HASIL PENELITIAN
Status Antibodi Anak Sekolah Dasar
Sebelum dan Sesudah Program
Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS)
di Yogyakarta
Gendrowahyuhono
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
ABSTRAK
Penelitian status antibodi anak SD telah dilakukan di Yogyakarta pada tahun 2000.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui status antibodi anak setelah mendapat
vaksin polio dari program BIAS, sehingga dapat ditentukan apakah pemberian BIAS
satu kali sudah cukup dapat memutus rantai penularan virus polio pada anak sekolah
dasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status antibodi anak terhadap ketiga tipe
virus polio masih rendah yaitu sebesar 79,5%. Akan tetapi status antibodi terhadap
tipe-1 dan tipe-2 sudah cukup tinggi yaitu masing-masing 96 % dan 99 %; tidak ada
yang tidak mempunyai antibodi terhadap virus polio (tripel negatip = 0).
Dapat disimpulkan bahwa setelah imunisasi polio melalui program BIAS satu kali
ternyata status antibodi anak masih kurang; anak yang mempunyai antibodi terhadap
ketiga tipe virus polio hanya 79,5%. Untuk itu perlu dilakukan BIAS II dengan sasaran
adalah anak SLTP karena anak SD yang masuk dalam penelitian ini sekarang sudah
masuk ke SLTP sedangkan anak SD yang sekarang (tidak termasuk dalam penelitian)
adalah anak SD yang telah mendapat imunisasi dari program PIN tahun 1995-1997.
PENDAHULUAN
Dalam rangka mencapai bebas polio tahun 2008, maka
pemerintah Indonesia melalui Departemen Kesehatan telah
mencanangkan program eradikasi polio (ERAPO) dengan
strategi pemberian imunisasi rutin pada bayi, pekan imunisasi
nasional (PIN), Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) dan
kegiatan surveilans AFP (acute flaccid paralysis) pada anak
umur 0-15 tahun.
PIN adalah pemberian imunisasi polio secara nasional pada
anak 0-5 tahun tanpa melihat status imunisasi anak
sebelumnya. PIN tidak memberikan imunisasi polio pada anak
6-15 tahun, padahal masih dapat terserang polio.
Penelitian menunjukkan bahwa status antibodi anak SD usia
6-12 tahun di beberapa kota di Indonesia sangat rendah
(1)
.
Sekitar 26 40% anak SD tidak mempunyai antibodi terhadap
ketiga tipe virus polio. Ini berarti bahwa 26-40% anak yang
diteliti tidak terlindungi dari infeksi tiga tipe virus polio liar.
Pengalaman di Albania menunjukkan bahwa pada 1996 telah
terjadi outbreak polio pada anak dengan hasil survai serologis
sebelum wabah menunjukkan bahwa 17-20% anak tidak
mempunyai antibodi terhadap ketiga tipe virus polio
(2)
. Virus
polio penyebab wabah adalah virus impor dari tetangganya
(Norwegia) dan jenis strainnya sama dengan virus polio di
India. Meskipun dari tahun 1996 sampai sekarang isolasi virus
polio dari kasus AFP di Indonesia tidak menemukan virus polio
liar, dengan terbukanya Indonesia untuk perdagangan inter-
nasional dan pariwisata, besar kemungkinan virus polio liar
masuk dari negara tetangga seperti India dan Bangladesh yang
masih mempunyai banyak virus polio liar yang beredar di
masyarakat. Berdasarkan hal tersebut pemerintah lewat
Dir.Jen.P2M&PLP telah membuat strategi baru dengan
memasukkan vaksin polio dalam program BIAS (bulan
imunisasi anak sekolah dasar) dengan vaksin DPT; tujuannya
untuk memutus rantai penularan penyakit polio melalui anak
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
46
sekolah dasar. Masalahnya sekarang adalah bagaimana respon
imun anak sekolah dasar tersebut; respon imun anak SD
mungkin berbeda dengan anak balita. Pada PIN, respon imun
balita cukup baik. Ini dibuktikan dengan penelitian di Papua
dan Kotawaringin (1998), yang menunjukkan bahwa status
antibodi anak terhadap ketiga tipe virus polio setelah PIN II
cukup tinggi yaitu antara 99 % sampai 100%
(3)
. Oleh karena itu
perlu penelitian serologis untuk mengetahui status antibodi
anak SD setelah mendapat imunisasi polio dari program BIAS.
