HASIL PENELITIAN
Kecenderungan Kejadian Luar Biasa
Chikungunya di Indonesia
Tahun 2001 - 2003
Bambang Heriyanto, Enny Muchlastriningsih, Sri Susilowati, Diana Siti Hutauruk
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Seperti telah kita ketahui bersama penyakit Chikungunya
merupakan penyakit reemerging yaitu penyakit yang keberada-
annya sudah ada sejak lama tetapi sekarang muncul kembali.
Bahkan sejak tahun 1779 di Batavia (Jakarta), telah dilaporkan
penyakit yang memiliki gejala mirip chikungunya yang dikenal
dengan nama penyakit knuckle fever, knee trouble di Kairo
(1779), scarletina rhematica di Calcuta, Madras, dan Gujarat
(1824).
Penyakit chikungunya dilaporkan telah berjangkit di
beberapa negara Afrika misalnya Angola, Botswana, Nigeria,
Zimbabwe, dan negara lainnya, dan virusnya diisolasi pertama
kali pada tahun 1952 di Tanganyika .
Di Indonesia sendiri Kejadian Luar Biasa (KLB)
Chikungunya dilaporkan pertama kali pada tahun 1979 di
Bengkulu, dan sejak itu menyebar ke seluruh daerah baik di
Sumatera (Jambi, 1982) maupun di luar Sumatera yaitu pada
tahun 1983 di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan,
Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan. Pada tahun 1984
terjadi KLB di Nusa Tenggara Timur dan Timor Timur,
sedangkan pada tahun 1985 di Maluku, Sulawesi Utara dan
Irian Jaya.
Setelah hampir 20 tahun tidak ada kejadian maka mulai
tahun 2001 mulai dilaporkan adanya KLB chikungunya lagi di
Indonesia yaitu di Aceh, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat,
sedangkan pada tahun 2002 terjadi KLB di Jawa Tengah,
Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan, dan Jawa Barat.
Gejala utama penyakit ini ialah nyeri sendi, demam, sakit
kepala/ pusing, bintik-bintik merah di kulit tetapi tidak terasa
gatal. Gejala ini dirasakan oleh penderita sekitar 1-10 hari
lamanya.
BAHAN DAN CARA PENELITIAN
Spesimen penderita chikungunya diperoleh dari berbagai
daerah dengan kejadian luar biasa (KLB) chikungunya di
Indonesia dalam kurun waktu tahun 2001 2003. Spesimen
berupa serum penderita yaitu serum akut saja. Serum dikirim
ke Laboratorium Puslitbang Pemberantasan Penyakit dalam
keadaan dingin disimpan dalam Cold Box disertai data klinis
penderita. Golongan umur penderita sangat beragam dari anak-
anak hingga orang tua.
Dengan bantuan NAMRU-2 dilakukan pemeriksaan serum
penderita menggunakan metoda ELISA, isolasi virus, dan RT-
PCR.
HASIL PENELITIAN
Jumlah semua spesimen sebanyak 389 dengan perincian
pada tahun 2001 sebanyak 18 spesimen, tahun 2002 sebanyak
89 spesimen, dan tahun 2003 sebanyak 282 spesimen.
Secara keseluruhan spesimen berasal dari 22 kabupaten/
kota di seluruh Indonesia.
Tabel 1 memperlihatkan daerah yang mengirim spesimen
dan jumlah spesimennya, 3 daerah paling banyak mengirim
spesimen yaitu Bekasi =51 spesimen (13,1%), DKI Jakarta =
42 spesimen (10,8%), dan Klaten = 38 spesimen (9,8%),
sedangkan 3 daerah yang paling sedikit mengirimkan spesimen
yaitu Baturaja = 2 spesimen (0,5%), Karawang = 2 spesimen
(0,5%), dan Metro = 3 spesimen (0,8%). Keadaan ini tidak
selalu menggambarkan besarnya KLB karena bisa saja sebetul-
nya kasusnya banyak tetapi karena keterbatasan (dana, tenaga,
maupun waktu) maka spesimen yang dikirim terbatas.
Terlihat pada Grafik 1 kecenderungan yang meningkat
pada spesimen penderita chikungunya maupun daerah yang
terjangkit meskipun jumlah daerah terjangkit kenaikannya tidak
setajam kenaikan jumlah spesimen. Tidak semua daerah
merupakan daerah yang baru terkena KLB karena seperti
kabupaten Klaten selama tahun 2001-2003 telah terjadi dua kali
serangan yaitu pada tahun 2002 dan tahun 2003.
