER M.J. dkk.
Science
188 : 166, 1975.
Catatan :
mungkin hipotesa ini dapat menerangkan
E.N.
mengapa sehabis kehujanan, atau sehabis bepergian
malam hari, orang sering jatuh sakit.
TERAPI ORAL UNTUK GASTROENTERITIS AKUT
Didaerah pedesaan cairan infus tidak selalu tersedia. Oleh sebab itu dalam keadaan
darurat dianjurkan untuk mencoba mengobati penderita yang mengalami dehidrasi-
asidosis dengan pemberian cairan, glukosa dan elektrolit secara oral. Pemberian cairan
secara oral ini memang akan menambah volume faeces dengan kurang lebih sepertiga-
nya, tetapi harus diingat bahwa yang penting adalah "net fluid balance
"
. Nyatanya,
dengan terapi oral, balance ini hampir selalu positip, jumlah cairan yang masuk lebih
banyak dari pada yang keluar. Salah satu faktor yang menguntungkan ialah adanya
kerja-sama antara glukosa dan elektrolit, yaitu glukosa mempercepat transport dan
absorpsi elektrolit + air dalam usus halus.
Untuk praktisnya, telah disusun suatu jenis susunan cairan yang dapat dipergunakan
oleh semua penderita, dewasa, anak-anak maupun bayi. Cairan
"
ideal
"
tersebut dalam
tiap-tiap liter mengandung kurang lebih 3,5 gr NaCI, 2,5 gr Na-bikarbonat, 1,5 gr
KC1 dan 20
gr glukosa.
Semua penderita yang cukup kuat untuk minum segera diberi cairan ini. Hanya pen-
derita yang dalam shock atau terlalu lemah mulai diobati dengan diinfus 2 -- 4 jam,
setelah itu dipindah keterapi oral. Penderita yang muntah muntah tetap diberi terapi
oral, kecuali yang shock atau terlalu lemah.
Pada prinsipnya penderita bebas meminum cairan sepuasnya. Biasanya penderita akan
meminum 750 -- 1000 ml cairan/jam pada jam jam pertama. Pada anak anak, dengan
menyuapkan I senduk teh cairan setiap menit kita telah memberi 300 ml cairan/jam.
Hasil-hasil yang dilaporkan sangat memuaskan. Salah satu percobaan dilakukan di-
tahun 197I pada pengungsi pengungsi Pakistan Timur. Dari 4000 orang penderita
kolera hanya 3% yang meninggal (separuh dari kematian inipun terjadi sebelum
sempat diinfus).
LANCET 1 : 79-80, 1975
E.N.
3 8
Cermin Dunia Kedokteran No. 5, 1975.