Penelitian ini berupa cross sectional study dengan sampel anak
SD umur 8-12 tahun (kelas III s/d VI). Lokasi penelitian di
daerah yang sudah diketahui status antibodi anak sebelum
program BIAS polio yaitu di Yogya.
(1).
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
TUJUAN
Tujuan umum
Menunjang program imunisasi untuk menentukan berapa kali
program BIAS polio diperlukan untuk menghilangkan
transmisi virus polio pada anak-anak SD.
Tujuan kusus
1. Mengetahui serokonversi antibodi anak SD; adakah
peningkatan bermakna antara sebelum dan sesudah
pemberian vaksin polio pada program BIAS polio.
2. Mengetahui respon imun anak 8-12 tahun terhadap
pemberian vaksin polio dua dosis.
3. Mengetahui status antibodi anak SD setelah pemberian
vaksin polio pada program BIAS polio.
METODOLOGI.
1. Lokasi penelitian : DI Yogyakarta. Dipilih karena sudah
ada data dasar yang dapat mendukung penelitian.
2. Desain penelitian : cross sectional study.
3. Sampel penelitian : anak SD kelas III s/d kelas VI (umur 8-
12 tahun) sehat dengan status antibodi rendah sesuai hasil
penelitian Gendro dkk
.(1)
tinggal di daerah perkotaan dan
pedesaan. Anak-anak diperiksa status antibodinya setelah
mendapat vaksin polio dari program BIAS polio. Jumlah
sampel sebanyak 200 anak dari dua lokasi yaitu di daerah
pedesaan 100 anak dan daerah perkotaan 100 anak.
4. Cara pemeriksaan : spesimen berupa sera yang dipisahkan
dari gumpalan darah dengan cara sentrifugasi. Darah
diambil dari vena cubiti anak sebanyak 2 ml menggunakan
syringe + needle. Serum diperiksa dengan uji netralisasi
terhadap virus polio Sabin tipe-1, tipe-2 dan tipe-3,
menggunakan cell L20B yang ditumbuhkan dalam
microplate. Pemeriksaan cytopathic effect (CPE) pada cell
culture dilakukan setiap hari sampai hari ke-6 untuk
menentukan adanya antibodi dalam serum yang diperiksa.
Semua pemeriksaan uji netralisasi dilakukan di
laboratorium polio Puslitbang Pemberantasan Penyakit,
Jakarta yang sudah mendapat akreditasi dari WHO.
5. Analisis data : hasil uji netralisasi semua serum anak
dianalisis berdasarkan lokasi tempat tinggal anak. Akan
dibandingkan apakah ada peningkatan titer antibodi yang
bermakna antara anak yang belum mendapat vaksin polio
dengan anak yang sudah mendapat vaksin dari program
BIAS polio.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil pemeriksaan serologi anak SD di Yogyakarta dapat
dilihat pada Tabel 1, 2 dan 3.
Tabel 1. Status antibodi anak SD di Bantul (pedesaan) sebelum dan
setelah mendapat opv dari program BIAS
Lokasi
SD N P1 P2 P3 P123 Neg.
Sebelum
BIAS
100 36 65 35 20
31
Setelah
BIAS
100 94 100 76 72
0
Tabel 1 menunjukkan bahwa status antibodi anak SD di
Kab. Bantul (pedesaan) sebelum BIAS sangat rendah - masih
terdapat 31% anak yang tidak mempunyai antibodi sama sekali
terhadap ketiga tipe virus polio (tripel negatip). Ini berarti
masih banyak yang rentan terhadap infeksi virus polio liar.
Antibodi terhadap virus polio tipe-2 lebih tinggi daripada
terhadap tipe lain; ini merupakan hasil imunisasi rutin di mana
respon imun anak terhadap virus polio tipe-2 selalu lebih baik
dari tipe lain. Setelah anak mendapat imunisasi dari program
BIAS ternyata respon imunnya cukup baik; terbukti dari
banyaknya anak dengan antibodi yang cukup tinggi terutama
terhadap virus polio tipe-1 dan tipe-2. Kenaikan proporsi anak
yang mempunyai antibodi terhadap masing-masing tipe virus
polio sesudah mendapat imunisasi dari BIAS dibandingkan
dengan sebelum program BIAS ternyata cukup bermakna.