Bila pada tahun 2001 hanya 3 kabupaten dengan jumlah
spesimen 18 maka pada tahun 2002 bertambah menjadi 6
kabupaten dengan jumlah spesimen 89, dan pada tahun 2003
meningkat lagi menjadi 14 kabupaten dengan jumlah spesimen
282 , hal ini dapat dilihat dalam 2 sisi yaitu kesadaran daerah
yang meningkat dalam hal pencarian kasus chikungunya yang
diikuti dengan pengiriman spesimen dan pelaporan atau
memang terjadi peningkatan kasus chikungunya di lapangan
yang harus diwaspadai dan untuk itu perlu diambil langkah-
langkah yang tepat agar penyakit ini tidak makin meluas.
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 37
Tabel 1. Jumlah spesimen dan daerah asalnya, 2001-2003.
No. Daerah
asal
Jumlah
spesimen
Persentase
1. Bireun
(Aceh)
6
1,5
2. Baturaja
10
2,6
3. Bogor
2
0,5
4. Kebumen
3
0,8
5. Purworejo
36
9,2
6. Klaten
38
9,8
7.
Banggai (Sulsel)
10
2,6
8.
Ogan Komering Ulu (Sumsel)
10
2,6
9. Karawang
2
0,5
10. Bantul
23
5,9
11. Pasuruan
10
2,6
12. Mojokerto
10
2,6
13. DKI
Jakarta
42
10,8
14. Magelang
14
3,6
15. Bandung
23
5,9
16. Tangerang
17
4,4
17. Bekasi
51
13,1
18. Metro
(Lampung)
3
0,8
19. Subang
36
9,2
20. Lahat
(Sumsel)
10
2,6
21. Kotawaringin
Barat
27
6,9
22. Lamongan
6
1,5
Total 389
100
Grafik 1. Kecenderungan jumlah kasus dan daerah pengirim
tahun
2001-2003.
Tabel 2 memperlihatkan hasil pemeriksaan laboratorium
spesimen chikungunya selama 3 tahun (2001-2003) yang
secara keseluruhan jumlahnya meningkat begitu pula hasil
pemeriksaan terlihat bertambah tetapi bila dilihat persentase
hasil yang positif (angka ketepatan diagnosisnya) terlihat
menurun dan tahun berikutnya meningkat lagi; yaitu bila pada
tahun 2001 jumlah yang positif yang berarti angka ketepatan
diagnosisnya 72,2%, maka pada tahun 2002 turun menjadi
42,2%, pada tahun 2003 meningkat menjadi 68,8% meskipun
masih lebih rendah dibandingkan tahun 2001.
Di Tabel 3 terlihat jumlah daerah yang terkena KLB,
jumlah spesimen yang dikirim dan hasil pemeriksaan. Daerah
terbanyak mengirim spesimen yaitu Bekasi dengan 51
spesimen, DKI Jakarta 42 spesimen, Purworejo dan Subang
masing-masing 36 spesimen, tetapi besarnya jumlah spesimen
yang dikirim belum tentu menggambarkan besarnya kasus
chikungunya di daerah tersebut karena kemungkinan keter-
batasan dana, tenaga, dan lokasi pengambilan spesimen ter-
sebut; jika diasumsikan keterbatasan tersebut sama di semua
daerah maka memang besarnya jumlah spesimen yang dikirim
akan menggambarkan besarnya kasus chikungunya di daerah
tersebut.
Tabel
2.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Spesimen Chikungunya
2001- 2003.
Hasil pemeriksaan
Tahun
Positif Persen Negatif Persen
Jumlah Persen
2001 13 72,2 5 27,8 18 100
2002 38 42,2 51 57,3 89 100
2003 194 68,8 88 31,2 282 100
Total 245 63,0 144 37,0 389 100
Tabel 3. Jumlah Daerah KLB, Spesimen yang Dikirim, dan Hasil
Pemeriksaan Laboratorium.
