background image
HASIL PENELITIAN
Kecenderungan Kasus Campak
Selama Empat Tahun (1997 ­ 2000)
di Indonesia
Enny Muchlastriningsih
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan RI, Jakarta
PENDAHULUAN
Penyakit campak merupakan salah satu penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi, dan salah satu dampak
keberhasilan program imunisasi ialah menurunnya angka
kesakitan dan kematian penyakit campak. Sidang CDC / PAHO
/ WHO 1996 menyimpulkan bahwa penyakit campak dapat
dieradikasi karena satu-satunya pejamu (host) reservoir campak
hanya manusia, dan sidang WHA (1998) menetapkan
kesepakatan Reduksi Campak
(1)
.
Program imunisasi campak di Indonesia dimulai tahun
1982, dan pada tahun 1991 Indonesia telah mencapai imunisasi
dasar lengkap (Universal Child Immunization=UCI) secara
nasional; meskipun demikian masih ada beberapa daerah yang
cakupan imunisasi campaknya masih rendah sehingga sering
terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Salah satu tahapan
dalam upaya pemberantasan campak ialah Tahap Reduksi
Campak yang salah satu strateginya ialah Surveilans
(Surveilans rutin, SKD-respon KLB, dan Penyelidikan KLB).
Surveilans penyakit campak dilakukan untuk menilai
perkembangan program pemberantasan campak dan menentu-
kan strategi pemberantasannya terutama di daerah. Kasus
Campak klinis adalah kasus dengan gejala bercak kemerahan di
tubuh berbentuk makulopapular selama 3 hari atau lebih
disertai demam 38°C (WHO,1996).
Penyakit campak disebabkan oleh virus golongan
paramyxoviridae. Cara penularannya air borne berupa percikan
batuk, bersin penderita; penderita dapat menularkan penyakit
ini meskipun belum demam (biasanya 3 hari sebelum demam).
Masa inkubasi penyakit ini 8-13 hari, rata- rata 10 hari.
Gejala penyakit campak
(1)
1. Bercak kemerahan (rash) yang dimulai dari belakang
telinga, berbentuk makulopapular selama 3 hari atau lebih,
menyebar ke seluruh tubuh; dan akan berubah menjadi
kehitaman dan bersisik.
2. Suhu
tubuh
38°C.
3. Gejala lain: batuk, pilek, mata merah, Koplik's spot
(bercak kemerahan dengan warna putih di tengahnya pada
selaput lendir pipi).
TUJUAN UMUM
Menghitung jumlah kasus campak selama 4 tahun (1997 ­
2000).
TUJUAN KHUSUS
1. Mengetahui kecenderungan kasus campak selama 4 tahun.
2. Mengetahui jumlah kasus campak per propinsi.
3. Mengetahui jumlah kasus campak per golongan umur.
4. Mengetahui jumlah kasus campak per sumber data.
METODOLOGI
Dilakukan analisis data hasil surveilans kasus campak
selama 4 tahun di Indonesia yang berasal dari Sub.Dit.
Surveilans Dit.Jen. PPM-PL Dep.Kes.RI.
Sistem surveilans campak selama ini dilakukan per
provinsi dan melalui 3 jalur yaitu :
1. Penderita rumah sakit yang rawat jalan
2. Penderita rumah sakit yang rawat inap
3. Penderita puskesmas
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah kasus campak selama 4 tahun berjumlah 192.171,
berasal dari 26 propinsi. Dari Gb. 1 terlihat kecenderungan
kasus campak selama 4 tahun dimulai pada tahun 1997,
meningkat tinggi pada tahun 1998, mencapai puncaknya pada
tahun 1999, kernudian turun pada tahun 2000.
20000
30000
40000
50000
60000
70000
80000
1
2
3
4
Va
lue
KASUS
Gambar l. Kecenderungan Kasus Campak Selama 4 Tahun (1997- 2000)
di Indonesia
Keterangan:
1 = tahun 1997, 2 = tahun 1998, 3 = tahun 1999, 4 = tahun 2000
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005 35
background image
Tabel 1. Jumlah Kasus Campak selama 4 Tahun di Indonesia
Tahun
No. Kriteria
1997 1998 1999 2000
Total
1. Kasus
27.875 53.024 73.963 37.309 192.171
2.
Kematian 5 29 17 15 66
Catatan :
Jumlah kematian yang tercatat hanya berasal dari RS rawat inap ; data dari
RS rawat jalan dan puskesmas tidak ada.
Tabel 2. Jumlah Kasus Campak per Propinsi di Indonesia selama 4 tahun.
No.