Meskipun demikian prosentase anak yang mempunyai antibodi
terhadap virus polio tipe-3 dan terhadap ketiga tipe virus polio
(P123) masih rendah, kurang dari 80%.
Tabel 2. Status antibodi anak SD di Kodya Yogya (perkotaan) sebelum
dan setelah mendapat opv dari program BIAS.
Lokasi
SD N P1 P2 P3 P123 Neg.
Sebelum
BIAS
100 47 68 45 28 25
Setelah
BIAS
100 96 99 89 87
0
Tabel 2 menunjukkan status antibodi anak di perkotaan
Yogyakarta sebelum BIAS tidak berbeda dengan status
antibodi anak yang tinggal di pedesaan. Anak yang mempunyai
antibodi terhadap virus polio tipe-2 juga lebih banyak dari tipe-
1 dan tipe-3; prosentase anak yang tidak mempunyai antibodi
sama sekali terhadap ketiga tipe virus polio (tripel negatip) di
daerah perkotaan lebih rendah dibandingkan dengan anak yang
tinggal di pedesaan, masing-masing 25 % dan 31 %. Status
antibodi anak yang tinggal di daerah perkotaan setelah BIAS
menunjukkan peningkatan yang cukup bermakna, seperti juga
status antibodi anak yang tinggal di pedesaan. Di perkotaan
prosentase anak yang mempunyai antibodi terhadap virus polio
tipe-3 dan ketiga tipe virus polio (P123) sudah cukup tinggi,
lebih dari 80 %. Yang cukup menggembirakan dari hasil
pemberian OPV pada program BIAS adalah, baik di perkotaan
47
ataupun di pedesaan, tidak ada lagi anak yang tidak mempunyai
antibodi sama sekali terhadap ketiga tipe virus polio (tripel
negatip nol); semua anak sudah mempunyai antibodi terhadap
salah satu atau dua atau bahkan ketiga tipe virus polio.
Tabel 3. Status antibodi anak SD di Kodya Yogya dan Kab. Bantul
sebelum dan setelah mendapat opv dari program BIAS
Lokasi SD
N
P1
P2
P3
P123
Neg.
Sebelum
BIAS
200
42
67
40
24
28
Setelah
BIAS
200
95
99,5
82,5
79,5
0
Tabel 3 menunjukkan gabungan status antibodi anak di
perkotaan dan pedesaan sebelum dan sesudah BIAS.
Secara umum status antibodi anak setelah mendapat vaksin
polio oral dari program BIAS sudah cukup tinggi kecuali status
antibodi terhadap ketiga tipe virus polio (P123) masih kurang
dari 80 %. Meskipun demikian status antibodi terhadap virus
polio tipe-1 dan tipe-2 sudah cukup tinggi yaitu > 95 %.
Status antibodi anak terhadap virus polio tipe-3 masih
rendah bila dibandingkan dengan tipe-1 dan tipe-2. Sero-
konversi antibodi anak terhadap virus polio tipe-3 memang
selalu lebih rendah dari tipe lain; hal ini juga terjadi di daerah -
daerah lain di Indonesia
(1,3)
.
Demikian juga dengan status
antibodi anak terhadap virus polio tipe-2 selalu lebih tinggi dari
tipe lain
(1,3)
. Sehingga dapat dikatakan bahwa serokonversi
antibodi anak terhadap masing-masing virus berbeda ter-
gantung dari tipe virusnya. Serokonversi antibodi terhadap tipe-
2 ternyata paling baik disusul dengan tipe-1 dan selanjutnya
tipe-3.
Ada peningkatan bermakna antara status antibodi anak
setelah program BIAS dibandingkan dengan sebelum program
BIAS.Namun perlu dicatat bahwa dalam penelitian ini anak-
anak yang diperiksa status antibodinya sebelum BIAS adalah
anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin polio pada program
PIN tahun 1995-1997. Sedangkan anak-anak SD yang diambil
darahnya setelah BIAS adalah anak yang selain mendapat
vaksin polio dari program BIAS mereka juga sudah mendapat
vaksin polio dari program PIN sehingga status antibodi mereka
sudah lebih baik.