Tahun 2001
Tahun 2002 Tahun
2003
Daerah KLB
Positif Negatif Positif Negatif Positif Negatif
Jumlah
Bireun 5
1
-
-
-
-
6
Baturaja 6
4
- -
-
- 1
Bogor 2
0
-
-
-
-
2
Kabumen - -
0 3
- - 3
Purworejo - -
18 18
- - 36
Klaten -
-
18
10
-
-
28
Banggai -
-
0
10
-
- 10
Ogan
Komering
Ulu
- -
0 10
- - 10
Karawang - -
2 0
- - 2
Bantul -
-
-
-
18
5
23
Pasuruan - -
- -
3
7 10
Mojokerto - - - -
2 8 10
Jakarta -
-
-
-
32
10
42
Magelang - -
- -
11
3 14
Bandung - -
- -
21
2 23
Tangerang - - - -
16 1 17
Bekasi -
-
-
-
26
25
51
Metro -
-
-
-
0
3
3
Subang -
-
-
-
22
14
36
Lahat -
-
-
-
9
1
10
Kotawaringin
Barat
- -
- -
27
0 27
Lamongan - - - -
1 5 6
Total 13
5
38
51
194
88
389
TAHUN
2003
2002
2001
Jumlah
300
200
100
0
DAERAH
SPESIMEN
Grafik 2. Hasil Pemeriksaan Laboratorium yang Hasilnya Positif dan
Jenis Kelamin Penderita.
Grafik 2 menggambarkan jumlah penderita chikunga
dengan hasil uji laboratorium positif yang berarti memang
terinfeksi virus chikungunya; secara keseluruhan jumlah
300
200
jumlah kasu
s
100
SEX
pria
38
wanita
0
2002
2001
2003
TAHUN
38 Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
penderita wanita lebih banyak meskipun bila dilihat per tahun
pada tahun 2001 jumlah penderita pria lebih banyak, tetapi
pada tahun 2002 dan 2003 penderita wanita lebih banyak
daripada pria. Jadi untuk jenis kelamin tidak dapat disimpulkan
mana yang lebih dominan.
Berdasarkan golongan usia (Tabel 4) terlihat bahwa yang
terbanyak ialah 30-40 tahun (31,8%), termuda 2,6 tahun ( pada
anak laki-laki dan perempuan), sedangkan 1 orang laki-laki
berusia 77 tahun.
Tabel 4. Jumlah penderita dengan hasil pemeriksaan laboratorium
positif terinfeksi chikungunya berdasarkan usia, 2001-2003.
No Golongan
umur Jumlah
Persentase
1 0- 7
2,8
2 5- 5
2,0
3 10- 10
4,1
4 15- 20
8,2
5 20- 20
8,2
6 25- 22
9,0
7 30- 27
11,0
8 35- 25
10,2
9 40- 26
10,6
10 45- 23
9,4
11 50- 22
9,0
12 55- 14
5,7
13 60- 10
4,1
14 65- 8
3,3
15 70- 5
2,0
16 75- 1
0,4
Jumlah 245
100
Jadi jika beberapa penelitian mengatakan titer antibodi
pada penderita usia < 30 tahun tidak ditemukan atau sangat
kecil maka pada penelitian ini agak berbeda karena ternyata
ditemukan titer antibodi pada penderita usia < 30 tahun ( 34,3%
dari seluruh penderita ) selama tahun 2001-2003.
KESIMPULAN
1) Kasus chikungunya di Indonesia tahun 2001 - 2003
menunjukkan kecenderungan meningkat baik dari daerah yang
mengalami KLB maupun jumlah spesimen yang diperiksa.
2) Hasil pemeriksaan laboratorium yang positif (angka kete-
patan diagnosis) secara keseluruhan persentasenya naik turun.
3) Secara keseluruhan wanita lebih banyak yang hasil
laboratoriumnya positif.
4) Golongan umur yang terinfeksi virus chikungunya
terutama antara 30- 40 tahun, termuda 2,6 tahun dan tertua 77
tahun.
KEPUSTAKAAN
1. Chin J. Control of Communicable Disease Manual. 17
th
ed. Am. Pub.
Health Assoc.Washington DC 2000. p 624.
2. Lysenko A. Zoonosis Control. Collection of Teaching Aids for
International Training Course, Vol-1, General Problem.UNEP-USSR
Commission for UNEP, Centre for International Project GNKT,1982.
3.
Muchlastriningsih E et al. Hasil Pemeriksaan Spesimen Chikungunya di
Indonesia tahun 2001-2002. Berita Epidemiologi, Agustus 2003.
4. Pavri KM. Presence of Chikungunya Antibodies in Human Sera
Collection from Calcutta and Jamshedpur before 1963. Indian J. Med.
Res. 1964; 52: 698-702.
5. Suharyono W. et al. Outbreak of Chikungunya in Indonesia. First
International Conference on the Impact of Viral Disease on Development
of Asia Countries. Bangkok Thailand, Dec. 1986.
Harimau Siberia, hewan langka penuh pesona ini sekarang
di alam bebas tinggal........400 ekor. Sedang luas wilayah
seluruh Siberia 13.807.037 km
2
, berarti tiap ±34.500 km
2
hanya ada 1 ekor harimau !
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 39