Propinsi
1997 1998 1999 2000 Total
1 D.I. Aceh
1.439
944
1.674
799
4.856
2
Sumatera
Utara
2.314 6.145 5.378 2.983 16.820
3 Sumatera Barat
417
193
120
-
730
4 Riau
1.521
905
616
1.431
4.473
5 Jambi
537
968
1.052
376
2.933
6 Sumatera Selatan
-
208
2.679
602
3.489
7 Bengkulu
637
675
1.037
253
2.602
8 Lampung
340
98
3.597
1.185
5.220
9
DKI
Jakarta
2.374 2.089 5.892 4.536 14.891
10
Jawa
Barat
5.839 26.043 23.154 2.387 57.423
11
Jawa
Tengah
1.987 6.495 11.543 8.930 28.955
12 D.I. Yogyakarta
1.084
557
726
1.523
3.890
13
Jawa
Timur
5.638 4.599 7.711 4.124 22.072
14 Kalimantan Barat
157
215
1.381
586
2.339
15 Kalimantan Tengah
185
213
712
1.395
2.505
16
Kalimantan
Selatan - - 1.590 - 1.590
17 Kalimantan Timur
402
489
470
1.506
2.867
18 Sulawesi Utara
436
574
772
436
2.218
19 Sulawesi Tengah
175
118
481
187
961
20 Sulawesi Selatan
336
535
252
414
1.537
21 Sulawesi Tenggara
7
25
86
86
204
22
Bali
244 212 2.556 1.236 4.248
23 Nusa Tenggara Barat
-
-
209
416
625
24 Nusa Tenggara Timur
129
472
72
1.475
2.148
25
Maluku
1.545
- - -
1.545
26 Irian Jaya
132
252
203
443
1.030
Total
27.875 53.024 73.963 37.309 192.171
Keterangan.:
-
Tahun 1997 : Propinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Nusa
Tenggara Barat tidak melaporkan adanya kasus campak. Propinsi DKI
Jakarta dan Irian Jaya hanya melaporkan kasus campak yang berasal
dari puskesmas, sedangkan Propinsi Sulawesi Tenggara hanya melapor-
kan kasus campak yang berasal dari RS rawat inap dan RS rawat jalan.
-
Tahun 1998 : Propinsi Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan
Maluku tidak melaporkan adanya kasus campak. Propinsi Sumatera
Barat tidak melaporkan adanya kasus campak dari puskesmas. Propinsi
Kalimantan Tengah hanya melaporkan kasus campak yang berasal dari
puskesmas.
-
Tahun 1999 : Propinsi Maluku tidak melaporkan adanya kasus campak.
Propinsi Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat tidak melaporkan
adanya kasus campak yang berasal dari puskesmas. Propinsi Nusa
Tenggara Timur hanya melaporkan kasus campak yang berasal dari RS
rawat inap.
-
Tahun 2000 : Propinsi Kalimantan Selatan dan Maluku tidak melaporkan
adanya kasus campak. Propinsi Sumatera Barat tidak melaporkan adanya
kasus campak dari puskesmas. Propinsi Irian Jaya tidak meiaporkan
adanya kasus campak dari RS rawat jalan.
Tabel 3. Jumlah Kasus Campak per Golongan Umur selama 4 tahun
(1997-2000) di Indonesia.
Tahun
No.
Golongan Umur
1997 1998 1999 2000
Total
1
<
1
tahun
3.955 7.009 8.652 3.958 23.574
2 1-4
tahun
9.137 18.737 26.776 10.930 65.580
3 5-14
tahun
10.516 17.774 26.188 14.338 68.816
4
15-44
tahun
3.348 6.646 6.909 6.975 23.878
5
> 45 tahun
919
2.858
5.438
1.108
10.323
Total
27.875 53.024 73.963 37.309 192.171
Tabel 3 terlihat golongan umur yang paling banyak ialah
5-14 tahun, diikuti golongan umur 1-4 tahun, dan yang paling
sedikit golongan umur > 45 tahun.
Golongan umur < 1 tahun lebih sedikit dibandingkan
golongan umur di atasnya mungkin karena kekebalan bawaan
yang bertahan relatif lama yaitu hingga bayi berumur 9 bulan
(2)
.
Tabel 4. Jumlah Kasus Campak per Sumber Data Selama 4 tahun
(1997-2000) di Indonesia.
Tahun
No. Sumber
Data
1997 1998 1999 2000
Total
1
RS Rawat Jalan
2.842
6.601
10.063
5.995
25.501
2 RS
Rawat
Inap 1.942 4.958 8.599 2.735 17.748
3 Puskesmas
23.541 41.465 5.531 28.579 99.606
Total
27.875 53.024 73.963 37.309 192.171
Tabel 4 terlihat sumber data campak terbanyak berasal dari
puskesmas yang memang merupakan ujung tombak terdepan
bagi pelayanan kesehatan di negara kita, dan paling sedikit dari
rumah sakit rawat inap; mungkin memang tidak banyak kasus
campak yang menjadi parah hingga perlu dirawat di rumah
sakit.
KESIMPULAN
Kasus campak selama 4 tahun di Indonesia mencapai
puncaknya pada tahun 1999. Ada 3 propinsi yang paling
banyak melaporkan kasus campak yaitu : Jawa Barat, Jawa
Tengah, dan Jawa Timur tetapi ada pula propinsi yang tidak
melaporkan/laporan tidak lengkap, mungkin karena kendala
tertentu. Golongan umur yang paling banyak terkena campak
ialah 5-14 tahun. Sumber data kasus campak terbesar berasal
dari puskesmas.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami tujukan kepada Sub.Dit. Surveilans khususnya Ibu Adolfina Pirade
SKM, M.Kes, dan Ibu Niprida Mardin SKM., dan semua pihak yang membantu.
KEPUSTAKAAN
1. Dit.Jen. PPM-PL Departemen Kesehatan bekerja sama dengan WHO.
2002. Pedoman Surveilans dan Respon KLB Campak. Jakarta.
2.
Kandun I N et al. Penelitian Kekebalan Bawaan dan Serokonversi setelah
Vaksinasi Campak pada Bayi di Mojokerto. Laporan Seminar, 1986.
Idleness is the beginning of all vices
Cermin Dunia Kedokteran No. 148, 2005
36

Document Outline