Yang menjadi masalah adalah bahwa anak-anak yang
diteliti, mungkin mewakili anak-anak lain seumur, yang pada
tahun 2001 sudah di sekolah lanjutan pertama (SLTP) padahal
pada anak sekolah lanjutan pertama tidak ada program
vaksinasi polio massal seperti PIN ataupun BIAS. Jadi
seharusnya mereka yang ada di sekolah lanjutan pertama
mendapat vaksin polio untuk meningkatkan status antibodinya
terhadap ketiga tipe virus polio; kendalanya adalah biaya dan
tenaga.
Anak SLTP diharapkan mendapat vaksinasi alami dari
saudaranya serumah yang mendapat vaksinasi polio rutin. Atau
dengan pertimbangan bahwa dari tahun 1995 sampai tahun
2000 tidak diketemukan lagi virus polio liar di Indonesia, maka
mereka tidak perlu dilindungi terhadap infeksi virus polio liar.
Salah satu kelemahan hasil penelitian ini adalah bahwa
pemeriksaan serologi yang dilakukan tidak dapat mendeteksi
titer antibodi yang sangat rendah sehingga status antibodi anak
yang terpapar dalam laporan ini adalah anak yang mempunyai
titer antibodi yang tinggi yaitu di atas 4. Anak anak dengan
antibodi sangat rendah diharapkan dapat meningkat jika ada
infeksi virus polio dari strain vaksin. Akan tetapi jumlah anak
yang titer antibodinya sangat rendah tidak dapat diketahui.
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa status
antibodi anak terhadap ketiga tipe virus polio setelah program
BIAS masih rendah, kurang dari 80%. Anak anak tersebut
sekarang ini sudah masuk SLTP. Disarankan untuk memikirkan
kembali perlunya BIAS pada anak sekolah lanjutan tingkat
pertama sehingga mereka juga terlindungi dari infeksi virus
polio liar yang mungkin masuk ke Indonesia dari negara
tetangga, terutama India yang sampai sekarang ini masih
mempunyai transmisi virus polio liar di masyarakat
(4)
.
KESIMPULAN DAN SARAN.
Status antibodi anak terhadap virus polio tipe-3 dan
terhadap ketiga tipe virus masih kurang baik yaitu masing
masing 82,5 % dan 79,5 % saja.
Perlu dipikirkan apakah anak SLTP perlu diberi vaksinasi
polio seperti BIAS, karena anak-anak tersebut pada tahun 2001
sudah masuk ke SLTP.
UCAPAN TERIMAKASIH
Kepada Yth.
1.
Kepala Puslitbang Pemberantasan Penyakit, Jakarta.
2.
Kepala Dinas Kesehatan tk.I DIY di Yogya
3.
Kepala Dinas Kesehatan Kodya Yogya dan Kab.Bantul.
4.
Staf Dinas Kesehatan terutama staf Subdin. Imunisasi di Dinas Tingkat I
dan Tk.II di Yogya dan Bantul.
5.
Kepala dan Staf Balai Laboratorium Kesehatan di Yogya.
penulis mengucapkan banyak terimaksih atas segala bantuan yang diberikan
kepada tim peneliti sehingga penelitian ini dapat berjalan dengan baik.
KEPUSTAKAAN
1. Gendrowahyuhono
dkk.
Laporan penelitian serologis polio pada anak
sekolah dasar kelas I s/d kelas VI di beberapa kota di Indonesia. Pusat
Penelitian Penyakit Menular, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan. 1998.
2.
Provost DR et al. Outbreak paralytic poliomyelitis in Albania, 1996. High
attack rate among adult and apparent interruption of transmission
following nationwide mass vaccination. Clin. Infect. Dis. 1998; 26: 419-
25.
3.
Gendrowahyuhono. Status kekebalan anak sekolah dasar terhadap virus
polio di Medan dan Yogyakarta. Maj. Kes. Masy. Indon.. 2000;
XXVII(9):521-24.
4. WHO. Poliomyelitis Surveilance : Weekly report for week 19, 2004.
SEAR Polio Bulletin. WHO Regional Office for South-East Asia. May
10, 2004.
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
48
Document Outline